Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, besaran masalah gizi pada balita
di Indonesia yaitu 19,6 % gizi kurang diantaranya 5,7 % gizi buruk; gizi lebih 11,9 %,
Stanting ( Pendek ) 37,2 %. Data masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
berdasarkan hasil survey nasional tahun 2003 sebesar 11,1 % dan menurut hasil Riskesdes
2013, Anemia pada ibu hamil sebesar 37,1 %
Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan tujuan
perbaikan gizi adalah untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat. Mutu
gizi akan tercapai antara lain melalui penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
profesional di semua institusi pelayanan kesehatan. Salah satu pelayanan kesehatan yang
penting adalah pelayanan gizi di Puskesmas baik puskesmas rawat inap maupun
puskesmas non rawat inap. Puskesmas harus membina Upaya Kesehatan yang Berbasis
Masyarakat
Puskesmas merupakan penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan tingkat
pertama. Pelayanan gizi di Puskesmas terdiri dari kegiatan pelayanan gizi didalam gedung
dan diluar gedung. Pelayanan gizi di dalam gedung umumnya bersifat individual, dapat
berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan pelayanan gizi
diluar gedung umumnya pelayanan gizi pada kelompok dan masyarakat dalam bentuk
promotif dan preventif.
Dalam pelaksanaanya pelayanan gizi di Puskesmas Dimong berperan strategis
mendukung peningkatan pencapaian target lintas program dan diharapkan berdampak pada
peningkatan kinerja puskesmas. Kegiatan pelayanan gizi dilakukan sesuai visi puskesmas
yaitu terwujudnya masyarakat wilayah puskesmas dimong yang sehat dan mandiri
tahun 2020 serta misi yaitu meningkatkan derajat kesehatan keluarga melalui
peningkatan pelayanan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat sadar kesehatan,
mendorong kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan untuk berperilaku
hidup bersih ,sehat dan produktif ,serta mewujudkan sarana kesehatan dan tenaga
kesehatan yang berkualitas, meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyebaran
penyakit serta peningkatan kualitas penyehatan lingkungan, meningkatan akses
pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata, dan meningkatkan profesionalitas
aparatur puskesmas dimong dalam rangka optimalisasi manajemen pelayanan
kesehatan. Juga dilakukan dengan membudayakan SIGAP yaitu Senyum menyapa

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 1


dengan ramah dan santun kepada masyarakat dan rekan kerja, Inovatif memiliki
kemampuan untuk bekerja mandiri dengan ideide kreatif serta memberi terobosan
bagi peningkatan pelayanan kesehatan, Gesit cekatan dan tangkas dalam melayani
masyarakat, Akuntabel memberikan pelayanan kesehatan sesuai pedoman standar
pelayanan yang ditetapkan,dapat diukur dan dipertanggung jawabkan, Profesional
keyakinan terhadap tatanan dalam memberikan pelayanan yang ber berlandaskan pada
kaidah ilmiah, profesi dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Tersedianya acuan dalam melaksanakan pelayanan gizi di Puskesmas dan jejaringnya.
2. Tujuan Khusus:
a. Tersedianya acuan tentang jenis pelayanan gizi, peran dan fungsi ketenagaan, sarana
dan prasarana di Puskesmas.
b. Tersedianya acuan untuk melaksanakan pelayanan gizi yang bermutu di Puskesmas.
c. Tersedianya acuan bagi tenaga gizi puskesmas untuk bekerja secara profesional
memberikan pelayanan gizi yang bermutu kepada pasien/ klien di Puskesmas.
d. Tersedianya acuan monitoring dan evaluasi pelayanan gizi di puskesmas.

C. Sasaran Pedoman
1. Tenaga gizi Puskesmas dan tenaga kesehatan lainnya di Puskesmas
2. Pengelola program kesehatan dan lintas sektor terkait
3. Pengambil kebijakan tingkat Kabupaten

D. Ruang Lingkup
1. Kebijakan Pelayanan gizi di Puskesmas
2. Pelayanan Gizi di dalam gedung
3. Pelayanan gizi di luar gedung
4. Pencatatan dan pelaporan
5. Monitoring dan Evaluasi
E. Batasan Operasional
Batasan Operasional merupakan batasan istilah, sesuai dengan
kerangka pelayanan gizi di Puskesmas yang tertuang didalam pedoman
pelayanan gizi.
a. Evaluasi Program Gizi :Serangkaian kegiatan oleh Pelaksana gizi
dalam melakukan evaluasi program gizi bulanan dan tahunan
b. Konseling gizi dan laktasi adalah proses komunikasi 2 (dua) arah
antara konselor dan klien untuk membantu klien mengenali dan
mengatasi masalah serta mengambil keputusan yang benar dalam
mengatasi masalah gizi yang dihadapinya

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 2


c. Monitoring garam beryodium adalah alat atau proses kegiatan
pemantauan garam beryodium dengan sasaran siswa SD kelas 3,4,5.
d. Pelacakan balita gizi buruk yaitu kegiatan yang dilakukan untuk
memastikan bahwa seorang balita berada pada status gizi sangat
kurus atau BB/TB <-3 SD. Pelacakan balita gizi buruk diawali
dengan adanya laporan kader/ masyarakat tentang adanya balita
yang sangat kurus/ di bawah garis merah. Pelacakan balita gizi
buruk bisa dilakukan oleh petugas gizi bersama dengan bidan
wilayah atau kader posyandu
e. Pemantauan Status Gizi Balita adalah salah satu metode yang dapat
digunakan untuk menilai gambaran status gizi balita di suatu
wilayah tertentu
f. Pemberian vitamin A adalah memberikan kapsul vitamin A kepada
Bayi dan Balita pada Bulan Pebruari dan Agustus disetiap tahunnya
dalam rangka mengatasi salah satu masalah gizi Kurang Vitamin A
(KVA).
g. Pemberian Tablet Fe adalah memberikan tablet besi pada para ibu
hamil dan wanita usia subur dengan maksud untuk mengatasi salah
satu masalah kekurangan zat gizi mineral Fe, terutama anemia
h. Menimbang Balita adalah mengukur berat badan Balita dengan
menggunakan alat timbangan
i. Pendidikan atau penyuluhan gizi adalah serangkaian kegiatan
penyampaian pesan-pesan gizi dan kesehatan yang direncanakan
dan dilaksanakan untuk menanamkan dan meningkatkan
pengertian, sikap, serta perilaku positif sasaran dan lingkungannya
terhadap upaya perbaikan gizi dan kesehatan
j. Survey dan pemetaan kadarzi adalah salah satu metode yang dapat
digunakan untuk menilai gambaran status gizi keluarga
k. Pelayanan Gizi : adalah rangkaian kegiatan terapi gizi medis yang
dilakukan di institusi kesehatan (rumah sakit), puskesmas dan
institusi kesehatan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi klien/
pasien. Pelayanan gizi merupakan upaya promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif dalam rangka meningkatkan kesehatan klien/
pasien.
l. Konseling Gizi : adalah serangkaian kegiatan sebagai proses
komunikasi 2 (dua) arah untuk menanamkan dan meningkatkan

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 3


pengertian, sikap, dan perilaku sehingga membantu klien/ pasien
mengenali dan mengatasi masalah gizi, dilaksanakan oleh
nutrisionis/dietisien.
m. Nutrisionis : seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan
wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan
kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan gizi, makanan, dan
dietetik, baik di masyarakat maupun rumah sakit, dan unit
pelaksana kesehatan lainnya, berpendidikan dasar akademi gizi.
n. Food Model : adalah bahan makanan atau contoh makanan yang
terbuat dari bahan sintetis atau asli yang diawetkan, dengan ukuran
dan satuan tertentu sesuai dengan kebutuhan, yang digunakan
untuk konseling gizi, kepada pasien rawat inap maupun pengunjung
rawat jalan
F. Landasan Hukum
Beberapa ketentuan perundangundangan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan
pelayanan gizi di Puskesmas adalah sebagai berikut:
1. Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
2. Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang kesehatan
3. Peraturan pemerintah nomor 33 tahun 2012 tentang Asi Eklusif
4. Peraturan presiden nomer 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional percepatan
Perbaikan Gizi
6. Peraturan menteri Kesehatan RI nomor 75 tahun 2013 tentang angka kecukupan Gizi
yang dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia
7. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 26 tahun 2013 tentang Praktik Tenaga Gizi

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia Tanaga Gizi


Kualifikasi sumber daya manusia dan realisasi Tenaga Gizi yang ada di Puskesmas
Dimong adalah sebagai berikut
Kegiatan Kualifikasi SDM Realisasi
Pelayanan kesehatan Gizi Diampu oleh 1 orang
- Dalam gedung Pendidikan minimal dengan latar belakang
- Luar Gedung DIII Gizi pendidikan DIII Gizi

B. Distribusi Ketenagaan

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 4


Penanggung jawab Pelayanan Kesehatan Gizi dibagi menjadi dalam gedung puskesmas
dan pelayanan kesehatan Gizi Luar gedung. Adapun petugasnya adalah sebagai berikut :
a. Dokter
Dokter berperan sebagi penanggung jawab pelayanan kesehatan
pasien sekaligus sebagai koordinator Tim asuhan Gizi
Puskesmas yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai
berikut :
1. Melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta
menegakkan diagnosis medis.
2. Menentukan pilihan tindakan , pemeriksan dan perawatan.
3. Menentukan terapi obat dan preskripsi diet awal
bekerjasama dengan tenaga gizi
4. Melakukan pemantauan dan evaluasi tindakan
5. Melakukan konseling terkait penyakit
6. Melakukan rujukan

b. Perawat/bidan
Perawat/bidan berperan sebagai penanggungjawab asuhan
keperawatan/kebidanan sekaligus sebagai pelaksana asuhan
keperawatan/kebidanan yang mempunyai tugas Pokok sebagai
berikut :
1. Melakukan skrining awal dalam rangka membantu
menentukan apakah pasien beresiko masalah gizi atau
tidak.
2. Bertanggungjawab pada asuhan keperawatan / kebidanan
bagi pasien
3. Melakukan tindakan sesuai instruksi dokter
4. Memotivasi pasien dan keluarga agar pasien menghabiskan
makanannya.
5. Melakukan pemantauan dan evaluasi pemberian makanan
pada pasien
c. Tenaga Gizi Puskesmas
Tenaga gizi puskesmas diharapkan telah mengikuti pelatihan
terkait gizi seperti Pelatihan tatalaksana anak gizi buruk
( TAGB), Pelatihan konselor ASI, Pelatihan Pemberian makan
bayi dan anak (PMBA), Pelatihan pemantauan pertumbuhan
dll.

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 5


Kegiatan dalam rangka perbaikan gizi yang menjadi tanggung
jawab puskesmas dilakukan oleh TPG dengan latar belakang
pendidikan gizi.
Tenaga gizi puskesmas sebagai penanggung jawab asuhan gizi
dan pelaksana asuhan gizi, mempunyai tugas pokok sebagai
berikut;
1. Mengkaji status gizi pasien berdasar data rujukan
2. Melakukan anamnesa riwayat diet pasien
3. Merencanakan diet kedalam bentuk makanan sesuai
kebiasaan makan.
4. Memberikan Penyuluhan dan konseling pada pasien dan
keluarga
5. Melakukan visite baik sendiri maupun dengan tim asuhan
gizi pada pasien
6. Memantau masalah yang berkaitan dengan asuhan gizi
bersama perawat/ bidan
7. Mengevaluasi status gizi pasien secara berkala,asupan
makanan,dan melakuakn perubahan diet berdasarkan hasil
diskusi dengan tim asuhan gizi.
8. Memberikan saran kepada tim asuhan gizi
9. Pelaksanaan tugas perbaikan gizi di puskesmas merupakan
tanggung jawab pelaksana gizi dengan di bantu bidan desa
dan perawat ponkesdes / pustu.

C. Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan yang dilaksanakan oleh program gizi adalah sebagai berikut
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilaksanakan sesuai RPK dan POA serta
berdasarkan jadwal kegiatan gizi dari seksi gizi Dinas kesehatan Kabupaten
Madiun.

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
Untuk menunjang tercapainya tujuan kegiatan pelayanan gizi Puskesmas Dimong
memiliki penunjang yang harus dipenuhi

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 6


Kegiatan pelayanan kesehatan Gizi Sarana Prasana
- Meja, Kursi
- Alat tulis
- Buku Register, Buku Pencatatan Kegiatan
- Tmbangan Dewasa, dan Bayi
Dalam Gedung - Microtoice/ Pengukur tinggi badan
- Leaflet
- alat peraga/ Foot Model
- buku panduan : penuntun diet, pedoman
pelayanan anak gizi buruk, tata laksana
balita gizi buruk,Pedoman pelayanan gizi
pada pasien tuberkulosis
- Leaflet, Lembar balik, Materi Materi
Penyuluhan : Ininsiasi Menyusui Dini,
Strategi peningkatan Penimbangan Balita
Di posyandu, Angka Kecukupan Gizi
- Tabel Antropometri
Luar Gedung - Timbangan : Dacin, Timbanan Injak,
Timbangan bayi
- Microtoice/ Pengukur Tinggi badan
- meja, Kursi, ATK, F 2 Gizi, F3 Gizi, dan
Blanko-blanko laporan lain
- Vit. A, Fe
- pita Lila

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN GIZI

A. Lingkup Kegiatan
1. Kegiatan pelayanan gizi dilakukan di dalam gedung, antara lain :
a. Penyelenggaraan makan pasien Rawat inap yaitu di dapur puskesmas,
b. Ruang Perawatan pasien,

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 7


c. Konseling Gizi dan ASI Eklusif di ruang konsultasi gizi
2. Kegiatan pelayanan gizi luar gedung, antara lain :
a. 0020

1. Kegiatan di Dalam Gedung


a. Persiapan Ruangan
b. Pelayanan dengan alur
Pasien datang sendiri atau dirujuk dari strukturral Puskesmas ( Pustu,
Posbindu atau sarana kesehatan lain).
Pasien mendaftar di loket pendaftaran Puskesmas
Pasien mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah kesehatannya
Di poli umum/BP, Poli KIA, poli Gigi oleh petugas medis atau para medis
Pasien Rawat jalan yang beresiko/ tidak resiko mengalami masalah gizi akan
Akan mendapatkan konseling gizi atas permintaan pasien atau dari tenaga
Medis yang sudah disertai dengan pemeriksaan penunjang ( Laborat,Radiologi)
c. Melakukan tindakan yang diperlukan sesuai permasalahan yang dihadapi pasien :
Klinik Gizi (Pojok gizi)
Konsultasi Gizi
Melaksanakan program kesehatan gizi masyarakat dengan sasaran ibu hamil,
Ibu nifas, bayi dan balita
Bayi baru lahir mendapatkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini ) dan dengan
Promosi, motivasi ASI Eklusif
Pemberian tablet tambah darah (TTD) untuk ibu hamil
Pengukuran Kingkar Lengan atas (LILA) ibu hamil
Pemberian kapsul VIT A untuk bayi, Balita dan Bufas
Perawatan Gizi buruk yang ditemukan.
2. Kegiatan di luar gedung
a. Persiapan
Penjadwalan Kegiatan
Penjadwalan kegiatan penyuluhan, pembinaan kader kesehatan
b. Pelaksanaan :
Pelayanan Gizi Balita, Bumil, Bufas, PUS ( Sasaran Posyandu ) berupa :
Penimbangan/ Pemantauan tumbuh kembang Bayi anak balitadan penyuluhan
Sesuai masalah yang dihadapi
Promosi dan motivasi ASI Eklusif
Pemantauan pemberian Kapsul Vitamin A
Pengukuran Tinggi badan / panjang badan bayi, balita terutama yang dicurigai
Bermasalah
Penyuluhan, Pemantauan Status Gizi dan konsultasi gizi
Pemetaan Kadarsi
Monitoring Garam beryodium

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 8


Penyuluhan kelompok di posyandu
Penyuluhan makanan Pendamping ASI pada usia 6-24 bln dan penyuluhan
pola makan yan benar pada anak balita terutama yang bermasalah ( Gizi
kurang atau gizi lebih )
Pemberian PMT Pemulihan Bagi prioritas Gizi buruk/kurang dari keluarga
Miskin (Gakin)
Pemantaun pemberian Tablet tambah darah (TTD) pada Bumil dan Bufas
Pemberian PMT pemulihan Bumil KEK dari Keluarga Miskin (Gakin)
Pelacakan kasus gizi buruk

B. Strategi / Metode
Merupakan cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan kegiatan upaya kesehatan
lingkungan. Ada tiga strategi yaitu :
1. Strategi advokasi .
Merupakan kegiatan untuk meyakinkan orang lain agar membantu atau mendukung
pelaksanaan program. Advokasi adalah pendekatan kepada pengambil keputusan dari
berbagai tingkat dan sektor terkait dengan kesehatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk
meyakinkan para pejabat pembuat keputusan atau penentu kebijakan bahwa program
kesehatan yang akan dilaksanakan tersebut sangat penting oleh sebab itu perlu
dukungan kebijakan atau keputusan dari pejabat tersebut. Dukungan dari pejabat
pembuat keputusan dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk
undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, surat instruksi, dana atau
fasilitas lain..
2. Strategi kemitraan.
Tujuan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dapat tercapai apabila ada dukungan dari
berbagai elemen yang ada di masyarakat. Dukungan dari masyarakat dapat berasal dari
unsur informal (tokoh agama dan tokoh adat) yang mempunyai pengaruh
dimasyarakat. Tujuannnya adalah agar para tokoh masyarakat menjadi jembatan antara
sektor kesehatan sebagai pelaksana program dengan masyarakat sebagai penerima
program kesehatan. Strategi ini dapat dikatanan sebagai upaya membina suasana yang
kondusif terhadap kesehatan. Bentuk kegiatan dapat berupa pelatihan tokoh
masyarakat, seminar, lokakarya, bimbingan kepada tokoh masyarakat dan sebagainya.
3. Strategi pemberdayaan masyarakat.
Adalah strategi yang ditujukan kepada masyarakat secara langsung. Tujuan utama
pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 9


diwujudkan dengan berbagai kegiatan antara lain penyuluhan kesehatan,
pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk usaha untuk
meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan meningkatkan kemampuan ekonomi
keluarga akan berdampak terhadap kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan.
Misalnya terbentuk dana sehat, terbentuk pos obat desa, dan sebagainya.

C. Langkah Kegiatan
a. Perencanaan ( P1)
1) Petugas merencanakan kegiatan gizi pada RKA, JKN (yang bersumber dari dana
JKN) dan atau melalui RKA,BOK yang bersumber dari dana bantuan operasional
kesehatan
2)
b. Penggerakan dan Pelaksanaan (P2)
Pada kegiatan P2 petugas melakukan:
- Membuat jadwal kegiatan
- Mengkoordinasikan dengan bendahara JKN/Bendahara BOK
- Mengkoordinasikan dengan linats program tentang kegiatan yang akan
dilaksanakan
- Melaksanakan kegiatan
c. Pengawasan, Pengendalian Penilaian ( P3 )
- Petugas mencatat hasil kegiatan dan melaporkan hasil kegiatan
- Petugas menganalisa hasil kegiatan
- Petugas membuat kajian pencapaian dan menindaklanjuti

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 10


BAB V
LOGISTIK

Perencanaan logistik adalah merencanakan kebutuhan logistik yang


pelaksanannya dilakukan oleh semua petugas penanggungjawab program kemudian diajukan
sesuai dengan alur yang berlaku di masing-masing organisasi.
Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan program gizi
direncanakan dalam pertemuan lokakarya mini lintas program dan lintas sektor sesuai dengan
tahapan kegiatan dan metoda pemberdayaan yang akan dilaksanakan.
1. Kegiatan di dalam gedung Puskesmas membutuhkan sarana dan prasarana antara lain :
- Meja, Kursi
- Alat tulis
- Buku catatan Kegiatan
- Leaflet
- buku panduan
- komputer
2. Kegiatan di luar gedung Puskesmas membutuhkan sarana dan prasarana yang meliputi :
- Leaflet
- Buku catatan kegiatan
-
Prosedur pengadaan barang dilakukan oleh koordinator program gizi berkoordinasi
dengan petugas pengelola barang dan dibahas dalam pertemuan mini lokakarya Puskesmas
untuk mendapatkan persetujuan Kepala Puskesmas. Sedangkan dana yang dibutuhkan untuk

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 11


pelaksanaan kegiatan direncanakan oleh koordinator program gizi berkoordinasi dengan
bendahara puskesmas dan dibahas dalam kegiatan mini lokakarya puskesmas untuk
selanjutnya dibuat perencanaan kegiatan ( POA Plan Of Action ).

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti akan menimbulkan resiko atau dampak, baik
resiko yang terjadi pada masyarakat sebagai sasaran kegiatan maupun resiko yang terjadi pada
petugas sebagai pelaksana kegiatan. Keselamatan pada sasaran harus diperhatikan karena
masyarakat tidak hanya menjadi sasaran satu kegiatan saja melainkan menjadi sasaran banyak
program kesehatan lainnya. Tahapan tahapan dalam mengelola keselamatan sasaran antara
lain :
2. Identifikasi Resiko.
Penanggungjawab program sebelum melaksanakan kegiatan harus mengidentifikasi
resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan.
Identifikasi resiko atau dampak dari pelaksanaan kegiatan dimulai sejak membuat
perencanaan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dari
pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk
tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
3. Analisis Resiko.
Tahap selanjutnya adalah petugas melakukan analisis terhadap resiko atau dampak dari
pelaksanaan kegiatan yang sudah diidentifikasi. Hal ini perlu dilakukan untuk
menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam menangani resiko yang terjadi.
4. Rencana Pencegahan Resiko dan Meminimalisasi Resiko.
Setelah dilakukan identifikasi dan analisis resiko, tahap selanjutnya adalah menentukan
rencana yang akan dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko atau dampak yang

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 12


mungkin terjadi. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah atau meminimalkan resiko yang
mungkin terjadi.
5. Rencana Upaya Pencegahan.
Tahap selanjutnya adalah membuat rencana tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi resiko atau dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan yang dilakukan. Hal ini
perlu dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat dalam mengatasi resiko atau
dampak yang terjadi.
6. Monitoring dan Evaluasi.
Monitoring adalah penilaian yang dilakukan selama pelaksanaan kegiatan sedang
berjalan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan sudah berjalan sesuai
dengan perencanaan, apakah ada kesenjangan atau ketidaksesuaian pelaksanaan dengan
perencanaan. sehingga dengan segera dapat direncanakan tindak lanjutnya. Tahap yang
terakhir adalah melakukan Evaluasi kegiatan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah
tujuan sudah tercapai.

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 13


BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari-hari sering disebut
Safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah petugas dan hasil kegiatannya.
Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat pekerjaan atau kegiatan
yang dilakukan.
Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja
yang aman, kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan serta
penurunan kesehatan akibat dampak dari pekerjaan yang dilakukan, bagi petugas pelaksana
dan petugas terkait. Keselamatan kerja disini lebih terkait pada perlindungan fisik petugas
terhadap resiko pekerjaan.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan telah
mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja,
agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan
sekitarnya.
Seiring dengan kemajuan Ilmu dan tekhnologi, khususnya sarana dan prasarana
kesehatan, maka resiko yang dihadapi petugas kesehatan semakin meningkat. Petugas
kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan, untuk
itu`semua petugas kesehatan harus mendapat pelatihan tentang kebersihan, epidemiologi dan
desinfeksi. Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi
tubuh yang sehat. Menggunakan desinfektan yang sesuai dan dengan cara yang benar,

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 14


mengelola limbah infeksius dengan benar dan harus menggunakan alat pelindung diri yang
benar.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah kegiatan yang bersifat rutin yang dirancang untuk
mengukur dan menilai mutu pelayanan. Pengendalian mutu sangat berhubungan dengan
aktifitas pengawasan mutu, sedangkan pengawasan mutu merupakan upaya untuk menjaga
agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai rencana dan menghasilkan keluaran yang
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Kinerja pelaksanaan dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan indikator
sebagai berikut:
1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadual
2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan
3. Ketepatan metoda yang digunakan
4. Tercapainya indikator
Hasil pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi serta permasalahan yang ditemukan
dibahas pada tiap pertemuan lokakarya mini tiap bulan.

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 15


BAB IX
PENUTUP

Pedoman pelaksanaan program gizi ini dibuat untuk memberikan petunjuk dalam
pelaksanaan kegiatan program gizi di Puskesmas DIMONG, penyusunan pedoman
disesuaikan dengan kondisi riil yang ada di puskesmas, tentu saja masih memerlukan inovasi-
inovasi yang sesuai dengan pedoman yang berlaku secara nasional. Perubahan perbaikan,
kesempurnaan masih diperlukan sesuai dengan kebijakan, kesepakatan yang menuju pada
hasil yang optimal.
Pedoman ini digunakan sebagai acuan bagi petugas dalam melaksanakan pelayanan
program gizi di puskesmas agar tidak terjadi penyimpangan atau pengurangan dari kebijakan
yang telah ditentukan.

Nutrisionis
UPTD Puskesmas DIMONG

Pedoman Gizi UPT Puskesmas Dimong Page 16