Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM BIOKIMIA
PEMBUATAN MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA DAN UJI
AKTIVITAS ANTIMIKROBA DENGAN METODA KIRBY-BAUER

Disusun Oleh:

Kelompok II (Dua)

1. Harits Hamman (1510411005)


2. Sartini (1510411026)
3. Fadhil Ferdian (1510412015)
4. Stefani Faradina (1510412035)

Hari/Tanggal Praktikum : Kamis, 7 September 2017

Asisten : Rahmi Febri Utami

LABORATORIUM PENDIDIKAN III


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
PEMBUATAN MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA DAN
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DENGAN METODA
KIRBY-BAUER

I. LATAR BELAKANG TEORI


Setiap mikroorganisme melakukan metabolisme untuk tumbuh dan berkembang
biak. Hal ini menyangkut nutrisi yang berasal dari lingkungan dan memproses
nutrisi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Nutrisi yang tersedia bagi mikroba dapat
dijumpai di tanah, di sampah, air dan bahan makanan sehingga ditempat tersebut
mikroba dapat tumbuh. Di laboratorium, mikroba memperoleh nutrisi dari
medium yang merupakan campuran bahan untuk menumbuhkan mikroba tersebut.
Medium merupakan suatu bahan dari campuran nutrien atau zat makanan yang
digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme mikroba. Untuk dapat tumbuh
dengan baik, mikroorganisme membutuhkan nutrien yang meliputi air, sumber
energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor
pertumbuhan, dan sumber nitrogen.
Dengan mengetahui sifat, kebutuhan, makanan dari mikroorganisme maka kita
dapat membuat medium yang cocok untuk menumbuhkan mikroorganisme
tersebut secara laboratorium. Pembiakan mikroorganisme dalam laboratorium
memerlukan medium yang berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang
sesuai dengan mikroorganisme.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk
pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-
molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan demikian,
media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni
dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya[1].
Media digolongkan menjadi :
1. Berdasarkan bentuk terdiri dari :
- Media padat
- Media semi padat
- Media cair
2. Berdasarkan susunan kimia terdiri dari :
- Media sintetik/media siap saji
Adalah media yang terbuat dari bahan-bahan yang diketahui dengan pasti
yang biasanya banyak diproduksi oleh pabrik.
- Media non sintetik/media alami
Adalah media yang dibuat dari bahan-bahan alami yang susunan kimianya
tidak diketahui dengan pasti.
- Media semi sintetik
Adalah media yang tersusun dari campuran bahan-bahan alami dan bahan-
bahan sintetik.
Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media adalah :
1. Agar
Agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari
beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang
pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther Hese untuk membuat media. Jika
dicampur dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus
diaduk dan dipanasi, pencairan, dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang
terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
2. Pepton
Pepton adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver,
darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin, dan kedelai.
3. Meat extract
Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta, dan
daging sapi.
4. Yeast extract
Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alkohol. Yeast
extract mengandung asam amino yang lengkap dan vitamin B kompleks.
5. Karbohidrat
Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas
dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umunya digunakan dalam amilum,
glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa. Konsentrasi yang ditambahkan untuk
analisa fermentasi adalah 0,51 %.
Kelompok bakteri atau mikroba merupakan zat bioremediasi yang banyak
digunakan karena mikroba memiliki kecepatan reproduksi yang tinggi dan
merupakan kelompok mikroba yang mudah beradaptasi dengan lingkungan
sehingga memungkinkan dapat menggunakan residunya sebagai sumber karbon
dan energi.
Teknik yang digunakan dalam pencegahan kontaminan selama membuat dan
mensterilkan medium kultur disebut teknik aseptik. Penguasaan teknik ini
diperlukan dalam keberhasilan laboratorium mikrobiologi dan hal tersebut
merupakan salah satu metode permulaan yang dipelajari oleh ahli mikrobiologi
pemula. Transfer aseptik suatu biakan dan satu tabung medium ke tabung lainnya
biasa dilakukan dengan menggunakan jarum inokulasi atau jarum ose yang
disterilkan dengan cara membakar diatas api. Biakan juga dapat dipindahkan dari
permukaan lempeng agar, sebagai tempat perkembangan koloni dimana sel
mengalami pertumbuhan dan pemebelahan. Metode utama yang digunakan untuk
memperoleh kultur murni dari komunitas mikroba yang mengandung beberapa
mikroba yang berbeda dilakukan dengan memilih koloni-koloni yang terpisah dan
menggoreskan pada lempeng agar dengan metode gores, sehingga diperoleh
mikroba yang murni.
Antimikroba merupakan zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri
yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan toksisitasnyabagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang
dibuat secara semi sintesis juga termasuk kelompok ini, begitu pula semua jenis
senyawa sintetis dengan khasiat antibakteri.
Aktivitas mikroba dapat dikendalikan dengan mengatur faktor-faktor
lingkungan yang meliputi faktor biotik (makhluk hidup dan mencakup adanya
asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme dapat dalam bentuk
simbiose, sinergisme, antibiose, dan sintropisme) dan abiotik (temperatur,
kelembaban, pH, radiasi, penghancuran scara mekanik). Antibiotika yang ideal
sebagai obat harus memenuhi syarat-syarat berikut :
- Mempunyai kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan
mikroorganisme yang luas (broad spectrum antibiotik).
- Tidak mempengaruhi pengaruh samping (side effect) yang buruk pada host,
seperti reaksi alergi, kerusakan syaraf, iritasi lambung, dan sebagainya.
- Tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme patogen.
- Tidak mengganggu keseimbangan flora yang normal dan host seperti flora
usus atau flora kulit.
Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel
mikroba oleh antibiotika. Sifat ini bisa merupakan suatu mekanisme alamiah
untuk tetap bertahan hidup. Timbulnya resistensi pada suatu strain mikroba
terhadap suatu antibiotika terjadi berdasarkan salah satu atau lebih dari
mekanisme berikut:
- Mikroba mensintesis suatu enzim inaktivator atau penghancur antibiotika.
- Mikroba mensintesis enzim baru untuk menggantikan enzim
infaktor/penghancur antibiotik yang dihambat kerjanya.
- Mikroba meningkatkan sintetis metabolit yang bersifat antagonis kompetitif
terhadap antibiotik.
- Mikroba membentuk jalan metabolisme baru.
- Permeabilitas dinding atau membran sel mikroba menurun untuk antibiotik.
- Perubahan struktur atau komposisi ribosom sel.
Oleh karena itu diperlukan suatu percobaan yang menguji seberapa besar potensi
suatu antibiotika.Potensi suatu senyawa untuk menumbuhkan bakteri atau yang
dikenal sebagai antimikrobial dapat diuji dengan beberapa metoda pengujian
antimikroba . Salah satu metoda uji antimikroba yang sering digunakan adalah
metoda Kirby-Bauer (Kirby-Bauer antibiotic testing). Metoda ini juga dikenal
dengan sebagai disk diffusion antibiotic sensitivity testing atau zone of inhibition
test (zona inhibisi/bening). Metoda ini ditemukan dan dikembangkan oleh W.M.
M Kirby dan A.W. Bauer pada tahun 1956.
Senyawa yang diduga memiliki potensi sebagai antimikroba diletakkan di
whatmann paper (kertas saring) berbentuk bulat dan selanjutnya diletakkan di
media padat yang sudah ditumbuhkan bakteri. Jika senyawa yang diuji memiliki
aktivitas antimikrobial maka senyawa tersebut akan menghambat pertumbuhan
mikroba disekitarnya, yang dapat diamati dengan daerah atau zona inhibisi.
Semakin besar zona inhibisinya maka semakin aktif senyawa tersebut sebagai
antimikroba.
Zona bening atau halozone merupakan daerah yang menunjukkan daya hambat
antimikroba. Hasil pengujiannya dapat dilihat dari dua alternatif. Pertama adalah
apabila di sekitar paper disc terdapat zona bening yang menunjukkan adanya
pertumbuhan bakteri, hal ini berarti zat yang diuji mempunyai daya antimikroba.
Alternatif kedua adalah apabila disekitar paper disc tidak terdapat zona bening, hal ini
berarti zat yang diuji tidak mempunyai daya antimikroba.
Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai indikator
pengujian. Dalam hal ini mikroorganisme digunakan sebagai penentuan konsentrasi
komponen tertentu pada campuran kompleks kimia, untuk mendiagnosa penyakit
tertentu serta untuk menguji bahan kimia untuk menentukan potensi mutagenik atau
karsinogenik suatu bahan. Kegunaan uji antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem
pengobatan yang efektif dan efisien.

II. TUJUAN DAN MANFAAT


1. Mampu membuat media pertumbuhan mikroba yang berbentuk cair dan
padat
2. Melakukan inokulasi mikroba kedalam medium pertumbuhan cair dan
padat
3. Mampu membuat kultur cair bakteri untuk uji aktivitas antimikroba.
4. Mampu melakukan pengujian aktivitas antimikroba dengan metoda
Kirby-Bauer.
5. Melatih keterampilan bekerja secara aseptik
III. METODA PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini, digunakan beberapa alat seperti autoclave yang
berfungsi sebagai alatuntuk mensterilkan medium, petridish untuk meletakkan
medium, test tube untuk meletakkan medium, kapas dan kasa sebagai penutup
wadah medium, aluminim voil sebagai penutup erlenmeyer, kaca Arloji untuk
tempat zat pada saat ditimbang, corong sebagai alatuntuk membantu saat
memindahkan larutan, jarum ose untuk memindahkan mikroba ke medium, lampu
spiritus untuk mensterilkan ruangan /area kerja, Erlenmeyer sebagai wadah
zat/larutan, spatula untuk mengambil zat, hot plate untuk memanaskan zat, pinset
steril untuk membantu memindahkan paper disc, dan pipet mikro untuk
mengambil larutan dalam jumlah kecil.
Selanjutnya, bahan-bahan yang digunakan pada praktikum adalah akuades
yang berfungsi sebagai pelarut, agar sebagai bahan pengeras medium,
pepton/tripton sebagai sumber protein, ekstrak khamir sebagai sumber asam
amino, NaCl sebagai sumber mineral Na+ dan Cl-, bakteriE.colidan
bakteriS.aureus sebagai bahan uji, antibiotik sebagai kontrol positif, dan MHA
sebagai bahan pembuat medium MHA.
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Pembuatan Medium Pertumbuhan Padat dan Cair
1. Dimasukkan 1 g tripton/pepton; 0,5 g ekstrak khamir dan 1 g NaCl ke dalam
beaker 100 mL, kemudian ditambahkan dengan aquades sampai volume 100
mL. Diaduk sampai larut. Diatur pH 7,5 dengan NaOH.
2. Ditutup rapat media LB cair sebanyak 30 mL dengan aluminium foil.
Disterilkan medium menggunakan erlenmeyer 100 mL selama 20 menit
pada suhu 1210C.
3. Dibagi media LB cair ke dalam 4 tabung reaksi, ditutup dengan kapas-kasa
steril kemudian aluminium foil.
4. Dibuat media LB padat dengan cara sebanyak 70 mL media LB cair
ditambahkan dengan 1 g agar, dididihkan sampai agar tersuspensi homogen.
Autoclave dengan menggunakan erlenmeyer 250 mL yang ditutup rapat
dengan aluminium foil.
5. Didinginkan media LB padat sampai erlenmeyer bisa dipegang dengan
tangan.
6. Dituangkan masing-masing 5 mL media LB padat ke empat tabung reaksi,
ditutup dengan kapas-kasa steril.
7. Dituangkan 10-15 mL media LB ke 6 cawan petri, dibiarkanmengeras.

3.2.2 Teknik Pemindahan Mikroorganisme Secara Aseptik dengan Metoda


Streaking
1. Disiapkan biakan E.coli dan S.aureus,diinokulasi masing-masing bakteri
pada agar miring dan cawan petri.
2. Diambil satu tabung agar yang berisi biakan mikroba dan satu lagi medium
agar miring yang steril. Kedua tabung dipegang dengan tangan kiri.
3. Diambil jarum ose dan pegang dengan tangan kanan, pijarkan jarum ose
dengan lampu spiritus atau di atas api gas elpiji hingga merah.
4. Diangkat sumbat tabung berisi biakan murni dengan kelingking tangan
kanan dan tabung medium steril dengan jari manis tangan kanan.
Dipanaskan kedua sumber tabung di api.
5. Diambil biakan mikroba dengan jarum ose steril yang sudah dingin dengan
cara menarik garis lurus dan diinokulasikan ke dalam medium steril juga
dengan cara zig-zag.
6. Dipanaskan kedua ulut tabung dan ditutup dengan sumbat yang dijari
kanan, jarum ose dipijarkan lagi di atas api.
7. Dipegang biakan dengan tangan kiri untuk medium yang di cawan, tabung
berisi biakan lalu dibuka tutupnya dan dipanaskan. Diambil jarum ose,
dipijarkan dan didinginkan dan diambil biakan dengan cara garis lurus dan
sebarkan di petri dish dengan gerakan tunggal tidak terputus.
8. Ditutup cawan petri dan jarum ose dipanaskan lagi.
9. Diinkubasi biakan dalam entkas, diamati dan difoto pertumbuhannya.

3.2.3 Inokulasi Mikroba pada Media Cair


1. Satu tabung yang berisi biakan mikroba diambil, lalu ditambahkan 1 ml
akuades, dikerik dengan jarum ose, lalu dipindahkan ke dalam tabung media
LB cair.
2. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 12-24 jam.
3. Diamati pertumbuhan bakteri.

3.2.4 Pembuatan Kultur Cair Bakteri Untuk Uji Antibakteri


1. Disiapkan media LB cair steril dan dimasukkan kedalam tabung reaksi
sebanyak 1/5 volume tabung, dilakukan secara aseptic.
2. Diinokulasi 200 L kultur bakteri murni E.coli dan S.aureus dari stock
gliserol bakteri.
3. Ditutup tabung reaksi dengan kapas steril dan kemudian dengan alumunium
foil.
4. Diinkubasi kultur bakteri pada suhu 37 C selama 12-18 jam diatas shaker.
5. Digunakan kultur cair bakteri siap untuk uji antimikroba.

3.2.5 Pembuatan Media Uji Antibakteri


1. Disiapkan medium MHA dengan melarutkan 1,9 gram MHA dalam akuades
50 mL di Erlenmeyer 100 mL dan dipanaskan diatas hot plate sampai
mendidih.
2. Disiapkan medium LB padat dari medium LB cair yang ditambahkan
dengan 1,5 gram agar dalam Erlenmeyer 100 mL dan dipanaskan sampai
mendidih.
3. Disterilkan medium dengan menggunakan autoclave selama 20 menit pada
suhu 121C (20 menit setelah suhu 121C).
4. Ditandai sebanyak 4 buah petridish yang dengan pena marker disiapkan.
5. Dituangkan media MHA dan media LB padat kedalam petridish, media
dibiarkan mengeras. Pekerjaan dilakukan secara aseptic.
6. Diinkubasi setelah selama satu malam, diangkat dan diamati dengan teliti
semua petridish. Media yang baik dan bebas kontaminasi adalah yang
berwarna bening tanpa ada bercak atau spot dari bakteri yang tidak
diinginkan.
7. Ditutup sisi petridish dengan menggunakan selotip dan disimpan di
refrigerator (4C).

3.2.6 Teknik Pemindahan Mikroorganisme Secara Aseptic Dengan Metoda


Spreding (untuk pengujian senyawa antimikroba dengan metoda zona
inhibisi)

1. Diinkubasi kultur cair yang sebelumnya diambil sebanyak 1 mL,


dimasukkan kedalam petridish medium padat kemudian diratakan dengan
menggunakan batang L dingin yang sudah disterilkan dengan api.
2. Dibiarkan inokulat mongering selama 3-5 menit.
3. Disiapkan papersish yang steril.
4. Diteteskan sebanyak 20 L larutan/ekstrak senyawa antimicrobial yang akan
diuji serta larutan kontrol positif dan negative keatas paperdish. Kemudian
dikeringkan sebentar.
5. Diletakkan paperdish tersebut dipermukaan media padat dengan
menggunakan pinset steril. Pastikan paperdish menempel dengan baik.
6. Diinkubasi biakan tersebut didalam entkas. Diamati, diukur serta difoto
zona bening yang terbentuk setelah 24 jam.
3.3 Skema Kerja
3.3.1 Pembuatan Medium Pertumbuhan Padat dan Cair

1 g tripton + 0,5 ekstrak khamir + 1 g NaCl


- dimasukkan ke dalam beaker 100 mL
- ditambahkan akuades sampai 100 mL
- pH diatur 7-7,5 dengan NaOH
- ditutup dengan foil (30 mL)
- disterilkan selama 20 menit (121 oC)
- dibagi menjadi 2 tabung reaksi
- ditutup dengan kapas steril
Media LB Cair
- 70 mL diambil dan ditambahkan 2 gram agar
- dididihkan sampai homogen
- diautoclave
- didinginkan pada suhu 60 oC
- dimasukkan dalam petridish
- dimasukkan 5 mL LB padat ke dalam tabung reaksi
- dituangkan 10-15 mL LB ke cawan
- dibiarkan mengeras
Media LB Padat
3.3.2. Teknik Pemindahan Mikroorganisme Secara Aseptik Dengan
Metoda Streaking
Biakan E.coli &S.aureus
- diinokulasi pada agar miring & cawan
- diambil 1 tabung biakan & 1 medium
- jarum ose dipijarkan sampai merah
- kedua tabung dipanaskan
- diambil biakan dengan jarum ose secara garis lurus saat dingin
- diperlakukan hal yang sama pada tabung lain & cawan
- cawan ditutup dan diinkubasi dalam entkas

Hasil

3.3.3 Inokulasi pada Media Cair


Tabung berisi biakan mikroba

- ditambahkan 1 mL akuades
- dikerik mikroba dengan jarum ose
- dipindahkan ke dalam tabung media cair
- diaduk secara perlahan
- diinkubasi pada suhu 37oC selama 12-24 jam
- diamati pertumbuhan bakteri

Hasil
3.3.4 Pembuatan Kultur Cair Bakteri Untuk Uji Antimikroba
Media LB Cair Steril

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1/5 volum


tabung.
- Diinkolasi 200 L kultur bakteri E. Coli dan S.Aureus.
- Ditutup dengan kapas-kasa kemudian aluminium foil .
- Diinkubas kultur bakteri pada T= 37C selama 12-18 jam
diatas shaker.
- Diamati pertumbuhan bakteri

Kultur Cair Bakteri

3.3.5 Pembuatan Media uji antibakteri


1,9 gram MHA 50 mL LB cair

- Dimasukkan ke dalam - Dimasukkan ke dalam


- beaker glass 100 mL. beaker glass 100 mL.
- Ditambahkan 50 mL - Ditambahkan 1,5 gram
akuades. agar
- Dipanaskan di atas hot - Dipanaskan di atas hot
plate sampai plate sampai mendidih.
mendidih.

- Dituangkan ke dalam 4 petridish yang


sudah di autoclave.
- Dibiarkan mengeras.
- Diinkubas satu malam.
- Tutup petridish dengan selotip
- Disimpan direfrigerator (4C).

Medium padat
3.3.6 Teknik Pemindahan Mikroorganisme Secara Aseptik dengan Media
Spreading (untuk pengujian senyawa antimikroba dengan metoda zona
inhibisi)

1 mL kultur cair inkubasi

- Dimasukan ke dalam petridish medium padat.


- Diinokulasi selama 3-5 menit.
- Disiapkan paperdish yang sudah disterilkan.
- Diteteskan paperdisc ke dalam larutan senyawa
antimikrobial dan ke dalam larutan kontrol (+) dan kontrol
().
- Diletakan di permukaan agar menggunakan pinset steril.
- Diinkubasi biakan di dalam entkas dengan Diamati, diukur,
difoto zona bening setelah 24.

Zona Bening
IV. HASIL
4.1 Tabel Pengamatan Zona Inhibisi pada MHA
Pengamatan Zona Inhibisi
No Sampel
E.colli (mm) S.aureus (mm)
1 Kontrol Positif 0,5 8 0
2 Kontrol Positif 0,1 10 0
3 Kontrol Negatif 8 0

4.2 Tabel Pengamatan Zona Inhibisi pada Medium LB Padat


Pengamatan Zona Inhibisi
No Sampel
E.colli (mm) S.aureus (mm)
1 Kontrol Positif 0,5 0 0
2 Kontrol Positif 0,1 0 0
3 Kontrol Negatif 9 0

4.3 Tabel Pengamatan

No Foto Pengamatan

E.colli dan S.aureus pada


cawan petri terlihat berwarna
kuning dan bentuk menojol,
1
serta lebih banyak
dibandingkan yang berada
dalam tabung reaksi

Escherichia coli dan


Staphylococcus aureus
2 diletakkan miring untuk
memperlihatkan secara jelas
pertumbuhan bakteri.

Bakteri E.colli menunjukkan


adanya zona inhibisi, baik pada
media MHA maupun LB padat,
3 sedangkan bakteriS.aureus tidak
menunjukkan adanya zona
inhibisi, baik pada medium
MHA maupun LB padat
V. DISKUSI
Pada praktikum kali ini, telah dilakukan percobaan mengenai pembuatan media
pertumbuhan mikroba dan uji aktivitas antimikroba. Dimana bakteri yang
digunakan adalah E.colli dan S.Aureus dan medium pertumbuhan bakteri yang
digunakan adalah medium LB (padat dan cair) dan MHA.
Medium LB padat dibuat dengan menambahkan agar pada media LB cair,
dimana agar berfungsi sebagai pemadat dan memberikan nutrisi tambahan untuk
pertumbuhan mikroba. Kadar agar yang ditambahkan akan mempengaruhi
kekenyalan dari media padat, apabila media padat terlalu kenyal akan
mempermudah terjadinya kontaminasi pada medium. Oleh karena itu, wadah yang
digunakan untuk menumbuhkan bakteri disterilkan menggunakan
autoclave.Autoclave merupakan cara mensterilkan dengan menggunakan alat yang
memberikan uap panas (steam), sehingga mikroba yang ada dapat dimatikan.
Medium LB padat dibuat dengan dua bentuk, yaitu dalam tabung reaksi,
yang diletakkan miring untuk diperoleh permukaan media yang lebih luas dan
mudah dalam mengamati pertumbuhan bakteri dan dalam cawan petridish yang
bertujuan agar bakteri tersebar merata ke seluruh permukaan petridish.
Mikroba diinokulasi dari biakan ke medium LB dilakukan secara aseptik
dengan metode goresan (streaking), yang dilakukan secara garis zig-zag. Goresan
zig-zag digunakan sebagai cara inokulasi agar area pertumbuhan dari mikroba
lebih luas dibandingkan dengan garis lurus. Cara perngerjaannnya pun juga harus
steril, yaitu dengan memijarkan jarum ose pada nyala api. Begitu juga dengan
tabung reaksi dan petridish yang digunakan, pengerjaan dilakukan dekat dengan
nyala api spritus. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga kesterilan supaya tidak
tercemar dan terhindar dari kontaminasi sehingga mikroba yang tidak diinginkan
tidak akan tumbuh.
Setelah inokulasi selesai, medium diinkubasi pada suhu tertentu dengan lama
waktu yang telah ditetapkan untuk memperoleh pertumbuhan mikroba yang tidak
terkontaminasi.Sehingga, hasil yang didapatkan pada semua medium sangat baik
dimana pertumbuhan mikroba Escherichia coli dan Staphylococcus aureus pada
medium cawan petridish lebih banyak dibandingkan dengan tabung reaksi.
Adanya pertumbuhan bakteri pada cawan petridish ditandai dengan adanya
benjolan putih pada daerah yang digoreskan dengan bakteri. Semakin tebal warna
yang terbentuk maka semakin banyak bakteri yang tumbuh pada daerah tersebut.
Selanjutnya untuk uji aktivitas antimikroba digunakan Mueller-Hinton Agar
(MHA) dan media LB padat sebagai media tumbuh bakteri. Kedua media, media
MHA dan media LB padat, dituangkan ke dalam petridish setelah medium
mengeras maka dipindahkan bakteri ke dalam medium menggunakan jarum ose
dengan metode spreading (tebar) tujuannya agar bakteri dapat tumbuh merata di
permukaan media, memperbanyak mikroba dan bakteri yang tumbuh hanya
sejenis. Setelah itu, dimasukkan kontrol positif 0,5 dan 0,1 serta kontrol negatif
untuk melihat zona inhibisinya. Yang mana jika senyawa yang diuji merupakan
senyawa antimikroba maka senyawa tersebut akan mampu menghambat
pertumbuhan bakteri pada medium MHA dan LB padat yang ditunjukkan dengan
adanya zona bening (zona inhibisi) disekitarnya. Yang mana semakin luas zona
inhibisinya menunjukkan semakin tinggi kemampuan senyawa tersebut untuk
menghambat pertumbuhan bakteri disekitarnya.
Berdasarkan hasil yang didapatkan, dapat dilihat bahwa bakteri E.colli
merupakan senyawa antimikroba karena menunjukkan adanya zona bening (zona
inhibisi), sedangkan bakteri S.aureus bukanlah senyawa antimikroba karena tidak
menunjukkan adanya zona bening. Hal ini juga menunjukkan bahwa senyawa
antimikroba yang terdapat pada bakteri E.colli dapat menghambat pertumbuhan
bakteri lainnya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa:
1. Pembuatan medium pertumbuhan mikroba dibuat secara Luria-Bertani.
2. Media LB padat dibuat dengan menambahkan agar sebagai pemadat.
3. Pemanasan dan jumlah agar mempengaruhi kekenyalan medium.
4. Metode inokulasi yang digunakan adalah metode goresan (streaking).
5. Pertumbuhan mikroba pada medium cawan petridish lebih banyak
dibandingkan dengan tabung reaksi.
6. Bakteri E.colli merupakan senyawa antimikroba karena memiliki zona bening
sedangkan bakteri S.aureus tidak.
7. Senyawa antimikroba pada bakeri E.colli dapat menghambat pertumbuhan
bakteri lainnya.
5.2 Saran
1. Tambahkan agar dalam jumlah yang tepat agar media LB padat terbentuk
dengan baik.
2. Proses autoclave harus mencapai waktu yang ditetapkan.
3. Tetap menjaga kesterilan saat proses inokulasi dilakukan.
4. Pijarkan jarum ose sebelum mengambil starter dan penggoresan.
5. Teliti dalam mengukur zona inhibisi pada media.
6. Lakukan proses sterilisasi dengan sempurna agar biakan yang ditumbuhkan
tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme lain.
7. Lakukan pengerjaan secara aseptik.
DAFTAR PUSTAKA

Habazar, Trimurti. 2004. Bakteri Patogenik Tumbuhan. Padang: Andalas


University

Jokohadikusumo, Putranto. 2011. Memahami Dunia Bakteri. Bandung: Sinar


Baru Algensindo Offset

Lim, D. 1998. Mikrobiologi Umum. Makassar: Universitas Islam Negeri


Alauddin

Pelczar, Michael J. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press

Rahmah, Sylvia Aulia. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri dan Daya Inhibisi
Ekstrak Kulit Manggis. Malang: Universitas Negeri Malang

Volk, Wesley A. 1993. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Erlangga


Lampiran 1. Tugas Sebelum Praktikum
1. Jelaskan beberapa cara mengisolasikan bakteri dan jamur dari alam!
Jawab:
a. Cara penggoresan, yaitu pada penggoresan yang sempurna akan
menghasilkan koloni yang terpisah.
b. Cara penanaman, terdiri dari spread plate dan pour plate. Spread plate,
menyebarkan suspensi bakteri dipermukaan agar diperoleh kultur murni,
sedangkan pour plate,menggunakan agar yang elum padat untuk
dituangkan bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri untuk
dihomogenkan.
c. Pengenceran bertingkat, untuk memperkecil jumlah mikroba yang
tersuspensi.
2. Jelaskan dan tuliskan contoh jenis-jenis media kultur mikroba!
Jawab:
a. Berdasarkan bentuk media
Media padat, yaitu media yang menggunakan agar
Media cair, digunakan untuk menambah biomassa sel dan biasanya
digunakan untuk pertumbuhan ragi, bakteri, dan mikroalga
Media semi padat, biasanya untuk pertumbuhan mikroba yang banyak
memerlukan air dan anaerob
b. Berdasarkan komposisi
Medium semi sintesis, yaitu media yang sebagian komposisinya
diketahui secara pasti
Medium non sintesis, yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang
tidak diketahui secara pasti
c. Berdasarkan tujuan
Media untuk isolasi
Media selektif
3. Jelaskan perbedaan dan kegunaan beberapa metode inokulasi bakteri!
Jawab:
a. Metode gores, teknik ini lebih menguntungkan dari segiekonomi dan
waktu, tetapi memerlukan keterampilan
b. Pour plate, teknik ini membutuhkan agar yang kurang padat
c. Spread plate, menyebarkan suspensi bakteri di permukaan agar diperoleh
kultur murni
4. Apa yang dimaksud dengan sifat antimikroba suatu senyawa?
Jawab:
Sifat antimikroba yaitu sifat suatu senyawa yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri lain
5. Tuliskan beberapa contoh sumber-sumber senyawa antimikroba!
Jawab:
a. Cengkeh, komponenen antibakterinya eugenol
b. Bawang putih, komponenen antibakterinya alicin
c. Merica, komponenen antibakterinya capasaisin
d. Mustard, komponenen antibakterinya ally isothiosianat
e. Jahe, komponenen antibakterinya
f. gingerone dan gingerol
6. Jelaskan keuntungan penggunaan medium MHA untuk uji antibakteri!
Jawab:
a. Semua bakteri dapat tumbuh karena bukan media selektif dan diferensial
b. Mengandung starch yang berfungsi sebagai racun yang tidak dikeluarkan
bakteri
c. Mendukung pertumbuhan bakteri non fastidious yang patogen

Anda mungkin juga menyukai