Anda di halaman 1dari 8

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454

Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN INKUIRI


PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA YANG DITATA DENGAN MODEL
KURIKULER SETS KELAS XI SMA NEGERI 1 RENGEL TUBAN

STUDENT LEARNING OUTCOMES THROUGHT THE INQUIRY LEARNING


ON SUBJECT MATTER OF BUFFER SOLUTION WITH CURRICULAR
MODEL SETS IN CLASS XI SMA NEGERI 1 RENGEL TUBAN

Hestiana Rahayu dan Utiya Azizah


Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas negeri Surabaya
Hp. 08993920661, e-mail: hestianarahayu@yahoo.com

Abstrak
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran
inkuiri dan hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga yang ditata dengan
model kurikuler SETS. Jenis penelitian yang digunakan yaitu pra eksperimental
dengan rancangan penelitian One Shot Case Study, sehingga tidak ada kelompok
pembanding dan tanpa dilakukan tes pada awal pembelajaran. Penelitian ini
dilaksanakan di Kelas XI IPA 3 SMA Negeri 1 Rengel Tuban pada tahun ajaran
2012-2013. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa keterlaksanaan pembelajaran
inkuiri selama tiga kali pertemuan sudah terlaksana baik dengan skor rata-tata
sebesar 3,48. Ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 80% dengan 24
siswa yang tuntas dari 30 siswa.
Kata-kata kunci: Hasil Belajar Siswa, Model Pembelajaran Inkuiri, Larutan
penyangga, Kurikuler SETS

Abstract
Purpose of the research is to examine teacher activity when manage inquiry
learning model and student learning outcomes in buffer solution is styled with
curricular model SETS though implementation of inquiry learning model. This type
of research is pra experiments using the research design one shot case study, so no
comparison group and without testing early learning. This research implemented in
class XI IPA 3 SMA Negeri 1 Rengel Tuban in academic year 2012/2013 . Based on
the analysis results obtained that implementation of inquiry learning has been
performing well with average scores of 3.48. Mastery learning students in the
classical of 80% to 24 students of the 30 students who completed .
Keyword: Student Learning Outcomes, Inquiry learning model, Buffer solution,
Curricular model SETS

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sarana yang pembaharuan atas segala komponen
menumbuhkembangkan potensi-potensi pendidikan yang meliputi kurikulum, sarana
kemanusiaan untuk bermasyarakat dan prasana, guru, siswa dan model pembelajaran
menjadi manusia yang sempurna serta yang tepat, sehingga diperlukan keterkaitan
memiliki fungsi yaitu mengembangkan terhadap komponen pendidikan agar tercipta
kemampuan dan membentuk watak serta pendidikan yang berkualitas dan terwujud
peradaban bangsa yang bermartabat dalam tujuan pembelajaran yang diharapkan.
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa [1]. Kimia merupakan salah satu ilmu
Menurut Djamarah [2] menyatakan bahwa pengetahuan yang memiliki peranan penting
pendidikan dipengaruhi oleh perubahan dan bagi perkembangan bidang ilmu pengetahuan

49
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

dan teknologi. Sains (termasuk kimia) pembelajaran materi larutan penyangga belum
berkaitan dengan cara mencari tahu tentang pernah disertai kegiatan praktikum, padahal
alam secara sistematis sehingga sains bukan pada materi tersebut membutuhkan kegiatan
hanya penguasaan kumpulan pengetahuan praktikum untuk membuktikan karakteristik
yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau teori yang diajarkan. Hasil angket pra
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan penelitian menyatakan sebanyak 99% siswa
suatu proses penemuan [1]. menyatakan senang apabila disertai kegiatan
Berdasarkan hasil angket pra penelitian di praktikum dalam proses pembelajaran.
SMA Negeri 1 Rengel Tuban pada tanggal 26 Kegiatan praktikum dapat menciptakan
November 2012 menyatakan sebanyak 99,97% pengalaman baru, sehingga pemerolehan
siswa dari 27 siswa merasa kesulitan pada pengetahuan peserta didik dapat lebih
materi larutan penyangga. Hal ini diperkuat bermakna. Materi larutan penyangga
dengan nilai ulangan harian siswa kelas XI memerlukan suatu model pembelajaran yang
IPA 3 yang memperoleh nilai diatas KKM sesuai dengan karateristik materi agar
sebesar 55%. Persentase ini diukur dari pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena
ketetapan ketuntasan hasil belajar di SMAN 1 pembelajaran bermakna dapat menjadikan
Rengel Tuban yaitu 78, siswa dikatakan pengetahuan atau pemahaman bertahan lama
tuntas apabila nilainya 78. dalam pikiran peserta didik [3].
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pembelajaran inkuiri menekankan pada
kimia di SMAN 1 Rengel Tuban menyatakan pentingnya membantu siswa memahami
bahwa selama proses pembelajaran metode struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu
yang digunakan guru adalah metode ceramah sehingga siswa aktif terlibat dalam proses
dan mengerjakan soal-soal. Pernyataan pembelajaran dan belajar yang sebenarnya
tersebut diperkuat dengan hasil angket pra melalui penemuan pribadi yang terdiri dari
penelitian yang menyatakan bahwa 66,69% langkah-langkah observasi untuk menemukan
siswa mengemukakan metode tersebut kurang masalah, merumuskan masalah, mengajukan
bisa membantu pemahaman siswa terhadap hipotesis, merencanakan pemecahan masalah
materi larutan penyangga. Hal tersebut melalui eksperimen, melaksanakan
dikarenakan proses pembelajaran masih eksperimen, melakukan pengamatan dan
berpusat pada guru (teacher center) dan siswa pengumpulan data, analisis data, dan penarikan
hanya mendengarkan materi yang disampaikan kesimpulan atau penemuan [4]. Inkuiri
oleh guru, sehingga tidak ada interaksi menuntut siswa bersikap aktif secara fisik
antarsiswa. Siswa cenderung bersikap pasif dan mental untuk dapat mengalami
dan bersikap menunggu materi yang diberikan pembelajaran bermakna yang pada hakikatnya
guru daripada mencari dan menemukan sendiri merupakan peningkatan tingkatan pemahaman
pengetahuan yang dibutuhkan. mereka terhadap materi pembelajaran. Peran
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan aktif siswa diharapkan dapat menambah rasa
Pendidikan (KTSP), materi larutan penyangga ingin tahu siswa tentang materi yang
(kimia) diajarkan di kelas XI dengan dipelajari, sehingga pengetahuan siswa dapat
Kompetensi Dasar (KD) tentang mendeskripsi- meningkat. Model pembelajaran ini selain
kan sifat larutan penyangga dan peranan berorientasi dari hasil belajar juga pada proses
larutan penyangga dalam tubuh makhluk belajar.
hidup. Sub materi pembelajarannya meliputi Selain itu, berdasarkan wawancara dengan
analisis larutan penyangga dan bukan guru kimia di SMA Negeri 1 Rengel Tuban
penyangga melalui kegiatan percobaan, menyatakan bahwa materi larutan penyangga
perhitungan pH larutan penyangga dan fungsi sudah dihubungkan dengan konteks kehidupan
larutan penyangga dalam kehidupan sehari- sehari-hari tetapi belum tercapai sepenuhnya.
hari. Berdasarkan hasil angket pra penelitian
Berdasarkan wawancara dengan guru kimia menyatakan sebanyak 92% siswa merasa
di SMA Negeri 1 Rengel Tuban, proses senang apabila pembelajaran kimia

50
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

dihubungkan dengan bidang lingkungan, dampak-dampak negatifnya terhadap


teknologi dan masyarakat. Materi larutan lingkungan dan masyarakat [6].
penyangga berisi tentang konsep yang Dari latar belakang tersebut sehingga
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, peneliti berupaya melakukan penelitian tentang
sehingga cocok apabila diterapkan dengan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan
model kurikuler SETS. Pembelajaran Inkuiri pada Materi Larutan
Pada bidang sains, materi larutan Penyangga yang Ditata dengan Model
penyangga mengenai sifat dan cara kerja Kurikuler SETS Kelas XI SMA Negeri 1
larutan penyangga, cara membuat larutan Rengel Tuban.
penyangga dan penentuan pH larutan
penyangga. Konsep sains tersebut METODE PENELITIAN
dimanfaatkan dalam bidang teknologi tentang Jenis penelitian ini merupakan penelitian
pembuatan produk-produk berbasis larutan eksperimen dengan tipe pra eksperimental.
penyangga, seperti pengawetan buah kaleng, Rancangan penelitian yang digunakan yaitu
pembuatan obat kumur, pengolahan limbah One-Shot Case Study Study, sehingga tidak ada
melalui proses anaerob, pembuatan minuman kelompok pembanding dan tanpa dilakukan tes
performa olahraga. Produk tersebut banyak pada awal pembelajaran. Rancangan penelitian
dimanfaatkan oleh masyarakat, serta dampak tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
yang mungkin terjadi karena pembuangan
kemasan produk-produk berbasis larutan X O
penyangga dapat menimbulkan limbah pada
lingkungan. Peran masyarakat untuk mengatasi
dampak tersebut sangat diperlukan. Selain itu Keterangan:
penanaman dan pengambilan tanaman- X = perlakuan yang diberikan yaitu penataan
tanaman tertentu sebagai bahan baku produk- kurikuler SETS dengan model
produk berbasis larutan penyangga oleh pembelajaran inkuiri ilmiah
masyarakat (unsur masyarakat dan O = observasi/pengukuran, yaitu hasil belajar
lingkungan). Adapun keterkaitan unsur SETS siswa (produk) [7].
dapat ditunjukkan pada gambar 1.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri
Technology 1 Rengel Tuban pada semester genap tahun
ajaran 2012/2013. Metode pengumpulan data
yang digunakan pada penelitian ini terdiri dua
Science cara, yaitu metode observasi dan metode tes.
Metode observasi dilakukan untuk mengetahui
keterlaksanaan sintaks model pembelajaran
Environment Society inkuiri pada materi larutan penyangga yang
ditata dengan model kurikuler SETS,
Gambar 1. Keterkaitan antar Unsur SETS (Science, sedangkan metode tes dilakukan untuk
Environment, Technology, and Society) mengetahui ketuntasan hasil belajar siswa.
Perangkat pembelajaran yang digunakan
Menurut Binadja [5] pembelajaran bervisi dalam penelitian ini meliputi silabus, RPP,
SETS merupakan cara pandang bahwa segala LKS, Worksheet SETS. Instrumen penelitian
sesuatu yang dihadapi manusia dalam yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
kehidupan ini mengandung aspek sains, lembar keterlaksanaan pembelajaran inkuiri
lingkungan, teknologi yang mempengaruhi dan lembar tes siswa.
secara timbal balik. Tujuan utamanya adalah Teknik analisis data yang dilakukan
membantu manusia memanfaatkan sains merupakan analisis deskriptif kuantitatif yang
sebagai konsep yang produktif dalam meliputi analisis keterlaksanaan sintaks,
terciptanya teknologi, dan memperkecil analisis ketuntasan hasil belajar siswa. Adapun

51
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

teknik analisis data yang dilakukan pada mengaitkan materi sebelumnya dengan materi
penelitian ini sebagai berikut: yang sekarang dikarenakan pada materi
Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri sebelumnya masih terdapat hubungan dengan
Penilaian keterlaksanaan sintaks tersebut materi yang sedang dipelajari. Tujuan guru
diamati dengan memberikan nilai dengan menyampai tujuan pembelajaran agar siswa
rentang 0 sampai 4, kemudian lebih fokus dengan materi yang dipelajari,
menginterpretasikan pada Tabel 1. sehingga pembelajaran lebih bermakna
Tabel 1. Kriteria penilaian Keterlaksanaan dengan disertai penyampaian tujuan
Model Pembelajaran Inkuiri pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan
Rata-rata skor Keterangan pendapat Nur [9] yang menyatakan bahwa
0,00 - 1,00 Tidak Baik pembelajaran yang baik diawali oleh guru
1,01 - 2,00 Kurang dengan menjelaskan tujuan pembelajaran yang
2,01 - 3,00 Cukup Baik dicapai, sehingga membatu siswa memotivasi
3,01 - 4,00 Baik diri dan mendatangkan komitmen yang
[8] dibutuhkan.
Kegiatan inti terdiri dari fase-fase
Analisis Ketuntasan Hasil Belajar pembelajarn inkuiri yang terdiri dari 8 fase,
Rumusan pengolahan data ketuntasan meliputi fase 1 (observasi menemukan
individu sebagai berikut: masalah) yaitu siswa dihadapkan pada suatu
fenomena untuk menemukan masalah. Pada
pembelajaran ini dilakukan secara
Keterangan: berkelompok yang terdiri dari 7 kelompok
B = jumlah jawaban benar dengan masing-masing kelompok terdiri dari
N = skor maksimum 4-5 anak. Di dalam kelompok belajar, siswa
bisa berinteraksi dan bekerja sama dengan
Untuk mencari ketuntasan klasikal pada teman kelompoknya yang lebih mampu untuk
kelas tersebut dengan rumusan sebagai berikut: menyelesaikan masalah yang diberikan guru,
sehingga siswa lebih percaya diri dalam
mengemukakan pendapat dan bertanya kepada
guru tentang apa yang belum dimengerti.
Kegiatatan siswa dalam berdiskusi merupakan
HASIL DAN PEMBAHASAN cerminan dari teori konstruktivis Vygotsky
Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri tentang penekanan hakikat sosial yaitu, siswa
Keterlaksanaan pembelajaran inkuiri belajar melalui interaksi dengan orang dewasa
diamati oleh dua pengamat melalui lembar dan teman sebaya yang lebih mampu [10].
keterlaksanaan pembelajaran inkuiri dengan Masing-masing kelompok diberikan suatu
tujuan untuk mengetahui aktivitas guru dalam permasalahan yang ditimbulkan dari fenomena
mengelola pembelajaran. Pembelajaran inkuiri pada LKS/worksheet SETS, dimana
terdiri dari 8 fase yaitu observasi menemukan permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan
masalah, merumuskan masalah, mengajukan sendiri melainkan membutuhkan teman lain
hipotesis, merencanakan pemecahan masalah, yang lebih mampu untuk menyelesaikannya.
melakukan eksperimen, melakukan Pada kondisi tersebut siswa berada pada zona
pengamatan dan pengumpulan data, analisis perkembangan terdekat yaitu siswa sedang
data, dan penarikan kesimpulan. terlibat dengan tugas-tugas yang tidak dapat
Pada tahap awal, guru memotivasi siswa mereka selesaikan sendiri tetapi dalam
dengan tujuan untuk membangkitkan rasa menyelesaikannya dibantu dengan teman
ingin tahu siswa terhadap materi yang sebaya [10].
dipelajari, sehingga siswa lebih bersemangat Siswa dalam menyelesaikan masalah
ketika memulai pelajaran. Penyampaian tersebut harus melalui tahapan-tahapan dalam
apersepsi oleh guru bertujuan untuk pembelajaran inkuiri yaitu merumuskan

52
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

masalah, membuat hipotesis, menentukan berdasarkan data yang diperoleh [11].


variabel penelitian, melakukan percobaan, Pembelajaran larutan penyangga pada kelas XI
mengumpulkan data, dan membuat simpulan. IPA 3 ditata dengan model kurikuler SETS
Pada kondisi tersebut, siswa mengalami proses (Science, Environment, Technology, and
pemagangan kognitif yaitu dimana seseorang Society) yaitu pada materi larutan penyangga
belajar secara tahap demi tahap untuk dihubungkan dengan bidang lingkungan,
memperoleh keahlian dalam interaksinya teknologi, dan masyarakat. Kegiatan siswa
dengan seorang pakar [10]. menghubungkan larutan penyangga dengan
Tujuan siswa dibimbing membuat hipotesis bidang tersebut dilaksanakan pada fase 7
(fase 3) agar siswa mampu memperkirakan (analisis data). Pada kegiatan ini, siswa tidak
atau menduga hasil percobaan yang dilakukan hanya belajar pada satu bidang saja (sains),
dengan memberikan jawaban sementara tetapi juga belajar tentang manfaat dan
terhadap permasalahan yang ditemukan kerugian yang ditimbulkan larutan penyangga
jawabannya melalui percobaan. dalam bidang lingkungan, teknologi, dan
Pada fase 4 yaitu merencanakan masyarakat. Kegiatan siswa mengaitkan
pemecahan masalah melalui percobaan. Pada keempat bidang tersebut menurut Zoller [6]
kegiatan percobaan, siswa bekerja secara dapat mengembangkan penalaran siswa,
berkelompok dengan bimbingan guru untuk berpikir kritis, berpikir evaluatif, kemampuan
merencanakan percobaan dengan membaca dalam mengambil keputusan dan proses ilmu
prosedur percobaan, menyiapkan alat dan pengetahuan yang realitas berdasarkan SETS.
bahan, menentukan variabel penelitian. Siswa Pembelajaran materi larutan penyangga yang
dibimbing menentukan variabel penelitian ditata dengan model kurikuler SETS
dengan tujuan agar siswa mengetahui faktor- diharapkan dapat menimbulkan motivasi
faktor apa yang terdapat pada percobaan dan belajar dan menambah pengetahuan siswa
pengaruh yang terjadi, sehingga kegiatan tentang larutan penyangga. Kemampuan siswa
percobaan lebih terarah. menguasai pengetahuan tersebut dapat
Kegiatan percobaan (fase 5) dilakukan oleh digunakan untuk menyelesaikan masalah yang
masing-masing kelompok dan guru bertugas dihadapinya maupun masalah lingkungan
untuk membimbing siswa apabila menemukan sosialnya [12].
kesulitan, sehingga siswa dapat berperan aktif Fase terakhir pembelajaran inkuiri yaitu
dalam proses pembelajaran untuk menemukan fase 8 (membuat simpulan). Pada tahap ini,
konsep yang sedang dipelajari. Hal tersebut siswa memulai mengidentifikasi unsur yang
sejalan dengan pendapat Piaget [3] yang relevan untuk menuliskan simpulan pemikiran
mengemukakan bahwa pengetahuan tidak sebagai pertimbangan informasi yang relevan
diperoleh secara pasif oleh seseorang [11]. Berikut ditampilkan grafik keterlaksanaan
melainkan melalui tindakan. Selain itu pembelajaran inkuiri selama tiga kali
menurut Ausubel [3] menyatakan bahwa pertemuan pada Gambar 2.
belajar bermakna hanya terjadi bila peserta
didik menemukan sendiri pengetahuannya. 3,45 3,42 3,56
4
Kegiatan percobaan merupakan tahap 3
2
Rata-rata skor

scaffolding yaitu proses dimana siswa diberi


1
tugas-tugas yang kompleks, sulit, realistik,
kemudian diberikan bantuan secukupnya untuk
menyelesaikan tugas-tugas ini [10]. Di dalam
kegiatan percobaan, masing-masing kelompok
menyelesaikan sendiri masalah yang berasal Gambar 2. Data Keterlaksanaan Pembelajaran
dari fenomena dengan bimbingan guru apabila Inkuiri
menemukan kesulitan.
Tahap analisis data (fase 7) merupakan Berdasarkan Gambar 2, keterlaksanaan
tahap dimana siswa menilai hipotesis pembelajaran inkuiri pada pertemuan I, II, dan

53
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

III sudah terlasksana dengan baik yang yang lama untuk membimbing siswa
ditunjukkan dari skor rata-rata keterlasanaan menghitung pH dan pOH larutan penyangga
pembelajaran inkuiri sebesar 3,45; 3,42; dan asam dan basa. Hal tersebut didukung
3,56; sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan kemampuan awal siswa tentang pemahaman
kegiatan guru dalam menglola pembelajaran konsep mol ketika menentukan konsentrasi
inkuiri pada materi larutan penyangga yang asam/basa lemah dengan garamnya masih
ditata model kurikuler SETS sudah berhasil banyak siswa yang merasa kesulitan, serta
dilaksanakan dengan baik. siswa masih memerlukan bimbingan ketika
menentukan harga pH dari [H+], sehingga
Hasil Belajar Siswa keadaan tersebut berpengaruh pada hasil
Hasil belajar siswa yang diukur hanya pada belajar siswa. Berikut disajikan data
aspek kognitf. Hasil belajar diukur melalui tes ketuntasan klasikal pada kelas XI IPA-3 materi
akhir yang dilaksanakan setelah pembelajaran larutan penyangga pada Gambar 3.
larutan penyangga yang ditata dengan model
kurikuler SETS dengan menggunakan 20% Data Ketuntasan Klasikal
pembelajaran inkuiri. Soal tes yang digunakan
siswa Tuntas
merupakan soal pilihan ganda yang berjumlah
15 soal. Berikut ditunjukkan data hasil tes 80% Siswa Tidak
akhir siswa pada Tabel 2. Tuntas
Tabel 2. Data Hasil Belajar Siswa
No. Nilai siswa Jumlah siswa Gambar 3. Data Ketuntasan Klasikal pada
1. 78 (Tuntas) 24 Materi Larutan Penyangga
2. < 78 (Tidak Tuntas) 6
Tidak mengikuti tes 4 Berdasarkan Gambar 3, ketuntasan klasikal
Ketuntasan klasikal 80% pada pembelajaran larutan penyangga yang
ditata dengan model kurikuler SETS melalui
Berdasarkan Tabel 2, siswa yang tuntas pembelajaran inkuiri sebesar 80%. Suatu kelas
pada pembelajaran larutan penyangga yang dikatakan tuntas apabila sebanyak 78% siswa
ditata dengan kurikuler SETS dengan model telah mencapai KKM yang ditetapkan di
inkuiri sebanyak 24 siswa dari 30 siswa yang sekolah, sehingga ketuntasan hasil belajar
mengikuti tes. Siswa dikatakan tuntas apabila secara klasikal sudah tercapai setelah
nilai tes yang diperoleh siswa telah mencapai menerapkan pembelajaran inkuiri pada materi
KKM yang ditetapkan di SMA Negeri 1 larutan penyangga yang ditata dengan model
Rengel yaitu sebesar 78. Apabila nilai yang kurikuler SETS.
diperoleh siswa < 78, maka siswa tersebut Pembelajaran larutan penyangga yang
tidak tuntas dan harus mengukuti program ditata dengan model kurikuler SETS, siswa
remidial. Siswa yang memperoleh nilai < 78 tidak hanya belajar satu bidang, melainkan
sebanyak 6 siswa dengan rincian nilai yang belajar keempat bidang tersebut dengan
diperoleh sebesar 60, 67, 67, 60, 73, 67. menghubungkannya menjadi satu kesatuan.
Berdasarkan hasil jawaban tes yang diperoleh, Model kurikuler SETS yang diterapkan pada
permasalahan siswa terdapat pada indikator materi larutan penyangga merupakan sarana
menuliskan perhitungan pH dan pOH larutan untuk menjadikan pemahaman siswa terhadap
penyangga dan perhitungan pH setelah materi larutan penyangga semakin
penambahan sedikit asam, sedikit basa atau berkembang, sehingga dapat mempengaruhi
pengenceran. Hal tersebut didukung dari data hasil belajar siswa menjadi lebih baik yang
keterlaksanaan pembelajaran inkuiri ditunjukkan dari data ketuntasan klasikal kelas
pertemuan II pada fase 7 (analisis data) tahap XI IPA 3 yang mencapai 80%. Ketuntasan
menghitung pH dan pOH yang mendapat klasikal tersebut telah mencapai standar
kriteria kurang baik dengan skor rata-rata 2. ketuntasan klasikal yang ditetapkan yaitu
Pada tahap tersebut, guru membutuhkan waktu sebesar 78%.

54
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

Ketuntasan belajar siswa juga tidak terlepas pada materi yang lain, agar pengetahuan
dari model pembelajaran yang diterapkan dan siswa semakin berkembang.
kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran
tersebut. Pembelajaran inkuiri merupakan DAFTAR PUSTAKA
pembelajaran yang menekankan pada
pentingnya siswa memahami struktur atau ide 1. Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi
kunci dari suatu disiplin ilmu sehingga siswa Mata Pelajaran Kimia SMA dan MA.
aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan Jakarta: Badan Penelitian dan
belajar sebenarnya melalui penemuan [3]. pengembangan.
Dalam pembelajaran inkuiri, siswa terlibat
aktif dalam proses pembelajaran untuk 2. Suardi. 2012. Pengantar Pendidikan Teori
melakuan penemuan sendiri dengan bimbingan dan Aplikasi. Jakarta: Indeks.
guru sehingga pengetahuan dapat diperoleh
siswa melalui penemuannya sendiri. Hal 3. Yamin, Martinis. 2012. Desain Baru
tersebut didukung dari hasil keterlaksanaan Pembelajaran Konstruktivistik. Jakarta:
pembelajaran inkuiri selama tiga kali Referensi.
pertemuan yang sudah terlaksana baik dengan
skor rata-rata 3,45; 3,42; dan 3,56 yang
4. Sugiarto, Bambang. 2009. Mengajar Siswa
menunjukkan guru dalam mengelola
Belajar. Surabaya: Unesa University Press.
pembelajaran sudah terlaksana baik.

5. Binadja, Achmad., Sri Wardani., Sigit


PENUTUP
Nugroho. 2008. Keberkesanan
Simpulan
Pembelajaran Kimia Materi Ikatan Kimia
Berdasarkan hasil analisis dan pembahadan
Bervisi SETS pada Hasil Belajar Siswa.
pada bab IV dapat dismpulkan sebagai berikut:
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, (online),
1. Keterlaksanaan pembelajaran inkuiri pada
Vol. 2, No. 2, hal 256-262.
materi larutan penyangga yang ditata
http://jurnal.unnes.ac.id/sju/index.php/jise/a
dengan model kurikuler SETS selama tiga
rticle/view/38/27. Diakses pada tanggal 4
kali pertemuan sudah terlaksana baik
Oktober 2012.
dengan skor rata-rata 3,48.
2. Ketuntasan hasil belajar secara klasikal
6. Binadja, Achmad., Setiyono, F.P.,
sebesar 80% dengan jumlah 24 siswa yang
Supartono. 2012. Pengembangan Perangkat
tuntas dari 30 siswa.
Pembelajaran Kimia Kelarutan dan Hasil
Kali kelarutan (KSP) dengan Pendekatan
Saran
SETS untuk Meningkatkan Kreativitas dan
Berdasarkan penelitian yang telah penulis
Hasil Belajar Siswa. Journal of Research
lakukan, penulis menyampaikan saran yang
and Educational Research Evaluation.
berkaitan dengan hasil penelitian ini antara
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jrer,
lain:
Diakses pada tanggal 4 oktober 2012.
1. Dalam proses pembelajaran inkuiri
sebaiknya guru mengatur waktu yang
7. Arikunto, Suharsini. 2010. Prosedur
tersedia dengan baik, agar pembelajaran
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
inkuiri dapat berlangsung secara maksimal
Jakarta: Rineka Cipta.
2. Guru sebaiknya melakukan persiapan awal
ketika pembagian kelompok dan mampu
8. Riduwan. 2010. Skala Pengukuran
mengkondisikan siswa selama proses
Variabel-Variabel Penelitian. Bandung:
pembelajaran, agar pembelajaran
Alfabeta.
berlangsung dengan baik.
3. Pembelajaran dengan model kurikuler
9. Nur, Muhammad., Prima, Retno,.
SETS diharapkan dapat dikembangkan
Bambang, Sugiarto. 2005. Teori-Teori

55
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454
Vol. 2 No. 3 pp. 49-56 September 2013

Pembelajaran Kognitif. Surabaya: 11. Facione, Peter A. 1990. Critical Thinking:


Universitas Negeri Surabaya Pusat Sains A Statement of Expert Consensus for
dan Matematika Sekolah. Purpose of Educational Assesment and
Instruction. California: The California
10. Nur, Muhammad & Prima, Retno. 2008. Academin Press.
Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan
Pendekatan Konstruktivis dalam 12. Poedjiadi, A. 2005. Sains Teknologi
Pengajaran (edisi 5). Surabaya: Universitas Masyarakat: Model Pembelajaran
Negeri Surabaya Pusat Sains dan Kontekstual Bermutu Nilai. Bandung: PT
Matematika Sekolah. Remaja Rosdakarya.

56