Anda di halaman 1dari 7

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan yang tepat untuk priapismus, bergantung pada jenis priapismus yang
terdapat pada pasien yaitu Low-flow (Ischaemic) atau High-flow (non-ischaemic).

Low-Flow (ischaemic) Priapism


Acute ischaemic priapism merupakan kondisi gawatdarurat. Tujuan dari
penatalaksanaan adalah untuk mengembalikan penile flaccidity, tanpa rasa
nyeri, untuk mencegah kerusakan dari corpora cavernosa.
First-line treatments/ penatalaksanaan lini pertama

First-line treatments pada priapisme iskemik dengan durasi > 4 jam sangat
disarankan sebelum penatalaksanaan dengan operasi.
1. Penile anaesthesia/systemic analgesia
Hal ini memungkinkan untuk melakukan aspirasi darah dan injeksi
intracavernosal dengan agen sympathomimetic tanpa menggunakan
anestesi. Namun, anestesi mungkin diperlukan apabila terdapat nyeri
pada penis yang berat.
Terapi pilihan pengobatan untuk anestesi penis/analgesia sistemik
yaitu :
Dorsal nerve block
Circumferential penile block
Subcutaneous local penile shaft block
Oral conscious sedation (untuk pasien anak)

2. Aspirasi atau irigasi dengan 0.90% saline solution


Intervensi pertama untuk episode priapismus yang berlangsung > 4
jam terdiri dari corporal aspiration untuk drain/ mengalirkan stagnant
blood dari corporal bodies. Aspirasi darah dapat dilakukan dengan
akses intracorporeal melalui glans atau melalui akses jarum
percutaneous dengan menggunakan angiocatheter 16G/ 18G atau
jarum butterfly.

3. Aspirasi atau irigasi dengan 0.90% saline solution dengan agen


farmakologi
Kombinasi ini dianggap sebagai standar perawatan pada pengobatan
priapismus iskemik. Agen farmakologi meliputi obat sympatomimetik
atau agonis alfa-adrenergik. Pilihan untuk agen sympatomimetik
intracavernosal meliputi phenylephrine, etilephrine, efedrin,
epinephrine, norephinephrine dan metaraminol dengan tingkat resolusi
hingga 80%.
Phenylephrine
Merupakan obat pilihan saat ini karena selektivitas yang tinngi
untuk reseptor alfa-1-adrenergik, tanpa efek jantung inotropic
dan kronotropik yang dimediasi beta.
Phenylephrine biasanya diberikan sebanyak 200 g setiap 3-5
menit langsung pada corpus cavernosum. Dosis maximumnya
adalah 1 mg dalam 1 jam. Konsentrasi atau volume rendah
diberikan pada anak dan pasien dengan kelainan cardiovascular
berat.
Penggunaan Phenylephrine memiliki efek samping
cardiovascular dan direkomendasikan untuk memonitoring
tekanan darah dan nadi setiap 15 menit pada 1 jam setelah
penyuntikan.

Etilephrine
Etilephrine merupakan agen sympathomimetic kedua yang
sering digunakan, dengan menyuntikan pada intracavernosal
pada konsentrasi 2.5 mg dalam 1-2 ml saline normal.

Methylene blue
Methylene blue merupakan inhibitor guanilat siklase, yang
memiliki potensial inhibitor terhadap endothelial-mediated
cavernous relaxation. Efek samping yang dapat ditimbulkan
berupa transient burning sensation dan blue discolouring of the
penis.

Adrenaline
Adrenalin intracavernosal telah digunakan pada priapismus
iskemik.

Oral terbutaline
Oral terbutaline merupakan beta-2-agonis dengan efek minor
beta-1 dan sebagian aktivitas alpha-agonist. Dosis 5 mg
disarankan untuk mengobati ereksi yang berlangsung lebih dari
2.5 jam, setelah peyuntikan secara intracavernosal dengan agen
vasoaktif. Oral terbutaline harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien coronary artery disease, increased intravascular
fluid volume, oedema and hypokalaemia.

Second-line treatments/ pengobatan lini kedua

Intervesi lini kedua biasanya mengarah pada intervesi pembedahan yaitu


penile shunt surgery.

Penile shunt surgery memiliki tujuan untuk menghasilkan jalan keluar untuk
perdarahan iskemik dari corpora cavernosa dengan demikian terjadi perbaikan
sirkulasi yang normal pada struktur ini.
Dilaporkan terdapat empat kategori shunt yaitu :
1. Percutaneous distal (corpora-glanular) shunts
Winters procedure : prosedur ini menggunakan trucut biopsy
needle untuk membuat fistula diantara glans penis dan tiap
bagian dari corpora cavernosa.
Ebbehojs technique : teknik meliputi multiple tunical incision
windows antara glans dan tiap bagian dari corpus cavernosum
dengan ukuran 11 pisau scalpel.
T-shunt : teknik ini meliputi prosedur dengan menggunakan
pisau scalpel berukuran 10 yang ditempatkan secara vertical
melalui glans sampai corpus cavernosum.
2. Open distal (corpora-glanular) shunts
Al-Ghorabs procedure : prosedur ini dengan eksisi bilateral
terbuka pada circular cone segment dari distal tunika albuginea
melalui glans penis.
Burnetts technique : merupakan modifikasi dari Al-Ghorab
3. Open proximal (corporospongiosal) shunts
Quackless technique : membuat jalur antara corpus
cavernosum dan corpus spongiosum.

4. Vein anastomoses/shunts
Grayhacks procedure : mobilisasi dari saphenous vein di
bawah dari junction dari femoral vein dan anastomosis vena
pada corpus cavernosum.
Immediated surgical prosthesis implantation
Indikasi :
o Iskemik yang berlangsung lebih dari 36 jam
o Kegagalan aspirasi dan penyuntikan sympatomimetik intracavernous
o Kegagalan dari shunting distal dan proximal
o MRI atau corporal biopsy menunjukan nekrosis dari corporal smooth
muscle

High-flow (non-ischaemic) priapism


Pengobatan pada high-flow priapism bukan merupakan kondisi gawatdarurat
karena penis tidak mengalami iskemik. Pengobatan definitive dapat
dipertimbangkan dan harus di diskusikan dengan pasien sehingga pasien dapat
mengerti risiko dan komplikasi yang dapat timbul dari pengobatan.
1. Conservative management
Pada bagian ini dapat menggunakan ice pada perineum atau kompresi
pada bagian spesifik di perineal.

2. Selective arterial embolisation


Selective arterial embolisation dapat dilakukan dengan menggunakan
bekuan darah autologous, gel foam atau gelatin sponge, atau lebih
banyak zat permanen seperti microcoils atau acrylic glue.

3. Surgical management
Dapat dilakukan surgical ligation of the fistula. Namun, potensial
timbulnya komplikasi pada prosedur ini termasuk impotensi.

PENCEGAHAN

Obat antineoplasma (hidroksiurea) dapat mencegah priapismus berulang pada


penderita anemia sel sabit.

KOMPLIKASI

Priapismus iskemik dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Darah yang


terperangkap dalam penis menjadi beracun terhadap jaringan. Jika ereksi berlangsung
lebih dari 4 jam, darah yang kekurangan oksigen akan mulai merusak jaringan penis.
Sehingga dapat mengakibatkan :
Disfungsi ereksi, ketidakmampuan penis menjadi atau bertahan untuk ereksi
dengan rangsangan seksual
Impotensi
Nekrosis jaringan penis
Hidronefrosis
PROGNOSIS

Apabila priapismus dapat diatasi dalam waktu 12 24 jam biasanya tidak


menimbulkan kerusakan jaringan yang serius. Namun, apabila priapismus
berlangsung lebih dari 24 jam dapat menyebabkan impotensi menetap karena tekanan
yang tinggi pada penis sehingga menyebabkan kerusakan jaringan.
Priapismus high-flow memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan
dengan priapismus low-flow.

DAFTAR PUSTAKA

Salonia, I. E. (2015). Guidlines of Priapism. Retrieved 2017, from European


Association of Urology : http://uroweb.org/wp-content/uploads/15-
_Priapism_LR.pdf

Al-Qudah, H. S. (2016, november). Priapism. Retrieved Agustus 2017, from


Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/437237-overview#a6
Al-Qudah, H. S. (2016, November). Priapism Treatment & Management.
Retrieved Agustus 2017, from Medscape:
http://emedicine.medscape.com/article/437237-treatment#d11

J Cherian, A. R. (2006). Medical and surgical management of priapism. PMJ .