Anda di halaman 1dari 3

Keadaan Banten Sebelum Islam datang

Sebelum Islam berkembang di Banten, masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara
kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu
berkembang di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk
prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan banguan keagamaan lainnya. Sumber naskah
kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu.
Sekitar permulaan abad ke 16, di daerah pesisir Banten sudah ada sekelompok masyarakat
yang menganut agama Islam.
Daerah Banten memiliki beberapa data arkeologi dan sejarah dari masa sebelum Islam masuk
ke daerah ini, sumber data arkeologi menujukan bahwa sebelum Islam masyarakat Banten
hidup pada masa tradisi prasejarah dan tradisi Hindu-Buddha. Tradisi prasejarah ditandai oleh
adanya alat-alat kehidupan sehari-hari dan kepercayaan yang mereka anut, demikian pula
dengan masa kehidupan Hindu dan Buddha ditandai oleh peninggalan Hindu masa itu berupa
prasasti arca Nandi dan benda-benda arkeologi lainnya, serta naskah-naskah kuno yang
mencatat keterangan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu.

Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal
masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang, dolmen dan patung-patung
simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes, kubur tempayan di Anyer, kapak batu di
Cigeulis, batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk, dan lain sebagainya.
(Sukendar;1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang
terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten.
Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah
Pamarayan, Kopo Pandeglang, Cikupa, Cipari dan Babakan Tanggerang.
Selain bukti arkeologi berupa arca Siwa dan Ganesha ini belum ada lagi data sejarah yang
cukup kuat untuk menunjang keberadaan kerajaan Salakanagara ini yang lebih jelas, adapun
prasasti Munjul yang ditemukan terletak disungai Cidanghiang, Lebak Munjul Pandegalng
adalah prasasti yang bertuliskan Pallawa dengan bahasa Sangsekerta menyatakan bahwa raja
yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman, ini berarti bahwa daerah kekuasaan
Tarumanegara sampai juga ke daerah Banten, karena kerajaan Tarumanegara pada masa itu
berada dalam keadaan makmur dan jaya.

Berkembangnya Islam di Banten


Sebelum banten berdiri sebagai kesultanan, wilayah ini termasuk bagian kerajaan pajajaran
yang beragama hindu,
Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah, pada tahun 1525 M dan
1526 M. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif
Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran
agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada tahun 1475 M,
beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten, dua tahun
kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun
berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. (Atja;1972:26)

Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa, syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon


mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam
di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin, di dalam usaha penyebaran agama Islam
Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Pulosari, G.
Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. (Djajadiningrat;1983:34) Sehingga
berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. (Roesjan;1954:10)

Pada awal abad ke 16, yang berkuasa di banten adala prabu Pucuk Umum dengan pusat
pemerintahan kadipaten di banten Girang. Adapun daerah Surasowan hanya berfungsi
sebagai kota pelabuhan. Menurut berita Joad Barros (1616), wartawan Portugis, diantara
pelabuhan yang tersebar di wilayah pajajaran, pelabuhan sunda kelapa dan banten merupakan
dua pelabuhan terbesar yang dikungjungi para saudagar dalam dan luar negeri. Dari sanalah
sebagian besar lada dana hasil negeri lainnya diekspor.

Pada tahun 1526, gabungan pasukan Demak dan Cirebon bersama dengan laskar marinir
maulana Hasanuddin (putra Syarif Hidayatullah) tidak banyak mengalami kesulitan dalam
menguasai banten. Bahkan ada yang menyebutkan, Prabu Pucuk Umum menyerahkan banten
dengan Sukarela. Pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten pun dipindahkan
ke Surasowan. Pemindahan pusat pemerintahan ini dimaksudkan untuk memudahkan
hubungan antara pesisir melalui selat sunda dan selat malaka. Hal ini berkaitan pula dengan
situasi asia tenggara kala itu. perlu dingat, malaka telah dikuasi portugis, sehingga pedagang
yang enggan berhubungan dengan portugis mengalihkan rute niaga ke selat sunda.

Karena semakin besar dan maju daerah Banten, maka pada tahun 1552 M, Kadipaten Banten
dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. Atas
petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten
Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi
Keraton Surosowan. (Djajadiningrat;1983:144) Pada tahun 1568 M, saat itu Kesultanan
Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang, Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan
Banten sebagai negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak atau pun Panjang.
(Hamka;1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam,
banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar, sehingga tumbuhlah
beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. Ditempat ini berdiri
masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. (Ismail;1983:35)
Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan
guru dari Pangeran Yusuf. (Djajadiningrat;1983:163)

Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya
dengan sebutan Kesultanan Banten. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya
dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. Pengaruh
yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di
Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik,
pendidikan, kebudayaan dan ekonomi di masa itu.

Puncak Kejayaan Banten


Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam
menopang perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan
penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang
pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu.[9] Perdagangan laut
berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang
Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam,
Filipina, Cina dan Jepang.

Kerajaan Banten mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-
1682). Dimana, Banten membangun armada dengan contoh Eropa serta memberi upah
kepada pekerja Eropa. Namun, Sultan Ageng Tirtayasa sangat menentang Belanda yang
terbentuk dalam VOC dan berusaha keluar dari tekanan VOC yang telah memblokade kapal
dagang menuju Banten. Selain itu, Banten juga melakukan monopoli Lada di Lampung yang
menjadi perantara perdagangan dengan negara-negara lain sehingga Banten menjadi wilayah
yang multi etnis dan perdagangannya berkembang dengan pesat.