Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM BIOKIMIA
UJI GUGUS FUNGSI PROTEIN DAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS ENZIM

Disusun oleh:
Kelompok II (Dua)
1. Harits Hamman ( 1510411005)
2. Sartini (1510411026)
3. Fadhil Ferdian (1510412015)
4. Stefani Faradina (1510412035)

Hari / Tanggal : Kamis / 21 September 2017

Kordinator Harian : Iolantri Handra

LABORATORIUM PENDIDIKAN III


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada praktikum kali ini mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi aktivitas
enzim, enzim yang didapatkan dengan mengekstrak kentang sehingga didapatkan
enzim polifenoloksidase. Protein yang berfungsi sebagai enzim memiliki peran
yang sangat penting bagi sel.
Enzim mengkatalis reaksi-reaksi kimia yang terjadi didalam organisme.
Enzim mempercepat reaksi-reaksi yang kompleks dan lama menjadi bisa
berlangsung lebih sederhana dan cepat dari ekstrak kentang tadi diuji dengan
beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim yakni aktivitas enzim,
konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, pengaruh temperatur dan inhibitor.

1.2 Tujuan dan Manfaat


1.2.1 Tujuan
1. Mengidentifikasi gugus fungsi protein.
2. Mengekstrak enzim polifenoloksidase dari kentang.
3. Mempelajari substrat spesifik dari polifenoloksidase.
4. Menentukan beberapa variabel yang mempengaruhi aktivitas enzim.

1.2.2 Manfaat
1. Mengetahui gugus fungsi protein.
2. Mengekstrak enzim yang ada didalam kentang.
3. Mengetahui substrat spesifik dari polifenoloksidase.
4. Mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas
enzim.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Enzim adalah molekul kompleks berbasis protein yang dihasilkan oleh sel-sel.
Enzim ikut terlibat dalam berbagai reaksi biokimia. Tiap-tiap enzim yang terdapat
dalam tubuh kita dapat mempengaruhi reaksi kimia tertentu. Enzim berperan
sebagai katalis organik, enzim mempercepat kecepatan reaksi yang terjadi. Jika
tidak ada enzim, reaksi kimia akan menjadi sangat lambat. Berbagai reaksi juga
mungkin tidak akan terjadi jika tidak terdapat enzim yang tepat di dalam tubuh.
Enzim dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia berkali-kali lipat. Studi
telah menemukan bahwa enzim dapat mempercepat reaksi kimia sampai 10 milyar
kali lebih cepat. Zat kimia yang hadir pada awal proses biokimia disebut sebagai
substrat, yang mengalami perubahan kimia membentuk produk akhir.
Enzim merupakan unit fungsional dari metabolism tubuh. Enzim bekaerja
dengan urutan-urutan yang teratur dan mengkatalis ratusan reaksi didalam tubuh.
Enzim dibagi lagi menjadibeberapa jenis. Secara internasional enzim di
kelompokkan menjadi 6 kelas besar yaitu :
1. Oksidoreduktase : enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan elektron
(Redoks)
2. Transferase : enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus
fungsionil.
3. Hidrolase : enzim yang membantu dalam reaksi hidrolisis (pemindahan
gugus fungsional ke air)
4. Liase : enzim yang membantu dalam reaksi penambahan gugus pada
ikatan ganda atau sebaliknya.
5. Isomerase : enzim yang bereran dalam reaksi pemindahan gugus dalam
molekul, menghasilkan bentuk isomer.
6. Ligase : enzim yang membantu dalam reaksi pembentukan ikatan C-C, C-
S, C-O, dan C-N oleh reaksi kondensasi yang berkaitan dengan Penguraian
ATP.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim. Menurut
Rodwell (1988), faktor utama yang mempengaruhi aktivitas enzim adalah suhu,
pH, konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, dan adanya aktivator dan inhibitor.
1. Pengaruh suhu
Enzim mempercepat terjadinya reaksi kimia pada suatu sel hidup. Dalam
batas-batas suhu tertentu, kecepatan reaksi yang dikatalisis enzim akan naik bila
suhunya naik. Reaksi yang paling cepat terjadi pada suhu
optimum(Rodwell,1988). Oleh karena itu, penentuan suhu optimum aktivitas
enzim sangat perlu karena apabila suhu terlalu rendah maka kestabilan enzim
tinggi tetapi aktivitasnya rendah, sedangkan pada suhu tinggi aktivitas enzim
tinggi tetapi kestabilannya rendah (Muchtadi, 1992). Namun, kecepatannya akan
menurun drastis pada suhu yang lebih tinggi. Hilangnya aktivitas pada suhu tinggi
karena terjadinya perubahan konformasi panas (denaturasi) enzim. Kebanyakan
enzim tidak aktif pada suhu sekitar 55-60oC (Rabyt, 1987). Dalam beberapa
keadaan, jika pemanaasan dihentikan dan enzim didinginkan kembali aktivitasnya
akan pulih. Hal ini disebabkan oleh karena proses denaturasi masih reversible. pH
dan zat-zat pelindung dapat mempengaruhi denaturasi pada pemanasan ini.
2. Pengaruh pH
Enzim pada umumnya bersifat amfolitik, yang berarti enzim mempunyai
konstanta disosiasi pada gugus asam maupun gugus basanya, terutama pada gugus
residu terminal karboksil dan gugus terminal aminonya, diperkirakan perubahan
kereaktifan enzim akibat perubahan pH lingkungan (Winarno,1986). Menurut
Tranggono dan Sutardi (1990), Enzim mempunyai aktivitas maksimum pada
kisaran pH yang disebut pH optimum. Suasana yang terlaluasam atau alkali akan
mengakibatkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. pH
optimum untuk beberapa enzim pada umumnya terletak diantara netral atau asam
lemah yaitu 4,5-8. pH optimum sangat penting untuk penentuan karakteristik
enzim. Pada subtrat yang berbeda,enzim memiliki pH optimum yang berbeda .
Menurut Winarno (1986), enzim yang sama seringkali mempunyai pH optimum
yang berbeda, tergantung pada asal enzim tersebut. Menurut Syahrul (2008)

Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim adalah :


a. Pada pH rendah atau tinggi, enzim akan mengalami denaturasi.
b. Pada pH rendah atau tinggi, enzim maupun substrat dapat mengalami
perubahan muatan listrik dengan akibat perubahan aktivitas enzim.

3. Pengaruh konsentrasi enzim


Kecepatan reaksi dalam reaksi enzimatis sebanding dengan konsentrasienzim
(Martin, 1983). Semakin tinggi konsentrasi enzim maka kecepatan reaksi akan
semakin meningkat hingga pada batas konsentrasi tertentu dimana hasil hidrolisis
akan konstan dengan naiknya konsentrasi enzim yang disebabkan penambahan
enzim sudah tidak efektif lagi (Reed, 1963).
4. Pengaruh konsentrasi substrat
Kecepatan reaksi enzimatis pada umumnya tergantung pada konsentrasi substrat.
Kecepatan reaksi akan meningkat apabila konsentrasi substrat meningkat.
Peningkatan kecepatan reaksi ini akan semakin kecil hingga tercapai suatu titik
batas yang pada akhirnya penambahan konsentrasi subtrat hanya akan sedikit
meningkatkan kecepatan reaksi (Lehninger, 1997). Hal ini disebabkan semua
molekul enzim telah membentuk ikatan kompleks dengan substrat yang
selanjutnya dengan kenaikan konsentrasi substrat tidak berpengaruh terhadap
kecepatan reaksinya (Tranggono dan Sutardi, 1990).
5. Pengaruh aktivator dan inhibitor
Beberapa enzim memerlukan aktivator dalam reaksi katalisnya. Aktivator adalah
senyawa atau ion yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi enzimatis.
Komponen kimia yang membentuk enzim disebut juga kofaktor. Kofaktor
tersebut dapat berupa ion-ion anorganik seperti Zn, Fe, Ca, Mn, Cu, atau Mg atau
dapat pula sebagai molekul organik kompleks yang disebut koenzim. Pada
umumnya ikatan antara senyawa organik dengan protein enzim itu lemah dan
apabila ikatannya kuat disebut gugus prostetis (Martoharsono, 1984). Selain
dipengaruhi oleh adanya adanya aktivator, aktivator enzim juga dipengaruhi oleh
adanya inhibitor. Inhibitor adalah senyawa atau ion yang dapat menghambat
aktivitas enzim (Lehninger, 1997). Contoh inhibitor : CO, Arsen, Hg, Sianida
(Prodi, 2009) . Sifat penghambatan pada enzim dibagi menjadi lima yaitu :
a. Penghambatan non-spesifik
b. Penghambatan kompetitif
c. Penghambatan non-kompetitif
d. Penghambatan tak kompetitif
e. Penghambatan Campuran
6. Pengaruh faktor-faktor lain
Enzim dapat dirusak dengan pengocokan, penyinaran ultraviolet dan sinar-x,
sinar- dan sinar-.Untuk sebagian ini disebabkan karena oxidasi oleh peroxida
yang dibentuk pada penyinaran tersebut.
Enzim adalah protein yang berfungsi sebagai katalisator, senyawa yang
meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Enzim katalisator berikatan dengan
reaktan, yang disebut substrat, mengubah reaktan menjadi produk, lalu
melepaskan produk. Walaupun enzim dapat mengalami modifikasi selama urutan
ini, pada akhir reaksi enzim kembali ke bentuk asalnya. Selain meningkatkan
kecepatan reaksi, enzim dapat mengatur kecepatan reaksi dalam jalur metabolik
tubuh(1). Amylase adalah suatu enzim pencernaan yang dalam keadaan normal
bekerja ekstra sel untuk memecah kanji menjadi kelompok-kelompok karbohidrat
yang lebih kecil dan akhirnya menjadi monosakarida. Sumber organ utama
amilase adalah kelenjar liur dan pancreas. Amilase saliva dalam keadaan normal
masuk ke mulut oleh sekresi melalui ductus salivarius(2).
BAB III
METODA PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat dan fungsi
Pisau digunakan untuk mengupas dan memotong kentang. Mortar digunakan
untuk menghaluskan kentang. Gelas beaker 100 mL dan 200 mL sebagai wadah
larutan. Kain kasa untuk menyaring filtrat dari kentang. Tabung reaksi untuk
mereaksikan larutan. Waterbath sebagai tempat memanaskan larutan dan
termometer untuk mengukur suhu larutan.

3.1.2 Bahan dan fungsi


Kentang digunakan sebagai sampel atau sumber enzim polifenoloksidase. Air
distlasi sebagai pelarut. Albumin telur sebagai sampel. 2 % larutan NaF sebagai
pelarut ekstrak kentang. 0,01M Katekol, 0,01M Fenol dan 0,01M 1,4
sikloheksanadiol sebagai bahan penguji spesifisitas enzim. 0,1M HCl pH 3,
Buffer pospat pH 7 dan pH 9 untuk menguji pH optimum enzim bekerja. 0,1 M
Na2CO3, 5 % tripsin dan 5 % Pb(NO3)2 sebagai inhibitor. Reagen Millon sebagai
reagen pada uji Millon. 2% Gelatin sebagai pereaksi pada uji Millon. 1% sistin
sebagai larutan asam amino. 1M NaOH dan kristal Pb Asetat sebagai pereaksi
pada uji PbS. Larutan Nitroprusida 1% dan NH4OH pa sebagai bahan untuk uji
nitroprusida.
3.2 Cara Kerja
A. Persiapan Ekstrak Enzim
1. Kentang yang sudah dikupas dipotong kecil, kemudian dimasukkan ke dalam
mortar.
2. Ditambahkan 5 mL air distilasi.
3. Dihaluskan campuran kemudian dituangkan ke dalam gelas beaker 100 mL,
ditambahkan 30 mL larutan 2% natrium fluoride (NaF).
4. Didiamkan campuran selama 2 menit, kemudian disaring ke dalam gelas
beaker 100 mL menggunakan corong yang dilapisi dengan 4 lapis kain. Filtrat
yang diperoleh mengandung polifenoloksidase.

B. Spesifikasi Enzim
1. Disiapkan 4 tabung reaksi yang sudah diberi label a-d dan masing-masing diisi
dengan :
Tabel 1. Pengamatan Spesifitas Enzim
Tabung Isi Intensitas Warna
A 20 tetes air destilasi
B 20 tetes larutan 0,01 M katekol
C 20 tetes larutan 0,01 M fenol

2. Ditempatkan ke empat tabung reaksi dalam water bath yang sudah diatur
suhunya pada 37C. Atau bisa juga menggunakan gelas beaker 250 mL yang sudah
diisi setengahnya dengan air
3. Disiapkan 4 tabung reaksi lain, isi masing-masingnya dengan 30 tetes ekstrak
kentang. Ditempatkan keempat tabung dalam waterbath pada suhu 37C
4. Setelah tabung ekstrak kentang berada di waterbath selama 5 menit, dituangkan
masing-masing ekstrak kentang ke tabung a-d. Aduk perlahan biarkan di dalam
waterbath untuk 5 menit berikutnya.
5. Dipindahkan tabung a-d dari waterbath, diamati dan bandingkan perbedaan
warna yang terjadi. Cara yang paling baik untuk mengamati perubahan warna
adalah dengan menempatkan kertas putih dibawah keempat tabung, dan diamati
warna dari atas tabung
C. Konsentrasi Substrat
1. Label 4 tabung reaksi 10 cm, usahakan ukuran diameter ke empat tabung sama.
Label tabung a-d, dimana setiap label menandakan jumlah tetes katekol
Tabel 2. Pengamatan Konsentrasi Substrat
Tabung Isi Intensitas Warna
A 50 tetes larutan 0,01 M katekol
B 40 tetes larutan 0,01 M katekol + air
C 20 tetes larutan 0,01 M katekol + air
D 10 tetes larutan 0,01 M katekol + air

2. Tempatkan tabung reaksi dalam waterbath pada suhu 37C


3. Disiapkan 4 tabung reaksi lain dan dimasukkan 20 tetes ekstrak kentang,
panaskan dalam waterbath suhu 37C selama 5 menit
4. Selanjutnya masukkan masing-masing ekstrak kentang ke tabung a-d, aduk dan
inkubasi selama 2 menit dalam waterbath. Amati dan catat perubahan

D. Pengaruh pH
1. Label 4 tabung reaksi ukuran 10 cm dengan a-d, usahakan ukuran diameter ke
empat tabung sama. Setiap tabung berisikan
Tabel 3. Pengamatan pH enzim
Tabung Isi Intensitas Warna
A 20 tetes 0,01 M HCl
B 20 tetes buffer pospat pH 4
C 20 tetes buffer pospat pH 7

2. Ditambahkan 10 tetes 0,01 M katekol


3. Ditambahkan 10 tetes ekstrak kentang
4. Aduk dengan baik, ditempatkan dalam waterbath suhu 37C selama 10 menit
5. Diamati dan dicatat perubahan warna
E. Konsentrasi Enzim
1. Siapkan 4 tabung reaksi ukuran 10 cm, usahakan ukuran diameter ke empat
tabung sama. Label tabung dengan a-d, dimana setiap label menandakan jumlah
tetes ekstrak kentang
Tabel 4. Pengamatan konsentrasi enzim
Tabung Isi Intensitas Warna

A 15 tetes ekstrak kentang


B 10 tetes ekstrak kentang + air
C 5 tetes ekstrak kentang + air
D 1 tetes ekstrak kentang + air

2. Ditempatkan tabung reaksi dalam waterbath pada suhu 37C


3. Disiapkan 4 tabung reaksi lain dan masukkan 10 tetes katekol, dipanaskan
dalam waterbath suhu 37C selama 5 menit
4. Selanjutnya dimasukkan masing-masing ekstrak kentang ke tabung a-d , aduk
dan inkubasi selama 5 menit dalam waterbath. Diamati dan catat perubahan

F. Pengaruh Temperature
1. Disiapkan 3 tabung reaksi ukuran 10 cm, diusahakan ukuran diameter ukuran
ke empat tabung sama. Label tabung dengan a,b dan c.
Tabel 5. Pengamatan pengaruh temperatur
Tabung Isi Intensitas Warna
A 0oC (dalam penangas es)
B 37oC
C 70oC

2. Dimasukkan 10 tetes ekstrak kentang, kemudian tempatkan tabung pada suhu


3. Diteteskan 0,01 M katekol sebanyak 10 tetes, inkubasi selama 8 menit pada
masing-masing suhu.
4. Aduk campuran dalam tabung, kemudian lanjutkan inkubasi selama 5 menit.
Amati dan catat perubahan warna
G. Inhibitor
1. Disiapkan 3 tabung reaksi ukuran ukuran 10 cm, usahakan ukuran diameter ke
empat tabung sama. Label tabung dengan a,b dan c
Tabel 6. Pengamatan inhibitor
Tabung Isi Intensitas Warna
A 10 tetes air destilasi
B 10 tetes suspensi 5% tripsin
C 10 tetes larutan 5% Pb(NO3)2

2. Dimasukkan 10 tetes ekstrak kentang, kemudian masing-masing tabung


ditambahkan
3. Tempatkan tabung reaksi dalam waterbath pada suhu 37C
4. Kemudian, ditambahkan 0,01 M katekol sebanyak 10 tetes, aduk, dan inkubasi
selama 5 menit pada suhu 37C
5. Aduk campuran dalam tabung, kemudian lanjutkan inkubasi selama 5 menit.
Amati dan catat perubahan warna

H. Uji Millon
1. Disiapkan 2 buah tabung reaksi yang bersih dan kering, beri label : 2% gelatin
dan albumin. Masukkan 2mL dari masing-masing larutan ke tabung reaksi yang
sesuai
2. Ditambahkan 3 tetes reagen millon ke masing-masing tabung
3. Ditempatkan tabung reaksi di dalam inkubator air mendidih. Dipanaskan
larutan sampai mencapai titik didihnya. Jika reagen yang ditambahkan terlalu
banyak warna yang terbentuk akan hilang pada pemanasan
4. Dicatat hasil pengamatan

I. Uji Nitroprusida
1. Ditambahkan 0,5 mL larutan nitroprusida 2% ke dalam 2 mL larutan asam
amino uji (sistein dan sistin)
2. Kemudian ditambahkan 0,5 mL NH4OH
3. Diamati dan di catat perubahan yang terjadi
J. Uji Tembaga sulfida
1. Disiapkan 2 mL larutan asam amino tambahkan sedikit kristal/beberapa tetes
Pb-asetat
2. Kemudian dalam 5 mL 1 M NaOH
3. Dipanaskan sekitar 5 menit
4. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi
3.3 Skema Kerja
A. Persiapan ekstrak

Kentang

Dikupas dan dipotong kecil


Dimasukkan kedalam mortat
Ditambahkan air dan pasir
Dihaluskan
Campuran

Dimasukkan ke gelas beaker


Ditambahkan larutan 2% NaF
Didiamkan selama 2 menit
Disaring

Filtrat

B. Spesifisitas enzim
Tabung
reaksi
Disiapkan empat buah
Masing-masing diisi air, katekol, fenol, dan
sikloheksanadiol
Waterbath

Tabung reaksi dipanaskan dalam waterbath

Tabung reaksi lain

Disiapkan 4 buah
Masing-masing diisi ekstrak kentang
Dipanaskan dalam waterbath
Dituangkan kedalam tabung reaksi pertama
Tabung reaksi
berisi campuran

Diamati perubahan warna


C. Konsentrasi substrat

Katekol
Dimasukkan kedalam 4 tabung reaksi dengan jumlah berbeda
Ditempatkan dalam waterbath
Dimasukkan ekstrak kentang (yang sudah dipanaskan
sebelumnya)

Campuran

Diamati perubahan warna

D. Pengaruh pH

Tabung reaksi
Masing-masing dimasukkan HCl, buffer
posfat 4 dan 7 dan Na2CO3
Dimasukkan 10 tetes katekol
Dimasukkan ekstrak kentang
Diaduk dan ditempatkan dalam waterbath

Tabung
reaksi
Diamati perubahan warna campuran

E. Konsentrasi enzim

Ekstrak
kentang
Dimasukkan kedalam 4 tabung reaksi dengan jumlah
berbeda
Ditempatkan dalam waterbath
Dimasukkan katekol
Diaduk dan diinkubasi selama 5 menit dalam waterbath
Campuran

Diamati perubahan warna campuran


F. Pengaruh temperatur

Ekstrak kentang

Dimasukkan kedalam 3 tabung reaksi


Masing-masing tabung reaksi ditempatkan pada suhu
berbeda yaitu 0, 37, dan 70
Diteteskan katekol, diinkubasi selama 8 menit
Diaduk dan diinkubasi selama 5 menit dalam waterbath
Campuran

Diaduk
Diinkubasi 5 menit
Diamati dan dicatat perubahan warna

G. Inhibitor

Ekstrak kentang

Dimasukkan kedalam 3 tabung reaksi


Masing-masing tabung reaksi ditambahkan air, tripsin, dan
Pb(NO3)2
Ditempatkan dalam waterbath
Ditambahkan katekol
Diaduk dan diinkubasi selama 5 menit dalam waterbath
Campuran

Diinkubasi 5 menit
Diaduk
Diinkubasi 5 menit
Diamati dan dicatat perubahan warna
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel dan Foto Pengamatan


A. Persiapan ekstrak enzim
No No Langkah kerja Foto Analisa
1 Dipotong kecil kecil Dihaluskan untuk
kentang yang sudah menghancurkan dinding
dikupas, lalu dihaluskan sel dari kentang.
dan ditambahkan 5mL Penambahan NaF
air dan 30mL larutan bertujuan untuk menarik
2% NaF, disaring dan enzim polifenoloksidase
diambil filtratnya pada kentang.

B. Spesifikasi Enzim
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 3 tabung Perubahan warna yang
reaksi yang diisi cukup pekat pada
dengan variasi larutan penambahan substrat
katekol, fenol dan air katekol. Hal ini
distilasi dipanaskan dan disebabkan karena warna
dicampur dengan dari ekstrak kentang
ekstrak kentang yang yang berwarna coklat
telah di panaskan pada karena sudah teroksidasi
suhu 37 C. dengan oksigen diudara,
sehingga memberi warna
pada larutan.
C. Konsentrasi Substrat
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 4 tabung Hasilnya adalah warna
reaksi yang diisi dengan pekat dihasilkan pada
variasi volume katekol konsentrasi katekol
dan air, masing-masing yang banyak (tabung
dipanaskan pada suhu a). Hal ini menandakan
37 C, lalu dicampurkan aktivitas enzim
dengan ekstrak kentang meningkat dengan
dan di inkubasi selama peningkatan
2 menit dalam konsentrasi.
waterbath.

D. Pengaruh pH
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 3 tabung Enzim bekerja pada pH
reaksi yang diisi tertentu, umumnya
dengan variasi larutan pada pH sekitar 6-8.
HCl pH 3, buffer Hal ini sesuai dengan
pospat pH 7 dan pH 9, hasil percobaan yaitu
ditambah 10 tetes enzim dengan
katekol pada masing- penambahan Na2CO3
masing tabung dan mmberikan perubahan
dipanaskan dalam warna yang pekat
waterbath. dibanding dengan
penambahan HCl dan
pH 7.
E. Konsentrasi Enzim
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 4 tabung reaksi Perubahan warna
yang diisi dengan variasi pekat pada
volume ekstrak dan air, konsentrasi enzim
lalu di panaskan dalam yang tinggi. Hal ini
waterbath dan sesuai dengan teori
ditambahkan 10 tetes yaitu konsentrasi
katekol pada pada tabung enzim berbanding
lain lalu di panaskan, lurus dengan aktivitas
kemudian di campurkan enzim.
antara 4 tabung pertama
dan 4 tabung kedua
kemudian diaduk

F. Pengaruh Temperatur
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 3 tabung reaksi Perubahan warna
yang diisi dengan 10 tetes pekat pada suhu 0C
ekstrak kentang dengan karena suhu
variasi suhu 0 C, 37 C, berbanding terbalik
dan 70 C. Ditambah 10 dengan konsentrasi.
tetes katekol dan diaduk.
G. Inhibitor
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 2 tabung Pada penambahan
reaksi yang diisi Pb(NO3)2 terdapat
dengan 10 tetes air endapan yang
distilasi dan larutan menandakan larutan
Pb(NO3)2 , dipanaskan ini dapat menghabat
pada suhu 37 C dan aktivitas enzim yang
ditambahka 10 tetes mana berikatan
katekol dan diaduk. dengan sisi aktif
enzim.

H. Uji Millon
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 2 tabung Terbentuk larutan
reaksi yang diisi berwarna pink
dengan 2 ml gelatin sedangkan pada
dan albumin dan penambahan albumin
ditambah masing- terbentuk gumpalan
masing 3 tetes reagen putih dan ada
millon dan diaduk. endapan hitam.
I. Uji Nitroprusida
No Langkah Kerja Foto Analisa
1 Disiapkan 2 tabung Terbentuknya larutan
reaksi yang diisi berwarna kekuningan
dengan 2 mL larutan pada penambahan
sistin dan sistein dan di sistein, dan berwarna
tambahkan 0,5 mL bening pada
larutan nitriprusida dan penambahan sistin.
0,5 mL NH4OH, lalu
dipanaskan 5 menit.
4.2 Hasil

Tabel 1. Pengamatan Spesifitas Enzim


Tabung Isi Intensitas Warna
A 20 tetes air destilasi +
B 20 tetes larutan 0,01 M katekol +++
C 20 tetes larutan 0,01 M fenol +
D 20 tetes larutan 0,01 M 1,4- -
sikloheksanadiol

Tabel 2. Pengamatan Konsentrasi Substrat


Tabung Isi Intensitas Warna
A 50 tetes larutan 0,01 M katekol ++++
B 40 tetes larutan 0,01 M katekol +++
+ air
C 20 tetes larutan 0,01 M katekol ++
+ air
D 10 tetes larutan 0,01 M katekol +
+ air

Tabel 3. Pengamatan pH enzim


Tabung Isi Intensitas Warna
A 20 tetes 0,01 M HCl +
B 20 tetes buffer pospat pH 7 ++++
C 20 tetes 0,01 M Na2CO3 pH 9 ++
Tabel 4. Pengamatan konsentrasi enzim
Tabung Isi Intensitas Warna
A 15 tetes ekstrak kentang ++++

B 10 tetes ekstrak kentang + air +++


C 5 tetes ekstrak kentang + air ++
D 1 tetes ekstrak kentang + air +

Tabel 5. Pengamatan pengaruh temperatur


Tabung Isi Intensitas Warna
A 0oC (dalam penangas es) ++++
B 37oC +++
C 70oC ++

Tabel 6. Pengamatan inhibitor


Tabung Isi Intensitas Warna
A 10 tetes air destilasi +++
B 10 tetes suspensi 5% tripsin -
C 10 tetes larutan 5% Pb(NO3)2 Endapan putih

Tabel 7. Pengamatan
Sampel Uji Hasil pengamatan
Albumin Uji PbS Endapan putih
Gelatin Uji PbS Bening
Sistin Uji PbS Bening
Sistein Nitroprusida Merah keunguan
Sampel Uji Pengamatan
Albumin Millon Putih Padat
Gelatin Millon Keruh
Sistin Nitroprusida Bening
4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini adalah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas
enzim, sampel yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu kentang kupas yang
dipotong kecil dan di haluskan yang ditambahkan dengan air destilasi sampai
keluar ekstrak kentang yang ditambahkan larutan 2% natrium fluoride (NaF)
kemudian disaring dan filtratnya mengandung enzim polifenoloksidase. Sampel
dipotong dan dihaluskan tujuannya ialah untuk memperbesar luas permukaan
pada kentang sehingga enzim yang diinginkan dapat terekstrak dengan sempurna
dan mendapatkan ekstrak yang banyak.
Enzim polifenol oksidase (PPO) adalah enzim oksidoreduktase yang
mengandung tembaga (Cu) yang umumnya dikenal berperan dalam proses
melanisasi pada hewan dan pencoklatan pada tanaman. Konsentrasi enzim yang
tinggi ditemukan pada jamur, umbi kentang, apel, pisang, alpukat, daun teh, biji
kopi, dan daun tembakau. Selain pada tanaman, enzim PPO juga ditemukan pada
bakteri dan mamalia.
Enzim ialah suatu protein yang bekerja secara spesifik, setiap enzim
merupakan protein akan tetapi setiap protein belum tentu dapat dikatakan enzim.
Enzim adalah protein globular khusus tiga dimensi yang dapat bertindak sebagai
molekul biologis, untuk mengkatalisasi dan mengatur reaksi kimia dalam
organisme. Protein adalah makromolekul biologis yang paling beragam, baik
secara fungsional dan struktural. Mereka adalah polimer dari asam amino. Urutan
asam amino menentukan struktur dan fungsi dasar mereka. Beberapa perbedaan
enzim dan protein.
1. Semua enzim adalah protein globular, tetapi tidak semua protein globular.
Beberapa protein globular sementara ada juga yang tidak (bagian berserat
memiliki struktur tipis panjang).
2. Tidak seperti protein lainnya, enzim dapat bertindak sebagai katalis, untuk
mengkatalisasi dan mengatur reaksi biologis.
3. Enzim adalah protein fungsional, sedangkan protein dapat berupa fungsional
atau struktural.
4. Tidak seperti protein lainnya, enzim adalah molekul tertentu dengan substrat
yang sangat spesifik.
5. Protein dapat dicerna atau dipecah oleh enzim (protease).
Faktor-faktor yang mempengaruhi enzim yang akan dilakukan percobaan
adalah spesifitas enzim, konsentrasi substrat, pH enzim, konsentrasi enzim,
pengaruh temperatur dan inhibitor.
Ada beberapa faktor di dalam lingkungan sel yang bisa mempengaruhi
aktivitas enzim secara langsung, seperti suhu dan pH. Aktivitas enzim dapat
diukur dengan memonitor reaksi katalis pada rentang waktu yang tetap.
Pada percobaan ini katekol merupakan variabel aktivitas enzim sebagai
substrat, dari percobaan enzim PPO direaksikan menghasilkan interaksi yang
bagus dengan katekol yang dibuktikan dengan memberikan warna coklat yang
pekat yang artinya enzim ini lebih bagus bereaksi dengan katekol sebagai
substratnya.
Hasil yang didapatkan pada praktikum kali ini berupa perubahan warna pada
setiap larutan yang dimasukkan pada ekstrak kentang, larutan yang ditambahkan
ke ekstrak kentang sesuai dengan faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim, ada
yang mengalami perubahan warna pada saat penambahan berbagai macam larutan
dan ada yang tidak ada perubahan warna. Intensitas warna yang ada yaitu tidak
ada perubahan warna, warna pucat, warna coklat muda, warna coklat dan warna
coklat tua.Warna coklat tua setelah penambahan larutan lebih bagus aktivitas
enzimnya dibandingkan dengan warna pucat, berarti aktivitas enzimnya bekerja
dengan baik jadi penambahan larutan tidak mempengaruhi aktivitas enzim.
Faktor pH enzim apabila pH terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi
aktivitas enzim sehingga warna yang dihasilkan pucat, pada pH optimum aktivitas
enzim sangat bagus dibandingkan pH yang terlalu rendah atau terlalu tinggi,
begitu juga dengan pengaruh suhu pada aktivitas enzim apabila suhu terlalu tinggi
akan berpengaruh terhadap aktivitas enzim sehingga hasil yang didapatkan warna
pucat. pH optimum enzim ialah 4 7 sedangkan suhu optimum enzim ialah 37C.
Jika suhu/pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka akan menyebabkan enzim
rusak sehingga tidak dapt bekerja dengan baik dan menyeababkan hasil yang
didaptkan tidak bagus. Sehingga pH dan suhu harus selalu dijaga agar enzim
dapat bekerja dengan baik.
Pengaruh konsentrasi apabila konsentrasi diperkecil maka intensitas warna
yang didapatkan makin pucat, pada spesifitas enzim larutan yang ditambahkan
berbeda sehingga didapatkan intensitas warna yang berbeda. Hal ini disebabkan
karena adnya partikel-partikel yang banyak didalam campuran, campuran menjadi
pekat dan warna yang dihasilkan juga pekat. Pada pengaruh inhibitor setiap
larutan juga menghasilkan intensitas warna yang berbeda juga. Enzim tidak dapat
bekerja dengan baik jika ada inhibitor. Inhibitor adalah suatu penghalang bagi
enzim bekerja pada substrat karena inhibitor akan mengambil sisi aktif enzim.
Akan tetapi ada juga inhibitor yang bisa membuat enzim bekerja pada sisi aktif
substrat, enzim dan inhibitor sama-sama bekerja pada substrat yang sama.
Inhibitor pada enzim polifenoloksidase adalah Pb(NO)3 karena menghasilkan
endapan putih pada larutan.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Sampel yang digunakan adalah kentang yang mengandung
enzim poifenoloksidase
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah spesifitas enzim, konsentrasi
substrat, pH enzim, konsentrasi enzim, pengaruh temperatur dan inhibitor
3. Intensitas warna yang bagus aktivitas enzimnya adalah warna coklat tua
4. Substrat yang baik digunakan untuk enzim polifenoloksidase adalah
katekol.
5. Enzim dapat bekerja pada pH dan suhu yang optimum yaitu pada suhu
37 dan pH 4-7.
6. Semakin besar konsentrasi enzim dan subtrat maka aktivitas enzim
semakin besar.
7. Inhibitor pada enzim polifenoloksidase adalah Pb(NO)3

5.2 Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan lancar maka disarankanuntuk :
1. Pahami prosedur kerja dengan baik
2. Masukkan larutan dengan teliti sesuai dengan prosedur kerja
3. Teliti dalam melakukan pengukuran volume larutan
4. Bekerja dengan aseptik dan hati-hati.
5. Memakai masker dan sarung tangan.
Daftar Pustaka

Belitz, H.D and Grosch,W .1984. Food Chemistry. New York London
ParisTokyo: Springer Verlag Berlin Heidelberg.
Hamid, 2012, Laporan Biokimia Kerja Enzim, http://RetzssBlog.com,diakses
tanggal 2 September 2017
Lehninger, A.L. 1997. Dasar-dasar Biokimia. Jilid I. Alih Bahasa:
MaggyThenawidjaja. Jakarta: Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai