Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Tanggung Jawab Auditor

Profesi akuntan publik (auditor independen) memiliki tanggung jawab yang sangat
besar dalam mengemban kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat (publik).
Secara garis besar terdapat 3 (tiga) tanggung jawab akuntan public dalam melaksanakan
pekerjaannya, yaitu:

a.Tanggung jawab moral (moral responsibility)


Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab moral untuk :
1. Memberi informasi secara lengkap dan jujur mengenai perusahaan yang diaudit
kepada pihak yang berwenang atas informasi tersebut.
2. Mengambil keputusan yang bijaksana dan obyektif (objective) dengan kemahiran
professional (due professional care).
b. Tanggung jawab professional (professional responsibility)

Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab professional terhadap asosiasi


profesinya yang mewadahinya (professional conduct).

c. Tanggung jawab hukum (legal responsibility)

Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab diluar batas standar profesinya yaitu
tanggung jawab terkait dengan hukum yang berlaku. Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP) yang diterbitkan oleh IAI dalam Standar Auditing Seksi 110, mengatur tentang
Tanggung Jawab dan Fungsi Auditor Independen. Pada paragraph 2, standar tersebut
antara lain dinyatakan bahwa auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan yang memadai tentang apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan
atau kecurangan. Oleh karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor
dapat memperoleh keyakinan memadai, namun bukan mutlak, bahwa salah saji material
terdeteksi. Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan
audit guna memperoleh keyakinan bahwa salah saji terdeteksi, baik yang disebabkan
oleh kekeliruan atau kecurangan, yang tidak material terhadap laporan keuangan.

Boynton, Johnson dan Kell (2002) menyatakan bahwa terdapat beberapa tanggung
jawab auditor selama melakukan pekerjaannya, antara lain:

a. Tanggung jawab untuk mendeteksi kecurangan

Tanggung jawab auditor untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahan


kesalahan yang tidak disengaja, diwujudkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit
untuk mendapatkan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas
dari salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan. Dalam
merencanakan audit, auditor harus menilai risiko terjadinya kecurangan. Secara spesifik
SAS No. 82 memberikan pedoman bagaimana auditor menanggapi hasil penilaian risiko
dengan cara memikirkan urutan langkah langkah audit, dan cara mengevaluasi hasil uji
audit yang dikaitkan dengan risiko salah saji akibat kecurangan.

b. Tanggung jawab untuk melaporkan kecurangan

Dalam hal ini, auditor juga bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan temuan


kecurangan. Laporan atas penemuan ini dapat dilaporkan auditor kepada pihak
manajemen, komite audit ataupun dewan direksi.

c. Tanggung jawab untuk mendeteksi tindakan melanggar hukum yang dilakukan klien

Auditor bertanggung jawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar
hukum yang memiliki pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan
keuangan. Untuk itu auditor harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya
tindakan melanggar hukum serta mengimplementasikan rencana tersebut dengan
kemahiran yang cermat dan seksama.

d. Tanggung jawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum

Tanggung jawab utama auditor adalah menyatakan pendapat atas kewajaran penyajian
suatu laporan keuangan. Apabila suatu tindakan melanggar hukum berpengaruh material
terhadap laporan keuangan, auditor harus mendesak manajemen untuk melakukan revisi
atas laporan keuangan tersebut. Apabila revisi atas laporan keuangan tersebut ternyata
kurang tepat, auditor bertanggung jawab untuk menginformasikannya kepada para
pengguna laporan keuangan melalui suatu pendapat wajar dengan pengecualian (qualified
opinion) atau pendapat tidak wajar (adverse opinion) bahwa laporan keuangan disajikan
tidak sesuai GAAP. Apabila auditor tidak mampu mendapatkan bukti yang cukup tentang
adanya tindakan melanggar hukum, ia harus mengkomunikasikan informasi tersebut melalui
pendapat wajar dengan pengecualian atau menolak memberikan pendapat (disclaimer).