Anda di halaman 1dari 73

EKSI 4203

TEORI PORTOFOLIO & ANALISIS INVESTASI


(BY ANTAIWAN BOWO PRANOGYO SE.,MM

PENILAIAN SAHAM
KEGIATAN BELAJAR 1
PENILAIAN SAHAM
Pendekatan Analisis
Pendekatan analisis dibagi menjadi dua yaitu:
Pendekatan top-down (Top down approach)
Pendekatan analisis yang dimulai menganalisis situasi di
suatu negara, selanjutnya menganalisis sektor-sektor
ekonomi, kemudian sub-sektor ekononomi dan terakhir
sekali menganalisis perusahaan yang bersangkutan.
Pendekatan Bottom-up (Bottom-up approach)
Pendekatan analisis dimulai dari paling mikro yaitu dari
menganalisis perusahaan yang memberikan keuntungan
kepada investasi dan selanjunya berbalik arah ke
industri dan ke negara.
Nilai Wajar Perusahaan

Myer (1977) menyatakan bahwa harga saham sebuah


perusahaan:
Present value of its predictable cashflows, plus the value of
rights or options embeded in the firm.
Harga saham dapat dihitung dengan dua komponen:
1. Nilai sekarang dari arus kas yang diramalkan di masa
mendatang.
2. Nilai opsi yang ada pada perusahaan.

Komponen kedua biasa disebut juga nilai yang


tersembunyi (hidden value), karena nilai jarang
diperhitungkan oleh analyst dan hanya diketahui oleh
orang dalam.
Perhitungan Nilai Intrinsik
Penilaian perusahaan dapat dilakukan dengan metode:
Pendekatan Relatif
Dibagi atas beberapa pendekatan yaitu Nilai Buku, NTA
(Net Tangible Assets), Harga terhadap penjualan (PS),
PER, dan EV to EBITDA.
Pendekatan diskonto
Pendekatan ini erat kaitan dengan Biaya Modal, Biaya
Hutang (cost of debt) dan Biaya Ekuitas.
Pendekatan contingent claim
Nilai Buku
Nilai buku merupakan nilai ekuitas dibagi dengan jumlah
saham yang diterbitkan perusahaan.
Rumus Nilai buku:

PBV = Price to Book Value


Jika:
PBV<1 , selayaknya dibeli
PBV>1,selayaknya tidak dibeli bila memiliki
&
sahamnya lebih baik dijual tetapi harga
pembeliannya harus sama dengan nilai buku.
Contoh
Beberapa Indikator Keuangan BCA
Contoh

Price to Book Value 2007 :

=Harga saham 2007/ Nilai buku 2008

Maka 7.300/ 944 = 7,73 X


Menggunakan tahun yang berbeda, karena yang dibeli
investor adalah Prospek perusahaan. Dan didalam
perbankan yang dipergunakan nilai bukunya.
NTA (Net Tangible Assets)

NTA memperhitungkan aset tidak berwujud, seperti


goodwill, hak cipta dan biaya IPO.
Rumus:
Aset Berwujud (net) = Ekuitas Aset tidak berwujud
PPNTA= price to Net Tangible Assets

PNTA < 1 maka selayaknya perusahaan dibeli karena


harganya jauh lebih kecil dari nilai NTA.
PNTA > 1 Maka saham yang dimiliki selayaknya dijual
dengan asumsi bahwa pembelian saham dengan harga
yang lebih murah dari nilai NTA.
Dapat digunakan untuk semua sektor industri
Contoh
Neraca PT Goodyear Indonesia, Tbk. per 31 Desember 2003

Beban ditangguhkan dan biaya dibayar dimuka merupakan


aset tidak berwujud selama tahun 2003.
Aset tidak berwujud sebesar Rp. 4.231,00 jutaan (Beban
ditangguhkan sebesar Rp. 3.034, 06 jutaan + biaya dibayar
dimuka Rp. 1.197 jutaan.
Saham yang beredar : 41 juta saham
Contoh
NTA = (Total asset Jmlh aset tdk berwujud Kewajiban lancar
Kewajiban tidak lancar) / Jumlah saham beredar
Jmlh aset tdk berwujud = Beban ditangguhkan + Biaya dibayar
dimuka
NTA = (388.062,22 4.231,06 88.059,18 22.907,33) / 41
= Rp. 6.655,24
Harga saham per 31 Desember 2003 Rp 3.750,00.
Maka rasio harga terhadap NTA adalah:
K = PNTA = P / NTA = Rp. 3.750 / Rp. 6.655,24 = 0,5634 x

K < 1 , harga saham di pasar sangat murah dan sudah


selayaknya saham tersebut dapat dibeli.
Harga terhadap penjualan (PS)

Pendekatan PS ini hampir sama dengan PBV, tapi


dipergunakan penjualan per unit saham untuk proyeksi ke
depan.
Rumus:

Perusahaan dapat menggunakan pendekatan ini adalah


perusahaan retail.
Tingginya rasio ini dikarenakan dua hal yaitu penjualan yang
kecil atau jumlah saham yang besar
Contoh

PS = Harga/ (Penjualan/Saham)
Tahun 2006= Harga saham 2006/Penjualan per saham 2007
= 870/ 693 = 1,26
Tahun 2007= harga saham 2007/Penjualan per saham 2008
= 850/782 = 1,09
Contoh

PS = Harga/ (Penjualan/Saham)
Tahun 2006= Harga saham 2006/Penjualan per saham 2007
= 800/ 1.445 = 0,55
Tahun 2007= harga saham 2007/Penjualan per saham 2008
= 690/1.714 = 0,40
PER
Price Earning Ratio (PER) merupakan ukuran penilaian
saham terutama untuk menentukan harga saham untuk
IPO.
Rasio ini merupakan hasil bagi antara harga pada
sekarang dibagi dengan laba bersih proyeksi di masa
mendatang.
Rumus:
Contoh

Matahari tbk Harga saham tahun 2006 = 800, proyek


laba bersih per saham tahun 2007 = 46, maka:
= 800/46 = 17,39 X

Note:
Harga saham hari ini merupakan prospek pendapatan
(laba bersih per saham) pada tahun mendatang.
EV to EBITDA
Rumus:

EV = enterprise value = harga pasar saham ditambah


harga pasar debt dikurangi kas.
Artinya: berapa kali hasil yang diperoleh perusahaan
atas dana yang diinvestasikan ke perusahaan.
Ukuran ini hanya dipergunakan untuk sektor industri
yang memiliki highly intensive capital.
Contoh
Neraca PT Indofood Sukses Makmur 2002 2003

Jumlah saham 2003 = 9.443.269.500 dan tahun 2002 =


9.384.900.000.
Harga per saham: 2002 = Rp. 600 dan 2003 = Rp.3.800.
Kapitalisasi pasar 2002 = Rp. 5.630,94 milyar dan tahun
2003 = Rp. 7.554,62 milyar
Contoh
EV2002 = Rp. 5.630,94 + Rp. 1.826,46 + Rp.5.717,78 Rp.
1.368,44 Rp. 567,26 = Rp. 11.239,48.

EV2003 =Rp. 7.554,62 + Rp. 1.064,3 + Rp. 6.153,52


Rp.1.529,70 Rp. 537,31 = Rp. 12.705,43.
Contoh
Laporan Rugi-Laba PT Indofood Sukses Makmur 2002 2003
(Milyar Rupiah)

EBITDA = Laba Sebelum Pajak + Pendapatan Bunga Neto +


Penyusutan
Contoh
EBITDA 2002= EBT + Interest + Depresiasi / Amortisasi
= Rp. 1.418,08 + Rp. 634,78 + Rp. 362,20
= Rp. 2.415,06
EBITDA2003 = EBT + Interest + Depresiasi / Amortisasi
= Rp. 1.032,14 + Rp. 815,98 + Rp. 406,80
= Rp. 2.254,92
Ratio Enterprise Value
Q = EV/EBITDA
Q2003 = Rp. 11.239,48 / Rp. 2.415,06 = 4,65x
Q2002 = Rp. 12.705,43 / Rp. 2.254,92 = 5,63x
Q2003 relative mahal dibandingkan dengan dengan
Q2002.
Dalam menghitung Enteprise Value/EBITDA selayaknya
dengan menggunakan proyeksi tahun berjalan karena
yang dibeli investor adalah prospek perusahaan.
Misalkan, saat ini pada Januari 2005, maka yang
dihitung menggunakan proyeksi Enteprise value dan
EBITDA tahun 2005.
Pendekatan Diskonto (discounted)
Pendekatan ini memerlukan diskonto dalam
memperhitungkan harga saham sekarang.
Pendekatan ini menyatakan bahwa harga saham
sekarang merupakan arus kas yang diterima di masa
mendatang dan dinilai sekarang.
Perhitungan nilai perusahaan selalu membutuhkan biaya
modal (weighted average cost of capital) perusahaan
terutama metode diskonto.
Biaya Modal
Biaya modal (cost of capital) adalah tingkat
pengembalian yang diharapkan (expected rate of return)
yang diinginkan pasar dalam rangka menarik dana untuk
investasi tertentu.
Biaya modal disebut juga biaya opportunitas (opportunity
cost) biaya yang harus dikeluarkan untuk alternative
investasi yang terbaik.
Modal dikelompokkan menjadi tiga kelompok:
Modal yang mempunyai bunga dikenal dengan
hutang.
Modal saham biasa.
Modal saham preferen
Biaya Hutang (cost of debt)
Biaya hutang adalah biaya yang harus dikeluarkan pihak
tertentu karena menggunakan dana tersebut.
Kd = bunga + (((biaya administrasi + biaya
provisi)/loan)/ periode loan).
Misalkan, PT XYZ mendapatkan pinjaman Rp. 70 milyar
jangka waktu 5 tahun. Bunga 17%, biaya administrasi Rp. 2,5
juta dan biaya provisi sebesar 1 per mil ( Rp 70 juta). Adapun
biaya hutang yang dibayar perusahaan per tahunnya yaitu:
= 17% + ((2,5+ 70)/5) / 70.000. = 17% + 0,0207%
= 17,0207%.
Perusahaan mengeluarkan biaya hutang setiap tahunnya
sebesar 17,0207 persenwalaupun sebenarnya perusahaan
membayar diawal sebesar Rp. 72,5 juta.
Biaya Ekuitas
Biaya ekuitas yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan
atas penggunaan ekuitas tersebut.
Biaya ekuitas dikelompokkan menjadi dua biaya ekuitas
preferen dan biaya ekuitas biasa.
Biaya ekuitas preferen merupakan biaya yang
dikeluarkan perusahaan kepada pemilik saham preferen.
Biaya modal saham preferen:
Ksp = dividen saham preferen / nilai saham preferen
Biaya modal saham biasa sebagai berikut:
Ksb = laba bersih / modal saham biasa
CONTOH
Misalkan, PT XYZ mempunyai modal preferen
sebanyak 35 persen dari ekuitas perusahaan yang
besarnya Rp. 150 milyar dengan jumlah saham
sebanyak 150 juta saham. Perusahaan menjanjikan
pembayaran dividen preferen setiap tahunnya sebesar
Rp. 350 per saham.
Maka:
Ksp = dividen saham preferen / nilai saham preferen
= (350x150.000.000x0.35) / (150.000.000.000 x 0.35)
= 35 persen.
CONTOH
Misalkan, PT XYZ mempunyai laba bersih sebesar Rp. 5
milyar dengan jumlah saham perusahaan sebanyak 10 juta
saham saham biasa dan 5 juta saham preferen.
Ekuitas perusahaan terdiri modal saham biasa sebesar Rp.
100 milyar, saham preferen sebesar Rp. 50 milyar, agio
sebesar Rp. 20 milyar dan laba ditahan perusahaan sebesar
Rp. 30 milyar.
Perusahaan selalu membayarkan dividen preferen sebesar
Rp. 100 per saham.
Adapun jumlah saham preferen yang dibayarkan sebesar Rp.
500 juta sehingga laba bersih untuk pemegang saham biasa
sebesar Rp. 4,5 milyar.
Biaya modal saham biasa perusahaan sebesar:
Ksb = Rp. 4,5 / Rp.100 milyar
Biaya Ekuitas
Rumus:
Rumus:
Dimana:
CONTOH
Saham Telkom mempunyai beta sebesar 1,16, size
premium sebesar 0,5 persen, industri risk premium
sebesar 1 persen, company risk premium 1,5 persen.
Tingkat bunga SBI sebesar 11,75 persen dan ekspektasi
tingkat pengembalian pasar sekitar 17,25 persen.
Maka:

Artinya, Telkom mempunyai biaya ekuitas biasa sebesar


21,13%
Biaya Modal
Biaya modal merupakan biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk dapat beroperasi dalam jangka
panjang dengan berbagai sumber dana perusahaan.
Sumber :
Sumber internal adalah laba ditahan perusahaan dan
segala sesuatu yang bersumber dari dalam
perusahaan.
Sumber eksternal dapat dikelompokkan menjadi:
Hutang: hutang spontan yang tidak mempunyai biaya
dan hutang yang terencana dengan memakai biaya
yang dikenal dengan bunga.
Ekuitas.
Rata-rata tertimbang biaya modal
(weighted average cost of capital)
Contoh
Indosat mempunyai beta 1,05, size premium sebesar
0,65 persen, industri risk premium sebesar 1,05 persen,
company risk premium 1,75 persen. Tingkat bunga SBI
sebesar 11,75 persen dan ekspektasi tingkat
pengembalian pasar sekitar 17,25 persen.
Perusahaan mempunyai Total Asset Rp. 27 trilliun,
Ekuitas Rp. 1,409 trilliun dan hutang Rp. 13,8 trilliun
dengan bunga rata-rata 16 persen serta pajak
perusahaan 33%.
Contoh
Pertama:
D/TA = 13,8 / 27 = 51,11 %
E/TA = 1,409/ 27 = 5,22%

Kedua: Biaya hutang neto pajak:


Kd = (1 0,33) x 16% = 10,73%
Ketiga:
Ke = 11,75% + 1,05 (17,25 11,75) % + 0,65% + 1,05% + 1,75%
= 11,75% + 1,05 * 5,5% + 3,45%
= 15,2 % + 5,775%
= 20,975%
Keempat:
wacc = 51,11% x 10,73% + 5,22% x 20,975% = 5,48% + 1,095 %
= 6,57%
KEGIATAN BELAJAR 2
STRATEGI PORTOFOLIO SAHAM
Terminal Value
Tiga Pendekatan dalam perhitungan Terminal Value:
1. Liquidation Value

2. Multiple Approach
3. Stable Growth Model

Jika menggunakan Free Cash Flow to Equity:


Perhitungan nilai perusahaan
dengan pendekatan laba bersih
CONTOH

Perusahaan XYZ mempunyai laba bersih sebesar


Rp. 3 milyar pada tahun X1; sebesar Rp. 3,2 milyar
pada tahun X2; dan Rp.3,5 milyar pada tahun X3
serta tahun selanjutnya dianggap konstan
sepanjang masa sebesar Rp. 3,8 milyar. Pada akhir
tahun ketiga nilai buku perusahaan sebesar Rp.
29,5 milyar dan inflasi diasumsikan sebesar 5% per
tahun untuk periode selanjutnya. Perusahaan ini
mempunyai wacc sebesar 13,12 % per tahun.
CONTOH

Nilai perusahaan sebesar Rp. 27,58006 milyar dan


selanjutnya harga per saham adalah hasil bagi nilai
perusahaan dengan jumlah saham yang diterbitkan
perusahaan (beredar).
Pendekatan Dividen

Pendekatan ini memberikan asumsi bahwa perusahaan


akan berjalan sepanjang masa (going concern) dan
perusahaan membagikan dividen kepada pemilik saham
perusahaan.
Perhitungan nilai perusahaan :
Pendekatan Dividen

Nilai perusahaan Walter:

Harga saham dapat dibuat menjadi penjumlah dari dua


komponen yaitu nilai sekarang dari dividen dan nilai
sekarang dari laba ditahan.
Rumus:
Perhitungan harga saham Menurut Walter
dengan berbagai skenario
Perhitungan harga saham Menurut Walter
dengan berbagai skenario

Implikasi dari hasil perhitungan:


a. Bila tingkat pengembalian lebih besar dari biaya
modal (r > k), harga saham meningkat sejalan dengan
penurunan dividen pay out ratio.
b. Bila tingkat pengembalian sama dengan biaya modal
(r = k), harga saham tidak berubah sejalan dengan
perubahan dividen pay out ratio.
c. Bila tingkat pengembalian lebih kecil dari biaya modal
(r < k), harga saham meningkat sejalan dengan
peningkatan dividen pay out ratio.
Perhitungan harga saham Menurut Walter
dengan berbagai skenario

Model dari Walter tersebut memberikan argumentasi


sebagai berikut:
Optimal pay out ratio untuk perusahaan yang
bertumbuh tidak ada.
Optimal pay out ratio untuk perusahaan normal tidak
relevan
Optimal pay out ratio untuk perusahaan yang
melemah adalah 100 persen.
Pendekatan Pertumbuhan konstan
Asumsi Model penilaian harga saham dengan menggunakan
pendekatan kapitalisasi dividen (Myron Gordon):
a. Laba ditahan merupakan satu-satunya sumber dari
pembiayaan perusahaan. Sehingga model Gordon sama
seperti dengan Model Walter bahwa dividen mempunyai
hubungan dengan harga saham.
b. Tingkat pengembalian investasi perusahaan konstan.
c. Pertumbuhan perusahaan (g) merupakan hasil perkalian
dari laba ditahan (b) dengan tingkat pengembaliannya (r).
d. Biaya modal konstan dan lebih besar dari tingkat
pertumbuhan.
e. Perusahaan terus berlangsung.
f. Tidak ada pajak.
Pendekatan Pertumbuhan konstan
Rumus :

dimana r = k = biaya ekuitas perusahaan


Contoh :
PT Janjimatogu Porsea Pinus Tbk., mempunyai rencana
memberikan dividen sebesar Rp. 500,- dan biaya kapital 18 %
serta pertumbuhan dividen diharapkan bertumbuh secara
konstan sebesar 10 per tahun.
Maka:
P0= Rp. 500 /(0,18 0,10)
= Rp. 500 / 0,08
= Rp. 6.250,-
Contoh

PT XYZ mempunyai perencanaan dividen sebesar Rp.


1.000 per saham pada tahun mendatang dan
direncanakan juga bahwa dividen tersebut akan
bertumbuh sekitar 7,5 persen per tahun dan perusahaan
telah menghitung biaya modal perusahaan sebesar 3
kali dari pertumbuhan dividen yang dibayarkan
perusahaan.
Maka harga saham:
P= DIV/ (k g) = DIV/ (3 x g g)
P= Rp. 1.000 /(3 x 0,075 0,075)
= Rp. 1.000 / 0,15
= Rp. 6.667,-
Pendekatan Pertumbuhan konstan

Menurut Gordon:
Perhitungan harga saham Menurut Gordon
dengan berbagai skenario
Perhitungan harga saham Menurut Gordon
dengan berbagai skenario

Implikasinya:
a. Bila tingkat pengembalian investasi lebih besar dari
biaya modal (r > k), harga saham meningkat
sejalan dengan penurunan dividen pay out ratio.
b. Bila tingkat pengembalian sama dengan biaya
modal (r = k), harga saham tidak berubah dimana
terjadi perubahan dividen pay out ratio.
c. Bila tingkat pengembalian lebih kecil dari biaya
modal (r < k), harga saham meningkat sejalan
dengan peningkatan dividen pay out ratio.
Perhitungan harga saham Menurut Gordon
dengan berbagai skenario

Model Gordon ini memberikan implikasi kepada kebijakan


dividen:
Optimal pay out ratio untuk perusahaan yang bertumbuh
tidak ada.
Optimal pay out ratio untuk perusahaan normal tidak
relevan
Optimal pay out ratio untuk perusahaan yang melemah
adalah 100 persen.
Pendekatan Arus Kas
Arus Kas dikelompokkan menjadi tiga yaitu arus kas
operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan.
Arus kas yang dipergunakan untuk menghitung harga
saham adalah arus kas yang bebas dipergunakan untuk
investasi dalam finansial dan memberikan pinjaman
dimana arus kas ini dikenal dengan arus kas bebas
(Free Cash Flow).
Rumus:
Pendekatan Arus Kas
Free Cash Flow dapat dibagi menjadi:
a. Free Cash Flow to Equity
Free Cash Flow to Equity maksudnya semua arus kas
yang siap untuk diberikan dan dimiliki oleh ekuitas.
Adapun perhitungan Free Cash Flow to Equity sebagai
berikut:
+ Net Income
- Investasi Modal
+ Penyusutan
- Perubahan pada modal kerja non-tunai
+ (Hutang baru pembayaran hutang)
Pendekatan Arus Kas
Free Cash Flow dapat dibagi menjadi:
b. Free Cash Flow to the Firm
Free Cash Flow to the Firm memberikan arti semua arus kas
yang siap diberikan kepada kepada semua penuntut klaim
perusahaan yaitu ekuitas dan hutang.
Perhitungan Free Cash Flow to the Firm:

Pendekatan kedua:
Pendekatan Arus Kas

Dengan asumsi pajak 30 persen:


Pendekatan Arus Kas
Dalam laporan keuangan perusahaan disebutkan
bahwa perusahaan melakukan investasi (Capital
Ependiture) sebesar Rp. 987,7 milyar dan
depresiasi sebesar Rp. 406,8 milyar serta
perubahan non-cash modal kerja sebesar Rp.
1.557,25 milyar selama tahun 2003 dan untuk tahun
2002 sebesar Rp.908,08 milyar untuk investasi dan
Rp. 362,20 milyar untuk depresiasi serta
pengeluaran non cash Rp. 251,78 milyar dengan
asumsi pajak sebesar 25%.
Pendekatan Arus Kas
FCF2002
= Rp. 2.052,86*(1-0,25) (Rp. 908,08 Rp. 362,2) + Rp.251,78
= Rp. 1.245,55

FCF 2003
= Rp.1.848,12 *(1-0,25) (Rp. 987,7 Rp. 406,8) - Rp. 1.557,25
= - Rp. 752,06
Pendekatan Arus Kas
Bila diasumsikan FCF untuk tahun berikutnya konstan
maka harga saham dapat dihitung sebagai berikut:

dengan asumsi k = biaya kesempatan atau modal


perusahaan.
Bila menggunakan data tahun 2002 dengan asumsi
biaya modal sebesar 25% per tahun maka diperoleh nilai
perusahaan dengan persamaan:
P= Rp. 1.245,55 / 0,25
= Rp.4.982,2 milyar.
Pendekatan Claim
Hidden value ini dapat dihitung dengan pendekatan opsi:

Adapun harga sebuah opsi dari model Black Scholes


sebagai berikut:
Pendekatan Claim
Dimana:
CONTOH
8 bulan lalu Manajer Investasi PT Janjimatogu Capital
ingin membeli opsi saham PT Portal Investasi Porsea
Tbk. pada harga US$ 65 di mana harga saat ini senilai
US$ 70 per saham dan volatilitas saham tersebut
sebesar 32% dan tingkat bunga sebesar 10%. Hitung
nilai opsi call dan put saham tersebut ?
CONTOH
CONTOH
Harga opsi call dan put sebagai berikut:
Pendekatan EVA dan MVA
Economic Value Added (EVA)

Rumus EVA:
EVA = NOPAT - Cost of Capital x Invested Capital
NOPAT = net operating profit after tax
EVA = (c k) * Invested Capital
dimana k = biaya modal
c = NOPAT/ Capital Invested dikenal dengan RONA.
Pendekatan EVA dan MVA
Invested Capital adalah jumlah dari seluruh pembiayaan
perusahaan dan tidak termasuk pinjaman kepada pihak
ketiga tanpa bunga seperti hutang usaha, hutang pajak
biaya yang belum dibayar dan sebagainya (non-interest-
bearing liabilities).
Working Capital Requirement (WCR) dapat dihitung
sebagai berikut:
Neraca umum vs Neraca EVA
Perhitungan NOPAT untuk EVA
Diasumsikan perusahaan melakukan pinjaman sebesar
Rp. 10 milyar dengan tingkat bunga 3% per tahun.
Perhitungan NOPAT untuk EVA
Perhitungan Biaya modal :

Perhitungan EVA:
Market Value Added (MVA)

Market Value Added (MVA) adalah perbedaan antara


nilai pasar dari perusahaan (hutang dan ekuitas) dengan
total investasi modal ke dalam perusahaan.
Nilai pasar dari perusahaan adalah enterprise value
dari perusahaan yang bersangkutan dimana merupakan
hasil jumlah seluruh nilai pasar yang diklaim oleh pihak
lain terhadap perusahaan pada suatu waktu tertentu.
Total investasi modal adalah seluruh investasi yang
dilakukan semua pihak kepada perusahaan pada suatu
waktu tertentu.
Market Value Added (MVA)

Rumus:
MVA = Invested Capital + present value of future value EVAs
MVA = Market Value Invested Capital
Market Value Added (MVA)
Neraca PT Indofood Sukses Makmur 2002 2003

Adapun Enterprise Value dari PT Indofood Sukses Makmur


sebagai berikut:
EV2002 = Rp. 5.630,94 + Rp. 1.826,46 + Rp.5.717,78 Rp. 1.368,44
Rp. 567,26 = Rp. 11.239,48 milyar

EV2003 = Rp. 7.554,62 + Rp. 1.064,3 + Rp. 6.153,52 Rp.1.529,70 Rp.


537,31 = Rp. 12.705,43 milyar
Market Value Added (MVA)
Nilai Invested Capital (IC) sebagai berikut:
IC 2002= Rp. 938,49 + Rp. 1.826,46 + Rp.5.717,78 = Rp. 8.484,73 Milyar
IC2003 = Rp. 944,33 + Rp. 1.064,3 + Rp. 6.153,52 = Rp. 8.162,15 milyar

Nilai MVA perusahaan sebagai berikut:


MVA2002 = Nilai Pasar2002 Invested Capital2002
= Rp. 11.239,48 milyar - Rp. 8.484,73 Milyar = Rp. 2.754,75
MVA2003 = Nilai Pasar2003 Invested Capital2002
= Rp. 12.705,43 milyar - Rp. 8.162,15 milyar
= Rp. 4.543,28 milyar.