Anda di halaman 1dari 2

BAB II

Indonesia pada Masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin

A. Indonesia pada masa Demokrasi Liberal


Selama Berlakunya UUDS 1950, pemerintah Republik Indonesia diwarnai degan
pergantian tujuh cabinet secara berturut-turut. Kelompok kami akan menjelaskan mulai
dari Kabinet Burhanuddin Harahap, Kabinet Ali Sastroamijoyo II, dan Kabinet Juanda.

a) Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 3 Maret 1956)


Pada tanggal 29 juli 1955, Wakil Presiden Moh. Hatta mengumumkan tiga
nama formatur yang bertugas membentuk cabinet baru. Tiga nama formatur
tersebut adalah Sukiman (Masyumi), Wilopo (PNI), dan Asaat (nonpartai). Ketiga
tokoh tersebut sepakat menunjuk Moh. Hatta sebagai perdana menteri sekaligus
Menteri Pertahanan. Namun, muncul kesulitan karena Moh. Hatta duduk sebagai
wakil presiden. Akhirnya Moh. Hatta menunjuk Mr. Burhanuddin Harahap
(Masyumi) untuk membentuk cabinet. Pada 12 Agustus 1955 terbentuk Kabinet
Burhanuddin Harahap.
Hasil yang menonjol dari cabinet ini adalah penyelenggaraan pemilu untuk
yang pertama di Indonesia, untuk memilih anggota DPR dan untuk memilih
anggota konstituate. Prestasi lainnya yaitu pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
Dengan berakhirnya pemilihan umum, tugas Kabinet Burhanuddin Harahap
dianggap telah selesai sehingga perlu dibentuk cabinet baru yang bertanggung
jawab terhadap parlemen yang baru. Pada tanggal 3 Maret 1956 Kabinet
Burhanuddin Haraha mengembalikan mandatnya ke pada presiden.
b) Kabinet Ali Sastroamijoyo II (20 Maret 1956-14 Maret 1957)
Kabinet ini dipimpin oleh Ali Sastroamijoyo sebagai perdana menteri. Cabinet
ini merupakan koalisi dari PNI, Masyumi, dan NU. Kabinet ini merupakan cabinet
pertama setelah pemilihan umum tahun 1955. Program pokok Kabinet Ali
Sastroamijoyo II antara lain :
Pembatalan KMB.
Perjuangan mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Republik
Indonesia.
Pemulihan keamanan dan ketertiban, pembangunan ekonomi,
keuangan, industry, perhubungan, pendidikan, serta pertanian.
Melaksanakan keputusan Konferensi Asia Afrika.

Pada tanggal 14 Maret 1957 Ali Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya


kepada Presiden karena dalam tubuh kainet terjadi perpecahan antara PNI dan
Masyumi. Pada bulan Januari 1957, Masyumi menarik semua menterinya dari
kabinet dan hal tersebut menjadikan kedudukan Kabinet Ali Sastroamijoyo II
sangat lemah.

c) Kabinet Juanda (9 April 1957-5 Juli 1959)


Perdana Menteri Kabinet ini adalah Ir. Juanda dengan tiga orang wakil, yaitu
Mr. Hardi, Idham Chalid, dan Dr. Leimena. Kabinet Juanda menyusun program yang
terdiri dari lima pasal yang disebut Pancakarya. Oleh karena itu, Kabinet Juanda
disebut juga sebagai Kabinet Karya. Banyak program-program yang dilakukan
Kabinet Karya, salah satunya adalah Membentuk Dewan Nasional.
Dewan Nasional adalah badan baru untuk menampung dan menyalurkan
kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat. Dewan Nasional ini pernah
diusulkan oleh Presien Soekarno ketika mengutarakan konsepsi presiden sebagai
langkah awal dari terbentuknya demokrasi terpimpin. Pada masa Kabinet Juanda
ini muncul pergolakan-pergolakan di daerah-daerah yang menghambat hubungan
antara pusat dan daerah.
Pada tanggal 30 November 1957, terjadi peristiwa percobaan pembunuhan
terhadap Presiden Soekarno di depan Perguruan Cikini yang dikenal dengan
Peristiwa Cikini. Setelah Peristiwa Cikini tersebut, keadaan negara semakin
memburuk. Kabinet Juanda berakhir setelah Presiden Soekarno mengeluarkan
Dekret Presiden 5 Juli 1959.

Keadaan politik Indonesia selama pelaksanaan demokrasi liberal sejak tanggal 17


Agustus 1950 sampai dengan 5 Juli 1959 penuh dengan pertentangan antarpartai
sehingga menimbulkan kekacauan di berbagai sector kehidupan masyarakat Indonesia.

Usia Kabinet yang hanya sesaat tidak mungkin melaksanakan program kerjanya secara
tuntas. Pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara tidak dapat terlaksana karena para
pemimpin partai yang menjadi menteri hanya memikirkan kepentingan partainya. Hal ini
menunjukkan bahwa system demokrasi liberal tidak cocok bagi bangsa Indonesia sebab
tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi, Jiwa Pancasila, dan UUD 1945.