Anda di halaman 1dari 7

Mediasi IgE Sensitisasi Protein Kedelai pada Anak-anak

dengan Alergi Susu Sapi


Agustina Santi, Mohammad Juffrie, Sumadiono

Abstrak

Latar Belakang: Formula berbasis kedelai sebagai alternatif formula susu sapi
lebih baik daripada formula protein terhidrolisis ekstensif karena biayanya lebih
rendah dan rasa yang lebih dapat diterima. Namun, pasien alergi susu sapi
dapat mengembangkan sensitivitas terhadap protein kedelai.
Tujuan: Untuk membandingkan sensitisasi protein kedelai pada anak-anak
dengan dan tanpa alergi susu sapi.
Metode: Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dari bulan September 2007
sampai Maret 2008. Subjeknya adalah anak-anak berusia di bawah 4 tahun
dengan riwayat atopik. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: mereka yang
dengan tes tusuk kulit positif terhadap susu sapi, dan mereka yang dengan tes
tusuk kulit negatif terhadap susu sapi. Kedua kelompok diberi formula kedelai
dan diuji pada 6 minggu untuk sensitisasi terhadap kedelai.
Hasil: Ada 45 anak dalam setiap kelompok. Usia, jenis kelamin dan riwayat
atopik mirip antar kedua grup. Kami tidak mendapat sensitisasi protein kedelai
(hasil tusuk kulit negatif) pada semua subjek dalam kedua grup.
Kesimpulan: Risiko mediasi sensitisasi immunoglobulin E terhadap protein
kedelai tidak terbukti pada anak-anak dengan alergi susu sapi.
[Paediatr Indones. 2012;52:67-71].

Alergi pada anak dapat dimulai sejak masa bayi hingga dewasa. Alergi
adalah suatu kondisi yang ditandai dengan terjadinya reaksi berlebih dari
sistem kekebalan tubuh terhadap zat lingkungan yang tidak berbahaya. Alergi
bisa saja muncul lebih awal karena status kekebalan tubuh anak-anak yang
belum matang dan permeabilitas mukosa gastrointestinal yang tinggi.1 Jika
seorang anak memiliki riwayat atopik, dia dapat tersensitisasi dengan mudah,
dan menghasilkan alergi terhadap alergen seperti makanan dan partikel
udara.2
Untuk bayi yang tidak menyusui, formula susu sapi mengandung banyak
protein asing yang pertama diberikan pada bayi. Alergi terhadap susu sapi kini
menjadi hal yang biasa karena bertambahnya orang tua yang memberi formula
susu sapi kepada anaknya. Alergi susu sapi sering menjadi penyakit atopik
pertama pada anak-anak.3 Insidensi alergi susu sapi telah diperkirakan sekitar
2-7,5% pada bayi yang diberi formula dan 0,5% pada bayi yang diberi ASI
ekslusif, umumnya muncul selama enam bulan pertama. 4 Sebuah penelitian
dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, menunjukkan bahwa sekitar 2,4%
anak-anak mengidap alergi susu sapi.5 Di Yogyakarta diperkirakan 30.000
orang anak mengidap alergi susu sapi.6 Pengelolaan alergi susu sapi
memerlukan penggantian formula dasar yang bukan susu sapi sampai toleransi
terhadap susu sapi berkembang. Pengganti formula susu sapi mencakup
formula protein ekstensif terhidrolisis, formula asam amino, dan formula
berbahan kedelai. Formula berbahan kedelai direkomendasikan karena
hipoalergenik, harga lebih murah, rasa lebih enak dan memiliki nutrisi yang
memadai untuk pertumbuhan anak.7
Makanan berbahan kedelai sangat digemari di Indonesia, termasuk
susu kedelai, tempe, tahu dan kecap. Namun anak-anak dengan alergi susu
sapi secara bertahap dapat tersensitisasi dan menimbulkan alergi kedelai. Hal
ini dapat disebabkan karena reaksi silang antara protein kedelai polipeptida B3
dan protein kasein 11S globulin dari susu sapi.9 Sensitisasi terhadap kedelai
dan alergi susu kedelai pada pasien alergi susu sapi masih menjadi masalah
kesehatan di berbagai wilayah dunia, dengan prevalensi yang dilaporkan
sebanyak 8 hingga 14%. Namun, reaksi anafilaksis berat jarang muncul.10 Ahn
KM et al melaporkan prevalensi alergi kedelai pada anak-anak pasien alergi
susu sapi sebanyak 17% di Bangkok dan 18,3% di Korea.11 Sebuah penelitian
di Indonesia melaporkan insidensi sensitisasi terhadap susu kedelai sebanyak
17,5%.12
Waktu yang diperlukan untuk sensitisasi terhadap susu kedelai melalui
pemberian oral pada manusia belum pernah dilaporkan. Namun McLaughlan
et al melaporkan bahwa sensitisasi terhadap protein susu sapi pada marmot
muncul di hari ke-37 pemberian makan.13 Demikian pula studi oleh Villoslada
dkk menunjukkan bahwa memerlukan enam minggu untuk mengetahui
sensitisasi protein susu sapi atau kambing pada tikus.14 Menurut Vandenplas,
sensitisasi membutuhkan waktu satu sampai enam minggu, 15 sedangkan
menurut Wegrzyn, sensitisasi muncul dalam satu sampai dua minggu. 16
Sensitisasi juga dapat muncul dalam beberapa hari atau bahkan tiga atau
empat minggu setelah mengkonsumsi susu kedelai.17 Meski banyak perbedaan
pendapat, penggantian dengan susu kedelai masih sangat direkomendasikan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah alergi susu sapi
adalah faktor risiko untuk sensitisasi protein kedelai pada anak-anak.

Metode

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhakti Ibu, Yogyakarta dari


September 2007 sampai Maret 2008. Subjeknya adalah anak-anak berusia
kurang dari 4 tahun dengan riwayat atopik. Kriteria inklusi berupa anak-anak
yang belum pernah mengkonsumsi formula kedelai dan memiliki hasil tes tusuk
kulit negatif terhadap susu sapi. Kami mengecualikan anak-anak dengan
kelainan congenital dan reaksi alergi yang parah (anafilaksis atau dermatitis
atopik parah). Subjek dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan hasil tes
tusuk kulit mereka terhadap susu sapi. Kami menghitung kebutuhan dari 45
subjek per kelompok, dengan mempertimbangkan risiko relatif,18 dan
persentase anak dengan alergi susu sapi yang sensitif terhadap kedelai
(17,5%12) dan yang tidak memiliki alergi susu sapi (1,1%31). Kami memilih
kontrol dengan pencocokan usia dalam waktu 6 bulan. Persetujuan didapatkan
dari orang tua. Penelitian ini sudah disetujui oleh Komite Etika Penelitian,
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada /Rumah Sakit Sardjito.
Semua subjek diberikan susu kedelai protein isolate selama 6 minggu,
setelah itu kami melakukan tes buta tusuk kulit protein kedelai. Tes tusuk kulit
protein kedelai dilakukan menggunakan reagen dari Alyostal prick test
(Stallergenes SA-France) 1000 IC/mL. Reagen tes, kontrol positif dan kontrol
negatif ditempatkan pada daerah lengan bawah volar 2 cm dari siku atau
pergelangan tangan. DIbutuhkan perawatan untuk melakukannya tanpa
menyebabkan ruam pada kulit. Cairan ditusukkan ke dalam kulit menggunakan
lanset/jarum pada sudut 30-45 menuju permukaan kulit. Setelah 15 menit,
residu cairan dihapus dengan tisu dan hasil pemeriksaan dibacakan. Semua
data diproses menggunakan SPSS untuk Windows. Kami menghitung risiko
relatif (RR) untuk membandingkan hasil tes tusuk kulit antar kelompok.

Tabel 1. Karakteristik dasar subjek


Alergi terhadap Tidak alergi terhadap
susu sapi (n=45) susu sapi (n=45)
Usia, bulan
12 21 22
>12-24 14 17
>24-36 5 3
>36-48 5 3
Rata-rata usia, bulan
18,0 (11,3) 16,7
(SD)
Jenis kelamin (laki-laki) 18 25
Riwayat Atopik 45 45
Ibu 16 19
Ayah 12 13
Ibu dan Ayah 1 0
Saudara 16 13

Hasil

Terdapat 90 subjek yang terdaftar dalam penelitian ini, dibagi menjadi


dua kelompok. Usia, jenis kelamin dan riwayat atopik mirip pada kedua
kelompok (Tabel 1).
Gambar 1 memperlihatkan reaksi alergi terhadap susu sapi kebanyakan
dimanifestasikan sebagai dermatitis (21 subjek), rhinitis (9 subjek) dan sembelit
(6 subjek).
Setelah follow up 6 minggu kami tidak menemukan kasus sensitisasi
protein kedelai (semua hasil tes tusuk kulit negatif) pada semua subjek dalam
kedua kelompok.
Diare
Sembelit
Asma 4% 13%
4%
Batuk Dermatitis
kronis atopik
5% 47%
Rinitis
20%

Urtikaria
7%
Figure 1. Manifestasi klinis alergi susu sapi

Pembahasan

Dalam penelitian ini, alergi susu sapi muncul kebanyakan pada anak-
anak berusia kurang dari 12 bulan (18,9 SD 11,3). Temuan ini dalam
persetujuan penelitian lain yang melaporkan alergi susu sapi muncul pada usia
di bawah empat tahun, terutama di 12 bulan pertama dan menurun seiring
bertambahnya usia.19-21 Sebuah penelitan oleh Zieger dkk. menemukan bahwa
subjek dengan alergi susu sapi, 20,4% berusia 0-12 bulan dan 58,4% berusia
12-24 bulan, dengan rata-rata usia 19,1 bulan.10 Alergi susu sapi dapat
berhubungan dengan belum matangnya penghalang gastrointestinal dan
sistem imunitas pada bayi dan anak-anak. Pada awal kelahiran, lapisan epitel
mucosal meimiliki tingkat mucin dan sIgA yang rendah hingga menyebabkan
penurunan fungsi saluran pencernaan, dalam hal kemampuan untuk
mencegah keterikatan antigen pada permukaan mukosa dan pembersihan
antigen. Produksi asam lambung dan enzim protease juga bisa berkurang.
Kondisi ini dapat disertai oleh permeabilitas tinggi dari mukosa gastrointestinal
menghasilkan insidensi reaksi alergi yang tinggi.20,22
Manifestasi klinis alergi susu sapi kebanyakan muncul dalam sistem
integument (53,4%), diikuti oleh respiratori (28,8%) dan gastrointestinal
(17,7%). Hasil penelitian kami mirip dengan hasil penelitian Zieger dkk., 10
Muktiarti dkk.,12 dan Host dkk.23 Sebaliknya, Hill dkk. melaporkan bahwa gejala
gastrointestinal adalah manifestasi klinik yang paling umum.
Kami tidak menemukan sensitisasi protein kedelai pada semua subjek
kami, mungkin toleransi awal terhadap protein kacang kedelai jika subjek telah
mengkonsumsi makanan berbahan protein kedelai (seperti tempe, tahu, kecap,
oncom dan tauco). Orang Indonesia beberapa makanan berbahan kedelai
pada tingkat 18,6 kg/kapita/tahun di daerah perkotaan, dan 13,9
kg/kapita/tahun di daerah pedesaan.25,26 Tempe sering digunakan sebagai
terapi nutrisional untuk pengobatan diare akut pada anak-anak. Darwin27 dan
Mien28 memperlihatkan bahwa formula protein kedelai dapat mempersingkat
lamanya perawatan diare dibandingkan dengan formula nasi. Dapat juga
meningkatkan berat badan anak-anak pengidap diare kronis. Soenarto dkk.
memperlihatkan bahwa diare akut pada anak-anak membaik dengan formula
kedeleai, dengan durasi penyakit lebih pendek dan peningkatan berat badan.
Penjelasan lain untuk hasil penelitian kami adalah pemakaian protein
isolate yang kurang alergenik. Tsumura dkk. melaporkan bahwa alergi
terhadap protein susu kedelai isolate (-conglycinin yang merupakan fraksi dari
7s globulin dan P34) dikurangi dengan adanya enzim menghidrolisis Proleather
FG-F, sebuah protease alkalin dari B. Subtilise.30 Alergen ini berbeda dengan
yang dilaporkan untuk menimbulkan reaksi silang pada pasien alergi susu sapi,
yang dinamakan polipeptida B3, fraksi dari globulin 11S. 9 Alergen yang kami
gunakan dalam tes tusuk kulit sesuai dengan penelitian Tsumura. Sebuah
penelitian oleh Ragno dkk. terhadap 20 pasien alergi susu sapi menggunakan
susu kedelai sebagai placebo.32 Tidak ada kemunculan sensitisasi protein
kedelai diantara pasien-pasien tersebut.
Kesimpulannya, alergi susu sapi tidak menambah risikosensitisasi
imunoglobulin mediasi-E terhadap protein kedelai pada anak-anak.

Ucapan Terima Kasih


Kami berterimakasih kepada Kristia Hermawan, Windi Saufia dan
Apriyanti Handayani atas bantuan teknis mereka.