Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN RESMI

IMPACT TEST

Disusun Oleh :

1. Lutfi Patimatul Fajri (0515040034)


2. Kharina Pratiwi (0515040046)
3. Moh. Akmalul Mustofa (0515040054)
4. Alfida Widihapsari (0515040064)

PROGRAM STUDI TEKNIK KESELAMATAN DAN


KESEHATAN KERJA

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2016
BAB III
IMPACT TEST

3.1 Sub Kompetensi


Kemampuan yang akan dimiliki oleh mahasiswa setelah memahami
isi modul ini adalah sebagai berikut :
1) Mampu melakukan pengujian beban mendadak (Impact test) terhadap
suatu material.
2) Mampu menganalisa pengaruh takikan (notch) terhadap kekuatan
material.
3) Mampu menganalisa energi dan kekuatan impact dari hasil pengujian
suatu material.
4) Mampu menganalisa pengaruh temperatur terhadap kekuatan material.
5) Mampu menganalisa temperatur transisi suatu material.
6) Mampu menganalisa jenis patahan suatu material.

3.2 Uraian Materi


Beberapa perangkat pada otomotif dan transmisi serta bagian-bagian
pada kereta api dan lain, akan mengalami suatu beban kejutan atau beban
secara mendadak dalam pengoperasianya. Maka dari itu ketahanan suatu
material terhadap beban mendadak, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
sifat material tersebut perlu diketahui dan diperhatikan.
Pengujian ini berguna untuk melihat efek-efek yang ditimbulkan oleh
adanya takikan, bentuk takikan, temperatur, dan faktor-faktor lainnya. Impact
test bisa diartikan sebagai suatu tes yang mengukur kemampuan suatu bahan
dalam menerima beban tumbuk yang diukur dengan besarnya energi yang
diperlukan untuk mematahkan spesimen dengan ayunan sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 3.1 di bawah ini:
Bandul
Starting Position

Scale

Pointer

Specimen

Anvile
Gambar 3.1 Mesin Uji Impact

Bandul dengan ketinggian tertentu berayun dan memukul spesimen.


Berkurangnya energi potensial dari bandul sebelum dan sesudah memukul
benda uji merupakan energi yang diserap oleh spesimen, seperti ditunjukkan
pada Gambar 3.2 berikut:


h0

h1

Gambar 3.2 Sketsa Perhitungan Energi Impact Teoritis


Besarnya energi impact (joule) dapat dilihat pada skala mesin penguji.
Sedangkan besarnya energi impact dapat dihitung dengan persamaan
sebagai berikut :
Eo =W.ho. (3.1)
E1 = W.h1. (3.2)
E = Eo -E1
= W (ho- h1). (3.3)
dari gambar 3.2 didapatkan ho = - cos
= (1 - cos ) (3.4)
h1 = - cos
= (1 - cos ) (3.5)
dengan subtitusi persamaan 3.4 dan 3.5 pada 3.3 di dapatkan :
E = W ( cos - cos ) (3.6)
dimana: Eo = Energi awal (J)
E1 = Energi akhir (J)
W = Berat bandul (N)
ho = Ketinggian bandul sebelum dilepas (m)
h1 = Ketinggian bandul setelah dilepas (m)
= panjang lengan bandul (m)
= sudut awal (o)
= sudut akhir (o)
Untuk mengetahui kekuatan impact /impact strength (Is) maka energi
impact tersebut harus dibagi dengan luas penampang efektif spesimen (A)
sehingga :
Is = E/A
= W ( cos - cos )/A (3.7)
Pada suatu konstruksi, keberadaan takik atau nocth memegang peranan
yang amat berpengaruh terhadap kekuatan impact. Adanya takikan pada
kerja yang salah seperti diskotinuitas pada pengelasan, atau korosi lokal
bisa bersifat sebagai pemusat tegangan (stress concentration). Adanya
pusat tegangan ini dapat menyebabkan material brittle (getas), sehingga
patah pada beban di bawah yield strength.
Ada tiga macam bentuk takikan menurut standart ASTM pada pengujian
impact yakni takikan type A (V), type B (key hole) dan type C (U)
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.3 di bawah ini:

Gambar 3.3 Macam-macam Bentuk Takikan Pada Spesimen Uji Impact

Fracture atau kepatahan pada suatu material dapat digolongkan sebagai


brittle (getas) atau ductile (ulet). Suatu material yang mengalami
kepatahan tanpa mengalami deformasi plastis dikatakan patah secara
brittle. Sedangkan apabila kepatahan didahului dengan suatu deformasi
plastis dikatakan mengalami ductile Fracture. Material yang mengalami
brittle Fracture hanya mampu menahan energi yang kecil saja sebelum
mengalami kepatahan. Perbedaan permukaan kedua jenis patahan
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.4 di bawah ini :
Gambar 3.4 Pola Patahan Pada Penampang Specimen Uji Impact

Metode Pengujian Impact


Metode pengujian impact dibedakan menjadi 2 macam yaitu Metode
Charpy dan Metode Izod

1) Metode Charpy
Pada metode sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.5.a, spesimen
diletakkan mendatar dan kedua ujung spesimen ditumpu pada suatu
landasan. Letak takikan (notch) tepat ditengah dengan arah pemukulan
dari belakang takikan. Biasanya metode ini digunakan di Amerika dan
banyak negara yang lain termasuk Indonesia.
2) Metode izod
Pada metode ini sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.5.b, spesimen
dijepit pada salah satu ujungnya dan diletakkan tegak. Arah pemukulan
dari depan takikan. Biasanya metode ini digunakan di Negara Inggris.
Gambar 3.5 Metoda Pengujian Charpy (a) dan Izod (b)

Temperatur Transisi
Kemampuan suatu material untuk menahan energi impact sangat
dipengaruhi oleh temperatur kerja. Pengaruh temperatur terhadap
kekuatan impact setiap jenis material berbeda-beda. Pada umumnya
kenaikan temperatur akan meningkatkan kekuatan impact logam,
sedangkan penurunan temperatur akan menurunkan kekuatan impactnya.
Diantara kedua kekuatan impact yang ekstrim tersebut ada suatu titik
temperatur yang merupakan transisi dari kedua titik ekstrim tersebut
yakni suatu temperatur yang menunjukkan perubahan sifat material dari
ductile menjadi brittle. Titik temperatur tersebut disebut temperatur
transisi.
Ada 5 kriteria dalam penentuan temperatur transisi seperti yang
ditunjukkan oleh Gambar 3.6.
Kriteria pertama adalah T1 dimana temperatur transisi ini diperoleh dari
temperatur pada saat material bersifat 100% ductile menuju ductile-
brittle. Suhu transisi ini sering disebut fracture ductility temperature
(FDT).
Kriteria ke dua adalah T2 yaitu temperatur transisi ada pada titik dimana
fracture appearance berada pada 50%ductile-50%brittle.
Kriteria ke tiga (T3) adalah kriteria yang umum dipakai. Temperatur
transisinya diperoleh dari rumus:Is Transisi = (Is tertinggi + Is terendah) /
2.
Kriteria ke empat adalah T4. yaitu perubahan material dari ductile-brittle
menuju brittle setelah melewati Cv = 15 ft-lb.
Kriteria ke lima adalah T5 dimana suhu transisinya diperoleh dari
temperatur pada saat material bersifat ductile-brittle menuju brittle 100%.
Temperatur transisi ini sering disebut nil ductility temperature (NDT)

NDT FDT
100
Fracture
appearance

% cleavage fracture
Energy absorbeb, Cv

50

Cv

0
T5m T4 T3 T2 T1

Temperature

Gambar 3.6 Grafik Temperatur Transisi

Apabila temperatur operasi dari suatu peralatan berada di bawah


temperatur transisi dari material yang digunakan, maka adanya crack pada
material fracture akan menyebabkan kerusakan pada peralatan, sedangkan
apabila temperatur operasi terendah masih di atas temperatur transisi dari
material, maka brittle fracture bukan merupakan masalah.
3.3 Rangkuman
Pengujian ini berguna untuk melihat efek-efek yang ditimbulkan oleh adanya
takikan, bentuk takikan, temperatur, dan faktor-faktor lainnya. Impact test bias
diartikan sebagai suatu tes yang mengukur kemampuan suatu bahan dalam menerima
beban tumbuk yang diukur dengan besarnya energi yang diperlukan untuk
mematahkan specimen dengan ayunan. Sedangkan besarnya energi impact dapat
dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
E = W (cos - cos )
Untuk mengetahui kekuatan impact /impact strength (Is) maka energi impact
tersebut harus dibagi dengan luas penampang efektif spesimen (A) sehingga :
Is = E/A
= W (cos - cos )
Fracture atau kepatahan pada suatu material dapat digolongkan sebagai brittle
(getas) atau ductile (ulet). Metode pengujian impact dibedakan menjadi 2 macam
yaitu Metode Charpy dan Metode Izod
a) Metode Charpy
Pada metode sebagai mana ditunjukkan pada Gambar 3.5.a. spesimen
diletakkan mendatar dan kedua ujung material ditumpu pada suatu landasan.
Letak takikan (notch) tepat ditengah dengan arah pemukulan dari belakang
takikan.
b) Metode Izod
Pada metode ini sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.5.b, spesimen
dijepit pada salah satu ujungnya dan diletakkan tegak.

Kemampuan suatu material untuk menahan energi impact sangat dipengaruhi


oleh temperatur kerja. Pengaruh temperatur terhadap kekuatan impact setiap jenis
material berbeda-beda. Pada umumnya kenaikan temperatur akan meningkatkan
kekuatan impact logam, sedangkan penurunan temperatur akan menurunkan
kekuatan impactnya. Diantara kedua kekuatan impact yang ekstrim tersebut ada
suatu titik temperatur yang merupakan transisi dari kedua titik ekstrim tersebut yakni
suatu temperatur yang menunjukkan perubahan sifat material dari ductile menjadi
brittle. Titik temperatur tersebut disebut temperatur transisi
3.4 Referensi
a) Daniel, A. Brandt. 1985. Metallurgy Fundamental, The Goodheart
Willcox. Inc,USA
b) Dosen Metallurgi. 1986. Petunjuk Praktikum Logam, Jurusan Teknik
Mesin FTI. ITS
c) M.M. Munir. 2000. Modul Praktek Uji Bahan, Vol 1, Jurusan Teknik
Bangunan Kapal. PPNS
d) Suherman Wachid, Ir .1987. Diktat pengetahuan Bahan. Jurusan Teknik
Mesin FTI. ITS

3.5 Tugas
1) Apa pengaruh adanya takikan atau nocth terhadap kekuatan impact? Serta ada
berapa macam takikan menurut standart ASTM?
2) Ada berapa golongan fracture atau patahan dari suatu material? Sebut dan
jelaskan!
3) Ada berapa metode pengujian impact? Jelaskan !
Jawab:
1) Pada suatu konstruksi, keberadaan takik atau nocth memegang peranan yang
amat berpengaruh terhadap kekuatan impact. Adanya takikan pada kerja yang
salah seperti diskotinuitas pada pengelasan, atau korosi lokal bisa bersifat
sebagai pemusat tegangan (stress concentration). Adanya pusat tegangan ini
dapat menyebabkan material brittle (getas), sehingga patah pada beban di
bawah yield strength.
Ada tiga macam bentuk takikan menurut standart ASTM pada pengujian
impact yakni takikan type A (V), type B (key hole) dan type C (U)
2) Fracture atau kepatahan pada suatu material dapat digolongkan sebagai
brittle (getas) atau ductile (ulet). Suatu material yang mengalami kepatahan
tanpa mengalami deformasi plastis dikatakan patah secara brittle. Sedangkan
apabila kepatahan didahului dengan suatu deformasi plastis dikatakan
mengalami ductile Fracture. Material yang mengalami brittle Fracture hanya
mampu menahanenergi yang kecil saja sebelum mengalami kepatahan.
3) Metode pengujian impact dibedakan menjadi 2 macam yaitu Metode Charpy
dan Metode Izod
1. Metode Charpy
Pada metode sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.5.a, spesimen
diletakkan mendatar dan kedua ujung spesimen ditumpu pada suatu
landasan. Letak takikan (notch) tepat ditengah dengan arah pemukulan
dari belakang takikan. Biasanya metode ini digunakan di Amerika dan
banyak negara yang lain termasuk Indonesia.
2. Metode izod
Pada metode ini sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.5.b, spesimen
dijepit pada salah satu ujungnya dan diletakkan tegak. Arah pemukulan
dari depan takikan. Biasanya metode ini digunakan di Negara Inggris.

3.6 Prosedur Kerja


3.6.1. Alat dan bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktek uji impact adalah:
1. Mesin Uji Impact
2. Thermo Couple
3. Kompor Listik
4. Panci
5. Jangka Sorong
6. Tang
7. Stamping
8. Palu
9. Kikir
10. Amplas
11. Es Batu
Bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Spesimen uji impact untuk temperatur panas (1 buah)
2. Spesimen uji impact untuk temperature ruang (1 buah)
3. Spesimen uji impact untuk temperature dingin (1 Buah)
3.6.2. Prosedur keselamatan
Prosedur keselamatan kerja yang dilakukan adalah:
1. Pakaian dan Celana Bengkel
2. Safety Shoes
3. Safety Gloves

3.6.3. Langkah kerja


Persiapan spesimen
a. Ambil spesimen dan jepit pada ragum
b. Ambil kikir dan kikir bekas-bekas machining pada spesimen yang
memungkinkan menyebabkan kesalahan ukur.
c. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

Penandaan spesimen
a. Ambil stamp dan tandai seluruh specimen
1 : Untuk Spesimen Suhu Ruang 30oC yang ke 1
2 : Untuk Spesimen Suhu Panas 100oC yang ke 2
3 : Untuk Spesimen Suhu Dingin -60 oC yang ke 3
b. Pengukuran dimensi
1) Ambil spesimen ukur dimensinya (panjang, lebar dantebalnya).
2) Catat kode spesimen dan data pengukurannya pada lembar kerja
3) Ulangi langkah di atas untuk semua spesimen.

Pengkondisian spesimen pada temperatur kerja


a. Temperatur Panas
1) Masukkan air ke dalam panci dan letakkan di atas kompor listrik
yang telah dinyalakan.
2) Tunggu sampai air mendidih dan masukkan spesimen berkode P ke
dalam panci dan tunggu 5 menit.
3) Ukur temperatur air sesaat sebelum spesimen diambil untuk diuji
impact.
4) Catat pada lembar kerja.
b. Temperatur Dingin
1) Siapkan es batu pada sebuah wadah tertutup tahan dingin.
2) Masukkan specimen dan thermo couple
3) Tunggu sampai penunjuk temperatur menunjukkan angka 60 oC
5 menit.
4) Catat pada lembar kerja, temperatur sesaat sebelum spesimen
diambil untuk diuji impact.
c. Tempeatur ruang
Untuk spesimen pada suhu ruang bisa langsung dilakukan pengujian
impact.

Pengujian pada mesin uji impact


a. Mencatat data mesin pada lembar kerja.
b. Tempatkan bandul pada posisi awal untuk pengujian.
c. Atur jarum penunjuk pada posisi 0.
d. Ambil spesimen dan letakkan pada tempatnya secara tepat dan cepat,
terutama untuk kondisi panas dan dingin.
e. Letakkan tangan kanan pada pin pengunci beban dan tangan kiri pada
rem.
f. Tekan pin pengunci beban, sehingga bandul meluncur menimpa
spesimen.
g. Tekan rem ketika bandul hendak mengayun untuk yang kedua kalinya.
h. Amati dan catat besarnya sudut dan besarnya energi yang ditunjukkan
oleh jarum penunjuk.
i. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

Menentukan panjang lengan bandul


0
a. Angkat bandul sehingga membentuk sudut 10 dari garis tegak.
b. Lepaskan bandul sehingga berayun.
c. Hitung dengan stopwatch waktu yang dibutuhkan untuk 50 ayunan
(T50).
d. Hitung lengan bandul dengan menggunakan persamaan berikut :
T = 2 ( / g)1/2 (3.8)
Dimana T = periode (detik)
= T50 / 50
= panjang lengan bandul (m)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
3.7 Perhitungan dan pembahasan

Adapun hasil percobaan dari masing-masing spesimen dapat dilihat pada Tabel 3.1
dan Tabel 3.2 di bawah ini:

Tabel 3.1 Hasil percobaan Impact Test

: 160,43 Weight of Head: 96,5 N Length of Arm: 0,8 m

No Specimen Length Widht w Overall Thick at Cross


Stamp l(mm) (mm) Thick t Notch Section
(mm) tn(mm) An (mm2)

1 3.1 54,80 9,95 9,95 9,85 98,01

2 3.2 54,90 9,95 9,95 9,75 97,01

3 3.3 54,80 10,00 10,00 9,46 94,50

Tabel 3.2 Hasil percobaan Impact Test

Specimen Type of Location Temp Angle E impact E Theori (J) Strength


Stamp Notch of Notch (C) () (J) (J/mm2)

3.1 V Notch Tengah 30 12 148,20 148,25 1,51

3.2 V Notch Tengah 100 11 149,00 148,52 1,53

3.3 V Notch Tengah -60 150 5,40 5,88 0,07

3.7.1 Perhitungan energi menurut teori (E Theory)

a. Spesimen 3.1

E = W l(cos cos )

= 96,5 N 0,8 m (cos 12 cos 160,43)

1
= 148,25Nm [ ]
1

= 148,25 J

b. Spesimen 3.2

E = W l(cos cos )
= 96,5 N 0,8 m (cos 11 cos 160,43)

1
= 148,52Nm [ ]
1

= 148,52 J

c. Spesimen 3.3

E = W l(cos cos )

= 96,5 N 0,8 m (cos 150 cos 160,43)

1
= 5,88Nm [ ]
1

= 5,88 J

3.7.2 Perhitungan kekuatan impact

3.7.2.1 Menurut percobaan

a. Spesimen 3.1


Is =

148,20
=
98,01

= 1,51 J/mm2

b. Spesimen 3.2


Is =

149,00
=
97,01

= 1,54 J/mm2

c. Spesimen 3.3


Is =

5,40
=
94,50
= 0,06 J/mm2

3.7.2.2 Menurut teori

a. Spesimen 3.1


Is =

148,25
=
98,01

= 1,51 J/mm2

b. Spesimen 3.2


Is =

148,52
=
97,01

= 1,50J/mm2

c. Spesimen 3.3


Is =

5,88
=
94,50

= 0,06 J/mm2

3.7.3 Perbandingan energi menurut percobaan dan teori

Berikut perbandingan energy menurut percobaan dan teori yang dapat dilihat
pada Tabel 3.3 di bawah ini.
Tabel 3.3 Perbandingan Energi Berdasarkan Pengujian dan teori

Temperatur (C) Energi (J) Selisih

Pengujian Teori

30 148,20 148,25 0,05

100 149,00 148,52 0,48

-60 5,40 5,88 0,44

Dari data tersebut, dapat dibuat grafik energi - temperatur, seperti


ditunjukkan pada Gambar 3.7 sebagai berikut

160
148.2 149
140
148.25
120 148.52

100
Energi
80
(Joule) Teori
60 Pengujian

40

20
5.4
5.88
0
-60 -40 -20 0 20 40 60 80 100
Temperatur (C)

Gambar 3.7 Grafik Energi-Temperatur Percobaan dan Teori

3.7.4 Perbandingan kekuatan impact menurut pengujian dan teori

Berikut perbandingan kekuatan impact menurut pengujian dan teori yang


terdapat pada Tabel 3.4 di bawah ini
Tebel 3.4 Perbandingan Kekuatan Impact Menurut Percobaan dan Teori

Temperatur (C) Kekuatan Impact (J/mm2) Selisih

Pengujian Teori

30 1,51 1,51 0,05

100 1,54 1,50 0,48

-60 0,06 0,06 0,44

Dari data tersebut, dapat dibuat grafik energi - temperatur, seperti ditunjukkan pada
Gambar 3.8 sebagai berikut

2.00

1.80

1.60 1.51 1.54

1.40 1.51
1.20
Kekuatan 1.50
Impact 1.00
Teori
(J/mm2)
0.80
Pengujian
0.60

0.40

0.06 0.20

0.00
-60 0.06 -40 -20 0 20 40 60 80 100
Temperatur (C)

Gambar 3.8 Grafik Kekuatan Impact - Temperature Percobaan dan Teori

3.7.5 Perhitungan kekuatan impact transisi

a. Menurut pengujian

{ () + ()}
() =
2

(1,54 /+0,06 /)
=
2

= 0,8 J/mm2
b. Menurut teori

{ () + ()}
() =
2

(1,51 /+0,06 /)
=
2

= 0,79 J/mm2

Dari perhitungan tersebut didapatkan bahwa nilai kekuatan impact transisi


secara percobaan dan teori memiliki nilai yang relative sama (Is (transisi) =0,8 J/mm2).
Dari nilai tersebut kita dapat menentukan nilai temperature transisinya dengan
melihat gambar yang merupakan grafik temperature dan kekuatan impact seperti
pada Gambar 3.9 di bawah ini
2

1.8

1.6 1.51
1.4 1.54
1.5
1.2
Kekuatan 1.51
Impact 1
0.8 Teori
(J/mm2)
0.8
Pengujian
0.8
0.6

0.4

0.06 0.2

0
-60 0.06 -40 -20 0 20 40 60 TTr 80 100
Temperatur (C)

Gambar 3.9 Grafik Temperatur Transisi

Dari hasil perhitungan di atas, maka dapat diperoleh energi dan kekuatan
impact masing-masing specimen pada Tabel 3.5 di bawah ini
Tabel 3.5 Perbandingan Energi dan Kekuatan Impact Berdasarkan Percobaan dan
Teori

No Spesimen Temperatur Energi ( J) Kekuatan Impact


(C) (J/mm2)

Percobaan Teori Percobaan Teori

1 3.1 30 148,20 148,25 1,51 1,51

2 3.2 100 149,00 148,52 1,54 1,50

3 3.3 -60 5,40 5,88 0,06 0,06

3.7.6 Hasil percobaan jenis patahan


a. Spesimen 3.1 Pada suhu ruangan (30C)
Jenis patahan yang ditimbulkan adalah ulet (ductile) seperti yang ditunjukkan
oleh gambar dengan ciri patahan ulet adalah specimen mengalami deformasi plastis
sebelum patah
b. Spesimen 3.2 pada temperature 100C
Jenis patahan yang ditimbulkan adalah ulet (ductile) seperti yang
ditunjjukkan oleh gambar dengan ciri patahan ulet adalah specimen mengalami
deformasi plastis sebelum patah
c. Spesimen 3.3 pada temperature -60C
Jenis patahan yang ditimbulkan adalah getas (brittle) seperti yang
ditunjukkan oleh gambar dengan ciri patahan getas adalah specimen tidak mengalami
deformasi plastis dan langsung patah

3.8 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, terdapat pengaruh temperatur terhadap
kekuatan impact. Kekuatan impact tertinggi dicapai ketika spesimen bertemperatur
100C. Semakin tinggi temperatur, maka semakin tinggi kekuatan impact suatu
material. Spesimen 3.1 dan 3.2 mengalami patahan ulet (ductile), sedangkan
spesimen 3.3 mengalami patahan getas (brittle).
Ketidaktepatan hasil percobaan disebabkan oleh pembacaan skala pada mesin
uji impact yang kurang tepat, bentuk spesimen yang tidak sesuai standar, kedalaman
takikan (notch) dalam percobaan kali ini yang kurang dari 2 mm, waktu pemindahan
spesimen menuju mesin uji impact yang kurang cepat menyebabkan perubahan
temperatur pada spesimen tersebut, dan kesalahan penempatan spesimen pada mesin
uji impact yang menyebabkan pemukulan terhadap spesimen tidak tepat di bagian
belakang takikan tersebut.
LAMPIRAN

Gambar 3.11 SpesimenSetelah


Gambar 3.10 Saat Penghalusan Dihaluskan
Material

Gambar 3.12 Pemanasan Gambar 3.13 Pendinginan Spesimen


Spesimen 3.2 Hingga Temperatur 3.2 Hingga Temperatur -60C
100C
Gambar 3.13 Pengukuran Lebar
Gambar 3.13 Pengukuran Panjang
Spesimen 3.1 Sebesar 9,95 mm
Spesimen 3.1 Sebesar 54,80 mm

Gambar 3.15 Pengukuran Tebal Gambar 3.16 Tebal Notch Spesimen


Keseluruhan Spesimen 3.1 Sebesar 3.1 Sebesar 9,85 mm
9,95 mm

Gambar 3.17 Pengukuran Panjang Gambar 3.18 Pengukuran Lebar


Spesimen 3.2 Sebesar 54,90 mm Spesimen 3.2 Sebesar 9,95 mm
Gambar 3.19 Pengukuran Tebal Gambar 3.20 PengukuranTebal Notch
Keseluruhan Spesimen 3.2 Sbesar Spesimen 3.2 Sebesar 9,75 mm
9,95mm
Gambar 3.21 Pengukuran Panjang Gambar 3.22 Pengukuran Lebar
Spesimen 3.3 Sebesar 54,80 mm Spesimen 3.3 Sebesar 10,00 mm

Gambar 3.23 Pengukuran Tebal Gambar 3.24 Pengukuran Tebal Notch


Keseluruhan Spesimen 3.3 Sebesar Keseluruhan Spesimen 3.3 Sebesar 9,46
10,00 mm mm

Gambar 3.21 Hasil Energi Impact Gambar 3.22 Hasil Energi Impact pada
pada Spesimen 3.1 Sebesar 148,20 J Spesimen 3.2 Sebesar 149,00 J dan 11
dan 12
Gambar 3.23 Hasil Energi Impact Gambar 3.24 Hasil Pengujian Impact
pada Spesimen 3.3 Sebesar 5,4 J pada Material 3.1; 3.2; 3.3
dan 150