Anda di halaman 1dari 4

Tatalaksana Kausatif

Terapi solusio plasenta akan berbeda-beda tergantung pada usia kehamilan serta status ibu
dan janin. Pada janin yang hidup dan matur, dan apabila persalinan pervaginam tidak terjadi dalam
waktu dekat, sebagian besar akan memilih seksio sesaria darurat (Prawirohardjo, 2011).

Solusio Plasenta Ringan


Solusio plasenta ringan jarang ditemukan di RS. Pada umumnya didiagnosis secara
kebetulan pada pemeriksaaan USG oleh karena tidak memberikan gejala klinik yang khas. Apabila
kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahan kemudian berhenti, perut tidak menjadi
nyeri, dan uterus tidak tegang, maka penderita harus diobservasi dengan ketat. Apabila perdarahan
berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG
daerah solusio plasenta bertambah luas maka dilakukan terminasi kehamilan (Prawirohardjo,
2011).

Solusio Plasenta Sedang dan Berat


Pada solusio plasenta sedang sampai berat dilakukan perbaikan keadaan umum terlebih
dahulu dengan resusitasi cairan dan transfusi darah. Bila janin masih hidup biasanya dalam
keadaan gawat janin, dilakukan seksio sesarea, kecuali bila pembukaan telah lengkap. Pada
keadaan ini dilakukan amniotomi, drip oksitosin, dan bayi dilahirkan dengan ekstraksi forcep.
Apabila janin telah mati dilakukan persalinan pervaginam dengan cara melakukan amniotomi, drip
oksitosin. Bila bayi belum lahir dalam waktu 6 jam, dilakukan tindakan seksio sesarea
(Prawirohardjo, 2011).

Tokolitik
Hurd dkk. (1983) mendapatkan bahwa solusio berlangsung dalam waktu yang lama dan
membahayakan apabila diberikan tokolitik. Towers dkk. (1999) memberikan magnesium sulfat,
terbutalin, atau keduanya kepada 95 di antara 131 wanita dengan solusio plasenta yang didiagnosis
sebelum minggu ke-36. Angka kematian perinatal sebesar 5% dan tidak berbeda dari kelompok
yang tidak diterapi. Namun, penggunaan tokolitik pada penatalaksanaan solusio plasenta masih
kontroversial (Suyono, 2007).
Seksio Sesarea
Pelahiran secara cepat janin yang hidup tetapi mengalami gawat janin hampir selalu berarti
seksio sesarea. Kayani dkk. (2003) meneliti hubungan antara cepatnya persalinan dan prognosis
janinnya pada 33 wanita hamil dengan gejala klinis berupa solusio plasenta dan bradikardi janin.
22 bayi secara neurologis dapat selamat, 15 bayi dilahirkan dalam waktu 20 menit setelah
keputusan akan dilakukan operasi. 11 bayi meninggal atau berkembang menjadi Cerebral Palsy,
8 bayi dilahirkan di bawah 20 menit setelah pertimbangan waktu, sehingga cepatnya respons
adalah faktor yang penting bagi prognosis bayi ke depannya (Miller, 2009).
Seksio sesarea pada saat ini besar kemungkinan dapat membahayakan ibu karena
mengalami hipovolemia berat dan koagulopati konsumtif yang parah (Prawirohardjo, 2011).

Persalinan Pervaginam
Apabila terlepasnya plasenta sedemikian parah sehingga menyebabkan janin meninggal,
lebih dianjurkan persalinan pervaginam kecuali apabila perdarahannya sedemikian deras sehingga
tidak dapat diatasi bahkan dengan penggantian darah secara agresif, atau terdapat penyulit obstetri
yang menghambat persalinan pervaginam. Defek koagulasi berat kemungkinan besar dapat
menimbulkan kesulitan pada seksio sesarea. Insisi abdomen dan uterus rentan terhadap perdarahan
hebat apabila koagulasi terganggu. Dengan demikian, pada persalinan pervaginam, stimulasi
miometrium secara farmakologis atau dengan massage uterus akan menyebabkan pembuluh-
pembuluh darah berkontraksi sehingga perdarahan serius dapat dihindari walaupun defek
koagulasinya masih ada. Lebih lanjut, perdarahan yang sudah terjadi akan dikeluarkan melalui
vagina (Prawirohardjo, 2011).

Amniotomi
Pemecahan selaput ketuban sedini mungkin telah lama dianggap penting dalam
penatalaksanaan solusio plasenta. Alasan dilakukannya amniotomi ini adalah bahwa keluarnnya
cairan amnion dapat mengurangi perdarahan dari tempat implantasi dan mengurangi masuknya
tromboplastin dan mungkin faktor-faktor pembekuan aktif dari bekuan retroplasenta ke dalam
sirkulasi ibu. Namun, tidak ada bukti keduanya tercapai dengan amniotomi. Apabila janin sudah
cukup matur, pemecahan selaput ketuban dengan mempercepat persalinan. Apabila janin imatur,
ketuban yang utuh mungkin lebih efisien untuk mendorong pembukaan serviks daripada tekanan
yang ditimbulkan bagian tubuh janin yang berukuran kecil dan kurang menekan serviks
(Cunningham, 2012)

Oksitosin
Walaupun pada sebagian besar kasus solusio plasenta berat terjadi hipertonisitas yang
mencirikan kerja miometrium, apabila tidak terjadi kontraksi uterus yang ritmik, pasien diberi
oksitosin dengan dosis standar. Stimulasi uterus untuk menimbulkan persalinan pervaginam
memberikan manfaat yang lebih besar daripada risiko yang didapat. Pemakaian oksitosin pernah
dipertanyakan berdasarkan anggapan bahwa tindakan ini dapat meningkatkan masuknya
tromboplastin ke dalam sirkulasi ibu sehingga memacu atau memperparah kaogulopati konsumtif
atau sindroma emboli cairan amnion (Cunningham, 2012).

Patofisiologi

Solusio plasenta merupakan hasil akhir dari suatu proses yang bermula dari suatu keadaan
yang mampu memisahkan vili-vili korialis plasenta dari tempat implantasinya pada desidua basalis
sehingga terjadi perdarahan. Oleh karena itu patofisiologinya bergantung pada etiologi. Pada
trauma abdomen etiologinya jelas karena robeknya pembuluh darah desidua (Prawirohardjo,
2011).
Dalam banyak kejadian perdarahan berasal dari kematian sel (apoptosis) yang disebabkan
oleh iskemia dan hipoksia. Semua penyakit ibu yang dapat menyebabkan pembentukan trombosis
dalam pembuluh darah desidua atau dalam vaskular vili dapat berujung kepada iskemia dan
hipoksia setempat yang menyebabkan kematian sejumlah sel dan mengakibatkan perdarahan
sebagai hasil akhir. Perdarahan tersebut menyebabkan desidua basalis terlepas kecuali selapisan
tipis yang tetap melekat pada miometrium. Dengan demikian, pada tingkat permulaan sekali dari
proses terdiri atas pembentukan hematom yang bisa menyebabkan pelepasan yang lebih luas,
kompresi dan kerusakan pada bagian plasenta yang berdekatan. Pada awalnya mungkin belum ada
gejala kecuali terdapat hematom pada bagian belakang plasenta yang baru lahir. Dalam beberapa
kejadian pembentukan hematom retroplasenta disebabkan oleh putusnya arteria spiralis dalam
desidua. Hematoma retroplasenta mempengaruhi penyampaian nutrisi dan oksigen dari sirkulasi
maternal/plasenta ke sirkulasi janin. Hematoma yang terbentuk dengan cepat meluas dan
melepaskan plasenta lebih luas/banyak sampai ke pinggirnya sehingga darah yang keluar
merembes antara selaput ketuban dan miometrium dan selanjutnya keluar melalui serviks ke
vagina (revealed hemorrhage). Perdarahan tidak bisa berhenti karena uterus yang lagi
mengandung tidak mampu berkontraksi untuk menjepit pembuluh arteria spiralis yang terputus.
Walaupun jarang terdapat perdarahan tinggal terperangkap di dalam uterus (concealed
hemorrhage) (Prawirohardjo, 2011).
Nikotin dan kokain keduanya dapat menyebabkan vasokonstriksi yang bisa menyebabkan
iskemia dan pada plasenta sering dijumpai bermacam lesi seperti infark, oksidatif stres, apoptosis,
dan nekrosis, yang kesemuanya ini berpotensi merusak hubungan uterus dengan plasenta yang
berujung kepada solusio plasenta. Dilaporkan merokok berperan pada 15% sampai 25% dari
insidensi solusio plasenta. Merokok satu bungkus perhari menaikkan insiden menjadi 40%
(Prawirohardjo, 2011).

Dapus:
Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Penerbit PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta.

Cunningham, F. Gary MD; Alexander, James M. MD; Bloom, Steven L. MD; Casey, Brian
M. MD; Dashe, Jodi. S MD; et al. 2007. Obstetrical Complications Section VII, Chapter 35.
Obstetrical Hemorrhage. In: Williams, 22nd edition. Editor: Anne Sydor, Marsha Loeb, Peter J.
Boyle. McGraw-Hill Companies, Inc. United States of America.

Miller David A.. Obstretric Hemmorhage. February, 2009. from


http//www.obfocus.com/.../bleeding/hemorrhagepa.htm. Accessed November, 14 2016.