Anda di halaman 1dari 12

PEREKONOMIAN INDONESIA

UPAH MINIMUM PROPINSI di INDONESIA

Tugas

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Perekonomian Indonesia

Disusun Oleh:

ALIFA ROSYIDA F0214012

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara yang memiliki perekonomian yang baik, seimbang serta kehidupan yang sejahtera
merupakan dambaan stiap orang. Untuk mewujudkan semua itu, sangat perlu untuk
dilakukannya pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi selalu melibatkan sumber daya
manusia sebagai salah satu pelaku pembangunan, oleh karena itu jumlah penduduk di dalam
suatu negara adalah unsur utama dalam pembangunan. Jumlah penduduk yang besar tidak
selalu menjamin keberhasilan pembangunan bahkan dapat menjadi beban bagi
keberlangsungan pembangunan tersebut. Jumlah penduduk yang terlalu besar dan tidak
sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja akan menyebabkan sebagian dari penduduk yang
berada pada usia kerja tidak memperoleh pekerjaan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS)
menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia berjumlah 237.641.326 dengan tingkat
pengangguran terbuka sebesar 13.307.914 pada tahun 2016. [1]

Dimensi masalah ketenagakerjaan bukan hanya sekedar keterbatasan lapangan atau peluang
kerja serta rendahnya produktivitas namun jauh lebih serius dengan penyebab yang berbeda
beda. Masalah pokok tertumpu pada kegagalan penciptaan lapangan kerja yang baru pada tingkat
yang sebanding dengan laju pertumbuhan output industri. Seiring dengan berubahnya lingkungan
makro ekonomi mayoritas Negara - negara berkembang, angka pengangguran yang meningkat
pesat terutama disebabkan oleh terbatasnya permintaan tenaga kerja, yang selanjutnya semakin
diciutkan oleh faktor - faktor eksternal seperti memburuknya kondisi neraca pembayaran,
meningkatnya masalah utang luar negeri dan kebijakan lainnya, yang pada gilirannya telah
mengakibatkan kemerosotan pertumbuhan industri, tingkat upah, dan akhirnya, penyedian
lapangan kerja.

Terbatasnya permintaan tenaga kerja yang terjadi dapat memicu meningkatnya pengangguran
di Indonesia. Dalam suatu proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa, tenaga kerja
merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi tersebut. Dengan
menelaah hubungan antara produksi barang -barang dan permintaan tenaga kerja, akan dapat
diketahui faktor yang menentukan upah keseimbangan. Upah Minimum Regional (UMR) atau
yang sekarang dikenal dengan Upah Minimum Propinsi (UMP) menjadi salah satu indikator bagi
kesejahteraan penduduk. UMP yang rendah berarti penduduk di suatu wilayah tersebut memiliki
standar hidup dan tingkat konsumsi yang rendah pula, sedangkan kota atau kabupaten yang
memiliki Upah Minimum Regional yang tinggi berarti penduduk di kota atau kabupaten tersebut
memiliki standar hidup dan tingkat konsumsi yang tinggi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tingkat UMP dan implementasinya di Indonesia?
2. Apa dampak positif dan negatif jika terjadi kenaikan UMP di Indonesia?
3. Bagaimana peran UMP dalam upaya mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan Teori

Upah Minimum Regional (UMR) atau yang sekarang dikenal dengan Upah Minimum
Provinsi (UMP) adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku
industri untuk memberikan upah kepada pekerja di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. [4]

Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003 pasal 88 ayat 1 dan 2 Setiap pekerja/buruh
berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang
melindungi pekerja/buruh. Pemerintah menetapkan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup
layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.[3]

Menurut Permen no.1 Tahun. 1999 Pasal 1 ayat 1, Upah Minimum Kabupaten adalah upah
bulanan kabupaten terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap. Upah ini
berlaku bagi mereka yang lajang dan memiliki pengalaman kerja 0-1 tahun, berfungsi sebagai
jaring pengaman, ditetapkan melalui Keputusan Gubernur berdasarkan rekomendasi dari Dewan
Pengupahan dan berlaku selama 1 tahun berjalan. Selain penjelasan di atas, Permen no.1 Th.
1999 Pasal 1 ayat 1 juga menjelaskan beberapa dasar pertimbangan dari penetapan upah
minimum yaitu sebagai berikut:

1. Sebagai jaring pengaman agar nilai upah tidak melorot dibawah kebutuhan hidup
minimum.
2. Sebagai wujud pelaksanaan Pancasila, UUD 45 dan GBHN secara nyata.
3. Agar hasil pembangunan tidak hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang
memiliki kesempatan, tetapi perlu menjangkau sebagian terbesar masyarakat
berpenghasilan rendah dan keluarganya.
4. Sebagai satu upaya pemerataan pendapatan dan proses penumbuhan kelas menengah.
5. Kepastian hukum bagi perlindungan atas hak hak dasar Buruh dan keluarganya sebagai
warga negara Indonesia.
6. Merupakan indikator perkembangan ekonomi Pendapatan Perkapita.

Dasar hukum penetapan UMP adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum. UMP ditetapkan oleh gubernur dengan
memperhatikan rekomendasi Dewan Pengupahan Provinsi.

Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mula-mula Dewan
Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan pengusaha
mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah
kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei di sejumlah kota
dalam provinsi tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak
(KHL) - dulu disebut Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD
mengusulkan upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk disahkan. Komponen
kebutuhan hidup layak digunakan sebagai dasar penentuan upah minimum berdasarkan
kebutuhan hidup pekerja lajang (belum menikah). Selain KHL faktor - faktor yang juga
diperhaitkan antara lain, tingkat inflasi produktivitas, pertumbuhan ekonomi, usaha yang paling
tidak mampu dan kondisi pasar kerja.[2]

Sesuai dengan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ,pegusaha yang
tidak membayarkan upah sesuai ketentuan UMP dianggap sebagai pelaku kejahatan dengan
ancaman sanksi penjara dari satu hingga empat tahun dan denda minimal Rp.100 juta dan
maksimal Rp.400 juta. UMP yang ditetapkan merupakan gaji pokok bagi pekerja yang masih
belum menikah dan punya masa kerja 0-12 bulan. Dalam hal komponen upah terdiri dari upah
pokok dan tunjangan tetap maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75 persen dari jumlah
upah pokok dan tunjangan tetap. [3]
B. Pembahasan

Hal yang paling didambakan pada suatu Negara adalah tingkat kesejahteraan penduduknya
yang tinggi. Kesejahteraan tersebut sangat didambakan siapapun baik mereka yang hidup di kota
maupun di desa. Namun pada kenyataannya kehidupan yang dijlani oleh setiap individu tidak
selamanya dalam kondisi sejahtera. Berbagai cara dilakukaan agar dapat merasakan hidup layak,
mulai dari bekerja menjadi buruh, karyawan atau bahkan membuka usaha sendiri. Salah satu
yang dapat menjadi tolak ukur kesejahteraan suatu daerah adalah pendapatan atau UMP daerah
tersebut. Dimana UMP juga menunjukan tingkat konsumsi akan suatu barang di daerah tersebut.
Sehingga semakin tinggi tingkat UMP di suatu daerah maka semakin sejahtera masyarakat yang
berada di daerah tersebut.

Di Indonesia, UMP terus mengalami penyesuaian setiap tahunnya

Tingkat UMP di Indonesia 2010-2017


3,000,000.00

2,500,000.00
2,547,272.00
1,997,819.00
2,000,000.00 1,790,342.00

1,584,391.00
1,500,000.00 1,296,908.00
1,088,903.00
1,000,000.00 908,824
988,892

500,000.00

-
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Sumber data : Badan Pusat Statistik (BPS)


Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa UMP mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Biasanya seiring dengan meningkatnya UMP, inflasi juga mengalami peningkatan, karena salah
satu faktor penentu UMP adalah tingkat inflasi di daerah tersebut.

Dalam Undang-undang sudah ditegaskan bahwa perusahaan yang memberikan upah


karyawannya di bawah UMP akan mendapatkan sanksi. Tapi pada kenyataannya masih banyak
perusahaan yang menggaji karyawannya di bawah UMP. Seperti yang terjadi di Sumatra Selatan,
dikabarkan di Palembang-pos pada tahun 2016 lalu, terdapat 40 persen dari 50 ribu pekerja
anggota SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) mendapat gaji dibawah UMR yang
seharusnya minimal Rp 2.206.000 hanya dibayarkan sebesar Rp 1,8 juta Rp 2 juta. Hal tersebut
tidak hanya terjadi di Sumatra Selatan melainkan di banyak kota di Indonesia, seperti hal nya di
Jakarta. Dua perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dan travel terancam terkena sanksi
pidana karena membayar upah buruh dibawah UMP sebesar Rp 2,7 juta. [6]

Dibalik peningkatan UMP di Indonesia pasti terdapat dampak yang dihasilkannya. Baik itu
dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif diantaranya adalah :

1. Meningkatkan tingkat konsumsi domistik. Dengan meningkatnya upah yang


diterima, maka semakin banyak juga jumlah uang yang di belanjakan. Sehingga
meningkatkan tingkat konsumsi domistik
2. Memotivasi para pekerja. Selain meningkatkan konsumsi domistik, dampak yang
dapat dilihat langsung adalah tingkat motivasi para pekerja. Dengan peningkatan
jumlah UMP maka diharapkan pekerja semakin termotivasi sehingga dapat bekerja
secara maksimal dan menghasilkan hasil yang maksimal pula
3. Mendorong para pengusaha untuk berpikir kreatif dan inovativ. Untuk
meningkatkan motivasi para pekerja, tidak serta merta hanyak karena kenaikan
UMP saja. Melainkan juga usaha dari perusahaan tersebut untuk mendorong
karyawannya agar bekerja dengan maksimal. Hal tersebut akan mendorong
pengusaha untuk berfikir kreatif.
4. Mengurangi jumlah pengangguran. Kenaikan UMP dapat diibaratkan sebagai
pedang bermata dua, apabila perusahaan tidak pandai-pandai dalam mengelola
karyawannya maka akan berdampak buruk bagi perusahaan itu sendiri. Apabila
perusahaan dapat mendorong karyawan untuk menghasilkan lebih produk atau jasa
yang lebih baik serta didorong dengan kenaikan UMP, maka akan meningkatkan
daya beli. Jika daya beli meningkat, otomatis permintaan akan barang juga
meningkat. Jika permintaan meningkat, perusahaan dapat merekrut karyawan guna
memaksimalkan produksi.

sedangkan dampak negatif nya antara lain :

1. Meningkatkan tingkat inflasi. Kenaikan UMR juga akan berpengaruh terhadap


kenaikan barang dan jasa, di karenakan produsen akan menaikkan harga barang
yang telah di produksi agar memberi keuntungan guna menutupi atau membayar
upah karyawannya bisa terpenuhi.Dan dari keniakan barang dan jasa tersebut, maka
Inflasi menjadi momen yang tak terelakkan. Karena harga barang naik angka
permintaan uang yang semakin meningkat.
2. Tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah kenaikan UMP. ketika pendapatan
buruh naik, harga barang juga akan naik, sehingga untuk menutup belanja rumah
tangga juga akan tetap sama. Hal ini disebabkan dengan biaya pokok produksi yang
meningkat sehingga biaya penjualan semakin meningkat.
3. Perubahan gaya hidup yang tidak sesuai dengan pemasukan. Dengan meningkatnya
penghasilan seseorang, maka bisa dipastikan orang tersebut akan mengubah gaya
hidupnya dengan membeli barang-barang yang lebih branded misalnya. Hal
tersebut akan memicu perasaan yang serba kurang, walaupun pada kenyataannya ia
sudah mendapatkan gaji yang lebih banyak dari sebelumnya.
4. Bertambahnya jumlah pengangguran dan perusahaan gulung tikar. Kenaikan UMP
memiliki dua sudut pandang. Disisi buruh akan terasa menguntungkan, mendapat
kenaikan gaji, serta dapat memotivasi dalam bekerja. Tapi di sisi perusahaan akan
terasa berat apabila perusahaan tersebut tidak bisa menghasilkan penghasilan yang
sepadan dengan pengeluaran yang sudah di keluarkan untuk membayar
karyawannya. Hal tersebut dapat memicu perusahaan untuk mengurangi jumlah
karyawan karena dirasa berat dalam menggaji. Apabila tetap tidak sanggup, maka
kemungkinan terburuknya adalah gulung tikar dan menyebabkan bertambahnya
jumlah pengangguran.
5. Kelebihan penawaran tenaga kerja. Dengan adanya kenaikan upah UMP akan
mempengaruhi adanya kelebihan penawaran tenaga kerja di karenakan masyarakat
memandang tingkat upah yang cukup tinggi. Misalnya pada orang yang sudah lulus
SMA, mereka berpikir untuk langsung kerja dari pada melanjutkan sekolah yang
lebih tinggi, karena melihat tingkat upah kerja lebih menguntungkan. Dan hal ini
bertolak belakang dengan adanya pengurangan tenaga kerja atau pemutusan
hubungan kerja (PHK) yang ditimbulkan oleh kenaikan UMP dimana perusahaan
sudah tidak mampu membayar upah karyawan.[5]

Melihat dampak negatif yang mungkin akan di timbulkan oleh adanya kenaikan UMP,
kita harus melihat kondisi pengangguran di Indonesia saat ini.

Tingkat Pengangguran terbuka 2014 - 2016

6.4

6.2
6.18
6

5.8 5.94
Persen

5.81
Column1
5.6 5.70
Series 2
5.61
5.4 5.50 Column2

5.2

5
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus
2014 2014 2015 2015 2016 2016
tahun

Sumber data : Badan Pusat Statistik (BPS)

Tingkat pengangguran di Indonesia cukup berfluktuatif, dan mengalami kenaikan di tahun 2016
sebesar 5,61 persen atau setara dengan 13,307,914 juta jiwa. Perusahan-perusahaan yang
tergolong kecil menengah di Indonesia tidak mampu untuk menyerap jumlah tenaga kerja yang
terlalu banyak. Apalagi dengan tuntutan harus membayar gaji karyawan sesuai UMP. Selain
jumlah pengangguran yang tinggi, permasalahan selanjutnya adalah, rendahnya kapabilitas
tenaga kerja Indonesia. Dimana lebih dari satu juta orang yang tergolong dalam pengangguran
hanya mengenyam pendidikan terakhir di bangku sekolah dasar (SD). Maka tidak mungkin
perusahaan mau untuk mempekerjakan sumber daya manusia yang tidak memiliki kapabilitas
yang cukup.

Kontribusi yang mungkin dilakukan oleh UMP dalam mengurangi pengangguran adalah
dengan cara mendorong daya beli masyarakat sehingga terjadi peningkatan permintaan. Dengan
begitu perusahaan akan merekrut karyawan yang lebih untuk memaksimalkan produksi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Minimum Provinsi (UMP) adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para
pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pekerja di dalam lingkungan
usaha atau kerjanya. UMP di Indonesia selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.

2. Dampak positif kenaikan UMP antara lain, meningkatkan tingkat konsumsi domistik,
memotivasi para pekerja, mendorong para pengusaha untuk berfikit kreatif dan inovativ dan
mengurangi jumah pengangguran. Sedangkan dampak negatif nya adalah meningkatkan tingkat
inflasi, tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah kenaikan UMP, perubahan gaya hidup
yang tidak sesuai dengan pemasukan, bertambahnya jumlah pengangguran dan kelebihan
penawaran tenaga kerja.

3. Salah satu poin dari dampak positif adalah mengurangi jumlah pengangguran, hal tersebut
berbading terbalik dengan dampak negatifnya yaitu bertambahnya jumlah pengangguran.
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cara meningkatkan daya beli masyarakat, juga usaha
pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat, sehingga Indoneisa dapat
mencetak para pekerja yang berkualitas, dan dapat terserap di perusahaan lokal maupun asing.

B. Saran

Untuk menghadapi kenaikan UMP yang terus menerus di setiap tahunnya, pemerintah harus
bersinergi dengan perusahaan untuk mendorong daya beli masyarakat. Bisa dengan cara
menurunkan harga BBM, sehingga berpengaruh terhadap penrunan harga komoditas lainnya,
atau bisa juga dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membeli atau menggunakan
produk dalam negri. Selain meningkatkan daya beli masyarakat, pemerintah harus
memperhatikan kualitas pendidikan di Indonesia. Dapat dengan cara memberikan bantuan
oprasional sekolah agar masyarakat yang tergolong tidak mampu dapat tetap mengenyam
pendidikan layak, atau bisa juga memberikan pelatihan-pelatihan guna mengasah soft skill.
Dengan pemerintah memperhatikan tingkat pendidikan, maka Indonesia akan menghasilkan
tenaga kerja yang lebih layak, sehingga dapat terserap tidak hanya di rancah local tapi juga
global.

DAFTAR PUSTAKA

[1]
https://www.bps.go.id
[2]
http://www.bappenas.go.id

[3]
hukumonline.com.html diakses pada 10 Maret 2017

[4]
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html

[5]
http://kompasiana/Pengaruh Kenaikan UMR (Upah Minimum Regional) Terhadap
Perekonomian di Indonesia.htm

[6]
http://palembang-pos.com/40-buruh-dibayar-di-bawah-ump/