Anda di halaman 1dari 16

A.

Pengertian

Istilah hernia berasal dari bahasa Latin yaitu herniae yang berarti penonjolan

isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding

rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin.

Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari

usus (Giri Made Kusala, 2009).

Menurut Syamsuhidayat (2007), hernia adalah prostrusi atau penonjolan isi suatu

rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada

hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan

muskulo aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi Hernia

adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti

peritoneum, lemak, usus atau kandung kemih) memasuki defek tersebut, sehingga

timbul kantong berisikan materi abnormal.

Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari

berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang

mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Wong, 2009)

Hernia atau usus turun adalah penonjolan abnormal suatu organ/ sebagian dari organ

melalui lubang pada struktur disekitarnya.

Hernia inguinalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kanalis inguinal

(lipat paha). Operasi hernia adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk

mengembalikan isi hernia pada posisi semula dan menutup cincin hernia.

Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa hernia inguinalis adalah suatu keadaan keluarnya jaringan atau
organ tubuh dari suatu ruangan melalui suatu lubang atau celah keluar di bawah kulit

atau menuju rongga lainnya (kanalis inguinalis).

B. Etiologi

1. Umur

Penyakit ini dapat diderita oleh semua kalangan tua, muda, pria maupun

wanita. Pada Pasien pasien penyakit ini disebabkan karena kurang sempurnanya

procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis. Pada orang

dewasa khususnya yang telah berusia lanjut disebabkan oleh melemahnya

jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit yang menyebabkan

peningkatan tekanan dalam rongga perut (Giri Made Kusala, 2009).

2. Jenis Kelamin

Hernia yang sering diderita oleh laki laki biasanya adalah jenis hernia

Inguinal. Hernia Inguinal adalah penonjolan yang terjadi pada daerah

selangkangan, hal ini disebabkan oleh proses perkembangan alat reproduksi.

Penyebab lain kaum adam lebih banyak terkena penyakit ini disebabkan karena

faktor profesi, yaitu pada buruh angkat atau buruh pabrik. Profesi buruh yang

sebagian besar pekerjaannya mengandalkan kekuatan otot mengakibatkan adanya

peningkatan tekanan dalam rongga perut sehingga menekan isi hernia keluar dari

otot yang lemah tersebut (Giri Made Kusala, 2009).


3. Penyakit penyerta

Penyakit penyerta yang sering terjadi pada hernia adalah seperti pada kondisi

tersumbatnya saluran kencing, baik akibat batu kandung kencing atau pembesaran

prostat, penyakit kolon, batuk kronis, sembelit atau konstipasi kronis dan lain-

lain. Kondisi ini dapat memicu terjadinya tekanan berlebih pada abdomen yang

dapat menyebabkan keluarnya usus melalui rongga yang lemah ke dalam kanalis

inguinalis.

4. Keturunan

Resiko lebih besar jika ada keluarga terdekat yang pernah terkena hernia.

5. Obesitas

Berat badan yang berlebih menyebabkan tekanan berlebih pada tubuh, termasuk

di bagian perut. Ini bisa menjadi salah satu pencetus hernia. Peningkatan tekanan

tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya prostrusi atau penonjolan organ

melalui dinding organ yang lemah.

6. Kehamilan

Kehamilan dapat melemahkan otot di sekitar perut sekaligus memberi tekanan

lebih di bagian perut. Kondisi ini juga dapat menjadi pencetus terjadinya hernia.

7. Pekerjaan

Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan daya fisik dapat menyebabkan

terjadinya hernia. Contohnya, pekerjaan buruh angkat barang. Aktivitas yang

berat dapat mengakibatkan peningkatan tekanan yang terus-menerus pada otot-


otot abdomen. Peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya

prostrusi atau penonjolan organ melalui dinding organ yang lemah.

8. Kelahiran prematur

Bayi yang lahir prematur lebih berisiko menderita hernia inguinal daripada bayi

yang lahir normal karena penutupan kanalis inguinalis belum sempurna, sehingga

memungkinkan menjadi jalan bagi keluarnya organ atau usus melalui kanalis

inguinalis tersebut. Apabila seseorang pernah terkena hernia, besar kemungkinan

ia akan mengalaminya lagi. (Giri Made Kusala, 2009).

C. Manifestasi Klinis

Adapun Manifestasi Klinis yang timbul menurut Hidayat (2008).

a. penderita terdapat benjolan pada daerah-daerah kemungkinan terjadi hernia

b. Benjolan bisa mengecil atau menghilang.

c. Bila menangis , mengejan dan mengangkat benda keras akan timbul benjolan

kembali

d. Rasa nyeri pada benjolan/ mual dan muntah bila sudah terjadi komplikasi.

e. Benjolan tidak berwarna merah

f. Bila di raba terdapat benjolan

Sedangkan menurut Long (1996),gejala klinis yang mungkin timbul setelah

dilakukan operasi :

a. Nyeri

b. Peradangan

c. Edema

d. Pendarahan
e. Pembengkakan skrotum setelah perbaikan hernia inguinalis indirek

f. Retensi urin

g. Ekimosis pada dinding abdomen bawah atau bagian atas paha

D. Patosifiologi

Menurut Syamsuhidayat (2007), hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali

kongenital atau sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih

banyak pada laki-laki ketimbang pada perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan

pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar

sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Selain itu, diperlukan pula faktor

yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu.

Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang

terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut

karena usia.Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8

kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut

akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum

yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir,

umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak

dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak menutup.

Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering

terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam

keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila

prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia

inguinalis lateralis kongenital (Erfandi, 2009).Pada orang tua kanalis inguinalis telah

menutup. Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan
yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka

kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita. Kelemahan otot dinding perut

antara lain terjadi akibat kerusakan Nervus Ilioinguinalis dan Nervus Iliofemoralis

setelah apendiktomi(Erfandi, 2009).

E. PATHWAY

Etiologi (kerja berat, angkat beban, batuk kronis,

riwayat jatuh, bawaan sejak lahir)

penurunan organ abdomen ke dalam kantung peritonium

hernia inguinalis

distensi ingunalis

hemiotomi

Luka insisi Lingkungan


Efek anastesi
aseptik

Menekan Mobilitas Kerusakan


munculnya
system syaraf terbatas jaringan
zat patogen
kontaminasi

Pelepasan
Hambatan mediator nyeri
Menurunkan Trauma
mobilitas (prostaglandin,
reflek jaringan
fisik histamin),
gastroentesti
nal bradikin dll
Peningkatan
Diterima Risiko infeksi
HCL
resptor nyeri
perifer

Mual dan
Impuls ke SSP
muntah

Diterima otak

Persepsi nyeri nyeri

F. Pemeriksaan penunjang

1. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik.

2. Herniografi.

3. USG

4. CT dan MRI

5. Laparaskopi

6. Operasi Eksplorasi (Hudack& Gallo, 2010).

G. KomplikasiHidayat (2006) t (2006)

a. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga

isi hernia tidak dapat di masukan kembali. Keadan ini disebut hernia inguinalis

ireponiblis. pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia

yang tersering menyebabkan keadaan ireponible adalah omentum, karena


mudah melekat pada dinding hernia dan isisnya dapat menjadi besar karena

infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan ireponibilis dari pada usu

halus.

b. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang

masuk keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus diikuti dengan

gangguan vaskuler (proses strangulasi). Keadaan ini disebut hernia inguinalis

strangulate

c. Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan

pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis

lateralis strangulata.

d. Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh

darah dan kemudian timbul nekrosis.

e. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah

dan obstipasi.

f. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,

g. Pendarahan yang berlebihan/infeksi luka bedah, Komplikasi lama merupakan

atropi testis karena lesi.

h. Bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, asidosis metabolik, abses.

(Hidayat, 2008)

H. Penatalaksanaan medis

1) Terapi konservatif/non bedah meliputi :

- Pengguanaan alat penyangga bersifat sementara seperti pemakaian sabuk/korset

pada hernia ventralis.

- Dilakukan reposisi postural pada pasien dengan Hernia inkaseata yang tidak
menunjukkan gejala sistemik.

2) Terapi umum adalah terapi operatif.

3) Jika usaha reposisi berhasil dapat dilakukan operasi herniografi efektif.

4) Jika suatu operasi daya putih isi Hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan

setelah 5 mennit di evaluasi kembali.

7) Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen,

antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah

sembelit.

8) Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan

gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengadan

selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat

memperburuk gejala-gejala.

9) Hindari aktivitas-aktivitas yang berat. (Jennifer, 2007)

10) Tindakan pembedahan

Herniotomi (memotong hernia).

Neriorafi (menjahit kantung hernia)

I. Manajemen bedah

1. Perawatan pre operasi

Persiapan fisik dan mental pasien dan pasien puasa pada malam hari sebelum

pembedahan.

2. Perawatan post operasi

a. Hindari batuk, untuk peningkatan ekspansi paru, perawat mengajarkan nafas

dalam.
b. Ambulasi dini jika tidak ada kontraindikasi untuk meningkatkan kenyamanan

dan menurunkan resiko komplikasi post operasi.

c. Gunakan tehnik untuk merangsang pengosongan kandung kemih.

d.Monitoring intake dan output.

e Palpasi abdomen dengan hati-hati.

f. Intake cairan > 2500 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mencegah

dehidrasi dan mempertahankan fungsi perkemihan.

g. Bila pasien belum mampu BAK, dapat dipasang kateter karena kandung kemih

yang distensi dapat menekan insisi dan menyebabkan tidak nyaman.

3. Discharge Planning :

a. Hindari mengejan, mendorong atau mengangkat benda berat.

b. Jaga balutan luka operasi tetap kering dan bersih, mengganti balut steril setiap

hari dan kalau perlu.

c. Hindari faktor pendukung seperti konstipasi dengan mengkonsumsi diet tinggi

serat dan masukan cairan adekuat.

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

2. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu

3. Resti infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan

4. Perubahan eliminasi urinaria berhubungan dengan rasa takut nyeri setelah

operasi

C. TUJUAN/RENCANA TINDAKAN (NOC/NIC)


DIAGNOSA
No.
KEPERAWATAN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
Dx
KOLABORASI
1 Nyeri berhubungan NOC: NIC :
dengan iritasi, tekanan, Pain Level Pain Management
dan sensitifitas pada area Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri
rektal. Comfort Level secara komprehensip termasuk
lokasi, karakteristik, durasi,
Kriteria Hasil: frekuensi, kualitas, dan faktor
1. Mampu mengontrol nyeri presipitasi
(tahu penyebab nyeri, mampu 2. Observasi reaksi nonverbal
menggunakan teknik dari ketidaknyaman
nonfarmakologi untuk 3. Gunakan teknik komunikasi
mengurangi nyeri, mencari terapeutik untuk mengetahui
bantuan) pengalaman nyeri pasien
2. Melaporkan bahwa nyeri 4. Kaji kultur yang
berkurang dengan menggunakan mempengaruhi respon nyeri
manajemen nyeri 5. Evaluasi pengalaman nyeri
3. Mampu mengenali nyeri (skala, masa lampau
intensitas, frekuensi dan tanda 6. Evaluasi bersama pasien dan
nyeri) tim kesehatan lain tentang
4. Menyatakan rasa nyaman setelah ketidakefektivan kontrol nyeri
nyeri berkurang masa lampau
7. Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan menemukan
dukungan
8. Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan
dan kebisingan
9. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
10. Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakoligi, non
farmakologi dan interpersonal)
11. Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
12. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
13. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
14. Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
15. Tingkatkan istirahat
16. Kolaborasi dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
17. Monitor penerimaan pasien
tentang managemen nyeri

Analgesic Administration
1. Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
2. Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dsari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
5. Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
6. Pilih rute pemberian secara IV,
IM untuk pengobatan nyeri
secara teratur
7. Monitor TTV sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
8. Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
9. Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek
samping)
3 Resti infeksi NOC: NIC:
berhubungan dengan Immune Status Infection Control (Kontrol
insisi pembedahan Knowledge : Infection Control Infeksi)
Risk Control 1. Bersihkan lingkungan setelah
dipakai pasien lain
Kriteria Hasil : 2. Pertahankan teknik isolasi
1. Klien bebas dari tanda dan gejala3. Batasi pengunjung bila perlu
infeksi 4. Instruksikan pada pengujung
2. Mendeskripsikan proses untuk mencuci tangan saat
penularan penyakit, faktor yang berkunjung dan setelah
mempengaruhi penularan serta berkunjung meninggalkan
penatalaksanaannya pasien
3. Meunjukan kemampuan untuk 5. Gunakan sabun antimikroba
mencegah timbulnya infeksi untuk cuci tangan
4. Jumlah leokosit dalam batas 6. Cuci tangan setiap sebelum
normal dan sesudah tindakan
5. Menunjukan perilaku hidup sehat keperawatan
7. Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
8. Pertahankan lingkungan
aseptik selama pemasanan alat
9. Ganti letak IV perifer san line
cental dan dressing sesuai
dengan petunjuk umum
10. Gunakan katete intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
11. Tingkatkan intake nutrisi
12. Berikan terapi antibiotik bila
perlu

Infection Protection
(Proteksi Terhadap Infeksi)
1. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemikdan lokal
2. Monitor hitung granulosit,
WBC
3. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
6. Pertahankan teknik aspirasi
pada pasien yang berisiko
7. Pertahankan teknik isolasi k/p
8. Berikan perawatan kulit pada
area epidema
9. Inspeksi kulit dan membran
mukossa terhadap kemerahan,
panas, drainase
10. Inspeksi kondisi luka/insisi
bedah
11. Dorong masukan nutrisi yang
cukup
12. Dorong masukan cairan
13. Dorong istirahat
14. Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
15. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
16. Ajarkan cara menghindari
infeksi
17. Laporkan kecurigaan infeksi
18. Laporkan kultur positif
4 Perubahan eliminasi NOC: NIC:
urinaria berhubungan Urinary Eleimination Urinary Retention Care
dengan rasa takut nyeri Urinary Contiunence 1. Monitor intake dan output
setelah operasi 2. Monitor penggunaan obat
Kriteria Hasil : antikolinergik
1. Kandung kemih kosong secara 3. Monitor derajat distensi
penuh bladder
2. Tidak ada residu urine >100-200 4. Instruksikan kepada pasien dan
cc keluarga untuk mencatat output
3. Intake cairan dalam rentang urine
normal 5. Sediakan privasi untuk
4. Bebas dari ISK eliminasi
5. Tidak ada spasme bladder 6. Stimulasi reflek bladder
6. Balance cairan seimbang dengan kompres dingin pada
abdomen
7. Kateterisasi jika perlu
8. Monitor tanda dan gejala ISK
(panas,hematuria, perubahan
bau dan konsistensi urien)
DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alimul, 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba

Medika

Giri Made Kusala, 2009. Kumpulan Penyakit Dalam. Jakarta : EGC

Hidayat, 2008. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba.

Hudack & Gallo, 2010. Keperawatan Kritis Edisi 6. Jakarta : EGC

Jennifer, 2007. Keperawatan Medikal Bedah. Swearingan. Edisi II. Jakarta : EGC

Syamsuhidayat , 2007. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Tamsuri, 2007. Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta : EGC

Wartonah, 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba

Medika
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Pendahuluan : Post Op Hernia Inguinalis

Nama : Ida Murahwati Laila

Nim : 17160026

Menyetujui, 2017

Pembimbing Rumah Sakit Pembimbing Akademik