Anda di halaman 1dari 5

PENGOLAHAN PERTAMA

D.W. Sandstrom, H.E Klei, Wastewater Treatment, Bab 7

Pengolahan pertama bertujuan untuk memisahkan padatan tersuspensi dengan cara


pengendapan secara gravitasi. Bak pengendap dapat disebut sebagai penjernih (clarifier)
atau pengental (thickner). Jika tujuan utama pengoperasiannya untuk menghasilkan
keluaran dengan konsentrasi padatan rendah, bak pengendap biasa disebut clarifier
(penjernih). Jika tujuan utamanya menghasilkan padatan tersuspensi yang pekat, bak
pengendap biasa disebut thickner (pengental). Penggunaan kedua istilah tersebut sering
dipertukarkan dalam menyatakan tangki pengendap untuk keluaran dari bioreaktor lumpur
aktif. Karena pada bak sedimentasi terjadi penjernihan dan pengendapan maka kedua fungsi
tersebut harus dipertimbangkan dalam perancangan.
Di instalasi pengolahan air, sedimentasi digunakan untuk memisahkan partikel yang
mudah mengendap atau pengotor yang mudah terflokulasi atau terkoagulasi dan
pengendapan pengotor pada operasi pelunakan air. Di instalasi pengolahan limbah cair,
sedimentasi diterapkan untuk berbagai padatan organik dan anorganik dalam umpan
maupun produk. Tangki pengendap pertama digunakan untuk memisahkan padatan dalam
aliran masuk instalasi pengolahan. Tangki pengendap kedua untuk menangani padatan yang
keluar dari bioreaktor.
Perancangan tangki pengendap kedua yang tepat sangat penting dalam instalasi
pengolahan limbah konventional. Unjuk kerja bioreaktor bergantung kepada konsentrasi
padatan lumpur aktif dalam reaktor. Kebanyakan padatan tersebut biasanya dihasilkan
dengan cara mendaur ulang aliran bawah tangki sedimentasi. Aliran daur ulang yang
memiliki konsentrasi padatan tinggi meningkatkan efisiensi reaktor.

Pengelompokkan Settling
Karakteristik pengendapan partikel tersuspensi bergantung kepada sifat alamiah partikel,
konsentrasi, dan kondisi dalam peralatan. Untuk kemudahan, perilaku settling
dikelompokkan menjadi empat. Pada klarifikasi kelompok I padatan tersuspensinya encer
dan tidak memiliki kecenderungan tarik menarik yang menghasilkan tumbukan. Setiap
partikel memiliki laju pengendapan tetap dan tidak bergantung kepada partikel lain. Ruang
pengendap untuk partikel kelompok ini adalah jenis clarifier. Kelompok II masih untuk
suspensi yang yang encer tetapi selama pengendapan sebagian partikel bersatu atau
mengalami flokulasi. Karena terbentuk partikel yang lebih besar dan memiliki kecepatan
pengendapan lebih tinggi, maka laju pengendapan berubah setiap saat. Limbah yang masuk
ke pengendap pertama seringkali menunjukkan sifat kelompok II.
Untuk kelompok III, partikel dengan konsentrasi lebih tinggi dapat bersatu dan suspensi
mengendap sebagai massa dengan lapisan antar muka antara lumpur dan cairan jernih yang
jelas. Gaya antar partikel cukup kuat untuk mempertahankan kekasaran partikel yang
memiliki posisi relatif yang sama. Karena partikel gabungan memiliki kecenderungan yang
rendah dalam bergerak melewati patikel lain, tampak batas yang jelas antara padatan
dengan ciran jernih. Pengendapan kedua biasanya termasuk kelompok ini. Dalam
praktiknya, faktor hidrodinamika dapat mengakibatkan partikel padat dalam aliran keluar
jernih ada yang lepas.
Untuk struktur flok yang dibentuk dari bawah bejana, setiap lapisan padatan memberikan
tingkat dukungan mekanis terhadap lapisan di atasnya. Ketika berat padatan tidak lagi
hanya didukung oleh hanya gaya hidrolik, padatan mengalami tegangan tekan pada flok
yang kompak. Ketika flok memberikan dukungan ini berarti berada pada derah kompresi
(kelompok IV). Konsentrasi padatan pada zona kompresi dihubungkan dengan kedalaman
lumpur dan waktu tinggal padatan dalam zona trsebut.

Pengendapan partikel diskrit


Ukuran, bentuk dan densitas partikel diskrit tidak berubah selama proses pengendapan.
Ketika ditempatkan dalam fluida diam, partikel diskrit mengalami percepatan sampai gaya
gesek fluida sama dengan gaya penggerak (driving force) yang disebabkan oleh gravitasi.
Setelah dicapai kesetimbangan, partikel mengendap pada kecepatan yang seragam yang
biasanya disebut kecepatan settling terminal.
Gaya penggerak merupakan resultan dari berat partikel ke arah bawah dengan gaya
apung ke atas.
= ( ) (1)
FG : gaya grafitasi
p : densitas partikel
: densitas fluida
VP: volume partikel

Dari analisa dimensi, gaya gesek fluida terhadap partikel adalah:


2
= (2)
2
FD : gaya gesek
CD : koefisien gesekan, tidak berdimensi
Ap : luas penampang (proyeksi)
Vs : kecepatan pengendapan partikel

Pada keadaan setimbang, persamaan (1) sama dengan (2) dan menghasilkan kecepatan
pengendapan:
2( )
= (3)

Koefisien gesekan merupakan fungsi dari bilangan Reynold (NRe) dan bentuk partikel seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 1. Untuk NRe < 1, CD = 24/NRe. Untuk NRe antara 1 sampai
104, CD untuk partikel berbentuk bola didekati dengan persamaan:
24 3
= + + 0,34 (4)

3 2
Jika partikel berbentuk bola, maka = dan = maka:
6 4
4 ( )
= 3 (5)

Untuk NRe < 1 dengan CD = 24/NRe, kecepatan pengendapan menjadi:



= 18 2 (6)

Bak pengendap ideal


Bak pengendap ideal didefinisikan sebagai tangki tempat terjadi pengendapan dalam
wadah yang tenang . Secara skematik diperlihatkan pada Gambar 2. Bak tersebut dibagi
menjadi 4 zona berdasarkan fungsinya. Daerah pemasukan adalah wilayah tempat
masuknya suspensi yang terdistribusi seragam terhadap luas penampang. Dengan demikian
konsentrasi padatan tersuspensi setiap ukuran adalah sama pada seluruh titik dalam
penampang vertikal pada ujung titik masuk.

Gambar 2. Gambar skematik bak pengendap persegi panjang

Pada daerah pengendapan, partikel mengendap dengan laju yang sama seperti pada
fluida yang diam. Fluida mengalir dengan arah horisontal dengan kecepatan konstan pada
seluruh titik di wilayah pengedapan. Pada daerah keluaran, cairan jernih terkumpul meliputi
seluruh permukaan bak. Padatan terkumpul sebagai lumpur di bagian bawah. Semua
partikel yang mencapai daerah lumpur telah berpindah dari suspensi secara permanen.
Perhatikan suspensi partikel diskrit yang mengendap dalam bak ideal. Jalur yang diikuti
oleh partikel berupa garis lurus ditandai dengan resulatan vektor dari dua komponen
kecepatan seperti pada Gambar 3. Komponen horisontal adalah kecepatan fluida mengalir
diberi notasi u. Kecepatan partikel mengendap vo mulai dari paling atas daerah masukan
yang akan mencapai dasar daerah keluaran. Jika partikel mulai mengendap pada titik yang
lebih rendah di daerah masukan, akan mencapai dasar bak sebelum mencapai daerah
keluaran. Dengan demikian, semua partikel yang mengendap dengan kecepatan yang sama
atau lebih besar dari vo dapat dipisahkan dari suspensi.

h vs

Gambar 3. Jalur pengendapan partikel diskrit dalam bak pengendap persegi panjang

Partikel yang memiliki kecepatan pengendapan < vo hanya akan terpisah sebagaian. Pada
Gambar 3 diperlihatkan jika partikel yang memiliki kecepatan mengendap vs akan mencapai
dasar jika mulai mengendap pada ketinggian h. Partikel yang asalnya pada ketinggian h atau
lebih rendah akan mendasar sedangkan yang asalnya lebih tinggi dari h tidak akan mencapai
dasar.
Fraksi partikel denga kecepatan vs yang terpisahkan:

= (7)

Kedalaman merupakan hasil kali kecepatan pengendapan dengan waktu tinggal:


H = vo to dan h = v s to

maka = = (8)


= (9)

Kecepatan vo dapat dihubungkan laju alir dan luas penampang:



= (10)

Q : laju alir volumetrik total


A : luas penampang

Maka fraksi partikel berkecepatan mengendap vs yang terpisahkan dalam bak pengendap
adalah:


= = / (11)

Contoh 1:
Suspensi partikel tanpa flokulasi dibiarkan mengendap dalam suatu kolom pada kondisi
tenang. Sampel diambil pada ketinggian 1,5 m dari permukaan cairan pada interval waktu
dan fraksi berat partikel tersisa. Perkirakan partikel yang akan terpisahkan dalam bak
pengendap persegi panjang dengan laju alir keseluruhan 1,36 L/s.m2.
Waktu pengedapan (menit) 5 10 15 20 30 60
Fraksi berat tersisa 0,96 0,81 0,62 0,46 0,23 0,06
Vs(m/s) 0,005 0,0025 0,00167 0,00125 0,00083 0,00042
1

0.9

0.8

0.7

0.6 0,49
0.5
Fx

0.4

0.3

0.2

0.1

0
0 0.0005 0.001 0.0015 0.002 0.0025 0.003 0.0035 0.004 0.0045 0.005
vs (m/s)

Penyelesaian:
Kecepatan pengendapan partikel pada kedalaman 1,5 m untuk interval waktu yang
diberikan. Misalnya untuk waktu pengendapan 15 menit:
1,5
= = 1,67 103 /
15 60

Semua partikel yang memiliki kecepatan pengendapan > 1,36 x 10 -3 m/s akan mengendap,
dengan fraksi:
Fx,1 = 1 0,49 = 0,51
Partikel dengan kecepatan setling 1,36 x 10-3 m/s tidak mengendap seluruhnya. Fraksi
yang mengendap:

1 0,49
,2 = 0 = 0,3 diselesaikan menggunakan metoda Simpson.

Total fraksi yang mengendap = 0,51 + 0,3 = 0,81