Anda di halaman 1dari 1

Di JAGAT hiburan di Jakarta, nama IPIK TANOYO adalah legenda.

Diakui atau
tidak, nama pewarta yang satu ini bisa jadi panutan untuk jurnalis muda yang ingin
serius sebagai wartawan. Di usianya yang menginjak 58 tahun [Lahir di Bumiayu Jawa
Tengah, 12 September 1953], Pak Ipik begitu kami biasa memanggilnyaadalah contoh
sebuah loyalitas kepada profesi. Siapa Ipik Tanoyo?
Ketika tahun 70-an kami-kami ini sedang dicetak Pak Ipik sudah menjadi
wartawan Aktuil salah satu legenda majalah musik. Dia bisa bercerita fasih tentang
konser Deep Purple di Jakarta tahun 1975, beserta dengan cerita-cerita yang tak
pernah terangkat ke media. Dan kami hanya terbengong mendengar kisahnya yang
diceritakan dengan ekspresi standar itu.
Saat kami begitu bangga baru ngesot ke Singapura, Malaysia atau Hongkong,
Pak Ipik dengan santainya bercerita soal keindahan Den Haag dan Kincir Angin di
Belanda, Sungai Rhein di Jerman, Salju di Swiss, Gunung Vesius di Italia, Museum
Lilin Madame Tussaud di Belanda, jalan-jaan di Belgia, Perancis dan mampir di
Vatikan, atau indahnya Singapura era 80-an. Tapi Pak Ipik juga bisa trenyuh saat
berkisah tentang tragedi gas beracun di Dieng. Ketika itu sebaai jurnalis di
majalah Selecta.
Tak banyak yang berusaha mencari tahu dan berbagi cerita dengan Pak Ipik.
Padahal beliau adalah sosok yang senang bercerita dan berbagi kisah-kisah lama
dengan jurnalis muda. Malah, kadang-kadang kita sendiri yang kerepotan mengerem
ceritanya. Orangnya rendah hati dan tidak merasa jumawa lantaran punya kisah dan
cerita yang jauh lebih komplet dibanding jurnalis yang kini jadi rekan-rekan
kerjanya.
Tak banyak yang tahu juga, Pak Ipik adalah jurnalis yang sempat jadi murid
vokal almarhum Pranadjaya. Pernah ngebayangin bagaimana seorang Ipik melantunkan
lagu Pantang Mundur ciptaan Titiek Puspa secara seriosa? Latihannya di
Gelanggang Remaja Bulungan, belum seenak sekarang. Tapi kok pada semangat dan nggak
rewel ya, ujarnya ketika ditanggap oleh kawan-kawan jurnalis.
Kini, Pak Ipik adalah reporter Jakarta untuk harian Bali Post. Khususnya untuk
berita hiburan, meski sesekali diundang ke acara budaya, ekonomi atau lifestyle.
Dedikasi dan loyalitas pada pekerjaannya itulah yang membuat kami-kami yang lebih
muda merasa malu. Pak Ipik tidak segan-segan menelpon kalau ada kawan yang sakit
atau kena musibah. Malah kami yang sering lupa ketika beliau kena kena kecelakaan
atau musibah. Marah? Sayangnya bukan tipikal sepeti itu. Doa kamu, sudah jauh
berarti buat saya, jawabnya kalau kami minta maaf karena terlambat bersimpati.
Kalau sampai kini Pak Ipik masih beredar, tentu bukan karena tak ada
pekerjaan lain atau kesenangan lain yang bisa dilakukan jebolan Universitas Gajah
Mada [UGM] Jogjakarta ini. Saya suka jadi wartawan, suka menulis dan memotret.
Jadi, ya saya menikmati pekerjaan ini, katanya suatu ketika kepada saya.
Mungkin bukan orang besar, atau pemilik media massa-nya. Tapi Pak Ipik sudah pantas
jadi contoh dan cerita bersambung tentang dunia wartawan dalam rentang waktu yang
amat panjang. Tulisan ini sebagai penghormatan pribadi saya kepada Pak Ipik.