Anda di halaman 1dari 39

KEPERAWATAN JIWA

TERAPI KOGNITIF

Disusun Oleh:

Kelompok 7

Siti Ummu Hani (04021181320005)

Arliga Putri Rizki (04021181320007)

Rani Ayu Putri Utami (04021181320015)

Cheni Raselawanty (04021181320034)

Raytiah Mariani (04021181320046)

Muthia (04021281320009)

Deska Parinda (04021281320024)

FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunia-
Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Terapi Kognitif dengan baik.
Dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, kami tidak akan dapat menyelesaikan penulisan
makalah ini tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun
tidak langsung.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada

1. Dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa, ibu Sri Maryatun, S.Kep., Ns., Mkep yang
senantiasa memberikan apresiasi berupa saran, kritik dan bimbingan demi kesempurnaan
penulisan.
2. Teman-teman yang telah memberikan dukungan dan semangat yang tinggi.
3. Semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuan
pemikiran dan apresiasi dalam menyelesaikan makalah ini.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkat, imbalan, serta karunia-Nya kepada
semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan bantuannya yang tidak ternilai.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan
demi kesempurnaan penulisan di kemudian hari.

Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri,
pembaca, serta masyarakat luas terutama dalam hal menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan.

Palembang, Maret 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I.........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................1
C. Tujuan..............................................................................................................................2
BAB II........................................................................................................................................3
TUJUAN TERAPI KOGNITIF.................................................................................................3
BAB III.......................................................................................................................................5
Tinjauan Pustaka........................................................................................................................5
A. Definisi Terapi Kognitif..................................................................................................5
B. Indikasi Terapi Kognitif..................................................................................................5
C. Masalah Keperawatan.....................................................................................................6
D. Teknik-teknik Terapi Kognitif.........................................................................................6
E. Distorsi Kognitif..............................................................................................................9
F. Teknik Kontrol Mood....................................................................................................12
G. Pelaksanaan Terapi Kogrnitif........................................................................................14
BAB IV....................................................................................................................................17
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR.............................................................................17
BAB V......................................................................................................................................22
PENELITIAN TERKAIT........................................................................................................22
BAB VI....................................................................................................................................36
PENUTUP................................................................................................................................36
A. Kesimpulan...................................................................................................................36
B. Saran..............................................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................iv

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Individu memiliki sisi perasaan atau afek dengan anggapan benar terhadap dirinya
sendiri, lingkungan di kehidupannya, perasaannya dan pemikirannya pada setiap
tindakan dalam rangkaian interaksi. Berdasarakan kognisi atau pemikirannya dan
pengalaman, individu akan membuat pandangan atau perspektif kebiasaan mengenai diri
sendiri, dunia dan masa depan. Misalnya mengenai individu yang beranggapan psimistis
terhadap cara mengontor takdirnya sendiri atau beranggapan bahwa takdir tersebut
mampu dikontrol oleh orang lain bukan oleh dirinya sendiri.

Orang dengan gangguan jiwa mengalami masalah pada sisi kognitif dan bermasalah
dalam berperilaku. Orang dengan kasus depresi mengalami gangguan emosional berasal
dari ditorsi (penyimpangan) dalam berfikir. Gangguan dalam berpikir mampu mengubah
konsep diri orang tersebut. Cara berpikir yang terganggu akan menimbulkan perilaku
yang maladaptif, salah satunya berperilaku kekerasan. Karenanya diperlukan adanya
perawatan dari perkembangan kognitifnya, yaitu diberikan terapi kognitif.

Terapi kognitif merupakan terapi yang digunakan dalam jangaka pendek dan
dilakukan secar teratur untuk memberikan dasar berpikir pada pasien agar mampu
mengekspresikan perasaan negatifnya, memahami masalahnya, mampu mengatasi
perasaan negatifnya, serta mampu memecahkan masalah tersebut.

Pada pemberian terapi kognitif, perawat berperan sebagai pendamping pasien untuk
memodifikasi cara pikir, sikap dan keyakinan untuk menemukan perilaku yang tepat
dalam menghadapi pengobatan yang sedang dijalaninya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan terapi kognitif?

2. Apa tujuan dari terapi kognitif?

3. Apa saja indikasi pelaksanaan terapi kognitif?

4. Apa saja masalah keperawatan yang bisa diselesaikan dengan terapi kognitif?

1
5. Bagaimana teknik dalam melaksanakan terapi kognitif?

6. Bagaimana standar operasional dari terapi kognitif?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari terapi kognitif.

2. Untuk mengetahui tujuan dari terapi kognitif.

3. Untuk mengetahui indikasi pelaksanaan terapi kognitif.

4. Untuk mengetahui masalah keperawatan yang bisa diselesaikan dengan terapi


kognitif.

5. Untuk mengetahui teknik dalam melaksanakan terapi kognitif.

6. Untuk mengetahui standar operasional dari terapi kognitif.

2
BAB II

TUJUAN TERAPI KOGNITIF

Tujuan Terapi Kognitif

Beberapa tujuan menggunakan terapi kognitif menurut (Setyoadi, 2011) anatara lain
sebagai berikut:

1. Membantu klien dalam mengidentifikasi, menganalisis dan menentang keakuratan


kognisi negatif klien. Selain itu untuk memperkuat persepsi yang lebih akurat dan
mendorong perilaku yang dirancang untuk mengatasi gejala depresi. Dalam beberapa
penelitian, terapi ini sama efektifnya dengan terapi depresan.

2. Menjadikan atau melibatkan klien subjek terhadap uji realitas.

3. Memodifikasi proses pemikiran yang salah dengan membantu klien mengubah cara
berpikir atau mengembangkan pola pikir yang rasional.

4. Membentuk kembali pikiran individu dengan menyangkal asumsi yang maladaptif,


pikiran yang mengganggu secara otomatis serta proses pikir yang tidak logis. Berfokus
pada pikiran individu yang menetukan sifat fungsional.

5. Menghilangkan sindrom depresi dan mencegah kekambuhan. Tanda dan gejala depresi
dihilangkan melalui usaha yang sistematis yaitu mengubah cara berpikir maladaptif dan
otomatis. Dengan perspektif kognitif, klien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan
pikiran pikiran dan harapan harapan negatif.

6. Membantu menargetkan proses berpikir serta perilaku yang meneyebabkan dan


mempertahankan panik atau kecemasan. Dilakukan dengan cara penyuluhanklien,
restrukrisasi kognitif, pernapasan relaksasi terkendal, umpan balik biologis dan
reframing.

7. Menempatkan individu pada situasi yang biasanya memicu perilaku gangguan obsesif
kompulsif dan selanjutnya mencegah respon.

8. Membantu individu mempelajari respon rileksasi, membentuk hirarki situasi fobia dan
kemudian secara bertahap dihadapkan pada situasinya sambil tetap mempertahankan
respon rileksasi misalnya dengan desentisasi sistematis.
3
9. Membantu individu memandang dirinya sebagai orang yang berhasil bertahan hidup dan
bukan sebagai korban, misalnya dengan cara restrukrisasi kognitif.

10. Membantu mengurangi gejala klien dengan restrukrisasi sistem keyakinan yang salah.

11. Membantu mengubah pemikiran individu dan menggunakan latihan praktikuntuk


meningkatkan aktivitas sosialnya.

12. Membentuk kembali perilaku dengan mengubah pesan pesan internal.

4
BAB III

Tinjauan Pustaka

A. Definisi Terapi Kognitif


Terapi kognitif adalah terapi jangka pendek dan dilakukan secara teratur, yang
memberikan dasar berpikir pada pasien untuk mengekspresikan perasaan negatifnya,
memahami masalahnya, mampu mengatasi perasaan negatifnya, serta mampu
memecahkan masalah tersebut. Teori kognitif sebenarnya rangkaian dengan terapi
perilaku yang disebut sebagai terapi kognitif dan perilaku, karena menurut sejarahnya
merupakan aplikasi dari beberapa teori belajar yang bervariasi (Yusuf, Fitriyasari &
Nihayati, 2015).

Peran perawat dalam pelaksanaan terapi kognitif diharapkan mampu menerapkan


terapi kognitif ini serta mendampingi pasien untuk memodifikasi cara pikir, sikap dan
keyakinan untuk memutuskan perilaku yang tepat dalam menghadapi pengobatan
yang sedang dijalaninya.

B. Indikasi Terapi Kognitif


Menurut Setyoadi, dkk (2011) terapi kognitif efektif untuk sejumlah kondisi
psikiatri yang lazim, terutama:

1. Depresi (ringan sampai sedang).


2. Gangguan panic dan gangguan cemas menyeluruh atau kecemasan.
3. Individu yang mengalami stress emosional.
4. Gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive disorder) yang seringterjadi
pada orang dewasa dan memiliki respon terhadap terapi perilaku dan
antidepresan. Jarang terjadi pada awal masa anak-anak, meskipun kompulsi
terisolasi sering terjadi.
5. Gangguan fobia (misalnya agoraphobia, fobia social, fobia spesifik).
6. Gangguan stress pacatrauma (post traumatic stress disorder).
7. Gangguan makan (anoreksia nervosa).
8. Gangguan mood.
9. Gangguan psikoseksual.
10. Mengurangi kemungkinan kekambuhan berikutnya.

Menurut Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015) indikasi atau karakteristik pasien
yang mendapatkan terapi kognitif, sebagai berikut:
a. Menarik diri.
b. Penurunan motivasi.
c. Defisit perawatan diri.

5
d. Harga diri rendah.
e. Menyatakan ide bunuh diri.
f. Komunikasi inkoheran dan ide/topic yang berpindah-pindah (flight of idea).
g. Delusi, halusinasi terkontrol, tidak ada manik deperesi, tidak mendapat ECT.

C. Masalah Keperawatan
Menurut Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015) beberapa masalah keperawatan
yang muncul dan dapat dilakukan intervensi terapi kognitif serta memiliki tujuan
keperawatan, adalah sebagai berikut:

a. Resiko bunuh diri.


b. Isolasi sosial.
c. Harga diri rendah.
d. Defisit perawatan diri.

Tujuan Keperawatan

No. Masalah Keperawatan Tujuan


1. Resiko bunuh diri Ide bunuh diri hilang

2. Isolasi social Meningkatkan hubungan social

3. Harga diri rendah Meningkatkan harga diri

4. Defisit perawatan diri Kemampuan merawat diri

D. Teknik-teknik Terapi Kognitif


Menurut Yosep (2009, dikutip Afiya, 2016) perawat jiwa harus mengetahui
beberapa teknik dalam melakukan terapi kognitif. Pengetahuan tentang teknik ini
merupakan syarat agar peran perawat jiwa bisa berfungsi secara optimal. Dalam
pelaksanaan tehnik-teknik ini harus dipadukan dengan kemampuan lain seperti tehnik
konter, milieu therapi dan konseling. Beberapa tehnik tersebut antara lain:

1. Tehnik Restrukturisasi kognitif.

6
Perawat berupaya untuk memfasilitasi klien dalam melakukan pengamatan
terhadap pemikiran dan perasaan yang muncul. Tehnik restrukturisasi dimulai
dengan cara memperluas kesadaran diri dan mengamati perasaan dan
pemikiran muncul.

2. Tehnik penemuan fakta-fakta

Tehnik yang digunakan untuk mencari fakta-fakta untuk mendukung


keyakinan dan kepercayaan. Teknik penemuan fakta juga mencakup pencarian
sumber-sumber data yang berkaitan. Klien yang mengalami distorsi dalam
pemikirannya seringkali memberikan bobot yang sama terhadap semua sumber
dan atau data yang tidak disadarinya. Data tersebut bisa diperoleh dari staf,
keluarga atau anggota lain dalam masyarakat sebagai support dalam
lingkungan sosialnya dalam hal ini penemuan fakta dapat berfungsi sebagai
penyeimbang pendapat klien tentang pikiran buruknya.

3. Tehnik penemuan alternatif

Banyak klien melihat bahwa masalah terasa sangat berat karena tidak adanya
alternatif pemecahannya lagi. Latihan menemukan dan mencari alternatif-
alternatif pemecahan masalah klien bisa dilakukan antara klien dengan bantuan
perawat. Klien dianjurkan untuk menuliskan masalahnya, mengurutkan
masalah-masalah paling ringan dulu, kemudian mencari dan menemukan
alternatifnya. Disini penting sekali bagi perawat jiwa untuk merangsang klien
agar berani berpikir lain dari yang biasanya atau berani berfikir beda.

4. Dekatastropik

Tehnik Dekatastropik di kenal juga teknik bila dan apa. Hal ini meliputi upaya
menolong klien untuk melakukan evaluasi terhadap situasi dimana klien
mencoba memandang masalahnya secara berlebihan dari situasi alamiah untuk
melatih beradaptasi dengan hal terburuk dengan apa-apa yang mungkin terjadi.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan perawat adalah: apa hal terburuk
yang terjadi bila?, dan apakah akan gawat sekali bila hal tersebut memang
betul-betul terjadi. ?, serta tindakan pemecahan masalah apa, bila hal

7
tersebut benar-benar terjadi.? Tujuan dari tehnik dekatastropik adalah untuk
menolong klien melihat konsekuensi dari kehidupan.

5. Reframing

Reframing adalah strategi dalam merubah persepsi klien terhadap situasi atau
perilaku. Hal ini meliputi memfokuskan terhadap sesuatu atau aspek lain dari
masalah atau mendukung klien untuk melihat masalahnya dari sudut pandang
yang lain. Klien seringkali melihat masalah hanya dari satu sudut pandang
saja. Tehnik ini memberi kesempatan pada klien untuk merubah dan
menemukan makna baru dan merubah perilaku klien.

6. Thought stopping

Tehnik berhenti memikirkannya (thought stopping) sangat baik digunakan


pada saat klien mulai memikirkan sesuatu sebagai masalah, sehingga klien
dapat menggambarkan bahwa masalahnya sudah selesai.

7. Learning new behavior with modeling

Modeling adalah sebuah strategi untuk merubah perilaku baru dalam


meningkatkan kemampuan dan mengurangi perilaku yang tidak sesuai.
Sasaran perilaknya adalah memecahkan masalah-masalah yang disusun dalam
beberapa urutan kesulitannya. Kemudian klien melakukan observasi pada
seseorang yang berhasil memecahkan masalah yang serupa dengan klien
dengan cara memodifikasi dan mengontrol lingkungannya setelah itu klien
meniru perilaku orang yang dijadikan model. awalnya klien melakukan
melakukan pemecahan secara bersama dengan fasilitator. Selanjutnya klien
mencoba memecahkannya sendiri sesuai dengan pengalaman yang diperoleh
selama bersama terapis (perawat).

8. Membuat pola

Membentuk pola perilaku baru oleh perilaku yang diberikan reinforcement


(pujian). Setiap perilaku yang diperkirakan sukses dari apa-apa yang diniatkan
klien untuk melakukannya akan diberi reinforcement (pujian).

9. Token economy

8
Token economy adalah bentuk reinforcement positif yang sering digunakan
pada kelompok anak-anak. Hal ini dilakukan secara konsisten pada saat klien
mampu menghindari perilaku buruk atau melakukan hal yang positif.

10. Role play

Role play memungkinkan klien untuk belajar menganalisa perilaku negatifnya


melalui kegiatan-kegiatan sandiwara yang dapat dievaluasi oleh klien dengan
memanfaatkan alur cerita dan perilaku orang lain. Klien dapat menilai dan
belajar mengambil keputusan berdasarkan konsekuensi - konsekuensi yang ada
dalam cerita.

11. Aversion therapy

Aversion therapy bertujuan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan negatif


klien dengan cara membayangkan kegiatan negatif tersebut dengan sesuatu
yang tidak disukai.

12. Contingency contracting

Contingency contracting berfokus pada perjanjian yang dibuat antara terapis


(perawat jiwa), perjanjian dibuat dengan punishment dan reward.

13. Social skill trining

Teknik ini didasari oleh sebuah keyakinan bahwa ketrampilan apapun


diperoleh sebagai hasil belajar.

E. Distorsi Kognitif
Distorsi kognitif merupakan kesalahan logika, kesalahan dalam penalaran, atau
pandangan individual dunia yang tidak mencerminkan realitas. Distorsi dapat berupa
positif atau negatif. Misalnya, seseorang yang secara konsisten dapat melihat
kehidupan dengan cara yang realistis positif dan dengan demikian mengambil peluang
berbahaya, seperti menyangkal masalah kesehatan dan mengaku sebagai "terlalu
muda dan sehat untuk serangan jantung". distorsi kognitif mungkin juga negatif,
seperti yang diungkapkan oleh orang yang menafsirkan semua situasi kehidupan
disayangkan sebagai bukti kurang lengkap diri (Stuart, 2009; dikutip Yosep & Iyus,
2009).

9
Macam-macam distorsi kognitif menurut Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015)
sebagai berikut:

1. Pemikiran segalanya atau tidak sama sekali

Melihat segala sesuatu dalam kategori hitam atau putih. Contohnya, jika prestasi
Anda kurang dari sempurna, maka Anda memandang diri Anda sendiri sebagai
seorang yang gagal total.

2. Overgeneralisasi

Memandang suatu peristiwa yang negatif sebagai sebuah pola kekalahan tanpa
akhir. Contoh, seorang murid yang gagal dalam ujian berpikir, Saya tidak akan
pernah lulus ujian yang lain dalam semester ini dan saya akan keluar dari sekolah
ini.

3. Personalisasi

Memandang diri sebagai penyebab dari suatu peristiwa eksternal yang negatif
yang kenyataanya tidaklah demikian. Contohnya, Direktur saya mengatakan
bahwa produktivitas perusahaan kami menurun, tapi saya tahu ia sebenarnya
sedang membicarakan saya.

4. Berpikir dikotomi

Berpikir dengan ekstrem bahwa semua hal adalah semuanya baik atau semuanya
buruk. Contohnya, Jika suami saya meninggalkan saya, saya mungkin akan
mati.

5. Pembencanaan

Berpikir yang terburuk tentang orang atau kejadian. Contohnya, Saya lebih baik
tidak mengajukan diri untuk promosi di tempat pekerjaan karena saya tidak akan
mendapatkannya dan saya merasa diri saya sangat buruk.

6. Membuat abstrak yang selektif

Memfokuskan pada detail tapi tidak pada informasi yang relevan. Contohnya,
Seorang istri percaya bahwa suaminya tidak mencintainya karena ia pulang kerja

10
larut malam, tetapi sang istri menolak perhatian yang diberikan oleh suami,
hadiah yang dibawanya, dan acara khusus yang mereka rencanakan bersama.

7. Kesimpulan yang tidak beralasan

Menarik kesimpulan negatif tanpa bukti yang mendukung. Contohnya, seorang


wanita muda menyimpulkan, Teman saya tidak suka kepada saya karena saya
tidak mengirimkan kartu ulang tahun untuknya.

8. Membesar-besarkan atau mengecilkan

Melebih-lebihkan suatu hal atau mengecilkan suatu hal secara tidak tepat.
Contoh, Saya telah menghanguskan makan malam, itu menunjukkan betapa
tidak mampunya saya.

9. Prefeksionis

Merasa butuh untuk melakukan segala sesuatu secara sempurna agar merasa
dirinya baik. Contoh, Saya akan menjadi seorang yang gagal apabila saya tidak
mendapat nilai A pada semua ujian saya.

10. Eksternalisasi harga diri

Mengukur nilai seseorang berdasarkan pendapat orang lain. Contoh, Saya harus
selalu kelihatan cantik. Kalau tidak, teman-teman saya tidak akan mau berada di
dekat saya.

11. Filter mental

Menemukan hal kecil yang negatif dan terus memikirkannya sehingga pandangan
tentang realita menjadi gelap.

12. Mendiskualifikasi hal positif

Menolak pengalaman-pengalaman positif dengan bersikeras bahwa semua itu


bukan apa-apa.

13. Penalaran emosional

Menganggap emosi-emosi yang negatif mencerminkan realita yang sebenarnya.


Contohnya, Saya merasa begitu, maka pastilah begitu.

11
14. Memberi cap atau salah memberi cap

Bentuk ekstrem dari overgeneralisasi, yaitu memberi cap negatif pada diri
sendiri. Contohnya, Saya memang seorang sial atau, Saya memang seorang
yang bodoh.

F. Teknik Kontrol Mood


1. Teknik tiga kolom

a. Pikiran otomatis, yaitu pikiran-pikiran negatif yang sering keluar seperti


tidak pernah dan .selalu.

b. Distorsi kognitif.

c. Tanggapan rasional.

Pikiran Otomatis Distorsi Kognitif Tanggapan Rasional


(kritik diri) (pembelaan diri)

1. Saya tidak pernah benar. 1. Overgeneralisasi 1. Omong kosong! Saya


juga melakukan banyak
hal yang baik.
2. Saya selalu terlambat 2. Overgeneralisasi 2. Saya tidak selalu
terlambat. Coba saja
ingat-ingat saat saya
datang tepat waktu.
Meskipun kini
terlambat lebih sering
daripada biasanya, saya
akan mengatasi
masalah ini serta
mencari cara agar saya
lebih dapat tepat waktu.
Seseorang mungkin
kecewa karena saya
terlambat, tetapi itu
bukan berarti kiamat.

12
Mungkin pertemuan
juga tidak mulai pada
waktunya.

2. Panah vertikal

Yaitu belajar memberi pendapat secara rasional, yang bisa diterima oleh akal
berdasarkan bukti dan fakta yang ada.

Pikiran Otomatis Tanggapan Rasional


1. Dr. K mungkin berpikir saya adalah 1. Hanya karena Dr. K menunjukkan
seorang ahli terapi yang buruk, Jika kesalahan saya itu bukan berarti bahwa
memang ia berpikir demikian, mengapa selanjutnya ia akan berpikir bahwa
harus mengecewakan saya? saya adalah seorang ahli terapi yang
buruk. Saya harus menanyakan
kepadanya hal yang sebenarnya dia
pikirkan, tetapi dalam beberapa
kesempatan ia telah memuji saya dan
berkata bahwa saya mempunyai bakat
unggul.

2. Itu artinya bahwa saya memang 2. Seorang yang berpengalaman pun


seorang terapis yang bodoh karena dia hanya dapat menunjukkan kekuatan
seorang yang serta kelemahan spesifik saya sebagai
berpengalaman,Andaikan saya seorang terapis. Setiap kali seseorang
memang seorang ahli terapi yang memberi cap buruk pada saya, maka
buruk, lalu apa artinya bagiku? semua itu hanya suatu pernyataan yang
terlalu global, merusak, dan tidak
terlalu berguna. Saya telah banyak
berhasil dengan kebanyakan pasien
saya, sehingga tidak benarlah saya
buruk, tidak peduli siapapun yang
mengatakannya.

13
G. Pelaksanaan Terapi Kogrnitif
Terapi kognitif terdiri atas sembilan sesi, yang masing-masing sesi dilaksanakan
secara terpisah. Setiap sesi berlangsung selama 3040 menit dan membutuhkan
konsentrasi tinggi Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015).

1. Sesi I: Ungkap pikiran otomatis.


Jelaskan tujuan terapi kognitif.
a. Identifikasi masalah dengan apa, di mana, kapan, siapa (what, where, when,
who).
b. Diskusikan sumber masalah.
c. Diskusikan pikiran dan perasaan.
d. Catat pikiran otomatis dan klasifikasikan dalam distorsi kognitif.

2. Sesi II: Alasan.


a. Review kembali sesi I.
b. Diskusikan pikiran otomatis.
c. Tanyakan penyebabnya.
d. Beri respons atau tanggapan.
e. Tanyakan tindakan pasien.
f. Anjurkan menulis perasaan.
g. Beri rencana tindak lanjut, yaitu hasil tulisan pasien dibahas pada pertemuan
berikutnya.

3. Sesi III: Tanggapan.


a. Diskusikan hasil tulisan pasien.
b. Dorong pasien untuk memberi pendapat.
c. Berikan umpan balik.
d. Dorong pasien untuk ungkapkan keinginan.
e. Beri persepsi/pandangan perawat terhadap keinginan tersebut.
f. Beri penguatan (reinforcement) positif.
g. Jelaskan metode tiga kolom.
h. Diskusikan cara menggunakan metode tiga kolom.
i. Rencana tindak lanjut, yaitu anjurkan menuliskan pikiran otomatis dan cara
penyelesaiannya.

14
4. Sesi IV: Menuliskan
a. Tanyakan persaan pasien saat menuliskan rencana tindak lanjut pada sesi III.
b. Dorong pasien untuk mengomentari tulisan.
c. Beri respons/tanggapan dan umpan balik.
d. Anjurkan untuk menuliskan buku harian.
e. Rencana tindak lanjut, yaitu hasil tulisan pasien akan dibahas.

5. Sesi V: Penyelesaian masalah.


a. Diskusikan kembali prinsip teknik tiga kolom.
b. Tanyakan stresor/masalah baru dan cara penyelesaiannya.
c. Tanyakan kemampuan menanggapi pikiran otomatis negatif.
d. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
e. Anjurkan menulis pikiran otomatis dan tanggapan rasional saat menghadapi
masalah.

6. Sesi VI: Manfaat tanggapan.


a. Diskusikan perasaan setelah menggunakan tanggapan rasional.
b. Berikan umpan balik.
c. Diskusikan manfaat tanggapan rasional.
d. Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah.
e. Tanyakan hambatan yang dialami.
f. Berikan persepsi/tanggapan perawat.
g. Anjurkan mengatasi sesuai kemampuan.
h. Berikan penguatan (reinforcement) positif.

7. Sesi VII: Ungkap hasil.


a. Diskusikan perasaan setelah menggunakan terapi kognitif.
b. Beri reinforcement positif dan pendapat perawat.
c. Diskusikan manfaat yang dirasakan.
d. Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah.
e. Beri persepsi terhadap hambatan yang dihadapi.
f. Diskusikan hambatan yang dialami dan cara mengatasinya.
g. Anjurkan untuk mengatasi sesuai kemampuan.
15
h. Berikan penguatan (reinforcement) positif.

8. Sesi VIII: Catatan harian.


a. Tanyakan apakah selalu mengisi buku harian.
b. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
c. Diskusikan manfaat buku harian.
d. Anjurkan membuka buku harian bila menghadapi masalah yang sama.
e. Tanyakan kesulitan dan diskusikan cara penggunaan yang efektif.

9. Sesi IX: Sistem dukungan


a. Jelaskan keluarga tentang terapi kognitif.
b. Libatkan keluarga dalam pelaksanaannya.
c. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang telah dimiliki pasien.
d. Anjurkan keluarga untuk siap mendengarkan dan menagggapi masalah
pasien.

16
BAB IV

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

A. SOP terapi kognitif: Menghentikan Pikiran

1. Menyampaikan salam.
2. Mengingatkan nama perawat.
3. Menegaskan kembali kontrak untuk terapi.
4. Menyampaikan tujuan terapi.
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi.
6. Menyiapkan kursi atau mengambil tempat.
7. Memberikan kesempatan pasien untuk BAK atau BAB (k/p).
8. Menanyakan keluhan utama atau memberi kesempatan pasien bertanya atau
menyampaikan sesuatu (k/p tindak lanjuti sementara).
9. Menjelaskan prosedur terapi sekaligus memperagakan.
10. Membimbing pasien melakukan perasat :
a. Letakkan tubuh pasien dan semua anggota badan termasuk kepala (bersandar)
pada kursi senyaman mungkin.
b. Tutup mata.
c. Ambil nafas melalui hidung (secukupnya) tahan sebentar, keluarkan melalui
mulut perlahan lahan (Lakukan sampai merasa tenang).
d. Minta pasien untuk menghadirkan pikiran pikiran yang tidak menyenangkan
atau menyakitkan yang telah disepakati untuk dihentikan. (Diawali dari hal positif
negatif atau menyenangkan menyekitkan).
e. Pastikan pasien mampu menghadirkan (Perhatikan responnya).
f. Minta pasien untuk mengatakan pada dirinya STOP! (Dengan penuh
kesungguhan).
g. Buka mata.
11. Tanyakan atau evaluasi respon pasien.
12. Kesimpulan dan support (telah melakukan dengan baik dan mampu menerapkannya).
13. Memberikan follow up, apa yang harus dilakukan selanjutnya. (Terapkan dalam
kehidupan sehari hari apabila datang lagi pikiran seperti itu).
14. Salam teraupetik.

B. SOP Terapi Kognitif: Mengganti Pikiran

1. Menyampaikan salam
2. Mengingatkan nama perawat
3. Menegaskan kembali kontrsk untuk terapi termasuk alihan pikiran
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan klien untuk terapi
6. Menyiapkan kursi/mengambil tempat
7. Memberikan kesempatan klien untuk bak/bab (k/p)

17
8. Memberikan kesempatan klien untuk bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindak
lanjuti sementara)
9. Bersama klien merumuskan dan menetapkan alihsn pikiran
10. Menjelaskan prosedur sekaligus memperagakan
11. Membimbing klien melakukan perasat :
a. Letkkan tubuh dan semua anggota badn termasuk kepala (bersandar) pad kursi
senyaman mungkin
b. Tutup mata
c. Ambil nafas melalui hidung (secukupnya) tahan sebentar, keluarkan melalui
mulut perlahan lahan. (lakukan ampai merasa tenang)
d. Mengambil pikiran negatif yang mengganggu
e. Pastikan klien mampu mengambil pikiran negatif, kemudian induksi klien agar ia
mampu memikirkan akibat negatif dan pikiran negatif
f. Alihkan pikiran yang menyenangkan/positif/yang telah disepakati
g. Bantuinduksi klien agar mudah mengalihkan pikiran. Perintahkan klien untuk
mengatakan dengan mantap alihkan pikiran yang telah disepakati.
h. Buka mata

12. Tanyakan/evaluasi respon klien (perasaan klien sekarang)


13. Kesimpulan dan support
14. Memberikan follow up apa yang harus dilakukan selanjutnya (gunakan cara yang
sama ketika datang pikiran distorsi)
15. Salam terapeutik

C. SOP Terapi Kognitif: Penangkapan Pikiran

1. Menyampaikan sala
2. Perkenalan
3. Menyampaikan maksud pertemuan
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
6. Memberi kesempatan pasien bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindaklanjuti
sementara)
7. Menanyakan keluhan utama
8. Tanggapi secukupnya
9. Jelaskan, bagaimana kaitan antara pikiran-perasaan dengan prilaku (Prilaku yang
ingin dihilangkan)
10. Mintai respon klien akan penjelasan tersebut, khususnya kaitan antara perasaan-
pikiran dengan dirinya, over generalisasi, missal dst.

18
11. Bantu klien mengenali distorsi kognitifnya. Catat pada lembar/form yang tersedia.
(Distorsi kognitif mungkin lebih dari satu)
12. Sepakati distorsi kognitif yang akan diintervensi.
13. Mintai respon klien
14. Kesimpulan dan support
15. Memberikan follow up, untuk mengikuti tahap II
16. Kontrak untuk tahap II.
17. Salam

D. SOP Terapi Kognitif: Uji Realitas


1. Menyampaikan salam
2. Perkenalan
3. Menyampaikan maksud pertemuaan
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
6. Memberi kesempatan pasien bertanya /menyampaikan sesuatu (K/P Tindak lanjuti
sementara )
7. Validasi distorsi kognitif yang telah disepakati untuk diintervensi
8. Tanyakan bukti bukti yang mendukung distorsi kognitif dan atau keuntungan apa yang
didapatnya (gunakan UJi Form Realitas)
9. Hadirkan atau tanyakan bukti bukti yang melemahkan dan atau kerugian yang
didapatkannya.
10. Mintai respon klien(seberapa besar keyakinan yang masih dimilikinya )
11. Kesimpulan dan support
12. Memberikan follow up. Untuk mengikuti tahap III.
13. Kontrak untuk tahap III
14. Salam

E. SOP Terapi Kognitif: Guide Imagery

1. Menyampaikan salam.
2. Mengingatkan mana perawat.
3. Menegaskan maksud pertemuan.
4. Menyampaikan tujuan terapi.
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi.
6. Memberi kesempatan pasien bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindak lanjuti
sementara)
7. Menanyakan keluhan utama
8. Tanggapi secukupnya
9. Atur posisi klien senyaman mungkin tersedia. (Duduk atau tiduran)
10. Perawat berada disamping klien.
11. Melakukan bimbingan:
a. Klien menutup mata.
b. Letakkan tubuh senyaman-nyamannya.
c. Periksa otot-otot klien dalam keadaan relaks.
d. Ambil nafas melalui hidung, tahan sebentar, dan keluarkan melalui mulut
perlahan-lahan (sesuai bimbingan)

19
e. Minta klien untuk membayangkan hal-hal yang menyenangkan atau keindahan,
dan pastikan klien mampu melakukannya.
f. Kalau perlu tanyakan kepada klien, bila belum bias dan gagal.
g. Secara terbimbing perawat meminta klien untuk melakukan imaginasi sesuai
dengan ilustrasi yang dicontohkan perawat.
h. Biarkan klien menikmati imaginasinya.
i. setelah terlihat adanya respon bahwa klien mampu, dan waktu dalam rentang 15-
30 menit, minta klien untuk membuka mata.
12. Mintai respon klien.
13. Kesimpulan dan support.
14. Memberikan follow up.
15. Kontrak (bila diperlukan)
16. Salam.

F. SOP Terapi Kognitif: Meditasi

1. Menyampaikan salam
2. Mengingatkan nama perawat
3. Menegaskan maksud pertemuan
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
6. Memberi kesempatan pasien bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindaklanjuti
sementara)
7. Menanyakan keluhan utama
8. Tanggapi secukupnya
9. Atur posisi klien senyaman mungkin tersedia.(Duduk atau tiduran)
10. Perawat berada disamping klien
11. Melakukan bimbingan:
a. Klien menutup mata
b. Letakkan tubuh senyaman-nyamannya
c. Periksa otot-otot klien dalam keadaan relaks
d. Ambil nafas melalui hidung, tahan sebentar, dan keluarkan melalui mulut
perlahan-lahan (sesuai bimbingan)
e. Minta klien untuk membayangkan hal-hal yang menyenangkan atau keindahan,
dan pastikan klien mampu melakukannya.
f. Kalau perlu tanyakan kepada klien, bila belum bias dan gagal,
Secara terbimbing perawat meminta klien untuk melakukan imaginasi sesuai
dengan ilustrasi yang dicontohkan perawat.
g. Biarkan klien menikmati imaginasinya
h. Setelah terlihat adanya respon bahwa klien mampu, dan waktu dalam rentang 15-
30 menit, minta klien untuk membuka mata
12. Mintai respon klien
13. Kesimpulan dan support
14. Memberikan follow up
15. Kontrak (bila diperlukan)

20
16. Salam

BAB V

PENELITIAN TERKAIT

Judul : Penerapan Terapi Kognitif Dan Psikoedukasi Keluarga Pada


Klien
Harga Diri Rendah Di Ruang Yudistira Rumah Sakit Dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2013
Nama Peneliti : Titik Suerni, Budi Anna Keliat dan Novy Helena C.D

Analisa:

Jurnal ini membahas mengenai penerapan terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga
pada klien harga diri rendah di Ruang Yudistira Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study). Pengambilan sampel
dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu semua klien dengan
diagnosis keperawatan utama harga diri rendah. Responden berjumlah 35 klien yang
mengalami harga diri rendah di Ruang Yudistira Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
Evaluasi hasil dengan membandingkan tanda dan gejala serta kemampuan klien dan keluarga
pre-post diberikan tindakan keperawatan.
Dalam penelitian ini membahas mengenai faktor-faktor resiko terjadinya harga diri
rendah seperti usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
lama sakit dan status ekonomi. Faktor predisposisi dari harga diri rendah adalah riwayat
kegagalan/kehilangan dan mempunyai kepribadian introvert. Faktor presipitasi yang dapat
mengakibatkan harga diri rendah adalah putus obat.
Pemberian terapi kognitif dapat membantu klien harga diri rendah untuk mengubah
pernyataan dirinya yang mempengaruhi perasaannya ke arah pikiran yang lebih positif. Peran
perawat dalam pemberian terapi kognitif adalah untuk membuat pikiran klien yang
terselubung menjadi lebih terbuka dan ini sangat penting untuk mengatasi kognitif yang
bersifat otomatis. Terapi kognitif untuk harga diri rendah difokuskan untuk mengenal
pikiran-pikiran otomatis negatif, mengubah pemikiran otomatis negatif, mengubah
kepercayaan (anggapan) yang tidak logis, penalaran salah, mengembangkan pola piker yang

21
rasional, dan mengatasi kelainan bentuk pikiran (distorsi kognitif) dengan cara
menggantikannya dengan pikiranpikiran yang lebih realistis.
Terapi kognitif dan terapi psikoedukasi keluarga lebih efektif untuk klien harga diri
rendah. Ini menunjukkan bahwa terapi psikoedukasi keluarga perlu dilakukan secara
bersamaan dengan terapi individu karena menunjukkan hasil yang lebih optimal.
Kemampuan keluarga setelah diberikan tindakan keperawatan generalis dan psikoedukasi
keluarga menunjukkan peningkatan yaitu sebanyak 100% keluarga mampu mengenal
masalah, mampu memutuskan, mampu merawat klien, mampu memanfaatkan pelayanan
kesehatan, mampu manajemen stres, mampu manajemen beban, dan sebanyak 90% keluarga
mampu modifikasi suasana lingkungan yang positif.
Dari penelitian ini didapatkan hasil yaitu kemampuan klien setelah diberikan tindakan
keperawatan generalis dan terapi kognitif 80% klien mampu mengidentifikasi pikiran
otomatis negatif, 80% mampu menggunakan tanggapan rasional terhadap pikiran otomatis
negatif, 86,67% klien mampu mengidentifikasi manfaat penggunaan tanggapan rasional dan
80% klien mampu menggunakan support sistem. Kemampuan klien setelah diberikan
tindakan keperawatan generalis, terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga 100% klien
mampu mengidentifikasi pikiran otomatis negatif, 100% mampu menggunakan tanggapan
rasional terhadap pikiran otomatis negatif, 100% klien mampu mengidentifikasi manfaat
penggunaan tanggapan rasional dan 90% klien mampu menggunakan support sistem.

22
Judul : Terapi Kognitif Perilaku Dalam Menurunkan Tingkat
Kecemasan Pada Gangguan Kecemasan Sosial.

Nama Peneliti : Adib Asrori

Analisa:

Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana Terapi Kognitif Perilaku dalam
menurunkan tingkat kecemasan pada gangguan kecemasan sosial. Metode penelitian yang
digunakan adalah studi kasus, yang lazim digunakan untuk uji efektivitas terapi. Tempat
penelitian adalah Fakultas Psikologi. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang
memenuhi kriteria subjek penelitian, sejumlah 2 orang. Kriteria yang ditetapkan dalam
penentuan subjek ini adalah mahasiswa yang mengalami gangguan kecemasan sosial, tingkat
kecemasan di atas angka 60, dan memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti terapi.
Masing-masing subjek akan mendapatkan Terapi Kognitif Perilaku secara individual.

Pembahasan yang dilakukan pada Terapi Kognitif Perilaku untuk mengatasi


kecemasan sosial terdiri dari tiga strategi utama, yakni memasukkan di dalamnya terapi
kognitif, exposure atau menghadapi langsung situasi yang menakutkannya, dan ditambahkan
dengan pelatihan keterampilan sosial. Hasil yang didapatkan pada Terapi Kognitif Perilaku
yang diberikan terhadap kedua subjek terbukti efektif menurunkan tingkat kecemasannya.
Dikatakan efektif sebab memenuhi kriteria yang disyaratkan dalam penelitian ini yakni
menurunnya tingkat kecemasan, berkurang atau bahkan hilangnya pemikiran dan perilaku
negatif, subjek lebih dapat berfikir positif dan rasional

Kesimpulan didapatkan bahwa Terapi Kognitif Perilaku berhasil menurunkan tingkat


kecemasan kedua subjek dengan mengubah pemikiran negatif menjadi alternatif pemikiran
yang lebih positif dan rasional. Pemikiran positif dan rasional dapat membuat subjek merasa
lebih nyaman dan tidak cemas, akibatnya tidak lagi melakukan perilaku negatif atau perilaku
aman. Subjek menjadi lebih berani dan percaya diri ketika menghadapi berbagai situasi sosial
yang selama ini mereka cemaskan.

23
Judul : Pengaruh Terapi Kognitif Restrukturisasi Terhadap Penurunan
Skor Depresi Pada Pasien Gangguan Jiwa

Nama Peneliti : Wening Marsudi Astuti, Made Sumarwati, Tulus Seyiono

Analisa:

Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh terapi kognitif


restrukturisasi terhadap penurunan skor depresi pada pasien gangguan jiwa. Design penelitian
ini adalah quasy experiment dengan rancangan eksperimental seri atau disebut juga time
series design. Tempat dilakukan penelitian di bangsal Sakura RSUD Banyumas Jawa Tengah.
Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien gangguan jiwa mengalami depresi yang
menjalani perawatan di RSUD Banyumas pada saat penelitian dilaksanakan sebanyak 29
orang.

Pembahasan didapatkan bahwa nilai rata-rata skor depresi sebelum dilakukan terapi
kognitif sebesar 33,59, setelah diberikan terapi kognitif: restrukturisasi kognitif satu kali
menurun menjadi 31,24, dan setelah diberikan terapi kognitif: restrukturisasi kognitif dua kali
menurun kembali menjadi 25,97. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui nilai t = 16,045
dengan nilai p = 0,00 (p < ? = 0,05), artinya secara statistik ada pengaruh terapi kognitif:
restrukturisasi kognitif terhadap penurunan skor depresi pada pasien gangguan jiwa. Hasil ini
dilihat dari rata-rata skor depresi setelah terapi kedua sebesar 25,97 yang lebih kecil
dibandingkan rata-rata skor depresi setelah terapi satu kali sebesar 31,24.

Kesimpulan yang didapatkan bahwa terapi kognitif: restrukturisasi kognitif yang


dilakukan 2 kali lebih efektif dibandingkan yang hanya dilakukan 1 kali. Terapi kognitif
restrukturisasi perlu dijadikan terapi modalitas yang dilakukan minimal satu kali untuk
menurunkan skor depresi pada pasien gangguan jiwa di RSUD Banyumas. Bagi profesi
keperawatan terapi kognitif dapat sebagai bahan masukan untuk digunakan dalam intervensi
penangganan pasien depresi yang minimal dilakukan satu kali untuk menurunkan skor
depresi.

24
Judul : Pengaruh Terapi Kognitif Terhadap Tingkat Kecemasan dan
Ketergantungan Activity Daily living (ADL) Pada Pasien Gangguan
Jiwa

Nama Peneliti : Ibrahim Rahmat

Analisa:

Penelitian ini untuk melihat bagaimana Terapi kognitif menurunkan dapat


mempengaruhi perubahan tingkat kecemasan dan tingkat ketergantungan Activity Daily
Living (ADL) pda pasien gangguan jiwa. Metode penelitian yang digunakan merupakan
penelitian Quasi Eksperimen, rancangan pretest dan postest design. Subjek dalam penelitian
ini adalah psien gangguan jiwa pada tahap maintanance dan healt promotion. Jumlah subjek
penelitian 22 responden yang mendapatkan perawatan di rumah sakit Grhasia Yogyakarta.

Pembahasan didapatkan bahwa mayoritas tingkat kecemasan responden sebelum


perlakuan berada pada kategori cemas sedang (81,8%), sedangkan setelah perlakuan berada
pada kategori cemas ringan (59,1%). Didukung oleh teori yang mengatakan bahwa terapi
kognitif merupakan salah satu pendekatan kognitif yang sesuai untuk mengatasi cemas
karena gejala cemas erat hubungannya dengan isi pikiran seseorang sehingga bisa
menurunkan kecemasan.

Mayoritas tingkat ketergantungan ADL responden sebelum perlakuan terapi kognitif


pada kategori ketergantungan sedang (27,3%), sedangkan setelah perlakuan terapi kognitif
berada pada kategori ketergantungan ringan (68,2%), kategori mandiri (31,8%). Didukung
oleh teori yang mengatakan bahwa terapi kognitif terdapat tahapan dimana klien diajarkan
bagaimana klien mengggunakan ketrampilannya secara lebih efektif dan dikerjakan untuk
aktivitas hidup sehari-hari.

Simpulan didapatkan bahwa Terapi kognitif secara rerata dapat menurunkan tingkat
kecemasan, sedangkan secara statistik tidak bermakna pada pasien gangguan jiwa di Rumah
Sakit Grhasia Provinsi DIY. Sedangkan untuk gangguan pemenuhan kebutuhan ADL pada
pasien gangguan jiwa baik secara rerata maupun dari penghitungan secara statistik dapat
bermakna artinya dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri.

25
Judul : Terapi Melukis Terhadap Kognitif Pasien Skizofrenia Di Rumah
Sakit Jiwa Sambang Lihum Tahun 2015

Nama Peneliti : Norsyehan, Dian Ririn Lestari, Yeni Mulyani

Analisa:

Penelitian ini membahas mengenai Terapi Melukis Terhadap Pasien Skizofrenia Di


Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh terapi melukis terhadap kognitif pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan
metode pra eksperimen dengan pendekatan design one group pre and post design. Jumlah
responden pada penelitian ini adalah 30 orang dengan accidental sampling. Pengambilan data
dilakukan melalui pengukuran kemampuan kognitif sebelum terapi dan sesudah terapi
melukis. Pasien dengan diagnosis Skizofrenia akan mengalami kemunduran dalam kehidupan
sehari-hari, hal ini ditandai dengan hilangnya motivasi dan tanggung jawab, selain itu pasien
cenderung apatis, menghindari kegiatan dan mengalami gangguan dalam penampilan.
Pembahasan didapatkan bahwa Pasien Skizofrenia akan mengalami gangguan dalam
memenuhi tuntutan hidup sehari-hari seperti kebersihan diri. Penatalaksanaan pasien
Skizofrenia berupa psikofarmakologi, psikoterapi, milieu therapy, pendekatan keperawatan,
terapi modalitas, Terapi modalitas merupakan metode pemberian terapi yang menggunakan
kemampuan fisik atau elektrik, yang bertujuan untuk membantu proses penyembuhan atau
mengurangi keluhan yang dialami oleh klien. Melukis bagi pasien skizofrenia merupakan
bentuk komunikasi dari alam bawah sadarnya, berdasarkan visualisasi atau simbol-simbol
yang muncul, akan terdapat image yang merupakan simbolisasi dari ekspresi bawah sadar
pasien. bahwa terapi seni membawa perubahan bagi kesehatan mental penderita dan terapi
seni di sebut sebagai Simbolic speech bahwa kata-kata dapat di salurkan melalui kegiatan
melukis sehingga melalui terapi melukis terdapat perbaikan dalam aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik. Terapi dilakukan oleh petugas rehabilitasi dan dibantu perawat, pertama-tama
terapis mengucapkan salam terapeutik dan menanyakan perasaan responden, melakukan
kontrak, menjelaskan tujuan kegiatan dan menjelaskan prosedur kegiatan yang akan
dilaksanakan. Terapis meminta klien melukis apa saja sesuai dengan yang diinginkan saat ini,
sementara klien mulai melukis, terapis berkeliling dan member penguatan kepada klien untuk
terus melukis, jangan mencela klien. Setelah semua klien melukis, terapis meminta masing-
masing klien menceritakan gambar yang telah dibuatnya kepada klien lain, yang harus
diceritakan adalah gambar apa dan apa makna gambar tersebut menurut klien.

26
Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh
pemberian terapi melukis terhadap kognitif pasien Skizofrenia di Rumah sakit jiwa Sambang
lihum dengan nilai signifikasi 0.000 yang berarti p< 0.05. Disarankan untuk melakukan terapi
melukis pada pasien skizofrenia untuk meningkatkan fungsi kognitif.

27
Judul : Penerapan Terapi Kognitif Dan Terapi Reminiscence Pada
Lansia Harga Diri Rendah Menggunakan Pendekatan Model
Adaptasi Roy

Nama Peneliti : Novi Herawati

Analisa:

Penelitian ini membahas mengenai Penerapan Terapi Kognitif Dan Terapi


Reminiscence Pada Lansia Harga Diri Rendah Menggunakan Pendekatan Model Adaptasi
Roy. Bertujuan untuk menerapkan terapi kognitif dan reminiscence pada klien lansia
menggunakan pendekatan Model Stres Adaptasi Stuart dan Adaptasi Roy. Terapi diberikan
pada 12 klien lansia.
Pembahasan didapatkan bahwa, terapi kognitif dan reminiscence yang diberikan
bermanfaat untuk meningkatkan mekanisme koping yaitu sistem kognator klien dalam
mengatasi stimulus yang diterimanya. Hasil pelaksanaan terapi kognitif dan reminiscence
yang diberikan pada klien harga diri rendah memberikan pengaruh yang efektif terhadap
perubahan perilaku klien berupa harga diri yang positif. Hasil yang diperoleh juga diperkuat
oleh terapi lainnya berupa terapi generalis keperawatan yang dilakukan bersama mahasiswa
lain yang sedang praktik dan perawat ruangan T.
Kesimpulan yang didapatkan bahwa hasil terapi kognitif dan reminiscence pada klien
secara umum menunjukkan hasil yang efektif, dibuktikan dengan kondisi akhir klien setelah
mengikuti terapi menunjukkan kemampuan yang mandiri yang terlihat pada respon kognitif,
perilaku, afektif, fisiologis dan sosial yang adaptif. Berdasarkan hasil analisis penelitian ini
menunjukkan terapi kognitif dan reminiscence dapat meningkatkan harga diri, menurunkan
tanda dan gejala harga diri rendah, meningkatkan kemampuan dan menurunkan tingkat
depresi klien lansia. Terapi ini direkomendasikan bagi klien lansia dengan harga diri rendah.

28
Judul : Pengaruh Terapi Kognitif Terhadap Harga Diri Remaja Korban
Bullying

Nama Peneliti : Betie Febriana, Sri Poeranto, Rinik Eko Kapti

Analisa:

Jurnal ini meneliti mengenai pengaruh terapi kognitif terhadap harga diri remaja korban
bullying di SMA Taman Madya Malang tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif dengan menggunakan rancangan True Experimental Pre-Post Test With Control
Group. Pengambilan sampel sebanyak 17 responden baik kontrol maupun perilaku dengan
menggunakan teknik simple random sampling, Instrument harga diri menggunakan kuesioner
dari teori Stuart (2013), Kaplan (2010), dan Herdman (2015) yang dinilai dari aspek kognitif,
afektif, prilaku, sosial, dan fisik. Instrument terdiri dari 30 pertanyaan.

Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan harga diri pada remaja korban bullying
kelompok perlakuan yang dibuktikan dengan sebanyak 12 dari 17 remaja (70,6%) mengalami
peningkatan harga diri setelah diberikan terapi kognitif. Hasil analisis bivariat dengan
menggunakan uji marginal homogeneity didapatkan hasil p-value 0,001 dimana p
value<0,05. Hal ini berarti ada perbedaan harga diri pada kelompok perlakuan sebelum dan
sesudah pemberian terapi kognitif. Sedangkan, pada kelompok kontrol yang tidak diberikan
perlakuan 76,5% responden mengalami peningkatan skor harga diri yang artinya harga diri
semakin menurun. Berdasarkan hasil analisi menggunakan uji marginal homogeneity
didapatkan hasil p-value 0, 564 dimana p>0,05 yang berarti tidak ada perbedaan harga diri
pada kelompok kontrol antar sebelum dan sesudah intervensi yaitu terapi kognitif. Hasil uji
kolmogorov-smirnov didapatkan bahwa nilai p adalah 0,031 (p< 0,05) sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian CT dengan harga diri remaja korban bullying.

Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi kognitif mampu memberikan dampak bagi
peningkatan harga diri korban bullying di kalangan remaja dan terdapat pengaruh terapi
kognitif terhadap harga diri remaja korban bullying. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa penting ini untuk mengembangkan dan mengaplikasikan pemberian asuhan
keperawatan jiwa pada seluruh tatanan pelayanan kesehatan dengan terapi kognitif untuk
remaja korban bullying untuk meningkatkan harga dirinya.

29
Judul : Terapi Kognitif Perilaku Religius Untuk Menurunkan
Kecemasan Terhadap Kematian Pada Penderita Hiv/Aids

Nama peneliti : Deasy Irawati, Subandi, Retno Kumolohadi

Analisa

Terapi kognitif perilaku religius untuk menurunkan kecemasan terhadap kematian pada
penderita hiv/aids. Penelitian ini mrupakan penelitian kuantitaif dan kualitatif dengan
menggunakan rancangan penelitian eksperimen pre-test dan post-test control group, dengan
jumlah sampel sebanyak 8 responden yang dibagi menjadi 4 responden diberi perlakuan dan
4 responden sebagai kontrol. Metode pengumpulan data penyusunan skala, wawancara, dan
observasi. Alat ukur yang digunakan pada pretest berupa skala tingkat kecemasan terhadap
kecemasan.

Berdasakan perolehan skor dan kategori seperti pada tabel di atas diketahui subjek
penelitian baik kelompok kontrol dan kelompok eksperiman memiliki kecemasan yang
tergolong sedang sampai dengan sangat tinggi. Setelah diberi terapi kognitif perilaku religius
ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen.
Kelompok eksperimen memiliki kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Hasil analisis data dengan uji Mann-Whitney Test menunjukkan bahwa
pada pretest dan postest pada perbedaan kecemasan yang signifikan pada subjek penelitian,
hal ini ditunjukkan dengan nilai Z= -2,309, p=0,021 (p<0,05). Pada posttest dan follow-up
ada perbedaan kecemasan pada subjek penelitian, hal ini ditunjukkan dengan nilai Z=-2,323,
p=0,020(p<0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan
yang signifikan setelah diberikan terapi pada subjek penelitian dan ada perbedaan tingkat
kecemasan terhadap kematian pada subjek penelitian setelah dilakukan follow-up.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terapi kognitif perilaku religius
berpengaruh dalam menurunkan kecemasan terhadap kematian pada penderita HIV/AIDS.
Hasil observasi, wawancara dan penilaian kecemasan melalui skala menunjukan bahwa ada
perbedaan tingkat kecemasan terhadap kematian sebelum dan sesudah diberi perilaku, sampai
dengan follow-up. Berdasarkan analisis individual didapatkan beberapa faktor yang
mempengaruhi dalam penurunan kecemasan pada penderita HIV/AIDS antara lain karena
faktor kedisiplinan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, melakukan latihan secara rutin dan
teratur, kondisi fisik dan psikis subjek, di samping itu faktor lingkungan tempat
berlangsungnya terapi dan tempat tinggal subjek juga sangat mempengaruhi hasil terapi.

30
Judul : Terapi Kognitif dan relaksasi untuk meningkatkan optimisme pada

pensiunan di Universitas Surabaya

Nama Peneliti : Sendy Limono

Analisa:

Pada jurnal penelitian ini mengenai terapi Kognitif dan relaksasi untuk meningkatkan
optimisme pada pensiunan di Universitas Surabaya. Metode dalam penelitian ini adalah
kuantitatif dengan menggunakan quasi eksperimen dengan purposive sampling. Tempat
penelitian ini dilakukan di salah satu Universitas Surabaya. Sampel dalam penelitian ini
adalah pria yang dahulubekerja sebagai administrasi, masa pensiun 0-3 tahun. Berdasarkan
wawancara bahwa para laki- laki pensiunan memiliki distorsi kognitif tentang masa depannya
sehingga menimbulkan kecemasan. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian
dengan memberikan terapi kognitif yang berfungsi mengurangi distorsi kognitif pada
pensiunan sehingga kecemasan dapat berkurang dan mengembalikan tubuh dalam keadaan
normal. Berdasarkan hasil peneitian menunjukkan bahwa responden mampu meningkatkan
optimisme dengan mengendalikan distorsi kognitif.

31
Judul : Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial (Kognitif, Afektif dan
Perilaku) Melalui Penerapan Terapi Perilaku Kognitif Di RSJ Dr
Amino Gondohutomo Semarang
Nama Peneliti : Sri Nyumirah

Analisa:

Terapi kognitif adalah terapi yang didasari dari gabungan beberapa terapi yang
dirancang untuk merubah cara berfikir dan memahami situasi dan perilaku sehingga
mengurangi frekuensi negatif, emosi yang menganggu dan mengurangi penurunan motivasi
terutama dalam melakukan interaksi sosial (Epigee, 2009; dikutip Nyumirah, 2013).
Dalam penelitian Nyumirah (2013) yang dilakukan di RSJ Dr Amino Gondohutomo
memberikan terapi kognitif untuk pasien yang interaksi sosialnya masih belum maksimal. Hal
ini dilihat setelah studi pendahuluan yang dilakukan oleh Nyumirah (2013) bahwa masih
tampaknya gejala isolasi sosial yang muncul dan pikiran menganggap tidak penting dan tidak
ada gunanya berinteraksi dengan orang lain sehingga menurunkan motivasi klien saat akan
berinteraksi dengan orang lain. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang di guanakan
adalah kuantitatif menggunakan desain quasi experimental pre-post test without control
dengan intervensi terapi perilaku kognitif yang terdiri dari 5 sesi pada tanggal 25 April-5 Juni
2012. Teknik pengambilan sampel secara total sampling yang berjumlah 33 orang pasien
isolasi sosial.
Responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan saat
berhubungan dengan orang lain, karena ada penolakan, merasa bodoh, tidak percaya dan
merasa tidak ada manfaatnya jika berhubungan dengan orang lain karena merasa takut untuk
mendapatkan penolakan untuk berhubungan dengan orang lain sehingga responden merasa
tidak nyaman yang mengakibatkan responden suka menyendiri, lebih banyak diam dan malas
melakukan interaksi dengan orang lain. Setelah diberikan terapi kognitif, hasil penelitian
menunjukkan ada peningkatan kemampuan kognitif responden serta peningkatan kemampuan
interaksi sosial dengan kemampuan respon afektif responden. Meningkatnya respon afektif
pada responden setelah dilakukan terapi perilaku kognitif karena klien merasa tidak cemas
selalu optimis dan dapat menghargai individu, orang lain dan lingkungan sehingga responden
dapat mengubah perasaan yang negatif menjadi positif yang akhirnya akan memunculkan
perilaku yang positif juga setelah diajarkan mengubah perasaan negatif untuk menjadi positif

32
pada sesi 3 dalam penerapan terapi perilaku kognitif. Dalam terapi perilaku kognitif,
responden dilatih melakukan perilaku yang negatif menjadi positif, sehingga terjadi
peningkatan perilaku positif dalam melakukan interaksi sosial setelah dilakukan terapi
perilaku kognitif.
Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini, bahwa terapi perilaku kognitif dapat
mengubah interaksi sosial pasien yang mengalami isolasi sosial, sehingga pasien berinteraksi
dengan nyaman merasa tidak cemas selalu optimis dan dapat menghargai individu, orang lain
dan lingkungan sehingga responden dapat mengubah perasaan yang negatif menjadi positif
yang akhirnya akan memunculkan perilaku yang positif.

33
Judul : Penerapan Terapi spesialis Keperawatan Jiwa: Terapi Kognitif Pada
Harga Diri Rendah di RW 09, 11 dan 13 Kelurahan Bubulak Bogor
Peneliti : M Fatkhul Mubin

Analisa :

Harga diri rendah mengindikasikan penolakan diri dan membenci diri yang secara
sadar atau tidak sadar diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung atau suatu
keadaan yang dapat diekspresikan secara negailf tentang diri baik langsung dan tidak
langsung (Mubin, 2009).
Mubin (2009) memberikan terapi kognitif pada pasien dengan harga diri rendah di RW 09, 11
dan 13 Kelurahan Bubulak Bogor. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi
eksperimental dengan rancangan time series design. Populasi dalam penelitian ini adalah
warga kelurahan Bubulak Bogor RW.09, 11 dan 13 yang mengalami harga diri rendah
sebanyak 11 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara sampling
ienuh yaitu cara pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi
sampel (Hidayat, 2007; dikutip Mubin, 2009).
Hasil dari data karakteristik yang didapat peneliti bahwa pendidikan pasien sebagian
besar SD (54.5%), status pekerjaan pasien yang terbanyak adalah tidak bekerja (72.7%) dan
kondisi status ekonomi pasien terbanyak di bawah UMR kota Bogor (90.9%). Setelah
diberikan terapi kognitif, pasien mempunyai kemampuan dapat mengembangkan pikiran
positifnya dan menurunkan terjadinya pikiran negatif yang sebelumnya mendominasi. Harga
diri pasien menjadi meningkat dan dapat melakukan kegiatan harian. Terapi kognitif juga
mempunyai keterkaitan pada mekanisme koping yang dipakai pasien sebelumnya.
Dapat disimpulkan bahwa terapi kognitif dapat diberikan pada pasien dengan harga
diri rendah agar pasien mampu mengembangkan pikiran rasional positif sesuai potensi yang
dimiliki untuk meningkatkan rasa percaya diri pasien.

34
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif,
direktif dan berjangkan waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam
kepribadian, misalnya ansietas atau depresi. Terapi kognitif digunakan untuk
mengidentifikasi, memperbaiki gejala perilaku yang malasuai, dan fungsi kognisi yang
terhambat, yang mendasari aspek kognitif yang ada. Terapis dengan pendekatan kognitif
mengajarkan pasien atau klien agar berpikir lebih realistik gejala yang berkelainan yang
ada.

Beberapa teknik dalam terapi kognitif yaitu teknik restrukturisasi kongnisi


(restructuring cognitive), teknik penemuan fakta-fakta (questioning the evidence), teknik
penemuan alternatif (examing alternatives), dekatastropik (decatastrophizing), reframing,
thought stopping, learning new behavior with modeling, membentuk pola (shaping),
token economy, role play, social skill training, anversion theraphy, contingency
contracting.

B. Saran

Sebagai mahasiswa dan calon tenaga medis kita mampu menerapkan mekanisme
koping dengan menggunakan terapi kognitif kepada klien sehingga jumlah kasus
penderita gangguan jiwa di Indonesia dapat menurun.

35
DAFTAR PUSTAKA

Afiyah, Nor. 2016. Penerapan Terapi Kognitif Pada Klien Isolasi Sosial Di Rsjd Dr.Amino
Gondohutomo Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.

Setyoadi, dkk. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan pada klien Psikogeriatrik. Jakarta:
Salemba Medika.

Yosep & Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditamam.

Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati. (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika

iv

Anda mungkin juga menyukai