Anda di halaman 1dari 8

RCA (MENENTUKAN AKAR MASALAH)

TENTANG KESELAMATAN PASIEN

TUGAS : KESELAMATAN PASIEN

DISUSUN OLEH:

Nama : EVA ANGGRAINI SIREGAR


Nim : 1602011027

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
INSTITUT KESEHATAN HELVETIA
2017
RCA (ROOT CAUSE ANALYSIS)
TENTANG KESELAMATAN PASIEN

1. Definisi RCA (Root Cause Analysis)

Analisa akar masalah (Root Cause Analysis / RCA) adalah sebuah alat kerja yang
sangat berguna untuk mencari akar masalah dari suatu insiden yang telah terjadi. Sedangkan
untuk menganalisa masalah yang belum terjadi, kita menggunakan alat yang
disebut FMEA yang telah dibahas pada posting terdahulu.
Menemukan akar masalah merupakan kata kunci. Sebab, tanpa mengetahui akar
masalahnya, suatu insiden tidak dapat ditanggulangi dengan tepat, yang berakibat pada
berulangnya kejadian insiden tersebut dikemudian hari. Berikut ini adalah tahap-tahap yang
perlu dilakukan untuk memulai suatu aktifitas RCA.

2. Klasifikasi Insiden
Tidak seluruh insiden atau masalah yang terjadi dilakukan prosedur lengkap RCA.
Masalah harus dilakukan klasifikasi dan prioritas. Tujuannya agar terjadi efisiensi dalam
pekerjaan. Hal ini karena prosedur lengkap RCA memerlukan sumber daya yang khusus,
jumlahnya terbatas di organisasi, dan memakan waktu yang tidak sebentar. Sehingga,
organisasi perlu menetapkan suatu metode klasifikasi dan prioritas masalah. Hanya masalah
yang masuk kriteria saja yang dilanjutkan ke prosedur RCA. Sementara masalah lain yang
tidak masuk kriteria, tetap dilakukan analisa menggunakan prinsip-prinsip RCA tetapi tidak
seluruh urutan prosedur lengkap RCA dilakukan. Yang dimaksud prosedur lengkap RCA
adalah seluruh tahapan prosedur dilakukan.
Salah satu alat yang dapat dipakai untuk melakukan klasifikasi dan prioritas masalah
adalah membuat peringkat masalah berdasarkan Konsekuensi (Consequence) dan Likelihood.
Consequence adalah seberapa berat dampak dari masalah itu. Sedangkan Likelihood adalah
seberapa sering masalah itu terjadi. Consequence dan Likelihood diperingkat menggunakan
angka dari 1 sampai 5. Makin tinggi angka berarti makin berat atau makin sering. Setelah
angka nilai Consequence (C) dan Likelihood (L) didapat, kedua angka tersebut dilakukan
perkalian. Angka hasil perkalian itulah yang menentukan peringkatnya. Makin tinggi
angkanya, makin tinggi peringkatnya. Kita dapat menggolongkan peringkat menjadi empat
golongan, yaitu ekstrim (15 25), besar (8 12), sedang (4 6), kecil (1 3).
3. Membentuk Tim RCA
Membentuk tim RCA merupakan langkah berikutnya yang penting. Tanpa tim yang
representatif, hasil aktifitas RCA tidak akan valid. Rekomendasi yang dihasilkannya pun
tidak tepat. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus untuk menentukan siapa saja yang dipilih
untuk menjadi anggota tim.
Sebagai pedoman, anggota tim haruslah orang-orang yang kompeten dalam bidang
yang akan dibahas. Kemudian, mereka juga harus dalam posisi netral, bukan orang yang ada
sangkut-pautnya langsung dengan masalah yang akan dibahas. Jika diperlukan, dapat
ditunjuk seorang ahli dari luar organisasi untuk menambah bobot dari tim ini. Jumlah anggota
tim jangan terlalu banyak. Ukuran yang normal adalah antara 5 sampai 8 orang.

4. Mengumpulkan Data
Tim kemudian bekerja mengumpulkan data. Hal ini dilakukan untuk memperoleh
gambaran seobyektif mungkin atas peristiwa yang telah terjadi. Ingat, yang dikumpulkan
hanya data, bukan asumsi, kesan, atau tafsiran. Sumber data dapat diperoleh dari:
a. catatan medis
b. wawancara orang yang terlibat
c. wawancara dengan seluruh saksi
d. kunjungan ke lokasi kejadian
e. peralatan yang terlibat
f. dll.
Data-data di atas diperlukan untuk melengkapi fakta yang terjadi. Disamping itu,
diperlukan juga pengumpulan data-data berikut ini:
a. kebijakan dan prosedur internal organisasi
b. peraturan atau perundang-undangan
c. standard mutu
d. referensi ilmiah terkini
e. dll.
Data-data di atas diperlukan untuk melihat kesenjangan (gap) yang terjadi antara fakta
yang terjadi dengan yang seharusnya dilakukan.
5. Memetakan Informasi
Setelah seluruh data terkumpul, insiden yang terjadi direkonstruksi dengan
menggunakan data-data yang tersedia. Seluruh data disusun menurut urutan kejadiannya.
Ada beberapa alat yang dapat dipakai untuk memetakan urutan kejadian ini, misalnya:
a. Narrative Chronology
b. Time Person Grid
c. Timelines
d. Tabular Timelines

Contoh:

6. Identifikasi dan Memprioritaskan Masalah


Setelah seluruh data dipetakan, mulailah kita masuk ke tahap awal analisa masalah,
yaitu dengan mengidentifikasinya. Identifikasi masalah ini sangat penting, dan hanya dapat
dilakukan oleh orang yang memahami proses yang standard (yang seharusnya terjadi).
Caranya adalah dengan meneliti seluruh urutan informasi untuk mencari tahu apakah
kejadian-kejadian tersebut terjadi sudah sesuai dengan seharusnya atau tidak.
Untuk memastikan hal ini, diperlukan berbagai dokumen seperti: Kebijakan dan
prosedur internal organisasi, peraturan atau perundang-undangan, standard mutu, referensi
ilmiah terkini, dan lain-lain. Jika ditemukan ketidaksesuaian dengan kebijakan, prosedur,
standard, referensi ilmiah terkini, itulah yang disebut sebagai masalah. Setelah masalah
teridentifikasi, barulah kita lakukan prioritas masalah. Masalah-masalah kecil yang tidak
penting dan tidak berpengaruh besar pada terjadinya insiden kita singkirkan, dan kita focus
pada masalah-masalah utama.
Pada kasus sederhana seperti tertusuk jarum di atas, masalah tertusuk jarum dapat
dipakai sebagai masalah itu sendiri. Tetapi jika masalahnya kompleks dan melibatkan banyak
pihak / departemen, masalahnya harus diidentifikasi satu demi satu.
7. Analisa Untuk Mencari Faktor yang Berperan
Masalah-masalah yang telah diidentifikasi kemudian dianalisa untuk mencari faktor
yang berkontribusi. Ada dua alat terkenal yang biasanya dipakai untuk analisa ini, yaitu 5
Why dan diagram tulang ikan.
5 Why dilakukan dengan cara bertanya Why sampai 5 kali terhadap suatu masalah
sampai tidak ada jawaban lagi yang dapat dikemukakan. Namun, 5 Why mempunyai
kelemahan mendasar, yaitu bentuk pertanyaannya sangat terbuka dan tidak terarah. Sehingga,
hasilnya sangat tergantung pada latar belakang penanya dan yang ditanya. Boleh jadi, untuk
satu masalah yang sama tapi dilakukan oleh dua orang yang berbeda, akan didapatkan hasil
yang berbeda.
Karena 5 Why mempunyai kelemahan mendasar, maka yang dianjurkan adalah
menganalisa masalah menggunakan diagram tulang ikan. Diagram tulang ikan dirancang
untuk mencari faktor yang berperan dengan terarah. Untuk memudahkan mencari faktor yang
berperan pada diagram tulang ikan, dapat digunakan pertanyaan triase faktor yang berperan.
Pertanyaan triase tersebut dapat anda lihat disini (halaman 8). Anda juga dapat mencari faktor
yang berperan dengan menggunakan alat bantu tabel contributing faktor yang dikeluarkan.
Contoh pernyataan sebab akibat:
a. Karena belum dilakukan tinjauan keselamatan pada syringe AGD, maka belum ada
mekanisme yang menjamin keselamatan selama memakai alat tersebut, yang
menyebabkan mekanisme yang ada gagal mencegah terjadinya insiden tertusuk jarum.
b. Belum ada prosedur yang aman menyebabkan jarum syringe AGD ditutup lagi setelah
digunakan dan dibawa keluar ruangan, yang mengakibatkan meningkatnya peluang
terjadinya insiden tertusuk jarum.
c. Penghalang yang ada tidak dirancang untuk melindungi staf yang menyebabkan
terjadinya insiden staf perawat tertusuk jarum.
8. Menyusun Rekomendasi Penyelesaian Masalah
Menyusun rekomendasi merupakan hal yang paling penting dari aktifitas RCA ini.
Karena tanpa rekomendasi, masalah tidak dapat diselesaikan dan terus membebani
organisasi. Ibarat berobat ke dokter, pasien tidak cukup diberi tahu tentang diagnosanya, tapi
jauh lebih penting adalah diberi pengobatan yang tepat.
Menyusun rekomendasi memerlukan pengetahuan dan pemahaman yang memadai
tentang masalah yang sedang dihadapi. Disinilah arti penting dari anggota tim. Anggota tim
RCA harus memiliki kompetensi dan kapasitas yang memadai untuk melakukan hal itu.
Referensi yang dikumpulkan pada tahap mengumpulkan data di atas dapat dipakai untuk
membantu proses ini.
Ada satu alat yang sangat berguna untuk menyusun penyelesaian masalah ini. Alat itu
disebut analisa penghalang (barrier analysis).
Namun, sebelum masuk ke dalam analisa penghalang, kita perlu memahami dahulu
pengertian penghalang dihubungkan dengan kemampuannya mencegah terjadinya insiden.
Ilustrasi tentang penghalang dihubungkan dengan kemampuannya mencegah terjadinya
insiden adalah sebagai berikut:

Dari ilustrasi di atas, jelas terlihat bahwa tebal lapisan penghalang tidaklah sama.
Yang paling kuat adalah adanya alat, sedangkan yang paling lemah adalah kebijakan /
prosedur.

9. Membuat Laporan RCA


Laporan RCA berisi rincian seluruh kegiatan pelaksanaan RCA mulai dari awal
sampai rekomendasi yang diberikan. Laporan ini kemudian disampaikan kepada pemimpin
organisasi untuk disetujui. Proses persetujuan ini sangat penting. Karena tanpa persetujuan
pemimpin, rekomendasi tak dapat dieksekusi dan dilaksanakan.
KASUS
SEORANG PASIEN TB MENINGGAL DUNIA DI TEMPAT TIDURNYA

Langakah 1 : Membentuk TIM RCA


1. Ketua Tim KKPRS
2. Kepala bidang pelayanan
3. Kepala ruangan
4. DPJP
5. Dokter jaga
6. Staf keperawatan

Langkah 2 : Menetapkan Masalah


1. Masalah : Pasien jatuh dari tempat tidur
2. Tujuan RCA : Mengurangi jumlah pasien jatuh dan mengurangi tingkat keparahan

Langkah 3 : Mempelajari Masalah


1. Mempelajari penanggung jawab pelayanan
2. Mempelajari pelayanan yang diterima oleh pasien
3. Mempelajari kondisi ruangan
4. Mempelajari obat-obat yang diberikan

Langkah 4 : Menetapkan Peristiwa yang Terjadi


1. Pasien tidak dilakukan assessment risiko jatuh
2. Pagar tempat tidur pasien tidak terpasang
3. Pasien tidak dimonitor 1 jam sebelumnya

Langkah 5 : Mengidentifikasi Faktor-faktor Pendukung


1. Pasien ditangani oleh perawat baru
2. Pasien diberikan sedatiff
3. Bel pasien tidak berada posisi yang bias diraih oleh pasien
Langkah 6 : Mengidentifikasi Faktor Lain yang Berperan
1. Beban kerja perawat yang tinggi
2. Tidak ada mekanisme supervise
Langkah 7 : Pengukuran dan Mengakses Data Penyebab
1. 20% perawat merupakan perawat baru
2. 65% pasien baru tidak dilakukan assessment risiko jatuh
3. Rata-rat perbandingan Pasien : Perawat = 5:1

Langkah 8 : Desain dan Menerapkan Perubahan Jangka Pendek


1. Membuat poster untuk mengingatkan pelaksanaan assessment risiko jatuh
2. Melakukan supervisi pemasangan pagar tempat tidur untuk pasien dengan risiko jatuh

Langkah 9 : Identifikasi Sistem Mana yang Terlibat


1. Masalah
- Kenapa pasien tidak dimonitor 1 jam sebelumnya ?
- Kenapa perawat baru yang ditugasi merawat pasien ini ?
- Kenapa pasien diberikan sedatif ?
- Kenapa bel pasien tidak berada posisi yang bias diraih pasien ?
2. Sistem :
- Monitoring
- Penugasan
- Komunikasi dokter
- 5R