Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Bakrie

Gasal 2017/2018

Kelompok 1

1. Luthfiaqmar Rizky Pratiwi (1152005021)


2. Pradhika Ardi Nugraha (1152005007)

Asisten:
Nada Nasihah

SULFUR DIOKSIDA (SO2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di


bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam
kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat
memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal.
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat
memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan
antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan
tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara
bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan
alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari
pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang
berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.
Udara merupakan media lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar
manusia perlu mendapatkan perhatian yang serius, hal ini pula menjadi kebijakan
Pembangunan Kesehatan Indonesia 2010 dimana program pengendalian
pencemaran udara merupakan salah satu dari sepuluh program unggulan.
Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dll disamping
memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif
dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi
didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat
membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit.
Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber
utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Menurut Soedomo,dkk, 1990,
transportasi darat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap setengah dari
total emisi SPM10, untuk sebagian besar timbal, CO, HC, dan NOx di daerah
perkotaan, dengan konsentrasi utama terdapat di daerah lalu lintas yang padat,
dimana tingkat pencemaran udara sudah dan/atau hampir melampaui standar
kualitas udara ambient.
Mengingat bahayanya pencemaran udara terhadap kesehatan, maka perlu
bagi petugas untuk mengetahui berbagai parameter pencemar seperti : sifat bahan
pencemar, sumber dan distribusi, dan dampak yang mungkin terjadi juga cara
pengendalian, maka diperlukan suatu pedoman atau acuan dalam rangka
meminimalkan terjadi dampak terhadap kesehatan .
Jenis parameter pencemar udara ini didasarkan pada baku mutu udara ambien
menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, yang meliputi : Sulfur
dioksida (SO2), Karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3),
Hidro karbon (HC), PM 10 , PM 2,5, TSP (debu), Pb (Timah Hitam), Dustfall (debu
jatuh). Pada makalah ini akan dibahas SOx dan partikulat pada sampel udara. SOx
dan partikulat pada sampel udara merupakan parameter pencemaran udara yang
berbahaya bagi kesehatan manusia.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui kadar sulfur dioksida di udara ambien di kampus A
Universitas Trisakti dengan metode paranosanilin.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen


sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur
trioksida (SO3), dan keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Sulfur dioksida
mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak mudah terbakar diudara,
sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif. Pembakaran
bahan-bahan yang mengandung Sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur
oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen
yang tersedia. Di udara SO2 selalu terbentuk dalam jumlah besar. Jumlah SO3 yang
terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx. Mekanisme pembentukan
SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut :

S + O2 < --------- > SO2


2 SO2 + O2 < --------- > 2 SO3
SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap
air sangat rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup, SO3 dan uap air akan
segera bergabung membentuk droplet asam sulfat (H2SO4 ) dengan reaksi sebagai
berikut :
SO SO2 + H2O2 ------------ > H2SO4
Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4. Tetapi
jumlah H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada yang dihasilkan dari emisi
SO3 hal ini menunjukkan bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme
lainnya. Setelah berada diatmosfir sebagai SO2 akan diubah menjadi
SO3 (Kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan katalitik Jumlah
SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk
jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari,
Jumlah bahan katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada malam hari
atau kondisi lembab atau selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air
alkalin dan bereaksi pada kecepatan tertentu untuk membentuk sulfat di dalam
droplet (Anonim b, 2012). Di atmosfer, berbagai polutan udara akan melalui
berbagai proses. Baik pencampuran antara polutan yang satu dengan uang lain yang

2
pada akhirnya akan meningkatkan komposisi polutan itu sendiri bahkan
memunculkan jenis polutan yang baru. Namun alam memiliki prosesnya sendiri
yang secara alamiah dapat mengurangi maupun memindahkan konsentrasi
berbagai partikulat tersebut sebagai akibat faktor meteorologi. Pencemaran udara
akan dipancarkan oleh sumbernya dan kemudaian mengalami transportasi, dispersi
atau pengumpulan karena kondisi meteorologi maupun topografi (Neiburger,
1995)
Karakteristik gas SO2 yang berbahaya menyebabkan kerusakan bagi manusia.
Dampak SO2 untuk berbagai aspek kehidupan ialah, bagi kesehatan manusia
menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan manusia, bronkhitis, dan episema.
Kerusakan yang akan terjadi pada tanaman adalah pada struktur daun serta
fungsinya yaitu penyakit nekrosis. Pemaparan sulfur dioksida berlebihan pada daun
menyebabkan kerusakan pada parenkim dalam mesopil diikuti oleh bagian
palisade. Efek sulfur dioksida juga dapat merusak material pembuat dinding
bangunan salah satunya menyebabkan korosi.

BAB III
ALAT DAN BAHAN

Tabel 3.1 Tabel Alat sulfur dioksida (SO2)

No. Alat Gambar

1 Pompa Vakum

3
2 Midget Impinger.

3 Stopwatch

4 Kabel Rol

5 Pipet Volume

4
6 Bulb

7 Labu Ukur 25 ml

8 Spektrofotometer

3.2 Tabel Bahan sulfur dioksida (SO2)

No. Bahan Gambar

1 Larutan TCM

5
2 Vaseline

3 Paranosanilin

4 Larutan Formaldehid

5 Larutan Asam sulfanat

6
BAB IV
CARA KERJA
4.1 Skema Diagram

4.2 Analisis

BAB V

HASIL PENGAMATAN

5.1 Hasil pengamatan


5.1.1 Pengambilan sampel
Lokasi : Kopma Plaza Univeritas Trisakti
Titik : -6.168136,106.790348
Hari/tanggal : Selasa, 26 September 2017
Cuaca : Cerah
Kondisi sekitar Kopma : Ramai Mahasiswa dan Mahasiswi

Tabel 4.1 Hasil pengamatan pengambilan sampel

Keterangan Gambar

Pada pengambilan sampel cuaca di


sekitar Kampus A Universitas Trisakti
cerah, lokasi tepatnya di depan Kopma
Plaza Universitas Trisakti dengan
koordinat -6.168136,106.790348

7
5.1.2 Insitu
Tabel 4.2 Hasil pengamatan insitu

No. Parameter Gambar

Hygrometer
Pengukuran Kelembapan dengan
1.
menggunakan Hygrometer
menghasilkan 32,1%RH

Anemometer
Pengukuran Kecepatan angin dan
2. suhu dengan menggunakan
Anemometer menghasilkan 0,01
m/s dan 27,70C

Barometer
Pengukuran Tekanan Udara
3.
dengan menggunakan Barometer
menghasilkan 75,5 mmHg

8
5.1.3 Eksitu
5.1.3.1 Penetapan Sulfur dioksida (SO2)

Tabel 4.3 Hasil pengamatan Sulfur dioksida (SO2)

Sebelum Sesudah Keterangan


Perubahan warna:
Menjadi Merah keunguan

Absorbansi :
0,099
Konsentrasi:
0,393

BAB VI

RUMUS DAN PERHITUNGAN


5.1 Perhitungan
1. Perhitungan volume contoh uji
Diketahui : F1 = 1,15 l/menit ; F2 = 1,27 l/menit ; F3= 1,25 l/menit ;
Ditanya : v?
Jawab :
1+2+3 298 1,15+1,27+1,23 7515
v= = 60
3 760 3 300,7
298
= 7,226 liter
760
2. Conc (mg/L) Absorban
0 0
0,064 0,013
0,130 0,032
0,195 0,046
0,325 0,083

9
Perhitungan analitik Sulfur dioksida
Diketahui :
A = -1,852 x 10-3
B = 0,25667
r = 0,99843
r2 = 0,99685
abs(y)= 0,099
conc = 0,393
ditanya: nilai x?
Jawab: y=bx+a, 0,099=0,25667x-0,001852, x=0,329

KURVA
Grafik
0.09
0.08 y = 0.2567x - 0.0019
R = 0.9969
0.07
0.06
0.05
absorban

0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35
-0.01
kosentrasi mg/l

25 0,393 25
3. C1 Jam = 1000 = 1000 = 135,967 g/Nm2
10 7,226 10
60 60
4. C24 Jam = C1 Jam x ( ) = 135,967 (120) 0,185 = 119,603 g/Nm2
120
2
5. Konversi g/Nm ke ppm
135,967 24,45
Ppm1 = = 0,0519 mg/L
64103
119,603 24,5
Ppm2 = = 0,0456 mg/L
64 103

10
BAB VII

PEMBAHASAN
Sampling dilakukan pada kopma plaza Universitas Trisakti Kampus A
Sampling dilakukan pada siang hari dengan langit cerah. Kondisi sekitar lokasi
sampling terlihat ramai mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang, sebelum
melakukan sampling, praktikan mendapatkan materi singkat mengenai cara
pengambilan sample yang baik dan benar dengan mempertimbangkan beberapa
faktor seperti arah dan kecepatan angin, geografi dan topografi serta tata guna lahan
serta lokasi sampling yang berjauhan dengan gedung agar materi sulfur dioksida
dapat dengan mudah masuk ke dalam corong sampling selain itu juga lokasi
sampling yang dilakukan praktikan berdekatan dengan koperasi mahasiswa dimana
dikhawatirkan akan ada perubahan secara kimia dari asap yang dihasilkan oleh para
penjual.
Kemudian praktikan melakukan beberapa pengenalan alat sebelum
melakukan sampling diantaranya adalah botol impinger, pompa, dll. Setelah itu,
praktikan melakukan sampling. Pengambilan sampel udara menggunakan botol
impenger yang selanjutnya ditambahkan larutan penyerap tetrakloromerkurat
(TCM) dan pararosanilin serta formaldehida. Gas SO2 akan diserap dalam larutan
larutan penyerap TCM membentuk senyawa kompleks diklorosulfonatomerkurat.
Penambahan larutan pararosanilin dan formaldehida ke dalam senyawa
diklorosulfonatomerkurat membentuk pararosanilin metilsulfonat yang berwarna
ungu. Intensitas warna ungu yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi SO2
yang terbentuk. Intensitas diukur dengan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 548 nm.
Selama proses sampling berlangsung praktikan mencatat faktor-faktor selama
sampling seperti kelembapan udara serta faktor lainnya dan mengukur kecepatan
alir dari pompa dengan mengkaliberasi kecepatan alir sebesar 1 L/menit selama 3
kali pengukuran dengan tujuan untuk membandingkan laju alir per 15 menit sebagai
faktor penting dalam pertimbangan pengaruh faktor sulfur dioksida di dalam udara
ambien dengan kondisi meteorologi dan geografi seperti itu.

11
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil perhitungan yang telah diperoleh,
diperoleh hasil nilai sulfur dioksida selama 1 jam sebesar 135,967 g/Nm2 dan
selama 24 jam diperoleh 119,603 g/Nm2. Namun memiliki nilai kosentrasi dan
absorban melebihi kurva kalibrasinya. Hal ini dikarenakan pengambilan sampel
dilakukan di sore hari dengan tingkat pencemar udara dari kendaraan sangat tinggi,
karena pada jam sekian banyak orang kerja yang ingin balik ke rumah mereka.
Adapun faktor lain yang menyebabkan nilai kosentrasi dan absorban melebihi
kurva kalibrasi adalah larutan yang kurang encer pada saat pengenceran
menggunakan air suling yang mempengaruhi data tersebut. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara untuk kosentrasi selama 1 jam adalah 900 g/Nm2 dan untuk 24
jam adalah 365 g/Nm2, untuk Kepgub DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001 tentang
Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan DKI Jakarta adalah
standar sulfur dioksida untuk kosentrasi selama 1 jam adalah sebesar 900 g/Nm2
dan kosentrasi selama 24 jam adalah 260 g/Nm2, sedangkan berdasarkan WHO
mengenai Air Quality Guidelines for Particulate Matter, Ozone, Nirogen Dioxide,
Sulfur Dioxide untuk kadar sulfur dioksida di udara adalah dengan kosentrasi
selama 24 jam adalah 125 g/Nm2. Berdasarkan baku mutu yang telah diketahui
bahwa sampel yang dimiliki oleh praktikan masih dalam keadaan baku mutu baik
itu dari baku mutu Kepgub Jakarta, Indonesia/Nasional, dan WHO. Namun akan
lebih baik lagi jika kadar kosentrasi SO2 di udara kurang dari data yang diperoleh
praktikan sebagaimana yang telah diketahui bahwa sulfur dioksida sangat
berbahaya terhadap kesehatan manusia. Untuk mengatasi hal ini, kadar SO2 yang
rendah harus dipertahankan agar kondisi kesehatan makhluk hidup disekitarnya
dapat terjamin. Kadarnya tinggi harus segera diatasi dan dikurangi. Hal pertama
yang harus dilakukan untuk mengurangi kadar SO2 di udara adalah menentukan
sumber SO2 berasal. Jika sumber pencemar telah diketahui maka tindakan untuk
mengurangi dan mencegah bertambahnya SO2 di udara dapat dilakukan. Beberapa
tindakan untuk mengurangi dan mengontrol emisi SO2 dapat dilakukan dengan
penggunaan bahan bakar bersulfur rendah, subtitusi sumber energi lainnya untuk
bahan pembakaran, penghilangan sulfur dari bahan bakar sebelum pembakaran, dan
penghilangan gas SO2 dari gas buangan.

12
BAB V

SIMPULAN

Simpulan dari percobaan praktikum mengenai sulfur dioksida dengan


menggunakan metode pararosanilin adalah:

1. Dalam menentukan sulfur dioksida di udara ada 2 cara yaitu secara otomatis
menggunakan alat canggih dan metode manual menggunakan pararosanilin
dan spektrofotometer.
2. Nilai kadar SO2 di Kopma Plaza Universitas Trisakti adalah sebesar 135,967
g/Nm2 untuk 1 jam dan selama 24 jam diperoleh 119,603 g/Nm2.
Kosentrasi ini masih sesuai dengan baku mutu DKI Jakarta, Indonesia dan
WHO.
3. Nilai regresi diperoleh sebesar 0,9983 yang menunjukkan bahwa adanya
korelasi yang sangat kuat antara konsentrasi dengan absorban sampel.
4. Sulfur dioksida sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, salah satu
pengendalian yang bisa dilakukan adalah mengurangi emisi kendaraan
dengan menggunakan kendaraan secukupnya.
5. Nillai kosentrasi dan absorban yang diperoleh melebihi kurva kalibrasi
bukan berarti data tersebut salah bisa juga dapat dipengaruhi jam penelitian
dengan kosentrasi SO2 yang tinngi, bisa juga karena sampel larutan yang
kurang encer.

13
DAFTAR PUSTAKA

Neiburger, Morris. 1995. Memahami Lingkungan Atmosfer Kita. Bandung :


Penerbit ITB

Ayu,G. 2013. Laporan Praktikum Dasar-dasar Kimia Analitik. Universitas


Lampung. Bandar Lampung.

Lindu, M., Diana Hendrawan, Pramiati Purwaningrum, Fahima Hernita Sari. 2017.
Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan 1. Jakarta: Fakultas Arsitektur
Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan


Lingkungan Perairan.. Yogyakarta: Kansius.

14
LAMPIRAN

15
16
17
18