Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Tidak Menular (PTM) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup
besar di Indonesia. Hal ini ditandai dengan bergesernya pola penyakit secara epidemiologi dari
penyakit menular yang cenderung menurun ke penyakit tidak menular yang secara global
meningkat di dunia dan secara nasional telah menduduki sepuluh besar penyakit penyebab
kematian dan kasus terbanyak, diantaraanya penyakit diabetes melitus (DM).
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2010, Diabetes Melitus (DM) merupakan
suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Saat ini penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka
insidensi dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang DM
yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Estimasi IDF (International Diabetes
Federation), terdapat 382 juta orang yang hidup dengan diabetes di dunia pada tahun 2013. Pada
tahun 2035 jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 592 juta orang. Diperkirakan
dari 382 juta orang tersebut, 175 juta diantaranya belum terdiagnosis, sehingga terancam
berkembang progresif menjadi komplikasi tanpa disadari dan tanpa pencegahan.
WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun
2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan ini menunjukkan adanya peningkatan
jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sedangkan International
Diabetes Federation (IDF) memprediksi adanya kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia
dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003, diperkirakan penduduk
Indonesia yang berusia diatas 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa. Dengan mengacu pada pola
pertambahan penduduk, maka diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk
yang berusia diatas 20 tahun.
Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013 oleh Departemen
Kesehatan, menunjukkan bahwa rata-rata prevalensi DM di daerah urban untuk usia di atas 15
tahun (estimasi sejumlah 176.689.336) sebesar 5,7%, dan meningkat menjadi 6,8% pada tahun
2013. Menurut data Rikerdas tahun 2013 terdapat 0,6% penduduk usia 15 tahun keatas atai
sekitar 1 juta orang yang sebenarnya merasakan gejala diabetes melitus dalam sebulan terakhir

1
namun belum dipastikan/diperiksa apakah menderita diabetes atau tidak. Proporsi terbesar di
Nusa Tenggara Timur (3,3%) dan Sulawesi Tengah (3,7%), sedangkan jumlah terbesar di
provinsi Jawa Barat (32.162.328 /2%). Proporsi di Kalimantan Timur sebanyak 2,7%
(2.753.491). Prevalensi di Samarinda menurut Rikerdas Kalimantan Timur tahun 2007 adalah
sebesar 1,4%.
Diabetes Mellitus Tipe 2 bisa dicegah, ditunda kedatangannya atau dihilangkan dengan
mengendalikan faktor resiko. Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2,
dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya
jenis kelamin, umur, faktor genetik serta ras dan etnik. Yang kedua adalah faktor risiko yang
dapat diubah misalnya kebiasaan merokok dan kurangnya aktivitas fisik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pesrta kelas PTM-DM
2. Bagaimana perilaku merokok pada peserta kelas PTM DM.

1.3 Tujuan Kegiatan


Tujuan pembentukan kelas PTM DM adalah :
1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang diabetes melitus bagi peserta kelas.
2. Meningkatkan peran aktif peserta kelas untuk ikut serta dalam pengendalian dan pencegahan
DM.
3. Memfasilitasi peserta kelas untuk mendapatkan pengobatan 1 bulan.
4. Memfasilitasi peserta kelas untuk mendapatkan pemeriksaan gula darah setiap bulan.
1.4 Manfaat Kegiatan
1. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta kelas tentang diabetes melitus.
2. Peserta kelas akan mendapatkan pengobatan untuk jangka waktu satu bulan
3. Peserta kelas akan lebih dimudahkan untuk melakukan pemeriksaan gula darah setiap
bulannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus


2.1.1 Definisi
Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.

2.1.2 Etiologi dan Klasifikasi


Etiologi dan klasifikasi DM

2
Klasifikasi Etiologi
Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi
insulin absolut
Autoimun
Idiopatik
Tipe 2 Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai
defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek
sekresi insulin disertai resistensi insulin
Tipe lain Defek genetik fungsi sel beta
Defek genetik kerja insulin
Penyakit eksokrin pankreas
Endokrinopati
Karena obat atau zat kimia
Infeksi
Sebab imunologi yang jarang
Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
Diabetes mellitus
gestasional

2.1.3 Patogenesis
Resistensi insulin pada otot dan liver serta kegagalan sel beta pankreas telah dikenal sebagai
patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe-2. Belakangan diketahui bahwa kegagalan sel beta
terjadi lebih dini dan lebih berat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Selain otot, liver dan
sel beta, organ lain seperti jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi
incretin), sel alpha pancreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan
otak (resistensi insulin), kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan terjadinya gangguan
toleransi glukosa pada DM tipe-2. Delapan organ penting dalam gangguan toleransi glukosa ini
(ominous octet) penting dipahami karena dasar patofisiologi ini memberikan konsep tentang:
1. Pengobatan harus ditujukan guna memperbaiki gangguan patogenesis, bukan hanya untuk
menurunkan HbA1c saja
2. Pengobatan kombinasi yang diperlukan harus didasari atas kinerja obat pada gangguan
multipel dari patofisiologi DM tipe 2.
3. Pengobatan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah atau memperlambat progresivitas
kegagalan sel beta yang sudah terjadi pada penyandang gangguan toleransi glukosa.
DeFronzo pada tahun 2009 menyampaikan, bahwa tidak hanya otot, liver dan sel beta
pankreas saja yang berperan sentral dalam patogenesis penderita DM tipe-2 tetapi terdapat organ

3
lain yang berperan yang disebutnya sebagai the ominous octet.

The ominous octet, delapan organ yang berperan dalam patogenesis hiperglikemia pada DM tipe
2
(Ralph A. DeFronzo. From the Triumvirate to the Ominous Octet: A New Paradigm for the Treatment of Type 2
Diabetes Mellitus. Diabetes. 2009;58: 773-795)

Secara garis besar patogenesis DM tipe-2 disebabkan oleh delapan hal (omnious octet) berikut :
1. Kegagalan sel beta pancreas
Pada saat diagnosis DM tipe-2 ditegakkan, fungsi sel beta sudah sangat berkurang. Obat anti
diabetik yang bekerja melalui jalur ini adalah sulfonilurea, meglitinid, GLP-1 agonis dan DPP-4
inhibitor.

2. Liver
Pada penderita DM tipe-2 terjadi resistensi insulin yang berat dan memicu gluconeogenesis
sehingga produksi glukosa dalam keadaan basal oleh liver (HGP=hepatic glucose production)
meningkat. Obat yang bekerja melalui jalur ini adalah metformin, yang menekan proses
gluconeogenesis.

3. Otot
Pada penderita DM tipe-2 didapatkan gangguan kinerja insulin yang multiple di
intramioselular, akibat gangguan fosforilasi tirosin sehingga timbul gangguan transport glukosa

4
dalam sel otot, penurunan sintesis glikogen, dan penurunan oksidasi glukosa. Obat yang bekerja
di jalur ini adalah metformin, dan tiazolidindion.

4. Sel lemak
Sel lemak yang resisten terhadap efek antilipolisis dari insulin, menyebabkan peningkatan
proses lipolysis dan kadar asam lemak bebas (FFA=Free Fatty Acid) dalam plasma. Penigkatan
FFA akan merangsang proses glukoneogenesis, dan mencetuskan resistensi insulin di liver dan
otot. FFA juga akan mengganggu sekresi insulin. Gangguan yang disebabkan oleh FFA ini
disebut sebagai lipotoxocity. Obat yang bekerja dijalur ini adalah tiazolidindion.

5. Usus
Glukosa yang ditelan memicu respon insulin jauh lebih besar dibanding kalau diberikan
secara intravena. Efek yang dikenal sebagai efek incretin ini diperankan oleh 2 hormon GLP-1
(glucagon-like polypeptide-1) dan GIP (glucose-dependent insulinotrophic polypeptide atau
disebut juga gastric inhibitory polypeptide). Pada penderita DM tipe-2 didapatkan defisiensi
GLP-1 dan resisten terhadap GIP. Disamping hal tersebut incretin segera dipecah oleh
keberadaan ensim DPP-4, sehingga hanya bekerja dalam beberapa menit. Obat yang bekerja
menghambat kinerja DPP-4 adalah kelompok DPP-4 inhibitor. Saluran pencernaan juga
mempunyai peran dalam penyerapan karbohidrat melalui kinerja ensim alfa-glukosidase yang
memecah polisakarida menjadi monosakarida yang kemudian diserap oleh usus dan berakibat
meningkatkan glukosa darah setelah makan. Obat yang bekerja untuk menghambat kinerja enzim
alfa-glukosidase adalah akarbosa.

6. Sel Alpha Pancreas


Sel- pancreas merupakan organ ke-6 yang berperan dalam hiperglikemia dan sudah
diketahui sejak 1970. Sel- berfungsi dalam sintesis glukagon yang dalam keadaan puasa
kadarnya di dalam plasma akan meningkat. Peningkatan ini menyebabkan HGP dalam keadaan
basal meningkat secara signifikan dibanding individu yang normal. Obat yang menghambat
sekresi glukagon atau menghambat reseptor glukagon meliputi GLP-1 agonis, DPP- 4 inhibitor
dan amylin.
7. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang diketahui berperan dalam pathogenesis DM tipe-2. Ginjal
memfiltrasi sekitar 163 gram glukosa sehari. Sembilan puluh persen dari glukosa terfiltrasi ini
akan diserap kembali melalui peran SGLT-2 (Sodium Glucose co- Transporter) pada bagian
convulated tubulus proksimal. Sedang 10% sisanya akan di absorbsi melalui peran SGLT-1 pada

5
tubulus desenden dan asenden, sehingga akhirnya tidak ada glukosa dalam urine. Pada penderita
DM terjadi peningkatan ekspresi gen SGLT-2. Obat yang menghambat kinerja SGLT-2 ini akan
menghambat penyerapan kembali glukosa di tubulus ginjal sehingga glukosa akan dikeluarkan
lewat urine. Obat yang bekerja di jalur ini adalah SGLT-2 inhibitor. Dapaglifozin adalah salah
satu contoh obatnya.

8. Otak
Insulin merupakan penekan nafsu makan yang kuat. Pada individu yang obes baik yang DM
maupun non-DM, didapatkan hiperinsulinemia yang merupakan mekanisme kompensasi dari
resistensi insulin. Pada golongan ini asupan makanan justru meningkat akibat adanya resistensi
insulin yang juga terjadi di otak. Obat yang bekerja di jalur Ini adalahGLP-1 agonis, amylin dan
bromokriptin.

2.1.4 Faktor Risiko


Faktor risiko diabetes sama dengan faktor risiko untuk intoleransi glukosa yaitu :
A. Faktor Risiko yang Tidak Bisa Dimodifikasi
Jenis kelamin :
Wanita > laki-laki.Wanita lebih berisiko mengidap diabetes karena secara fisik wanita
memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar. Sindroma siklus bulanan
(premenstrual syndrome), pasca-menopouse yang membuat distribusi lemak tubuh menjadi
mudah terakumulasi akibat proses hormonal tersebut sehingga wanita berisiko menderita
diabetes mellitus tipe2
Umur :
Kelompok umur < 45 tahun merupakan kelompok yang kurang berisiko menderita DM
Tipe 2. Risiko pada kelompok ini 72 persen lebih rendah dibanding kelompok umur 45
tahun. Penelitian Iswanto (2004) juga menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara umur dengan kejadian diabetes mellitus. Selain itu, studi yang dilakukan Sunjaya
(2009) juga menemukan bahwa kelompok umur yang paling banyak menderita diabetes
mellitus adalah kelompok umur 45-52 (47,5%). Peningkatan diabetes risiko diabetes seiring
dengan umur, khususnya pada usia lebih dari 40 tahun, disebabkan karena pada usia tersebut
mulai terjadi peningkatan intolenransi glukosa. Adanya proses penuaan menyebabkan
berkurangnya kemampuan sel pancreas dalam memproduksi insulin (Sunjaya, 2009).
Selain itu pada individu yang berusia lebih tua terdapat penurunan aktivitas mitokondria di
sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar lemak di otot
sebesar 30% dan memicu terjadinya resistensi insulin.

6
Ras dan etnik
Lebih sering pada orang kulit putih.
Riwayat keluarga dengan DM
Risiko menderita DM bila salah satu orang tuanya menderita DM adalah sebesar 15%.
Jika kedua orang tua memiliki DM maka risiko untuk menderita DM adalah 75% (Diabates
UK, 2010). Risiko untuk mendapatkan DM dari ibu lebih besar 10-30% dari pada ayah
dengan DM. Hal ini dikarenakan penurunan gen sewaktu dalam kandungan lebih besar dari
ibu. Jika saudara kandung menderita DM maka risiko untuk menderita DM adalah 10% dan
90% jika yang menderita adalah saudara kembar identik (Diabetes UK, 2010).
Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi >4000 gram atau riwayat pernah
menderita DM gestasional (DMG).
Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan BB
rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding dengan bayi yang lahir dengan BB
normal.
B. Faktor Risiko yang Bisa Dimodifikasi
Merokok
Berat badan lebih (IMT 23 kg/m2).
Individu yang mengalami obesitas mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar untuk terkena
diabetes mellitus dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami obesitas. Adanya
pengaruh indek masa tubuh terhadap diabetes mellitus ini disebabkan oleh kurangnya
aktivitas fisik serta tingginya konsumsi karbohidrat, protein dan lemak yang merupakan
factor risiko dari obesitas. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya Asam Lemak atau
Free Fatty Acid (FFA) dalam sel. Peningkatan FFA ini akan menurunkan translokasi
transporter glukosa ke membrane plasma, dan menyebabkan terjadinya resistensi insulin
pada jaringan otot dan adipose (Teixeria-Lemos dkk,2011).

Kurangnya aktivitas fisik


Aktivitas fisik dapat mengontrol gula darah. Glukosa akan diubah menjadi energi pada
saat beraktivitas fisik. Aktivitas fisik mengakibatkan insulin semakin meningkat sehingga
kadar gula dalam darah akan berkurang. Pada orang yang jarang berolahraga, zat makanan
yang masuk ke dalam tubuh tidak dibakar tetapi ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan
gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi energi maka akan
timbul DM (Kemenkes,2010).
Hipertensi (>140/90 mmHg)
Individu yang mengalami hipertensi mempunyai risiko 1,5 kali lebih besar untuk
mengalami diabetes dibanding individu yang tidak hipertensi.

7
Beberapa literatur mengaitkan hipertensi dengan resistensi insulin. Pengaruh hipertensi
terhadap kejadian diabetes melitus disebabkan oleh penebalan pembuluh darah arteri yang
menyebabkan diameter pembuluh darah menjadi menyempit. Hal ini akan menyebabkan
proses pengangkutan glukosa dari dalam darah menjadi terganggu.
Stress
Orang yang mengalami stres memiliki risiko 1,67 kali untuk menderita DM Tipe 2
dengan orang yang tidak mengalami stres (Andi dkk,2007).
Adanya peningkatan risiko diabetes pada kondisi stres disebabkan oleh produksi
hormone kortisol secara berlebihan saat seseorang mengalami stres. Produksi kortisol yang
berlebih ini akan mengakibatkan sulit tidur, depresi, tekanan darah merosot, yang kemudian
akan membuat individu tersebut menjadi lemas, dan nafsu makan berlebih. Oleh karena itu,
ahli nutrisi biologis Shawn Talbott menjelaskan bahwa pada umumnya orang yang
mengalami stres panjang juga akan mempunyai kecenderungan berat badan yang berlebih,
yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes melitus.
Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan/atau trigliserida >250 mg/dl)
Kadar kolestrol tinggi menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas sehingga terjadi
lipotoksisity. Hal ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan sel beta pankreas yang
akhirnya mengakibatkan DM Tipe 2.
Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi glukosa dan rendah serat akan
meningkatkan risiko menderita prediabetes/intoleransi glukosadan DMT2.

C. Faktor Lain yang Terkait dengan Risiko Diabetes Melitus


Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang terkait
dengan resistensi insulin
Penderita sindrom metabolik yang memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT)
atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya.
Penderita yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, seperti stroke, PJK, atau
PAD (Peripheral Arterial Diseases).

2.1.5 Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa
darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah
vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa
darah kapiler dengan glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan adanya DM perlu
dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:

8
Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan sebabnya.

KriteriaDiagnosis DM

Pemeriksaan glukosa plasma puasa 126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada
asupan kalori minimal 8 jam.

Atau

Pemeriksaan glukosa plasma 200 mg/dl 2-jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral
(TTGO) dengan beban glukosa 75 gram.
Keluha n lain:
lemah Atau badan,
Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu 200 mg/dl dengan keluhan klasik.

kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
Catatan: Saat ini tidak semua laboratorium di Indonesia memenuhi standard NGSP, sehingga
harus hati-hati dalam membuat interpretasi terhadap hasil pemeriksaan HbA1c. Pada kondisi
tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2-3 bulan terakhir,
kondisikondisi yang mempengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi ginjal maka HbA1c tidak
dapat dipakai sebagai alat diagnosis maupun evaluasi.

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan ke
dalam kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa
darah puasa terganggu (GDPT).
Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100-
125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam <140 mg/dl;
Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2 -jam setelah TTGO
antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma puasa <100 mg/dl
Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan HbA1c yang
menunjukkan angka 5,7-6,4%.
Kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis daibetes dan Prediabetes.
HbA1c Glukosa darah Glukosa plasma 2 jam
(%) puasa (mg/dL) setelah TTGO (mg/dL)
Diabetes > 6,5 > 126 > 200
Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199
Normal < 5,7 < 100 < 140

9
Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994):
1. Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien tetap makan (dengan karbohidrat yang cukup)
dan melakukan kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari.
2. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air
putih tanpa glukosa tetap diperbolehkan .
3. Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa.
4. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa), atau 1,75 gram/kgBB (anakanak),
dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit.
5. Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah
minum larutan glukosa selesai.
6. Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa.
7. Selama proses pemeriksaan, subjek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok

Pemeriksaan Penyaring dilakukan untuk menegakkan diagnosis Diabetes Melitus Tipe-2


(DMT2) dan prediabetes pada kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan gejala klasik DM
yaitu:
1. Kelompok dengan berat badan lebih (Indeks Massa Tubuh [IMT] 23 kg/m2) yang disertai
dengan satu atau lebih faktor risiko sebagai berikut:
a. Aktivitas fisik yang kurang.
b. First-degree relative DM (terdapat faktor keturunan DM dalam keluarga).
c. Kelompok ras/etnis tertentu.
d. Perempuan yang memiliki riwayat melahirkan bayi dengan BBL >4 kg atau mempunyai
riwayat diabetes melitus gestasional (DMG).
e. Hipertensi (140/90 mmHg atau sedang mendapat terapi untuk hipertensi).
f. HDL <35 mg/dL dan atau trigliserida >250 mg/dL.
g. Wanita dengan sindrom polikistik ovarium.
h. Riwayat prediabetes.
i. Obesitas berat, akantosis nigrikans.
j. Riwayat penyakit kardiovaskular.

2. Usia >45 tahun tanpa faktor risiko di atas.


Catatan:
Kelompok risiko tinggi dengan hasil pemeriksaan glukosa plasma normal sebaiknya diulang
setiap 3 tahun, kecuali pada kelompok prediabetes pemeriksaan diulang tiap 1 tahun.
Pada keadaan yang tidak memungkinkan dan tidak tersedia fasilitas pemeriksaan TTGO,
maka pemeriksaan penyaring dengan mengunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler,
diperbolehkan untuk patokan diagnosis DM. Dalam hal ini harus diperhatikan adanya perbedaan
hasil pemeriksaan glukosa darah plasma vena dan glukosa darah kapiler seperti pada tabel di
bawah ini.

10
Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM
(mg/dl).
BUKAN DM Belum pasti DM DM
Kadar Gula Plasma Vena <100 100-199 200
Darah
Sewaktu
(mg/dl) Darah Kapiler <90 90-199 200
Kadar Gula Plasma Vena <100 100-125 126
Darah Puasa
(mg/dl) Darah Kapiler <90 90-99 100

2.1.6 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang
diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi :
1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan
mengurangi risiko komplikasi akut.
2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati dan makroangiopati.
3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan
darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara komprehensif.

Langkah-langkah Penatalaksanaan Umum


Perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, yang meliputi:
1. Riwayat Penyakit
Usia dan karakteristik saat onset diabetes.
Pola makan, status nutrisi, status aktifitas fisik, dan riwayat perubahan berat
badan.
Riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda.
Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara lengkap, termasuk terapi
gizi medis dan penyuluhan yang telah diperoleh tentang perawatan DM secara
mandiri.
Pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yang digunakan, perencanaan
makan dan program latihan jasmani.
Riwayat komplikasi akut (ketoasidosis diabetik, hiperosmolar hiperglikemia,
hipoglikemia).
Riwayat infeksi sebelumnya, terutama infeksi kulit, gigi, dan traktus urogenital.
Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik pada ginjal, mata, jantung dan
pembuluh darah, kaki, saluran pencernaan, dll.
Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa darah.

11
Faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat penyakit jantung koroner, obesitas,
dan riwayat penyakit keluarga (termasuk penyakit DM dan endokrin lain).
Riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM.
Karakteristik budaya, psikososial, pendidikan, dan status ekonomi.
2. Pemeriksaan Fisik
Pengukuran tinggi dan berat badan.
Pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan darah dalam posisi
berdiri untuk mencari kemungkinan adanya hipotensi ortostatik.
Pemeriksaan funduskopi.
Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid.
Pemeriksaan jantung.
Evaluasi nadi baik secara palpasi maupun dengan stetoskop.
Pemeriksaan kaki secara komprehensif (evaluasi kelainan vaskular, neuropati,
dan adanya deformitas).
Pemeriksaan kulit (akantosis nigrikans, bekas luka, hiperpigmentasi, necrobiosis
diabeticorum, kulit kering, dan bekas lokasi penyuntikan insulin).
Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe lain.

3. Evaluasi Laboratorium
Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2jam setelah TTGO.
Pemeriksaan kadar HbA1c

4. Penapisan Komplikasi
Penapisan komplikasi harus dilakukan pada setiap penderita yang baru terdiagnosis DMT2
melalui pemeriksaan:
Profil lipid pada keadaan puasa: kolesterol total, High Density Lipoprotein
(HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida.
Tes fungsi hati
Tes fungsi ginjal: Kreatinin serum dan estimasi-GFR
Tes urin rutin
Albumin urin kuantitatif
Rasio albumin-kreatinin sewaktu.
Elektrokardiogram.
Foto Rontgen thoraks (bila ada indikasi: TBC, penyakit jantung kongestif).
Pemeriksaan kaki secara komprehensif.
Penapisan komplikasi dilakukan di Pelayanan Kesehatan Primer. Bila fasilitas belum tersedia,
penderita dirujuk ke Pelayanan Kesehatan Sekunder dan/atau Tersier.

Langkah-langkah Penatalaksanaan Khusus


Penatalaksanaan DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi medis dan

12
aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan obat anti hiperglikemia secara
oral dan/atau suntikan.
1. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai bagian dari
upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM secara
holistik.
Materi edukasi terdiri dari materi edukasi tingka awal dan materi edukasi tingkat lanjutan.
a. Materi edukasi pada tingkat awal dilaksanakan di Pelayanan Kesehatan Primer yang meliputi:
o Materi tentang perjalanan penyakit DM.
o Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara berkelanjutan.
o Penyulit DM dan risikonya.
o Intervensi non-farmakologis dan farmakologis serta target pengobatan.
o Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat antihiperglikemia oral atau
insulin serta obat-obatan lain.
o Cara pemantauan glukosa darah danpemahaman hasil glukosa darah atau urin
mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia).
o Mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia.
o Pentingnya latihan jasmani yang teratur.
o Pentingnya perawatan kaki.
o Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan (B).
b. Materi edukasi pada tingkat lanjut dilaksanakan di Pelayanan Kesehatan Sekunder dan / atau
Tersier, yang meliputi:
o Mengenal dan mencegah penyulit akut DM.
o Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM.
o Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain.
o Rencana untuk kegiatan khusus (contoh: olahraga prestasi).
o Kondisi khusus yang dihadapi (contoh: hamil, puasa, hari-hari sakit).
o Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir tentang DM.
o Pemeliharaan/perawatan kaki.
Edukasi perawatan kaki diberikan secara rinci pada semua orang dengan ulkus maupun
neuropati perifer atau peripheral arterial disease (PAD)
1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan di air.
2. Periksa kaki setiap hari, dan dilaporkan pada dokter apabila kulit terkelupas,
kemerahan, atau luka.
3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakainya.
4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, tidak basah, dan mengoleskan
krim pelembab pada kulit kaki yang kering.
5. Potong kuku secara teratur.
6. Keringkan kaki dan sela-sela jari kaki secara teratur setelah dari kamar
mandi.
7. Gunakan kaos kaki dari bahan katun yang tidak menyebabkan lipatan pada
ujung-ujung jari kaki.

13
8. Kalau ada kalus atau mata ikan, tipiskan secara teratur.
9. Jika sudah ada kelainan bentuk kaki, gunakan alas kaki yang dibuat khusus.
10. Sepatu tidak boleh terlalu sempit atau longgar, jangan gunakan hak tinggi.
11. Hindari penggunaan bantal atau botol berisi air panas/batu untuk
menghangatkan kaki.

Perilaku hidup sehat bagi penyandang Diabetes Melitus adalah memenuhi anjuran:
Mengikuti pola makan sehat.
Meningkatkan kegiatan jasmani dan latihan jasmani yang teratur
Menggunakan obat DM dan obat lainya pada keadaan khusus secara aman dan teratur.
Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan hasil
pemantauan untuk menilai keberhasilan pengobatan.
Melakukan perawatan kaki secara berkala.
Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan
tepat.
Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung
dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti
pengelolaan penyandang DM.
Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi DM adalah:


Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya kecemasan.
Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal yang sederhana dan
dengan cara yang mudah dimengerti.
Melakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi.
Mendiskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan keinginan pasien.
Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang
diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium.
Melakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima.
Memberikan motivasi dengan memberikan penghargaan.
Melibatkan keluarga/pendamping dalam proses edukasi.
Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan pasien dan
keluarganya.
Gunakan alat bantu audio visual.

2. Terapi Nutrisi Medis (TNM)


Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal
makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan obat
yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri.
A. Komposisi Makanan yang Dianjurkan terdiri:

14
Karbohidrat
o Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. Terutama
karbohidrat yang berserat tinggi.
o Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.
o Glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapatmakan sama
dengan makanan keluarga yang lain.
o Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
o Pemanis alternatif dapat digunakansebagai pengganti glukosa, asal tidak melebihi batas
aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake/ADI).
o Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan
seperti buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

Lemak
o Asupan lemak dianjurkan sekitar 20- 25% kebutuhan kalori, dan tidak diperkenankan
melebihi 30% total asupan energi.
o Komposisi yang dianjurkan:
lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori.4
lemak tidak jenuh ganda < 10 %.
selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.
o Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh
dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu fullcream.
o Konsumsi kolesterol dianjurkan < 200 mg/hari.

Protein
o Kebutuhan protein sebesar 10 20% total asupan energi.
o Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa
kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.
o Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8
g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai
biologik tinggi.
Kecuali pada penderita DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan protein menjadi 1-1,2
g/kg BB perhari.

Natrium
o Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan orang sehat yaitu <2300
mg perhari.
o Penyandang DM yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan pengurangan
natrium secara individual.
o Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan bahan pengawet
seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.

15
Serat
o Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang kacangan, buah dan
sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat.
o Anjuran konsumsi serat adalah 20-35 gram/hari yang berasal dari berbagai sumber
bahan makanan.

Pemanis Alternatif
o Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted
Daily Intake/ADI).
o Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanistak
berkalori.
o Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari
kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol dan fruktosa.
o Glukosa alkohol antara lain isomalt,lactitol, maltitol, mannitol,sorbitol dan xylitol.
o Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena dapat meningkatkan
kadar LDL, namun tidak ada alasan menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang
mengandung fruktosa alami.
o Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose,
neotame.

B. Kebutuhan Kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang DM,
antara lain dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kal/kgBB
ideal.
Jumlah kebutuhan tersebut ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu: jenis
kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dan lain-lain. Beberapa cara perhitungan berat badan ideal
adalah sebagai berikut:
Perhitungan berat badan ideal (BBI) menggunakan rumus Broca yang dimodifikasi:
o Berat badan ideal =90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.

Bagi pria dengan tinggi badan di bawah160 cm dan wanita di bawah 150 cm,
rumus dimodifikasi menjadi:
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.

BB Normal: BB ideal 10 %
Kurus: kurang dari BBI - 10 %
Gemuk: lebih dari BBI + 10 %

Perhitungan berat badan ideal menurutIndeks Massa Tubuh (IMT).

16
Indeks massa tubuh dapat dihitung denganrumus:
IMT = BB(kg)/TB(m2)
Klasifikasi IMT*
o BB Kurang <18,5
o BB Normal 18,5-22,9
o BB Lebih 23,0
Dengan risiko 23,0-24,9
Obes I 25,0-29,9
Obes II 30
*) WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific
Perspective:Redefining Obesity and its Treatment.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain:


Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori basal perhari untuk perempuan sebesar 25 kal/kgBB sedangkan untuk pria
sebesar 30 kal/kgBB.
Umur
o Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk setiap dekade antara
40 dan 59 tahun.
o Pasien usia diantara 60 dan 69 tahun, dikurangi 10%.
o Pasien usia diatas usia 70 tahun, dikurangi 20%.

Aktivitas Fisik atau Pekerjaan


o Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.
o Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada keadaan istirahat.
o Penambahan sejumlah 20% pada pasien dengan aktivitas ringan: pegawai kantor,
guru, ibu rumah tangga.
o Penambahan sejumlah 30% pada aktivitas sedang: pegawai industri ringan,
mahasiswa, militer yang sedang tidak perang.
o Penambahan sejumlah 40% pada aktivitas berat: petani, buruh, atlet, militer dalam
keadaan latihan.
o Penambahan sejumlah 50% pada aktivitas sangat berat: tukang becak,tukang gali.

Stres Metabolik
o Penambahan 10-30% tergantung dari beratnya stress metabolik (sepsis, operasi,
trauma).

Berat Badan
o Penyandang DM yang gemuk, kebutuhan kalori dikurangi sekitar 20- 30% tergantung kepada
tingkat kegemukan.
o Penyandang DM kurus, kebutuhan kalori ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan

17
untuk meningkatkan BB.
o Jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kal perhari untuk wanita dan 1200-1600
kal perhari untuk pria.
Secara umum, makanan siap saji dengan jumlah kalori yang terhitung dan komposisi
tersebut di atas, dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore
(25%), serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Tetapi pada kelompok tertentu
perubahan jadwal, jumlah dan jenis makanan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk
penyandang DM yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan dengan
penyakit penyerta.

3. Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2 apabila tidak disertai
adanya nefropati. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan secara secara
teratur sebanyak 3-5 kali perminggu selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit
perminggu. Jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan jasmani. Apabila kadar glukosa darah <100 mg/dL
pasien harus mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan bila >250 mg/dL dianjurkan untuk
menunda latihan jasmani. Kegiatan sehari-hari atau aktivitas seharihari bukan termasuk dalam
latihan jasmani meskipun dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari. Latihan jasmani selain untuk
menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin,
sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa
latihan jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (50- 70% denyut jantung
maksimal) seperti: jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang.
Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi angka 220 dengan usia pasien.
Pada penderita DM tanpa kontraindikasi (contoh: osteoartritis, hipertensi yang tidak terkontrol,
retinopati, nefropati) dianjurkan juga melakukan resistance training (latihan beban) 2-3
kali/perminggu sesuai dengan petunjuk dokter.
Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Intensitas
latihan jasmani pada penyandang DM yang relatifsehat bisa ditingkatkan, sedangkan pada
penyandang DM yang disertai komplikasi intesitas latihan perlu dikurangi dan disesuaikan
dengan masing-masing individu.

4. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya
hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

18
1. Obat Antihiperglikemia Oral
Berdasarkan cara kerjanya, obat antihiperglikemia oral dibagi menjadi 5 golongan:
a. Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue)
Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas. Efek samping utama adalah hipoglikemia dan peningkatan berat badan. Hati-hati
menggunakan sulfonilurea pada pasien dengan risiko tinggi hipoglikemia (orang tua, gangguan
faal hati, dan ginjal).

Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan
pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu
Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorbsi
dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini
dapat mengatasi hiperglikemia post prandial. Efek samping yang mungkin terjadi adalah
hipoglikemia.

b. Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin


Metformin
Metformin mempunyai efek utamamengurangi produksi glukosa hati(glukoneogenesis), dan
memperbaiki ambilan glukosa di jaringan perifer. Metformin merupakan pilihan pertama pada
sebagian besar kasus DMT2. Dosis Metformin diturunkan pada pasien dengan gangguan fungsi
ginjal (GFR 30- 60 ml/menit/1,73 m2). Metformin tidak boleh diberikan pada beberapa keadaan
sperti: GFR<30 mL/menit/1,73 m2, adanya gangguan hati berat, serta pasien-pasien dengan
kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebrovaskular, sepsis, renjatan, PPOK,gagal
jantung [NYHA FC III-IV]). Efek samping yang mungkin berupa gangguan saluran pencernaan
seperti halnya gejala dispepsia.

Tiazolidindion (TZD).
Tiazolidindion merupakan agonis dari Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma
(PPAR-gamma), suatu reseptor inti yang terdapat antara lain di sel otot, lemak, dan hati.
Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah
protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer.
Tiazolidindion meningkatkan retensi cairan tubuh sehingga dikontraindikasikan pada pasien
dengan gagal jantung (NYHA FC III-IV) karena dapat memperberat edema/retensi cairan. Hati-
hati pada gangguan faal hati, dan bila diberikan perlu pemantauan faal hati secara berkala. Obat

19
yang masuk dalam golongan ini adalah Pioglitazone.

c. Penghambat Absorpsi Glukosa di saluran pencernaan: Penghambat Alfa Glukosidase.


Obat ini bekerja dengan memperlambat absorbsi glukosa dalam usus halus, sehingga
mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Penghambat glukosidase alfa
tidak digunakan pada keadaan: GFR30ml/min/1,73 m2, gangguan faal hati yang berat, irritable
bowel syndrome. Efek samping yang mungkin terjadi berupa bloating (penumpukan gas dalam
usus) sehingga sering menimbulkan flatus. Guna mengurangi efek samping pada awalnya
diberikan dengan dosis kecil. Contoh obat golongan ini adalah Acarbose.

d. Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase-IV)


Obat golongan penghambat DPP-IV menghambat kerja enzim DPP-IV sehingga GLP-1
(Glucose Like Peptide-1) tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif. Aktivitas GLP-
1 untuk meningkatkan sekresi insulin dan menekan sekresi glukagon bergantung kadar glukosa
darah (glucose dependent). Contoh obat golongan ini adalah Sitagliptin dan Linagliptin.

e. Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucose Cotransporter 2)


Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan obat antidiabetes oral jenis baru yang
menghambat penyerapan kembali glukosa di tubuli distal ginjal dengan cara menghambat kinerja
transporter glukosa SGLT-2. Obat yang termasuk golongan ini antara lain: Canagliflozin,
Empagliflozin, Dapagliflozin, Ipragliflozin.

Profil obat antihiperglikemia oral yang tersedia di Indonesia

20
Obat antihiperglikemia oral

21
22
2. Obat Antihiperglikemia Suntik

23
Termasuk anti hiperglikemia suntik, yaitu insulin, agonis GLP-1 dan kombinasi insulin dan
agonis GLP-1.
a. Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan :
HbA1c > 9% dengan kondisi dekompensasi metabolik
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Krisis Hiperglikemia
Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut, stroke)
Kehamilan dengan DM/Diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan
makan
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi

Jenis dan Lama Kerja Insulin


Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi
menjadi 5 jenis, yakni :
Insulin kerja cepat (Rapid-acting insulin)
Insulin kerja pendek (Short-acting insulin)
Insulin kerja menengah (Intermediateacting insulin)
Insulin kerja panjang (Long-acting insulin)
Insulin kerja ultra panjang (Ultra longacting insulin)
Insulin campuran tetap, kerja pendek dengan menengah dan kerja cepat dengan menengah
(Premixed insulin)

Efek samping terapi insulin


Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia
Penatalaksanaan hipoglikemia dapat dilihat dalam bagian komplikasi akut DM
Efek samping yang lain berupa reaksi alergi terhadap insulin

Farmakokinetik Insulin Eksogen Berdasarkan Waktu Kerja


(Time Course of Action)

24
NPH:neutral protamine Hagedorn; NPL:neutral protamine lispro.
Nama obat disesuaikan dengan yang tersedia di Indonesia.
*Belum tersedia di Indonesia

Dasar pemikiran terapi insulin:

25
Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi basal dan sekresi prandial. Terapi insulin
diupayakan mampu menyerupai pola sekresi insulin yang fisiologis
Defisiensi insulin mungkin berupa defisiensi insulin basal, insulin prandial atau keduanya.
Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya hiperglikemia pada keadaan puasa, sedangkan
defisiensi insulin prandial akan menimbulkan hiperglikemia setelah makan
Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap defisiensi yang
terjadi.
Sasaran pertama terapi hiperglikemia adalah mengendalikan glukosa darah basal (puasa,
sebelum makan). Hal ini dapat dicapai dengan terapi oral maupun insulin. Insulin yang
dipergunakan untuk mencapai sasaran glukosa darah basal adalah insulin basal (insulin kerja
sedang atau panjang)
Penyesuaian dosis insulin basal untuk pasien rawat jalan dapat dilakukan dengan menambah 2-
4 unit setiap 3-4 hari bila sasaran terapi belum tercapai.
Apabila sasaran glukosa darah basal (puasa) telah tercapai, sedangkan HbA1c belum mencapai
target, maka dilakukan pengendalian glukosa darah prandial (mealrelated). Insulin yang
dipergunakan untuk mencapai sasaran glukosa darah prandial adalah insulin kerja cepat (rapid
acting) yang disuntikan 5-10 menit sebelum makan atau insulin kerja pendek (short acting) yang
disuntikkan 30 menit sebelum makan.
Insulin basal juga dapat dikombinasikan dengan obat antihiperglikemia oral untuk menurunkan
glukosa darah prandial seperti golongan obat peningkat sekresi insulin kerja pendek (golongan
glinid), atau penghambat penyerapan karbohidrat dari lumen usus (acarbose), atau metformin
(golongan biguanid)
Terapi insulin tunggal atau kombinasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan respons
individu, yang dinilai dari hasil pemeriksaan kadar glukosa darah harian.

Cara penyuntikan insulin:


Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan), dengan arah alat suntik
tegak lurus terhadap cubitan permukaan kulit
Pada keadaan khusus diberikan intramuskular atau drip
Insulin campuran (mixed insulin) merupakan kombinasi antara insulin kerja pendek dan
insulin kerja menengah, dengan perbandingan dosis yang tertentu, namun bila tidak terdapat
sediaan insulin campuran tersebut atau diperlukan perbandingan dosis yang lain, dapat dilakukan
pencampuran sendiri antara kedua jenis insulin tersebut.
Lokasi penyuntikan, cara penyuntikan maupun cara insulin harus dilakukan dengan benar,
demikian pula mengenai rotasi tempat suntik.
Penyuntikan insulin dengan menggunakan semprit insulin dan jarumnya sebaiknya hanya

26
dipergunakan sekali, meskipun dapat dipakai 2-3 kali oleh penyandang diabetes yang sama,
sejauh sterilitas penyimpanan terjamin. Penyuntikan insulin dengan menggunakan pen, perlu
penggantian jarum suntik setiap kali dipakai, meskipun dapat dipakai 2-3 kali oleh penyandang
diabetes yang sama asal sterilitas dapat dijaga.
Kesesuaian konsentrasi insulin dalam kemasan (jumlah unit/mL) dengan semprit yang dipakai
(jumlah unit/mL dari semprit) harus diperhatikan, dan dianjurkan memakai konsentrasi yang
tetap. Saat ini yang tersedia hanya U100 (artinya 100 unit/ml).
Penyuntikan dilakukan pada daerah: perut sekitar pusat sampai kesamping, kedua lengan atas
bagian luar (bukan daerah deltoid), kedua paha bagian luar.
b. Agonis GLP-1/Incretin Mimetic
Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP-1 merupakan pendekatan baru untuk pengobatan
DM. Agonis GLP-1 dapat bekerja pada sel-beta sehingga terjadi peningkatan pelepasan insulin,
mempunyai efek menurunkan berat badan, menghambat pelepasan glukagon, dan menghambat
nafsu makan. Efek penurunan berat badan agonis GLP-1 juga digunakan untuk indikasi
menurunkan berat badan pada pasien DM dengan obesitas. Pada percobaan binatang, obat ini
terbukti memperbaiki cadangan sel beta pankreas. Efek samping yang timbul pada pemberian
obat ini antara lain rasa sebah dan muntah. Obat yang termasuk golongan ini adalah: Liraglutide,
Exenatide, Albiglutide, dan Lixisenatide. Salah satu obat golongan agonis GLP-1 (Liraglutide)
telah beredar di Indonesia sejak April 2015, tiap pen berisi 18 mg dalam 3 ml. Dosis awal 0.6 mg
perhari yang dapat dinaikkan ke 1.2 mg setelah satu minggu untuk mendapatkan efek glikemik
yang diharapkan. Dosis bisa dinaikkan sampai dengan 1.8 mg. Dosis harian lebih dari 1.8 mg
tidak direkomendasikan. Masa kerja Liraglutide selama 24 jam dan diberikan sekali sehari secara
subkutan.
3. Terapi Kombinasi
Pengaturan diet dan kegiatan jasmani merupakan hal yang utama dalam penatalaksanaan
DM, namun bila diperlukan dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian obat
antihiperglikemia oral tunggal atau kombinasi sejak dini. Pemberian obat antihiperglikemia oral
maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap
sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Terapi kombinasi obat antihiperglikemia oral, baik
secara terpisah ataupun fixed dose combination, harus menggunakan dua macam obat dengan
mekanisme kerja yang berbeda. Pada keadaan tertentu apabila sasaran kadar glukosa darah
belum tercapai dengan kombinasi dua macam obat, dapat diberikan kombinasi dua obat
antihiperglikemia dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis dimana insulin

27
tidak memungkinkan untuk dipakai, terapi dapat diberikan kombinasi tiga obat antihiperglikemia
oral.
Kombinasi obat antihiperglikemia oral dengan insulin dimulai dengan pemberian insulin
basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang). Insulin kerja menengah harus
diberikan jam 10 malam menjelang tidur, sedangkan insulin kerja panjang dapat diberikan sejak
sore sampai sebelum tidur. Pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat mencapai kendali
glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin basal untuk
kombinasi adalah 6-10 unit. Kemudian dilakukan evaluasi dengan mengukur kadar glukosa
darah puasa keesokan harinya. Dosis insulin dinaikkan secara perlahan (pada umumnya 2 unit)
apabila kadar glukosa darah puasa belum mencapai target.
Pada keadaaan dimana kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali meskipun
sudah mendapat insulin basal, maka perlu diberikan terapi kombinasi insulin basal dan prandial,
sedangkan pemberian obat antihiperglikemia oral dihentikan dengan hati-hati.

28
Keuntungan, kerugian dan biaya obat anti hiperglikemik

29
30
(sumber: standard of medical care in diabetes- ADA 2015)

4. Individualisasi Terapi
Manajemen DM harus bersifat perorangan. Pelayanan yang diberikan berbasis pada

31
perorangan dimana kebutuhan obat, kemampuan dan keinginan pasien menjadi komponen
penting dan utama dalam menentukan pilihan dalam upaya mencapai target terapi. Pertimbangan
tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : usia penderita dan harapan hidupnya, lama
menderita DM, riwayat hipoglikemia, penyakit penyerta, adanya komplikasi kardiovaskular,
serta komponen penunjang lain (ketersediaan obat dan kemampuan daya beli). Untuk pasien usia
lanjut, target terapi HbA1c antara 7,5-8,5% .

5. Monitoring
Pada praktek sehari-hari, hasil pengobatan DMT2 harus dipantau secara terencana dengan
melakukan anamnesis, pemeriksaan jasmani, dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:
a. Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah
Tujuan pemeriksaan glukosa darah:
Mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai
Melakukan penyesuaian dosis obat, bila belumtercapai sasaran terapi

Waktu pelaksanaan pemeriksaan glukosa darah:


Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
Glukosa 2 jam setelah makan, atau
Glukosa darah pada waktu yang lain secara berkala sesuai dengan kebutuhan.

b. Pemeriksaan HbA1C
Tes hemoglobin terglikosilasi, yang disebut juga sebagai glikohemoglobin, atau hemoglobin
glikosilasi (disingkat sebagai HbA1C), merupakan cara yang digunakan untuk menilai efek
perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Untuk melihat hasil terapi dan rencana perubahan
terapi, HbA1c diperiksa setiap 3 bulan, atau tiap bulan pada keadaan HbA1c yang sangat tinggi
(> 10%). Pada pasien yang telah mencapai sasran terapi disertai kendali glikemik yang stabil
HbA1C diperiksa paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun. HbA1C tidak dapat dipergunakan sebagai
alat untuk evaluasi pada kondisi tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi
darah 2-3 bulan terakhir, keadaan lain yang mempengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi
ginjal.

6. Kriteria Pengendalian DM
Kriteria pengendalian diasarkan pada hasil pemeriksaan kadar glukosa, kadar HbA1C, dan
profil lipid. Definisi DM yang terkendali baik adalah apabila kadar glukosa darah, kadar lipid,
dan HbA1c mencapai kadar yang diharapkan, serta status gizi maupun tekanan darah sesuai
target yang ditentukan. Kriteria keberhasilan pengendalian DM dapat dilihat pada Tabel .

32
Sasaran Pengendalian DM
Keterangan : KV = Kardiovaskular, PP = Post prandial
*The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and Its Treatment, 2000
** Standards of Medical Care in Diabetes, ADA 2015

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan tersebut sebagian besar berasal dari penglihatan dan
pendengaran yang sering digunakan untuk mendapatkan informasi.

2.2.2 Tingkat Pengetahuan


Pengetahuan dicakup di dalam domain kognitif 6 tingkatan pengetahuan (Notoatmojo,
2010).
1) Tahu (Know)
Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap
situasi yang sangat spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah
di terima. Oleh sebab itu, ini adalah merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.

2) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham harus dapat menjelaskan, menyimpulkan, meramalkan terhadap
objek yang dipelajari.

33
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
dan kondisi nyata. Aplikasi dapat diartikan sebagai penggunaan hokum-hukum, rumus-
rumus, metode-metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis (Analysis)
Suatu kemampuan menjabarkan materi atau kedalam komponen-komponen tetapi
masih dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat diteliti dari penggantian kata seperti dapat menggambarkan
(menurut bagian), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintesis (Syntesis)
Menunjukkan kepada suatu komponen untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan yang baru. Merupakan kemampuan
menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu
teori atau rumusan-rumusan yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu
materi atau objek. Penilaian-penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri,
atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.2.3 Kategori Pengetahuan


Pengetahuan dapat dibagi ke berbagai tingkatan atau kategori. Menurut Riwidikdo
(2008) dapat digunakan aturan normatif yang menggunakan rata-rata (mean) dan simpangan
baku (standard deviation) untuk menentukan tingkat pengetahuan.
Untuk tiga kategori pengetahuan bisa digunakan parameter sebagai berikut:
a. Baik, bila nilai yang diperoleh responden (x) > mean + 1 SD
b. Cukup, bila nilai mean -1 SD x mean + 1 SD
c. Kurang, bila nilai responden yang diperoleh (x) < mean 1SD
Apabila tingkat pengetahuan dibagi ke dalam 5 kategori, maka ketentuan
parameter yang digunakan ialah:
a. Sangat baik, bila x > mean + 1,5 SD

34
b. Baik, bila mean + 0,5 < x < mean + 1,5 SD
c. Cukup, bila mean - 0,5 SD < x < mean + 0,5 SD
d. Kurang, bila mean 1,5 SD < x < mean 0,5 SD
e. Kurang sekali, bila x < mean 1,5 SD

2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang sesuatu hal :
1) Usia
Usia remaja dibagi ke dalam tiga periode, yaitu tahap awal, menengah, dan
akhir. Usia remaja awal antara 11-14 tahun, usia remaja tengah antara 15-17 tahun,
dan usia remaja akhir antara 18-20 tahun. Usia dewasa awal merupakan usia 21-40
tahun dan dewasa tengah 40-65 tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Semakin
bertambah usia, daya tangkap dan pola pikir akan semakin berkembang, dengan
begitu dipercaya bahwa pengetahuan yang diperoleh akan semakin membaik.

2) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah dalam menerima informasi,
sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan
yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai
yang baru dikenal.

3) Lingkungan
Lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan
pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok. Lingkungan adalah input kedalam diri seseorang sehingga sistem adaptif
yang melibatkan baik faktor internal maupun faktor eksternal. Seseorang yang
hidup dalam lingkungan yang berpikiran luas maka pengetahuannya akan lebih baik
dari pada orang yang hidup di lingkungan yang berpikiran sempit.

4) Pekerjaan

35
Pekerjaan adalah serangkaian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan
atau diselesaikan oleh seseorang sesuai dengan jabatan atau profesi masing-masing.
Status pekerjaan yang rendah sering mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.
Pekerjaan biasanya sebagai simbol status sosial di masyarakat. Masyarakat akan
memandang seseorang dengan penuh penghormatan apabila pekerjaannya sudah
pegawai negeri atau pejabat di pemerintahan.

5) Sosial Budaya dan Ekonomi


Variabel ini sering dilihat angka kesakitan dan kematian, variabel ini
menggambarkan tingkat kehidupan seseorang yang ditentukan unsur seperti
pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan banyak contoh serta ditentukan pula oleh
tempat tinggal karena hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan
termasuk pemeliharaan kesehatan.

6) Sumber Informasi
Informasi dapat diperoleh di rumah, di sekolah, lembaga organisasi, media
cetak dan tempat pelayanan kesehatan. Ilmu pengetahuan dan teknologi
membutuhkan informasi sekaligus menghasilkan informasi. Jika pengetahuan
berkembang sangat cepat maka informasi berkembang sangat cepat pula. Adanya
ledakan pengetahuan sebagai akibat perkembangan dalam bidang ilmu dan
pengetahuan, maka semakin banyak pengetahuan baru bermunculan. Pemberian
informasi seperti cara-cara pencapaian hidup sehat akan meningkatkan pengetahuan
masyarakat yang dapat menambah kesadaran untuk berperilaku sesuai dengan
pengetahuan yang dimiliki.

7) Pengalaman
Merupakan sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran
dan pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman
yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi di masa lalu.

2.3 Kepatuhan Berobat


2.3.1Pengertian

36
Kepatuhan (ketaatan) (compliance atau adherence) adalah tingkat pasien melaksanakan cara
pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau oleh yang lain . Kepatuhan pasien
sebagai sejauh mana prilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh petugas
kesehatan. Penderita yang patuh berobat adalah yang menyelesaikan pengobatanya secra teratur
dan lengkap tanpa terputus selama minimal 6 bulan sampai dengan 8 bulan.
Dimatteo, Dinicola, Thorne, dan Kyngas melakukan penelitian dan mendiskusikan bahwa
ada dua faktor yang berhubungan dengan kepatuhan yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Adapun faktor internal meliputi karakter si penderita seperti usia, sikap, nilai sosial, dan emosi
yang disebabkan oleh penyakit. Adapun faktor eksternal yaitu dampak dari pendidikan
kesehatan, interaksi penderita dengan petugas kesehatan ( hubungan di antara keduanya) dan
tentunya dukungan dari keluarga, petugas kesehatan dan teman. Kemudian menurut Niven ada 4
faktoryang berhubungan dengan ketidakpatuhan yaitu:
- pemahaman tentang instruksi,
- kualitas interaksi ; antara professional kesehatan dan pasien;
- isolasi sosial dan keluarga serta keyakinan,
- sikap dan kepribadian.
Kepatuhan pasien akan meningkat secara umum bila semua instruksi yang di berikan oleh
petugas medis jelas. Diantaranya pengobatan jelas, pengobatan yang teratur serta adanya
keyakinan bahwa kesehatannya akan pulih, dan tentunya harga terjangkau. Hubungan status
ekonomi yang rendah terhadap ketidakpatuhan dilaporkan dalam penelitian. Dua faktor yang
memperlihatkan penurunan kepatuhan akibat status ekonomi Pertama, seseorang yang status
ekonomi rendah memerlukan waktu yang lama untuk menunggu selama pengobatan di klinik.
Kedua, adanya kurang konsisten antara hubungan pasien dan dokter. bahwa orang yang tidak
bekerja kepatuhannya lebih buruk dari yang bekerja.

A. Cara Mengukur Kepatuhan


Kepatuhan berobat dapat diketahui melalui 7 cara yaitu: keputusan dokter yang
didapat pada hasil pemeriksaan, pengamatan jadwal pengobatan, penilaian pada tujuan
pengobatan, perhitungan jumlah tablet pada akhir pengobatan, pengukuran kadar obat
dalam darah dan urin, wawancara pada pasien dan pengisian formulir khusus.
Pernyataan Sarafino hampir sama dengan Sacket yaitu kepatuhan berobat pasien dapat
diketahui melalui tiga cara yaitu perhitungan sisa obat secara manual, perhitungan sisa

37
obat berdasarkan suatu alat elektronik serta pengukuran berdasarkan biokimia (kadar
obat) dalam darah/urin.

BAB III
KERANGKA KONSEP

BAB IV
PEMBAHASAN

38
4.1. Penjaringan Pasien untuk Kelas Penyakit Tidak Menular (PTM) Diabetes Mellitus
Waktu Pelaksanaan : Desember 2016 Januari 2017
Tempat : Puskesmas Karang Asam
Sasaran : Pasien baru dan lama yang terdiagnosa DM di Puskesmas
Karang Asam dan menyetujui untuk mengikuti kelas PTM

Tujuan Kegiatan
1. Menjaring pasien untuk menjadi peserta rutin kelas PTM Diabetes Mellitus di
Puskesmas Karang Asam
2. Memberi informasi tentang kelas PTM Diabetes Mellitus

Manfaat Kegiatan
Memberi pengetahuan dan keuntungan mengenai kelas PTM Diabetes Mellitus yang
akan dilakukan rutin tiap bulan sehingga para pasien bisa mendapat pemeriksaan,
pengobatan, edukasi dan berbagi informasi gratis.

Pelaksanaan Kegiatan
Para dokter internsip yang bertugas di Poli Umum memberikan informasi seputar kelas
PTM-DM kepada setiap pasien DM lama yang kontrol ke PKM dan setiap pasien baru
yang terdiagnosa DM.
Para dokter internsip meminta kesediaan kepada setiap pasien yang telah dijelaskan
untuk mengikuti kelas PTM-DM
Apabila pasien tersebut bersedia untuk mengikuti kelas, maka para dokter akan
mencatat data-data pasien seperti nama lengkap, umur, alamat rumah, nomor rekam
medis dan obat DM yang dikonsumsi, serta nomor telepon yang bisa dihubungi
sehingga jika mendekati hari kelas PTM-DM maka setiap pasien akan dihubungi via
telepon atau sms.

Analisa Kegiatan
Kelebihan

39
Penjaringan dilakukan dengan tatap muka secara langsung, sehingga penjelasan tentang
kelas PTM bisa dilakukan dengan improvisasi yang baik dari masing-masing dokter
untuk membuat para pasien tertarik.
Antusiasme pasien yang ingin rutin kontrol dan berobat gratis tanpa antri registrasi
cukup baik.
Kekurangan
Pasien yang terjaring hanya terbatas pada pasien yang saat itu datang ke Poli Umum
untuk kontrol berobat dalam rentang waktu bulan penjaringan, bukan berdasarkan data
pasien DM yang ada di Puskesmas Karang Asam.
Beberapa pasien mendapat pengobatan DM rutin dari Rumah Sakit, sehingga menolak
untuk mengikuti kelas PTM-DM.
Beberapa pasien lansia yang terdiagnosa DM dan telah diberikan informasi tentang kelas
PTM beralasan bahwa tidak ada keluarga yang bisa mengantarnya untuk mengikuti kelas
tersebut, sehingga tidak bersedia ikut.

4.2. Pertemuan Bulan-1 Kelas Penyakit Tidak Menular (PTM)-Diabetes Mellitus (DM)
Waktu Pelaksanaan : Sabtu, 21 Januari 2017
Tempat : Puskesmas Karang Asam
Peserta : Pasien DM yang telah terjaring pada bulan penjaringan dan
bersedia untuk ikut.

Rencana Kegiatan
Direncanakan akan dilakukan pembukaan kelas Penyakit Tidak Menular (PTM)-
Diabetes Mellitus (DM) pada hari Sabtu, 21 Januari 2017 dengan estimasi waktu selesai
pada pukul 11.00 WITA bertempat di lantai 2 ruang pertemuan Puskesmas Karang Asam.
Peserta kelas PTM-DM adalah 14 pasien yang terjaring saat bulan penjaringan. Kegiatan
kelas PTM-DM merupakan suatu bentuk kegiatan kontinyu yang dikelola bersama dengan
pemegang program PTM Puskesmas Karang Asam dan Dokter Internsip PKM Karang
Asam, yang direncanakan akan dilaksanakan setiap bulan dalam 1 tahun.
Pada pertemuan bulan 1 ini, Dokter Internsip selain akan melakukan penyuluhan
mengenai Diabetes Mellitus secara umum dengan media audiovisual, dilakukan juga

40
pembagian dan pengisian kuesioner serta skala skrining kejiwaaan sebelum penyuluhan,
dan pemeriksaan fisik lengkap, laboratorium, pengobatan serta konsultasi gratis kepada
para peserta yang hadir di akhir acara. Kuesioner yang diberikan berisi pertanyaan-
pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan DM, kepatuhan minum obat, pola
makan dan pola aktivitas fisik seluruh peserta. Selain itu skala skrining kejiwaan bertujuan
sebagai penilaian ada atau tidaknya depresi pada para peserta. Hasil dari kuesioner DM
tersebut akan diolah oleh para dokter internsip untuk dianalisa per daya ungkit.
Untuk pertemuan bulan ke-2 dan ke-3 akan diinformasikan kembali kepada para
peserta 1 minggu sebelum hari pelaksanaan. Sehingga pada akhir pertemuan selalu
dimintakan komitmen dari para peserta untuk rutin mengikuti kelas PTM-DM ini.

Tujuan Kegiatan
1. Memberi pengetahuan tentang Penyakit Tidak Menular, Diabetes Mellitus, cara
pencegahan serta penanganan melalui penyuluhan dan pembagian leaflet.
2. Meningkatkan kesadaran para pasien DM bahwa pentingnya untuk rutin kontrol gula
darah tiap bulan dan pengobatan.
3. Mengetahui tingkat pengetahuan para pasien tentang DM, tingkat kepatuhan minum
obat, pola makan dan aktivitas fisik melalui kuesioner yang diberikan pada awal acara.
4. Mengetahui kemungkinan ada atau tidaknya depresi pada para peserta melalui skala
skrining kejiwaan.
5. Melakukan pemeriksaan fisik lengkap dan laboratorium berupa gula darah dan tes urin
pada seluruh pasien yang hadir.
6. Memberikan pengobatan dan konsultasi pada seluruh pasien yang hadir.

Susunan Acara Kegiatan


Sabtu, 21 Januari 2017
08.00 - 08.20 : - Pasien berkumpul ruang rapat/pertemuan lantai 2 PKM Karang Asam
- Absen
08.20 - 08.30 : Pembukaan
08.30 - 08.45 : Kata sambutan dan penjelasan kelas PTM-DM
08.45 - 09.30 : Pembagian dan pengisian kuesioner & skala skrining kejiwaan

41
09.30 09.40 : - Pembagian buku dan kartu berobat
- Pembagian konsumsi
- Pembagian printout materi DM
09.40 - 10.00 : Penyuluhan DM
10.00 10.30 : Pemeriksaan fisik dan laboratorium
10.30 11.00 : Pengobatan dan konsultasi kesehatan
11.00 - selesai : Penutupan

Pelaksanaan Kegiatan
4.2.1. Penyuluhan Diabetes Mellitus (DM)
Peserta yang hadir berkumpul dan duduk di tengah ruang pertemuan lantai 2
Puskesmas Karang Asam. Peserta yang masuk dalam penjaringan pasien kelas
PTM-DM berjumlah 14 orang dan yang hadir berjumlah 9 orang. Tetapi yang
datang pada pertemuan kelas bulan 1 berjumlah 22 orang, dimana yang lainnya
berasal dari peserta Senam Prolanis yang biasa dilaksanakan tiap Sabtu pagi di
Puskesmas.
Penyuluhan ini dilakukan oleh Dokter Internsip tentang DM secara umum
dengan media audiovisual. Penyuluhan yang disampaikan pun menggunakan bahasa
yang mudah dan sederhana sehingga bisa dipahami oleh para peserta. Selain itu
pembawa materi juga berinteraksi dengan peserta yang hadir dan mendapatkan
umpan balik melalui sesi tanya jawab.

4.2.2. Kuesioner DM
Tujuan Kegiatan
1. Mengetahui tingkat pengetahuan para peserta tentang Diabetes Mellitus
2. Mengetahui tingkat kepatuhan minum obat peserta kelas PTM-DM
3. Mengetahui perilaku merokok para peserta kelas PTM-DM
4. Mengetahui aktivitas fisik peserta PTM-DM
5. Mengetahui pola makan peserta PTM-DM

Pencapaian Hasil

42
Untuk mengukur tingkat pengetahuan tentang DM dan kepatuhan minum obat
serta perilaku merokok peserta kelas PTM-DM, dilakukan pembagian kuesioner
DM yang terdiri dari beberapa soal dan harus diisi oleh seluruh peserta kelas. Untuk
tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat akan dikategorikan menjadi tiga,
yaitu tingkat pengetahuan baik, cukup dan kurang, begitu pula dengan tingkat
kepatuhan minum obat. Untuk perilaku merokok akan dikategorikan menjadi dua,
yaitu perilaku merokok aktif dan perilaku tidak merokok. Hasil kuesioner tingkat
pengetahuan DM dapat dilihat pada grafik sebagai berikut.

TINGKAT PENGETAHUAN DM
12 11

10

8
Jumlah peserta

4 3

0
Kurang
0 Cukup
0 Bai k Ti da k Ada Data
kategori

Dari grafik di atas, dapat diuraikan sebagai berikut, tidak terdapat peserta
dengan kategori Kurang dan Cukup, terdapat 11 peserta dengan kategori Baik

43
(78,5%) dan 3 peserta (21,5%) tidak ada datanya karena peserta tidak hadir. Hal ini
menunjukkan tingkat pengetahuan peserta tentang DM tergolong baik.

Tingkat Kepatuhan Minum Obat


8
7
7
6
Jumlah peserta

5
4
4
3
3
2
1
0
Kura
0 ng Cukup Bai k Ti dak Ada Data
kategori tingkat
Tin
gkat kepatuhan minum obat peserta kelas PTM-DM dapat dilihat pada grafik
berikut:

44
Dari grafik di atas, dapat diuraikan sebagai berikut, tidak terdapat peserta
dengan kategori Kurang (0%), terdapat 4 peserta dengan kategori Cukup (28,6%),
terdapat 7 peserta dengan kategori Baik (50%) dan 3 peserta tidak ada datanya
(21,4%). Hal ini menunjukkan tingkat kepatuhan minum obat peserta kelas PTM-
DM tergolong baik.
Perilaku merokok peserta kelas PTM-DM dapat dilihat pada grafik berikut:

Perilaku Merokok
10
9
9
8
7
jumlah peserta

6
5
4
3
3
2
2
1
0
Ya Ti da k Ti da k Ada Data
Perilaku

Dari grafik di atas, dapat diuraikan sebagai berikut, terdapat 2 peserta dengan
perilaku merokok aktif (14,29%), terdapat 9 peserta dengan perilaku tidak merokok
(64,29%) dan 3 peserta tidak diketahui datanya (21,42%). Hal ini menunjukkan
pada peserta kelas PTM-DM lebih didominasi dengan perilaku tidak merokok.

45
Analisa Kegiatan
Kelebihan
1. Kepekaan para peserta meningkat akan pengetahuan seputar Diabetes Mellitus.
2. Adanya kepedulian antar peserta dengan peserta lainnya yang terlihat kesulitan
menjawab beberapa pertanyaan.
Kekurangan
1. Kurangnya alat tulis sehingga beberapa peserta harus menunggu peserta lainnya
selesai mengisi kuesioner terlebih dahulu.
2. Beberapa peserta tidak dapat baca-tulis sehingga diperlukan Dokter Internsip
untuk membimbing perlahan beberapa peserta tersebut sehingga mempengaruhi
waktu acara.
3. Terbatasnya pertanyaan yang tidak mencakup secara detail.

4.2.3. Pemeriksaan Fisik, Laboratorium, Pengobatan dan Konsultasi


Tujuan Kegiatan
1. Sebagai data untuk pemeriksa, guna mengetahui adanya kelainan tertentu pada
para peserta kelas PTM-DM.
2. Untuk mengetahui nilai GDS para peserta kelas PTM-DM.
3. Untuk mengontrol kadar gula darah setiap para peserta kelas PTM-DM.
4. Untuk memberikan edukasi personal sehingga membangun tingkat kepercayaan
antara dokter dengan para peserta kelas PTM-DM.

Hasil GDS
Nama
21 Januari 2017
Ny. Sabaniah 313
Ny. Kusniah 326
Ny. Sri Nur Hidayati 196
Ny. Mariati 297
Tn. Husein 116 Pencapaian Hasil
Tn. Soesetiadi 160
Tn. Sentot 233
Ny. Siti Salmah 213
Tn. Abd. Majid 117
Ny. Siti Djurariah 356
Ny. Asiyah 415
Hj. Siti Asiyah 29946
Tn. Normansyah -
Ny. Syamsiah -
Ny. Mardiana -
Dari tabel di atas dapat diuraikan sebagai berikut, 8 peserta memiliki kadar GDS >
200. Dan ada 1 peserta yang GDS nya sangat tinggi di antara peserta yang lain,
yaitu Ny. As dengan GDS 415. Dan GDS yang paling rendah di antara semua
peserta adalah Tn. Hu yaitu 116.

Analisa Kegiatan
Kelebihan
1. Para peserta kelas PTM-DM menjadi prioritas saat dilakukan pemeriksaan GDS
di laboratorium.
2. Obat-obatan DM sudah disediakan oleh para Dokter Internsip, sehingga para
peserta tidak perlu menunggu lama lagi di apotek untuk mengambil obat.
3. Adanya data lengkap bagi pemeriksa sebagai bahan evaluasi ke depannya.

Kekurangan
1. Kurangnya penanggung jawab pelaksana, sehingga saat dilakukan pemeriksaan
fisik, estimasi waktu yang direncanakan pun bergeser.
2. Obat-obatan yang semula direncanakan akan diberikan selama sebulan, tetapi
karena ketersediaan kurang di apotik, sehingga obat-obatan yang diberikan
hanya cukup untuk 10 hari.

47
3. Waktu untuk konsultasi yang terbatas karena padatnya acara pada pertemuan
bulan-1 sehingga keluhan-keluhan tambahan beberapa pasien tidak terjaring..

4.3. Pertemuan Bulan-2 Kelas Penyakit Tidak Menular (PTM)-Diabetes Mellitus (DM)
Waktu Pelaksanaan : Sabtu, 25 Februari 2017
Tempat : Lapangan Parkir Masjid Islamic Center Samarinda
Peserta : Pasien DM yang telah terjaring pada bulan penjaringan dan
bersedia untuk ikut.

Rencana Kegiatan
Direncanakan akan dilakukan Tes Rockport atau tes kebugaran jantung paru pada hari
Sabtu, 25 Februari 2017 dengan estimasi waktu dari pukul 07.00 hingga 10.00 WITA
bertempat di lapangan parker Masjid Islamic Center Samarinda. Pada pertemuan bulan 2
ini, Dokter Umum, Dokter Internsip serta pegawai PKM Karang Asam menjadi pelaksana
pada kegiatan pertemuan bulan ke-2 ini. Dimana pada awalnya, pasien diminta berkumpul
di lapangan parkir Masjid Islamic Center (di samping klinik Islamic Center) jam 07.00
WITA. Setelah itu, registrasi peserta untuk dikelompokkan ke dalam 3 kelompok yang
nantinya akan dibedakan dalam warna nomor dada. Setelah registrasi, dilakukan
pembukaan terlebih dahulu dan penjelasan mengenai kegiatan pada pertemuan bulan ke-2.
Setelah mencapai minimal 10 peserta, dilakukan pemanasan terlebih dahulu guna
mencegah kekakuan otot saat pelaksanaan tes Rockport. Kemudian dilakukan tes Rockport
secara bergiliran setiap kelompok. Dimana para peserta diharapkan untuk jalan sejauh 1,6
km di lintasan yang sudah disediakan dan akan dicatat waktu tempuhnya. Para peserta tidak
dipaksakan untuk jalan cepat atau lari, tetapi semampunya saja. Apabila ada peserta yang
tidak mampu, bisa dihentikan dan diistirahatkan. Setekah dilakukan tes Rockport,
dilakukan evaluasi hasil, pengobatan dan konsultasi dengan para dokter umum dan dokter
internsip PKM Karang Asam.

Tujuan Kegiatan
1. Untuk menilai kebugaran jantung paru para peserta kelas PTM-DM

48
2. Untuk mempererat tali silaturahmi antar dokter dan peserta serta sesama peserta kelas
PTM-DM.

Hasil Tes Rockport

2 Kurang
33.33% Cukup
Bai k

4
66.67%

Pencapaian
Hasil

Pada pertemuan bulan ke-2, dari 14 peserta kelas PTM-DM, hanya 6 peserta saja
yang bisa hadir. Sehingga pada grafik di atas, hanya diuraikan hasil 6 peserta yang hadir
saja, sebagai berikut: tidak ada (0) peserta yang hasilnya baik (0%), peserta dengan hasil
Cukup sebanyak 2 peserta (33%) dan peserta dengan hasil Kurang sebanyak 4 peserta

49
(67%). Hal ini menunjukkan tingkat kebugaran jantung paru (tes Rockport) terbanyak
adalah Kurang.

Analisa Kegiatan
Kelebihan
1. Mengetahui tingkat kebugaran peserta kelas PTM-DM
2. Memberi informasi olahraga yang tepat pada pasien berdasarkan hasil dari tes
kebugaran yang telah dilakukan (tes rockport)

Kekurangan
1. Tidak semua peserta bisa hadir karena lokasi tes kebugaran yang cukup jauh dari rumah
peserta.
2. Hanya 6 orang peserta dari total 14 peserta yang hadir pada tes kebugaran, dimana
jumlah peserta tidak mencapai setengah dari total.

4.4. Pertemuan Bulan-3 Kelas Penyakit Tidak Menular (PTM)-Diabetes Mellitus (DM)
Waktu Pelaksanaan : Sabtu, 11 Maret 2017
Tempat : Puskesmas Karang Asam
Peserta : Pasien DM yang telah terjaring pada bulan penjaringan dan
bersedia untuk ikut.

Rencana Kegiatan
Direncanakan akan dilakukan penyuluhan dan pemeriksaan gula darah kembali pada
peserta kelas Penyakit Tidak Menular (PTM)-Diabetes Mellitus (HT) pada hari Sabtu, 11
maret 2017 dengan estimasi waktu selesai pada pukul 11.00 WITA bertempat di lantai 2
ruang pertemuan Puskesmas Karang Asam. Peserta kelas PTM-DM adalah 14 pasien yang
terjaring saat bulan penjaringan tapi, pasien yang hadir saat itu hanya berjumlah 12 orang.
Kegiatan kelas PTM-DM merupakan suatu bentuk kegiatan kontinyu yang dikelola
bersama dengan pemegang program PTM Puskesmas Karang Asam dan Dokter Internsip
PKM Karang Asam, yang direncanakan akan dilaksanakan setiap bulan dalam 1 tahun.

50
Pada pertemuan bulan ke 3 ini, Dokter Internsip selain akan melakukan penyuluhan
mengenai pentingnya mengatur pola makan dan pentingnya aktivitas fisik, dilakukan juga
pemeriksaan gula darah setelah penyuluhan untuk evaluasi, dan pengobatan serta konsultasi
gratis kepada para peserta yang hadir di akhir acara.

Susunan Acara Kegiatan


Sabtu, 11 Maret 2017
08.00 - 08.20 : - Pasien berkumpul ruang rapat/pertemuan lantai 2 PKM Karang Asam
- Absen
08.20 - 08.30 : Pembukaan
08.30 - 08.45 : Kata sambutan
08.45 - 09.30 : Penyuluhan
09.40 - 10.00 : Pemeriksaan fisik dan laboratorium
10.30 11.00 : Pengobatan dan konsultasi kesehatan

12.00 - selesai : Penutupan


Pelaksanaan Kegiatan
1. Penyuluhan
Kelas PTM-DM yang seharusnya diikuti oleh 14 peserta terjaring, tapi peserta
yang hadir dan mengikuti penyuluhan hanya berjumlah 12 orang. Adapun materi
penyuluhan berisi tentang pentingnya mengatur pola makan yang baik dan tepat serta
pentingnya aktivitas fisik pada pasien DM. Diharapkan setelah mendapatkan informasi
dari penyuluhan pada bulan ketiga kelas PTM-DM, pasien memiliki perubahan yang
signifikan terutama pada pola makan dan aktivitas fisik..

2. Pemeriksaan fisik, laboratorium dan pengobatan


- Pemeriksaan Fisik
Setelah penyuluhan pasien dilakukan pemeriksaan fisik berupa pengukuran tekanan
darah oleh tenaga pemeriksa.

51
Nama GDS bulan-1 GDS bulan-3 Evaluasi GDS
Ny. Sabaniah 313 231
Ny. Kusniah 326 - -
Ny. Sri Nur Hidayati 196 164
Ny. Mariati 297 245
Tn. Husein 116 154
Tn. Soesetiadi 160 305
Tn. Sentot 233 205
Ny. Siti Salmah 213 250
Ny. Siti Djurariah 356 250
Ny. Asiyah 415 118
Hj. Siti Asiyah 299 434
Tn. Normansyah - - -
Ny. Syamsiah - 142 -

Dari hasil tabel perbandingan didapatkan ada penurunan kadar gula darah
yang cukup signifikan pada 1 peserta yaitu pada bulan-1 GDS peserta tersebut
adalah 415 dan pada bulan ke-3 GDS nya adalah 118, hal ini dapat dikarenakan
sudah mulai berjalannya kelas PTM-DM dimana pasien mulai mengerti tentang
penyakit yang mereka derita dan patuh dalam meminum obat, untuk itu dalam
pertemuan ketiga ini ditambahkan kembali penyuluhan dan informasi tentang pola
makan serta aktivitas fisik yang baik untuk penderita DM sehingga diharapkan
peserta semakin termotivasi untuk tetap mempertahankan kadar gula darah yang
terkontrol. Tetapi, terlihat ada 1 peserta yang kadar gula darahnya meningkat,
dimana pada bulan-1 GDS peserta tersebut adalah 299, dan pada bulan-3 GDS nya
adalah 434. Sehingga diperlukan lagi pengawasan yang cukup ketat untuk semua
peserta sehingga tujuan untuk kadar gula darah yang terkontrol bisa tercapai.

- Pengobatan
Berdasarkan dari pemeriksaan kadar GDS pada peserta kelas PTM-DM
dilakukan terapi pada peserta dengan pemberian obat DM yang berupa Metformin
500 mg, Glibeclamid dan Glimepirid yang diberikan pada peserta untuk pengobatan

52
selama 1 bulan sampai pada pertemuan selanjutnya. Hal ini dilakukan untuk
memudahkan peserta dalam mendapat pengobatan yang rutin dan tidak terputus
dengan alasan kehabisan obat DM.

3. Analisa kegiatan
Kelebihan
- Pasien mendapat pengobatan selama 1 bulan, sehingga tidak perlu terus menerus ke
puskesmas untuk mendapat obat DM.
- Pasien lebih terkontrol pengobatannya sehingga tidak ada putus pengobatan dengan
alasan kehabisan obat sebelum kelas selanjutnya dimulai.
- Pasien dengan ekonomi kelas menengah kebawah lebih terbantu dengan adanya
pemberian obat DM gratis ini.
- Pasien mengetahui efek lanjut apabila tidak minum obat secara teratur.
- Pasien memperoleh informasi tentang pola makan yang baik serta aktivitas fisik
yang tepat untuk penderita DM.
Kekurangan
- Kekurangan tenaga pelaksana sehingga estimasi waktu untuk memeriksa terbatas.
- Pasien terkadang meminta obat yang lain diluar dari obat DM yang disediakan.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Evaluasi kehadiran peserta kelas PTM-DM, dari 14 peserta kelas hanya 10 orang yang bisa
dilakukan evaluasi pada bulan ketiga. Ketidakhadiran peserta disebabkan oleh banyak faktor

53
diantaranya kesibukan rumah tangga yang tidak bisa ditinggal, kondisi yang tidak kondusif,
dan sarana transportasi.

6.67%

1
2

93.33%

Kelas PTM-DM yang dilakukan di Puskesmas Karang Asam dirasakan cukup bermanfaat
bagi peserta, diantaranya :
1. Konseling diet dianggap cukup berhasil dan membantu dalam memberi informasi kepada
peserta.
2. Informasi tentangnya pentingnya aktivitas fisik sangat membantu pasien DM dalam
meningkatkan kualitas hidupnya.
3. Pemberian obat gratis selama sebulan dan pemeriksaan gratis memotivasi peserta untuk
tetap mengikuti kelas dan mengontrol perkembangan penyakit yang mereka derita.
4. Peserta juga mengetahui jika mereka juga menderita penyakit lain yang dideritanya.
5. Peserta juga mengenal banyak peserta lain yang menderita penyakit yang sama sehingga
dapat saling berbagi informasi.
6. Kerja sama dengan unit pelayanan lain yaitu apotek, laboratorium dan tata usaha berjalan
dengan baik.

Dari 10 pasien yang bisa di evaluasi didapatkan 6 orang (60%) yang mengalami perbaikan
dalam hal ini penurunan kadar gula darah, dan 4 orang (40%) yang mengalami peningkatan
kadar gula darah.

54
Chart Title

40.00%

60.00%

Menurun Meni ngkat

5.2. Saran
Diharapkan kelas PTM-DM tetap dilanjutkan pada bulan selanjutnya dengan agenda kegiatan
yang lebih bervariasi.

55

Anda mungkin juga menyukai