Anda di halaman 1dari 7

ACARA IV

PENETAPAN KADAR FOSFOR

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini untuk menetapkan kadar phosphor dengan
metode HNO3 Vanado Molybdat.

Tinjauan Pustaka
Phospor adalah senyawa yang paling kritis dan paling mahal
dalam arti untuk memenuhi kebutuhan ternak babi khususnya,
monogastrik umumnya, sebab: (1) ransum yang terdiri dari biji-bijian dan
sumber-sumber protein pada umumnya akan defisien terhadap phosphor
untuk kepentingan fisiologis dalam hidupnya, kecuali jika ditambah
dengan preparat yang mengandung phosphor, (2) Sehubungan dengan
itu kira-kira 50% phospor dalam serealia atau protein dari beberapa
sayuran adalah bentuk garam-garam fitat atau asam fitik, (3) Phospor
banyak dibutuhkan dalam proses metabolisme. Hampir semua proses
yang ada sangkut pautnya dengan energi dalam sel-sel hidup phosphor
turut mengambil bagian dan (4) daya guna pospor dalam tanaman
diperkirakan 20-100%. Yang mengandung fitat yang cukup tinggi, daya
guna tersebut diperkirakan sekitar 46% atau kurang (Parakkasi,1983).
Fosfor memiliki peranan penting dalam otot, metabolisme energi,
metabolisme karbohidrat, asam amino dan lemak, metabolisme jaringan
syaraf, kimiawi darah normal, pertumbuhan kerangka dan pengangkutan
asam lemak serta lipida lainnya. Darah mengandung kurang lebih 35
45 mg fosfat per 100 ml. Hanya sekitar 10 % terdapat dalam bentuk
fosfat anorganik. Biasanya terdapat suatu hubungan terbalik antara
serum kalsium yang tersebar dan serum fosfat anorganik (Anggorodi,
1985).
Fosfat sangat banyak dalam bahan-bahan makanan yang sudah
mendapat proses cola dan minuman ringan (tidak beralkohol) lainya,
juga biasanya banyak dalam bahan-bahan makanan yang kaya akan
protein, misalnya daging. Sangat banyak didapatkan dalam diet orang
amerika, yang besar pengaruhnya terhadap Ca-Fosfat dapat diserap dari
diet dalam bentuk fosfat anorganik bebas, setelah proses hidrolisis
pencernaan dan dibebaskan dari bahan makanan tersebut. Hanya dalam
bentuk asam pitat yang terutama banyak dalam biji-bijian tidak dapat
dihidrolisis oleh karena itu tidak dapat digunakan. Bentuk pitat
membentuk garam Ca2+, Mg 2+, dan Fe 2+ yang tidak larut, sehingga ketiga
elemen tersebut tidak dapat diserap (Linder, 1985).
Phosphor merupakan mineral makro yang memiliki peranan yang
cukup besar terhadap ternak. Phosphor dibutuhkan untuk pembentukan
tulang dan memiliki fungsi penting dalam metabolisme karbohidrat,
lemak dan merupakan bagian dari semula sel hidup, diperlukan untuk
keseimbangan asam dan basa tubuh untuk pengangkutan kalsium
maupun untuk pemindahan energi (Anggordi, 1985).
Phosphor bersama-sama kalsium adalah penyusun tulang dan
gigi yang sangat penting. Phosphor juga terdapat di dalam semua sel
hidup dan diperlukan untuk pelepasan energi yang dihasilkan oleh oksida
glukosa disimpan di dalam sel dalam bentuk senyawa phosphat
berenergi tinggi. Karena phosphor terdapat dalam semua sel hidup maka
phosphor terdapat dalam kebanyakan makanan dan belum pernah
terjadi kasus defisiensi dalam susunan makanan (Gaman, 1992).
Wahyu (1997) menyatakan bahwa fosfor juga berperan dalam
metabolisme lemak dan karbohidrat kemudian masuk ke dalam
komposisi dan bagian-bagian penting dari semua sel-sel hidup dan juga
garam yang dibentuknya memegang peranan penting dalam memelihara
keseimbangan asam basa.
Phospor berfungsi sebagai bagian dari struktur gigi dan tulang.
Sekitar 80 % berada dalam bentuk kalsium fosfat kristal yang tidak larut,
yang memberikan kekuatan pada gigi dan sisanya (20 %) di distribusi
dalam tiap sel dan dalam cairan di luar sel bersama dengan karbohidrat,
lipid, protein serta senyawa lainnya. Peyerapan fosfor dibantu oleh
vitamin D dan disekresi melalui urin. Fosfor dalam makanan dapat
diserap oleh tubuh sekitar 70 %. Kekurangan fosfor mengakibatkan
demineralisasi tulang dan terjadi pertumbuhan kurang baik (Poedjiadi,
1994).
Fosfor mempunyai banyak fungsi dibandingkan dengan zat-zat
mineral lainnya dalam tubuh. Proses pembentukan dan pertumbuhan
tulang erat kaitannya dengan mineral kalsium dan phosphor dari pakan
yang terserap tubuh dan tersimpan dalam tulang, karena lebih 70 %
jumlah abu dalam tubuh adalah kalsium dan phosphor yang terdapat
dalam tubuh (Kamal, 1994).

Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah silika disk,
penangas air, kertas saring bebas abu, kertas lakmus biru, labu ukur,
tabung reaksi, pipet tetes dan spektrofotometer.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah HCl
pekat, HCl 10%, aquades, air panas, AgNO 3, sampel, larutan HNO 3,
Vanado Molibdat, H2O / air.

Metode
Preparasi sampel. Abu hasil penetapan kadar abu (tempat
semula : silika disk) ditambahkan 10 ml HCl pekat dipanaskan didalam
penangas air hingga volumenya tinggal 1/3 bagian. Kemudian
ditambahkan lagi 20ml HCl 10 % dan dipanaskan lagi hingga volumenya
tinggal 1/3 bagian dan ditambahkan lagi 20 ml aquadest dan dipanaskan
10 menit. Setelah itu disaring melalui kertas saring bebas abu ke dalam
labu ukur 500 ml dan dicuci dengan air panas (mendidih) sampai bebas
asam (dicek dengan lakmus biru; warna tidak berubah). Untuk
mengetahui filtrat telah bebas asam dapat dites juga dengan AgNO 3,
kemudian ditambahkan air sampai dengan tanda batas labu ukur.
Selanjutnya filtrat disimpan untuk penentuan kadar P dan Ca.
Penentuan Kadar Phosphat. Pipet 1 ml sampel (dengan
pengenceran) ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan
kedalamnya 9 ml larutan campuran H 2O dengan HNO3-Vanado-Molybdat
(7:2). Setelah itu dicampurkan dan tunggu 30 menit. Selanjutnya dibaca
pada spectronik 470 nm, aquadest sebagai pembanding (blanko).
Perhitungan:
Y = 14,285 X + 0,0304
Y = Absorbansi
X = Kadar P
X x faktor pengenceran ()
Kadar P (%) = x 100%
berat sampel (g)

Hasil dan Pembahasan


Praktikum kali ini menggunakan sampel abu yang sudah
disediakan. Pemberian HCl 10% untuk mengikat phospor yang terdapat
dalam tulang. H2O digunakan untuk pengenceran HNO3 Vanado
Molybdat kemudian dimasukkan dalam filtrat. Terbentuknya warna
kuning karena phospor dari tulang berikatan dengan ammonium
molybdat menjadi ammonium fosfo molybdat. Hasil dari praktikum
didapat kadar phosphor tepung tulang adalah 1,43 %. Hal ini berbeda
dengan teori menurut Tillman et al (1998), bahwa dalam tepung tulang
dibakar mengandung P sebesar 13%. Perbedaan ini terjadi karena faktor
pengenceran yang dilakukan praktikan, pengenceran yang dilakukan
dalam praktikum kali ini masih kurang karena kadar P(%) praktikum
masih setengah kali dari kadar P(%) dasar teorinya. Menurut Anggorodi
(1985), bila penggunaan kalsium lebih banyak daripada phosphor maka
kelebihan kalsium tidak dapat diserap oleh tubuh, kelebihan kalsium
tersebut bergabung dengan phosphor membentuk tricalsium phosphat
yang tidak larut, sebaliknya kelebihan phosphor akan mengurangi
penyerapan kalsium dan phosphor. Menurut Boren et al., (1984) bahwa
penambahan bahan phospor berhubungan dengan penambahan berat
badan, kadar abu tulang dan konversi pakan. Setiap penambahan
phospor 0,10% maka berat badan akan naik 33,61% gram, kadar abu
tulang 26,10 gram dan konversi pakan 0,056 gram. Perbedaan ini terjadi
karena beberapa faktor seperti seperti faktor penyerapan kalsium
phospor, yaitu keberadaan asam oksalat dan asam fitat, keberadaan
serat yang dapat menurunkan waktu transit makanan dalam saluran
cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk absorbsi, rendahnya
bentuk aktif vitamin D, keseimbangan rasio phospor dan kalsium, dan
kompleksitas struktur dan konfigurasi protein.

Kesimpulan
Dari hasil praktikum diperoleh kadar phospor adalah 1,43%, ini
masih dibawah standar phospor tulang yaitu 13%. Hal ini dikarenakan
faktor-faktor yang mempengaruhi kadar phospor diantaranya faktor
pengenceran, perbedaan nutrien pakan yang dikonsumsi, umur ayam,
dan berat badan. Selain itu karena faktor penyerapan kalsium dan
phospor, yaitu keberadaan asam oksalat dan asam fitat, keberadaan
serat yang dapat menurunkan waktu transit makanan dalam saluran
cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk absorbsi, rendahnya
bentuk aktif vitamin D, keseimbangan rasio phospor dan kalsium, dan
kompleksitas struktur dan konfigurasi protein. Besarnya nilai P
berbanding terbalik dengan nilai berat sampel sedangkan faktor
pengenceran berbanding lurus dengan nilai P, jika nilai P besar maka
nilai faktor pengenceran juga akan diperbesar.

Daftar Pustaka
Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Ternak Unggas.
Fakultas Peternakan Institut pertanian Bogor. UI Press. Jakarta.

Boren.B.,J.R.Veltmann.Sandra.S.Linton.J.R. and C.R.Creger. 1984. The


Effect of Phosphorous Source and level on Body Weight, Bone
Ash and Feed Cenvertion in Broiler Chicks. Poultry Sci:63
(Supplement 1). SPSS and PSA Abstracts.

Gaman, P.M. dan K.B. Sherrington. 1992. Pengantar Ilmu Pangan.


Nutrisi dan Mikrobiologi, Edisi ke-2. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.

Kamal, M. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Fakultas Peternakan


Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Linder, M. 1985. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Universitas Indonesia


Press : Jakarta.

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Angkasa : Bandung.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar Dasar Biokimia. UI Press. Jakarta.

Tillman, A. D., Hari Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, S.


Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta.

Wahyu, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.
Lampiran
Pada praktikum penentuan kadar phospor digunakan persamaan
sebagai berikut:
X x faktor pengenceran ()
Kadar P (%) = x 100%
berat sampel (g)

Diketahui : Y = 0,141
Faktor pengenceran = 745 x 5 = 3725
Berat sampel = 2,017
Ditanyakan : kadar phospor (%) ?
Jawab :
Y = 14,285 X + 0,0304
0,141 = 14,285 X + 0,0304
14,285 X = 0,1106
X = 0,00775705

X x faktor pengenceran ()
Kadar P (%) = x 100%
berat sampel (g)
0,00775705 x (5 x 745)
Kadar P (%) = x 100%
2,017 x 1000
0,00775705 x 3725
Kadar P (%) = x 100%
2017
Kadar P (%) = 1.43 %
% P = 1,43 %
Jadi dapat diketahui bahwa phospor dalam abu sebanyak 1,43%.