Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di negara

maju maupun di negara-negara berkembang. Prevalensi hipertensi di negara-

negara yang telah maju dilaporkan mencapai angka antara 1020%. Sedangkan

untuk negara berkembang seperti Indonesia, ditemukan sekitar 25,8% (Riskesdas,

2013). Hipertensi yang tidak ditangani akan berdampak pada munculnya penyakit

degeneratif, seperti penyakit jantung (Congestif Heart Failure CHF), gagal

ginjal (end stage renal disease), dan penyakit pembuluh darah perifer (Hernawan,

Arifah, 2012).

Hipertensi adalah salah satu gangguan kesehatan yang sering dijumpai dan

perlu segera untuk ditanggulangi. Bila tidak ditanggulangi dengan baik makan

penyakit ini akan mengganggu kehidupan penderita sehari-hari dan penyakit ini

dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi (Wolff, 1996). Menurut Smert

(1994), hambatan yang sering terjadi dalam pengobatan hipertensi disebabkan

oleh kelalaian penderita, tidak mendengarkan nasihan dokter dengan baik,

kurangnya pengetahuan dan pemahaman dalam minum obat, sehingga diperlukan

kerjasama yang erat antara lembaga-lembaga kesehatan, dokter dan pasien.

Pengertian yang salah tentang perawatan hipertensi sering terjadi karena

kurangnya pengetahuan (Sidharta, 1996).

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

perilaku seseorang (Notoatmojo, 1993). Menurut Smert (1994), pengetahuan yang

1
2

harus dimiliki oleh pasien hipertensi meliputi arti penyakit hipertensi, penyebab

hipertensi, gejala yang sering menyertai dan pentingnya melakukan pengobatan

yang teratur dan terus-menerus dalam jangka panjang serta mengetahui bahaya

yang ditimbulkan jika tidak minum obat.

Sampai saat ini banyak faktor yang menyebabkan hipertensi tidak dapat

ditangani. Salah satunya yaitu kepatuhan pasien dalam menjalani program terapi

(Burnier, 2001). Ketidakpatuhan pasien hipertensi terhadap program terapi

merupakan masalah besar karena diperkirakan 50% diantara mereka

menghentikan pengobatan dalam 1 tahun pemulihan (Manurung, 2011).

Ketidaktahuan pasien mengenai penyakit dan komplikasi yang bisa timbul dari

penyakit tersebut berdampak terhadap ketidakpatuhannya dalam meminum obat

maupun menjalani terapi.

Berdasarkan hal diatas peneliti tertarik untuk mengetahui Korelasi Tingkat

Pengetahuan Pengelolaan Hipertensi dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat

pada Pasien Hipertensi.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan data dalam latar belakang maka permasalahan yang dapat

dirumuskan adalah apakah ada korelasi antara tingkat pengetahuan pengelolaan

hipertensi dengan tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi.


3

1.3 Tujuan Masalah

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui korelasi antara tingkat pengetahuan pengelolaan hipertensi

terhadap tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan penderita hipertensi.


2. Untuk mendeskripsikan kepatuhan dalam pengobatan penderita

hipertensi.
3. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan pengelolaan

hipertensi dengan kepatuhan dalam melaksanakan pengobatan

hipertensi.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Rumah Sakit

Sebagai informasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu,

jangkauan pelayanan dalam pembinaan dan pengelolaan tentang hipertensi pada

pasien hipertensi di Rumah Sakit Provinsi Nusa Tenggara Barat.

1.4.2 Bagi Masyarakat

Memberi dorongan atau motivasi dalam memanfaatkan sarana dalam bidang

kesehatan khususnya Rumah Sakit untuk meningkatkan derajat kesehatan secara

optimal.
4

1.4.3 Bagi Peneliti

Sebagai dasar untuk pengembangan dan tindak lanjut dalam penelitian yang

terkait dengan kepatuhan dalam melaksanakan pengobatan pasien hipertensi.