Anda di halaman 1dari 26

PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM

PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : H. Bintang Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu, SH.I


Alamat : Paya Kumer Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi : 03 Janari 2014 Unit Kerja : KUA Tripe Jaya

Pertanyaan :
Pak KUA yang saya hormati. Bagaimana hukumnya bagi wanita yang melakukan I tikaf,
karena wanita ada waktunya datang Haid. Apakah I tikaf boleh dilakukan pak?

Jawaban :

Bapak Haji Bintang yang saya Hormati, perlu diketahui dulu apa itu itikaf sebelum saya jawab
pertanyaan anda. itikaf adalah berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu dengan ciri-ciri tertentu
disertai dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini merupakan amalan yang sangat di anjurkan,
para ulama sepakat tentang masjid dijadikan sebagai syarat untuk melakukan itikaf, kecuali ada yang
berpendapat boleh itikaf di mana saja. Manyoritas ulama secara umum menyatakan, itikaf bisa
dilakukan di setiap masjid. Mengenai kebolehan itikaf dikerjakan di mana saja, maka pendapat seperti
ini tidak ada nilainya karena tidak didukung dengan dalil.

Hukum itikaf adalah sunnah berdasarkan sunnah filiyyah Nabi saw. yang dituturkan oleh
Aisyah ra : Sesungguhnya Nabi saw. telah melakukan itikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan
hingga Allah SWT mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau pun melakukan itikaf sepeninggal
beliau. (HR al-Bukhari ). Permasalahan itikaf kaum perempuan, maka hukumnya sama dengan itikaf
kaum pria. Aisyah ra. menuturkan: Sesungguhnya Nabi saw. telah melakukan itikaf pada sepuluh hari
terakhir ulan Ramadhan hingga Allah SWT mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau pun
melakukan itikaf sepeninggal beliau (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai dan Ahmad).

Semoga bermanfaat . Wallahu alam Bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe Jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 197805062009011006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Fika nuril anwar Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu, SH.I
Alamat : Ds Paya kumer Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi : 10 Februari 2014 Unit Kerja : KUA Tripe Jaya

Pertanyaan :

Bapak KUA yang saya hormati, di kampung saya, sering terjadi perdebatan
masalah akhir waktu sahur, Kapan batas akhir waktu sahur , apakah waktu Imsak sperti
di Imsakiah atau dimulainya Azan Subuh, atau di akhir adzan Subuh?

Jawaban :

Sdr. Fika yang dirahmati oleh Allah, memang persoalan batas akhir sahur ini sering
terjadi perdebatan dalam masyarakat, Karena satu pihak sudah adanya imsakiah untuk dipedomani.
Adapun mengenai hal tersebut Imam madzhab yang empat dalam fiqh berpendapat waktu sahur itu
berakhir ketika telah terbit fajar shadiq (thulu al-fajr al-shadiq). Dengan kata lain, waktu sahur
berakhir hingga adzan Shubuh. Dalilnya firman Allah SWT (artinya),Dan makan minumlah
kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (QS Al-Baqarah:
187). Ayat ini menunjukkan bahwa makan minum (sahur) masih boleh hingga jelas/terang
(tabayyun) bahwa fajar sudah datang.

Yang dimaksud fajar dalam ayat itu adalah fajar shadiq, bukan fajar kadzib. Dalilnya
hadits Aisyah RA, dia berkata,Janganlah adzan Bilal mencegah dari sahur kamu, karena dia
menyerukan adzan pada malam hari. Makan minumlah kamu hingga kamu mendengar adzan
Ibnu Ummi Maktum, karena dia tidak menyerukan adzan hingga terbit fajar. (HR Bukhari,
Muslim).

Berdasarkan hadits Aisyah RA ini, batas akhir waktu sahur bukan fajar kadzib,
melainkan fajar shadiq, yakni saat adzan Shubuh. Maka dari itu, waktu Imsak (sekitar 10 menit
sebelum waktu Shubuh) bukanlah batas akhir sahur. Sebab batas akhir sahur adalah datangnya
fajar shadiq (waktu Shubuh), bukan datangnya waktu Imsak. Maka jika waktu imsak tiba, makan
dan minum untuk sahur masih boleh dan tidak haram.Waktu imsak hanya untuk kehati-hatian
(ihtiyath) saja, bukan batas akhir waktu sahur. Maka jika adzan Shubuh masih berkumandang,
sahur masih boleh, tidak haram, dan tidak wajib qadha`. Wallahu alam.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Anton Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu, SH.I


Alamat : Paya kumar Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi : 09 Maret 2014 Unit Kerja : KUA Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak KUA yang saya hormati, apakah boleh kita membayar zakat fitrah dalam bentuk
uang atau kita pura-pura memegang beras pada saat penyerahan, tapi yang diserahkan
tetap uang? Ini sering terjadi perdebatan menjelang pembayaran zakat di gampong kami.

Jawaban :

Saudara Anton yang dirahmati Allah. Memang Ada perbedaan di kalangan fuqaha dalam
masalah ini menjadi dua pendapat. Pertama, pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat
sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah dan juga Ibnu Taimiyah. Dalil mereka antara lain
firman Allah SWT (artinya),Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. (QS at-Taubah ayat
103). Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (mal), yaitu apa
yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang). Jadi ayat ini membolehkan membayar
zakat fitrah dalam bentuk uang.

Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW,Cukupilah mereka (kaum fakir dan
miskin) dari meminta-minta pada hari seperti ini (Idul Fitri). Menurut mereka, memberi
kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan
memberikan uang.

Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk
bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad). Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah,
Syafiiyah, dan Hanabilah. Dalil mereka antara lain hadits Ibnu Umar RA bahwa,Rasulullah
SAW telah mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha kurma atau satu sha jewawut (syair) atas
budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, dari kaum
muslimin. (HR Bukhari, no 1503). Hadits ini jelSas menunjukkan zakat fitrah dikeluarkan
dalam bentuk bahan makanan, bukan dengan dinar dan dirham (uang), Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Jelipah Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu, SH.I


Alamat : Kp.Paya kumar Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi : 15 April 2014 Unit Kerja : KUA Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak Ustadz, bagaimana kita menyikapi tentang perbedaan penentuan awal


Ramadhan yang terjadi hamper tiap tahun dinegara kita? Bolehkah kita tidak ikut
pemerintah?

Jawaban :

Ibu Jelipah yang dirahmati Allah, Kewajiban taat kepada ulil amri dalam negara islam
adalah wajib. Namun kewajiban tersebut tidak dalam semua aspek. Seperti ibadah, akidah dan
urusan-urusan murni masalah agama yang telah jelas dalilnya. Metode pemerintah dalam
menetapkan awal Ramadhan adalah metode penyatuan antara hisab dan rukyat. Kaedah hukm al-
haakim ilzaam wa yarfau al-khilaaf tidak mencakupi semua aspek kehidupan manusia. hanya
hal-hal tertentu yang tidak boleh melawan keputusan pemerintah. Tidak ada kewajiban yang
mutlak untuk mengikuti pemerintah dalam masalah penentuan awal ramadhan, karena dalam hal
ibadah beramal dengan dalil dan keyakinan masing-masing.
Namun untuk menghindari perpecahan lebih dianjurkan untuk mengikuti pemerintah. Untuk
meminimlisir kebingungan masyarakat dan keberagaman dalam merayakan dan berpuasa.
Pemerintah tidak mengatur hukuman bagi siapa yang tidak taat terhadap keputusan penentuan
awal ramadhan. Ini menunjukkan berbeda dengan pemerintah dibolehkan. Adapun taat kepeada
pemerintah indonesia dalam penentuan awal ramadhan dan syawal adalah tidak wajib,
masyarakat boleh berbeda dengan pemerintah. Namun untuk kemaslahatan bersama sebaiknya
pemerintah dan ormas-ormas mencari solusi untuk berpuasa dan hari raya serentah tidak terjadi
perbedaan.
Jangan saling menyalahkan apalagi gara-gara perbedaan menjadikan permusuhan. Mulailah
bias menerima perbedaan. Walaupun dalam hal ini semestinya kita bersatu mengikuti
pemerintah. Wallahu alam.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : M.Nur Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu, SH.I


Alamat : KP.Uyem beriring Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi : 20 Mei 2014 Unit Kerja : KUA Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak KUA.Bagaimana hukum puasa rajab, Apakah ada ditentukan hari khusus diawal
atau diakhir bulan tersebut?

Jawaban :

Bapak Muhammad Nur yang dirahmati Allah, ada beberapa puasa sunat yang dianjurkan
kepada kita untuk melakukannya, mengenai puasa rajab, saudara Penanya yang dirahmati Allah,
pertanyaan serupa banyak disampaikan kepada kami. Pada ringkasnya, puasa sunnah di bulan
Rajab itu seperti puasa pada bulan lainnya, yakni boleh-boleh saja. Misalnya: puasa senin-kamis,
Dawud, Ayyamul Bidh, tiga hari setiap bulan, atau puasa mutlak.

Yang menjadi persoalan adalah mengkhususkannya, yakni mengkhususkan puasa pada


bulan Rajab. Bentuknya melaksanakan puasa beberapa hari secara khusus -seperti pada tanggal
1, 3, 7, dan seterusnya- untuk mengistimewakan bulan Rajab dengan meyakini keutamannya
yang lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan selainnya. Jika yang dimaksud adalah ini maka
tidak ada hadits shahih yang menerangkannya. Pengkhususan ini tidak dibenarkan karena tidak
memiliki dasar kuat dalam syariat.

Dalam Kifayah al-Akhyar, disebutkan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa
setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqadah, dzul hijjah, rajab dan muharram.
Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian
Syaban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram
adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan Memang
benar tidak satupun ditemukan hadits shahih mengenai puasa Rajab, namun telah jelas dan
shahih riwayat bahwa Rasul saw menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram,
dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan
ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah
lainnya di bulan Rajab (anda bisa lihat syarh Nawawi ala Shahih Muslim).

Diantara hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab
diantaranya: Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah shalallahu alahi wassalam memasuki
bulan Rajab beliau berdoa:Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Syaban,
dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan. (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).
Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Saleh Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu, SH.I


Alamat : KP.Rerebe Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi : 28 Juni 2014 Unit Kerja : KUA Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak Ustadz, Bagaimana hukum pernikahan wanita yag sedang dalam masa iddah (janda
meninggal suaminya)? Apakah saya boleh melamarnya lalu saya melanjutkan dengan pernikahan?

Jawaban : Bapak saleh yang terhormat, memang niat baik anda patut kita banggakan,
mungkin anda tidak ingin melihat janda sedih terlalu lama. Namun mengenai hukum pernikahan anda
dengan wanita yang sedang iddah adalah Tidak seorangpun yang membolehkan melamar wanita
Muslimah yang sedang menjalani masa iddah, baik karena perceraian maupun karena kematian suaminya.
Jika menikahinya sebelum masa iddah nya selesai, maka nikahnya dianggap batal, baik sudah
berhubungan badan maupun belum atau sudah berjalan lama maupun belum.

Di samping itu, tidak ada waris diantara keduanya dan tidak ada kewajiban memberi nafkah serta
mahar bagi wanita tersebut darinya. Jika salah satu dari keduanya telah mengetahui akan adanya larangan
nikah tersebut, maka diberlakukan kepadanya HUKUMAN atas orang yang berzina, yaitu RAJAM dan
JILID. Jika salah seorang dari keduanya tidak mengetahui hukum dari pernikahan yang ia lakukan, maka
tidak ada hukuman baginya, dan anak hasil pernikahan itu ikut bersamanya. Jika pernikahan tersebu telah
dibatalkan dan masa iddahnya telah selesai, maka ia harus mengulangi lagi akad pernikahannya seperti
layaknya pernikahan biasa. Kecuali, jika laki-laki tersebut menjatuhkan thalak kepada istrinya, maka ia
diperbolehkan untuk kembali kepadanya selama belum sampai pada thalak tiga.

Dalil yang menjadi landasan dalam hal ini adalah firman Allah swt Dan tidak ada dosa bagi
kalian meminang wanita-wanita itu, dengan sindiran, atau kalian menyembunyikan (keinginan menikahi
mereka) dalam hati kalian. Allah mengetahui kalian akan menyebut-nyebut mereka. Untuk itu janganlah
kalian mengadakan janji pernikahan dengan mereka secara rahasia,kecuali sekedar mengucapkan (kepada
mereka) perkata'an yang ma'ruj. Dan janganlah kalian ber'azam(bertetap hati)untuk berakad nikah,
sebelum habis masa idahnya. Dan ketahuilah,bahwasannya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati
kalian, maka takutlah kepada-Nya."(Al-Baqarah:235). Mudah-mudah bisa bermanfaat untuk kita smua
amin, Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya :Epiani (Bdn Pulogelima) Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : Ds.Pulo gelima Jabatan : Penghulu Pertama
Tanggal Konsultasi :18 juli 2014 Unit Kerja : KUA Kec.tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak penghulu yang terhormat, dikampung kami ada satu masalah, seorang pria menikahi
wanita yang sedang hamil karena laki-laki ini yang menghamilinya lalu diminta pertanggung
jawaban, bagaimana pernikahan tersebut? Apakah sah? lalu setelah melahirkan apakah harus
mengulangi akad nikah?

Jawaban :

Saudari Elpiani yang dirahmati oleh Allah, banyaknya terjadi pergaulan bebas sekarang dapat
merusak pemuda-pemuda kita, ini yang sangat disayang didaerah kita. Mengenai pernikahan yang
dilakukan oleh warga saudara, apabila Apabila yang menikahi wanita hamil tersebut adalah orang yang
menghamilinya, nikahnya sah berdasarkan firman Allah dalam QS. 24:3: Laki-laki yang berzina tidak
mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang
berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian
itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.

Boleh dan tidaknya melakukan hubungan suami istri akan tergantung pada sah dan tidaknya
pernikahan. Oleh karena itu jika nikahnya sah (yakni bila yang menikahinya adalah yang menghamilinya)
maka boleh melakukan hubungan suami istri. Tetapi bila tidak sah (yang menikahi bukan yang
menghamili), maka haram untuk melakukan hubungan suami istri. Kalau pernikahannya sudah sah, maka
tidak perlu mengulang akadnya.

Dalam Kompilasi Hukum Islam(KHI), Bab VIII Kawin Hamil sama dengan persoalan
menikahkan wanita hamil. Pasal 53 dari BAB tersebut berisi tiga(3) ayat , yaitu : 1. Seorang wanita hamil
di luar nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya. 2. Perkawinan dengan wanita hamil
yang disebut pada ayat(1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya. 3. Dengan
dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang
dikandung lahir. Persoalan menikahkan wanita hamil apabila dilihat dari KHI, penyelesaiaanya jelas dan
sederhana cukup dengan satu pasal dan tiga ayat. Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Syahpitri Ginting Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : Uyemberiring Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 17 Agustus 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :
Pak Penghulu, ada kasus begini, ayah calon mempelai sudah meninggal, siapa saja yang
dikatakan wali Nasab untuk sahnya pernikahan Pak?

Jawaban :

Sdr Syahpitrii yang dirahmati allah, mungkin anda penasaran kenapa kami menyuruh wali anda
untung datang kekantor KUA, yang pertama sekali kami ingin mengetahui apakah orang tersebut benar-
benar termasuk wali anda. Sejauh mana hubungan anda dengan wali tersebut. Adapun dalam mazhab
syafii, urutan wali adalah sebagai berikut :

1. Ayah kandung
2. Kakek, atau ayah dari ayah
3. Saudara (kakak / adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu
4. Saudara (kakak / adik laki-laki) se-ayah saja
5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
7. Saudara laki-laki ayah
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu)

Daftar urutan wali di atas tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga bila ayah kandung
masih hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wali pada nomor urut berikutnya.
Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin dan haknya itu kepada mereka.
Penting untuk diketahui bahwa seorang wali berhak mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain,
meski tidak termasuk dalam daftar para wali. Hal itu biasa sering dilakukan di tengah masyarakat dengan
meminta kepada tokoh ulama setempat untuk menjadi wakil dari wali yang sah. Dan untuk itu harus ada
akad antara wali dan orang yang mewakilkan. Namun hak perwalian itu tidak boleh dirampas atau
diambil begitu saja tanpa izin dari wali yang sesungguhnya. Bila hal itu dilakukan, maka pernikahan itu
tidak sah dan harus dipisahkan saat itu juga. Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Suhaimi (Bidan Setul) Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : Ds. Setul Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 25 September 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pak Penghulu mau tanya sedikit, bagaiamana lafadh ijab qabul akad nikah yang sah?
Apakah dalam lafadh ijab qabul harus satu nafas tidak boleh terputus?

Jawaban :

Sdri Suhaimi, memang fenomena saat ijab qabul sangat menegangkan bahkan ada yang komentar
tidak boleh tarik nafas dalam proses ucapan Ijab atau ucapan Qabul. Perlu saudari ketahui untuk sahnya
akad nikah yaitu Terpenuhinya Rukun dan syarat Nikah.

Bersambungnya Ijab Qabul yang dapat diwujudkan dengan diadakan dalam satu majlis atau
harus berada dalam satu lokasi. Karena ijab hanya bisa menjadi bagian dari transaksi bila ia bertemu
langsung dengan qabul. Perlu dicatat, bahwa kesamaan lokasi tersebut disesuaikan dengan kondisi.
Transaksi itu bisa berlangsung melalui pesawat telpon. Dalam kondisi demikian, lokasi tersebut adalah
masa berlangsungnya percakapan telpon. Selama percakapan itu masih berlangsung, dan line telpon
masih tersambung, berarti kedua belah pihak masih berada dalam lokasi transaksi.

Tidak terselingi jeda yang panjang yang menunjukkan ketidak inginan salah satu pihak.
Tidak adanya hal yang menunjukkan penolakan atau pengunduran diri dari pihak kedua merupakan
syarat, karena adanya hal itu membatalkan transaksi ijab. Kalau datang lagi penerimaan sesudah itu,
sudah tidak ada gunanya lagi, karena tidak terkait lagi dengan ijab sebelumnya secara tegas sehingga
transaksi bisa dilangsungkan.

Jelaslah di sini, maksud dari Kompilasi Hukum Islam, pada Hukum Perkawinan bagian kelima
Akad Nikah pasal 27 disebutkan Ijab dan qabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas
beruntun dan tidak berselang waktu. Inilah yang dimaksud dalam syarat ijab qabul yang disampaikan dan
dijelaskan sebelumnya. Sehingga, bukan yang difahami salah oleh sebagian orang yang mewajibkan harus
satu nafas. Yang sesuai dengan syariat adalah yang bersambung dalam satu majelis dan tidak ada jeda
panjang yang menunjukkan ketidaksetujuan salah satu pihak yang terkait. Semoga hal ini bisa menjadi
penjelasan atas masalah yang saudara tanyakan. Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Asmaini(bdn Py Kmr) Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat :Ds. Paya kumar Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi :11 oktober 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pak Kua saya mau bertanya.Apakah anak angkat mendapatkan warisan? karena anak angkat
ini sudah masuk dalam KK dan daftar gaji!

Jawaban :

Sdri Asmaini yang dirahmati oleh allah. Sangat menarik pertanyaan saudara berhubung selama
ini sangat banyak dalam masyarakat kita mengadopsi anak sehingga oleh sebagian orang mengira anak itu
sebagai pewaris, karena dia di adopsi sejak kecil. Perlu saudari ketahui untuk Anak angkat tidak
menjadi ahli waris orang tua angkat, maka ia tidak mendapat warisan dari orang tua angkatnya.
Demikian juga orang tua angkat tidak menjadi ahli waris anak angkatnya, maka ia tidak
mendapat warisan dari anak angkatnya. Anak angkat boleh mendapat harta dari orang tua
angkatnya melalui wasiat. Demikian juga orang tua angkat boleh mendapat harta dari anak
angkatnya melalui wasiat. Besarnya wasiat tidak boleh melebihi 1/3 harta

Jika nanti terbukti bahwa Anda ternyata memang bukan anak kandung, tidak ada hak
waris untuk Anda. Tetapi ini tidak berarti Anda tidak berpeluang sama sekali untuk mendapat
bagian. Para ahli waris (saudara-saudara Anda) dianjurkan untuk memberi sebagian harta waris
itu kepada kerabat atau fakir miskin meskipun mereka bukan ahli waris. Dan harta yang
diberikan kepada orang bukan ahli waris itu tidak boleh lebih dari sepertiga dari jumlah
keseluruhan warisan.

Hal ini dengan cukup jelas disebutkan di dalam al-Quran demikian: Dan apabila
sewaktu pembagian (harta warisan) itu hadir beberapa kerabat (yang tidak mempunyai hak
waris dari harta warisan), anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari
harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (Q.S. an-Nisa [4]: 8).

Demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya. wallahu alam

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Juliani Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.Pantan kella Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 25 November 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Bapak KUA yang saya hormati, Apakah wanita haid atau sedang berhalangan
boleh memandikan jenazah dan ziarah kubur?

Jawaban :

Ibu Juliani yang saya hormati, Hal ini diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid untuk
memandikan dan memakaikan kain kafan jenazah perempuan atau jenazah suaminya. Haid
(Menstruasi) bukanlah halangan untuk memandikan jenazah. Boleh bagi Orang Junub dan wanita
Haid memandikan janazah, sedang menurut Imam al-Hasan, Ibn Siriin dan Imam Malik
menghukumi boleh tapi makruh. Alasan kami (syafiiyyah) karena mereka berdua suci (tidak
najis).

Orang Junub dan wanita Haid boleh memandikan janazah dengan tanpa ada
kemakruhan karena mereka berdua suci (tidak najis) maka seperti lainnya, bila mereka berdua
mati cukup dimandikan sekali, ini ada dalam Raudhah at-Thaalibiin II/108. Dari pamahaman
teks tersebut saya setuju tentang bolenya wanita yang sedang halangan memandikan jenazah.
Kemudian untuk ziarah kubur belum ada dalil AL-quran maupun Hadist yang saya baca tentang
larangan mengerjakannya, yang dilarang membaca al qur an dan shalat bagi wanita haid .
Mudah-mudahan bisa anda pahami. Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Desy Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP. Buntul musara Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 27 Desember 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Ustadz saya mau tanya, bagaimana hukum puasa bagi orang yang junub setelah
melakukan hubungan suami istri, tetapi dia belum mandi setelah fajar, apakah puasanya sah?

Jawaban :

Ibu. Desy yang Mulia, adapun Puasanya sah jika dia yakin telah suci sebelum terbit fajar.
Yang penting dia yakin bahwa dirinya suci, karena sebagian mengira bahwa dirinya telah suci
tapi ternyata belum. Maka dari itu, ada seorang wanita datang kepada Aisyah dengan membawa
kapas, lalu memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kesucian. Aisyah berkata kepadanya,
Janganlah tergesa-gesa hingga kamu melihat kapas itu putih. Maka, wanita itu harus berhati-
hati hingga dia yakin bahwa dia telah suci. Jika dia telah suci, maka dia boleh berniat puasa
walaupun belum mandi, kecuali setelah terbit fajar. Tetapi dia juga harus memperhatikan shalat,
sehingga dia segera mandi dan mengerjakan shalat Subuh pada waktunya.

Kami pernah mendengar, ada sebagian wanita yang telah suci setelah terbit fajar atau
sebelumnya, tetapi dia tidak segera mandi hingga setelah matahari terbit dengan alasan bahwa
dia ingin mandi dengan sempurna, lebih bersih dan lebih suci. Cara semacam ini salah, baik di
bulan Ramadhan, maupun di luar Ramadhan, karena yang wajib dilakukannya adalah segera
mandi dan shalat pada waktunya. Dia harus segera mandi wajib agar bisa melaksankan shalat.
Jika dia ingin lebih bertambah suci dan bersih setelah matahari terbit, maka dia bisa mandi lagi
setelah itu.

Seperti wanita haid ini, jika ada wanita junub dan belum mandi kecuali setelah terbit
fajar, maka tidak apa-apa dan puasanya sah. Begitu juga seorang laki-laki yang junub dan belum
mandi kecuali setelah terbit fajar dan dia puasa, maka hukumnya boleh, karena dijelaskan dalam
sebuah hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwas beliau menemui waktu fajar dalam
keadaan junub karena menggauli isterinya, lalu beliau puasa dan mandi setelah terbit fajar (HR.
al-Bukhari dan Muslim). Wallahu alam Bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Sidin Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.Perlak Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 09 september 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak Ustad apa dalil puasa sunat Arafah? Apakah harus mengikuti tanggal wukuf jamaah
haji di Arafah? kapan terakhir takbiran pada hari raya idul Adha.

Jawaban :

Sdra Sidin yang terhormat , dalil puasa Arafah jelas dari sabda Rasulullah SAW, dan
mengenai yang mana harus kita ikut, ini sangat menarik, karena di negara kita ini sereng terjadi,
berbeda hari 9 Zulhijjah dengan Negara Arab Saudi. Adapun dalil Puasa sunat pada hari Arafah.
Sabda Baginda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud : "Puasa pada hari Arafah itu menghapuskan
dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang." (Hadis riwayat Muslim).

Hari Arafah adalah bertepatan dengan 9 Zulhijjah. Tidak ada dalil syara yang
menetapkan bahawa puasa Arafah mesti dilakukan serentak dengan masa wukuf jemaah haji di
Arafah. Sebaliknya, ia disunatkan pada tanggal 9 Zulhijjah. Bahkan, dengan bentuk dunia yang
bulat dan perbezaan waktu, puasa yang dilakukan di benua dan rantau selain dari tanah suci,
tidak akan dapat dijalankan serentak dengan wuquf, walau dilaksanakan pada hari wuquf itu
sendiri.

Bertakbir, bertahmid dan bertahlil kepada Allah, serta berselawat ke atas Baginda
Rasulullah S.A.W. bermula dari subuh hari Arafah (9 Zulhijjah) sehingga waktu Asar hari
tasyriq yang terakhir (13 Zulhijjah). Ini berdasarkan Hadith Jabir r.a. yang bermaksud bahawa
Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. bertakbir pada solat Fajar hari Arafah, sehingga waktu Asar
daripada hari tasyriq yang terakhir, selepas Baginda memberi salam dari solat fardhu. (riwayat
Ad-Daruqutni). Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Lara sati Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.perlak Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 17 Juni 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :Tgk, Kiban hukumnya kalau kita tidak membaca al-fatihah ketika shalat
berjama'ah, dikarenakan imam membaca ayatnya pendek! Bagaimana shalat kita?
Apakah Sah tgk?
Jawaban : Sdri. Lara sati yang dirahmati Allah SWT, adapun membaca Al-Fatihah
merupakan salah satu rukun dalam shalat, dan rukun merupakan inti dari suatu perbuatan,
apabila tidak dilakukan maka batal perbuatan tersebut. Ini berdasarkan apa yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah saw bersabda: "
Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah).

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan apakah makmum wajib
membaca al-fatihah atau tidak dalam shalat jamaah? Nah disini ada yang mengatakan makmum
tetap wajib membaca surat al-fatihah sebagaimana ia wajib atas imam. Hal ini didasarkan pada
redaksi umum dari hadis berikut, " Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat al-fatihah. "
Ada juga yang mengatakan bahwa makmum sama sekali tidak wajib membaca baik itu surat al-
fatihah maupun bacaan lainnya. Dalilnya adalah, " Siapa yang memiliki imam (shalat
berjamaah), maka bacaan imam sudah cukup untuknya." Pendapat ketiga, mengatakan bahwa
makmum hanya wajib membaca al-fatihah pada shalat shalat yang bacaan suratnya tidak jahar
sebagaimana riwayat di atas. Namun, tidak wajib pada shalat yang bacaan suratnya jahar.
Rasulullah saw. Bersabda, "Imam diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir, hendaknya kalian
bertakbir. Dan jika ia membaca (surat) hendaknya kalian diam mendengarkan." (HR Abu
Daud.)

Dengan demikian jika anda shalat bersama imam dan memiliki kesempatan untuk
membaca al fatihah hingga selesai sebelum imam ruku maka hendaklah anda membacanya
hingga selesai. Akan tetapi jika anda belum selesai membacanya sementara imam sudah
bertakbir untuk ruku maka hendaklah anda ruku bersamanya walaupun anda belum
menyelesaikan bacaan al Fatihah tersebut dikarenakan tidak mungkinnya menyelesaikan bacaan
tersebut, berdasarkan hadits Abu Hurairah diatas. Semoga bermanfaat . Wallahu alam Bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Manap Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP. Buntul Musara Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 20 oktober 2014 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Perdebatan Terjadi di kampung saya ini, tentag saksi nikah, ketika mau
melaksanakan sebuah pernikahan, selalu berdebat siapa yang sah menjadi saksi, seolah-
olah kalau belum datang tgk imum nikah belum sah, Siapa sebenarnya yang berhak
menjadi saksi nikah, apakah harus tgk imam?

Jawaban :

Bapak Manap yang mulia, Saksi dalam perkawinan merupakan rukun pelaksanaan akad
nikah. Setiap perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi, siapa yang berhak menjadi
saksi? Kalau seseorang memenuhi syarat untuk menjadi saksi tentu siapa saja boleh menjadi
saksi, tidak mesti tgk imam. Namun kenapa juga disebagian daerah mengharuskan tgk imam?
Karena tgk imam dianggap mereka yang paling memenuhi syarat untuk menjadi saksi, untuk
menghilangkan keraguan sah tidaknya nikah Karen harus saksi yang adil. Tgk imam mungkin
secara zahir mereka menjaga jamaah shalat dan hal-hal lainnya, dibandingkan dengan
masyarakat lain, ini juga bukan berarti harus tgk imam. Tapi tgk imam hanya di anggap lebih
layak atau sudah menjadi sebuah adat digampong kita tgk imam merupakan orang yang dituakan.
Dalam Pasal 25 Yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-
laki muslim, adil, aqil baligh, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli. Kemudian
Pasal 26 Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akdan nikah serta menandatangani
Akta Nikah pada waktu dan ditempat akad nikah dilangsungkan. Mudah-mudahan bisa
dimaklumi bahwasanya menjadi saksi nikah itu bukan jabatan atau posisi sesorang akan tetapai
siapa yang memenuhi syarat menjadi saksi nikah. Jabatan apa saja sah untuk menjadi saksi
nikah. Wallahu Alam bissawab

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Jalim Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.Pulo Gelima Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 06 Januari 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :
pak, saya suka sama anak perempuan bibi saya, dan kami semakin hari semakin
dekat, dan sudah merancang untuk membina rumah tangga. yang menjadi pertanyaan
Apakah kita boleh menikah dengan sepupu , bagaimana pandangannya kalau menikah
dengan saudara dekat?
Jawaban :
Bapak Jalim yang terhormat, perlu diketahui bahwa Sepupu bukanlah termasuk kepada
wanita yang haram untuk dinikahi, salah satu rukun Nikah yaitu adanya mempelai ( suami/istri )
dan mempelai tersebut sah untuk menikah dengan pasangannya , dalam artian wanita tersebut
bukanlah mahram atau yang haram baginya untuk menikah. Saudara sepupu tidak termasuk
mereka yang haram untuk dinikahi dalam Islam. Namun perlu bapak Jalim ketahui.. meskipun
kita boleh menikahi saudara sepupu, tetap saja ada resiko kecil akan terjadi, yaitu masalah
genetika pada anak-anak mereka dan itu menjadikan pernikahan antar sepupu tidak dianjurkan.
Walaupun tidak diharamkan.Satu faktor penting, yang cukup layak disebutkan, adalah
kecenderungan yang ada dimasyarakat, bahkan sampai sekarang, masih menjaga sifat kesukuan.
Orang-orang di dalamnya hanya saling mengenal melalui jalur keluarga. Padahal jelas salah satu
tujuan pernikahan yaitu untuk menyambung silaturrahim.

Adapun pernikahan dengan Wanita Mahram , Allah mengharamkan kita untuk


menikahi wanita yang memiliki hubungan mahram dengan kita. Hal ini Allah tegaskan dalam
firman-Nya di surat an-Nisa, ayat 23. Pada ayat tersebut Allah menyebutkan beberapa wanita
yang tidak boleh dinikahi oleh lelaki, karena status mereka sebagai mahram. Terkait masalah ini,
saudara sepupu bukanlah mahram. Karena Allah menghalalkan untuk menikahi saudara sepupu.
Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya, (QS. Al-Ahzab: 50), Ayat ini secara tegas
menujukkan bolehnya menikahi saudara sepupu. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu alam
bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya :Saujah Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat :KP.Kuala jernih Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi :05 Februari 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak KUA yang saya hormati, Saya ingin tanya sedikit , bagaimana status nikah kalau
wali jarang mengerjakan shalat , tapi wali tersebut tetap ingin menjadi wali nikah anaknya.
Karena masyarakat dari bermacam golongan hadir ke tempat tersebut, kemudian di antaranya
ada yang protes, dan akhirnya akad nikah tetap dilaksanakan dengan ayah wanita tersebut tetap
menjadi wali nikah. bagaimana pernikahan tersebut?

Jawaban :

Ibu Saujah yang dirahmati ALLAH SWT, Diantara syarat dalam pernikahan adalah adanya wali,
dimana pernikahan tanpa wali menjadikannya tidak sah. Namun islam meletakkan beberapa syarat bagi
keabsahan seorang wali, diantaranya harus beragama islam. Seorang wanita muslimah yang menikah
tidak boleh menjadikan ayahnya sebagai wali dalam nikahnya apabila dia adalah non muslim. syarat sah
seseorang menjadi wali dalam pernikahan adalah merdeka, berakal, dewasa, dan muslim. Dalam hal ini
kebaikan agama seseorang tidak menjadi syarat. Dengan kata lain, orang muslim yang fasik tetap bisa
menjadi wali asalkan kefasikannya tidak sampai melampaui batas dan melakukan pelanggaran besar. Ini
terdapat dalam fiqih sunah, Sayyid Sabiq.

Ibu saujah yang terhormat, kalau mengikuti pandangan Imam Syafii, Hanafi dan Malik, orang
muslim yang tidak shalat tersebut masih tetap bisa menjadi wali. Namun, menurut al-Imam Ahmad tidak
bisa karena sudah tergolong kafir. Adapun perwalian orang fasiq terhadap wanita muslimah, para ulama
berselisih pendapat.

Adapun Mengenai menilai adil atau tidaknya wali nikah, secara teknis sulit untuk
dilakukan, karena lazimnya penghulu hanya bertemu dengan wali nikah sekali atau dua kali:
ketika menerima pemberitahuan kehendak nikah dan ketika akad nikah. Sementara, untuk
menyimpulkan kualitas adil dalam pengertian berpegang teguh kepada agama dengan
melaksanakan kewajibannya dan meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak menganggap remeh
dosa kecil, memerlukan penelitian mendalam, dengan melihat hidup keseharian wali nikah.wali
tersebut harus taubat dan berkomitmen untuk melaksanakan shalat. Wallahu a'lam bish-shawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : M. isa Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.Rerebe Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 23 Maret 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :
Pak PenghuluSaya mempunyai seorang kakak yang beda umur 4 tahun, dan
kakak saya belum berumah tangga, namun saya telah mendapat seseorang yang sudah
siap untuk membangun rumah tangga dengan saya. Dan saya selalu menolak atau
menghindarnya, dikarenakan kakak saya belum menikah. Bagaimana solusinya? Apakah
kita harus menunggu kakak kita, takut melanggar adat istiadat di daerah kita!

Jawaban :
Bapak Muhammad Isa yang dirahmati Allah, Adat bukanlah penghalang kita untuk melaksanakan
akad nikah, Ada beberapa halangan yang membuat laki-laki atau wanita ragu-ragu untuk menikah, di
anataranya yaitu karena menjaga adat, hal angan karena adat istiadat, misalnya kakak belum menikah
tapi adik sudah siap. Karena kakaknya belum menikah jadi dia mempertimbang juga untuk menikah .
bahkan dia menolak kalau ada yang datang melamarnya, alasaannya kakak belum menikah.Sama seperti
kasus saudari, Ini tidak menjadi acuan halangan untuk menikah, dan tidak ada anjuran dari syariat untuk
antri atau menunggu kakak duluan, kalau anda sudah siap lahir batin dan dikhawatirkan kalau anda tidak
segera menikah maka perbuatan keji akan terjadi. Selama agamanya bagus, tidak ada masalah. Bila
seorang laki-laki yang baik agamanya melamar kita, kita menolaknya maka akan terjadi kemungkaran.

Seperti dalam sabda Rasulullah Saw Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk
meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak
engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata
di muka bumi.(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Maka untuk Bapak M.isa jangan ragu dan menunggu, karena ini adalah kebaikan, untuk
menyelesaikan masalah ini dengan baik dan bijak berbicaralah dengan kakak dan keluarga
.semoga dimudahkan. Amin .Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Zainudin Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP. Rerebe Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 24 April 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya
Pertanyaan :

Pak pemghulu..Bagaimana hukumnya perempuan menikah tetapi dengan wali


hakim, sementara dia masih memiliki wali nasab (ayah) tapi walinya tidak mau
menikahkannya! Dan siapa sebenarnya wali hakim?

Jawaban :

Bapak Zainudin yang terhormat.Wali tidak seharusnya menolak keinginan anaknya untuk
menikah. Jika wali tidak mau menikahkan, harus dilihat dulu alasannya, apakah alasan syari atau alasan
tidak syari. Alasan syari adalah alasan yang dibenarkan oleh hukum syara, misalnya anak gadis wali
tersebut calon suaminya adalah orang kafir (misal beragama Kriten/Katholik), atau orang fasik (misalnya
pezina dan suka mabok), Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syari seperti
ini, maka wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim) . Jika
seorang perempuan memaksakan diri untuk menikah dalam kondisi seperti ini, maka akad nikahnya tidak
sah alias batal, meskipun dia dinikahkan oleh wali hakim. Sebab hak kewaliannya sesungguhnya tetap
berada di tangan wali perempuan tersebut, tidak berpindah kepada wali hakim. Jadi perempuan itu sama
saja dengan menikah tanpa wali, maka nikahnya batil. Sabda Rasulullah SAW,Tidak [sah] nikah kecuali
dengan wali. (HR. Ahmad).

Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syari, yaitu alasan yang
tidak dibenarkan hukum syara. Misalnya calon suaminya bukan dari suku yang sama, orang miskin,
bukan sarjana, atau wajah tidak rupawan, dan sebagainya. Ini adalah alasan-alasan yang tidak ada
dasarnya dalam pandangan syariah, maka tidak dianggap alasan syari. Jika wali tidak mau menikahkan
anak gadisnya dengan alasan yang tidak syari seperti ini, maka wali tersebut disebut wali adhal. Wali
tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya berpindah kepada wali hakim.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,jika mereka wali berselisih/bertengkar tidak mau
menikahkan], maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang perempuan yang tidak punya wali.
Yang dimaksud dengan wali hakim, adalah wali dari penguasa, yang dalam hadits di atas disebut dengan
as-sulthan. Untuk mendapatkan wali hakim, datanglah ke Kepala KUA Kecamatan tempat calon
mempelai perempuan tinggal. Hal ini karena di Indonesia sejak 14 Januari 1952 berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 1 Tahun 1952, wali hakim dijalankan oleh Kepala KUA Kecamatan.Wallahu alam
bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Aida Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP. Rerebe Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 06 Mei 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak ustad yang terhormat Sekarang sangat banyak iklan anjuran untuk
mengikuti KB, dan kami mungkin setuju dengan pogram Kb tersebut, Tapi bagaimana
hukumnya KB (Keluarga Berencana tersebut), haruskah mendapat izin suami?

Jawaban :

Ibu Aida yang di rahmati oleh Allah, perlu dipahami lebih dulu pengertian KB, yaitu ada
dua macam : Pertama, KB dapat dipahami sebagai suatu program nasional yang dijalankan
pemerintah untuk mengurangi populasi penduduk, karena diasumsikan pertumbuhan populasi
penduduk tidak seimbang dengan ketersediaan barang dan jasa. KB dalam pengertian pertama
ini diistilahkan dengan tahdid an-nasl (pembatasan kelahiran). Kedua, KB dapat dipahami
sebagai aktivitas individual untuk mencegah kehamilan (manu al-hamli) dengan berbagai cara
dan sarana (alat). Misalnya dengan kondom, IUD, pil KB, dan sebagainya. KB dalam pengertian
kedua diberi istilah tanzhim an-nasl (pengaturan kelahiran).

Sedangkan Hukum Tahdid An-Nas untuk membatasi jumlah populasi penduduk (tahdid
anl-nasl), tidak dibolehkan oleh syariat. Kecuali sakit atau mudharat lain yang dapat
membahayakan , baik istri maupun bayi! karena bertentangan ayat-ayat yang menjelaskan
jaminan rezeqi dari Allah untuk seluruh makhluknya. Sedangkan Hukum Tanzhim an-Nasl KB
dalam arti pengaturan kelahiran, yang dijalankan oleh individu untuk mencegah kelahiran
(manu al-hamli) dengan berbagai cara dan sarana, hukumnya dibolehkan. Dalil kebolehannya
antara lain hadits dari sahabat Jabir RA yang berkata,Dahulu kami melakukan azl [senggama
terputus] pada masa Rasulullah SAW sedangkan al-Qur`an masih turun. (HR Bukhari).
Namun kebolehannya disyaratkan tidak adanya bahaya (dharar). Kaidah fiqih menyebutkan :
Adh-dhararu yuzaal (Segala bentuk bahaya haruslah dihilangkan) Kebolehan pengaturan
kelahiran juga terbatas pada pencegahan kehamilan yang temporal (sementara), misalnya dengan
pil KB dan kondom. Adapun penggunaannya harus ada izin suami dan dalam hal ini perlunya
musyawarah bersama suami istri. Wallahu alam bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya :Sriwahyuni Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.Pantan kella Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 07 juni 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :Pak,
Saya Pernah dengar dari Tgk ngaji saya , bahwasanya tidak
boleh memotong kuku, rambut kalau sedag haid? Bagaimana dalam hukum islam , apakah
ada sumber yang melarang?

Jawaban :

Ibu sriwahyuni yang saya hormati, Saya Belum menemukan dalil syar'i atas Larangan
atau makruhnya menghilangkan rambut dan memotong kuku bagi orang junub.menurut saya
hukumnya boleh memotong rambut dan kuku bagi perempuan yang sedang haid , Karena tidak
ada dalil hadits maupun Al Quran yang melarang seorang perempuan yang sedang haid
memotong kuku dan rambutnya. Dasar hukumnya adalah sebagai berikut: ada ulama yang
menyatakan: Menurut nash madzhab Syafi'i, perempuan haid boleh memotong kuku, bulu
kemaluan, dan bulu ketiak berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan
kata-kata Nabi saat Aisyah haid pada waktu haji wada'

" :


:
" :


) .
Arti kesimpulan: Nabi memerintahkan Aisyah untuk menyisir rambut pada saat haid (
Seperti diketahui, menyisir rambut sangat berpotensi menggugurkan rambut. Itu artinya Nabi
mengijinkan perempuan menggugurkan rambutnya saat haid. Wallahu alam bissawab

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006

PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM


PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA
Yang bertanya : Mastina Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI
Alamat : KP. Pulogelima Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 12 juli 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak Penghulu yang terhormat, Apakah Janda yang mau menikah lagi boleh
Menikah tanpa wali? Karena mereka tidak perlu minta izin atau persetujuan dari orang
tuannya!!

Jawaban :

Ibu Matina yang di rahmati Allah. Nikah harus ada wali ,beda antara izin dan wali.
Izinnya wanita gadis adalah ayahnya dan izinnya janda aadalah dirinya. Bahwasannya diantara
syarat-syarat nikah adalah adanya wali, artinya seorang wanita yang menikahkannya adalah
walinya, hal ini berdasarkan hadist, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : Siapa
saja seorang wanita yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya bathil (tidak sah),
pernikahannya bathil, pernikahannya bathil (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dll, dari Aisyah
Radiyallahu anha )

Begitu juga dalam hadist lain, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : Tidak
sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi adil ( HR. Abdurrazaq, ath Thabrani)

Persyaratan adanya wali ini berlaku bagi wanita yang belum pernah menikah (gadis) atau
janda. Dalil-dalil diatas tidak mengkhususkan gadis saja tanpa janda akan tetapi umum. Maka
jika seorang wanita baik itu gadis atau janda menikah tanpa wali maka pernikahannya tidak sah.
Waallahu alam Bissawab.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006

PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM


PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA
Yang bertanya : Yuni Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI
Alamat : KP. Paya kumar Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 19 Agustus 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak KUA,Hargaemas kan mahal, seolah -olah sudah menjadi kebutuhan wajib bagi
setiap laki-laki yang mau menikah, kerena bayak sekali yang saya dapatkan maharnya
adalah emas. sehingga saya heran. Apakah betol mahar itu harus emas? Apakah mahar
bisa dengan benda yang lain??apakah sah kalau tidak ada mahar?

Jawaban :

Ibu Yuni Sebelumnya perlu kita ketahui apa itu mahar! Agar kita bisa melihat apakah
mahar tersebut harus emas? Atau boleh dengan benda yang lain ? Mahar adalah harta atau
pekerjaan yang diberikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan sebagai pengganti,
dalam sebuah pernikahan menurut kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak, atau berdasarkan
ketetapan dari si hakim. Dalam bahasa Arab, mas kawin sering disebut dengan istilah mahar,
shadaq, faridhah dan ajr.

Adapun Para ulama telah sepakat bahwa mahar hukumnya wajib bagi seorang laki-laki
yang hendak menikah, baik mahar tersebut disebutkan atau tidak disebutkan sehingga si suami
harus membayar mahar mitsil. Oleh karena itu, pernikahan yang tidak memakai mahar, maka
pernikahannya tidak sah, walaupun mahar tersebut tidak dibayar tunai. Dalam kamus besar
bahasa indonesia mendefenisikan mahar itu dengan : pemberian wajib berupa uang atau barang
dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan pernikahan
Mahar merupakan tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita.
Allah Subhanahu wa Taala telah berfirman :Berikanlah mahar (maskawin) kepada wanita (yang
kamu nikahi) sebagai pemberian yang wajib. (Qs. An-Nisa : 4)
Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan memberikan mahar kepada wanita yang
hendak dinikahi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa mahar merupakan syarat sah
pernikahan. Pernikahan tanpa mahar berarti pernikahan tersebut tidak sah, meskipun pihak
wanita telah ridha untuk tidak mendapatkan mahar. Kita bebas menentukan bentuk dan jumlah
mahar yang kita inginkan karena tidak ada batasan mahar dalam syariat Islam. Namun Islam
menganjurkan agar meringankan mahar. Wallahu alam bissawab!!
Mengetahui: Yang Menjawab,
Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Mustholih Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP.Paya Kumar Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 06 September 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak KUA yang mulia,Pada saat bulan ramadhan kemarin ,saya shalat insya dan
terawih dibebarapa mesjid, namun ada sebagian mesjid ,imamnya tidak membaca
basmalah pada saat membaca alfatihah dalam shalat, bagaimana shalat tersebut?

Jawaban :
Bapak Mustholi, para ulama berbeda pendapat. Ada yang menyatakan bahwa basmalah
itu termasuk dari surat al-fatihah, tetapi ada pula yang menyatakan tidak.
Memang ada sebuah riwayat yang berasal dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw.
membaca basmalah pada awal al-fatihah di saat salat dan menganggapnya sebagai bagian dari al-
fatihah. Namun hadis ini lemah.

Imam Mlik dan Ab Hanifah berpendapat bahwa basmalah bukan termasuk dari surat
al-Fatihah dan bukan termasuk dari surat-surat lainnya. Al-Syafii berpendapat bahwa basmalah
termasuk bagian dari surat al-fatihah. Sementara,menurut riwayat dari al-Imam Ahmad,
basmalah merupakan satu ayat yang mandiri pada setiap awal surat; bukan bagian darinya.

Namun itu merupakan perbedaan yang biasa terjadi, ini sudah lumrah di sebut masalah
khilafiah, dan apabila saudara shalat dibelakang mereka artinya yang tida membaca basmalah,
shlat kita tetap sah, namun kadang mereka membacanya secara sir ( tidak terdengar suara).
Mudah-mudahan bermanfaat..amin. Wallahu alam bissawab

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Samsuar Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : KP. Setul Jabatan : Penghulu pertama
Tanggal Konsultasi : 10 Oktober 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :
Ustadz, apa hukumnya emas putih?banyaknya sekarang laki-laki yang mau nikah
memakai emas ini dengan alasan bahwa emas ini beda dengan emas biasa, jadi
bolehkah laki-laki memakai emas putih?

Jawaban :

Bapak Samsuar, betul seperti saudara ceritakan, bahwasanya sekarang sangat banyak
orang memakai emas putih, sperti cincin tunangan ,cincin nikah atau lain sebagainya, karena
dianggap bahwa emas putih itu beda dengan emas kuning, akan tetapi menurut ana Emas putih
yang ada saat ini sebenarnya adalah emas hakiki. Hanya saja ada logam tertentu seperti nikel
atau paladium yang dicampurkan sehingga warnanya berubah dari warna asli (kuning). Namun
campuran ini tak menghilangkan sifat aslinya sebagai emas yang sesungguhnya. Dengan
campuran itu, emas putih tak lagi bersifat emas murni (24 karat), namun telah berkurang kadar
karatnya menjadi 18 karat, 21 karat, atau kadar lainnya sesuai jumlah logam yang dicampurkan.

Emas putih sesungguhnya adalah emas asli ditambah dengan campuran logam lain seperti
perak, paladium, nikel, dan platina. Warna asli emas adalah kuning. Tak ada emas yang warna
aslinya putih. Memang ada logam mulia lain yaitu platina, yang dinamai emas putih oleh orang
awam (bukan ahli mineralogi). Dinamakan emas putih mungkin karena warnanya memang
putih dan termasuk logam mulia seperti halnya emas. Bahkan harganya lebih mahal daripada
emas karena langka. Namun menamakan platina emas putih adalah salah kaprah karena tak
sesuai dengan istilah emas putih di kalangan ahli mineralogi.

Hukum syara yang berlaku untuk emas asli berlaku pula untuk emas putih. Hukum-
hukum syara itu antara lain, Pertama, emas putih wajib dizakati jika sudah memenuhi dua
ketentuan; (1) mencapai nishab (85 gram), (2) sudah haul (dimiliki selama satu tahun
qamariyah). Besarnya zakat 2,5 % dari total emas yang dimiliki. Kedua, emas putih haram
dipakai oleh laki-laki.. Wallahu alam.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006
PELAYANAN KONSULTASI KEPENGHULUAN DAN HUKUM ISLAM
PERORANGAN KUA KECAMATAN TRIPE JAYA

Yang bertanya : Khorullah Dijawab Oleh : Bernahan Pasaribu,S.HI


Alamat : Pulo gelima Jabatan : Penhulu pertama
Tanggal Konsultasi : 08 September 2016 Unit Kerja : KUA.Kec.Tripe Jaya

Pertanyaan :

Pak KUA, apa saja kewajiban saya sebagai suami? bagaimana kadar kewajiban terhadap
saya dalam memberi nafkah ?

`Jawaban :

Bapak Khoirullah yang terhormat, keinginan anda untuk mengetahui hal itu sangat mulia, karena
ini juga bagian dari ibadah, sebntar lagi anda akan menjadi imam dalam keluarga kalau anda jadi
menikah, adapun Kewajiban anda sebagai suami yaitu :

1. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-
hal yang urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.
2. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah
tangga sesuai dengan kemampuannya.
3. Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan
belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, dan bangsa.
4. Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung:

-Nafkah dan tempat kediaman bagi istri

-Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak

-Biaya pendidikan bagi anak

Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Hindun, Ambillah dari hartanya yang bisa
mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya (HR. Bukhari).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa yang jadi patokan dalam hal nafkah:

1. Mencukupi istri dan anak dengan baik, ini berbeda tergantung keadaan, tempat dan zaman.
2. Dilihat dari kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan dalam rizki ataukah
tidak.

Termasuk dalam hal nafkah adalah untuk urusan pakaian dan tempat tinggal bagi istri. Patokannya
adalah dua hal yang disebutkan di atas.Mencari nafkah bagi suami adalah suatu kewajiban dan jalan
meraih pahala. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah menunaikan tugas yang mulia ini. Wallahu alam.

Mengetahui: Yang Menjawab,


Kepala KUA Kec.Tripe jaya

Bernahan Pasaribu,SHI Bernahan Pasaribu,SHI


NIP: 19780506200901 1006 NIP: 19780506200901 1006