Anda di halaman 1dari 15

MORFOLOGI UMUM SERANGGA

Oleh:
Nama : Henta Ria Anisa
NIM : B1J014136
Rombongan :I
Kelompok :4
Asisten : Karnia Rosmiati

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia dimata dunia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian
besar mata pencaharian dari sekitar 260 Juta jiwa penduduk Indonesia adalah
bertani. Namun dalam tiap kegiatan bertani, seringkali berhadapan dengan berbagai
kendala, diantaranya adalah gangguan hama. Hama adalah organisme yang
menyerang tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman menjadi terganggu, yang berdampak turunnya kualitas dan kuantitas serta
kerugian ekonomis bagi manusia (Borror, 1992).
Serangga (disebut pula Insecta, dibaca "insekta") adalah kelompok utama dari
hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah
mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani, berarti "berkaki
enam"). Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan Hewan
ini juga merupakan contoh klasik metamorfosis. Hama terdapat dalam berbagai jenis,
salah satunya yaitu hama serangga. Setiap serangga mengalami proses perubahan
bentuk dari telur hingga ke bentuk dewasa yang siap melakukan reproduksi.
Pergantian tahap bentuk tubuh ini seringkali sangat dramatis, di dalam tiap tahap
juga terjadi proses "pergantian kulit" yang biasa disebut proses
pelungsungan. Tahap-tahap ini disebut instar. Ordo-ordo serangga seringkali
dicirikan oleh tipe metamorfosisnya (Borror, 1992).
Serangga adalah invertebrata beruas yang memiliki rangka luar (eksoskeleton).
Eksoskeleton selain berfungsi sebagai kulit serangga juga berfungsi sebagai
penyangga tubuh, alat proteksi diri, dan tempat melekatnya otot. Kulit serangga
disebut integumen yang terdiri dari kutikula dan lapisan epidermis. Kutikula
merupakan lapisan tipis yang strukturnya sangat kompleks yang terdiri dari
epikutikula dan prokutikula. Epikutikula merupakan lapisan terluar integumen dan
merupakan lapisan yang tipis, sedangkan prokutikula merupakan lapisan tebal yang
terdiri atas eksokutikula dan endokutikula (Ananda, 1978).

B. Tujuan

Menjelaskan pembagian tubuh serangga secara umum, menjelaskan dan


menunjukan alat-alat yang terdapat di daerah kaput, menjelaskan dan menunjukan
alat-alat yang terdapat di daerah toraks, menjelaskan dan menunjukan alat-alat yang
terdapat di daerah abdomen dan membedakan serangga jantan dan betina.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Serangga adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang


bertungkai enam (tiga pasang) karena itulah mereka disebut pula Hexapoda.
Serangga termasuk kedalam kelas Insekta yang dibagi lagi menjadi 29 Ordo, antara
lain Diptera (lalat), Coleoptera (kumbang), Hymenoptera (Semut, lebah, dan
tabuhan). Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat
tinggi, ukuran serangga relatif kecil dan pertama kali sukses berkolonisasi di bumi
(Pracaya, 2004). Salah satu alasan mengapa serangga memiliki keanekaragaman dan
kelimpahan yang tinggi adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi, serangga
bereproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan pada beberapa jenis spesies
bahkan mampu menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun. Kemampuan
serangga lainnya yang dipercaya telah mampu menjaga eksistensi serangga hingga
kini adalah kemampuan terbangnya. Hewan yang dapat terbang dapat menghindari
banyak predator, menemukan makanan dan pasangan kawindan menyebarke habitat
baru jauh lebih cepat dibandingkan hewan lain yang harus bergerak di atas
permukaan tanah (Subyanto, 1997).

Ordo Orthoptera (bangsa belalang) Sebagian anggotanya dikenal sebagai


pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai
predator pada serangga lain. Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua
pasang. Sayap depan lebih sempit dari pada sayap belakang dengan vena-vena
menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar
dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di
bawah sayap depan. Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah
(sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua
pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas)
pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum.
Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen
abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen
(segmen terakhir abdomen). Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang
memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan
masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus
labialisnya (Jumar, 2000).
Pada umumnya antena serangga terbagi menjadi 3 ruas utama yaitu :
a. Scape yang melekat pada kepala
b. Pedisel
c. Flagellum
Bentuk dan ukuran antena pada setiap jenis serangga berbeda beda. Beberapa
bentuk antena tersebut adalah : filiform yaitu bentuknya menyerupai benang dan
pada setiap ruas mempunyai ukuran bentuk silindris yang sama (Jumar, 2000).
Fungsi antena pada setiap jenis serangga sangat beragam, namun pada umumnya
fungsi utama dari antena tersebut adalah sebagai alat peraba dan pencium (Jumar,
2000).
Bagian-bagian mulut serangga diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu :
a. Mandibulata (pengunyah) dan haustelata (penghisap).
b. Tipe alat mulut pengunyah.
c. Mandibel bergerak secara transversal dari sisi ke sisi (Jumar, 2000).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

3.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bak preparat, pinset,
botol, dan kapas.

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah belalang (Valanga
nigricornis) jantan dan betina, jangkrik (Gryllus sp.), kloroform, dan alkohol 70%.

B. Metode

2.1 Belalang (Valanga nigricornis)


1. Botol pembunuh serangga serta alat dan bahan yang lain disiapkan.
2. Kapas ditetesi kloroform, lalu kapas dimasukkan ke dalam botol
pembunuh serangga dengan menggunakan pinset.
3. Belalang dimasukkan ke dalam botol pembunuh dengan menggunakan
pinset, lalu botol ditutup, belalang ditunggu sampai mati.
4. Belalang yang telah mati diambil dengan menggunakan pinset, kemudian
belalang dicelupkan ke dalam alkohol 70%, lalu belalang diangkat
5. Morfologi belalang diamati, segmen pada tubuh belalang dihitung.
6. Bagian-bagian yang tampak diperhatikan dengan menggunakan
mikroskop stereo.
7. Perbedaan antara belalang jantan dengan belalang betina diamati.

2.2 Jangkrik (Gryllus sp.)

1. Botol pembunuh serangga serta alat dan bahan yang lain disiapkan.
2. Kapas ditetesi kloroform, lalu kapas dimasukkan ke dalam botol
pembunuh serangga dengan menggunakan pinset.
3. Belalang dimasukkan ke dalam botol pembunuh dengan menggunakan
pinset, lalu botol ditutup, belalang ditunggu sampai mati.
4. Belalang yang telah mati diambil dengan menggunakan pinset, kemudian
belalang dicelupkan ke dalam alkohol 70%, lalu belalang diangkat
5. Morfologi belalang diamati, segmen pada tubuh belalang dihitung.
6. Bagian-bagian yang tampak diperhatikan dengan menggunakan
mikroskop stereo.
7. Perbedaan antara belalang jantan dengan belalang betina diamati.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 4.1. Belalang Kayu (Valanga nigricornis)

Gambar 4.2 Jangkrik (Gryllus sp.)


B. Pembahasan

Secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (caput) yang
terdapat antena, dada (toraks) terdapat enam kaki dan sayap dan perut (abdomen)
beruas. Caput meliputi antena dan mata majemuk, pada toraks meliputi protoraks,
mesotoraks, dan metatoraks, bagian yang lebih posterior dimana tidak terdapat kaki
maupun sayap disebut abdomen. Tipe alat mulut pada belalang merupakan bagian
yang beruas-ruas yang terdiri dari tergum atau strenum, yang mana setiap strenum
terdapat sigma, serta terdapat pula ovipositor yang berfungsi sebagai alat peletakkan
telur (Sunarjo, 1991).
Kaput merupakan kepala serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya
antena, mata majemuk, mata oseli, dan alat mulut. Berdasarkan posisinya kepala
serangga dibagi menjadi tiga, yaitu hypognathous, prognathous, dan
epistorhynchous. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh
serangganya adalah belalang Acrididae; prognathous apabila alat mulutnya
menghadap ke depan, contoh serangganya adalah kumbang Carabidae (kumbang
tanah); dan epistorhynchous apabila alat mulutnya menghadap ke belakang, contoh
serangga adalah semua serangga ordo Hemiptera. Antena serangga berjumlah dua
atau sepasang, berupa alat tambahan yang beruas-ruas dan berpori yang berfungsi
sebagai alat sensor. Bagian-bagian antena adalah antenifer, soket, scape, pedicel,
meriston, dan flagelum. Bentuk antena serangga sangat bervariasi berdasarkan jenis
dan stadiumnya. Mata serangga terdiri dari dua macam yaitu mata majemuk dan
mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai pendeteksi warna dan bentuk,
sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal berfungsi sebagai pendeteksi
intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa ommatidia dan mata tunggal
terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung terdiri dari 28.000
ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 m. Serangga makan dengan
menggunakan mulutnya. Ada beberapa tipe alat mulut serangga, yaitu: penggigit-
pengunyah, penggigit-pengisap, penusuk-pengisap, penjilat-pengisap, dan pengisap.
Leher serangga merupakan daerah bermembran yang disebut cervix. Terdapat
sepasang cervicals klerit pada bagian cervix . Sepasang cervical sklerit ini berfungsi
sebagai engsel yang menghubungkan antara caput dengan toraks. Cervix sklerit ini
menyatu dengan pleura pada protoraks pada beberapa serangga (Sunarjo, 1991).
Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen.
Toraks serangga terdiri dari tiga ruas yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks.
Toraks juga merupakan daerah lokomotor pada serangga dewasa karena pada toraks
terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap (kecuali ordo Thysanura
tidak bersayap). Toraks bagian dorsal disebut notum. Kaki serangga dewasa
berjumlah tiga pasang, sedangkan pada fase pradewasa jumlah kakinya sangat
bervariasi tergantung spesiesnya. Secara umum kaki serangga terdiri dari beberapa
ruas yaitu coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus, pretarsus, dan claw. Bentuk kaki
serangga dewasa juga sangat bervariasi berdasarkan pada fungsinya. Kaki yang
digunakan untuk meloncat disebut saltatorial, menggali disebut fosorial, berlari
disebut kursorial, berjalan disebut ambulatorial, menangkap mangsa disebut
raptorial, dan berenang disebut natatorial. Sayap serangga terdiri dari dua atau satu
pasang. Serangga bersayap pada fase dewasa dan pradewasa khusus pada
Ephemeroptera yang biasa disebut fase subimago/preimago. Sayap serangga secara
umum berupa lembaran yang bervena berfungsi untuk terbang. Venasi sayap ini
penting untuk diketahui sebagai dasar untuk menentukan spesies serangga tertentu,
khususnya bangsa lalat dan tawon. Sayap serangga bentuknya sangat bervariasi, oleh
karena itu entomologist memilahkan bentuk-bentuk sayap ini sebagai dasar untuk
menentukan ordo. Sayap depan kumbang sangat tebal dan kuat yang digunakan
sebagai pelindung tubuhnya disebut elytra; sayap depan kepik yang separuh bagian
basal tebal disebut corium dan selebihnya membran, sayap depan kepik ini disebut
hemelytra; sayap depan kecoa disebut tegmina; dan sayap belakang lalat yang
disebut halter berukuran sangat kecil berujung membulat berfungsi sebagai alat
penyeimbang ketika terbang (Sunarjo, 1991).
Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan,
ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas, rata-rata 9-10
ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan bagian yang
menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi
disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa membran
disebut pleura (Subyanto, 1993).
Klasifikasi Valanga nigricornis menurut Pedigo (1989) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Orthoptera
Family : Acridoidea
Genus : Valanga
Spesies : Valanga nigricornis
Valanga nigricornis sering dianggap hama oleh petani. Serangga ini
merupakan Ordo Orthoptera meliputi belalang (subordo Caelifera), jangkrik, dan
tonggeret (subordo Ensifera), merupakan komponen penting dari habitat terestrial
baik sebagai konsumen primer dan sebagai mangsa predator terestrial (Tan et al.,
2015). Hasil yang didapat setelah dilakukan pengamatan terhadap preparat Valanga
nigricornis adalah Valanga nigricornis memiliki 6 pasang kaki yang terdapat pada
bagian toraks. Toraks terbagi menjadi tiga segmen utama yaitu protoraks,
mesotoraks, dan metatoraks. Bagian-bagian kakinya antara lain adalah, coxa,
trochanter, femur, tibia, tarsus, dan claw. Kaki belakang pada Valanga nigricornis
berperan ketika Valanga nigricornis akan meloncat. Terdapat dua pasang sayap pada
toraks. Sayap paling anterior adalah sayap penutup, dan sayap posterior adalah sayap
sebenarnya (yang digunakan untuk terbang). Pasang sayap pertama berada di segmen
bagian dorsal dari mesotoraks, dan pasang sayap kedua berada di segmen bagian
dorsal dari metatoraks.
Bagian caput terdapat mata facet, mata ocelli, antena, mandibula, maksila,
labium, dan labial palps. Mata facet terdapat ovipositor pada preparat Valanga
nigricornis betina. Mata facet adalah mata majemuk yang berperan dalam proses
pengelihatan. Mata ocelli berfungsi sebagai fotoreseptor. Mata serangga terdiri dari
dua macam yaitu mata majemuk dan mata oseli. Mata majemuk berfungsi sebagai
pendeteksi warna dan bentuk, sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal
berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya. Mata majemuk terdiri dari beberapa
ommatidia dan mata tunggal terdiri dari satu. Sebagai contoh, mata majemuk capung
terdiri dari 28.000 ommatidia dan satu ommatidiumnya berukuran + 10 m (Sunarjo,
1991). Tipe kepala berdasarkan posisi letak mulut Valanga nigricornis adalah tipe
hypognathus artinya menghadap kebawah. Berdasarkan posisinya kepala serangga
dibagi menjadi tiga, yaitu hypognathous, prognathous, dan
epistorhynchous. Hypognathous apabila alat mulutnya menghadap ke bawah, contoh
serangganya adalah belalang; prognathous apabila alat mulutnya menghadap ke
depan, contoh serangganya adalah kumbang; dan epistorhynchous apabila alat
mulutnya menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua serangga ordo
Hemiptera (Sunarjo, 1991).
Bagian abdomen dapat diamati dengan jelas, terdapat delapan pasang spirakel
pada bagian abdomen, spirakel digunakan untuk respirasi serangga. Ujung dari
abdomen terdapat sepasang cercus. Terdapat segemen yang termodifikasi di bagian
posterior yaitu epiprox pada bagian yang lebih superior, dan paraprox pada bagian
yang lebih inferior. Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat
pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas,
rata-rata 9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan
bagian yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami
sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa
membran disebut pleura (Subyanto, 1993). Valanga nigricornis betina memiliki
ovipositor pada pangkal abdomen. Ovipositor berfungsi untuk mengeluarkan telur-
telur. Tidak terdapat ovipositor pada Valanga nigricornis jantan.
Klasifikasi Gryllus sp. menurut Pedigo (1989) adalah sebagai berikut
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Orthoptera
Family : Grylludae
Genus : Gryllus
Species : Gryllus sp.
Di alam, jangkrik banyak dijumpai pada musim hujan, dan jarang ditemukan
pada musim kemarau. Di Indonesia, jangkrik umumnya hidup baik di daerah yang
bersuhu antara 20C-32C dengan kelembaban sekitar 65%-80% (Pracaya, 2004).
Pada saat akan bertelur, jangkrik betina akan mencari tanah atau tempat-tempat yang
lembab untuk meletakkan telurnya dengan cara menusukkan ujung ovipositor ke
dalam tanah. Riordi (2009) mengatakan bahwa untuk menetas, telur jangkrik
membutuhkan suhu lingkungan sekitar 26C.
Morfologi tubuh jangkrik terdiri atas tiga bagian utama yaitu kepala, toraks,
dan abdomen serta setiap spesies jangkrik memiliki ukuran dan warna yang beragam.
Jangkrik memiliki kulit dan sayap luar berwarna hitam atau agak kemerahan dan
pada bagian punggung (pangkal sayap luar) terdapat garis kuning sehingga
menyerupai kalung. Jangkrik jantan dan betina dewasa dapat dibedakan dari ada atau
tidaknya ovipositor pada ujung abdomen yang mencirikan jangkrik betina. Meskipun
secara umum ukuran-ukuran tubuh jangkrik jantan lebih besar, jangkrik betina
memiliki bobot badan lebih tinggi daripada jantan (Riordi, 2009).
Jangkrik termasuk serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna.
Siklus hidupnya dimulai dari telur kemudian menjadi jangkrik muda (nimfa) dan
melewati beberapa kali stadium instar terlebih dahulu sebelum menjadi jangkrik
dewasa(imago) yang ditandai dengan terbentuknya dua pasang sayap (Pracaya,
2004). Jangkrik dapat ditemui hampir disemua tempat, terutama pada daerah dengan
dikisaran suhu 20 320C. Menurut Jumar (2000),sistem reproduksi serangga betina
terdiri atas sepasang ovarium yang berwarna krem dan sepasang ovarial, terletak di
punggung bagian tengan diatas saluran pencernaan. Jangkrik betina memiliki
ovipositor sebagai C dengan kelembaban 65 85%, bertanah gembur atau berpasir
serta memiliki banyak tumbuhan semak belukar. Jankrik dewasa siap kawin pada
usia 45 hari yang ditandai dengan telah lenyapnya sayap. Jangkrik jantan akan
ngengkrik dengan suara nyaring yang merupakan isyarat bahwa jangkrik tersebut
siap untuk membuahi betina, sedangkan jangkrik betina yang siap untuk dibuahi dan
mengetahui isyarat tersebut akan mencari sumber suara dan mendekatinya. Dalam
melakukan perkawinan, jangkrik jantan akan mengambil posisi dibawah dan jangkrik
betina diatas. Setelah terjadi pembuahan, tujuh hari kemudian telur telur didalam
perut jangkrik betina telah tua dan jangkrik telah siap bertelur.
V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa


kesimpulan yaitu, Valanga nigricornis memiliki dua pasang sayap dan tiga pasang
kaki pada toraks. Valanga nigricornis memiliki tipe kepala hypognathus karena
mulutnya menghadap kebawah. Terdapat ovipositor pada Valanga nigricornis betina,
namun tidak pada Valanga nigricornis jantan, sedangkan Gryllus sp. memiliki kulit
dan sayap luar berwarna hitam atau agak kemerahan dan pada bagian punggung
(pangkal sayap luar) terdapat garis kuning sehingga menyerupai kalung. Jangkrik
jantan dan betina dewasa dapat dibedakan dari ada atau tidaknya ovipositor pada
ujung abdomen yang mencirikan jangkrik betina.

C. Saran

Tambahkan variasi spesies serangga dari koleksi laboratorium agar praktikan


mengenal lebih banyak spesies.
DAFTAR REFERENSI

Ananda, K. 1987. Taksonomi Serangga. Yayasan Pembina Fakutas Pertanian


Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Borror, D.J., C. A, Triplehom, N. F. Johnson. 1992. An Introduction to the Study of


Insect. Harcourt Brace Collage Publishers.

Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Pracaya. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.


Pedigo, L. P. 1989. Entomology and Pest Management. Macmillan Publishing
Company. New York.

Riordi, 2009. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Tri ganda karya, Bandung.

Subyanto. 1997. Kunci Determinasi Serangga. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


Subyanto, A., dan S. S. Siwi Sulthoni. 1993. Kunci Determinasi Serangga. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta.

Sunarjo, P. I. 1991. Biologi dan Ekologi Serangga. Pusat Antar Universitas Bidang
Ilmu Hayati. ITB. Bandung.
Tan, M. K., Huiqing Y., dan John X. Q. L. 2015. Diversity of Entomofauna
(Orthoptera, Reduviidae and Acuelata) in The Mandai Lake Road Area,
Singapore. Nature in Singapore. 8 (1). pp. 3751.