Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN dengan ANEMIA di

RUANG FLAMBOYAN

RSUD Dr. H SOEWONDO KENDAL

DI SUSUN OLEH :

NAMA : KHOIRIYAH
KELAS : PSIK B
NIM : 1407030

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG
2016/ 2017
A. Definisi
Anemia (dalam bahasa Yunani: tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah sel
darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah
merah berada dibawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang
memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru paru dan mengantarkannya
ke seluruh bagian tubuh ( Morton Gallo,2012 ).
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan
komponen darah, eleman tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk
pembentukan sel darah yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen
darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya. (Herdin,2009).
Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin ( Hb), hematokrit atau hitung
eritrosit ( red cell count ) berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen
oleh darah ( Sudoyo Aru,dkk 2009 ).
Jadi anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb atau hitung eritrosit lebih
rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb
dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan ( packed red cells
volume) dalam 100 ml darah.

B. Etiologi
Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri ( disease entity ) tetapi
merupakan gejala berbagai macam penyakit dasar ( underlying disease ). Pada
dasarnnya anemia disebabkan oleh karena
1. gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang
2. kehilangan darah keluar tubuh ( perdarahan )
3. proses penghancuran eritrosit oleh tubuh sebelum waktunnya atau hemolisis (
Sudoyo Aru,dkk 2009 ).

C. Manifestasi klinik
1. Lemah, letih, lesu dan lelah.
2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang kunang.
3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi
pucat ( Herdin,2009 ).
D. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan
sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi
akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat
penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau
hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai
dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system
retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah
bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah
(hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi
normal < 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera). Apabila
sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik)
maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi
plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam
glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2.
derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara
pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya
hiperbilirubinemia dan
hemoglobinemia. (Price, S.A, 2006).
E. Pathway

ganguan pembentukan sel darah


kerusakan maturitas pemecahan
sel pada zat besi (fe)parasit
kehilangan darah perdarhan organ dalam

kurang pengetahuan

anemia
Kurang
pengetahuan
ganguan transpot 02 menurunnya tekanan daun sirkulasi

penurunan suplai
ke jaringan suplai o2 pencernaan vasokontriksi

perubahan saluran cerna naiknya kerja


Ganguan perkusi
jaringan

anoreksia volume darah tidak seimbang

intakenatrisi kurang

Perubahan nutrisi syok


kurang dari kebutuhan
F. Pemeriksaan penunjang
1. Kadar Hb, hematokrit, kadar Fe, hitung trombosit, dan waktu perdarahan.
2. Pemeriksaan diagnostik untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta
sumber kehilangan darah kronis (Tambayong,2006).

G. Komplikasi
1. Cardiomegaly
2. Congestive heart failure
3. Gastritis
4. Paralysis
5. Paranoia
6. Hallucination and delusion
7. Infeksi genoturia ( Sudoyo Aru,dkk 2009 ).

H. Penatalaksanaan
1. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau
plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
2. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi
darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
3. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi
sekunder, makanan dan istirahat (Sudoyo Aru,dkk 2009 ).

I. Pengkajian fokus
1. Identitas pasien
a. Identitas pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/
bangsa, status perkawinan, alamat, tanggal masuk RS, No.RM, diagnosa
medis.
b. Identitas penanggung jawab
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
hubungan dengan pasien.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan yang paling di rasakan oleh pasien dan membahayakan diri pasien.
b. Riwayat penyakit sekarang
Mulai pasien merasakan sakit di rumah sampai di bawa ke RS kemudian di
IGD dilakukan tindakan apa dan terapi yang di berikan sampai pasien di
pindah ke bangsal
c. Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien mempunyai riwayat penyakit yang sama kalau punya sejak
kapan penyakit itu di derita.
d. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit yang sama
dengan pasien.
e. Riwayat alergi
Apakah klien/ pasien mempunyai alergi obat (ex : antibiotik dll ) , alergi
makanan, angin / udara.
f. Genogram
Gambarkan silsilah keluarga dengan 3 generasi ( jika ada riwayat penyakit ) ex
: hipertensi , jantung dll.
3. Pola fungsional
11 pola fungsional gordon
a. Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Klien biasanya tidak mengetahui penyakitnya. Klien hanya
beranggapan bahwa gejala yang dideritanya merupakan gejala biasa saja dan
hanya kelelahan biasa. Klien mulanya hanya beristirahat, mengurangi aktivitas
dan mengkonsumsi obat bebas yang ada di warung.
b. Pola nutrisi metabolik
Terjadinya penurunan intake nutrisi beruhubungan dengan penurunan
nafsu makan, terdapat nyeri mulut dan lidah, kesulitan menelan (ulkus pada
faring). Selain itu, biasanya juga timbul gejala mual, muntah, dispnea,
anoreksia, penurunan berat badan.
c. Pola eliminasi
Pada pola ini, biasanya bisa terjadi diare atau konstipasi, serta bisa terjadi
penurunan haluaran urine.
d. Pola aktivitas dan latihan
Klien biasanya mengalami kelemahan, malaise, keletihan sehingga
menyebabkan terganggunya aktivitas klien, terjadi penurunan semangat untuk
bekerja serta toleransi untuk latihan rendah. Saat bekerja timbul takikardi,
dispnea, kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
e. Pola istirahat dan tidur
Klien akan membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat yang lebih
banyak karena keletihan. Selain itu perlu di kaji masalah yang dapat
mengganggu klien saat tidur dan istirahat.
f. Pola kognitif perseptual
Pengkajian yang dilakukan yaitu sehubungan dengan fungsi alat indera
klien, kemampuan menulis, dan mengingat, terjadi penuurunan fungsi
penglihatan.
g. Pola persepsi diri dan konsep diri
Persepsi klien terhadap dirinya bisa berubah sehubungan dengan
penyakit yang diderita. Klien merasa lemah karena tidak bisa bekerja dan
beraktifitas seperti orang lain.
h. Pola peran hubungan
Pada pola ini dikaji pekerjaan klien, peran klien dalam keluarga dan
masyarakat. Selain itu berisikan bagaiman hubungan klien dengan orang
tersdekatnya, bagaimana pengambilan keputusan dan hubungan klien dengan
masyarakat atau lingkungan sosial klien.
i. Pola reproduksi seksualitas
Pada reproduksi seksualitas bisa terjadi perubahan aliran menstruasi,
misalnya menoragia atau amenore, hilang libido, dan impoten. Serviks dan
dinding vagina pucat.
j. Pola koping dan toleransi stress
Metode koping yang digunakan klien dalam mengatasi stress bisa saja
dengan mengungkapkan perasaan gelisahnya kepada orang terdekat atau
perawat atau meminum obat yang dapat menghilangkan stress.
k. Pola nilai dan keyakinan
Setelah pengkajian didapatkan kepercayaan klien, kepatuhan klien
dalam melaksanakan ibadah, dan keyakinan-keyakinan pribadi yang bisa
mempengaruhi pilihan pengobatan.
J. Diagnosa keperawatan
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, kelemahan, dan malaise
umum.
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekurangan
asupan gizi esensial.
3. Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dan darah, suplai
oksigen berkurang

K. Intervensi keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
keperawatan
1. Intoleransi ToleransiAktivitas Manajemen Energi
aktivitas Indikator : Aktivitas :
berhubungan - Klien mampu - Monitor respon
dengan kelelahan, melakukan oksigenasi pasien -
kelemahan, dan aktivitas - Rencanakan aktivitas
malaise umum minimal saat pasien
- Kemampuan mempunyai energi
aktivitas cukup u/
smeningkat melakukannya.
secara bertahap - Bantu klien untuk
- Tidak ada istirahat setelah
keluhan sesak aktivita
nafas dan lelah - Monitor pola dan
selama dan lamanya tidur/istirahat
setelah aktivits klien
minimal - Terapi Aktivitas
- TTV normal Aktivitas:
selama dan - Kaji kemampuan klien
setelah melakukan aktivitas
beraktivitas - Jelaskan pada pasien
- EKG dalam manfaat aktivitas
batas normal bertahap
- Evaluasi dan motivasi
keinginan pasien u/
meningktkan aktivitas
- Tetap sertakan
oksigen saat aktivitas
- Membantu menyusun
aktivitas fisik
2 Gangguan nutrisi Status nutrisi : Monitor Nutrisi
kurang dari intake nutrisi Aktivitas :
kebutuhan tubuh Indikator : - Timbang berat badan
berhubungan - Intake kalori, klien
dengan Protein, - Monitor kehilangan
kekurangan Karbohidrat dan pertambahan berat
asupan gizi Mineral badan
esensial Vitamin - Monitor tipe dan
- Status nutrisi : kuantitas olah raga
intake makanan - Monitor respon emosi
dan cairan klien terhadap situasi
Indikator : dan tempat makan
- Intake makanan - Monitor interaksi
di mulut orang tua dan anak
- Intake di saluran saat makan
makanan - Jadwalkan perawatan,
- Intake cairan di dan tindakan
mulut keperawatan agar
- Intake cairan tidak mengganggu
Nafsu makan jadwal makan
Nafsu makan - Monitor turgor kulit
baik - Monitor adanya mual
- Pasokan cairan dan muntah.
tubuh seimbang - Monitor nilai albumin,
- Pasokan nutrisi total protein,
tubuh seimbang hemoglobin dan
hematokrit.
- Monitor nilai limfosit
dan elektrolit
- Monitor menu
makanan dan
pilihannya
- Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
- Monitor tingkat
energi, lelah, lesu, dan
lemah
- Monitor intake kalori
dan nutrisi
- Catat adanya luka,
edema, dan hiperemik
serta hipertropik
papile pada lidah dan
mukosa mulut
- Tentukan jika klien
membutuhkan diet
spesial.
Terapi nutrisi
Aktivitas :
- Mengontrol
penyerapan
makanan/cairan dan
menghitung intake
kalori harian, jika
diperlukan
- Memantau ketepatan
urutan makanan untuk
memenuhi kebutuhan
nutrisi harian
- Menentukan jimlah
kalori dan jenis zat
makanan yang
diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan
nutrisi, ketika
berkolaborasi dengan
ahli makanan
- Monitor turgor kulit
- Atur posisi klien
selama makan
- Beri makanan tinggi
protein, kalori dan
bernutrisi siap
konsumsi
- Pastikan bahwa
makanan berupa
makanan yang tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
Kontrol nafsu makan
Aktivitas :
- Anjurkan asupan
kalori yang sesuai
dengan kebutuhan
tubuh
- Konrol asupan nutrisi
dan kalori
- Anjurkan konsumsi
nutrisi yang cukup
3. Perfusi jaringan perfusi jaringan klien Peripheral Sensation
tidak efektif b/d adekuat dengan kriteria Management (Manajemen
penurunan : sensasi perifer)
konsentrasi Hb - Membran mukosa - Monitor adanya
dan darah, suplai merah daerah tertentu yang
oksigen - Konjungtiva tidak hanya peka terhadap
berkurang anemis panas/dingin/tajam/tu
- Akral hangat mpul
- Tanda-tanda vital - Monitor adanya
dalam rentang normal paretese
- Instruksikan keluarga
untuk mengobservasi
kulit jika ada lesi atau
laserasi
- Gunakan sarung
tangan untuk proteksi
- Batasi gerakan pada
kepala, leher dan
punggung
- Monitor kemampuan
BAB
- Kolaborasi pemberian
analgetik
- Monitor adanya
tromboplebitis
- Diskusikan menganai
penyebab perubahan
sensasi