Anda di halaman 1dari 15

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti yang telah kita ketahui bahwa geofisika adalah suatu ilmu yang
mempelajari bumi dengan menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika.
Di dalam mempelajari bumi tersebut, penelitian dari ilmu geofisika ini
dilakukan dengan mengamati kondisi di bawah permukaan bumi dengan
melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi berdasarkan parameter-
parameter fisika yang dimiliki oleh batuan didalam bumi, parameter yang
dapat digunakan yaitu salah satunya adalah sifat kelistrikan dari bumi. Dalam
mempelajari bumi menggunakan sifat kelistrikanya dapat menggunakan salah
satu metode geofisika yaitu metode geolistrik. Dalam pengukuran
mengunakan metode geolistrik, terdapat beberapa teknik pengukuran ynag
dapat digunakan yaitu salah satunya adalah sounding, dan dalam
pengukurannya konfigurasi yang dapat digunakan salah satunya yaitu adalah
konfigurasi schlumberger. Teknik pengukuran sounding merupakan teknik
pengukuran yang dilakukan untuk mendapatkan variasi resistivitas secara
vertikal, dan konfigurasi yang paling cocok untuk teknik pengukuran secara
sounding yaitu konfigurasi Schlumberger. Teknik pengukuran sounding ini
berguna untuk menentukan letak dan posisi kedalaman benda anomali yang
berada di permukaan tanah, contohnya mencari akuifer air tanah maupun
kedalam sesar/patahan. Sebagai seorang geofisikawan, sangatlah diperlukan
pengetahuan yag lebih tentang teknik pengukuran sounding dan konfigurasi
schlumberger karena sangat berguna dalam pengetahuan saat melakukan
survey ke lapangan. Untuk lebih memahami mengenai teknik pengukuran
sounding dan konfigurasi schlumberger, maka dilakukanlah praktikum ini.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penelitian yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Mampu memahami konfigurasi Schlumberger.
2. Dapat memahami keunggulan dan kelemahan dari konfigurasi
Schlumberger.
3. Dapat melakukan pengukuran dan pengambilan data (akuisisi data) dengan
konfigurasi elektroda Schlumberger.
4. Dapat menghitung nilai resistivity dan dapat menggambarkan kurva
matching sederhana pada kertas millimeter block.
5. Dapat menganalisa data hasil pengukuran di lapangan (sudah sesuai atau
belum dengan apa yang diharapkan).
2

II. TEORI DASAR

Metode geolistrik resistivity dikembangkan pada awal tahun 1900-an tetapi yang
lebih luasnya digunakan sejak 1970-an, dikarenakan ketersediaan komputer untuk
memprosesdan menganalisis data. Teknik ini digunakan secara luas dalam
pencarian sumber air tanah yang cocok dan juga memonitor tipe polutan air tanah;
dalam survei keteknikan untuk menemukan rongga bawah permukaan, patahan
dan celah, permaforst, mineshafts, dll.; dan dalam arkeologi untuk memetakan
luasan area dari sisa pondasi yang terkubur dari bangunan bersejarah, dan masih
banyak aplikasi yang lainnya. Metode geolistrik resistivity juga digunakan secara
luas dalam downhole logging. Resistivitas listrik adalah sifat fisika fundamental
dan diagnostik yang dapat ditentukan dengan teknik yang luas dan bervariasi,
termasuk induksi elektromagnetik (Reynold,1997).

Prinsip kerja pendugaan geolistrik adalah mengukur tahanan jenis (resistivity)


dengan mengalirkan arus listrik kedalam batuan atau tanah melalui elektroda arus
(current electrode), kemudian arus diterima oleh elektroda potensial. Beda
potensial antara dua elektroda tersebut diukur dengan volt meter dan dari harga
pengukuran tersebut dapat dihitung tahanan jenis semua batuan. Metode
resistivitas dengan konfigurasi Schlumberger dilakukan dengan cara
mengkondisikan spasi antar elektrode potensial adalah tetap sedangkan spasi antar
elektrode arus berubah secara bertahap. Pengukuran resistivitas pada arah vertikal
atau Vertical Electrical Sounding (VES) merupakan salah satu metode geolistrik
resistivitas untuk menentukan perubahan resistivitas tanah terhadap kedalaman
yang bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas batuan di bawah permukaan
bumi secara vertikal. Metode ini dilakukan dengan cara memindahkan elektroda
dengan jarak tertentu maka akan diperoleh harga-harga tahanan jenis pada
kedalaman yang sesuai dengan jarak elektroda, dengan memindahkan elektroda
dengan jarak tertentu maka akan diperoleh harga-harga tahanan jenis pada
kedalaman yang sesuai dengan jarak elektroda. Pengukuran resitivitas suatu titik
sounding dilakukan dengan jalan mengubah jarak elektrode secara sembarang
tetapi mulai dari jarak elektrode kecil kemudian membesar secara gradual. (Halik,
2008).

Metode tahanan jenis pada prinsipnya bekerja dengan menginjeksikan arus listrik
ke dalam bumi melalui dua elektroda arus sehingga menimbulkan beda potensial.
Dan beda potensial yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Hasil
pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda
dapat digunakan untuk menurunkan variasi harga tahanan jenis lapisan dibawah
3

titik ukur (sounding point). Metode ini lebih efektif dan cocok di gunakan untuk
eksplorasi yng sifatnya dangkal, jarang memberikan informasi lapisan di
kedalaman lebih dari 1000 kaki atau 1500 kaki. Oleh karena itu metode ini jarang
digunakan untuk eksplorasi minyak tetapi lebih banyak di gunakan dalam bidang
engineering geology seperti penentuan kedalaman basement (batuan dasar),
pencarian reservoir (tandon) air, dan eksplorasi geothermal (panas bumi).
Berdasarkan letak (konfigurasi) elektroda-elektroda arus dan potensialnya, dikenal
beberapa jenis metode geolistrik tahanan jenis, antara lain metode Schlumberger,
metode Wenner dan metode Dipole Sounding. Pada metode tahanan jenis
konfigurasi Schlumberger, bumi diasumsikan sebagai bola padat yang mempunyai
sifat homogen isotropis. Dengan asumsi ini, maka seharusnya resistivits yang
terukur merupakan resistivitas sebenarnya dan tidak bergantung atas spasi
elektroda, = KV / I . Namun pada kenyataannya bumi terdiri atas lapisan-
lapisan dengan yang berbeda-beda sehingga potensial yang terukur merupakan
pengaruh dari lapisan-lapisan tersebut (Wuryantoro, 2007).

Pada konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya,


sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan
kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak MN
hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar dari 1/5
jarak AB. Kelebihan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah kemampuan untuk
mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan, yaitu
dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan jarak
elektroda MN/2. Agar pembacaan tegangan pada elektroda MN bisa dipercaya,
maka ketika jarak AB relatif besar hendaknya jarak elektroda MN juga diperbesar
(Bisri, 1991).

Kombinasi dari jarak AB/2, jarak MN/2, besarnya arus listrik yang dialirkan serta
tegangan listrik yang terjadi akan didapat suatu harga tahanan jenis semu
(Apparent Resistivity). Disebut tahanan jenis semu karena tahanan jenis yang
terhitung tersebut merupakan gabungan dari banyak lapisan batuan di bawah
permukaan yang dilalui arus listrik. Bilasatu set hasil pengukuran tahanan jenis
semu dari jarak AB terpendek sampai yang terpanjang tersebut digambarkan pada
grafik logaritma ganda dengan jarak AB/2 sebagai sumbu-X dan tahanan jenis
semu sebagai sumbu Y, maka akan didapat suatu bentuk kurva data geolistrik.
Dari kurva data tersebut bisa dihitung dan diduga sifat lapisan batuan di bawah
permukaan. dan kurva bantu sebagai acuan untuk mencari resisitivitas dan
kedalaman daerah penelitian (Telford, 1990).
4

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
sebagai berikut.

Gambar 3.1.1 Laptop

Gambar 3.1.2 Peralatan Geolistrik

Gambar 3.1.3 Microsoft Excel


5

3.2 Diagram Alir

Mulai

Persiapan akuisisi
lapangan

Melakukan akuisisi lapangan

Data hasil survei

Pengolahan dan interpretasi


data hasil survei

Kurva hasil survei

Selesai
Gambar 3.2.1 Diagram Alir Penelitian
6

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan


Adapun data pengamatan pada praktikum ini terdapat pada lampiran.

4.2 Pembahasan
Praktikum kali ini yaitu adalah praktikum mengenai pengukuran sounding
dan konfigurasi schlumberger. Pengukuran sounding itu sendiri merupakan
teknik pengukuran yang dilakukan untuk memperoleh variasi resistivitas
secara vertikal. Untuk pengukuran secara sounding, konfigurasi yang paling
cocok yaitu adalah konfigurasi schlumberger karena konfigurasi sclumberger
ini merupakan konfigurasi yag sensitif ke arah vertikal. Pengukuran pada
konfigurasi schlumberger ini hampir sama dengan Wenner, namun jarak
elektroda arus dapat diubah tidak sama dengan jarak elektroda potensial. Nilai
eksentrisitas dari konfigurasi ini dapat berkisar antara 1/3 atau 1/5. Apabila
elektroda arus yang dipindah sudah melewati batas eksentrisitas, perlu
dilakukan shifting pada elektroda potensial agar nilai yang didapatkan masih
bisa terbaca.

Praktikum pengukuran sounding konfigurasi schlumberger ini diawali dengan


pengambilan data (akuisisi data) yang dilakukan pada hari Minggu, 21 Mei
2017 bertempat di Belakang Gedung L Teknik Geofisika Universitas
Lampung. Akuisisi data dilakukan dengan menggunakan alat Naniura
Resistivitymeter. Pengambilan data dilakukan dengan membuat lintasan
(AB/2) sepanjang 125m ke kanan dan 125m ke kiri dengan jarak antar
elekroda nya (nilai a) yaitu 0,5m, 5m dan 10m. Elektroda yang digunakan
pada praktikum ini yaitu elektroda arus dan elektroda potensial yang nantinya
akan dihubungkan dengan kabel-kabel untuk menghubungkan data ke alat
ukur. Sebelum dilakukannya pengambilan data, alat Naniura Resistivitymeter
tersebut harus kita kalibrasi terlebih dahulu. Yaitu dengan cara
memasang/mematok elektroda sesuai dengan jarak antar elektrodanya.
Setelah elektroda telah berhasil tertancap dan kabel potensial maupun arus
telah terhubung, maka kita dapat memeriksa arah jarum pada Current Loop
hingga menunjukkan area berwarna merah. Apabila jarum telah menunjuk ke
area berwarna merah, maka alat tersebut telah terkalibrasi dan elektroda telah
tertancap dengan benar di bawah tanah dengan aliran listrik yang telah
mengalir maka alat sudah dapat mulai digunakan. Namun, apabila Current
Loop belum mengarah ke warna merah maka kita harus mengulangi
7

pematokan agar benar-benar tertancap sehingga arus nya dapat terdeteksi.


Setelah dikiranya elektroda telah tertancap dengan benar, maka selanjutnya
kita laukan pengukuran nilai arus dan potensial dengan memutar tombol
on/off, lalu mengatur nilai kedudukan potensial (v) agar tepat di angka 0,00.
Untuk mengatur nya dapat digunakan tombol Coarse dan tombol fine
tombol coarse digunakan yaitu apabila nilai potensial masih diatas 1, namun
apabila potensial sudah mendekati nilai 1,00 maka dapat digunakan tombol
fine. penggunaan kedua tombol ini yaitu dengan cara memutarnya ke kanan
atau ke kiri setelah potensial tepat di angka 0,00 maka langsung menekan
tombol start dan operator membaca nilai arus (I) nya, apabila nilai I telah
stabil dan nilai potensial menunjukkan angka 0 maka alat telah terkalibrasi
dengan baik. Pengukuran yang sebenarnya juga dilakukan dengan proses
seperti ini, yaitu dengan membuat nilai potesial, menunjukkan angka 0 dan
nilai arus menunjukkan angka yang stabil.

Selanjutnya yaitu dilakukan pengambilan data (akuisisi data) pertama diawali


dengan jarak antar elektoda nya bernilai 0,5m dengan dilakukan pengambilan
data sebanyak 8 kali pada jarak AB/2 dari 1,5m sampai dengan 15m. pada
saat nilai AB/2 1,5m dilakukan pengambilan data sebanyak 1 kali yang
nantinya akan dihasilkan nilai dari arus serta potensial terukur. Kemudian
untuk nilai AB/2 sebesar 2,5m 15m, dilakukan pengambilan data sebanyak
3 kali untuk tiap nilai AB/2 nya yang nantinya akan menghasilkan arus serta
potensial terukur pula. Selanjutnya pengukuran diubah ke jarak elektroda (a)
bernilai 5m, pada jarak elektroda sebesar 5m dilakukan pula pengukuran
sebanyak 8 kali dengan nilai AB/2 sebesar 15m sampai dengan 75m. Pada
jarak elektroda yang bernilai 5m ini untuk tiap AB/2 nya dilakukan
penngambilan data sebanyak 3 kali yang nantinya akan menghasilkan nilai
arus serta potensial terukur. Selanjutnya yaitu pengukuran pada jarak antar
elektroda (a) sebesar 10m, pada jarak antar elektroda bernilai 10m dilakukan
pengukuran sebanyak 3 kali dengan nilai AB/2 sebesar 75m sampai dengan
125m. pada jarak anatarv elektroda yang bernilai 10m ini untuk tiap nilai
AB/2 nya dilakukan pengambilan data sebanyak 3 kali pula yang nantinya
juga menghasilkan nilai arus dan potensial terukur.

Setelah proses pengambilan data (akuisisi data) telah selesai sehingga


menghasilkan nilai kuat arus serta potensial dari data pengukuran, maka data
yang telah kita hasilkan kita masukkan ke software Microsoft Excel untuk
mendapatkan niali niai-nilai selanjutnya yang diperlukan. Yang pertama yaitu
kita mencari nilai dari k, k itu sendiri merupakan faktor geometri, nilai dari
faktor geometri dapat kita cari menggunakan rumus sebagai berikut :

3,14 ( + 1)
8

Selain nilai dari faktor geometri, dari nilai-nilai arus serta potensial yang
dihasilkan maka nantinya dapat kita cari nilai dari resistivitas semu yang
terukur dengan menggunakan rumus :

=

Selanjutnya yaitu setelah kita mendapatkan nilai dari resistivtas semu yang
terukur, nilai-nilai resistivitas tersebut kita rata-ratakan. Untuk merata-ratakan
nilai dari resistivitas tersebut, kita lihat terlebih dahulu nilai dari masing-
masing resistivitas. Jika antar resistivitas memiliki perbedaan yang sangat
jauh, maka nilai resistivitas yang jauh tersebut tidak kita pakai, contohnya
yaitu pada nilai resistivitas pada pengukuran AB/2 sebesar 6m dan jarak antar
elektroda nya yaitu 0,5m. nilai dari resistivitas yang dihasilkan yaitu
1055,315, lalu 516,373, lalu 496,5125. Dapat kita lihat bahwa resistivitas
pertama memilki nilai yang sangat jauh berbeda dengan nilai resistivitas
kedua dan ketiga, maka untuk mendapatkan harga resistivitas rata-rata nya
dapat kita cari dengan menggunaka nilai resistivitas kedua dan ketiga.
Contohnya yaitu :
516,373 + 496,5125
=
2

Maka akan dihasillkan nilai rata-rata dari resistivitas semu nya, nilai dar
resistivitas yang lain juga dapat kita cari dengan merata-ratakan seperti
contoh diatas sehingga dihasilkan rata-rata dari semua resistivitas semu.
Setelah nilai dari rata-rata resistivitas semu telah dihasilkan, maka selanjutnya
kita mencari nilai dari fault (gap) dari harga resistivitas semu rata-rata yaitu
dengan cara mengurangkan nilai resistivitas rata-rata pada nilai AB/2 yang
sama. Gap ini dihasikan karena adanya perubahan jarak elektroda pada saat
pengukuran, misal yang semula memakai jarak elektroda sebesar 0,5m
berubah menjadi 5m. Pada gap pertama yaitu dicari dengan mengurangkan
resistivitas rata-rata yang berada pada AB/2 15m, dan pada nilai gap kedua,
dapat dicari dengan mengurangkan harga resistivitas semu rata-rata pada
AB/2 bernilai 75m. setelah nilai dari fault (gap) dari resistivitas semu telah
didapatkan, maka selanjutnya kita mencari nilai dari koreksi resistivitas semu
yang memiliki gap. Setelah nilai dari koreksi resistivitas telah berhasil dicari,
maka selanjutnya yaitu membuat grafik hubungan antara AB/2 dengan
resistivitas semu. Grafik pertama yang kita buat yaitu adalah grafik antara
AB/2 dan resistivitas semu dengan skala logaritmik yang belum terkoreksi
(dapat dilihat pada lampiran), lalu grafik selanjutnya yaitu grafik antara AB/2
dan resistivitas semu yang telah terkoreksi dengan menggunakan skala
logaritmik (dapat dilihat pada lampiran), lalu grafik gabungan antara AB/2
dan resistivitas yang menggunakan skala logaritmik (dapat dilihat pada
9

lampiran), dan selanjutnya grafik gabungan sebelum dan sesudah dikoreksi


antara AB/2 dan resistivitas dengan menggunakan skala biasa. Setelah grafik
antara AB/2 dan resistivitas semu yang belum terkoreksi dan telah terkoreksi
sudah di dapat, maka praktikum telah selesai.

Keunggulan dan kelemahahan konfigurasi schlumberger yaitu antara lain


adalah :
Keunggulan :
a. praktis, hanya elektroda arus yg perlu dipindahkan untuk memperbesar
spasi elektroda (a = AB/2)
b. tidak terganggu oleh heterogenitas dekat-permukaan, karena spasi
elektroda potensial yg kecil (b = MN/2)
c. kemampuan untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan
pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu
ketika terjadi perubahan jarak elektroda MN/2.

Kelemahan nya yaitu :


Pembacaan tegangan pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika
jarak AB yang relatif jauh, sehingga diperlukan alat ukur multimeter yang
mempunyai karakteristik high impedance dengan akurasi tinggi yaitu yang
bisa mendisplay tegangan minimal 4 digit atau 2 digit di belakang koma. Atau
dengan cara lain diperlukan peralatan pengirim arus yang mempunyai
tegangan listrik DC yang sangat tinggi.

Aplikasi dari konfigurasi schlumberger ini digunakan untuk mengetahui


karakteristik batuan dii bawah permukaan hingga kedalaman sekitar 300m.
Konfigurasi ini sangat berguna untuk kita dapat mengetahui adanya potensi
lapisa akuifer tanah (lapisan batuan yang merupakan lapisan pembawa air).
Selain untuk mendeteksi adanya lapisan akuifer, konfigurasi schlumberger ini
juga dapat digunakan atau diaplikasikan untuk mendeteksi adanya lapisan
tambang, dapat pula digunakan untuk megetahui perkiraan kedalaman dari
bedrock (pondasi bangunan) dan dapat pula digunakan untuk pendugaan
adanya potensi geothermal (panas bumi) disuatu tempat.
10

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut.
1. Konfigurasi sclhumberger merupakan konfigurasi pada metode geolistrik
yang memiliki sensitifitas untuk pengukuran secara vertikal atau pengukuran
secara sounding dengan jarak AM dan NB tetap sedangkan jarak MN berubah.
2. Kelemahan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah pembacaan tegangan
pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB yang relatif
jauh, Sedangkan keunggulan konfigurasi Schlumberger ini adalah kemampuan
untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan,
yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas.
3. Dalam melakukan akuisisi data lapangan menggunakan konfigurasi
sclhumberger dapat dilakukan dengan menggunakan alat geolistrik yaitu
Naniura Resistivitymeter yang memiliki elektroda arus serta potensial yang
tersusun sesuai dengan konfigurasi sclhumberger. Kemudian dilakukan
pengkalibrasian nilai yang akan digunakan. Setelah itu menginjeksi arus dan
mencatat hasil yang diperoleh.
4. Data yang diperoleh dari lapangan dibuat grafik menggunakan microsoft excel
untuk mendapatkan grafik hubungan resisitivitas dan AB/2. Selanjutnya
mengkoreksi data yang terjadi gap pada grafik. Setelah selesai, maka didapat
grafik hubungan nilai resisitivitas dan nilai AB/2 hasil dari akuisisi lapangan.
11

DAFTAR PUSTAKA

Bisri. 1991. Aliran Air Tanah. Universitas Brawijaya : Malang.

Halik; Gusfan dan Widodo S, Jojok, 2008, Pendugaan Potensi Air Tanah Dengan
Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger Di Kampus Tegal Boto
Universitas Jember, Media Teknik Sipil.

Telford, 1990. Applied Geophysics. Second Edition. Cambridge University Press.

Reynold, J. M. 1997. An Introduction to Applied and Enviromental Geophysics.


UK: John Wiley & Sons, Ltd.

Wuryantoro, 2007, Aplikasi Metode Geolistrik Tahanan Jenis Untuk Menentukan


Letak Dan Kedalaman Aquifer Air Tanah (Studi Kasus di Desa Temperak
Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang Jawa Tengah), Universitas Negeri
Semarang : Semarang.
12

LAMPIRAN
13

TUGAS PRAKTIKUM PENGUKURAN SOUNDING


KONFIGURASI SCHLUMBERGER

Grafik Sebelum Dikoreksi (Skala Log)

Chart of AB/2 Vs. Resistivity ()


10000
Resistivity ()

1000

100

10

1
1.0 10.0 100.0 1000.0

AB/2

Grafik Setelah Dikoreksi (Skala Log)

Chart of AB/2 Vs. Resistivity ()


10000
Resistivity ()

1000

100

10

1
1.0 10.0 100.0 1000.0

AB/2
14

Grafik Gabungan Sebelum dan Setelah Koreksi (Skala Log)

Chart of AB/2 Vs. Resistivity ()


10000

1000
Resistivity ()

100

10

1
1.0 10.0 100.0 1000.0

AB/2
Before Corrected After Corrected Gap of Changing a

Grafik Gabungan Sebelum dan Setelah Koreksi (Skala Normal)

Chart of AB/2 Vs. Resistivity ()


1800
1600
1400
Resistivity ()

1200
1000
800
600
400
200
0
0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0 140.0

AB/2
Before Corrected After Corrected Gap of Changing a
15

TABEL DATA PENGAMATAN


Resistivitas Gap Perubahan Resistivitas setelah
AB/2
(rho) a Dikoreksi
1,5 35,32827083 - 35,32827083
2,5 101,6637672 - 101,6637672
4,0 295,5843511 - 295,5843511
6,0 506,44275 - 506,44275
8,0 858,5853989 - 858,5853989
10,0 744,4993969 - 744,4993969
12,0 1706,951465 - 1706,951465
15,0 547,5043126 - 547,5043126
15,0 82,83907358 464,665239 82,83907358
20,0 42,85982752 - 42,85982752
25,0 24,9335625 - 24,9335625
30,0 24,2301881 - 24,2301881
40,0 56,94633621 - 56,94633621
50,0 47,885 - 47,885
60,0 67,70625 - 67,70625
75,0 144,3507955 - 144,3507955
75,0 128,7524111 15,59838439 128,7524111
100,0 75,17648159 - 75,17648159
125,0 159,297561 - 159,297561