Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT. Yang telah menciptakan manusia dengan
ciptaan yang paling sempurna dari makhluk Allah yang lain, sehingga tuntutan
manusia yang dilengkapi dengan akal adalah menuntut ilmu Allah dan
menyampaikan / tabligh kepada orang lain yang yang telah diwajibkan dalam
kalam-kalam-Nya baik yang tersirat maupun tersurat, yang harus di tafsir maupun
yang yang sudah jelas.

Shalawat dan salam kepada Proklamator Islam, seorang penggiring ulung


masyarakat jahiliyah menuju alam berpengetahuan dan religius, dialah tokoh
nomor satu di dunia yaitu Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini,
"Filsafat Pendidikan Islam"
Alhamdulillah telah bisa disusun dengan mengumpulkan berbagai macam
referensi baik dari media cetak maupun online/internet, yang dengan harapan akan
menjadi tambahan bahan bacaan khususnya pada kalangan mahasiswa, kritik dan
saran yang merupakan dua cara kuno namun masih sangat ampuh untuk
membenahi makalah ini menjadi lebih baik.

Penyusun
Banda Aceh, April 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam, dasarnya
adalah Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad saw. Dari kedua sumber
tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan
mengklasifikannya kedalam dua bagian yaitu : Pertama, akidah untuk
ajaran yang berkaitan dengan keimanan; kedua, adalah syariah untuk ajaran
yang berkaitan dengan amal nyata. Oleh karena pendidikan termasuk amal
nyata, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila
diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah.
Hal tersebut menggariskan prinsip-prinsip dasar materi pendidikan
Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan.
Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek
pendidikan dalam Al-Quran, Abdul Rahman Saleh Abdullah
mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari
kata Rabb(mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Al-Quran;
demikian pula kata Ilm yang demikian banyak dalam Al-Quran
menunjukkan bahwa dalam Al-Quran tidak mengabaikan konsep-konsep
yang menunjukkan kepada pendidikan.
Hadis juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan Islam.
Hadis sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi
Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Al-
Quran.
B. Rumuan Masalah
1. Apa hakikat pendidikan Islam?
2. Apa tujuan pendidikan Islam?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakekat Dasar Pendidikan Islam


Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar atau disengaja
guna untuk menambah pengetahuan, wawasan serta pengalaman untuk
menentukan tujuan hidup sehingga bisa memiliki pandangan yang luas untuk ke
arah masa depan lebih baik dan dengan pendidikan itu sendiri dapat menciptakan
orang-orang berkualitas.
Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan
seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai
Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya, dengan kata lain
pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikannya yang mencakup seluruh
aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah
menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun
ukhrawi.
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada
termal-tarbuyah, al-tadib, dan al-talim. Dari keriga istilah tersebut term yang
populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-
tarbiyah. Sedangkan term al-tadib dan al-talim jarang sekali digunakan. Padalah
kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.
Kedatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga terma tersebut memiliki
kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap term memiliki perbedaan, baik
secara tekstual maupun kontekstual. Untuk itu, perlu dikemukakan uraian dan
analisis terhadap ketiga term pendidikan Islam tersebut dengan beberapa
argumentasi tersendiri dari beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam.

1. Tarbiyah
Penggunaan istilah berakar dari tiga kata, yaitu (1) raba yarbu)(
artinya bertambah dan tumbuh. (2) kata rabiya yarba ) (artinya tumbuh

2
dan berkembang, (3) kata, rabba yarubbu )(yang berarti memperbaiki,
menguasai, memimpin, menjaga,dan memelihara.
Kata rabb. Sebagimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Fatihah ayat 2 Yang
mempunyai kandungan makna berkonotasi dengan istilah al-tarbiyah. Sebab
kata rabb (tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari kata yang sama.
Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik yang maha agung bagi seluruh
alam semesta.
Uraian di atas secara filosofi mengisyaratkan bahwa peroses pendidikan
Islam adalah bersumber pada pendidikan yang di berikan Allah sebagai
pendidik seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas,
pengertian pendidikan Islam yang terkandung dalam terma al-tarbiyah terdiri dari
empat unsur pendekatan, yaitu (1) memelihara dan menjaga fitrah peserta didik
menjelang dewasa (baligh), (2) mengembangkan seluruh potensi menuju
kesempurnaan, (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan,
(4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Penggunaan terma al-tarbiyah untuk menunjuk makna pendidikan islam
dapat difahami dengan menunjuk firman Allah, (lihat dalam Q.S. Al-Isra aya. 24).
2. Talim
Istilah lain yang juga digunakan untuk menunjukkan kegiatan pendidikan
Islam adalah kata taklim. Dalam sejarah pendidikan islam, terma al-
muallim telah digunakan untuk istilah pendidik. Menurut konsep paedagogik
islam. Kata taklim lebih luas jangkaunnya dan lebih umum daripada
kata tarbiyahhal ini dapat dilihat bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menjadi
muallim (guru). Seperti ayat berikut ini sebagai penekanan pentingnya taklim
bagi seluruh ummat manusia, (lihat Q.S. al Baqrah ayat. 151)
Menurut jalal, peroses taklim lebih umum dengan peroses tarbiyah karena:
Pertama, ketika mengajarkan al-Quran kepada kaum muslimin Rasulullah
SAW tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca, melainkan
membaca dengan perenungan yang berisikan pemahaman, pengertian tanggung
jawab, penanaman amanah sehingga terjadi membersihkan diri (tazkiyah)dari
segala kotoran. Menjadikan dirinya dalam kondisi siap menerima hikma, dan

3
mempelajari segala sesuatu yang belum diketahuinya serta barguna bagi
dirinya.Hikma tidak dapat dipelajari secara parsial atau secara sederhana,
melainkan mencakup keseluruhan ilmu secara negatif. Karena kata al-hikmah itu
barakar dari kata al-ihkam, yang berarti kesungguhan di dalam memperoleh ilmu,
amal, perkataan dan/atau di dalam semua itu. Sedangkan tarbiyah merupakan
peroses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia, atau
pada fase bayi dan kanak-kanak. Untuk itu penggunaan kata tarbiyah pada. (lihat
Q.S. Al-Isra ayat 24).
Kedua, kata taklim tidak berhenti hanya kepada pencapaian pengetahuan
berdasarkan prasangka atau yang lahir dari takdik semata-mata, ataupun
pengetahuan yang lahir dari dongengan khayali dan syahwat atau cerita-cerita
dusta, (lihat Q.S. Al-Baqarah ayat 78)
Ketiga, kata taklim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan
yang di butuhkan seseorang dalam hisupnya serta pedoman perilaku yang baik.
Hal tersebut (lihat Q.S. Yunus ayat. 5).
3. Tadib
Menurut Naqulb Al-Attas, istilah yang paling tepat untuk menunjukkan
pendidikan islam adalah al-tadib konsep ini didasarkan pada hadits Nabi
Muhammad SAW,

) (
Artinya: Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku
(H.R. al-Askary dari Ali r.a)
Secara terminologi istilah al-takdib berarti pengenalan dan pengakuan yang
secara berangsur-angsur yang ditemukan dalam diri manusia (peserta didik)
tentang pelbagai tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan
penciptaan. Dengan pendekatan ini. Pendidikan akan berfungsi sebagai
pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan yang dalam tatanan
wujud keperibadian.
Dari definisi tiga term Tarbiyah, Taklim dan takdib dapat diambil sebuah
analisis, jika di tinjau dari segi penekanannya terdapat titik perbedaan antara satu

4
dengan yang lainnya, tetapi juga terdapat keterkaitan antara satu dengan yang
lainnya.
Dalam term Tarbiyah, titik fokusnya pada pada bimbingan anak supaya
mengembangan potensi dan tumbuh serta dapat berkembang secara sempurna.
Yaitu suatu pengembangan ilmu dalam diri manusia dan penanaman akhlak yakni
pengamalan ilmu yang benar dalam mendidik dirnya sendiri.
Adapun kata taklim, titik tekannya adalah pada penyampaian ilmu
pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian tanggung jawab, dan
penanaman amanh kepada peserta didik. Oleh karena itu, taklim disini mencakup
aspek-aspek pengetahuan keterampilan yang di butuhkan seseorang dalam
hidupnya dan pedoman perilaku yang baik.
Sedangkan kata takdib, titik tekannya adalah pada pasangan ilmu yang
benar dalam diri sesorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku
yang baik. Istilah ini mencakup unsur-unsur
pengetahuan (ilm), pengajaran (talim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah).

B. Tujuan Pendidikan Islam


Menetapkan al-Quran dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan
hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata.
Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat
diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman
kemanusiaan.
Secara Terminologis, Tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud. Atau
tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang
yang melakukan sesuatu kegiatan. Atau menurut Zakiah Darajat, tujuan adalah
sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.
Karena itu tujuan pendidikan Islam adalah sasaran yang akan dicapai oleh
seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.
Secara Epistemologis, Merumuskan tujuan pendidikan merupakan syarat
mutlak dalam mendefiniskan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan
atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan

5
prinsip-prinsip dasarnya. Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan
Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya, sebenarnya pendidikan
Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu Rohmatan Lil Alamin.
Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan
hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau
keinginan-keinginan lainnya.
Secara Ontologis : Dalam Islam, hakikat manusia adalah makhluq ciptaan
Allah. Sedangkan menurut tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya
manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah
menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud
menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Sebagaimana dalam firman
Allah SWT.
Sebagai bagian dari komponen kegiatan pendidikan, keberadaan rumusan
tujuan pendidikan memegang peranan sangat penting. Karena memang tujuan
berfungsi mengarahkan aktivitas, mendorong untuk bekerja, memberi nilai dan
membantu mencapai keberhasilan. Pendidikan Islam bertugas mempertahankan,
menanamkan, dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai islami
yang bersumber dari kitab suci Al-Quran dan Al-Hadis. Sedangkan Anwar Jundi
menjelaskan di dalam konsep Islam, tujuan pertama dan pokok dari pendidikan
ialah terbentuknya manusia yang berpribadi muslim.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan
berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai
suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di
dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita
untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Karena tanpa pendidikan itu
sendiri kita akan terjajah oleh adanya kemajuan saat ini, karena semakin lama
semakin ketat pula persaingan dan semakin lama juga mutu pendidikan akan
semakin maju.
Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan
pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang
dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan

6
dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh
aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan
bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek
tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir
pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada
Allah SWT, baik secara pribadi kontinuitas, maupun seluruh umat manusia.
Tujuan pendidikan ialah perubahan yang diharapkan pada subyek didik
setelahmengalami proses pendidikan baik pada tingkah laku individu dan
kehidupan pribadinya maupun kehdupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana
individu ituhidup. Sedangkan menurut Omar Muhammad Attoumy Asy- Syaebani
tujuan pendidikan islam memiliki empat ciri pokok :
1. Sifat yang bercorak agama dan akhlak.
2. Sifat kemenyeluruhannya yang mencakup segala aspek pribadi pelajar
atausubyek didik, dan semua aspek perkambangan dalam masyrakat.
3. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara
unsur-unsur dan cara pelaksanaanya
4. Sifat realistis dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan
yangdikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan,
memperhitungkan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara individu,
masyarakat dankebudayaan di mana-mana dan kesanggupanya untuk berubah
dan berkembanng bila diperlukan
Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan
dalam pribadi) nilai-nilai islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu
melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-
batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti Pendidikan Islam secara
optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki kedewasaan atau
kematangan dalam beriman, bertaqwa, dan mengamalkan hasil pendidikan yang
diperoleh, sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang
dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain, Pendidikan
Islam harus mampu menciptakan para mujtahid baru dalam bidang kehidupan

7
duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan
antara kedua bidang itu.
Menurut H.M.Arifin tujuan pendidikan islam adalah idealitas (cita-cita)
yang mengandung nilai-nilai islam yang hendak dicapai dalam proses
kependidikan yang berdasarkanajaran Islam secara bertahap. Prof. H. M. Arifin,
M. Ed menjabarkan tujuan pendidikan yang bersasaran pada tiga dimensi
hubungan manusia selaku Khalifah dimuka bumi yaitu sebagai berikut:
1. Menanamkan sikap hubungan yang harmonis, selaras, dan seimbang dengan
Tuhannya.
2. Membentuk sikap hubungan yang harmonis, selaras, dan seimbang dengan
masyarakatnya.
3. Mengembangkan kemampuannya untuk menggali, mengelola dan
memanfaatkan kekayaan alam ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan
hidupnya, dan hidup sesamanya serta bagi kepentingan ubudiahnya kepadanya,
dengan dilandasi sikap hubungan yang harmonis.

Tujuan pendidikan menurut Dra. Hj. Nur Uhbiyati dan Dr. Zakiyah Daradjat
ada empat macam, yaitu:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan
pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini
meliputi seluruh aspek kemanusiaan, seperti: sikap, tingkah laku, penampilan,
kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada tingkat umur,
kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama. Bentuk Insan Kamil
dengan polatakwa kepada Allah swt harus dapat tergambar dalam pribadi
seseorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang
rendah.
2. Tujuan Akhir
Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya
terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang
berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun,

8
bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan,
lingkungan, dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan
Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk,
mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah
dicapai.
Tujuan pendidikan adalah pengembangan akal dan akhlak yang dalam
akhirnya dipakai untuk menghambakan diri kepada Allah SWT. Manusia
mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29 :
Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya roh-
Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya. Dan tujuan akhir pendidikan Islam itu
dapat dipahami dari firman Allah SWT yang artinya : Wahai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan
janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim berserah diri kepada Allah.
(Q.S. Ali Imran: 102). Jadi insan kamil yang mati dalam keadaan berserah diri
kepada Allah inilah merupakan tujuan akhir dari pendidikan Islam.
3. Tujuan Sementara
Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi
sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum
pendidikan formal. Pada tujuan sementara bentuk Insan Kamil dengan pola takwa
sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa
ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik.
4. Tujuan Operasional
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah
kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan
yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu. Dalam
tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan
keterampilan tertentu. Sifat operasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat
penghayatan dan kepribadian.

Bila dilihat dari segi filosofis, maka tujuan pendidikan Islam dapat
diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu:

9
1. Tujuan teoritis yang bersasaran pada pemberian kemampuan teoritis kepada
anak didik.
2. Tujuan praktis yang mempunyai sasaran pada pemberian kemampuan
praktis kepada anak didik.

Muhammad Athiyah al-Abrasyi, memaparkan bahwa tujuan pendidikan


Islam terdiri atats 5 sasaran, yaitu:
1. Membentuk akhlak mulia
2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
3. Mempersiapkan untuk mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya
4. Menumbuhkan semangat ilmiah dikalangan peserta didik
5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.
Oleh karena itu, tujuan akhir pendidikan Islam berada di dalam garis yang
sama dengan misi tersebut, yaitu membentuk kemampuan dan bakat manusia agar
mampu menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan
berkat Allah di seluruh penjuru alam ini. Hal ini berarti bahwa potensi rahmat dan
berkat Allah tersebut tidak akan terwujut nyata, bilamana tidak diaktualisasikan
melalui ikhtiar yang bersifat kependidikan secara terarah dan tepat.
Jika pendidikan umum hanya ingin mencapai kehidupan duniawi yang
sejahtera baik dalam dimensi bernegara maupun bermasyarakat maka Pendidikan
Islam bercita-cita lebih jauh yang bernilai transendental, bukan insindetal atau
aksidental di dunia, yaitu kebahagiaan hidup setelah mati. Jadi nilai-nilai yang
hendak diwujudkan oleh pendidikan Islam adalah berdimensi transendetal
(melampaui wawsan hidup duniawi) sampai ke ukhrawi dengan meletakkan cita-
cita yang mengandung dimensi nilai duniawi sebagai sarananya. Oleh karena itu,
pendidikan merupakan sarana atau alat untuk merealisasikan tujuan hidup orang
muslim secara universal maka tujuan pendidikan Islam di seluruh dunia harus
sama bagi semua umat Islam, yang berbeda hanyalah sistem dan metodenya.

10
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Untuk mengungkapkan hakikat pendidikan Islam, kata tarbiyah dipilih
untuk menunjuk pendidikan Islam karena beberapa pertimbangan.
1. Terma tarbiyah dapat diperluas makna semantiknya.
2. Terma tarbiyah lebih umum dapat diterima oleh masyarakat muslim di
Indonesia
3. Istilah tarbiyah lebih umum diterima dalam situasi lokal tertentu dari pada
terma taklim dan takdib.
Tujuan pendidikan Islam terdiri atats 5 sasaran, yaitu:
1. Membentuk akhlak mulia
2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
3. Mempersiapkan untuk mencari rizki dan memelihara segi
kemanfaatannya
4. Menumbuhkan semangat ilmiah dikalangan peserta didik
5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil

11
DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru), Jakarta: GAYA MEDIA
PRATAMA, 2005
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, cetakan III (Bandung:
CV.Pustaka Setia, 2007), hlm. 68
Mangun Budiyanto, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: Griya Santri, 2010.
Maragustam, Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna (Falafah
Pendidikan Islam), Yogyakarta: Nuha Litera, 2010.
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-5 (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hlm.
133.
Samsul nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan, Historis, Teoritis, dan
Praktis,Jakarta: CIPUTAT PERS, 2002.

12