Anda di halaman 1dari 21

Parmenides

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Parmenides ()

Lahir 540 SM

Elea

Meninggal 470 SM

Era Filsafat Pra-Sokratik

Aliran Mazhab Elea

Minat utama Metafisika, Ontologi

Gagasan penting Tentang "yang ada"

Dipengaruhi[tampilkan]

Mempengaruhi[tampilkan]

Parmenides adalah seorang filsuf dari Mazhab Elea.[1][2] Arti nama Parmenides adalah "Terus
Stabil", atau "Penampilan yang stabil". Di dalam Mazhab Elea, Parmenides merupakan tokoh
yang paling terkenal.[3] Pemikiran filsafatnya bertentangan denganHerakleitos sebab ia
berpendapat bahwa segala sesuatu "yang ada" tidak berubah.[1][4]
Parmenides menuliskan filsafatnya dalam bentuk puisi.[2][3][5] Ada ratusan baris puisi Parmenides
yang masih tersimpan hingga kini.[3] Puisi Parmenides terdiri dari prakata dan dua
bagian.[2][5] Dua bagian tersebut masing-masing berjudul "Jalan Kebenaran" dan "Jalan
Pendapat".[2][5] Bagian prakata dan "Jalan Kebenaran" tersimpan secara lengkap, yakni 111
ayat.[2][5] Bagian kedua, "Jalan Pengetahuan", hanya tersimpan sebanyak 42 ayat.[2][5]

Daftar isi
[sembunyikan]

1Riwayat Hidup
2Pemikiran tentang "Yang Ada"
3Pengaruh
4Referensi
5Pranala Luar
6Lihat pula

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]


Parmenides lahir pada tahun 540 SM dan meninggal pada tahun 470 SM.[1][4][5] Ia berasal dari
kota Elea, Italia Selatan.[1][2][5] Ia berasal dari keluarga yang kaya dan terhormat di
Elea.[4] Parmenides juga menyusun suatu konstitusi untuk Elea.[2][4][5]
Ia merupakan murid dari Xenophanes, namun tidak mengikuti pandangan-pandangan
gurunya.[4][5] Pengaruh Xenophanes terhadap Parmenides hanyalah di dalam penggunaan puisi
di dalam menyampaikan filsafatnya.[4] Selain itu, ia juga amat dipengaruhi olehAmeinias,
seorang dari mazhab Pythagorean.[4][5]
Menurut kesaksian Plato, Parmenides pernah mengunjungi Sokrates di Athena bersama Zeno,
muridnya.[2] Pada waktu itu, Sokrates masih muda sedangkan Parmenides telah berusia 65
tahun.[2]

Pemikiran tentang "Yang Ada"[sunting | sunting sumber]

Parmenides
Inti utama dari "Jalan Kebenaran" adalah keyakinan bahwa "hanya 'yang ada' itu
ada".[1][2] Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang ada", namun menyebutkan
sifat-sifatnya.[1] Menurut Parmenides, "yang ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak
bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan.[1] Selain itu, "yang ada" itu juga tidak
tergoyahkan dan tidak dapat disangkal.[1]
Menurut Parmenides, "yang ada" adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal.[2] Bila ada
yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh pada kontradiksi.[2] Hal itu dapat dijelaskan melalui
pengandaian yang diberikan oleh Parmenides.[2] Pertama, orang dapat mengatakan bahwa
"yang ada" itu tidak ada.[2] Kedua, orang dapat mengatakan bahwa "yang ada" dan "yang tidak
ada" itu bersama-sama ada.[2] Kedua pengandaian ini mustahil.[2] Pengandaian pertama
mustahil, sebab "yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan.[2] "Yang
tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan dibicarakan.[2] Pengandaian kedua merupakan pandangan
dari Herakleitos.[2] Pengandaian ini juga mustahil, sebab pengandaian kedua menerima
pengandaian pertama, bahwa "yang tidak ada" itu ada, padahal pengandaian pertama terbukti
mustahil.[2] Dengan demikian, kesimpulannya adalah "Yang tidak ada" itu tidak ada, sehingga
hanya "yang ada" yang dapat dikatakan ada.[2]
Untuk lebih memahami pemikiran Parmenides, dapat digunakan contoh berikut ini.[1] Misalnya
saja, seseorang menyatakan "Tuhan itu tidak ada!"[1]Di sini, Tuhan yang eksistensinya ditolak
orang itu sebenarnya ada, maksudnya harus diterima sebagai dia "yang ada".[1] Hal ini
disebabkan bila orang itu mengatakan "Tuhan itu tidak ada", maka orang itu sudah terlebih dulu
memikirkan suatu konsep tentang Tuhan.[1] Barulah setelah itu, konsep Tuhan yang dipikirkan
orang itu disanggah olehnya sendiri dengan menyatakan "Tuhan itu tidak ada".[1] Dengan
demikian, Tuhan sebagai yang dipikirkan oleh orang itu "ada" walaupun hanya di dalam
pikirannya sendiri.[1] Sedangkan penolakan terhadap sesuatu, pastilah mengandaikan bahwa
sesuatu itu "ada" sehingga "yang tidak ada" itu tidaklah mungkin.[1] Oleh karena "yang ada" itu
selalu dapat dikatakan dan dipikirkan, sebenarnya Parmenides menyamakan antara "yang ada"
dengan pemikiran atau akal budi.[1]
Setelah berargumentasi mengenai "yang ada" sebagai kebenaran, Parmenides juga menyatakan
konsekuensi-konsekuensinya:

Pertama-tama, "yang ada" adalah satu dan tak terbagi, sedangkan pluralitas tidak
mungkin.[2][3] Hal ini dikarenakan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan "yang
ada".[2]
Kedua, "yang ada" tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan.[2][3] Dengan kata lain, "yang
ada" bersifat kekal dan tak terubahkan.[2] Hal itu merupakan konsekuensi logis, sebab bila
"yang ada" dapat berubah, maka "yang ada" dapat menjadi tidak ada atau "yang tidak ada"
dapat menjadi ada.[2]
Ketiga, harus dikatakan pula bahwa "yang ada" itu sempurna, seperti sebuah bola yang
jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama.[2][3] Menurut Parmenides, "yang ada" itu
bulat sehingga mengisi semua tempat.[2]
Keempat, karena "yang ada" mengisi semua tempat, maka disimpulkan bahwa tidak ada
ruang kosong.[2][3] Jika ada ruang kosong, artinya menerima bahwa di luar "yang ada" masih
ada sesuatu yang lain.[2] Konsekuensi lainnya adalah gerak menjadi tidak mungkin sebab
bila benda bergerak, sebab bila benda bergerak artinya benda menduduki tempat yang
tadinya kosong.[2]

Pengaruh[sunting | sunting sumber]


Pemikiran Parmenides membuka babak baru dalam sejarah filsafat Yunani.[2] Dapat dikatakan
bahwa dialah penemu metafisika, cabang filsafat yang menyelidiki "yang ada".[2]Filsafat pada
masa selanjutnya akan bergumul dengan masalah-masalah yang dikemukakan Parmenides,
yakni bagaimana pemikiran atau rasio dicocokkan dengan data-data inderawi.[2] Plato
dan Aristoteles adalah filsuf-filsuf yang memberikan pemecahan untuk masalah-masalah
tersebut.
BIOGRAFI TOKOH

Santo Zeno

Patung dari Santo Zeno yang terdapat di Basilika Santo Zeno

Lahir 300, Mauretania

Wafat 12 April 371, Verona

Hari peringatan 12 April; 21 Mei

Zeno (meninggal 371) adalah uskup Verona dan dikenal sebagai seorang
pembela imanKristen. Ia ditahbis sebagai uskup pada tahun 362 dan dikenal sebagai
uskup yang baik hati terhadap umatnya. Zeno menulis sejumlah khotbah, mendirikan
banyakgereja, dan memiliki reputasi sebagai pembela iman Kristen terhadap
golongan Arianisme. Selain itu, Zeno juga mendirikan biara-biara untuk kaum
perempuan dan mendorong banyak perempuan muda untuk masuk ke dalam biara
tersebut. Hal yang serupa di kemudian hari akan dilakukan juga oleh Ambrosius dari
Milan. Zeno biasanya disimbolkan dengan ikan, namun tidak terlalu jelas apakah
simbol itu menunjuk kepada simbol baptisan atau dirinya. Peringatan kepada Santo
Zeno dirayakan setiap tanggal 12 April.

PEMIKIRAN TOKOH
Biografi Angka Nol-Angka Nol Muncul
dari Timur
Biografi Angka Nol : Angka Nol muncul dari Timur

Ketakterhinggaan dan kekosongan mengandung kekuatan yang menakutkan orang


Yunani. Ketakterhinggaan ditakutkan karena membuat semua gerak menjadi tidak
mungkin, sedangkan kekosongan membuat pandangan mereka tentang alam
semesta hancur berkeping-keping. Dengan menolak angka nol, filsuf Yunani
memberi kekuatan bertahan selama dua milenium pada filsafat alam semesta
mereka.

Doktrin Phytagoras pun menjadi pusat filsafat Barat. Seluruh alam raya diatur oleh
perbandingan dan bentuk : Planet-planet bergerak mengalunkan musik surgawi di
dalam ruang berbentuk bola. Namun apakah yang berada di luar bola semesta ini?
Apakah ada ruang-ruang lain yang lebih besar dari bola semesta ini? Atau apakah
titik terluar pada bola ini merupakan batas akhir alam semesta?

Aristoteles dan para filsuf sesudahnya berkeras bahwa tak ada ketakterhinggaan
yang melingkupi bola-bola itu. Dengan mengadopsi ajaran ini, Barat tak memberi
ruang bagi ketakberhinggaan. Mereka benar-benar menolaknya. Terima kasih untuk
Zeno dari Elea, seorang filsuf yang dikenal paling menjengkelkan di Barat karena
berhasil mengacaukan dasar-dasar pemikiran Barat dengan menggunakan
ketakberhinggaan.

Zeno dilahirkan sekitar 490 SM, pada permulaan perang Persia-sebuah konflik besar
antara Barat dan Timur. Meski Yunani berhasil mengalahkan Persia, namun
filsafatnya takkan mampu mengalahkan Zeno. Zeno memiliki sebuah paradoks,
teka-teki yang tak dapat dipecahkan oleh orang Yunani. Inilah teka-tekinya itu :

Achilles sang pahlawan perang Troya, yang terkenal sangat gesit, takkan pernah
bisa menyusul kura-kura lamban yang melakukan start lebih dulu! Untuk
memperjelas persoalan ini, mari kita gunakan angka-angka. Bayangkan Achilles
berlari dengan kecepatan satu kaki per detik, sedangkan kura-kura tersebut berlari
dengan kecepatan separuhnya (setengah kaki per detik). Bayangkan juga kura-kura
tersebut start satu kaki lebih awal dari Achilles.

Achilles berlari, dan hanya dalam beberapa detik ia telah sampai di tempat kura-kura
sebelumnya. Tetapi pada saat Achilles mencapai titik tersebut, kura-kura yang juga
berlari telah maju sejauh setengah kaki. No problemo, kata Achilles. Achilles lebih
cepat hingga dalam waktu setengah detik ia bisa berlari sejauh setengah kaki.
Namun, sekali lagi, pada saat itu si kura-kura juga sudah bergerak ke depan sejauh
seperempat kaki. Kemudian dalam sekejap seperempat detik Achilles
menempuh jarak tertentu. Namun lagi-lagi, si kura-kura telah maju seperdelapan
kaki. Achilles terus berlari dan berlari namun kura-kura selalu berada di depannya,
tak peduli seberapa dekat jarak antara Achilles dan kura-kura.

Semua orang tahu bahwa di dunia nyata, Achilles pasti bisa berlari kencang
melewati si kura-kura, tetapi argumen yang dibuat oleh Zeno membuktikan bahwa
Achilles takkan pernah bisa menyusul kura-kura. Para filsuf zaman itu tak ada yang
bisa menyangkal paradoks ini. Meski mereka mengetahui bahwa kesimpulan yang
dibuat salah, namun mereka tak bisa menemukan kesalahan dalam pembuktian
matematis yang dibuatnya. Senjata utama para filsuf adalah logika, tapi tampaknya
deduksi logika tak mampu menghadapi argumen Zeno.

Empat Paradoks Zeno

Di dunia filsafat Yunani Kuno, terdapat satu set teka-teki yang disebut Paradoks Zeno.
Paradoks ini pertama kali dilontarkan oleh filsuf Zeno dari Elea; kurang lebih sekitar
abad kelima sebelum Masehi.
Zeno dari Elea (490-430 SM) (courtesy of wikipedia)
Zeno dari Elea adalah seorang filsuf dari mazhab pemikiran Eleatik. Ia mengikuti jejak
gurunya yang bernamaParmenides sama-sama mempercayai bahwa semua gerak
dan perubahan di dunia bersifat semu. Baik Zeno maupun Parmenides berpendapat
bahwa alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya
saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan.
1. Paradoks Dikotomi
Sebuah benda yang bergerak tidak akan pernah mencapai tujuan. Pertama-tama
dia harus menempuh perjalanan setengah jarak. Lalu setelah itu dia mesti
menempuh seperempat, seperdelapan, seperenambelas, sepertigapuluhdua
Sedemikian hingga jumlah perjalanannya menjadi tak-hingga.

Oleh karena mustahil melakukan perjalanan sebanyak tak-hingga, maka benda


tidak akan dapat sampai tujuan.
2. Paradoks Achilles dan Kura-kura

Achilles dan Kura-kura melakukan lomba lari, meskipun begitu, kura-kura diizinkan
start lebih awal.

Agar dapat menyamai kura-kura, Achilles menetapkan sasaran ke tempat kura-


kura saat ini berdiri.

Akan tetapi, tiap kali Achilles bergerak maju, kura-kura juga bergerak maju. Ketika
Achilles sampai di tempat kura-kura, kura-kura sudah berjalan sedikit ke depan.

Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Akan tetapi setibanya di
sana, kura-kura juga sudah maju sedikit lagi.

Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Akan tetapi setibanya di
sana, kura-kura juga sudah maju sedikit lagi. Demikian seterusnya ad infinitum.

Jadi kesimpulannya: mustahil bagi Achilles untuk bisa menyamai kura-kura dalam
balapan.
3. Paradoks Anak Panah

Misalnya kita membagi waktu sebagai deretan masa-kini. Kemudian kita lepaskan
anak panah. Di setiap masa-kini anak panah menduduki posisi tertentu di udara.
Oleh karena itu anak panah dapat dikatakan diam sepanjang waktu.
4. Paradoks Stadion

Terdapat tiga buah barisan benda A, B, dan C di lapangan tengah stadion.

Barisan A terletak diam di tengah lapangan. Sementara B dan C masing-masing


terletak di ujung kiri dan kanan A.

Kemudian B dan C bergerak saling mendekati dengan kecepatan yang sama


(hendak bersejajar dengan barisan A).

Antara Sebelum dan Sesudah, titik C paling kiri melewati dua buah B, tetapi cuma
satu buah A.

Berarti waktu C untuk melewati B = setengah waktu untuk melewati A. Padahal A


dan B adalah unit yang identik!

Mungkinkah setengah waktu = satu waktu?


Ada dua tema yang dominan dalam Paradoks Zeno, yakni gerak dan
ketakhinggaan. Sebagaimana sudah diceritakan di awal, Zeno menganggap bahwa
perubahan di dunia bersifat semu. Pendapat itu kemudian tercermin lewat empat
buah paradoks di atas.

Dalam paradoks pertama (dikotomi), Zeno menyampaikan bahwa gerak benda


antara dua titik bersifat mustahil atau minimal, mengandung aspek filsafat yang
misterius. Ada baiknya kalau kita simak lagi paradoksnya di bawah ini.

Setengah, seperempat, seperdelapan, seperenambelas


Dalam grafik di atas digambarkan bagaimana terdapat banyak segmen perjalanan
antara dua titik (0-100). Yang mengganggu Zeno di sini bukan geraknya, melainkan,
bagaimana ketakhinggaan bisa begitu merepotkan. Dalam contoh di atas Zeno
mengetengahkan bahwa karena jumlah segmen yang harus ditempuh sejumlah
tak-hingga maka gerak dari satu tempat ke tempat lain adalah mustahil.

Hal yang sama juga berlaku di paradoks kedua Achilles dan Kura-kura. Lewat
paradoks ini Zeno menyatakan bahwa mustahil bagi orang yang telat balapan untuk
dapat menyamai lawannya.

Alasannya? Karena terdapat sejumlah kemajuan kecil-kecil yang tak mungkin


dikejar. Setiap Achilles sampai di tempat kura-kura, kura-kura selalu sudah
melaju sedikit lagi di depan. Pada akhirnya Achilles digambarkan Zeno sebagai tak
akan mampu melewati kura-kura.

(keterangan: t0 melambangkan situasi pada saat pertama; t1 melambangkan situasi


pada saat kedua;dan seterusnya)

Problemnya tentu saja bahwa di dunia nyata hal itu tidak berlaku, makanya disebut
paradoks. Siapapun yang pernah nonton balap tahu hal ini. Pembalap
yang start belakangan selalu bisa menyalip lawan di depannya. Memang kadang
agak sulit melakukannya, tetapi bukan tidak mungkin.

Sementara itu, lain lagi dengan paradoks ketiga tentang anak panah. Berbeda
dengan sebelumnya yang ini mencoba menunjukkan bahwa gerak dan diam itu
sebenarnya tak dapat dipisahkan.

Zeno melihat waktu sebagai rangkaian masa-kini yang berkesinambungan. Oleh


karena itu sebuah anak panah yang meluncur memiliki berbagai versi masa-kini di
perjalanannya. Ada masa-kini sesaat sesudah lepas dari busur; masa-kini setelah
beberapa detik di angkasa, dan seterusnya.

Problemnya adalah bahwa di tiap masa-kini itu anak panah mendiami tempat yang
tetap. Persis seperti kalau direkam kamera video. Di setiap frame tampak berbagai
kondisi anak panah. Semua tampak diam. Akan tetapi kalau videonya diputar,
barulah terkesan bahwa anak panah itu sebenarnya bergerak.

Singkat cerita, Zeno menilai bahwa paradoks anak panah menunjukkan kebenaran
filsafatnya. Bahwa gerak itu aslinya semu suatu benda terkesan bergerak cuma
oleh persepsi manusia saja.

Paradoks terakhir (Paradoks Stadion) adalah yang paling sederhana

Dalam Paradoks Stadion, Zeno mengetengahkan bahwa dua benda yang saling
mendekati butuh waktu lebih singkat untuk bisa bersejajar.

Sebenarnya ini adalah penerapan dari relativitas Galileo yang diajarkan di bangku
SMA kita dulu. Ada yang masih ingat ceritanya? Kalau dua benda bergerak, yang
satu bisa dianggap diam, sementara yang satu lagi kecepatannya dijumlahkan.
Nah demikian juga dengan kasus Paradoks Stadion di atas. Ketika B dan C sama-
sama bergerak, maka jumlah waktu sebelum mereka saling bertemu juga akan
mengecil, sebab kecepatannya saling menjumlahkan. Sementara A (yang tidak
bergerak) tidak mendapat keuntungan tersebut.

PENUTUP

Sebagaimana sudah disebut beberapa kali di atas, Zeno adalah filsuf yang tidak
percaya pada gerak dan perubahan. Lewat empat paradoks di atas ia ingin
memastikan hakikat kenyataan sebenarnya. Sebagai seorang Eleatik Zeno
berpendapat bahwa semua gerak benda itu semu; oleh karena itu, untuk
membuktikan keyakinannya, ia kemudian merancang serangkaian paradoks.
Tentunya kemudian timbul pertanyaan, apakah pendapat Zeno itu benar atau salah?
Meskipun begitu soal itu tak akan kita bahas di sini. Biarlah diserahkan pada yang
ahli filsafat sahaja. Saya sendiri amat tertarik dengan ide Zeno yang
menghubungkan antara kesemuan gerak dengan konsep tak-hingga. Ketika
berbicara keseharian yang terbatas, ia menganalisisnya lewat serangkaian kecil-
kecil yang jumlahnya mendekati tak-hingga. Pada akhirnya jalan berpikir ini
menghasilkan ide baru yang segar kalau tidak boleh dibilang absurd sama sekali.

Kalau ada di antara pembaca yang akrab dengan matematika, kemungkinan


akan ngeh bahwa ide-ide Zeno punya bidang bahasannya sendiri. Keanehan
Paradoks #1 dan #2, misalnya, dapat dijelaskan lewat deret konvergen. Lewat ilmu
kalkulus para ahli matematika belajar bagaimana menjumlahkan irisan-irisan kecil
yang jumlahnya mendekati tak-hingga. Menariknya: biarpun irisannya tak-hingga,
kalau diintegralkan, ternyata jumlahnya finite. Yang semacam ini membantu
menjelaskan hal-hal paradoks dalam paparan Zeno. Bagaimana perkara keseharian
yang terbatas (finite) dapat dianalisis menggunakan metode tak-hingga (infinite), nah
di situ menariknya.

Melissos
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Melissos

Lahir Pulau Samos

Era Filsafat Kuno

Aliran mazhab Elea


Minat utama Metafisika

Gagasan Ketakterbatasan, dan pandangan monistik terhadap

penting realitas

Dipengaruhi[tampilkan]

Melissos adalah filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Elea.[1] Para filsuf lain dari mazhab ini
adalah Parmenides dan Zeno.[2]Pemikiran Melissos mirip dengan Parmenides di dalam hal
menyangkal adanya "perubahan" dan "pluralitas" di alam semesta.[3] Ada beberapa fragmen
yang tersimpan dari buku yang ditulis Melissos dalam bentuk prosa.[4][5]

Daftar isi
[sembunyikan]

1Riwayat Hidup
2Pemikiran tentang "Yang Ada"
o 2.1Abadi
o 2.2Tak Terbatas
o 2.3Yang Satu
o 2.4Homogen
o 2.5Tidak Berubah
3Lihat Juga
4Referensi

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]


Tidak banyak yang dapat diketahui mengenai riwayat hidupnya.[4] Melissos berasal dari
pulau Samos.[4][6] Ia hidup pada abad ke-5 SM.[1][3] Hal tersebut didapatkan berdasarkan sumber
yang menyatakan bahwa ia menjadi panglima armada laut Samos yang melakukan penyerangan
ke Athena pada tahun 440 SM.[4][6] Pada peperangan tersebut, Melissos pada awalnya berhasil
meraih kemenangan atas armada laut Athena yang dipimpin Pericles.[5] Akan tetapi, pada
akhirnya Melissos dan armada laut Samos dikalahkan oleh Athena.[5]
Melissos dikatakan hidup sezaman dengan Zeno, namun berusia lebih muda dari Zeno.[2][6] Ia
dikatakan sebagai murid Parmenides.[6][5] Buku yang ditulisnya merupakan buku yang merevisi
dan memodifikasi buku karangan Parmenides.[5] Selain itu, menurut Diogenes, Melissos adalah
seorang negarawan yang dihormati pada masanya.[6]

Pemikiran tentang "Yang Ada"[sunting | sunting sumber]


Menurut Melissos, "yang ada" itu bersifat:

1. Abadi (omnitemporal)[3]
2. Tak terbatas[3]
3. Satu[3]
4. Homogen[3]
5. Tidak berubah[3]
Abadi[sunting | sunting sumber]
Argumen Melissos mengenai "yang ada" bersifat abadi sama dengan argumen
Parmenides.[4] Melissos mengatakan bahwa jika sesuatu "tidak ada", apa yang dapat dikatakan
dikatakan tentang itu?[5] Manusia hanya dapat mengatakan sesuatu bila sesuatu itu
"ada".[5] Kemudian, "tidak ada" tidaklah mungkin hancur menjadi tidak ada.[3] Karena itu, "yang
ada" bersifat abadi.[3]
Tak Terbatas[sunting | sunting sumber]
Parmenides menyatakan bahwa "yang ada" bersifat abadi, namun berhingga di dalam
ruang.[4] Hal itu ditolak oleh Melissos yang menyatakan bahwa "yang ada" tak terbatas oleh
ruang.[4] Argumentasi Melissos adalah jika "yang ada" itu terbatas di dalam ruang, maka harus
dikatakan bahwa di luar "yang ada" terdapat "yang tidak ada".[4] Itu berarti "yang tidak ada" ada
sehingga premis keabadian "yang ada" menjadi hilang.[4] Karena itu, tidak mungkin "yang ada"
itu terbatas, juga menurut ruang.[4]
Yang Satu[sunting | sunting sumber]
Melissos mengemukakan "yang ada" itu satu, sehingga "yang ada" itu disebut juga "yang
satu".[4] Argumentasi Melissos adalah jika "yang ada" berjumlah lebih dari satu, maka ia tidak lagi
tak terbatas sebab ada batas antara satu dengan lainnya untuk berhubungan.[3]
Homogen[sunting | sunting sumber]
Melissos juga menyatakan bahwa "yang ada" pastilah homogen.[3] Jika "yang ada" bersifat
heterogen, maka pasti terdapat pluralitas, sedangkan pluralitas berarti tidak lagi satu.[3]
Tidak Berubah[sunting | sunting sumber]
Terakhir, Melissos juga menyatakan bahwa "yang ada" itu tidak berubah.[3] Argumentasi
terhadap hal ini berhubungan dengan sifat abadi dari "yang ada".[3] Bila "yang ada" dapat
berubah, maka ada kemungkinan ia tidak abadi.[3] Karena itu, pastilah "yang ada" itu tidak
berubah.

Empedokles
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gambar rekaan sosok Empedokles.

Empedokles adalah seorang filsuf dari mazhab pluralisme.[1][2][3] Tokoh lainnya dari mazhab ini
adalah Anaxagoras.[1][2] Jika filsuf-filsuf Miletosmengajarkan bahwa terdapat satu prinsip dasar
yang mempersatukan alam semesta, Empedokles berpendapat lain.[1] Menurut Empedokles,
prinsip dasar itu tidaklah tunggal melainkan empat.[1] Ia dikenal sebagai seorang dokter, penyair,
ahli pidato, dan politikus.[2]
Empedokles menulis dua karya dalam bentuk puisi.[2] Puisi pertama berjudul "Perihal Alam" (On
Nature) dan yang kedua berjudul "Penyucian-Penyucian" (Purifications).[2][4] Kedua karya
tersebut memiliki 5000 ayat, namun yang masih ada hingga kini tinggal 350 ayat dari karya
pertama, dan 100 ayat dari karya kedua.[2] Para ahli tidak sepakat mengenai mana karangan
yang lebih dahulu ditulis.[2]

Daftar isi
[sembunyikan]

1Riwayat Hidup
2Pemikiran
o 2.1Tentang Empat Anasir
o 2.2Tentang Cinta dan Benci
o 2.3Tentang pengenalan
o 2.4Tentang Penyucian
3Pengaruh Empedokles
4Referensi
5Lihat pula
6Pranala luar

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Gunung Etna di Sisilia

Empedokles lahir di Agrigentum, pulau Sisilia, pada abad ke-5 SM (495-435 SM).[2][4][5] Ia berasal
dari golongan bangsawan.[2][5]Empedokles dipengaruhi oleh aliran religius yang disebut orfisme,
dan juga kaum Pythagorean.[2] Ada sum ber lain yang mengatakan ia mengikuti
ajaran Parmenides.[2] Pada usia yang tidak diketahui, ia dibuang dari kota asalnya namun tidak
ada informasi mengenai pembuangannya itu.[2] Berdasarkan keterangan dari Aristoteles,
Empedokles meninggal pada usia 60 tahun.[2] Menurut legenda, Empedokles meninggal dengan
cara terjun ke kawah vulkano di gunung Etna.[4]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]


Tentang Empat Anasir[sunting | sunting sumber]
Empedokles berpendapat bahwa prinsip yang mengatur alam semesta tidaklah tunggal
melainkan terdiri dari empat anasir atau zat.[1][4][5] Memang dia belum memakai istilah anasir
(stoikeia) yang sebenarnya baru digunakan oleh Plato, melainkan menggunakan istilah 'akar'
(rizomata).[2][6] Empat anasir tersebut adalah air, tanah, api, danudara.[1][2][3][4][5][6] Keempat anasir
tersebut dapat dijumpai di seluruh alam semesta dan memiiki sifat-sifat yang saling
berlawanan.[2] Api dikaitkan dengan yang panas dan udara dengan yang dingin, sedangkan
tanah dikaitkan dengan yang kering dan air dikaitkan dengan yang basah.[2] Salah satu
kemajuan yang dicapai melalui pemikiran Empedokles adalah ketika ia menemukan bahwa
udara adalah anasir tersendiri.[1][2] Para filsuf sebelumnya, misalnya Anaximenes, masih
mencampuradukkan udara dengan kabut.[1][2]
Empedokles berpendapat bahwa semua anasir memiliki kuantitas yang persis sama.[2] Anasir
sendiri tidak berubah, sehingga, misalnya, tanah tidak dapat menjadi air.[2] Akan tetapi, semua
benda yang ada di alam semesta terdiri dari keempat anasir tersebut, walaupun berbeda
komposisinya.[2] Contohnya, Empedokles menyatakan tulang tersusun dari dua bagian tanah,
dua bagian air, dan empat bagian api.[6] Suatu benda dapat berubah karena komposisi empat
anasir tersebut diubah.[6]
Tentang Cinta dan Benci[sunting | sunting sumber]
Menurut Empedokles ada dua prinsip yang mengatur perubahan-perubahan di dalam alam
semesta, dan kedua prinsip itu berlawanan satu sama lain.[2] Kedua prinsip tersebut adalah cinta
(philotes) dan benci (neikos).[2][4][5] Cinta berfungsi menggabungkan anasir-anasir sedangkan
benci berfungsi menceraikannya.[2][6] Keduanya dilukiskan sebagai cairan halus yang meresapi
semua benda lain.[2] Atas dasar kedua prinsip tersebut, Empedokles menggolongkan kejadian-
kejadian alam semesta di dalam empat zaman.[2]Zaman-zaman ini terus-menerus berputar;
zaman pertama berlalu hingga zaman keempat lalu kembali lagi ke zaman pertama, dan
seterusnya.[2][5][6] Zaman-zaman tersebut adalah:
1. Zaman pertama.
Di sini cinta dominan dan menguasai segala-galanya, alam semesta dibayangkan
sebagai sebuah bola, di mana semua anasir tercampur dengan sempurna, dan benci
dikesampingkan ke ujung.[2]
2. Zaman kedua.
Benci mulai masuk untuk menceraikan anasir-anasir, sehingga alam semesta sebagian
dikuasai oleh cinta dan sebagian lagi dikuasai oleh benci.[2] Benda-benda memiliki
kemantapan tetapi dapat lenyap, misalnya makhluk-makhluk hidup dapat mati.[2] Menurut
Empedokles, manusia hidup pada zaman ini.[2]
3. Zaman ketiga.
Apabila perceraian anasir-anasir selesai, mulai berlaku zaman ketiga, di mana benci
menjadi dominan dan menguasai segala-galanya.[2] Keempat anasir yang sama sekali
terlepas satu sama lain merupakan empat lapisan kosentris: tanah di dalam pusat dan
api pada permukaan.[2] Cinta kini berada di ujung.[2]
4. Zaman keempat.
Pada zaman ini cinta masuk kembali hingga timbul situasi yang sejajar dengan zaman
kedua.[2] Apabila cinta menjadi dominan, artinya zaman pertama dimulai kembali.[2]
Tentang pengenalan[sunting | sunting sumber]
Empedokles menerangkan pengenalan berdasarkan prinsip bahwa "yang sama akan mengenal
yang sama".[2] Hal tersebut berarti bahwa unsur tanah di dalam diri kita mengenal tanah, sama
seperti unsur air di dalam diri mengenal air, dan seterusnya.[2] Karena alasan ini, Empedokles
berpendapat bahwa darah merupakan hal utama dari tubuh manusia, sebab darah dianggap
sebagai campuran paling sempurna dari keempat anasir, terutama darah paling murni yang
mengelilingi jantung.[2][6] Pemikiran Empedokles ini memberi pengaruh di dalam bidang biologi
dan ilmu kedokteran selanjutnya.[2]
Tentang Penyucian[sunting | sunting sumber]
Karya "Penyucian" berbicara tentang perpindahan jiwa dan cara agar orang dapat luput dari
perpindahan tersebut dengan menyucikan dirinya.[2][6] Di dalam karangan tersebut, Empedokles
memperkenalkan diri sebagai daimon (semacam dewa) yang jatuh karena berdosa dan dihukum
untuk menjalani sejumlah perpindahan jiwa selama tiga kali sepuluh ribu musim.[2] Jiwa-jiwa itu
berpindah dari tumbuh-tumbuhan, kepada ikan-ikan, lalu kepada burung-burung, dan juga
manusia.[2] Jikalau jiwa sudah disucikan, antara lain dengan berpantang makan daging hewan,
maka ia dapat memperoleh status daimon kembali.[2] Pandangan tentang perpindahan jiwa ini
nampaknya diadopsi dari mazhab Pythagorean.[6]

Pengaruh Empedokles[sunting | sunting sumber]


Pemikiran Empedokles tentang empat anasir kemudian akan diambil-alih oleh Plato, Aristoteles,
dan filsuf-filsuf Yunani lainnya.[2] Karena kosmologi Aristoteles diterima umum sepanjang
seluruh Abad Pertengahan, maka teori tentang empat anasir merupakan pandangan dunia
sampai awal zaman modern.[2] Setelah itu pada abad ke-17, Robert Boylemembantah teori ini
secara definitif dan dengan itu Boyle membuka jalan untuk kimia modern.

Anaxagoras
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Anaxagoras

Lahir c. 500 BC

Klazomenai

Meninggal c. 428 BC

Lampsakos

Era Filsafat Kuno

Aliran Mazhab Pluralisme

Minat utama Filsafat Alam


Gagasan penting Prinsip (Nous) yang meliputi segala sesuatu

Dipengaruhi[tampilkan]

Mempengaruhi[tampilkan]

Anaxagoras adalah salah seorang filsuf dari mazhab pluralisme.[1] Filsuf lain yang tergolong di
dalam mazhab ini adalahEmpedokles.[1][2] Anaxagoras, sebagaimana Empedokles, mengajarkan
bahwa realitas alam semesta berasal dari banyak prinsip.[1][2] Anaxagoras hidup sezaman
dengan Empedokles dan juga para filsuf atomis awal,
seperti Leukippos dan Demokritos.[3]Anaxagoras diketahui mengarang satu buku dalam bentuk
prosa.[2] Akan tetapi, hanya beberapa fragmen dari bagian pertama yang masih tersimpan.[2]

Daftar isi
[sembunyikan]

1Riwayat Hidup
2Pemikiran
o 2.1Tentang Benih-Benih sebagai Prinsip Alam Semesta
o 2.2Tentang Nous
o 2.3Tentang Alam Semesta
o 2.4Tentang Makhluk Hidup
o 2.5Tentang Pengenalan
3Lihat Juga
4Referensi
5Pranala luar

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]


Anaxagoras (500-428 SM) lahir di kota Klazomenai, Ionia, Asia Kecil, sekitar tahun 500
SM.[2][3][4] Pada tahun 480 SM, Anaxagoras meninggalkan kota asalnya dan menetap
di Athena.[2] Ia tinggal di Athena selama kurang lebih 50 tahun.[2] Dengan demikian Anaxagoras
menjadi filsuf pertama yang berkarya di Athena, yang nantinya akan menjadi pusat Filsafat
Yunani.[2]
Di Athena Anaxagoras berteman dengan Pericles, seorang politikus terkenal di
Athena.[2][4][5] Selain itu, disebutkan pula bahwa Euripides, dramawan tersohor kesusasteraan
Yunani, adalah murid Anaxagoras.[2][4][5]
Ketika Pericles telah berusia lanjut, musuh-musuhnya berhasil memfitnah Anaxagoras dengan
tuduhan murtad dan Anaxagoras diancam hukuman mati.[2][5] Tampaknya Anaxagoras difitnah
karena ia menganggap matahari dan bulan bukan sebagai dewa melainkan benda-benda
material semata.[2][4][5] Dengan pertolongan Pericles, ia dilepaskan dari penjara dan melarikan diri
ke kota Lampsakos.[2][4] Anaxagoras dikatakan meninggal di sana pada usia 72 tahun.[2][4]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]


Tentang Benih-Benih sebagai Prinsip Alam Semesta[sunting | sunting sumber]
Anaxagoras sama seperti Empedokles yang menyatakan bahwa prinsip dasar yang menyusun
alam semesta tidaklah tunggal, namun mereka berbeda di dalam jumlahnya.[1][2]Empedokles
menyatakan bahwa hanya ada 4 zat yang menjadi prinsip alam semesta, sedangkan
Anaxagoras menyatakan bahwa jumlah prinsip tersebut tak terhingga.[1][2][3][4][6] Zat-zat tersebut
disebutnya "benih-benih" (spermata).[1] Menurut Anaxagoras, setiap benda, bahkan seluruh
realitas di alam semesta, tersusun dari suatu campuran yang mengandung semua benih dalam
jumlah tertentu.[1][6][7] Indera manusia tidak dapat mencerap semua benih yang ada di dalam satu
benda, melainkan hanya benih yang dominan.[1] Contohnya jikalau manusia melihat emas, maka
ia dapat langsung mengenalinya sebagai emas, sebab benih yang dominan pada benda tersebut
adalah benih emas.[1] Akan tetapi, pada kenyataannya selain benih emas, benda itu juga
mempunyai benih tembaga, perak, besi, dan sebagainya.[1] Hanya saja semua benih tersebut
tidak dominan sehingga tidak ditangkap oleh indera manusia.[1]
Argumentasi yang ditunjukkan oleh Anaxagoras adalah melalui tubuh manusia.[2] Di dalam tubuh
manusia terdapat berbagai unsur, seperti daging, kuku, darah, rambut, dan
sebagainya.[2] Bagaimana mungkin rambut dan kuku tumbuh, padahal manusia tidak memakan
rambut atau kuku? Pemecahan yang diberikan Anaxagoras adalah karena di dalam makanan
telah terdapat benih rambut, kuku, daging, dan semua unsur lainnya.[2]
Tentang Nous[sunting | sunting sumber]
Jikalau Empedokles menyatakan ada dua prinsip yang menyebabkan perubahan-perubahan dari
zat-zat dasar, yakni "cinta" dan "benci", maka Anaxagoras menyatakan hanya ada satu prinsip
yang mendorong perubahan-perubahan dari benih-benih tersebut, yakni nous.[1][2] Nous berarti
"roh" atau "rasio".[1][2] Ia tidak tercampur dengan benih-benih dan terpisah dari semua benda,
namun menjadi prinsip yang mengatur segala sesuatu.[2][7]
Masih menjadi perdebatan apakah nous yang dimaksudkannya bersifat materi atau tidak, sebab
Anaxagoras mengatakan bahwa nous merupakan unsur yang paling halus dan paling murni dari
segala yang ada.[1][2] Akan tetapi, jelas bahwa Anaxagoras adalah filsuf pertama yang
menetapkan kemandirian roh atau rasio terhadap semua zat atau materi.[1]
Tentang Alam Semesta[sunting | sunting sumber]
Ajaran Anaxagoras tentang alam semesta mirip dengan filsuf-filsuf pertama dari Ionia,
khususnya Anaximenes.[2] Anaxagoras berpendapat bahwa badan-badan jagat raya terdiri dari
batu-batu yang berpijar akibat kecepatan tinggi dari pusaran angin yang menggerakkannya.[2]
Tentang Makhluk Hidup[sunting | sunting sumber]
Anaxagoras adalah filsuf pertama yang membedakan secara jelas antara makhluk hidup dengan
yang tidak hidup.[2] Dikatakan bahwa nous memang menguasai segala-galanya, namun tidak
ada di dalam makhluk yang tidak hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan.[2]
Tentang Pengenalan[sunting | sunting sumber]
Berbeda dari Empedokles yang menyatakan bahwa yang sama mengenal yang sama, menurut
Anaxagoras prinsip pengenalan justru yang berlawanan mengenal yang
berlawanan.[2][7] Argumentasi yang diberikan olehnya adalah pengenalan inderawi manusia yang
disertai rasa nyeri, misalnya bila tangan meraba air panas, atau mata melihat benda yang terlalu
terang.

Atomisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Atomisme adalah filsafat alam yang berkembang di beberapa peradaban kuno. Di dalam
peradaban Barat, atomisme merujuk pada Leukippos dan muridnya, Democritus dari abad ke-5
SM.[1] Pengikut atomisme ini mengajukan teori bahwa dunia alami terdiri dari dua benda yang
mendasar, saling berlawanan, dan tidak dapat dibagi -- atom dankehampaan. Atom tidak dapat
diisi oleh sesuatupun, atom bergerak di kehampaan menuju klaster yang berbeda-beda (dan
klaster-klaster ini membentuk senyawa-senyawa penghambat)[1]. Atom adalah kenyataan
bendawi terkecil, satuan bangunan yang tidak dapat dimusnahkan (Aristoteles, Metafisika, I, 4,
985 b, 10-15). Kata atomismediturunkan dari kata sifat bahasa Yunani, atomos, yang arti
harfiahnya adalah tidak dapat dipenggal (a - tomos (tidak dapat dipenggal) -- tomos adalah
sekawan dari kata kerja bahasa Yunani temnein (memenggal)).
Konsep atomisme terbentuk akibat kecelakaan sejarah, yaitu fakta bahwa
para kimiawan dan fisikawan sebelum abad ke-19 mengira bahwa partikel tidak dapat dibagi,
sehingga dikenali sebagai a-tom tak terpenggal dari tradisi kuno. Namun, pada abad ke-20
diketahuilah bahwa atom ternyata terdiri dari entitas yang lebih kecil: elektron, neutron,
danproton. Bahkan percobaan tahap lanjut menunjukkan bahwa proton dan neutron terdiri dari
beberapa kuark. Kuark yang dimaksud ini secara empirik belum terbukti memiliki substruktur.
Meskipun penamaan ini menjadi kurang relevan, ungkapan "kenyataan bendawi yang tidak
dapat dibagi" masih menjadi kalimat sakti di dalam atomisme.

Leukippos
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Leukippos

Lahir Awal abad ke-5 SM

Elea atau Miletos

Meninggal Abad ke-5 SM


Era Filsafat pra-Sokrates

Aliran Filsafat pra-Sokrates: Atomisme,Materialisme

Minat utama Metafisika

Gagasan penting Atomisme

Dipengaruhi[tampilkan]

Mempengaruhi[tampilkan]

Leukippos adalah seorang filsuf yang merintis mazhab Atomisme.[1][2][3][4] Ia juga merupakan
guru dari Demokritos.[1][5][6] Di dalam filsafat Atomisme, pemikiran Demokritos lebih dikenal
ketimbang Leukippos, meskipun amat sulit membedakan antara pandangan Leukippos dan
Demokritos.[1][6] Para ahli masa kini menganggap bahwa Leukippos merumuskan garis besar
ajaran-ajaran atomisme, lalu Demokritos mengembangkan pemikiran gurunya lebih lanjut.[1][4][5]

Daftar isi
[sembunyikan]

1Riwayat Hidup
2Pemikiran
o 2.1Tentang Atom
o 2.2Determinisme
3Lihat pula
4Referensi
5Pranala luar

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]


Riwayat hidup Leukippos (sekitar abad ke-5 SM) sulit diketahui sebab hanya sedikit sumber
kuno yang berbicara tentang kehidupan dan karyanya.[1] Epikuros dan Samos bahkan
membantah bahwa Leukippos adalah tokoh historis.[1][6][3] Akan
tetapi, Aristoteles danTheophrastos, muridnya, menyatakan Leukippos sebagai pendiri mazhab
Atomisme, dan kesaksian mereka lebih dipercaya para ahli masa kini.[1][2][3]
Tempat kelahiran Leukippos tidak diketahui, namun ada sumber kuno yang mengatakan bahwa
Leukippos berasal dari kota Miletosatau kota Elea.[1][6] Leukippos dikatakan memiliki hubungan
dengan mazhab Elea.[1] Ada kemungkinan ia menetap di Elea beberapa waktu dan merumuskan
filsafatnya sebagai kritik atas filsafat Elea.[1]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]


Tentang Atom[sunting | sunting sumber]
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pemikiran Leukippos dan Demokritos sulit untuk
dipisahkan sehingga untuk mengetahui lebih banyak tentang konsep atom kita perlu mempelajari
Demokritos.[1] Ada satu catatan dari Simplicius yang berbicara sedikit tentang konsep atom
Leukippos.[6] Menurut Leukippos, atom adalah elemen yang tak terbatas dan abadi, terus
bergerak, serta memiliki bentuk yang jumlahnya tak terbatas.[6] Atom inilah yang membentuk
segala sesuatu yang ada.[6] Selain itu, atom-atom tersebut bersifat padat dan penuh.[6]
Determinisme[sunting | sunting sumber]
Leukippos juga mengajarkan semacam pandangan determinisme di dalam satu fragmennya
yang masih tersisa.[3][2][6] Leukippos mengatakan:
"Tidak ada satu hal pun yang terjadi secara sembarangan, melainkan semuanya terjadi
karena maksud tertentu dan kebutuhan tertentu" (di dalam bahasa Inggris, "No thing
happens in vain, but all things for reason and by necessity.")