Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya.
Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena
berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak
terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda
kembali yang kaya akan unsur hara. Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan
yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak yang tercemar khusussnya di akibatkan
oleh sampah.

Sampah yang berasal dari lingkungan kota di Indonesia pada umumnya masih
menimbulkan beberapa masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup
masyarakat. Hal ini terlihat di daerah pengelolaan akhir sampah atau lebih dikenal
dengan sebutan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). Apakah penempatan
serta pengelolaan sampah telah sesuai peruntukannya sehingga tidak mencemari
tanah di sekitarnya.

Permasalahan pengelolaan sampah di daerah pembuangan akhir sampah juga


terjadi di kota Samarinda Daerah pembuangan akhir sampah yang terbesar dan
merupakan pusat pembuangan akhir sampah di kota Samarinda adalah TPA Bukit
Pinang. TPA Bukit Pinang menampung berbagai sampah mulai dari yang berasal
dari limbah rumah tangga, limbah dari pasar, kantor hingga limbah industri.

Dalam penanganan masalah sampah yang bermuara di TPA Bukit Pinang tentu
tidak mudah karena dalam pengelolaan sampah harus memperhatikan lingkungan
hidup masyarakat sekitar.Karena limbah dari pengeloalaan sampah tersebut dapat
mencemari areal pemukiman jika limbah dari pengelolaan sampah tidak
memenuhi syarat untuk di alirkan ke perairan yang dekat dengan areal pemukiman
masyarakat.

1.2 Tujuan
1 Mengetahui karakteristik lokasi TPA Bukit Pinang
2 Mengetahui metode pengelolaan Sampah di TPA Bukit Pinang
3 Mengetahui masalah pencemaran tanah di TPA Bukit Pinang
4 Mengetahui pemecahan masalah yang dapat di terapkan di TPA Bukit
Pinang
1.3 Rumusan Masalah

1 Bagaimana karakteristik lokasi TPA Bukit Pinang ?


2 Bagaimana metode pengelolaan sampah di TPA Bukit Pinang?
3 Bagaimana pencemaran tanah di TPA Bukit Pinang?
4 Bagaimana pemecahan masalah yang dapat di terapkan di TPA Bukit Pinang?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencemaran Lingkungan


Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No
02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat,energi,
dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan
(komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas
air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukkannya.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai
aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap
pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu
lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar
terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk
hidup, tumbuhan atau benda lainnya.
Pada saat ini, pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan
laju yang sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah
semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia
termasuk logam berat.

Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi:


Pencemaran Air.
Pencemaran Udara.
Pencemaran Tanah.

2.2 Pencemaran Tanah


Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk
dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena:
kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial;
penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan
sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau
limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang
langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia
dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran
yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di
tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung
kepadamanusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di
atasnya.

Definisi dan pengertian dari Tanah adalah kumpulan tubuh alam yang
menduduki sebagian besar daratan planet bumi, yang mampu menumbuhkan
tanaman dan sebagai tempat mahluk hidup lainnya dalam melangsungkan
kehidupannya.

Menurut pandangan dan pengertian yang diberikan oleh para ahli tanah adalah
sebagai berikut :

1. Tanah adalah bentukan alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan


manusia, yang mempunyai sifat tersendiri dan mencerminkan hasil
pengaruh berbagai faktor yang membentuknya di alam.
2. Tanah adalah sarana produksi tanaman yang mampu menghasilkan
berbagai tanaman.

Definisi dan Pengertian dari Pencemaran tanah adalah kerusakan lapisan tipis
bumi yang bermanfaat yaitu tanah produktif untuk menumbuhkan tanaman
sebagai sumber bahan makanan. Tanpa tanah yang subur, petani tidak bisa
bercocok tanam dan menghasilkan makanan untuk orang di seluruh dunia
Tanah yang subur dipengaruhi juga oleh organisme seperti bakteri, jamur, dan
organisme lain yang menguraikan limbah dalam tanah dan menyediakan unsur
hara. Unsur hara memberikan pertumbuhan bagi tanaman. Pupuk dan pestisida
dapat membatasi kemampuan organisme tanah untuk menguraikan limbah. Akibat
penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan dapat merusak produktivitas tanah.
Pencemaran tanah disebabkan oleh hasil pembuangan limbah yang
mengandung bahan-bahan anorganik yang sukar terurai dalam tanah seperti
plastik, kaca, dan kaleng. Bahan-bahan ini sukar diuraikan oleh organisme dan
mengakibatkan produktivitas tanah akan berkurang.

2.3 Pencemaran Tanah oleh Sampah

2. A. Pengertian Sampah

Menurut American Public Health Association, sampah (waste) diartikan sebagai


suatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang
dibuang, berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Menurut Mustofa (2000) sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau
tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau
pemakaian, barang rusak atau bercacat dalam pembikinan atau materi
berkelebihan atau ditolak atau buangan.

Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, maka sampah didefinisikan sebagai


suatu zat atau benda-benda yang tidak terpakai lagi yang bersumber dari aktivitas
manusia dan proses alam baik yang bersifat zat organik dan zat anorganik yang
dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan
lingkungan.

1. B. Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem


manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi
operasional. Menurut Madelan (1997), terdapat enam aktifitas yang terorganisir
di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah, sebagai
berikut;

1. Timbulan Sampah (Waste Generation)


2. Pewadahan (Onside Storange)
3. pengumpulan (Collection)
4. Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport)
5. Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery)
6. Pembuangan Sampah (Disposal)
7. C. Pengolahan TPA Sampah

Menurut Ryadi (1986), cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu
aspek strategis dalam sistem pengolahan sampah. Beberapa metode pengolahan
sampah dalam penerapannya adalah sebagai berikut;

1. Open Dumping atau pembuangan terbuka; merupakan cara pembuangan


sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi, dibiarkan
terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh.
2. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open
dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup
dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan
yang ditimbulkan. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan
pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan
kestabilan permukaan TPA.
3. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan
dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah, yang dilakukan terus menerus
secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari
pada akhir jam operasi.
4. Inceneration; cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah.
5. Composting: cara pengolahan sampah untuk kebutuhan pupuk tanaman.
6. Individual Inceneration; setiap orang atau rumah tangga membakar
sendiri sampahnya.
7. Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali sebagian
sampah, seperti kaleng, kertas, plastik, kaca/botol dan lain-lain.
8. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis
sampah basah (gerbage) untuk digunakan sebagai makanan ternak.

Sejalan dengan itu, Wardhana (1995) menjelaskan bahwa walaupun sudah


disediakan TPA, namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah,
sehingga TPA ikut semakin meluas. Oleh karena itu, perlu dipikirkan lebih lanjut
bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan
memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem
pengomposan.

1. D. Pemilihan Lokasi TPA Sampah

Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991


tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah, dijelaskan
kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut;

1. Kriteria Regional, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona


layak-tidaknya penempatan TPA, sbb;
1. Kondisi geologi; yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif
dan bukan pada zona bahaya geologi.
2. Kondisi hidrogeologi; yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang
dari 3 meter, tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det, jarak
terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari
hilir aliran.
3. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %.
4. Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3.000 mtr.
5. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn).
6. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu
dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut;
1. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. arah angin
dominan tidak menuju kepermukiman.
2. Utilitas, tersedia lebih lengkap.
3. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang
menunjang flora dan fauna, habitat kurang bervariasi.
4. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah,
kapasitas besar, tersedia tanah penutup yang cukup, status
tanah tidak bervariasi.
5. Kepadatan penduduk rendah.
6. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan.
7. Memiliki zona penyangga yang cukup, untuk bau dan
kebisingan.
8. Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan
umum).
9. Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah.

Sejalan dengan itu, berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota
Tahun 1997, faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut;

1. Di luar kawasan lindung (cagar alam, tangkapan air, hutan lindung);

2. Jauh dari sumber air bersih dan daerah rawan bencana;


3. Di luar aktifitas perkotaan, tetapi memiliki akses pencapaian yang baik;

4. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan kota;

5. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif;

6. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang;

7. Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi.

Jika limbah atau sampah yang dibuang mudah terurai oleh mikroorganisme,
bahan-bahan itu akan mengalami proses pembusukan kemudian terurai dan
menyatu dengan tanah sehingga tidak menimbulkan pencemaran.

2.4 Dampak Pencemaran Tanah


Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur
masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai
macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua
populasi.Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan
kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat
meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa)
dan siklodienadikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan
tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada
keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan
pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorinmerangsang perubahan
pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam
dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan
ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis
yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan
kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia
beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat
menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik
dan antropodayang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat
memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi
akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan
tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah,
bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-
kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas.
Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada
burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian
anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada
akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat
menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak
mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini
memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia
derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

Dampak Pada kesehatan


Dampak langsung akibat limbah yang dirasakan manusia adalah timbulnya bau
yang tidak sedap dan kotor. Dampak yang tidak langsung diantaranya tempat
pembuangan limbah dapat menjadi tempat berkembangnya organisme penyebab
penyakit. Organisme ini dapat menyebabkan pernyakit ataupun hanya sebagai
vektor (pembawa) penyakit yang merugikan manusia. Adapun penyakit yang
dapat berkembang pada daerah berlimbah yang tidak terjada sanitasinya seperti
pes, kaki gajah, malaria, demam berdarah ataupun penyakit yang lain.
Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur
masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai
macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua
populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan
kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat
meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena
dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat
diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan
karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Berbagai pelarut
yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta
penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang
tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk
paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar,
pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan
kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia
beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat
menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan
antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat
memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi
akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan
tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah,
bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-
kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas.
Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada
burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian
anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada
akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat
menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak
mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki
waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan
terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

BAB III
METOLOGI OBSERVASI
OBJEK PENULISAN
3.1 Jenis Observasi
Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsungkondisi dan
situasi secara langsung TPA Bukit Pinang Desa Air Putih Kecamatan Samarinda
Ulu

3.2 Waktu dan Lokasi Observasi


Observasi dilakukan di kawasan TPA Bukit Pinang Desa Air Putih Kecamatan
Samarinda Ulu . Observasi di lakukan pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 yang
dimulai pada pukul 09.00 WITA.

3.3 Jenis dan Sumber Data


Jenis dan sumber data yang digunakan dalam Observasi ini adalah data
primer dan data sekunder. Dimana data primer yang diperoleh secara langsung
dari hasil pengamatan terhadap situasi dan kondisi TPA Bukit Pinang..
Sedangkan data sekunder yang digunakan berasal dari buku-buku referensi yang
diharapkan dapat melengkapi sumber data yang ada.

3.4 Analisis Masalah


Observasi yang di lakukan kali ini bertujuan untuk mengetahu situasi dan
kondisi secara langsung TPA Bukit Pinang serta mengetahui masalah khususnya
yang berkaitan mengenai Pencemaran Tanah di sekitar lokasi tersebut.
3.5 Prioritas Masalah
Pengambilan prioritas masalah kami lakukan dengan membandingkan hasil
pengamatan kami dengan data sekunder.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik lokasi TPA Bukit Pinang
4.2 Metode pengelolaan Sampah di TPA Bukit Pinang
4.3 Analisis masalah pencemaran tanah di TPA Bukit Pinang
4.4 Pemecahan masalah yang dapat di terapkan di TPA Bukit Pinang
Pencegahan dan penanggulangan merupakan dua tindakan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan dalam arti biasanya kedua tindakan ini dilakukan untuk saling
menunjang, apabila tindakan pencegahan sudah tidak dapat dilakukan, maka
dilakukan langkah tindakan. Namun demikian pada dasarnya kita semua
sependapat bahwa tindakan pencegahan lebih baik dan lebih diutamakan
dilakukan sebelum pencemaran terjadi, apabila pencemaran sudah terjadi baik
secara alami maupun akibat aktivisas manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, baru kita lakukan tindakan penanggulangan.
Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya
pencemaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan macam bahan
pencemar yang perlu ditanggulangi. Langkah-langkah pencegahan dan
penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran antara lain dapat dilakukan
sebagai berikut:
Langkah pencegahan
Pada umumnya pencegahan ini pada prinsipnya adalah berusaha untuk tidak
menyebabkan terjadinya pencemaran, misalnya mencegah/mengurangi terjadinya
bahan pencemar, antara lain:
1) Sampah organik yang dapat membusuk/diuraikan oleh mikroorganisme antara
lain dapat dilakukan dengan mengukur sampah-sampah dalam tanah secara
tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah sebagai kompos/pupuk. Untuk
mengurangi terciumnya bau busuk dari gas-gas yang timbul pada proses
pembusukan, maka penguburan sampah dilakukan secara berlapis-lapis dengan
tanah.
2) Sampah senyawa organik atau senyawa anorganik yang tidak dapat
dimusnahkan oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara membakar
sampah-sampah yang dapat terbakar seperti plastik dan serat baik secara
individual maupun dikumpulkan pada suatu tempat yang jauh dari pemukiman,
sehingga tidak mencemari udara daerah pemukiman. Sampah yang tidak dapat
dibakar dapat digiling/dipotong-potong menjadi partikel-partikel kecil, kemudian
dikubur.

3) Pengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat yang akan
mencemari tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat pembuangan agar
dilakukan proses pemurnian.

4) Sampah zat radioaktif sebelum dibuang, disimpan dahulu pada sumursumur


atau tangki dalam jangka waktu yang cukup lama sampai tidak berbahaya, baru
dibuang ke tempat yang jauh dari pemukiman, misal pulau karang, yang tidak
berpenghuni atau ke dasar lautan yang sangat dalam.

5) Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun


sesuai dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.

6) Usahakan membuang dan memakai detergen berupa senyawa organik yang


dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme.

Langkah penanggulangan

Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar.
Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-
site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih
murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan
bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian
dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut
dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di
bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki
tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian
diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih
mahal dan rumit. Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat
penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas
manusia.
Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga
mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap
sebagai pencemaran. Penyebab
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik
yang berbeda-beda

Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan
mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau
mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak
beracun (karbon dioksida dan air).
Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap
pencemara tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi
bahan pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang
menjadi bahan yang bermanfaat. Tanah dapat berfungsi sebagaimana mestinya,
tanah subur adalah tanah yang dapat ditanami dan terdapat mikroorganisme yang
bermanfaat serta tidak punahnya hewan tanah. Langkah tindakan penanggulangan
yang dapat dilakukan antara lain dengan cara:
1) Sampah-sampah organik yang tidak dapat dimusnahkan (berada dalam jumlah
cukup banyak) dan mengganggu kesejahteraan hidup serta mencemari tanah, agar
diolah atau dilakukan daur ulang menjadi barangbarang lain yang bermanfaat,
misal dijadikan mainan anak-anak, dijadikan bahan bangunan, plastik dan serat
dijadikan kesed atau kertas karton didaur ulang menjadi tissu, kaca-kaca di daur
ulang menjadi vas kembang, plastik di daur ulang menjadi ember dan masih
banyak lagi cara-cara pendaur ulang sampah.
2) Bekas bahan bangunan (seperti keramik, batu-batu, pasir, kerikil, batu bata,
berangkal) yang dapat menyebabkan tanah menjadi tidak/kurang subur, dikubur
dalam sumur secara berlapis-lapis yang dapat berfungsi sebagai resapan dan
penyaringan air, sehingga tidak menyebabkan banjir, melainkan tetap berada di
tempat sekitar rumah dan tersaring. Resapan air tersebut bahkan bisa masuk ke
dalam sumur dan dapat digunakan kembali sebagai air bersih.
3) Hujan asam yang menyebabkan pH tanah menjadi tidak sesuai lagi untuk
tanaman, maka tanah perlu ditambah dengan kapur agar pH asam berkurang.
Dengan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya
pencemaran lingkungan hidup (pencemaran udara, pencemaran air dan
pencemaran tanah) berarti kita melakukan pengawasan, pengendalian, pemulihan,
pelestarian dan pengembangan terhadap pemanfaatan lingkungan) udara, air dan
tanah) yang telah disediakan dan diatur oleh Allah sang pencipta, dengan
demikian berarti kita mensyukuri anugerah-Nya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Sekiranya pencemaran lingkungan ini adalah masalah kita bersama, untuk itu
selaku insan manusia yang bertanggung jawab dan memegang teguh konsep
keseimbangan alam, maka sudah sepantasnya kita menjaga dan merawat
lingkungan, mulai dari lingkungan tempat tinggal kita sehingga nantinya akan
tercipta lingkungan yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Hadiwijoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Penerbit Yayasan
Idayu. Jakarta
Soekarto. S. T. 1985. Penelitian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil
Pertanian. Bhatara Karya Aksara, Jakarta. 121 hal.
Wikipedia. 2007. Pencemaran Tanah (On-line).
http://id.wikipedia.org/wiki/pencemaran_tanah. diakses 26 Desember 2007.
Bachri, Moch. 1995. Geologi Lingkungan. CV. Aksara, Malang. 112 hal.