Anda di halaman 1dari 30

http://www.lenterabiru.com/2008/12/anemia.

htm

Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas


hemoglobin dan volume pada sel darah merah ( Hematokrit per 100 ml darah ).

Anemia dapat diklasifikasikan menurut :

1. Morfologi sel darah merah dan indeks-indeksnya


2. Etiologi

Klasifikasi Anemia Menurut morfologi Mikro dan Makro menunjukkan ukuran


sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya.Ada tiga klasifikasi
besar yaitu :

1. Anemia Normositik Normokrom adalah Ukuran dan bentuk sel-sel darah merah
normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal ( MCV dan
MCHC normal atau rendah .
2. Anemia Makrositik normokrom adalah Ukuran sel-sel darah merah lebih besar
dari normal tetapi konsentrasi hemoglobin normal ( MCV Meningkat,MCHC
normal)

3. Anemia Mikrositik HipokromUkuran sel-sel darah merah kecil mengandung


Hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal ( MCV maupun MCHC
kurang ).

Yang termasuk dalam kategori Anemia Mikrositik Hipokrom adalah Anemia


defisiensi bisa terjadi akibat kekurangan besi, pirodoksin atau tembaga.

Anemia Defisiensi Besi adalah keadaan dimana kandungan besi tubuh total
turun dibawah tingkat normal yang terjadi akibat tidak adanya besi yang
memadai untuk mensintesis Hemoglobin .

1. PATOFISIOLOGI

Anemia defisiensi zat besi adalah anemia yang paling sering menyerang anak-
anak. Bayi cukup builan yang lahir dari ibu nonanemik dan bergizi baik, memiliki
cukup persediaan zat besi sampai berat badan lahirnya menjadi dua kali lipat
umumnya saat berusia 4-6 bulan. Sesudah itu zat besi harus tersedia dalam
makanan untuk memenuhi kebutuhan anak. Jika asupan zat besi dari makanan
tidak mencukupi terjadi anemia defisiensi zat besi . Hal ini paling sering terjadi
karena pengenalan makanan padat yang terlalu dini ( sebelum usia 4-6 bulan)
dihentikannya susu formula bayi yang mengandung zat besi atau ASI sebelum
usia 1 tahun dan minum susu sapi berlebihan tanpa tambahan makanan padat kaya
besi. Bayi yang tidak cukup bulan, bayi dengan perdarahan perinatal berlebihan
atau bayi dari ibu yang kurang gizi dan kurang zat besi juga tidak memiliki
cadangan zat besi yang adekuat. Bayi ini berisiko lebih tinggi menderita anemia
defisiensi besi sebelum berusia 6 bulan.

Anemia defisiensi zat besi dapat juga terjadi karena kehilangan darah yang
kronik. Pada Bayi hal ini terjadi karena perdarahan usus kronik yang disebabkan
oleh accelerator dalam susu sapi yang tidak tahan panas. Pada anak sembarang
umur kehilangan darah sebanyak 1-7 ml dari saluran cerna setiap hari dapat
menyebabkan anemia defisiensi zat besi. Pada remaja putri anemia defisiensi zat
besi juga dapat terjadi karena menstruasi yang berlebihan.

TANDA DAN GEJALA

1. Konjungtiva pucat ( Hemoglobin ( Hb) 6 sampai10 g/dl ).


2. Telapak tangan pucat ( Hb dibawah 8 g/dl )

3. Iritabilitas dan Anoreksia ( Hb 5 g/dl atau lebih rendah

4. Takikardia , murmur sistolik

5. Pika

6. Letargi, kebutuhan tidur meningkat

7. Kehilangan minat terhadap mainan atau aktifitas bermain.

PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG

1. Kadar porfirin eritrosit bebas - meningkat


2. Konsentrasi besi serum - menurun

3. Saturasi transferin menurun

4. Konsentrasi feritin serum - menurun

5. Hemoglobin menurun

6. Rasio hemoglobin porfirin eritrosit - lebih dari 2,8 ug/g adalah


diagnostic untuk defisiensi besi

7. Mean cospuscle volume ( MCV) dan mean cospuscle hemoglobin


concentration ( MCHC ) - menurun menyebabkan anemia
hipokrom mikrositik atau sel-sel darah merah yang kecil-kecil dan
pucat.
8. Selama pengobatan jumlah retikulosit - meningkat dalam 3
sampai 5 hari sesuadh dimulainya terapi besi mengindikasikan
respons terapeutik yang positif.

9. Dengan pengobatan, hemoglobin- kembali normal dalam 4


sampai 8 minggu mengindikasikan tambahan besi dan nutrisi yang
adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cecily L. Betz, dkk, 2002, Buku Saku Keperawatan Pediatri, EGC


Jakarta.
2. Suriadi,dkk, 2001, Asuhan Keperawatan Anak, cetakan I , penerbit C.V.
Agung Seto, Jakarta

3. FKUI, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, Percetakan infomedika, Jakarta.

4. Richard,R.,dkk, 1992, Ilmu Kesehatan Anak Bagian II.

5. Sylvia A.Price, dkk, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis proses-proses


penyakit, Edisi 4, EGC , Jakarta.

6. Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8,


EGC, Jakarta.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Penyakit_anemia

Anemia mikrositik

Kekurangan zat besi merupakan sebab paling kerap untuk anemia jenis ini
berlaku. Namun anemia mikrositik juga boleh berlaku kerana penyakit-penyakit darah
(hemoglobinopathies) lain seperti anemia sel sabit dan talasemia.

Anemia kerana kekurangan zat besi (ferum) berlaku apabila pengambilan zat besi
dalam diet tidak mencukupi, atau penyerapannya tidak berlaku dengan sempurna. Zat
besi merupakan elemen penting dalam hemoglobin. Hemoglobin adalah sejenis pigmen
yang terkandung dalam sel darah merah. Pigmen ini berfungsi sebagai tempat untuk
oksigen berpaut (oxygen-binding site). Apabila kandungan zat besi rendah, kadar
hemoglobin dalam sel darah merah juga berkurang. Wanita sering mengalami masalah
ini, kerana kadar wanita kepada lelaki yang mempunyai masalah ini adalah 10:1 (sepuluh
wanita untuk satu lelaki). Hal ini sering dikaitkan dengan pendarahan teruk (heavy
bleeding) yang dialami sesetengah wanita. Kajian menunjukkan pelajar perempuan
dengan tahap zat besi yang rendah berprestasi lebih teruk dalam pelajaran dan tahap IQ
berbanding gadis normal dan pelajar lelaki. Kekurangan zat besi juga boleh disebabkan
pendarahan dalaman, terutama sepanjang saluran alimentari (mulut, esofagus, perut,
duodenum, jejunum, ileum, usus besar atau kolon, rektum dan dubur). Walaupun
sebabnya berbagai-bagai, pendarahan di mana-mana tempat sepanjang salur ini boleh
disebabkan oleh kanser. Oleh itu, tempat dan sebab pendarahan berlaku perlu dikenal
pasti dengan tepat oleh doktor bertauliah.

Anemia normositik

Anemia normositik selalunya disebabkan kehilangan darah yang banyak dalam


masa yang singkat, seperti yang dialami orang yang terlibat dalam kecelakaan jalan raya
atau orang yang mengelar pergelangan tangannya dalam cubaan membunuh diri. Penyakit
yang kronik selalu menyebabkan tubuh gagal menghasilkan sel darah merah yang cukup
(berbeza dengan anemia milrositik yang disebabkan kekurangan hemoglobin, bukan sel
darah). Sebagai contoh, kegagalan ginjal yang kronik menyebabkan pengurangan kadar
rembesan eritropoietin, hormon penting dalam pembinaan sel darah merah. Kerosakan
pada hati juga menyebabkan perkara sama terjadi.

Anemia jenis ini juga berlaku kepada pesakit yang mempunyai masalah
keseimbangan hormon (hormonal imbalance), terutama kekurangan testosteron atau
hipogonadisme. Anemia sideroblastik (sideroblastic anemia) juga termasuk dalam
kategori ini. Anemia sideroblastik adalah salah satu simptom untuk sindrom
myelodisplastik (myelodysplastic syndrome). Sindrom ini merupakan satu kumpulan
masalah yang berpunca dari sintesis sel darah merah yang tidak normal. Sindrom ini
selalunya akan menjadi leukemia.

Anemia aplasia, atau kegagalan sum-sum tulang merupakan anemia yang disebabkan
oleh kegagalan sum-sum tulang untuk menghasilkan sel darah. Anemia aplasia jarang
berlaku jika dibandingkan dengan anemia yang disebabkan kecacatan genetik atau gizi
tidak seimbang, namun ia berkembang dan memburuk dengan lebih pantas.

Anemia makrositik

Punca utama anemia makrositik adalah kekurangan sama ada vitamin B12 atau
asid folik (atau kedua-duanya) akibat kekurangan pengambilan atau masalah
penyerapan .[1] Anemia pernisius (pernicious anemia) adalah keadaan autoimun
(autoimmune) di mana tubuh kekurangan faktor intrisik yang diperlukan bagi
menyerap vitamin B12 daripada makanan.
Ketagihan alkohol boleh menyebabkan anemia makrositik.
Anemia hemolitik adalah anemia di mana pelupusan atau degradasi (degradation)
sel darah merah berlaku terlampau cepat. Jaundis (demam kuning) dan
peningkatan tahap enzim laktat dehidrogenase (lactate dehydrogenase)
merupakan simptom-simptom anemia hemolitik. Sebabnya berbagai-bagai,
antaranya autoimun, masalah genetik ataupun masalah mekanikal seperti
pembedahan jantung atau sirosis hati (liver cirrhosis)

Rawatan untuk kekurangan vitamin B12 (yang menyebabkan anemia makrositik)


telah dijumpai oleh William Parry Murphy. Beliau melukakan anjing-anjing eksperimen
sehingga semuanya menjadi anemia, dan kemudian memberi mereka pelbagai bahan dan
zat makanan untuk mencari bahan yang mampu mengubat anemia. Berdasarkan kajian
beliau ini, memakan hati mampu mengurangkan simptom dan akhirnya menyembuhkan
anemia. George Richards Minot dan George Hoyt Whipple akhirnya berjaya
mengasingkan vitamin B12 dari hati. Untuk itu, ketiga-tiga orang ini berkongsi Hadiah
Nobel 1934 dalam Perubatan.
http://yayanakhyar.wordpress.com/2010/04/18/menghitung-hematokrit/

MENGHITUNG HEMATOKRIT

Nilai hematokrit adalah volume semua eritrosit dalam 100 mL darah dan
disebut dengan persen (%) dari volume darah tersebut. Biasanya nilai hematokrit ini
ditentukan dengan menggunakan darah vena atau darah kapiler. Ada 2 (dua) cara dalam
menentukan nilai hematokrit, yaitu :

A. MAKROMETODE (MENURUT WINTROBE)

1. Isilah tabung Wintrobe dengan darah antikoagulan oxalat, heparin, atau EDTA
sampai garis tanda 100 di atas.
2. Masukkan tabung tersebut ke dalam sentrifuge (pemusing) yang cukup besar,
pusinglah selama 30 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
3. Bacalah hasilnya denan memperhatikan :
Warna plasma di atas : warna kuning itu dapat dibandingkan dengan larutan
kaliumbicarbonat dan intensitasnya disebut dengan satuan. Satu satuan sesuai
dengan warna kaliumbicarbonat 1 : 10000.
Tebalnya lapisan putih di atas sel-sel merah yang tersusun dari leukosit dan
trombosit (buffy coat)
Volume sel-sel darah merah

B. MIKROMETODE

1. Isilah tabung mikrokapiler yang khusus dibuat untuk penetapan nilai hematokrit
mikrometode dengan darah.
2. Tutuplah salah satu ujungnya dengan membakarnya dengan nyala api atau dapat
juga digunakan bahan penutup khusus.
3. Masukkanlah tabung mikrokapiler tersebut kedalam sentrifuge khusus yang dapat
mencapai kecepatan besar, yaitu lebih dari 16000 rpm (sentrifuge
mikrohematokrit)
4. Pusinglah selama 3-5 menit
5. Kemudian nilai hematokrit dengan menggunkan grafik atau alat khusus
Gambar 1. Pengambilan darah kapiler

Gambar 2. Mikrokapiler dengan darah yang telah dipusing

-
Gambar 3. Penetapan nilai hematokrit

Catatan :

Pada kolom hematokrit yang didapat dengan memusing darah ditentukan oleh
faktor : radius sentrifuge, kecepatan sentrifuge, dan lama pemusingan. Dalam
sentrifuge yang cukup besar, dengan menggunakan metode makrometode dicapai
kekuatan pelantingan (relative centrifugal force) sebesar 2260 g. untuk
memadatkan sel-sel merah dengan memakai sentifuge itu diperlukan rata-rata 30
menit.
Sentrifuge mikrohematokrit mencapai kecepatan pemusingan yang jauh lebih
tinggi, maka dari itu lama pemusingannya diperpendek.
Tabung mikrokapiler yang dibuat khusus untuk penentuan nilai hematokrit
menggunakan metode mikrometode berukuran panjangnya 75 mm, dan diameter
1,2 sampai 1,5 mm, ada tabung yang telah dilapisi dengan heparin, maka tabung
tersebut dapat digunakan untuk darah kapiler, dan ada tabung yang tanpa heparing
yang digunakan untuk darah vena dengan oxalate, heparin atau EDTA.
Nilai hematokrit disebut dengan %, nilai normal untuk laki-laki 40-48 vol%, dan
untuk perempuan 37-43 vol%
Mikrometode lebih banyak digunakan dibandingkan dengan makrometode karena
lebih dapat menentukan hasil dalam waktu lebih singkat.

http://iccagagah.blogspot.com/2009/05/hematokrit.html
Hematokrit

A. Pengertian Hematokrit
Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang
diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam
suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus
berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan
menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut dipusingkan /
sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala
Hematokrit yang tertulis di dinding tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume
darah seluruhnya. Nilai hematokrit yang disepakati normal pada laki laki dewasa sehat
ialah 45% sedangkan untuk wanita dewasa adalah 41%.
Pada umumnya, penetapan salah satu dari tiga nilai ini sudah memberikan gambaran
umum, apakah konsentrasi SDM seseorang cukup atau tidak. Akan tetapi, bila terjadi
anemia kerap kali juga diperlukan informasi lebih lanjut, bagaimana konsentrasi rata-rata
hemoglobin / SDM. Volume SDM diperoleh dari membagi hematokrit ( mL/L darah )
dibagi dengan jumlah SDM ( juta/ml darah ). Satuan yang digunakan adalah fL dan
nilainya berkisar antara 80 94 fL,rata-rata 87 fL konsentrasi Hb/SDM diperoleh dengan
membagi konsentrasi hemoglobin / SDM. Hasilnya dinyatakan dengan satuan pg
( pikogram, 1pg = 10-12g ), pada orang dewasa sehat nilai ini berkisar antara 27 32 pg
dengan rata-rata sebesar 29,5 pg.
Nilai hematokrit adalah volume semua eritrosit dalam 100 ml darah dan disebut
dengan % dari volume darah itu. Biasanya nilai itu ditentukan dengan darah vena /
kapiler.
Prinsip

Darah dengan antikogulan isotonic dalam tabung dipusing selama 30 menit


dengan kecepatan 3000 rpm sehingga eritrosit dipadatkan kecepatan 3000 rpm sehingga
eritrosit dipadatkan membuat kolom dibagian bawah dan tabung tingginya kolom
mencerminkan nilai hematokrit.

B. Alat dan Bahan Pemeriksaan


Alat
1. Tabung wintrobe
2. Tabung mikrokapiler
3. Sentifuge
Bahan
1. Darah
Cara kerja
1. Mikrometode menurut Wintrobe
1. Isilah tabung wintrobe dengan darah oxalat, heparin atau EDTA sampai garis
tanda 100 diatas.

1. Masukkan tabung itu kedalam sentrifuge yang cukup besar, pusingkan selama 30
menit pada kecepatan 300 rpm.

Bacalah hasil penetapan itu dengan memperhatikan :


Warna plasma diatas : warna kuning, itu dapat dibandingkan dengan larutan
kaliumbichkromat dan intensitasnya disebut dengan satuan.
Satuan satuan sesuai dengan warna kaliumbichkromat 1 : 10.000
Tebalnya lapisan putih diatas sel sel merah yang tersusun dari lekosit dan trombosit.
2. Mikrometode
1. Isilah tabung mikrokapiler yang khusus dibuat untuk penetapan mikrohematokrit
dengan darah.
2. Tutuplah ujung satu dengan nyala api atau dengan bahan penutup khusus.
3. Masukkan tabung kapiler itu kedalam centrifuge khusus yang mencapai kecepatan
besar, yaitu lebih dari 16.000 rpm ( centrifuge mikrohematokrit ).
4. Pusingkan selama 3 5 menit.
5. Bacalah nilai hematokrit dengan menggunakan grafik atau alat khusus.

Nilai Normal
Laki laki : 40 48 vol %
Wanita : 37 43 vol %
Penyakit yang ditimbulkan
Jika hematokrit meningkat disebut : hemokonsentrasi
Contohnya : DBD
Jika hematokrit menurun disebut : hemodilusi
Sumber sumber kesalahan dalam penetapan nilai hematokrit
1. Bila memaki darah kapiler tetesan darah pertama harus dibuang karena mengandung
cairan intrastitial.
2. Bahan pemeriksaan yang ditunda lebih dari 6 8 jam akan meningkatkan hematokrit.
3. Bahan pemeriksaan tidak dicampur hingga homogen sebelum pemeriksaan dilakukan.
4. Darah yang diperiksa tidak boleh mengandung bekuan.
5. Didaerah beriklim tropis, tabung kapiler yang mengandung heparin cepat rusak karena
itu harus disimpan dilemari es.
6. Kecepatan dan lama pemusingan harus sesuai
7. Konsentrasi antikoagulan yang digunakan tidak sesuai
8. Pembacaan yang salah. fenikol ( Kee JL,1997 )
9. Obat obatan yang dapat menurunkan hasil hematokrit, seperti : penicilin, kloram.
Penetepan nilai Hematokrit cara manual
Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang mengandung
antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau
pecahan desimal (Simmons A, 1989).
Penetapan nilai hematokrit cara manual dapat dilakukan dengan metode
makrohematokrit atau metode mikrohetokrit. Pada cara makrohematokrit digunakan
tabung Wintrobe yang mempunyai diameter dalam 2,5 3 mm,panjang 110 mm dengan
skala interval 1 mm sepanjang 100 mm dan volumenya ialah 1 ml. pada cara
mikrohematokrit digunakan tabung kapiler yang panjangnya 75 mm dan diameter dalam
1 mm, tabung ini ada dua jenis, ada yang dilapisi antikoagulan Na 2EDTA atau heparin
dibagian dalamnya dan ada yang tanpa koagulan. Tabung kapiler dengan anti koagulan
dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan seperti darah kapiler, sedangkan
tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai bila menggunakan darah dengan anti
koagulan seperti darah vena (Wirawan,dkk 2000).
Metode mikrohematokrit mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana.
Metode mikrohematokrit proporsi plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat
pembaca skala hematokrit.

Penetapan nilai Hematokrit cara otomatik


Pada umumnya laboratorium sekarang menggunakan metode otomatik untuk
menghitung jumlah darah lengkap, dat rutin biasanya didapat meliputi Ht, Hb, jumlah
volume eritrosit rata-rata (VER), hemoglobin rata-rata (HER) dan konsentrasi
hemoglobin eritrosit rata-rata (KHER). Persamaan-persamaan berikut menjelaskan
hubungan antara data-data tersebut : VER = Ht jumlah eritrosit (dalam
mikrometerkubik, atau fentoliter, FI). HER = Hb + jumlah eritrosit (dalam pikogram, pg),
KHER = Hb Ht (dalam gram / 100 ml RBC, g / dl eritrosit atau %).
Hematokrit diukur dari volume sel rata-rata dan hitung sel darah merah. Nilai
normal hematokrit (Ht) sangat bervariasi menurut masing-masing laboratorium dan
metode pemeriksaan (Gandasoebrata R, 2006, Weterburi L, 2001).
Table Nilai rujuk pemeriksaan Hematokrit:

USIA Hematokrit (%)


Bayi baru lahir 44-65
Anak (1-3 tahun) 29-40
Anak (4-10 tahun) 31-43
Pria dewasa 40-50
Wanita dewasa 36-46

Masalah-masalah Klinis yang mempengaruhi tinggi atau turunnya hasil hematokrit


Penurunan kadar hematokrit dapat terjadi pada beberapa kondisi tubuh, seperti
anemia kehilangan darah akut, leukemia, kehamilan,malnutrisi,gagal ginjal. Sedangkan
peningkatan kadar dapat terjadi pada beberapa kondisi : dehidrasi, diare berat, luka baker,
pembedehan (Kee JL,1997)
Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium dalam
mendiagnosa penyakit demam berdarah, dimana pada kasus tersebut terjadi penurunan
kadar trombosit (trombositopeumia) secara derastis sampai dibawah 100.00 / mm3 yang
diikuti dengan peningkatan kadar hematokrit 20 % atau lebih yang menunjukkan terjadi
perembesan plasma atau lebih, dianggap menjadi bukti definitive adanya peningkatan
permiabelitas vaskuler. Pada kasus tersebut kadar hematokrit dapat dipengaruhi baik pada
pergantian volume tubuh secara dini atau oleh perdarahan.

http://yayanakhyar.wordpress.com/2010/04/19/mencari-penyebab-anemia-dengan-nilai-
eritrosit-rata-rata/
MENCARI PENYEBAB ANEMIA dengan NILAI
ERITROSIT RATA-RATA

Nilai eritrosis Rata-rata (Mean corpuscular values) atau disebut juga Indeks eritrosit/ sel

darah merah merupakan bagian dari pemeriksaan laboratorium


hitung darah lengkap (Complete blood count) yang memberikan keterangan mengenai
ukuran rata-rata eritrosit dan mengenai banyaknya hemoglobin (Hb) per eritrosit.
Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia (Suatu kondisi di
mana ada terlalu sedikit eritrosit/ sel darah merah). Indeks/ nilai yang biasanya dipakai
antara lain :

1. Mean Corpuscular Volume (MCV) = Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu


volume rata-rata sebuah eritrosit disebut dengan fermatoliter/ rata-rata ukuran
eritrosit.
2. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) = Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER),
yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram
3. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) = Konsentrasi
Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per
eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah gram
hemoglobin per dL eritrosit)-

CARA PENETAPAN MASING-MASING NILAI :

Nilai untuk MCV, MCH dan MCHC diperhitungkan dari nilai-nila ; (a) hemoglobin (Hb),
(b) hematokrit (Ht), dan (c) Hitung eritrosit/ sel darah merah (E). Kemudian nilai-nilai
tersebut dimasukkan dalam rumus sebagai berikut :

1. MCV (VER) = 10 x Ht : E, satuan femtoliter (fl)


2. MCH (HER) = 10 x Hb : E, satuan pikogram (pg)
3. MCHC (KHER) = 100 x Hb : Ht, satuan persen (%)

Nilai normal :

MCV: 82-92 femtoliter


MCH: 27-31 picograms / sel
MCHC: 32-37 gram / desiliter

TUJUAN PENETAPAN NILAI ERITROSIT RATA-RATA

Eritrosit/ sel darah merah berfungsi sebagai tranportasi hemoglobin dengan kata lain juga
mentranportasikan oksigen (O2), maka jumlah oksigen (O2) yang diterima oleh jaringan
bergantung kepada jumlah dan fungsi dari eritrosit/ sel darah merah dan Hemoglobin-
nya.

Nilai MCV mencerminkan ukuran eritrosit, sedangkan MCH dan MCHC mencerminkan
isi hemoglobin eritrosit. Penetapan Indeks/ nilai rata-rata eritrosit ini digunakan untuk
mendiagnosis jenis anemia yang nantinya dapat dihungkan dengan penyebab anemia
tersebut. Anemia didefinisikan berdasarkan ukuran sel (MCV) dan jumlah Hb per
eritrosit (MCH) :

Anemia mikrositik : nilai MCV kecil dari batas bawah normal


Anemia normositik : nilai MCV dalam batas normal
Anemia makrositik : nilai MCV besar dari batas atas normal
Anemia hipokrom : nilai MCH kecil dari batas bawah normal
Anemia normokrom : nilai MCH dalam batas normal
Anemia hiperkrom : nilai MCH besar dari batas atas normal

INTERPRETASI HASIL ABNORMAL

Tujuan akhir dari penetapan nilai-nilai ini adalah untuk mendiagnosis penyebab anemia.
Berikut ini adalah jenis anemia dan penyebabnya:

Normositik normokrom, anemia disebabkan oleh hilangnya darah tiba-tiba,


katup jantung buatan, sepsis, tumor, penyakit jangka panjang atau anemia
aplastik.
Mikrositik hipokrom, anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi, keracunan
timbal, atau talasemia.
Mikrositik normokrom, anemia disebabkan oleh kekurangan hormon
eritropoietin dari gagal ginjal.
Makrositik normokrom, anemia disebabkan oleh kemoterapi, kekurangan folat,
atau vitamin B-12 defisiensi.

http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=macam-macam-
anemia.html&Itemid=352
Batas Normal Kadar Hemoglobin dan Anemia untuk Dewasa dan Ibu Hamil

Kelompok Normal Hb Anemia jika Hb

Dewasa laki-laki 13-17 <13

Dewasa wanita 12-15 <12

Ibu hamil:

Trimester 1 11-14 <11

Trimester 2 10,5-14 <10,5

Trimester3 11-14 < 11

Kriteria Anemia Dalam Kehamilan Menurut WHO

Kriteria Anemia Hb (g/dl)

Tidak anemia 11

Anemia ringan 10- 10,9

Anemia sedang 7-9,9

Anemia berat <7

Pembagian anemia berdasarkan penyebabnya adalah sebagai berikut:

1. Anemia hemorhagi, karena kehilangan darah dalam jumlah yang banyak, misalnya
pada menstruasi yang banyak, luka berat, atau perdarahan internal yang terjadi karena
luka usus yang serius.

2. Anemia defisiensi besi, merupakan sebab yang paling umum dan terjadi antara lain
karena kehilangan darah dalam jangka lama, asupan Fe yang rendah, kesalahan tubuh
dalam mengabsorbsi Fe, dan eritrosit dengan konsentrasi rendah ( hipokromik) atau
bentuk yang lebih kecil (mikrositik).

3. Anemia aplastik, yaitu sumsum tulang tidak berfungsi normal karena keracunan zat
seperti benzene, timbal, arsen, radiasi sinar X atau radiasi atom, sehingga produksi
eritrosit dan leukosit menurun drastis.
4. Anemia hemolitik, kerusakan darah ( hemolisi) yang dapat terjadi karena berbagai hal,
diantaranya infeksi pada organ tubuh akibat parasit malaria, suatu yang diturunkan atau
herediter seperti thalasemia atau karena reaksi dari obat-obatan.

5. Anemia pernisiosa, absorbsi vitamin B12 tidak mencukupi, karena faktor intrinsik
yang terdapat pada sel mukosa usus rusak oleh antibodi.

6. Anemia sel sabit(sickle cell anaemia), merupakan anemia kerusakan darah karena
genetik yang terjadi pada orang kulit hitam.

Patofisiologi Anemia secara Umum

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit


(red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup kejaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara
praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, atau hitung
eritrosit (red cell count). Tetapi yang paling lazim dipakai adalah kadar hemoglobin,
kemudian hematokrit. Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri, tetapi
merupakan gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying disease). Gejala anemia
yang timbul merupakan manifestasi dari anoksia organ dan mekanisme kompensasi tubuh
terhadap daya angkut oksigen ke jaringan.

Gejala Klinis Anemia

Rasa lemah, lesu, cepat lelah, telinga mendenging (tinitus), mata berkunang-
kunang, kaki terasa dingin, sesak napas dan dispepsia. Pada pemeriksaan pasien tampak
pucat, yang mudah dilihat pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan
dibawah kuku

Pencegahan Anemia

Secara umum pencegahan anemia adalah dengan meningkatkan asupan makanan


yang mengandung besi, misalnya daging merah, susu, kacang-kacangan dan sebagainya,
pada berbagai anemia seperti anemia karena pendarahan, peningkatan kadar hb dalam
darah harus dilakukan dengan transfusi darah.
http://mutyandmom.blogspot.com/2010/10/anemia.html

ANEMIA

Definisi
Secara umum anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas
hemoglobin dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Menurut
Fenstermacher dan Hudson (1997), anemia adalah berkurangnya secara signifikan massa
sel darah merah sehingga kapasitas darah yang membawa oksigen menjadi berkurang.
Secara fisiologis, anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan sehingga tubuh akan mengalami hipoksia. Anemia
bukan suatu penyakit atau diagnosis melainkan merupakan pencerminan ke dalam suatu
penyakit atau dasar perubahan patofisilogis yang diuraikan oleh anamnese dan
pemeriksaan fisik yang teliti serta didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

Etiologi
Anemia disebabkan oleh berbagai jenis penyakit, namun semua kerusakan
tersebut secara signifikan akan mengurangi banyaknya oksigen yang tersedia untuk
jaringan.
Menurut Brunner dan Suddart (2001), beberapa penyebab anemia secara
umum antara lain :
a. Secara fisiologis anemia terjadi bila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
b. Akibat dari sel darah merah yang prematur atau penghancuran sel darah merah yang
berlebihan.
c. Produksi sel darah merah yang tidak mencukupi.
d. Faktor lain meliputi kehilangan darah, kekurangan nutrisi, faktor keturunan, penyakit
kronis dan kekurangan zat besi.

Klasifikasi
Anemia dapat diidentifikasikan menurut morfologi sel darah merah serta indeks-
indeksnya dan menurut etiologinya.
Pada klasifikasi anemia menurut morfologi sel darah merah dan indeks-indeksnya
terbagi menjadi :
a. Menurut ukuran sel darah merah
Anemia normositik (ukuran sel darah merah normal), anemia mikrositik (ukuran
sel darah merah kecil) dan anemia makrositik (ukuran sel darah merah besar).
b. Menurut kandungan dan warna hemoglobin
Anemia normokromik (warna hemoglobin normal), anemia hipokromik
(kandungan dan warna hemoglobin menurun) dan anemia hiperkromik (kandungan dan
warna hemoglobin meningkat).
Menurut Brunner dan Suddart (2001), klasifikasi anemia menurut etiologinya secara
garis besar adalah:

a. Anemia Hipoproliferatifa
Sel darah merah biasanya bertahan dalam jangka waktu yang normal, tetapi
sumsum tulang tidak mampu menghasilkan jumlah sel yang adekuat jadi jumlah
retikulositnya menurun. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang
akibat obat dan zat kimia atau mungkin karena kekurangan hemopoetin, besi, vitamin
B12 atau asam folat. Anemia hipoproliferatifa ditemukan pada :
1) Anemia aplastik
Pada anemia aplastik, lemak menggantikan sumsum tulang, sehingga
menyebabkan pengurangan sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Anemia aplastik
sifatnya kongenital dan idiopatik.
2) Anemia pada penyakit ginjal
Secara umum terjadi pada klien dengan nitrogen urea darah yang lebih dari 10
mg/dl. Hematokrit menurun sampai 20 sampai 30 %. Anemia ini disebabkan oleh
menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritropoetin.
3) Anemia pada penyakit kronik
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis
normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).
Apabila disertai dengan penurunan kadar besi dalam serum atau saturasi transferin,
anemia akan berbentuk hipokrom mikrositik. Kelainan ini meliputi arthritis reumatoid,
abses paru, osteomielitis, tuberkulosis dan berbagai keganasan.
4) Anemia defisiensi-besi
Anemia defisiensi besi adalah keadaan dimana kandungan besi tubuh total turun
dibawah tingkat normal dan merupakan sebab anemia tersering pada setiap negara.
Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 - 5 gram besi,
tergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. Penyebab tersering dari anemia
defisiensi besi adalah perdarahan pada penyakit tertentu (misal : ulkus, gastritis, tumor
pada saluran pencernaan), malabsorbsi dan pada wanita premenopause (menorhagia).
Menurut Pagana dan Pagana (1995), pada anemia defisiensi besi, volume corpuscular
rata-rata(Mean Corpuscular Volume atau MCV), microcytic Red Blood Cellsdan
hemoglobin corpuscular rata-rata (Mean Corpuscular Haemoglobine atau MCH)menurun.

5) Anemia megaloblastik
Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Terjadi
penurunan volume corpuscular rata-rata dan mikrositik sel darah merah. Anemia
megaloblastik karena defisiensi vitamin B12 disebut anemia pernisiosa. Tidak adanya
faktor instrinsik pada sel mukosa lambung yang mencegah ileum dalam penyerapan
vitamin B12 sehingga vitamin B12 yang diberikan melalui oral tidak dapat diabsorpsi
oleh tubuh sedangkan yang kita tahu vitamin B12 sangat penting untuk
sintesadeoxyribonucle ic acid (DNA).
Anemia megaloblastik karena defisiensi asam folat, biasa terjadi pada klien yang jarang
makan sayur-mayur, buah mentah, masukan makanan yang rendah vitamin, peminum
alkohol atau penderita malnutrisi kronis.

b. Anemia Hemolitika
Pada anemia ini, eritrosit memiliki rentang usia yang memendek. Sumsum tulang
biasanya mampu berkompensasi sebagian dengan memproduksi sel darah merah
baru tiga kali atau lebih dibandingkan kecepatan normal. Ada dua macam
anemia hemolitika, yaitu :
1. Anemia hemolitika turunan (Sferositosis turunan)
Merupakan suatu anemia hemolitika dengan sel darah merah kecil dan splenomegali.
2. Anemia sel sabit
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul
hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri. Anemia sel sabit adalah kerusakan
genetik dan merupakan anemia hemolitik herediter resesif. Anemia sel sabit
dikarenakan oklusi vaskuler dalam kapiler yang disebabkan oleh Red Blood Cells
Sickled(RBCs) dan kerusakan sel darah merah yang cepat (hemolisis). Sel-sel yang
berisi molekul hemoglobin yang tidak sempurna menjadi cacat kaku dan berbentuk
bulan sabit ketika bersirkulasi melalui vena. Sel-sel tersebut macet di pembuluh darah
kecil dan memperlambat sirkulasi darah ke organ-organ tubuh. RBCs berbentuk bulan
sabit hanya hidup selama 15-21 hari.

Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel
darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat
kekurangan nutrisi, pajanan toksik dan invasi tumor. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Pada destruksi, masalahnya dapat
diakibatkan karena defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel
darah merah normal atau akibat beberapa faktor di luar sel darah merah yang
menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi dalam sel fagositik atau dalam sistem
retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini,
bilirubin yang terbentuk dalam fagosit, akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan
produksi plasma. Hal ini tercermin dalam anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi disebabkan cacat pada sintesis hemoglobin atau dapat
dikatakan kurang pembebasan besi dari makrofag ke serum, sehingga kandungan besi
dalam hemoglobin berkurang. Sedangkan yang kita tahu sebagian besar besi dalam
tubuh dikandung dalam hemoglobin yang beredar dan akan digunakan kembali untuk
sintesis hemoglobin setelah sel darah merah mati. Bila defisiensi besi berkembang,
cadangan retikulo- endotelial (haemosiderin dan ferritin) menjadi kosong sama sekali
sebelum anemia terjadi.
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti yang
terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul dalam
plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas
haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat
semuanya (apabila jumlahnya lebih dari sekitar 100 mg/dl), hemoglobin akan
terdifusi dalam glomerulus ginjal dan ke dalam urin (hemoglobinuria). Jadi ada atau
tidak adanya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi
mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada klien dengan
hemolisis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses hemolitik
tersebut.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah
yang hilang. Penatalaksanaan anemia berdasarkan jenisnya, yaitu :
a. Anemia aplastik
Penatalaksanaannya meliputi transplantasi sumsum tulang dan terapi immunosupresif
dengan antithimocyte globulin (ATG) yang diperlukan melalui jalur sentral selama 7-
10 hari. Prognosis buruk jika transplantasi sumsum tulang tidak berhasil. Bila
diperlukan dapat diberikan transfusi RBC rendah leukosit dan platelet (Phipps,
Cassmeyer, Sanas & Lehman, 1995).
b. Anemia defisiensi besi
Diatasi dengan mengobati penyebabnya dan mengganti zat besi secara farmakologis
selama satu tahun. Laki-laki membutuhkan 10 mg/hari, wanita yang menstruasi 15
mg/hari dan postmenaupouse membutuhkan 10 mg/hari.
c. Anemia megaloblastik
Untuk anemia megaloblastik yang disebabkan karena defisiensi vitamin B12 (anemia
pernisiosa) dan defisiensi asam folat diobati dengan pemberian vitamin B12 dan asam
folat oral 1 mg/hari.
d. Anemia sel sabit
Pengobatannya mencakup pemberian antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan dengan
dosis yang besar. Pemberian tambahan asam folat setiap hari diperlukan untuk
mengisi kekurangan asam folat yang disebabkan karena adanya hemolisis kronik.
Transfusi hanya diperlukan selama terjadi krisis aplastik atau hemolitik. Pendidikan
dan bimbingan yang terus-menerus termasuk bimbingan genetik, penting dilakukan
untuk pencegahan dan pengobatan anemia sel sabit.
http://idonkelor.blogspot.com/2009/03/bakteri-definisi-klasifikasi-struktur.html

Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu :
1.Organisme multiselluler
2.Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )
3.Umumnya tidak memiliki klorofil
4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya
memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
6. Hidup bebas atau parasit
7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut
dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan

Struktur Bakteri

Struktur Dasar Bakteri Terdiri Dari :


1. Dinding sel

Tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan


peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal
dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis). Dinding sel ditemu8kan pada
semua bakteri hgidup bebas kecuali pada Mycoplasma. Dinding sel berfungsi untuk
melindungi kerusakan sel dari lingkungan bertekanan osmotik rendah dan memelihara
bentuk sel. Dinding sel pada bakteri tidak mengandung selulosa tetapi hemiselulosa dan
senyawa semacam pektin yang mengandung N. dinding sel dilapisiselaput seperti gelatin.
Isis sel berupa protoplasma dan membran plasma.
2. Membran plasma

Membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein.
Selubung sel bakteri ini mengandung daerah transpor untuk untuk menutrisi daaerah
reseptor untuk virus bakteri dan baktreiosin., mempermudah interaksi inang-parasit,
disamping sebagai tempat reaksi komponen dan antibodi, dan sering mengandung
komponen toksik untuk inang.
3. Sitoplasma adalah cairan sel.
Komponen-komponen Sitoplasma

a. Materi inti

Materi inti suatu sitoplasma biasanya terdiri dari DNA dan RNA. Materi inti dapat dilihat
dengan mikroskop elektron. Penampakan materi inti sebagai suatu jaring DNA, tidak
teratur dan sering kali merupakan kumpulan pararel terhadap sumbu sel. Selama
perbanyakan sel, DNA bakteri tetap sebagai jaring kromatin yang tersebar dan tidak
pernah berkumpul untuk membentuk sutau kromosom yang jelas selama pembelahan sel,
sifat sebaliknya dari kromosom eukariot.

b. Ribosom
Ribosom merupakan suatu partikel sitoplasma. Kumpulan polyribosom merupakan rantai
ribosom 70S (monomer) menempel pada m RNA. Jumlah ribosom bervariasi sesuai
dengan kondisi pertumbyhan, sel tumbuh cepat dalam medium yang sesuai, mengandung
lebih banyak ribosom dibandingkan dengan sel tumbuh lambat dalam medium yang
kurang memadai.

c. Granula Sitoplasma

Struktur tambahan bakteri :


1. Kapsul atau lapisan lendir, adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri
tertentu, bila
lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul
dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.
2. Flagelum atau bulu cambuk, adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang
menonjol dari dinding sel.fungsi utamanya adalah sebagai alat untuk bergerk.
Berdasarkan jumlah flagelum , tipe flagelum pada sel bakteri menampakan bentuk yang
khas. Beberapa jenis bakteri seperti Pseudomonas memiliki satu falgela pada bagian
ujung yang disebut monotrik. Tipe flagela yang tersusun banyak yang letaknya pada satu
unjung sel dikenal sebagai tipe lotrofik. Apabila flagela terdapat pada kedua ujung
disebut amfitrik. Kelompok enterobakteri motil seperti salmonella atau bacillus memiliki
flagela yang tersebar pada seluruh permukaan sel yang disebut peritrik, jumlah flagela
pada setiap jenis bakteri berbeda.
3. Pilus dan fimbria, adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari
dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih
kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Fimbria
adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek, lebih lurus, dan lebih tipis dibandingkan
flagela.Fungsi fimbria adalah untuk bertahan hidup dan berinteraksi dengan inang. Fungsi
fimbria, di antara komponenn permukaan bakteri lainnya adalah untuk memiliki aktivitas
fungsional seperti adhesin, lektin, evasin, agresin, dan pili seks.
4. Klorosom, adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan
mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom
hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.
5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.
6. Endospora, adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan
terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri.
Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding
endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap
kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan
menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.

Bentuk dan Ukuran Bakteri

Bentuk dan Ukuran bakteri bervariasi, ukurannya berkisar 0.4-2.0m


Berbagai macam bentuk bakteri :

1. Bakteri Kokus :

a. Monokokus yaitu berupa sel bakteri kokus tunggal


b.Diplokokus yaitu dua sel bakteri kokus berdempetan
c. Tetrakokus yaitu empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk segi empat.
d. Sarkina yaitu delapan sel bakteri kokus berdempetan membentuk kubus
e. Streptokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan membentuk rantai.
f. Stapilokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti buah anggur.

2. Bakteri Basil :

a.Monobasil yaitu berupa sel bakteri basil tunggal


b.Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri basil berdempetan
c. Streptobasil yaitu beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai

3. Bakteri Spirilia :

a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang


b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti sekrup
c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti tanda baca koma
4.Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri
Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan ukuran
populasi.

Faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk


pertumbuhan optimum adalah :
1.Suhu
2.Derajat keasaman atau pH
3.Konsentrasi garam
4.Sumber nutrisi
5.Zat-zat sisa metabolisme
6. Zat kimia

Habitat Bakteri dan Distribusinya


Bakteri dapat ditemukan dimana-mana, dalam tanah, air, sisa-sisa pembusukan mahluk
hidu, dalam tubuh mahluk hidup, bahkan pada debu yang ada diatmosfer dapat m,enjadi
substratnya. Tubuh yang kecil, kemampuan berkembang biak yang cepat dan
beranekaragam, kemampuan mempertahankan diri dalam berbagai keadaan termasuk
keadaan yang tidak menguntungkan, menyebabkan luasnya distribusi bakteri. Didarat,
laut, ngarai dan pegunungan, didaerah tropika, maupun daerah iklim dingin terdapat
bakteri. Sehingga bakteri juga disebut kosmopolit.Namun demikian pertumbuhan bakteri
dapat terkendali karena pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Cara Hidup Bakteri

Umunya bakteri bersifat heterotrof. Hidupnya sebagai saprofit atau sebagai parasit.
Namun demikian ada beberapa jenis yang mampumengadakan asimilasi sehingga bersifat
autotrof. Sehingga berdasarkan asal energi yang digunakan untuk berasimilasi maka
bakteri dengan sifat autotrof dapat dibedakan menjadi dua golongan :
1. Yang bersifat Kemoautotrof: bila energi yang digunakan untuk asimilasi berdasarkan
dari reaksi-reaksi kimia, misalnya dari proses-proses oksidasi senyawa tertentu. Baketrei
nitrit dengan mengoksidasi NH3, bakteri nitrat dengan mengoksidasikan HNO2, bakteri
belerang dengan mengoksidasi senyawa belerang.
2. Yang bersifat Fotoautotrof: bila energi untuk asimilasi didapatkan dengan bantuan
cahaya matahari. Seperti pada tumbuhan hijau, bakteri yang dapat melakukan fotosintesis
adalah bakteri yang mengahsilkan zat warna. (dari golongan thiorhodaceae{bakteri
belerang berzat warna}).

Bakteri yang hidup sebagai saprofit menggunakan sisa-sisa tumbuhan atau hewan sebagai
subsrat dan sumber kehidupannya. Kegiatan fisisologi bakteri yang menempati substrat
mengalami proses penguraian yang biasanya dsertai dengan timbulnya energi. Proses ini
dinamakan pembusukan bila disertai dengan bau dan fermentasi bila suatu pernapasan
tramolekuler.
Dari segi kebutuhan akan oksigen, baketri dapat dibedakan menjadi dua golongan:
1. Bakteri aerob: untuk hidup memerlukan oksigen bebas. Bakteri aerob dapat dibedakan
lagi menjadi aerob obligat, artinya untuk hidupnya mutlak diperlukan adanya oksigen
bebas. Tetapi bila oksigen yang diperlukan bersifat tidak mutlak maka disebut dengan
aerob fakultatif.
2. Bakteri anaerob: untuk hidup tidak tergantung pada oksigen bebas, karena dalam
pernapasannya tidak memerlukan oksigen.

Cara Perkembangbiakan bakteri


Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual
(vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah
pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua.
Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri
lainnya.
Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.
Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
1. Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu
sel teri ke sel bakteri yang lainnya.

2. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya
dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri).

3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui
kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang
berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai berikut :


1. Pembusukan (penguraian sisa-sisa mahluk hidup contohnya Escherichia colie).
2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya Acetobacter pada
pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt, Acetobacter
xylinum pada pembuatan nata de coco dan Lactobacillus casei pada pembuatan keju
yoghurt.
3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu Rhizobium
leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan dan
Azotobacter chlorococcum.
4. Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang berperan dalam
proses nitrifikasi menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman.
5. Penghasil antibiotik contohnya adalah Bacillus polymyxa (penghasil antibiotik
polimiksin B untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif, Bacillus subtilis penghasil
antibioti untuk pengobatan infeksi bakteri gram positif,Streptomyces griseus penghasil
antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram negatif termasuk bakteri penyebab
TBC dan Streptomyces rimosus penghasil antibiotik terasiklin untuk berbagai bakteri.
6. Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium acetobutylicum
7. Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga
menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya methanobacterium
8. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam bidang
kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang disintesis oleh
bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.

Bakteri yang merugikan sebagai berikut :


1. Pembusukan makanan, contohnya Clostridium botulinum.
2. Penyebab penyakit pada manusia contohnya Mycobacterium tuberculosis ( penyebab
penyakit TBC ), Vibrio cholerae ( penyebab kolera atau muntaber ), Clostridium tetani
(penyebab penyakit tetanus ) dan Mycobacterium leprae (penyebab penyakit leprae).
3. Penyebab penyakit pada hewan contohnya Bacilluc antrachis (penyebab penyakit
antraks pada sapi).
4. Penyebab penyakit pada tanaman budidaya contohnya Pseudomonas solanacearum
(penyebab penyakit pada tanaman tomat, lombok, terung dan tembakau) serta
Agrobacterium tumafaciens (penyebab tumor pada tumbuhan).

http://www.google.co.id/images?hl=id&q=hematopoiesis&um=1&ie=UTF-
8&source=univ&ei=BGYLTfaBBIPwrQeZg5i7Cw&sa=X&oi=image_result_group&ct=t
itle&resnum=2&ved=0CC4QsAQwAQ&biw=1024&bih=444

Hematopoiesis adalah proses pembentukan dan perkembangan sel-sel


darah. Proses ini terjadi pada masa prenatal (masih dalam kandungan) dan post natal
(setelah lahir).

Pada prenatal, proses pembentukan terjadi di yolk sac (kantung kuning


telur), kemudian fase selanjutnya pada hepar dan lien, dan pada fase
lanjut di sumsum tulang.

Hematopoiesis prenatal dapat dibagi menjadi 3 fase:

1. Fase mesoblastik

- Disebut juga fase prahepar


- Janin usia minggu ke-2

- Terjadi pada pulau-pulau darah di sakus vitelinus / yolk sac


(kantung kuning telur)

- Terbentuk eritrosit primitif (sel yang masih berinti)

2. Fase hepatic

- Janin usia minggu ke-6

- Pada hepar dan lien. Juga pada timus (pembentukan limfosit)

- Terbentuk eritrosit yang sesungguhnya (sudah tidak berinti). Juga


terbentuk semi granulosit dan trombosit. Selain itu juga limfosit
(dari timus). Itulah kenapa sering disebut fase hepatosplenotimik
karena produksi oleh hepar, lien, dan timus

3. Fase myeloid

- Janin bulan ke-4

- Pembentukan terjadi pada sumsum tulang karena sudah terjadi


proses osifikasi (pembentukan tulang). Tapi ada juga yang
menyebutkan kalau terjadi di medulolimfatik (di medulla spinalis
dan limfonodi). Tapi limfonodi ini untuk maturasi.

- Di sini sudah terbentuk darah lengkap.