Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang harus ada kata yg merujuk ke tujusn dilakukan praktikum


Salah satu permasalahan yang ada dalam masyarakat saat ini adalah
gangguan hewan pengerat yaitu tikus. Dimana hewan tersebut selalu
mengganggu manusia dengan merusak makanan atau barang yang disimpan di
gundang. Tikus merupakan hewan liar dari golongan mamalia dan dikenal
sebagai hewan pengganggu dalam kehidupan manusia, terutama tikus domestik.
Tikus dosmestik mempunyai habitat dekat dengan kehidupan manusia seperti
perumahan, sawah dan pasar.1
Tikus adalah binatang yang termasuk dalam ordo rodentia, sub ordo
myormopha, famili muridae. Tikus merupakan hewan yang dikenal sebagai
hewan pengganggu dalam kehidupan manusia. Hewan pengerat dan pemakan
segala jenis makanan (omnivora) ini sering menimbulkan kerusakan dan
kerugian dalam kehidupan manusia, antara lain dalam bidang pertanian,
perkebunan, permukiman, dan kesehatan, tikus sebagai vektor penyakit pada
manusia, seperti Yersiniosis, Leptospirosis, dan Salmonellosis. Sedangkan
patogen yang dapat ditularkan kepada manusia yaitu Lymphocytic
2,3
choriomeningitis, Entamoeba histolytica, dan Giardia muris.
Tikus merupakan satwa liar dan sangat sering berhubungan dengan
manusia. Tikus merupakan binatang yang paling menikmati positif dari kemajuan
ekonomi negara negara Asia. Hubungan tikus dengan manusia seringkali
bersifat parasitisme,4 tikus dan mencit adalah hewan mengerat (rodensia) yang
lebih dikenal sebagai hama tanaman pertanian, perusak barang digudang dan
hewan penggangu yang menjijikan di perumahan. Belum banyak diketahui dan
disadari bahwa kelompok hewan ini juga membawa, menyebarkan dan
menularkan berbagai penyakit kepada manusia, ternak dan hewan peliharaan.
Hampir tidak ada informasi menguntungkan tentang tikus bagi manusia,
terkecuali untuk binatang percobaan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Di dunia, rodent terdapat 29 suku atau famili, 468 genus dan 2052 spesies,
sedangkan di Indonesia terdapat 3 famili yaitu Sciuridae, Muridae dan
Hystricidae. Famili muridae terdapat 171 jenis dan di Pulau Jawa famili muridae
terdiri atas 10 genus dan 22 spesies.5

1
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui persebaran tikus di Komplek Perumahan Griya Tembalang
Makmur RT 06 / RW 03 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang,
sehingga dapat melakukan upaya preventif untuk mencegah terserang vektor
penyakit yang dibawa oleh tikus.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi atau mengetahui ciri-ciri khas dari tikus
berdasarkan jenis dan habitatnya
b. Untuk mengetahui jenis makanan kesukaan tikus, dalam
mempermudah dalam proses trapping
c. Untuk mengetahui keberadaan atau habitat tikus

C. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang keberadaan
tikus berdasar habitatnya serta bionomik dari tikus sehingga dapat menjadi
bahan pertimbangan dalam menentukan upaya pengendalian yang tepat
terhadap dampak buruk yang disebabkan oleh tikus.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tikus termasuk dalam binatang pengerat (Ordo Rodentia, rodere:


mengerat). Ciri paling utama semua Rodentia adalah kemampuannya mengerat
benda-benda dengan sepasang gigi seri yang besar, tidak memiliki gigi taring
dan gigi geraham depan, sehingga terdapat bagian yang kosong antara gigi seri
dan geraham belakang.6 Pada lapisan luar gigi seri terdapat email yang amat
keras, sedangkan bagian dalamnya tanpa lapisan email sehingga mudah aus.
Selisih kecepatan ausnya ini membuat gigi itu selalu tajam. Gigi seri tersebut
tumbuh terus menerus dan untuk mengurangi pertumbuhan gigi seri yang dapat
membahayakan dirinya sendiri, maka tikus selalu mengerat benda apapun yang
ia jumpai.
Kekhasan lain pada mulut Rodentia adalah cara penyaringan makanan
yang tidak layak dimakan7. Tikus dan kerabatnya tidak memiliki gigi taring
(canina) dan geraham depan (premolar) sehingga diantara gigi seri dan geraham
belakang (molar) terdapat celah yang disebut "diastema". Celah ini berfungsi
untuk membuang kotoran yang ikut terbawa bersama dengan pakannya masuk
ke dalam mulut. Misalnya benda asing atau serpihan kayu yang terlampau besar
yang mampu membuatnya tersedak akan keluar melalui rongga yang terdapat
antara gigi seri dan gigi gerahamnya.7
Tikus banyak terdapat di pemukiman rumah tempat tinggal manusia. Tikus
rumah merupakan salah satu dari empat jenis tikus yang merupakan hama
permukiman dan tiga jenis lainnya yaitu wirok kecil (Bandicota bengalensis), tikus
riul (Rattus norvegicus), dan mencit rumah (Mus muscuIus).4 Tikus rumah
merupakan tikus ukuran sedang atau medium rata-rata 16-22 cm berat 70-300
gram (rata-rata 200 gram), telinga Iebar, ekor lebih panjang daripada badan,
wama bulu terang atau coklat muda dan warna bulu bagian dada lebih terang.
Yang terrnasuk dalam jenis tikus rumah (Rattus rattus) yaitu tikus atap (roof rat),
tikus kapal (ship rat), dan black rat.8 Jika dilihat dari jarak kedekatan hubungan
antara aktifitas tikus dengan manusia, tikus rumah merupakan jenis domestik,
yaitu aktifitas dilakukan di dalam rumah manusia atau disebut juga tikus
komensal (comensal rodent) atau synanthropic.9
Tikus rumah merupakan binatang arboreal dan pemanjat ulung.
Kemampuan memanjat tembok kasar dan turun dengan kepala dibawah sangat

3
lihai, dan bila jatuh dari ketinggian 5,5 meter tidak akan menirnbulkan luka yang
berarti bagi tikus. Tikus rumah tersebar di seluruh benua (kosmopolit) dan
menyukai daerah dataran rendah. Makanan berupa biji-bijian, sereal, daun, kayu,
buah-buahan, kelapa, dan lain-lain. Walaupun demikian, tikus rumah juga bisa
makan binatang lain yaitu serangga. Makanan yang dibutuhkan seekor tikus
dalam sehari sebanyak 10-15% dari berat badannya. Perilaku makan tikus
dengan memegang makanan dengan kedua kaki depan, dan kebiasaan
mencicipi makanan untuk menunggu reaksi makanan tersebut dalam perutnya.
Hal ini perlu diperhatikan apabila kita memberantas tikus dengan racun. Tikus
mempunyai kebiasaan mencari makan dua kali sehari yaitu pada 1-2 jam setelah
matahari tenggelam dan pada 1-2 jam sebelum fajar.10
Penyakit bersumber rodensia (tikus) disebabkan oleh berbagai agen
penyakit seperti virus, ricketsia, bakteri, protozoa, dan cacing dapat ditularkan
kepada manusia secara langsung, melalui feses, urin dan ludah atau gigitan
vektor ektoparasit tikus dan mencit. Beberapa penyakit yang ditularkan melalui
tikus, pernah dilaporkan secara klinis dan serologis pada manusia dan hewan
rodensia reservoir di Indonesia.11
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang melibatkan tikus dalam
penyebarannya. Memiliki riwayat kontak dengan tikus merupakan faktor perilaku
yang terbukti berhubungan dengan kejadian leptospirosis. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Rejeki Dwi Sri, dkk menunjukkan bahwa pemukiman yang dekat
dengan sawah dapat menjadi faktor risiko dari leptospirosis, hal ini dikarenakan
sungai yang tergenang akibat pembuangan sampah merupakan habitat reservoir
seperti tikus. Robertson C, et al, menyatakan bahwa terdapat korelasi positif
antara kejadian leptospirosis dengan dekatnya jarak rumah terhadap sungai.
Sawah merupakan salah satu jenis vegetasi yang banyak terdapat di lingkungan
sekitar rumah, sawah merupakah salah satu tempat habitat tikus.12,13
Selain itu juga terdapat beberapa vegetasi yang dibutuhkan tikus sebagai
tempat persembunyian atau sarang tikus dan sumber pakan alternatif,
diantaranya adalah vegetasi rerumputan dan semak-semak. Pohon berdahan
memudahkan tikus rumah dan tikus ladang memasuki rumah dengan memanjat
melalui dahan atau ranting yang dekat dengan rumah. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Robertson C, et al, diperoleh hasil bahwa terdapat korelasi
positif antara kejadian leptospirosis dengan jumlah vegetasi yang banyak di
sekitar rumah.13

4
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rejeki Dwi Sri, dkk12 terdapat
hubungan antara curah hujan yang tinggi yang dapat meningkatkan populasi
tikus, karena meningkatnya curah hujan merupakan kondisi yang optimal bagi
tikus untuk bereproduksi, sehingga juga dapat meningkatkan kemungkinan
terjadinya penularan leptospirosis.14 Selain itu tingginya curah hujan
mengakibatkan terjadinya banjir yang membuat banyak tikus keluar dari
persembunyiannya dan masuk ke lingkungan perumahan, hal tersebut
meningkatkan risiko terjadinya penularan leptospirosis.15

5
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu
1. Waktu Survey Tikus
a. Hari : Sabtu - Senin
b. Tanggal : 23 September 2017 25 September 2017
c. Pukul : 16.00 WIB 17.30 WIB
2. Waktu Identifikasi Tikus
a. Hari : Sabtu - Minggu
b. Tanggal : 24 September 2017 25 September 2017
c. Pukul : 08.00 WIB 10.00 WIB

B. Tempat
1. Tempat Survey Tikus
Komplek Griya Tembalang Makmur RT 06 / RW 03 Kelurahan Bulusan,
Tembalang
2. Tempat Identifikasi Tikus
Laboratorium Terpadu FKM Undip

C. Alat
1. Alat untuk survey
Tabel 3.1 Alat yang dibutuhkan saat survey tikus
No. Alat Keterangan
1 Handscoon Untuk melindungi tangan dari paparan
langsung bahan kimia atau bakteri
yang ada
2 Masker Untuk menghindari paparan langsung
ektoparasit masuk ke hidung
3 Karung Untuk membawa tikus saat sudah
dikeluarkan dari perangkap
4 Trap tikus Untuk menangkap tikus
5 Form data trapping Untuk mencatat survey yang dilakukan
6 Pulpen Untuk menulis data

6
2. Alat untuk identifikasi
Tabel 3.2 Alat yang digunakan untuk identifikasi tikus
No. Alat Keterangan
1 Kapas Untuk menuangkan chloroform
2 Penggaris Untuk mengukur panjang badan dan
ekor hewan uji
3 Jangka sorong Untuk mengukur panjang kaki dan
panjang telinga
4 Timbangan Mengukur berat hewan uji
5 Trash bag Tempat menampung sampah
6 Baskom Menaruh bahan uji saat menguji
hewan
7 Kertas HVS putih Untuk mencatat hasil identifikasi tikus
8 Nurse cap Menghindari terdapat parasit yang
berpindah dari hewan uji ke manusia
9 Masker Untuk menghindari ektoparasit masuk
10 Handscoon Untuk melindungi tangan dari paparan
langsung bahan kimia atau bakteri
yang ada

D. Bahan
1. Bahan untuk survey
Tabel 3.3 Bahan yang digunakan untuk survey tikus
No. Bahan Keterangan
1 Bakso Umpan tikus
2 Kelapa Bakar Umpan tikus
3 Ikan Asin Umpan tikus
4 Gorengan Umpan tikus
5 Chloroform Untuk membius tikus

2. Bahan untuk identifikasi


Tabel 3.4 Bahan yang digunakan untuk identifikasi tikus
No. Bahan Keterangan
1 Kapas Dasar untuk menuangkan chloroform
2 Chloroform Untuk membius tikus
3 Tikus Sebagai hewan uji

7
E. Langkah Kerja Survei dan Identifikasi Tikus
1. Langkah kerja survey tikus

a. Mempersiapkan trap untuk tikus


1) Mencuci trap tikus terlebih dahulu menggunakan air
bekas cucian beras
2) Memasang umpan pada jebakan tikus berupa bakso,
ikan asin, bakwan, dan kelapa bakar
3) Menempatkan perangkap pada tempat-tempat yang
sering dilalui oleh tikus

b. Mengambil tikus dari perangkap


1) Menyiapkan karung untuk memasukkan tikus dari
perangkap.
2) Membuka kait pengunci perangkap
3) Memasukkan setengah bagian perangkap ke dalam
karung sambil dibuka tangkai pemegang dengan
menarik tangkai sampai ke bawah.
4) Menggiring tikus dari perangkap masuk ke dalam
karung
5) Memegang ujung karung yang sudah ada tikus
dengan agak renggang.
6) Mengikat karung agar tikus tidak terlepas.

Gambar 3.1 Bagan langkah kerja survey tikus

8
2. Langkah kerja identifikasi tikus

a. Mematikan tikus
1) Memasukkan kapas yang sudah diberi chloroform ke
dalam karung yang berisi tikus tangkapan.
2) Menunggu beberapa saat sampai tikus sudah mati,
apabila tidak ada gerakan pada tikus berarti sudah
mati.

b. Menimbang tikus
1) Menyetarakan timbangan , dengan bantuan kertas.
2) Meletakkan tikus ke sisi timbangan
3) Membaca hasil timbangan.

c. Mengukur tikus

1) Menyiapkan penggaris , kertas HVS dan alat tulis


2) Mengukur tikus per bagian, sesuai dengan ukuran tubuh
yang dibutuhkan.
3) Mencatat hasil pengukuran.

Gambar 3.2 Bagan langkah kerja identifikasi tikus

9
BAB IV
HASIL

A. Survei Tikus
Trapping atau penjebakan dilakukan di Komplek Griya Tembalang Makmur
RT 06 / RW 03 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang
pada tanggal 23 25 September 2017. Perangkap dipasang di rumah warga
setempat dengan umpan yang di pakai adalah bakso, gorengan, ikan asin,
kelapa bakar. Keseluruhan jumlah perangkap adalah 70 buah. Pada hari pertama
dilakukan pemasangan perangkap sebanyak 39 buah. Pada hari kedua
pemasangan perangkap sebanyak 31 buah. Pengambilan perangkap dilakukan
pada pagi hari pukul 05.30 WIB sebelum warga beraktivitas.
Dari 70 perangkap tikus yang dipasang selama 3 hari didapatkan 17 ekor
tikus. Tikus yang didapatkan terdapat 5 spesies yaitu, mus musculus, suncus
murinus, rattus norvegicus, bandicota sp dan rattus tanezumi. Tikus-tikus yang
telah didapatkan setelah dibius, dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi.
Pembagian identifikasi per individu mendapat 1 tikus untuk diidentifikasi.
Tabel 4.1 Jenis Umpan yang Digunakan
Jenis Umpan
Jenis Tikus yang
No. Kelapa Ikan Jumlah
Tertangkap Bakso Gorengan
Bakar Asin
1 Rattus norvegicus 1 2 3
2 Rattus tanezumi 1 1
3 Mus musculus 2 2
4 Bandicota indica 1 1
5 Suncus murinus 1 2 2 3 8
Total 5 2 3 5 15

10
Gambar 4.1 Hasil Kegiatan Survey Tikus

B. Identifikasi Tikus
Tabel 4.2 Identifikasi Tikus yang Ditangkap
Pengukuran
No. Spesies Sex TL T HF E M W (gr)
(mm) (mm) (mm) (mm)
1 Suncus Jantan 204 76 24 11 0 25
murinus
2 Suncus Betina 180 68 20 13 0+3 30
murinus
3 Suncus Betina 176 61 30,59 11,09 0+3 25
murinus
4 Suncus Jantan 195 75 22 12 0 75
murinus
5 Suncus Betina 180 65 17,71 12,72 0+3 25
murinus
6 Suncus Jantan 200 70 23 14,21 0 50
murinus
7 Suncus Betina 175 64 21 13,81 0+3 25
murinus
8 Suncus Jantan 220 65 11 8 0 25
murinus
9 Mus Betina 330 190 20,19 4,62 2+3 75
musculus
10 Mus Jantan 335 180 22 30,61 0 75
musculus
11 Rattus Jantan 229,3 160,5 39 18 0 150
tanezumi

11
12 Rattus Betina 450 210 45 15 3+3 300
norvegicus
13 Rattus Jantan 335 155 42,8 15 0 325
norvegicus
14 Rattus Jantan 400 190 45 19 0 175
norvegicus
15 Bandicota Jantan 461 203 46 22 0 425
indica

Keterangan :
TL (Total Length) : Panjang keseluruhan
T (Tail) : Panjang ekor
HF (Hind Foot) : Panjang telapak kaki belakang
E (Ear) : Panjang telinga
M (Mammae) : Jumlah puting susu
W (Weight) : Berat badan tikus

Gambar 4.3 Identifikasi Tikus, pengukuran telinga tikus

Gambar 4.4 Identifikasi Tikus, pengukuran berat badan tikus

12
BAB V
PEMBAHASAN

Survey serta penangkapan tikus dilakukan selama 3 hari, dimulai pada hari
Sabtu hingga hari Senin dengan menggunakan perangkap sebanyak 70 buah.
Pada hari pertama mendapatkan 13 tikus, lalu pada hari kedua mendapatkan 4
tikus. Total terdapat 17 ekor tikus.
Dilihat dari umpan yang termakan , kelapa bakar dan bakso memiliki daya
tarik yang kuat terhadap tikus. Adanya umpan dalam perangkap tersebut menarik
perhatian tikus dari aroma umpan. Tikus memiliki indra penciuman yang
berkembang dengan baik. Bakso dan kelapa bakar sama-sama memunculkan
bau yang menyengat sehingga menarik tikus ke dalam perangkap. Walaupun
pada dasarnya makanan tikus akan bergantung pada habitat dimana tikus hidup
dan jika terdapat beberapa makanan tersedia, maka tikus akan memilih makanan
yang menjadi kesukaannya. Kelapa bakar merupakan umpan standar dari WHO
yang biasa terdapat di rumah-rumah dan biasanya digunakan sebagai umpan.15
Trap success atau keberhasilan penangkapan tikus di wilayah Komplek
Perumahan Griya Tembalang Makmur RT 06/ RW 03 Kelurahan Bulusan,
Kecamatan Tembalang, Kota Semarang adalah sebagai berikut :

jumlah tikus tertangkap di dalam rumah


Trap success : 100%
jumlah perangkap yang dipasang
2
: 100%
70

: 2,8 %

jumlah tikus tertangkap di luar rumah


Trap success : 100%
jumlah perangkap yang dipasang

13
: 100%
70

: 18,5 %

13
Dilihat dari keberadaannya, hasil menunjukkan jumlah tikus yang
ditemukan di luar lebih banyak, yaitu sebanyak 13 ekor. Sedangkan yang
ditemukan di dalam rumah hanya 2 ekor. Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi
keduanya ditemukan di luar rumah, sedangkan Suncus murinus dan Mus
musculus ada yang ditemukan di dalam maupun luar rumah. Keberadaan tikus di
dalam maupun di luar rumah terdapat hubungannya dengan perilaku atau
kebiasaan tikus, yaitu dimana tikus biasa makan, kebiasaan tikus bersarang,
kebiasaan berpindah tempat, dan lain-lain.1
Pada survey tikus yang telah dilakukan, banyak terdapat Suncus murinus
yang terperangkap oleh trap yang diletakkan di luar rumah. Hal ini dapat terjadi
dikarenakan tikus merupakan hewan yang mudah beradaptasi dengan
lingkungan sekitar, oleh karena itu mereka mempunyai tingkat kepadatan yang
tinggi, serta sering beraktivitas di malam hari, karena mempunyai kapasitas untuk
berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain.16 Suncus murinus juga
merupakan insektivora (pemakan berbagai jenis serangga), selain itu juga
memiliki kecepatan metabolik yang tinggi, oleh karena itu membutuhkan periode
makan yang berlipat ganda sepanjang malam.17,18

Gambar 5.1 Denah Komplek Perumahan Griya Tembalang makmur RT 06 / RW


03 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang

14
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari survey serta praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Selama dua hari penangkapan tikus, didapatkan 5 spesies tikus, yaitu
Rattus norvegicus, Rattus tanezumi, Mus musculus, Bandicota indica,
dan Suncus murincus. Survey di Komplek Perumahan Griya Tembalang
Makmur RT 06 / RW 03 Kelurahan Bulusan, Tembalang saat dilakukan
trapping, paling banyak tertangkap merupakan tikus jenis Suncus
murinus.
2. Pada survey tikus, umpan yang paling banyak menarik tikus untuk masuk
ke dalam perangkap yang telah dipasang, merupakan umpan bakso, ikan
asin dan kelapa bakar
3. Trapping tikus yang efektif untuk memutus rantai persebaran vektor
penyakit yang dibawa oleh tikus, sebaiknya dilakukan pada sore hari,
diletakkan pada tempat-tempat yang menunjukkan ciri-ciri terdapat :
a. Runways (jejak tikus)
b. Footprint (bekas telapak kaki tikus)
c. Dropping (bekas kotoran tikus)
d. Burrows (bekas galian tikus)
Perangkap tikus menggunakan umpan yang bakso, ikan asin, dan kelapa
bakar.

B. Saran
Pada saat berada di lapangan melakukan survey tikus, sebaiknya
pengisian form lokasi trapping tikus segera dilakukan dan dilengkapi, agar
menghindari terjadinya kesalahan data pada saat diolah.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Ernawati, Dwi. Dwi Priyanto. Pola Sebaran Spesies Tikus Habitat Pasar
Berdasarkan Jenis Komoditas Di Pasar Kota Banjarnegara. 2013.
2. Idalistya. Survei Kepadatan Tikus Di Pasar Peterongan dan Pasar
Wonodri Semarang. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.
2008.
3. Meehan Ap. Rat And Mice: Their Biological And Control. East
Griendstead: Rentokil; 1984.
4. Priyambodo, Swastika. Tikus Hama Permukiman Indonesia Editor Singgih
Santosa Dan Upik Kesumawati Hadi. Ipb Bogor:195-258. 2006.
5. Suyanto. A. Rodent di Jawa. Pusat Penelitian Biologi. LIPI. Bogor. 2006.
6. Singgih Harsoyo Sigit, Upik Kesuma Hadi. Hama Permukiman Indonesia :
Pengenalan, Biologi Dan Pengendalian . Unit Kajian Pengendalian Hama
Permukiman Fakultas Kedokteran Hewan IPB. 2006
7. Ristiyanto, Farida DH. Diktat Mata Kuliah Rodentologi Kesehatan Bagian
I. BPVRP Salatiga, 2005
8. Gillespie ,Hand Pmyers. Rattus Rattus (Online). 2004.
9. Ristiyanto. Modul 3 Pelatihan Rodensia. 2007.
10. Isnani, Tri. Tikus Rumah. Balaba Ed 006 No.01. 2008.
11. Komariah, Seftiani Pratita, Tan Malaka. Pengendalian Vektor. Program
Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Stik Bina Husada Palembang.
2010.
12. Rejeki, Dwi Sarwani Sri. Pemetaan dan Analisis Faktor Risiko
Leptospirosis. Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan
Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Vol. 8, No. 4,
November 2013. 2013.
13. Robertson C, Nelson TA, Stephen C. Spatial epidemiology of suspected
clinical leptospirosis in Sri Lanka. Epidemiol Infect [serial on the internet].
2012. Available from: http://www.search.proquest.com.
14. Davis S, Calvet E, Leirs H. Fluctuating rodent populations and risk to
humans from rodent-borne zoonoses. Vector-Borne Zoonotic Dis [serial
on the internet]. 2005. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1641742.
15. Tassinari WS, Pellegrini DC, Sa CB, Reis RB, Ko Al, Carvalho MS.
Detection and modeling of case clusters for urban leptospirosis. Trop Med

16
Hygiene [serial on the internet]. 2008. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18312472.
16. Junianto, Sadita Dwi. Siwiendrayanti Arum. Perbandingan Jumlah Tikus
Yang Tertangkap Antara Perangkap Dengan Umpan Kelapa Bakar, Ikan
Teri Antara Perangkap Dengan Umpan. Unnes. Journal Of Public Health.
2015.
17. Pagad, S. Suncus Murinus.
Http://www.lssg.org/database/species/ecology. 2013.
18. Infasis Spesies Specialist Group. Suncus Murincus.
Http://www.lssg.org/database/species/management. 2013.

17
LAMPIRAN

A. Dokumentasi Alat
1. Alat Survey Tikus
a. Sarung tangan

b. Masker

c. Karung

d. Trap tikus

18
e. Form Lokasi Penangkapan Tikus

f. Pulpen

2. Alat Identifikasi Tikus


a. Kapas

b. Penggaris

19
c. Timbangan

d. Jangka sorong

e. Trash bag

f. Baskom

20
g. Kertas HVS putih

h. Nurse cap

i. Masker

j. Sarung tangan

21
B. Dokumentasi Bahan
1. Bahan Survey Tikus
a. Bakso

b. Kelapa bakar

c. Ikan asin

d. Gorengan

22
e. Chloroform

2. Bahan Identifikasi Tikus


a. Kapas

b. Chloroform

c. Tikus

23
24