Anda di halaman 1dari 9

CHAPTER 5: STAKEHOLDER RELATIONSHIP

A. RELATIONSHIPS WITH BOARDS OF DIRECTORS AND AUDIT COMMITTEES


Melalui komite audit, Chief Audit Executive (CAE) bertanggung jawab kepada direksi untuk menjaga
yang sedang berlangsung, hubungan yang membangun, dan untuk pelaporan yang biasa atas isu-isu yang
berkaitan dengan assurance.
a. Responsibilities of Boards of Directors and Audit Committees.
Sebelum tahun 2002, direksi tidak memiliki tanggung jawab yang spesifik yang memiliki kekuatan
dan efek dari hokum. Akan tetapi, mereka pada umumnya dianggap bertanggung jawab untuk
meninjau keputusan manajemen senior, menyingkirkan manajer senior saat memiliki performa
yang buruk, dan sebagai organ relasi publik dan komunitas untuk perusahaan.
Selanjutnya, tanggung jawab direksi adalah:
1. Untuk mengembangkan kebijakan dan mengimplementasikan prosedur yang diperlukan untuk
membatasi conflict of interest.
2. Untuk memastikan kepatuhan dengan hukum dan prinsip etika dalam semua tingkatan dari
perusahaan.
3. Untuk memastikan bahwa program kepatuhan perusahaan sudah tersedia.
Tanggung jawab komite audit:
1. Minimal satu dari anggota komite audit harus memiliki keahlian dalam bidang akuntansi dan
manajemen keuangan karena direksi perusahaan yang listed meninterpretasikan kualifikasi
tersebut dalam penilaian bisnisnya.
2. CAE diharuskan lapor secara langsung ke komite audit.
3. Apabila tidak ada anggota komite audit yang merupakan ahli di bidang keuangan, perusahaan
harus mengungkapkan alasan-alasan kenapa tidak ada anggota yang merupakan ahli di bidang
keuangan.
b. The Audit Committee Charter
Tujuan komite audit adalah untuk membantu dewan komisaris dalam memenuhi
tanggungjawab pengawasannya atas proses pelaporan keuangan, sistem kontrol internal, proses
audit, dan proses perusahaan dalam mengawasi kepatuhan terhadap undang-undang dan
peraturan serta kode perilaku.
Wewenang komite audit adalah untuk melakukan atau memberikan wewenang untuk
melakukan investigasi terhadap seluruh permasalahan yang terdapat dalam di dalam lingkup
tanggungjawabnya.
Komposisi komite audit terdiri paling sedikit tiga orang dan tidak boleh lebih dari enam orang
anggota dewan komisaris. Dewan atau komite yang mewakili akan menunjuk para anggota dan
ketua komite. Paling tidak satu anggota akan ditunjuk sebagai ahli keuangan yang memahami
masalah keuangan.
Rapat komite audit diadakan paling sedikit empat kali dalam setahun, dan tidak menutup
kemungkinan diadakannya rapat-rapat tambahan. Apabila diperlukan, komite audit dapat
mengundang manajemen atau pihak luar lain untuk menghadiri rapat tersebut..
Tanggung jawab komite audit adalah sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan
Menelaah masalah-masalah akuntansi dan pelaporan yang signifikan, termasuk transaksi-
transaksi yang rumit atau tidak umum serta memahami dampak yang ditimbulkan kepada
laporan keuangan.
Bersama-sama dengan manajemen dan auditor eksternal melakukan penelaahan atas
hasil-hasil audit, termasuk kendala-kendala yang dihadapi.
Melakukan penelaahan atas laporan keuangan tahunan, dan mempertimbangkan apakah
laporan keuangan tahunan telah lengkap dan memuat seluruh informasi serta sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Melakukan penelaahan atas bagian-bagian dari laporan keuangan dan pelaporan
peraturan terkait sebelum diterbitkan.
Melakukan penelaahan bersama-sama dengan manajemen dan auditor eksternal
terhadap seluruh permasalahan yang perlu untuk dikomunikasikan kepada komite.
Mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana manejemen mengembangkan informasi
keuangan interim, serta sifat dan luas keterlibatan auditor internal dan eksternal di
dalamnya.
Melakukan penelaahan laporan keuangan interim dengan manajemen dan auditor
eksternal sebelum disampaikan kepada pihak penyelenggara.
2. Kontrol Internal
Mempertimbangkan efektifitas sistem kontrol internal perusahaan termasuk keamanan
dan kontrol teknologi informasi.
Memahami lingkup penelaahan auditor internal dan eksternal atas pelaporan keuangan
dan temuan-temuan yang diperoleh.
3. Audit Internal
Bersama-sama dengan manajemen dan direktur audit melakukan penelaahan atas akta,
rencana, aktifitas, penempatan staf, dan struktur organisasi dar fungsi audit internal.
Memastikan bahwa tidak terdapat pembatasan yang tidak berdasar.
Menelaah efektvitas fungsi audit internal, termasuk kepatuhannya terhadap standar IIA.
Secara rutin melakukan pertemuan terpisah dengan direktur audit untuk membahas hal-
hal yang perlu dibahas secara pribadi.
4. Audit Eksternal
Melakukan penelaahan terhadap lingkup dan pendekatan audit yang ditawarkan oleh
auditor eksternal, termasuk koordinasi kegiatan audit dengan audit internal.
Melakukan penelaahan terhadap prestasi auditor eksternal.
Melakukan penelaahan dan mendapatkan pernyataan dari auditor mengenai hubungan
antara auditor dengan perusahaan.
Melakukan pertemuan terpisah dengan auditor eksternal untuk mendiskusikan hal-hal
yang oleh komite atau auditor dianggap sebagai sesuatu yang harus didiskusikan secara
pribadi.
5. Kepatuhan
Melakukan penelaahan atas efektivitas dari sistem yang mengawasi kepatuhan terhadap
hukum dan undang-undang.
Melakukan penelaahan atas temuan-temuan dari setiap pemeriksaan oleh badan-badan
penyelenggara dan observasi oleh auditor lain.
Melakukan penelaahan atas proses untuk menyampaikan kode etik kepada para karyawan
dan mengawasi kepatuhan terhadap pelaksanaan kode etik tersebut.
Mendapatkan update terbaru tentang hukum dan peraturan dari manajemen atau
penasihat hukum.
6. Tanggung jawab Pelaporan
Memberikan laporan kepada dewan komisaris mengenai aktivitas komite, isu-isu, dan
rekomendasi terkait secara rutin.
Memberikan suatu celah terbuka untuk berkomunikasi dengan audit internal, audit
eksternal, dan dewan komisaris.
Memberikan laporan tahunan kepada para pemegang saham, yang menbguraikan
mengenai komposisi dari para anggota komite, tanggungjawab dan bagaimana ia dapat
diberhentikan.
Melakukan penelaahan atas laporan-laporan lain yang diterbitkan oleh perusahaan.
c. Reporting and Oversight Relationships of the Audit Committee
Hubungan pelaporan sebaiknya memastikan adanya akses yang tidak terbatas dari direktur
audit kepada komite. Hubungan pengawasan sebaiknya tidak sampai kepada hanya sebuah
ketentuan bahwa auditor internal melakukan penelaahan atas catatan-catatan keuangan dan
akuntansi, laporan, dan sisstem saja. Untuk memastikan fungsi audit internal telah seimbang,
sebaiknya memeprtimbangkan:
1. Filosofi audit dari perusahaan
2. Independensi audit perusahaan
3. Masalah-masalah logistik, seperti jumlah dan lokasi staf.
d. The Chief Audit Executives Relationship with the Audit Committee
IIA telah menerbitkan standar 2060 yang menyatakan bahwa direktur audit hendaknya
memberikan laporan secara rutin kepada dewan dan manajemen senior mengenai tujuan,
wewenang, tanggungjawab, dan kinerja dari aktivitas audit internal secara relatif terhadap rencana
yang telah dibuat. Pelaporan juga sebaiknya meliputi eksposur-eksposur dari risiko yang signifikan
dan masalah-masalah pengendalian, masalah penyelenggaraan perusahaan, dan masalah-masalah
lain sesuai dengan yang dibutuhkan atau diminta oleh dewan dan manajemen senior.
B. RELATIONSHIPS WITH MANAGEMENT
Kunci untuk mengelola hubungan dengan manajemen adalah:
Komunikasi dengan efektif
Menggunakan teknik audit partisipatif
Menyelesaikan konflik secara konstruktif.
a. Objectivity, Independence, and Relationships with Management
The IIAs Code of Ethics and Standards mendefinisikan objektivitas sebagai sikap mental
yang tidak memihak yang memungkinkan auditor internal melakukan perjanjian sedemikian rupa
sehingga mereka percaya pada produk kerja mereka dan bahwa tidak ada kompromi kualitas yang
dibuat. Objektivitas mensyaratkan bahwa auditor internal tidak mensubordinasikan penilaian
mereka atas masalah audit kepada orang lain.
b. Development and Maintenance of Good Relationships
Auditor internal membangun dan mempertahankan hubungan kerja yang baik dengan klien
mereka dengan mengadopsi teknik yang sama yang dipakai oleh manajer yang efektif kepada
bawahannya. Teknik-teknik ini termasuk mewawancara secara efektif, mendengarakan dengan
baik, berkomunikasi secara terbuka, dan memperlakukan klien dengan hormat setiap waktu
bahkan saat engagement menjadi perdebatan.
Key Components of Effective Interviewing
Interviewing Objectives:
Mencari informasi yang relevan dengan perjanjian
Membangun hubungan baik yang mendorong hubungan kerja yang positif selama
perjanjian.
The Interviewing Process:
Bersiap-siap untuk wawancara
o Mendefinisikan tujuan
o Identifikasi interviewee yang tepat
o Mengumpulkan informasi latar belakang tentang area audit dan interviewee
o Membuat petanyaan yang tepat
o Membangung ekspektasi dengan interviewee dan identifikasi informasi yang
dibutuhkan
o Mengatur logistic
o Menyiapkan garis besar
Melaksanakan wawancara
o membangun hubungan baik dan menciptakan dan suasana yang mendorong
keterbukaan
o Meninjau tujuan dari wawancara, topik yang akan dicakup, dan estimasi waktu
yang dibutuhkan
o Menanyakan pertanyaan langsung dan pertanyaan tindak lanjut yang berarti
o Hindari jargon teknis
o Gunakan periode diam secara efektif
o Dengarkan
o Ringkas dan konfirmasikan poin-poin penting
o Diskusikan langkah selanjutnya
o Atur kontak tindak lanjut
o Berterima kasih kepada interviewee
Mendokumentasikan wawancara
o Merefleksikan wawancara dan catatan tinjauan
o Rekam hasil dari wawancara dalam bentuk yang baik.
Characteristics Common among Effective Interviewers:
Profesionalisme
kemampuan komunikasi interpersonal dan lisan yang luar biasa, termasuk keterampilan
mendengarkan
kemampuan untuk menampilkan kepercayaan diri dan rasa hormat tanpa sombong
Rasa ingin tahu bawaan
Objektivitas
Common Barriers to Effective Interviews
Hambatan klien seperti tuntutan persaingan tepat waktu, praduga tentang auditor
internal dan ketakutan akan pembalasan
Kekurangan dalam proses wawancara
kurangnya kompetensi yang diperlukan dari pihak auditor internal
Critical Success Factors
Siap
Mengenali dan menghormati interviewee
Membangun kredibilitas dan kepercayaan
Berbicara bahasa interviewee
Mengharapkan sesuatu yang tidak terduga.

c. Participative Auditing
Perbandingan
Pendekatan Traditional Participative
Audit
Objectives Mengurangi biaya dan meningkatkan menyediakan sarana yang lebih baik
efiesiensi dimana manajer dapat mengurangi
biaya dan meningkatkan efisiensi
Procedures Diberlakukan dari atas dan diawasi dimiliki oleh manajer unit bisnis, auditor
and Controls oleh auditor internal internal adalah konsultan profesional
yang didedikasikan untuk membantu
manajer meningkatkannya.
Standards Auditor internal mementukan Manajer dan auditor internal setuju
standar dimana operasi akan dengan standar pengukuran dan
dikelola. Manajer hanya memberikan bagaiaman standar akan diterapkan.
pengetahuan atas operasi.
Reports Mendeskripsikan hanya kekurangan, Auditor internal mengeluarkan laporan
rekomendasi audit dilaporakan untuk yang seimbang dan menjelaskan apa
top management. yang dilakukan manajemen unit bisnis
untuk memperbaiki operasi dan
memperbaiki kelemahan yang
ditemukan.
Improved Berawal dari focus pada kekurangan Berawal dari tindakan perbaikan dimana
Conditions yang diungkapkan oleh auditor auditor internal dan klien berpartisipasi.
interal.
Procedures auditor internal melihat bahwa auditor internal memeriksa prosedur
and Policies semua prosedur dan kebijakan dan kebijakan untuk relevansi, viabilitas,
dipatuhi secara ketat. dan akal sehat; mengusulkan perubahan
dan kontrol yang tepat; dan
menunjukkan kepada manajer unit
bisnis dan karyawan mereka tentang
kelayakan mengikuti kebijakan dan
prosedur yang dapat diterima.
Act Bertindak sebagai ahli dari luar. Bertindak sebagai konsultan internal.
Control Auditor internal, melalui Klien, dengan auditor internal,
pemeriksaan, mengungkapkan mengembangkan prosedur penilaian
kontrol yang kurang dan mandiri untuk menilai klien yang
menunjukkannya dalam laporan mengidentifikasi masalah kontrol yang
audit mereka amati.
Action Plan auditor internal terus melakukan Auditor internal membantu klien untuk
tindak lanjut atas rekomendasi menetapkan kontrol untuk memastikan
rencana tindakan perbaikan diterapkan
d. Conflict Management and Resolution
Resolusi yang efektif mencakup langkah-langkah berikut:
1. Memilih waktu dan tempat yang tepat untuk berdiskusi.
2. Menentukan tujuan diskusi.
3. Mengembangkan agenda diskusi.
4. Menggunakan ketrampilan komunikasi yang efektif, termasuk bertanya dan mendengarkan
secara aktif.
5. Menjaga nada dari diskusi tenang dan membangung.
6. Fokus pada fakta-fakta daripada individu atau kepribadian.
7. Memahami posisi dan kebutuhan seluruh peserta: diskusikan perbedaan pendapat secara
terbuka dengan hormat.
8. Mencari kesamaan dan area untuk kompromi atau keuntungan bersama
9. Mengembangkan solusi alternative.
10. Mencapai kesepakatan.
11. Berikan bantuan fasilitator atau mediator, jika perlu.
C. RELATIONSHIPS WITH EXTERNAL AUDITORS AND OTHER STAKEHOLDERS
Chief audit executive dan auditor internal bertanggung jawab dalam mengembangkan dan
mempertahankan hubungan yang membangun dengan beberapa pemangku kepentingan eksternal,
tergantung dari jenis organisasinya.
a. Acquisition of External Audit Services
CAE harus memberikan pengetahuan teknis dan khusus untuk membantu dalam proses akuisisi
jasa eksternal auditor, diantaranya:
Partisipasi sebagai anggota tim seleksi
rekomendasi kriteria yang akan digunakan dalam proses seleksi
identifikasi persyaratan peraturan atau lainnya yang harus dipertimbangkan
evaluasi biaya eksternal auditor yang diajukan
b. Coordination of Internal and External Audit Activities
Tujuan utama dari koordinasi antara auditor internal dan eksternal bukan soal
keekonomisan, akan tetapi adalah untuk mendapatkan efesiensi dan efektifitas yang maksimal dari
seluruh audit effort. IIA Practice Advisory 2050-1: koordinasi menguraikan sarana koordinasi
antara auditor internal dan eksternal. Yang terpenting adalah komunikasi yang erat dan konstan
antar kelompok. Auditor internal dapat sangat membantu auditor eksternal dengan bertukar
gagasan dan memberikan informasi tentang kondisi dan perkembangan dalam organisasi, dengan
menjelaskan proses dan prosedur, dan dengan memberikan briefing mengenai kegiatan dan
temuan audit.
c. Preparation for External Audits
Untuk memenuhi persyaratan SAS 65, CAE harus mendokumentasikan materi berikut ini dalam
persiapan untuk tinjauan oleh auditor eksternal:
Memahami Fungsi Audit Internal
Status organisasional dalam entitas
Penerapan standar professional
Rencana audit
Akses ke catatan; keterbatasan lingkup apapun
Menilai Kompetensi dan Objektivitas
Tingkat pendidikan dan pengalaman professional
Sertifikasi professional dan melanjutkan pendidikan
Kebijakan, program, dan prosedur audit
Praktik mengenai tugas dari auditor internal
pengawasan dan tinjauan kegiatan audit internal
Kualitas atas dokumentasi, laporan, dan rekomendasi
Evaluasi atas kinerja auditor internal tentang persyarata SAS 65.
d. Relationships with Regulators and Other Stakeholders
Selain regulator, pemangku kepentingan lain meliputi, tetapi tidak dibatasi, jasa penyedia
jaminan lainnya, legislators, interest and advocacy groups, media, organisasi non-pemerintah, dan
donor. Tidak ada pedoman one-size-fit-all untuk berinteraksi dengan pemangku kepentingan
tersebut, merupakan kewajiban CAE dan auditor internal untuk memahami persyarata dan
protocol dari organisasi dan negara mereka untuk mengeluarkan informasi audit dan
berkomunikasi dengan entitas luar.