Anda di halaman 1dari 70

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap ilmu pengetahuan memiliki karakteristik spesifik yang

membedakan ilmu tersebut dengan ilmu lainnya. Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) merupakan salah satu cabang pokok ilmu pengetahuan yang didalamnya

terdapat berbagai cabang keilmuan, antara lain ilmu fisika, biologi, dan ilmu

kimia. Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang harus dikuasai siswa di

SMA/MA adalah kimia.

Terkait dengan itu, Michael Purba dalam Winda Syafitri (2010)

menjelaskan bahwa, ilmu kimia adalah ilmu pemahaman dan rekayasa materi.

Rekayasa yaitu mengubah suatu materi menjadi materi yang lain. Untuk dapat

melakukan rekayasa tersebut, para ahli perlu memahami ilmu kimia, yaitu

mengetahui susunan, struktur, serta sifat-sifat materi. Sesuai dengan

penjelasan diatas, ilmu kimia dapat didefinisikan sebagai ilmu yang

mempelajari tentang susunan, sifat, perubahan materi, serta energi yang

menyertai perubahan tersebut.

Konsep dalam ilmu kimia dapat ditinjau dari dua aspek yaitu konsep

yang bersifat makroskopis dan mikroskopis. Konsep yang bersifat

makroskopis digeneralisasi dari pengamatan langsung terhadap gejala alam

atau hasil eksperimen, seperti konsep tentang wujud zat padat dan zat cair.
2

Konsep mikroskopis adalah konsep yang ditetapkan oleh para pakar dan

digunakan untuk menjelaskan suatu objek seperti atom, ion, molekul, orbital

atau peristiwa abstrak seperti konsep asam lemah dan garamnya pada materi

larutan buffer. Konsep yang bersifat mikroskopis cenderung lebih sulit

dipahami dibandingkan dengan konsep makroskopis. untuk dapat memahami

suatu konsep dengan utuh, kita harus mengenal konsep tersebut baik dari

tingkat makroskopis maupun mikroskopisnya (Mangara S, 2013).

Berdasarkan dari hasil wawancara guru dan siswa yang telah peneliti

lakukan di SMAN 1 pringgasela bahwa, salah satu materi yang dianggap sulit

oleh siswa adalah materi larutan penyangga, karena materi larutan penyangga

merupakan materi yang membutuhkan pemahan konsep yang kuat, karena

sebagian besar konsepnya bersifat abstrak (Mangara Sihalolo, 2014). Selain

itu, permasalahan yang terjadi di SMAN 1 Pringgasela dari hasil observasi

awal yang telah peneliti lakukan yaitu, ketuntasan klasikal yang diperoleh

siswa kelas XI SMAN 1 Pringgasela dari nilai MID semester sebelumnya

masih dibawah 50 % dengan nilai KKM 70. Adapun ketuntasan klasikal yang

diperoleh oleh siswa kelas XI SMAN 1 Pringgasela sebagaimana yang

dipaparkan pada tabel 1.1 :


3

Tabel 1.1. Nilai MID semester ganjil siswa kelas XI SMAN 1


Pringgasela tahun pelajaran 2014/2015.
No Kelas Nilai Rata- Jumlah Jumlah Ketuntasan KKM
rata MID Siswa Siswa Klasikal
Tuntas
1 XI IPA 1 51.43 30 5 16.7 % 70
2 XI IPA 2 56.02 30 10 33.3 %
Sumber : Arsip nilai guru bidang studi Kimia SMAN 1 Pringgasela.

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa, nilai hasil belajar kognitif

siswa pada pelajaran kimia masih rendah, disebabkan karena 1) siswa kurang

memahami konsep karena cenderung menghafal, 2) kurangnya aktivitas siswa

bertanya dalam proses pembelajaran, 3) kurang siapnya siswa untuk

mengikuti proses belajar mengajar, 4) lemahnya proses pembelajaran, dimana

guru lebih banyak menggunakan metode yang tidak sesuai dengan materi

pelajaran seperti metode ceramah dan diskusi yang menjadikan guru sebagai

pusat belajar, 5) kurangnya pemanfaatan laboratorium, 6) selain itu

pengukuran hasil belajar kimia siswa hanya mengukur aspek kognitif saja,

dan tidak pernah mengukur keterampilan proses sains siswa.

Tiara PB dan Rusly H (2014) menyatakan bahwa, pembelajaran kimia

yang dikehendaki adalah pembelajaran yang diarahkan pada kegiatan-kegiatan

yang menantang dan mendorong siswa secara aktif untuk memahami konsep-

konsep kimia tanpa mengabaikan hakekat IPA itu sendiri yaitu sebagai produk

ilmiah dan sebagai proses ilmiah melalui keterampilan proses. Keterampilan

proses sangat penting digunakan sebagai jembatan dalam menyampaikan

pengetahuan/informasi baru kepada siswa atau mengembangkan


4

pengetahuan/informasi yang telah dimiliki oleh siswa. Keterampilan proses

pada pembelajaran sains lebih menekankan pembentukan keterampilan untuk

memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan hasilnya.

Sejalan dengan itu Muhammad Nur dalam Buanarinda dan Rusli (2014)

menjelaskan bahwa, pendekatan keterampilan proses adalah proses belajar

mengajar yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan

fakta-fakta, membangun konsep-konsep, dan teori-teori dengan keterampilan

proses dan sikap ilmiah siswa sendiri. Menurut Syaiful Prayogi, dkk (2014)

ada 9 jenis keterampilan proses sains yaitu 1) keterampilan melakukan

pengamatan, 2) menafsirkan pengamatan, 3) mengelompokkan, 4)

meramalkan, 5) Berkomunikasi, 6) Berhipotesis, 7) merencanakan percobaan,

8) menerapkan konsep, 9) mangajukan pertanyaan, dan 10) menggunakan alat

dan bahan.

Berdasarkan dari beberapa jenis keterampilan proses sains diatas, maka

keterampilan proses sains dapat dikembangkan melalui kegiatan praktikum.

Dimana materi larutan penyangga merupakan materi yang membutuhkan

pemahan konsep yang kuat, karena sebagian besar konsepnya bersifat abtarak

(Mangara Sihalolo, 2014).

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan

proses sains dan hasil belajar siswa yaitu dengan memilih model serta

pendekatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk lebih aktif dan

kritis dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang diperlukan atau
5

diduga dapat membangkitkan keaktifan siswa adalah model inkuiri terbimbing

dengan pendekatan kontekstual. Sitiatava (2013) mengatakan bahwa dengan

menggunakan model inkuiri terbimbing, siswa belajar lebih berorientasi

kepada bimbingan dan petunjuk dari guru, sehingga ia mampu memahami

konsep-konsep pelajaran. Kelebihan model inkuiri yaitu meningkatkan

potensi intelektual siswa, hal ini dikarenakan siswa diberi kesempatan untuk

mecari dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan

dengan pengamatan dan pengalaman sendiri. Sedangkan untuk pendekatan

kontekstual yang digunakan dalam proses pembelajaran bertujuan memotivasi

siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya, dengan

mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari, sehingga

siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat

diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan lainnya.

Dalam pendekatan kontekatual, proses pembelajaran berlangsung lebih

alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer

pengetahuan dari guru ke siswa, sebagaimana model pembelajaran

konvensional.

Untuk itu penerapan model Inkuiri terbimbing dengan pendekatan

kontekstual memiliki pengaruh penting pada keterampilan proses sains dan

hasil belajar siswa SMAN 1 pringgasela. Hal ini sesuai dengan hasil

penelitian yang dipaparkan oleh Laila Turrahma (2010) menunjukkan bahwa,

adanya peningkatan keterampilan proses sains siswa dengan dibelajarkan


6

menggunakan model inkuiri terbimbing. Selanjutnya penelitian yang

dilakukan oleh Bakke MM dan Igharo O K (2013) menunjukkan bahwa, siswa

yang dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing lebih baik dibandingkan dengan

siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional. Sejalan dengan itu,

Olibie EI dan Ezeoba KO (2013) menyatakan bahwa, metode inkuiri

terbimbing berpengaruh signifikan telah memperbaiki pencapaian siswa dan

partisipasi dalam pelajaran social lebih baik dari pada metode pembelajaran

tradisional.

Dengan demikian, penting dilakukan penelitian dengan judul Pengaruh

Model Inkuiri Terbimbing dengan Pendekatan Kontekstual Terhadap

Keterampilan Proses Sains Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Larutan

Penyangga.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang diteliti dalam

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah tingkat keterampilan proses sains siswa pasca

pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dengan pendekatan

kontekstual pada materi larutan penyangga ?

2. Apakah ada pengaruh pembelajaran model inkuiri terbimbing dengan

pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan

penyangga ?
7

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui :

1. Tingkat keterampilan proses sains siswa pasca pembelajaran dengan

model inkuiri terbimbing dengan pendekatan kontekstual pada materi

larutan penyangga.

2. Pengaruh pembelajaran model inkuiri terbimbing dengan pendekatan

kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pengaruh

model inquiri terbimbing berbasis pendekatan kontekstual pada materi

larutan penyangga.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

a. Sekolah

Diharapkan mampu memberikan timbal balik bagi

pengembangan dan pembinaan pendidikan, baik mengenai

perencanaan dan pengembangan kurikulum maupun bagi

peningkatan mutu guru.


8

b. Guru

Dengan diterapkannya pembelajaran model inquiri terbimbing

berbasis pendekatan kontekstual diharapkan dapat mengatasi

kesulitan dalam mengajarkan konsep-konsep yang dijadikan sebagai

bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan pembelajaran di

sekolah.

c. Siswa

Dengan pembelajarn menggunakan model inquiri terbimbing

berbasis pendekatan kontekstual diharapkan dapat menghubungkan

teori dengan kehidupan nyata.

d. Peneliti

Dapat memperluas pengetahuan tentang strategi pembelajaran

dan dapat menambah keterampilan dalam mengadakan variasi

mengajar sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.

E. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel Independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)

(Sugiyono, 2010).

Varabel Independen (varabel bebas) dalam penelitian iniadalah model

inkuiri terbimbing dengan pendekatan kontekstual


9

2. Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen (variable terikat) adalah variabel yang dipengaruhi

atau yang menjadiakibat,karena adanya variabel bebas (Suiyono, 2010).

variabel dependen dalam penelitian iniadalah keterampilan proses sains

dan hasil belajar

F. Lingkup Penelitian

Ruang Lingkup dalam penelitian ini adalah :

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Pringgasela Kabupaten Lombok

Timur.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah keterampilan proses sains dan hasil belajar

terhadap materi larutan penyangga

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Pringgasela

Kabupaten Lombok Timur tahun Pelajaran 2014/2015.

G. Definisi Operasional Judul

Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap istilah yang

digunakan, maka dibawah ini dijelaskan beberapa istilah yang digunakan dalam

penelitian ini, diantaranya :


10

1. Inkuiri Terbimbing

Inkuiri terbimbing merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa

diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis

hasil dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan dalam hal

menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang, guru hanya berperan

sebagai fasilitator (Retno Dwi Suyanti. 2010). Sehubungan dengan itu

Sitiatava Rizema Putra (2012) menyatakan bahwa, inkuiri terbimbing

menekankan siswa lebih berorientasi kepada bimbingan dan petunjuk dari

guru, sehingga ia mampu memahami konsep-konsep pelajaran.

Berdasarkan dari beberapa definisi dari inkuiri terbimbing peneliti

mengambil kesimpulan bahwa inkuiri terbimbing adalah model pembelajaran

yang berfokus pada proses berfikir yang membangun pemahaman oleh

keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.

2. Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru

mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa

dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengeahuan yang

dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota

keluarga dan masyarakat (Retno Dwi Suyanti.2010). Senada dengan itu

Sitiava Rizema Putra (2012) menjelaskan, CTL merupakan suatu proses

pendidikan yang holistik dan bertujuan memotovasi siswa untuk memahami


11

makna materi pelajaran yang dipelajarinya, dengan mengaitkan materi

tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan dari beberapa penjelasan diatas peneliti dapat

menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual memandang bahwa belajar

bukanlah kegiatan menghafal, mengingat fakta-fakta, mendemostrasikan

latihan secara berulang-ulang akan tetapi proses berpengalaman dalam

kehidupan nyata.

3. Keterampilan Proses Sains

Keterampilan proses pada pelajaran kimia lebih ditekankan pada

keterampilan proses sains. Itu karena kimia merupakan salah satu ilmu sains.

Sehingga keterampila proses ini dapat didefinisikan/dirumuskan sebagai

penerjemahan keterampilan proses sains yaitu perangkat kemampuan

kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuan dalam melakukan

penyelidikan ilmiah kedalam rangkaian proses pembelajaran. Pembelajaran

dirancang untuk lebih memberikan kesempatan kepada siswa dalam

menemukan fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru melalui proses

peniruan terhadap apa yang biasa dilakukan oleh para ilmuan Haryono dalam

Dani Arya (2012).

4. Hasil Belajar

Hasil adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,

diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Sedangkan belajar

adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan


12

sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Jadi, hasil belajar adalah

prestasi yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan

dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Ada beberapa

aspek hasil belajar yaitu : 1) aspek kognitif, yang meliputi kemampuan

menghafal, kemampuan memahami, kemampuan mengaplikasikan,

kemampuan menganalisis, kemampuan mensintesis, dan kemampuan

mengevaluasi. 2) aspek psikomotor, dimana hasil yang dinilai dalam aspek

psikomotor ini ialah kemampuan melakukan suatu kegiatan.

5. Larutan penyangga

Larutan penyangga merupakan larutan yang dapat mempertahankan pH

meski ditambah sedikit asam, basa, maupun aquades. Hal tersebut dapat diuji

dengan melakukan suatu percobaan dilaboratorium untuk mengetahui sifat

dari larutan penyangga dan bukan penyangga, karena sifatnya yang dapat

mempertahankan pH, larutan penyangga berperan penting dalam kehidupan

sehari-hari.
13

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1. Model Pembelajaran Inkuiri

Inkuiri adalah salah satu cara belajar atau penelaahan yang bersifat

mencari pemecahan permasalahan dengan cara kritis, analisis, dan ilmiah

dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan

yang meyakinkan karena didukung oleh data atau kenyataan. Inkuiri

merupakan suatu teknik atau cara yang dugunakan guru untuk mengajar

didepan kelas (Hamdani, 2010). Sedangkan, National Science Education

Standards (NSES) dalam Sitiatava (2013), mendefinisikan inkuiri sebagai

aktivitas beraneka ragam yang meliputi observasi, membuat pertanyaan, dan

memeriksa buku-buku atau sumber informasi lain untuk melihat sesuatu

yang telah diketahui, merencanakan investigasi, memeriksa kembali sesuatu

yang sudah diketahui menurut bukti eksperimen, menggunakan alat untuk

mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data, mengajukan

jawaban, penjelasan, dan prediksi, serta mengkomunikasikan hasil.

Menurut W.gulo, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan

belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk

mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis,


14

sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya

diri.

Sasaran utama kegiatan mengajar pada strategi ini adalah sebagai

berikut : 1) Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan

belajar. Kegiatan belajar disini ilah kegiatan mental intelektual dan social

emosional. 2) Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan

pengajaran. 3) Mengembangkan sikap percaya terhadap diri sendiri pada diri

siswa tentang sesuatu yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Dari beberapa pengertian inkuiri tersebut, dapat disimpulkan bahwa

inkuiri merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi melalui

observasi atau eksperimen untuk memecahkan suatu masala dengan

menggunakan kemampuan berfikir kritis dan logis. Disinilah peran penting

sains (murni) sebagai dasar pembelajaran.

a. Ciri Utama Model Inkuiri

Menurut Sanjaya dalam Stiatava (2013), ada beberapa hal yang

menjadi ciri utama model pembelajaran inkuiri, diantaranya ialah

sebagai berikut : 1) Model pembelajaran inkuiri menekankan kepada

aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan.

Dengan ungkapan lain, model inkuiri menempatan siswa sebagai subjek

belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai

penerima pelajaran melalui penjelsan gurusecara verbal, tetapi juga

berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran tersebut. 2)


15

Seluruh aktivitas yang dilakukan oleh siswa diarahkan untuk mencari

dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga

diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya,

dalam pendekatan inkuiri, guru bukan sebagai sumber, namun fasilitator

dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan

melalui proses Tanya jawab antara guru dan siswa, sehingga

kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan

syarat utama dalam melakaukan inkuiri. 3) Tujuan penggunakan model

pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual

sebagai bagian dari proses mental. Sehingga,dalam pembelajaran

inkuiri, siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, melainkan

juga bisa menggunakan potensi yang dimilikinya.

b. Tingkatan-tingkatan Inkuiri

Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang

meliputi topik masalah atau pertanyaan, bahan, prosedur atau rancangan

kegiatan, pengumpulan dan analisis data serta pengambilan kesimpulan

Bonnstetter (2000) seperti yang dikutip oleh Retno Dwi Suyanti (2010)

membedakan inkuiri menjadi lima tingkat yaitu praktikum (tradisional

hands-on), pengalaman sains terstruktur (structured science

experiences), inkuiri terbimbing (guided inkuiri), inkuiri siswa mandiri

(student directed inkuiri), dan penelitian siswa (student reseach).

Klasifikasi inkuiri didasarkan pada tingkat kesederhanaan kegiatan


16

siswa dan dinyatakan penerapan inkuiri merupakan suatu kontinum

yaitu dimulai dari yang paling sederhana sebagai berikut : 1) Traditional

hand-on Praktikum (traditional hand-on) adalah tipe inkuiri yang paling

sederhana. Dalam praktikum guru menyediakan seluruh keperluan

malaidari topic sampai kesimpulan yang harus ditemukan siswa dalam

bentuk buku petunjuk yang lengkap. 2) Pengalaman sains yang

terstruktur. Tipe inkuiri berikutnya ialah pengalaman sains terstruktur

(strucred science experiences), yaitu kegiatan inkuiri dimana guru

menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur sedangkan analisis

hasil dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. 3) Jenis yang ke tiga ialah

inkuiri terbimbing (guaded inquiry), dimana siswa diberikan

kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis hasil

dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan dalam hal

menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang, guru hanya

berperan sebagai fasilitator. 4) Inkuiri siswa mandiri. Inkuiri siswa

mandiri (Student directed), dapat dikatakan sebagai inkuiri penuh karena

Pada tingkatan ini siswa bertanggungjawab secara penuh terhadap

proses belajarnya, dan guru hanya memberikan bimbingan terbatas pada

pemilihan topik dan pengembangan pertanyaan. Tipe inkuiri yang paling

kompleks ialah penelitian siswa (Student research). Dalam inkuiri tipe

ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan

penentuan atau pemilihan dan pelaksanaan proses dari seluruh


17

komponen inkuiri menjadi tanggungjawab siswa (Retno Dwi Suyanti,

2010).

c. Kelebihan dan Kekurangan Model Inkuiri

Sitiatava Rizema Putra (2013) menjelaskan beberapa kelebihan

dan kekurangan dari model pembelajaran inkuiri ialah sebagai berikut :

1) Kelebihan

Beberapa kelebihan dari inkuiri dalam pembelajaran adalah

sebagai berikut : a) Model pembelajarn inkuiri meningkatkan

potensi intelektual siswa, hal ini dikarenakan siswa diberi

kesempatan untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari

permasalahan yang diberikan dengan pengamatan dan pengalaman

sendiri, b) ketergantungan siswa terhadap kepuasan ekstrinsik

bergeser kearah kepuasan intrinsik. Siswa yang telah berhasil

menemukan sendiri sampai dapat memcahkan masalah yang ada

akan meningkatkan kepuasan intelektualnya yang datang dari dalam

dirinya, c) siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat

penyelidikan Karena terlibat langsung dalam proses penemuan, d)

belajar melalui inkuiri bisa memperpanjang proses ingatan.

Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran sendiri pun lebih

mudah diingat, e) belajar dengan inkuiri, siswa dapat memahami

konsep-konsep sains dan ide-ide dengan baik, f) Pengajaran

menjadi terpusat pada siswa; salah satu prinsip psikologi belajar


18

menyatakan bahwa semakin besar keterlibatan siswa dalam proses

pembelajaran, semakin besar pula kemampuan belajar siswa

tersebut.

2) Kekurangan

Selain kelebihan, inkuiri juga memiliki beberapa kekurangan,

diantaranya sebagai berikut : a) model pembelajaran ikuiri

mengandalkan suatu kesiapan berfikir, sehingga siswa yang

mempunyai kemampuan berfikir lambat bisa kebingungan dalam

berfikir secara luas, membuat abstraksi, menemukan hubungan

antar konsep dalam suatu mata pelajaran, atau menyusun sesuatu

yang telah diperoleh secara tertulis maupun lisan, b) tidak efisien,

khususnya mengajar siswa yang berjumlah besar, sehingga banyak

waktu yang dihabiskan untuk membantu seorang siswa dalam

menemukan teori-teori tertentu, c) harapan-harapan dalam dalam

model pembelajaran ini dapat terganggu oleh siswa-siswa dan guru-

guru yang telah terbiasa dengan pengajaran tradisional, d) bidang

sains membutuhkan banyak fasilitas untuk menguji ide-ide, e)

kurangberhasil bila jumlah siswa terlalu banyak didalam satu kelas,

f) sulit menerapkan metode ini karena guru dan siswa sudah

terbiasa dengan metode ceramah dan tanya jawab, g) kebebasan

yang diberikan kepada siswa tidak selamanya bisa dimanfaatkan


19

secara opimal dan sering terjadi siswa kebingungan, h) memerlukan

sarana dan fasilitas.

2. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided inquiry)

a. Pengertian Inkuiri Terbimbing

Setiatava Rizema Putra (2013) menjelaskan bahwa, inkuiri

terbimbing adalah suatu model pembelajaran dimana saat guru

membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal

dan mengarahkan kepada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif

dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Model

pembelajaran inkuiri terbimbing digunakan bagi siswa yang kurang

berpengalaman belajar, dengan model pembelajaran inkuiri. Siswa belajar

lebih berorienatasi kepada bimbingan dan petunjuk dari guru, sehingga ia

mampu memahami konsep-konsep pelajaran.

Model pembelajaran dengan menggunakan inkuiri terbimbing,

siswa akan dihadapkan kepada tugas-tugas yang relevan untuk

diselesaikan, baik melalui diskusi kelompok maupun individual, agar bisa

menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.

Pada dasarnya, selama proses belajar, siswa akan memperoleh pedoman

sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal., guru banyak

memberikan bimbingan. Kemudian, pada tahap-tahap berikutnya,

bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses

inkuiri secara mandiri. imbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-


20

pertanyaan dan diskusi multiarah yang menggiring siswa agar bisa

memahami konsep pelajaran. Selain itu, bimbingan dapat pula diberikan

melalui lembar kerja siswa yang tersetruktur. Selama berlangsungnya

proses belajar, guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga

guru sanggup memberikan petunjuk-petunjuk kepada siswa.

b. Karakteristik Model Inkuiri Terbimbing

Carol yang dikutip oleh Wulan Susanti (2014) membagi inkuiri

terbimbing (Guided Inquiry) kedalam 6 karakeristik, yaitu sebagai berikut

: 1) siswa belajar aktif dan terefleksikan pada pengalaman, 2) siswa

belajar berdasarkan pada apa yang mereka tahu, 3) siswa

mengembangkan rangkaian berfikir dalam proses pembelajaran melalui

bimbingan, 4) perkembangan siswa terjadi secara bertahap, 5) siswa

mempunyai cara yang berbeda dalam pembelajaran, 6) siswa belajar

melalui interaksi sosial dengan orang lain.

c. Sintaks Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Dalam upaya menanamkan konsep, misalnya konsep IPA pokok

bahasan larutan penyangga, pada siswa tidak cukup hanya sekedar

ceramah. Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan

untuk tahu dan terlibat secara aktif dalam menemukan konsep dari fakta-

fakta yang dilihat dari lingkungan dengan bimbingan guru. Adapun sintak

pembelajaran inkuiri dapat dilihat pada tabel 2.1.


21

Tabel 2.1 Sintak Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Fase Kegitan Guru Kegiatan Siswa
Menyajikan Guru membimbing siswa Siswa
pertanyaan atau mengidentifikasi masalah mengidentifikasi
masalah dan guru membagi siswa masalah
dalam kelompok.
Membuat Guru memberikan Siswa membuat
hipotesisis kesempatan pada siswa hipotesis
untuk curah pendapat dalam
membentk hipotesis.
Merancang Guru memberikan Siswa merancang
percobaan kesempatan pada siswa percobaan sesuai
untuk menetukan langkah- dengan hiptesis yang
langkah yang sesuai dengan ditentukan.
hipotesis yang akan
dilakukan. Guru
membimbing siswa
mengurutkan langkah-
langkah percobaan.
Melakukan Guru membimbing siswa Siswa mencari
percoban untuk mendapatkan informasi data/informasi
memperoleh melalui percobaan melalui percobaan.
informasi
Mengumpulkan Guru memberik kesempatan Siswa
dan menganalisis pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil
data menyampaikan hasil pengolahan data
pengolahan data yang yang terkumpul.
terkumpul.
Membuat Guru membimbing siswa Siswa membuat
kesimpulan dalam membuat kesimpulan kesimpulan
(Trianto, 2007).

3. Model Inkuiri Terbimbing dengan Pendekatan Kontekstual Dalam


Pembelajaran
a. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu proses

pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk

memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya, dengan


22

mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari

(konteks pribadi, social, dan cultural), sehingga siswa memiliki

pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan

(ditransfer) dari satu permasalahan/konteks kepermasalahan ke konteks

yang lainnya.

Contextual teacing and Learning (CTL) juga sebagai suatu konsep

belajar, dengan guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas

sekaligus mendorong siswa untuk membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan

sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini

diharapakan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Dalam

pendeketan kontekstual, proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah

dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer

pengetahuan dari guru kesiswa, sebagaimana model pembelajran

konvensional atau metode ceramah. Dalam kelas kontekstual, tugas guru

ialah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak

berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru

mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk

menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang

baru datang dari menemukan sendiri, bukan dari ungkapan guru.

Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan

kontekstual.
23

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep

belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa sekaligus mendorong

siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam

penelitian ini pendekatan kontekstual dapat dilakukan pada saat siswa

melakukan suatu praktikum (Retno Dwi Suyanti, 2010).

b. Karakteristik Pendekatan Kontekstual

Berdasarkan pengertian pembelajaran kontekstual tersebut, bisa

diketahui bahwa konsep pendekatan kontekstual memiliki beberapa

karakteristk khusus yaitu : 1) Kerjasama, 2) Saling menunjang, 3)

Menyenangkan atau tidak membosankan, 4) Belajar dengan bergairah,

5) Pembelajaran terintegrasi, 6) Menggunakatn berbagai sumber, 7)

Siswa aktif, 8) Sharing dengan teman, 9) Siswakritis dan guru kreatif,

10) Laporan kepada orangtua bukan hanya rapor, tetpi hasil karya siswa,

laporan hasil praktikum karangan siswa, dan lain sebaginya (Stiatava,

2012).

c. Komponen-komponen Utama CTL

Beberapa komponen utama dalam CTL (Contextual Teaching and

Learning) ialah sebagai berikut :


24

1) Konstruktivisme (Constructivism)

Kontruktivisme merupakan landasan berfikir CTL, yang

menekankan bahwa belajar tidak sekedart menghafal atau

mengingat pengetahuan, tetapi juga merupakan suatu proses belajar

mengajar, dengan siswa aktif secara mental dalam membangun

pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang

dimilikinya.

2) Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan inti dari kegiatan pembelajaran

berbasis kontekatual. Sebab, pengetahuan dan keterampilan yang

diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat

fakta-fakta, melainkan sebagai hasil dari menemukan sendiri.

Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus

yang terdiri atas observasi, bertanya, mengajukan pertanyaan,

mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.

3) Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki oleh siswa selalu dimulai dari

bertanya. Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran

berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk ;

mendapatkan informasi, menggali pemahaman siswa,

membangkitkan respon siswa, mengetahui sejauh mana

keingintahuan siswa,mengetahui hal-hal yang sudah diketahui oleh


25

siswa, memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki oleh

guru, dan membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa

guna menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

4) Masyarakat Belajar (learning Community)

Pengertian masyarakat belajar adalah sebagai berikut : 1)

adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagi

gagasan dan pengalaman, 2) adanya kerjasam untuk memecahkan

masalh, 3) pada umumnya, hasil kerja kelompok lebih baik daripada

kerja individual, 4) adanya rasa tanggungjawab kelompok

Berdasarkan penjelasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa

konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran

diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar yang

diperoleh dari Sharing antar siswa, antar kelompok, dan siswa yang

tahu kepada yang belum tahu. Masyarakat belajar terjadi apabila

ada komunikasi dua arah, dua kelompok, atau lebih yang terlibat

dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

5) Pemodelan (Modeling)

Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan,

mendemostrasikan cara guru menginginkan siswa untuk belajar,

serta melakukan sesuatu yang guru inginkan agar siswanya

melakukan itu. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-


26

satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa

dan mendatangkan dari faktor luar.

6) Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan cara berfikir atau respon tentang sesuatu

yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang mengenai sesuatu

yang sudah dilakukan pada masa lalu. Reliasasinya dalam

pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa

melakukan refleksi yang berupa pertanyaan langsung tentang

sesuatu yang diperoleh pada hari itu.

7) Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa

member gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam

pembelajaran berbasis pendekatan kontekatual, gambaran

perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa

memastikan bahwa mengalami pembelajaran yang benar. Focus

penilaian adapada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual,

serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil. (Stiatava,

2013).

4. Keterampilan Proses Sains

Keterampilan proses sains merupakan wujud sains sebagai proses.dalam

pembelajaran sains, sangatlah penting untukmembentu pebelajar belajar

keterampilan proses sains atau inquiri skills untuk memecahkan masalah.


27

Saiful Prayogi. Dkk (2014) menyatakan bahwa, keterampilan proses

intelektual yang diharapkan dalam pembelajaran yang berorientasi pada sains

adalah : 1) membangun prinsip melalui induksi, 2) menjelaskan dan

meramalkan, 3) pengamatan dan mencatat data, 4) identifikasi dan

mengendalikan variable, 5) membuat grafik untuk menemukan hubungan, 6)

perancangan dan melaksanakan penyelidikan ilmiah, 7) menggunakan

tekhnologi dan matematika selama penyelidikan, 8) menggambarkan

simppulan dari bukti-bukti.

Jenis-jenis keterampilan proses sains serta indikatornya menurut

Rustaman dalam Saiful Prayogi,dkk (2014) sebagai berikut :

Tabel 2.2 Klasifikasi Keterampilan Proses Sains Dan Indikatornya


No Jenis keterampilan Indikator Kompetensi
1 Melakukan pengamatan a. Mengidentifikasi persamaan
(Observasi) dan perbedaan yang nyata
pada objek
b. Mencocokan gambar
dengan uraian tulisan atau
gambar/benda.
c. Menggunakan indra
penglihatan, pembau,
pendengar, pengecap, dan
peraba.
d. Menggunakan fakta yang
relevan dan memadai.
2 Menafsirkan pengamatan a. Mencatat hasil pengamatan.
b. Menghubung-hubungkan
hasil pengamatan.
c. Menemukan pola atau
keteraturan dari suatu seru
pengamatan
d. Menyimpulkan.
3 Mengelompokkan a. Mencari perbedaan
28

(kalasifikasi) b. Mengontraskan cirri-ciri.


c. Mencari kesamaan
d. Membandingkan
e. Mencari dasar
penggolongan.
4 Meramalkan (prediksi) a. Mengajukan perkiraan
tentang sesuatu yang belum
terjadi berdasarkan suatu
kecendrungan atau pola
yang sudah ada.
5 Berkomunikasi a. Membaca grafik,tabel, atau
diagram.
b. Menjelaskan hasil
percobaan.
c. Menyusun dan
menyampaikan laporan
sistematis dan jelas.
6 Berhipotesis a. Menyatakan hubungan
antara dua variable atau
memperkirakan penyebab
terjadinya sesuatu.
7 Merencanakan percobaan a. Menentukan alat dan bahan.
b. Menentukan variable atau
perubah.
c. Menentukan variable
control atau variable bebas
d. Menentuukan apa yang
akan diamati, diukur, atau
ditulis.
e. Menentukan cara dan
langkah kerja.
f. Menentukan cara mengolah
data.
8 Menerapkan konsep a. Menjelsakan suatu
peristiwa dengan
menggunakan konsep yang
sudah dimiliki.
b. Menerapkan konsep yang
baru yang telah sipelajari
dalam situasi yang baru.
9 Mengajukan pertanyaan a. Bertanya untuk meminta
penjelasan.
29

b. Pertanyaan yang dilakukan


dapat meminta penjelasan
tentang apa, bagaiman
ataupun menanyakan latar
belakang hipotesis.
10 Menggunakan alat dan bahan a. Mengetahui mengapa
menggunakan alatdan
bahan.
b. Mengetahui bagaimana
menggunakan alat dan
bahan.

5. Hasil Belajar

Hasil adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,

diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Sedangkan belajar

adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan

sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Jadi, hasil belajar adalah

prestasi yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan

dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.

Sehubungan dengan hal tersebut, S. Blom dan kawan-kawan dalam

Bakhtiar Ardiansyah (2013), berpendapat bahwa, taksonomi (pengelompokan)

tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain

yang melekat pada diri peserta didik yaitu : 1) ranah proses berfikir (cognitive

domain), 2) ranah nilai atau sikap (affective domain), 3) ranah keterampilan

(psykomotor domain).

1) Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang menyangkut kegiatanmental (otak).

Meneurut Bloom dalam Bakhtiar Ardiansyah (2013) segala upaya yang


30

menyangkut aktivitas otak termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah

kognitif terdapat enam jenjang proses berfikir,mulaidari jenjang terendah

sampai jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang yang dimaksud adalah :

a. Pengetahuan, sesorang dikatakan memiliki pengetahuan kalau ia

mengenal kembali suatu proses, pola, atau struktur perangkat.

b. Pemahaman maksudnya, kemampuan seseorang untuk mengerti atau

memahami sesuatu setelah itu diketahui dan diingat..

c. Penerapan maksudnya, kessanggupan sesorang untuk menerapkan atau

menggunakan ide-ide umum, tatacara ataupun metode-metode, prinsip,

rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan

konkrit.

d. Analisis maksudnya, kemampuan seseorang untuk merinci atau

menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang

lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian

atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor yang lainnya.

e. Sintesis maksudnya, kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan

dari proses berfikir analisis.

f. Evaluasi merupakan kemampuan sesorang untuk membuat

pertimbangan terhadap suatu situasi,nilai atau ide.

2) Aspek Psikomotor

Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan denga keterampilan

atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman


31

belajar tertentu. Aspek psikomotor diklasifikasikan menjadi 5 kelompok,

yaitu :

a. Persepsi adalah kegiatan yang dilakukan dengan alat indra.

b. Kesiapan maksudnya mengatur kesiapan diri sebelum melakukan

suatu tindakan untuk mencapai suatu tujuan.

c. Respon terarah adalah bertindak dengan mengikuti prosedur tertentu.

d. Bertindak manis adalah menurut suatu kebiasaan melakukan suatu

kegiatan dengan kelancaran, kemudahan serta ketepatan tindakan

untuk mencapai suatu tujuan.

e. Respon komplek adalag suatu tindakan yang didukung oleh suatu

keahlian sehingga menunjukkan kemahiran / keterampilan tingkat

tinggi.

6. Larutan Penyangga

Banyak larutan yang pH-nya sukar berubah jika kedalam larutan

tersebut ditambahkan sejumlah kecil asam atau basa, Darah manusia adalah

salah satu contoh larutan penyangga yang pH-nya bertahan sekitar 7,4.

Larutan yang mampu mempertahankan pH itu disebut larutan penyangga

(Buffer). Contoh lain larutan yang bersifat larutan penyangga adalah air laut.

Jika dibandingkan dengan air murni, maka penambahan 0.1 mL HCl 1 M (10-4

mol HCL) kedalam air murni dan air laut yang mempunyai volume yang sama

yakni 100 mL, pH air murni berubah pH-nya 4 satuan pH yakni dari 7

menjadi 3, sedangkan pH air laut hanya berubah 0.6 satuan pH.


32

A. Komponen Larutan Penyangga

Larutan penyangga yang disebut juga buffer dapat dibedakan

menjadi larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa.

Larutan penyangga asam

Larutan penyangga asam dibuat dengan jalan mencampur asam

lemah dengan basa konjugasinya yang berasal dari garamnya.

Contoh :

- CH3COOH dengan NaCH3COO (basa konjugasinya

CH3COO-)

- HCN dengan KCN(basa konjugasinya CN-)

pH larutan penyangga asam dapat ditentukan dengan

perhitungan berdasarkan reaksi kesetimbangannya.

CH3COOH CH3COO- + H+

[3 ][ + ]
Ka = [3 ]

Penyusunan ulang terhadap persamaan Ka ini menghasilkan

persamaan yang dapat dipakai untuk menghitung konsentrasi H+.

[ ]
[H+] = Ka [3 ]
3

Ingat pH = -log [H+]

pOH = -log [OH-]

pKa = -log Ka

Jadi, pH larutan penyangga dapat dicari dengan persamaan :


33

[]
-log [H+] = -log Ka log [ ]

[ ]
pH = pKa + log []

Larutan penyangga basa

Larutan penyangga basa adalah campuran basa lemah dengan

basa lemah dengan asam konjugasi yang berasal dari garamnya.

Contoh :

- NH4OH dengan NH4Cl (asam konjugasinya NH4+)

- NH3 dengan (NH4)2SO4 (asam konjugasinya NH4+).

pH larutan penyangga basa dapat ditentukan melalui reaksi

kesetimbangannya yaitu :

NH3(aq) + H2O(l) NH4+(aq) + OH-(aq)

[4 + ][ ]
Kb = [3 ]

[ ]
[OH-] = Kb [ 3+]
4

[]
-log [OH-] = -log Kb log [ ]

[]
pOH = pKb + log [ ]

atau


pOH = pKb + log

[]
pH = 14 - pKb + log [ ]
34

B. Kegunaan Larutan Penyangga

Umumnya reaksi-reaksi biokimia yang terjadi dalam tubuh makhluk

hidup berlangsung pada pH tertentu. Oleh karena itu cairan tubunh harus

merupakan larutan penyangga, agar pH-nya tetap konstan ketika reaksi

metabolism berlangsung (Sensus Mulya Setia, 2006).

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Sebelum penelitian ini sudah ada juga penelitian-penelitian sebelumnya

yang sudah meneliti tentang hal yang sama yaitu tentang model inkuiri

terbimbing serta pendekatan kontekstual sebagaimana pada tabel 3.2.

Tabel 2.3 Daftar Penelitian Yang Relevan Terkait dengan Judul Penelitian
Yang Diangkat
No Peneliti Hasil Penelitian
1 M. Ahyar Rosidi (2008) Dengan menggunakan model inkuiri
terbimbing dapat meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa serta siswa aktif
dalam proses pembelajaran.
2 Laila Turrahma (2010) Dengan menggunkan metode inkuiri
terbimbing dapat meningkatkan
keterampilan proses sains siswa.
3 Anggun Nopitasari, Meti Terdapat perbedaan pemahaman konsep
Indrowati (2012) dan kinerja ilmiah antara siswa yang
dibelajarkan dengan model inkuiri
terbimbing dengan pembelajaran langsung.
4 Ibrahim (2013) Penerapan pendekatan kontekstual dapan
mneingkatkan hasil belajar pendidikan
kewarganegaraan siswa kelas IV SD.
5 Bakke MM dan Igharo Siswa yang dibelajarkan dengan inkuiri
OK (2013) terbimbing lebih baik pencapaian dalam
materi logika dari pada siswa yang
dibelajarkan dengan metode konvensional.
35

C. Kerangka Berfikir

Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) yang mempelajari tentang susunan, sifat, perubahan materi, serta energi

yang menyertai perubahan tersebut. Berdasarkan dari hasil wawancara guru dan

siswa yang telah peneliti lakukan di SMAN 1 pringgasela bahwa materi yang

dianggap sulit adalah materi hitung-hitungan yakni materi larutan penyangga,

dimana materi dalam larutan penyangga memiliki karakteristik yang multi

kompleks sehingga sulit untuk dipahami oleh siswa. Selain itu berdasarkan dari

hasil observasi nilai MID semester ganjil siswa kelas XI SMAN 1 pringgasela

masih rendah. Hal itu disebabkan karena siswa kurang memahami konsep,

kurangnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, selain itu rendahnya hasil

belajar kognitif yang diperoleh oleh siswa kelas XI SMAN 1 Pringgasela

disebabkan karena lemahnya proses pembelajaran dimana guru tidak pernah

mengukur keterampilan proses sains siswa.

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan

proses dan hasil belajar siswa yaitu yang dengan memilih model pembelajaran

yang menekankan keaktifan pada diri siswa. Adapun salah satu model

pembelajaran yang dianggap efektif meningkatkan keterampilan proses sains dan

hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan model inkuiri terbimbing dengan

pendekatan kontekstual.
36

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang sifatnya sementara

terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian (Yatim Riyanto, 2007).

Berdasarkan dari latar belakang, kajian teori, dan kerangka berfikir maka,

hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Penerapan model inkuiri terbimbing dengan pendekatan kontekstual pada

materi larutan penyangga dapat meningkatkan keterampilan proses sains

siswa.

2. Ada pengaruh pembelajaran model inkuiri terbimbing dengan pendekatan

kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga.


37

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

1. Jenis Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, sebagaimana yang telah dirumuskan

dalam pendahuluan, penelitian ini menggunakan rancangan jenis penelitian

eksperimen. Hal senada diungkapkan oleh Sugiyono (2010) menyatakan

bahwa, penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai motode penelitian

yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang

lain dalam kondisi yang terkendalikan.

Terkait dengan hal tersebut telah dijelaskan oleh Sukardi (2003)

menyatakan bahwa, dalam penelitian eksperimen variabel-variabel yang

ada termasuk variabel bebas dan variabel terikat, sudah ditentukan oleh

peneliti sejak awal penelitian. Adapun jenis penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah quasi experimental. Dimana Quasi

Experimental merupakan pengembangan dari true experimental, yang sulit

dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat

berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-bariabel luar yang

mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.


38

2. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah posttest only

control group design. Dimana dalam penelitian ini kelompok eksperimen

diberi perlakuan dengan menggunkana model pembelajaran inkuiri

terbimbing berbasis pendekatan kontekstual sedangkan kelompok kontrol

tidak diberi perlakuan. selanjutnya setelah perlakuan diberikan kedua

kelompok diberikan tes sebagai postets. Dimana hasil posttest kelas

eksperimen dan kelas kontrol dianalisis untuk melihat ada tidaknya

pengaruh dari perlakuan yang diberikan. Adapun desain penelitian ini dapat

digambarkan sebagaimana pada tabel 3.1.

Tabel 3.1. Posttest Only Control Group Design


Kelompok Perlakuan Tes Akhir
Eksperimen X O1
Kontrol Y O2
Sumber : Sugiyono, 2010.

Keterangan :

O1 : Post-test diberikan kepada kelas kontrol setelah dibelajarkan


dengan menggunakan model inkuiri terbimbing dengan
pendekatan kontekstual
O2 : Post-test diberikan kepada kelas kontrol setelah dibelajarakan
dengan metode konvensional dengan praktikum sederhana.
X : Dibelajarkan dengan model inkuiri terbimbing dengan
pendekatan kontekstual
Y : Dibelajarkan dengan metode konvensional dengan praktikum
sederhana.

Berdasarkan desain penelitian diatas maka bagan atau alur penelitian

ini secara umum dapat dilihat pada gambar 3.1.


39

Populasi

Cluster random
sampling

Sampel

Kelas Kontrol Kelas Eksperimen

Penggunaan metode Penggunaan model


konvensional inkuiri terbimbing
berbasis pendekatan
kontekstual
KPS KPS

Posttest Hasil Posttest Hasil


Belajar Belajar

Data

Analisis Data

Gambar :3.1 Bagan Rancangan Penelitian

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006).

Sejalan dengan itu Sugiyono (2010) menyatakan bahwa, populasi diartikan

sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai


40

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan pengertian

diatas populasi yang peneliti maksudkan disini adalah semua kelas XI

SMAN 1 Pringgasela yang berjumlah 60 siswa, dimana kelas XI IPA 1

berjumlah 30 siswa dan kelas XI IPA 2 berjumlah 30 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Bila jumlah

populasi kurang dari 100, maka populasi tersebut sekaligus sebagai sampel

(Arikunto, 2006). Oleh karena kedua sampel berhak untuk dijadikan kelas

eksperimen maka teknik pengambilan sampel menggunkan cluster random

sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara acak pada kelompok

(cluster) populasi yang homogen.

Berdasarkan uji homogenitas melalui nilai UTS sebelumnya dapat

diperoleh bahwa kelas XI yang berjumlah 2 kelas bersifat homogen,

sehingga untuk penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan

secara acak dengan sistem undian.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti

dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih

baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diolah.

Instrumen dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu instrumen perlakuan

dan instrumen pengukuran.


41

1. Instrumen Perlakuan

Instrumen perlakuan merupakan alat yang digunakan untuk

memberikan suatu tindakan perlakuan. Dalam penelitian ini, instrumen

perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata

pelajaran yang mencakup kompetensi inti, kompetensi dasar, materi

pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan

sumber belajar (lampiran 1).

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah persiapan dalam

pelaksanan proses belajar mengajar dikelas yang dilakukan oleh guru

sesuai dengan silabus. Adapun RPP atau persiapan proses belajar

mengajar yang peneliti lakukan pada siswa baik kelas eksperimen

maupun kelas kontrol. Untuk kelas eksperimen digunakan RPP yang

disusun berdasarkan model yang diterapkan oleh peneliti yaitu inkuiri

terbimbing berbasis pendekatan kontekstual. Sedangkan RPP kelas

kontrol disusun berdasarkan model yang biasa diterapkan oleh guru yaitu

model konvensional dengan praktikum sederhana (lampiran 2).

c. Lembar Kerja Siswa

Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam penelitian ini menggunakan

LKS yang membahas tentang larutan penyangga (lampiran 7).


42

2. Instrumen Pengukuran

Instrumen pengukuran adalah alat yang digunakan untuk mengukur

pengaruh dari perlakuan yang diberikan. Instrumen pengukuran dalam

penelitian ini meliputi instrumen pengukuran keterampilan proses sains dan

instrumen hasil belajar.

a. Instrumen Keterampilan Proses Sains

Instrumen keterampilan proses sains yang digunakan dalam

penelitian ini adalah lembar observasi. Ada dua jenis lembar observasi

yang peneliti gunakan yaitu lembar observasi kegiatan 1 untuk

menentukan sifat dari larutan penyangga serta lembar observasi

kegiatan2 untuk menentukan ciri khas larutan penyangga serta pH larutan

penyangga (lampiran 10).

Berdasarkan dari lampiran 10, alat observasi keterampilan proses

sains dalam bentuk check List (). Alat tersebut berisikan serangkaian

daftar kejadian penting yang akan diamati. Ketika pengamatan

berlangsung, Observer secara objektif memilih dengan cepat dan

memberi tanda check list () pada daftar kejadian. Alat ini dapat

digunakan dalam jenis pengamatan yang bertujuan untuk merefleksikan

perilaku tanpa diketahui oleh responden yang bersangkutan.

Sebelum Instrumen digunakan sebagai alat ukur penelitian,

dilakukan juga uji validitas oleh ahli untuk mengetahui kelayakan

instrumen KPS. Pada tahap ini instrumen validasi yang telah disusun oleh
43

peneliti diperikasa oleh ahli. Tahap ini bertujuan untuk menilai apakah

item yang ada dalam instrument telah sesuai dengan aspek isi dan aspek

kebahasaan.

Validitas alat ukur ini diperoleh melalui kegiatan penilaian dari

ahli, dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut :


= 100 %

Keterangan :

P = Persentase kelayakan
X = Jumlah skor total yang diperoleh
Xi = Jumlah total skor maksimal
Adapun kriteria kelayakan intrumen keterampilan proses sains

dapat dilihat sebagaimana pada tabel 3.2.

Tabel 3.2. Kriteria Kelayakan Instrumen KPS


Persentase Hasil
Tingkat Kelayakan
Pensekoran
76 100 Sangat layak, tanpa revisi
51 75 Layak,sedikit revisi
26 50 Kurang layak, banyak revisi
0 25 Tidak layak, revisi total
(Diadaptasi dari Sugiono, 2012).

Validasi alat ukur ini dilakukan oleh seorang validator sebanyak 2

kali, sebagaimana pada tebel 3.3.


44

Tabel 3.3. Hasil Validasi Instrumen KPS


No Persentase
Materi Validator Kategori
Kelayakan
1 Sifat larutan
penyangga Layak,tanpa
Hulyadi, M.Pd 83.3 %
pH larutan revisi
penyangga
2 Sifat larutan
penyangga Layak, tanpa
Hulyadi, M.Pd 100 %
pH larutan revisi
penyangga

b. Instrumen Tes.

Instrumen tes adalah seperangkat alat yang dimaksudkan untuk

mengukur ketercapaian kompetensi pembelajaran yang telah

direncanakan sebelumnya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tes

obyektif yaitu tes yang disusun dimana setiap pertanyaan disediakan 5

pilihan jawaban dan hanya satu jawaban yang harus dipilih.

Soal-soal tersebut diujikan pada kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol. Skor untuk masing-masing jawaban adalah jawaban

benar skornya 1 (satu) dan jawaban salah skornya 0 (nol). Dalam

penelitian ini tes disusun dari materi pembelajaran yang telah diajarkan

pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk mengetahui bagus

tidaknya suatu tes, maka perlu dilakukan uji coba terlebih dahulu, yaitu

uji validitas, uji reliabilitas, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda.
45

a. Uji validitas

Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa, validitas adalah derajat

ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data

yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Untuk mengetahui valid

tidaknya soal tersebut digunakan rumus product moment dengan

bantuan program SPSS versi 13.0 for windows. Soal dikatakan valid

jika pearson Correlation yang diperoleh lebih besar nilai rtabel.

Berdasarkan hasil uji validitas intrumen dengan bantuan

program SPSS versi 13.0 for windows, dari soal yang awalnya

sebanyak 24 soal, setelah di uji validitasnya didapatkan soal yang

valid sebanyak 14 soal (lampiran 15).

b. Uji Reliabilitas

Reliabelitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas

data atau temuan (Sugiyono, 2010). Uji reliabelitas dilakukan setelah

diperoleh hasil akhir penyebaran instrumen. Untuk mengetahui

tingkat reliabelitas soal tersebut dapat dihitung dengan menggunkan

uji reliabelitas alpha cronbachs dengan program SPSS versi 13.0 for

windows. Adapun kriteria untuk reliabelitas instrument sebagaimana

pada tabel 3.4.


46

Tabel 3.4. Kriteria Reliabelitas Instrumen


Batasan Koefisien Reliabelitas
Kriteria
(r)
0.0 < r 0.20 Sangat rendah
0.20 < r 0.40 Rendah
0.40 < r 0.60 Sedang
0.60 < r 0.80 Tinggi
0.80 < r 1.00 Sangat tinggi
(I Made Candiasa, 2011).
Berdasarkan analisis data uji reliabelitas instrument dengan

bantuan program SPSS versi 13.0 for window, didaptkan nilai alpha

sebesar 0.729 oleh karena nilai alpha lebih besar dari taraf

signifikansi yang telah ditetapkan yakni = 0.05, dengan demikian

intrumen tersebut memiliki relibelitas tinggi (lampiran 17).

c. Tingkat kesukaran soal

Tingkat kesukaran soal adalah proporsi siswa yang menjawab

benar. Tingkat kesukaran soal berkisar dari 0 s/d 1. Makin besar

tingkat kesukaran makin mudah soal tersebut, begitu sebaliknya

makin kecil tingkat kesukaran maka makin sukar soal tersebut. Dan

untuk menghitung tingkat kesukarannya digunakan rumus sebagai

berikut:


TK =

47

Keterangan:

TK = Tingkat Kesukaran

JB = banyak siswa yang menjawab betul

n = banyak siswa.

Tingkat kesukaran soal biasanya dibagi tiga kategori yaitu soal

sukar, soal sedang, dan soal mudah. Berikut ini kriteria kesukaran

soal.

Tabel 3.5. Kriteria Tingkat kesukaran


Tingkat Kesukaran Kategori
TK < 0.3 Sukar
0.3 TK 0.7 Sedang
TK > 0.7 Mudah
(Chairunisyah Sahidu, 2013).
Berdasarkan hasil analisis tingkat kesukaran soal pada tebel

berikut menunjukkan klasifikasi soal berdasarkan proporsi tingkat

kesukaran soal.

Tabel 3.6. Klasifikasi Soal Berdasarkan Tingkat kesukaran.


Kategori Jumlah Soal
Sukar 1
Sedang 23
Mudah 0
(lampiran 20 dan21).
d. Daya Pembeda

Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana

suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah

menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum menguasai


48

kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Untuk menghitung daya

pembeda digunakan rumus sebagai berikut :

DP = PA - PB

Keterangan :

DP = Daya pembeda

PA = Proporsi siswa kelompok atas yang menjawab benar butir soal,

dengan rumus sebagai berikut :


PA =

BA = Banyak siswa yang menjawab benar dari kelompok atas.

JA = Jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok atas.

PB = Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar butir

soal, dengan rumus sebagai berikut :


PB =

BB = Banyak siswa kelompok bawah yang menjawab benar.

JB = Jumlah siswa yang termasuk kelompok bawah.

Menurut kriteria yang berlaku di pusat penilaian pendidikan

soal yang baik atau yang diterima bila memiliki daya pembeda soal

di atas 0.25 karena soal tersebut dapat membedakan kelompok siswa

yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. Berikut ini

kriteria daya pembeda soal.


49

Tabel 3.7. Kriteria Daya Pembeda


Daya Pembeda Keterangan
< 0.20 Tidak baik
0.20 - 0.40 Sedang
0.40 - 0.70 Baik
0.70 - 1.00 Sangat Baik
< 0.00 Jelek
(Anas Sudijono, 2011).

Berdasarkan hasil perhitungan daya pembeda soal, pada tebel

berikut menunjukkan klasifikasi soal berdasarkan proporsi daya

pembeda soal.

Tabel 3.8. Klasifikasi Soal Berdasarkan Proporsi Daya pembeda


Kategori Jumlah Soal
Tidak baik 5
Sedang 6
Baik 10
Sangat Baik 1
Jelek 2
(Lampiran 22).
D. Teknik Pengumpulan Data

Tekhnik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam

penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Adapun

jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :

1. Data Keterlaksanaan Pembelajaran

Pada penelitian ini, untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran akan

dilakukan dengan observasi. Observasi keterlaksanaan rencana pelaksanaan

pembelajaran yang telah disusun sehingga dapat mengontrol segala kegiatan

yang akan dilaksanakan dan dijadikan sebagai refleksi untuk pertemuan


50

selanjutnya. Data yang diperoleh berupa hasil observasi keterlaksanaan

kegiatan pembelajaran yang diisi oleh observer.

2. Data Keterampilan Proses Sains

Data keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen dan kelas

kontrol didapatkan dari hasil praktikum larutan penyangga dengan

menggunakan 2 jenis lembar observasi yaitu lembar observasi kegitan 1 untuk

menentukan pH larutan penyangga dan lembar observasi kegitan 2 untuk

menetukan pH dari larutan penyangga.

3. Data Hasil Belajar Kognitif

Cara pengambilan data dilakukan dengan memberikan soal-soal bentuk

tes obyektif pada materi larutan penyangga yang sudah dibahas sebelumnya

pada kelas eksperimen dan kontrol.

E. Teknik Analisis Data

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai data pada masing-

masing variabel, serta untuk menguji hipotesis penelitian, terlebih dahulu

dilakukan analisis data.

1. Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran

Untuk mengetahui sejauh mana rancangan pembelajaran yang telah

disiapkan tercapai pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peneliti

mengukurnya dengan menggunakan lembar keterlaksanaan RPP. Untuk

mengetahui presentase ketercapaian keterlaksanaan RPP digunakan rumus

sebagai berikut :
51


= 100 %

Keterangan :

A = Persentase keterlaksanaan pembelajaran

X = Skor kegiatan pembelajaran oleh guru

i = Skor total

Persentasi keterlaksanaan RPP di kelompokkan dalam lima kategori.

Kategori keterlaksanaan RPP dapat dilihat sebagaimana pada tabel 3.9.

Tabel 3.9. Kategori Keterlaksanaan RPP


Skor Kategori
76% - 100% Sangat baik
56% - 75% Baik
40% - 55% Cukup baik
21% - 39% Cukup
0% - 20% Kurang baik
(Mawarsari, dkk. 2013).

2. Analisis Data Keterampilan Proses Sains

Karena data hasil observasi berupa data kualitatif, sehingga analisis

data yang digunakan berupa analisis deskriptif yang digunakan untuk

menganalisis hasil dari data untuk penilaian Keterampilan Proses Sains. Hal-

hal yang perlu diteliti pada keterampilan proses ini ialah hal-hal mengenai

tingkah laku. Sehingga penilaiannya tidak akan berbentuk statistik,

melainkan berbentuk data. Data itu berupa sangat baik, baik, cukup baik, dan

tidak baik. Untuk mengetahui persentase ketercapaian kemampuan

keterampilan proses sain digunakan rumus sebagai berikut :


52


= 100 (Chaerunisyah S, 2013).

Persentasi keterampilan proses sains di kelompokkan dalam lima

kategori. Kategori keterampilan proses sains dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.10. Kategori Keterampilan Proses Sains


Kategori Skor
Baik 76 % -100 %
Cukup Baik 56 % - 75 %
K urang Baik 40% - 55%
Tidak baik Skor < 40 %
(Widayanto, 2009).

3. Analisis Data Hasil Belajar

Dalam penelitian ini data yang dianalisis adalah hasil belajar siswa.

Tekhnik analisis data yang digunakan adalah uji-t. Sebelum melakukan uji

hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas

sebagai prasyarat uji hipotesis.

a. Uji Normalitas

Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, maka terlebih dahulu

dilakukan pengujian normalitas data dengan menggunakan program SPSS

versi 13.0 for windows. Data dikatakan normal jika taraf signifikansi yang

diperoleh lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yakni

= 0,05.
53

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas data ini ialah untuk mengetahui kesamaan antara

dua keadaan atau populasi. Homogenitas dilakukan dengan melihat

keadaan homogen populasi. Uji homogenitas yang digunakan dengan

menggunakan uji levens berbantuan program SPSS versi 13.0 for

windows. Populasi dikatakan homogen jika taraf signifikansi yang

diperoleh lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yakni

= 0,05.

c. Uji Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang sifatnya sementara

terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian (Yatim Riyanto,

2007). Berdasarkan hal tersebut diatas maka hipotesis dalam penelitian ini

yaitu:

Ha : Ada pengaruh model inkuiri terbimbing berbasis pendekatan

kontesktual terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan

penyangga.

Ho : Tidak ada pengaruh model inkuiri terbimbing berbasis

pendekatan kontesktual terhadap hasil belajar siswa pada materi

larutan penyangga.

Adapun untuk menguji hipotesis tersebut dengan menggunakan rumus

uji-t berbantuan program SPSS versi 13.0 for windows. Hipotesis


54

alternatif (Ha) dikatakan diterima jika taraf signifikasni yang diperoleh

lebih kecil dari taraf signifikasni yang telah ditetapkan yakni =0,05.
55

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan dari tanggal 9 Februari sampai dengan tanggal

27 Februari pada kelas XI di SMAN 1 Pringgasela Kabupaten Lombok Timur

tahun pelajaran 2014/2015. Dengan menggunakan sampel siswa kelas XI IPA

1 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 30 orang dan kelas XI IPA 2

sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 30 orang. Fokus penelitian yang

dilakukan adalah mengetahui pengaruh model inkuiri terbimbing berbasis

pendekatan kontekstual terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar

siswa pada materi larutan penyangga. Data kemampuan awal siswa diuji

menggunakan bantuan program SPSS Versi 13.0 for windows.

2. Uji Kemampuan Awal

Sebelum melaksanakan penelitian dilakukan analisis kemampuan awal

keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa. Dimana kemampuan awal

yang diperoleh sekaligus dapat menentukan kelas mana yang akan dijadikan

sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol, untuk mengetahui kemampuan

awal siswa dalam hal ini, peneliti mengambil nilai keterampilan proses sains

pada submateri kekuatan asam dan data hasil belajar siswa diperoleh dari nilai
56

MID siswa semester ganjil kelas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2 tahun pelajaran

2014/2015 sebagai berikut.

a. Keterampilan Proses Sains

Cara mengukur kemampuan awal pada keterampilan proses sains

menggunakan lembar observasi. Dimana terdiri dari 3 aspek yaitu aspek

keterampilan dasar, aspek mengolah/memproses, dan aspek keterampilan

menginvestigasi. Untuk mengetahui kemampuan awal dari keterampilan

proses sains antara kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 apakah bersifat homgen

atau tidak, dilakukan dengan menggunkan uji Levene berbantuan program

SPSS versi 13.0 for windows. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada

tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Kemampuan Awal KPS


F df1 df2 Sig.

.139 1 55 .711

Berdasarkan tabel diatas nilai signifikansi yang diperoleh antara kelas

XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2 sebesar 0.711, oleh karena nilai signifikansi

yang diperoleh lebih besar dari nilai signifikansi yang telah ditetapkan

yakni = 0.05, maka kedua sampel tersebut homogen.

b. Hasil Belajar

Bardasarkan dari nilai MID semester sebelumnya, analisis untuk

mengetahui sebaran data kemampuan awal hasil belajar yang dimiliki oleh

siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 dilakukan uji normalitas, homogenitas


57

dan uji beda (uji-t) dengan berbantuan program SPSS Versi 13.0 for

windows.

1) Uji Normalitas

Uji normalitas data kelas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2

dilakukan dengan menggunakan uji one-samples kolmogorov-smirnov

test berbantuan program SPSS versi 13.0 for windows, didapatkan

hasil seperti pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Awal Hasil Belajar


Siswa
Hasil Belajar Hasil Belajar
XI IPA 1 XI IPA 2
N 30 30
Normal Mean
54.87 57.97
Parameters(a,b)
Std.
19.718 19.315
Deviation
Most Extreme Absolute
.123 .116
Differences
Positive .110 .116
Negative -.123 -.104
Kolmogorov-Smirnov Z .673 .633
Asymp. Sig. (2-tailed) .755 .817

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh nilai signifikansi dari kedua

kelas lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yakni

=0.05, sehingga dapat dikatakan data tersebut berdistribusi normal.

2) Uji Homogenitas

Untuk mengetahui homogenitas dari kedua kelas dapat

dihitung dengan menggunkan uji levenes berbantuan program SPSS


58

vesi 13.0 for windows. Hasil uji homogenitas dapat dilihat

sebagaimana pada tabel 4.3.

Table 4.3. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Kemampuan Awal


F df1 df2 Sig.

.155 1 58 .695

Berdasarkan dari tabel diatas didapatkan nilai signifikansi antara

kelas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2 sebesar 0,695, oleh karena nilai

signifikansi yang diperoleh lebih besar dari taraf signifikasi yang telah

ditetapkan yakni = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa kedua

sampel tersebut homogen.

3) Uji Beda (Uji-t)

Uji beda dilakukan untuk melihat perbedaan kemampuan awal

siswa antara kelas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2. Uji beda dapat

dilakukan dengan menggunakan uji independent samples t-test

berbantuan program SPSS versi 13.0 for windows. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.4


59

Tabel 4.4 Uji-t Kemampuan Awal Hasil Belajar Siswa


Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Mea
Sig. Std. Confidence
n
(2- Error Interval of
F Sig. t df Diffe
taile Differe the
renc
d) nce Difference
e
Low Upp
er er
Kema- Equal
mpuan variances .155 .695 -.615 58 .541 -3.10 5.039 -13.1 6.98
Awal assumed
Equal
variances
-.615 57.9 .541 -3.10 5.039 -13.1 6.98
not
assumed

Berdasarkan dari tabel diatas, diperoleh taraf signifikasni lebih

besar dari 0.05, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan

kemampuan awal siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Berdasarkan dari analisis kemampuan awal keterampilan proses

sains dan hasil belajar siswa, didapatkan kedua sampel memiliki

kemampuan awal yang sama. Sehingga penentuan kelas eksperimen dan

kelas kontrol dipilih secara acak dengan sistem undian, dimana kelas XI

IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 30 siswa dan kelas XI

IPA 2 sebagai kelas kontrol yang berjumlah 30 siswa.

3. Analisis Data Hasil Penelitian

Untuk mengetahui sejauh mana rancangan pembelajaran yang telah

disiapkan tercapai pada saat proses pembelajaran berlangsung, peneliti juga

mengukurnya dengan menggunakan lembar keterlaksanaan RPP, kemudian


60

dilanjutkan dengan mengukur keterampilan proses sains dan hasil belajar

siswa yang ditunjukkan oleh data dibawah ini.

a. Analisis Data Keterlaksanaan RPP

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan semua

langkah pembelajaran diatur dalam RPP untuk mengetahui sejauh mana

keterlaksanaan RPP, direkam dalam lembar observasi dan didapatkan

hasil seperti pada table 4.5.

Tabel 4.5. Hasil Perhitungan Keterlaksanaan Pembelajaran


Skor Setiap
Skor Kategori
Kelas Pertemuan (%)
Rata-Rata Terlaksana
I II
Sangat
Eksperimen (XI IPA 1) 85.7 % 100 % 92.8%
Baik
Sangat
Kontrol (XI IPA 2) 77.8 % 100 % 88.9 % Baik

Berdasarkan hasil perhitungan keterlaksanan RPP kelas eksperimen

selama dua kali pertemuan didapat nilai rata-rata keterlaksanaan RPP

sebanyak 92.8% dengan katagori sangat baik, sedangkan pada kelas

kontrol memiliki nilai rata-rata 88.9% dengan katagori sangat baik.

b. Analisis Keterampilan Proses Sains

Setelah dilakukan perhitungan analisis deskriptif terhadap hasil

observasi keterampilan proses, ternyata siswa yang diajarkan dengan

menggunakan model inkuiri terbimbing berbasis pendekatan kontekstual

lebih baik dari pada siswa yang diajarkan dengan model konvensional.

Hal tersebut dapat diketahui dari hasil analisis data yang menunjukkan
61

bahwa hasil keterampilan proses siswa kelas eksperimen (yang diajarkan

dengan model inkuiri terbimbing berbasis pendekatan kontekstual)

memperoleh nilai sebesar 80.1%, Sedangkan kelas kontrol hanya

memperoleh nilai sebesar 70.6%. Untuk dapat mengetahui perbedaannya

dengan jelas dapat dilihat sebagaimana pada tabel 4.6.

Tabel 4.6. Hasil Keterampilan Proses Sains


Hasil Keterampilan
Kelas Kriteria
Proses Sains
Eksperimen ( XI IPA1 ) 80.1% Baik
Kontrol ( XI IPA2 ) 70.6% Cukup Baik

Pada tabel tersebut terlihat bahwa kelas eksperimen memiliki nilai

keterampilan proses sains lebih tinggi dibandingkan dengan nilai

keterampilan proses yang didapatkan kelas kontrol. Sehingga diperoleh

kriteria keterampilan proses, dimana kelas eksperimen mendapatkan

kriteria baik sedangkan kelas kontrol cukup baik lebih lanjut dapat dilihat

pada lampiran 23.

c. Analisis Hasil Belajar

Data hasil belajar tersebut diperoleh dari nilai hasil post-tes pada

materi pokok larutan penyangga. Pengambilan data tersebut menggunkan

instrument penelitian berupa tes objektif yang terdiri dari 14 soal yang

sudah diuji validitas, reliabelitas, tingkat kesukaran dan daya beda soal

untuk lebtih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 15-22.


62

Setelah diperoleh data dari masing-masing kelompok, maka dapat

dilanjutkan pengujian hipotesisnya, akan tetapi sebelum dilakukan

pengujian hipotesis terlebih dahulu perlu dilakukan uji normalitas dan uji

homogenitas.

1) Uji Normalitas

Pada uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji One-

Sample Kolmogorov-Smirnov Test berbantuan program SPSS versi

13.0 for windows didapatkan hasil seperti pada tabel 4.7.

Tabel 4.7. Hasil Perhitungan Uji Normalitas Hasil Belajar


Hasil Belajar Hasil Belajar
Eksperimen Kontrol
N 28 26
Normal Mean
71.79 63.62
Parameters(a,b)
Std.
10.394 14.060
Deviation
Most Extreme Absolute
.244 .239
Differences
Positive .244 .146
Negative -.220 -.239
Kolmogorov-Smirnov Z 1.293 1.217
Asymp. Sig. (2-tailed) .070 .103

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh nilai signifikansi dari kedua

kelas lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yakni

= 0.05, sehingga dapat dikatakan data tersebut berdistribusi normal.


63

2) Uji Homogenitas

Untuk mengetahui homogenitas dari kedua kelas dapat

dihitung dengan menggunakan uji Levenes berbantuan program SPSS

versi 13 for windows. Hasil uji homogenitas dapat dilihat

sebagaimana pada tabel 4.8.

Tabel 4.8. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas


F df1 df2 Sig.
5.197 1 52 .027

Berdasarkan tabel diatas nilai signifikansi dari kelas

eksperimen dan kelas kontrol sebesar 0.027. Nilai signifikasi yang

diperoleh lebih kecil dari taraf signifikasi yang telah ditetapkan yakni

0.05, dengan demikian kedua sampel tersebut tidak homogen.

3) Uji Hipotesis

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas,

selanjutnya untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri

tebimbing dengan pendekatan kontekstual dilanjutkan dengan uji-t

dengan bantuan program SPSS versi 13.0 for windows. Hasilnya dapat

dilihat sebagaimana pada tabel 4.9.


64

Tabel 4.9. Hasil Perhitungan Uji-t Untuk Hasil Belajar Siswa


Levene's Test
for Equality of t-test for Equality of Means
Variances
Std. 95% Confidence
Mean Interval of the
Sig. (2- Error
F Sig. T Df Differ Difference
tailed) Differ
-ence
-ence
Lower Upper

Hasil Equal
Belajar variances 5.197 .027 2.440 52 .018 8.170 3.348 1.452 14.889
assumed
Equal
variances
2.413 45.872 .020 8.170 3.385 1.355 14.985
not
assumed

Berdasarkan tabel diatas, untuk mengetahui hipotesis yang peneliti

ajukan diterima atau ditolak dapat dilihat pada kolom sig. Oleh karena nilai

signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari taraf signifikansi yang telah

ditetapkan yakni = 0.05, dengan demikian hipotesis nol (Ho) ditolak dan

hipotesis alternatif (Ha) diterima. Artinya ada perbedaan model inkuiri

terbimbing berbasis pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar siswa

pada materi larutan penyangga.

B. Pembahasan

Dalam proses belajar mengajar, metode mengajar merupakan hal yang

terpenting, sebab model pembelajaran merupakan faktor penunjang dalam

menyampaikan materi pelajaran, sehingga meningkatkan daya serap siswa

terhadap mata pelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan proses dan hasil

belajar siswa. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam memilih model yang
65

sesuai dengan materi pelajaran dan kondisi siswa akan sangat mempengaruhi

proses dan hasil belajar siswa, sebagiamana pembahasan berikut :

1. Keterampilan Proses Sains

Berdasarkan hasil analisis data keterampilan proses sains siswa yang

dilakukan menggunakan lembar observasi yang berisi indikatorindikator

keterampilan proses sains. Persentase keterampilan proses sains siswa kelas

XI IPA 1 (kelas eksperimen) yang menggunakan model inkuiri terbimbing

dengan pendekatan kontekstual sebesar 80.1% dengan kategori baik. Hal ini

disebabkan karena kelas eksperimen (kelas XI IPA 1) dibelajarkan dengan

model inkuiri terbimbing, dimana model tersebut memiliki beberapa

kelebihan diantaranya : a) dapat meningkatkan potensi intelektual siswa, hal

ini disebabkan karena siswa diberi kesempatan untuk mencari dan

menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan, b) belajar

melalui inkuiri, siswa dapat memahami konsep-konsep sains, dan c)

pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan demikian keterampilan proses

siswa dapat muncul dengan sendirinya. Hasil penelitian yang diperoleh

didukung oleh hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Laila

Turrahma (2010), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan model

inkuiri terbimbing dapat meningkatkan keterempilan proses sains. Penelitian

selanjutnya dilakukan oleh Tiara Pb dan Rusly H (2014) menyatakan bahwa,

keterampilan proses sains siswa dapat meningkat dengan menggunkan

model guided inquiry pada materi asam-basa. Adapun penelitian yang


66

dilakukan oleh Lorreta dan Victoria (2013) menyatakan bahwa, efektivitas

pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri terbimbing dapat

meningkatkan keterampilan proses sains.

Keterampilan proses sains yang diperoleh siswa kelas kontrol (kelas

XI IPA 2) yang dibelajarkan dengan metode konvensional sebesar 70.6%

dengan kategori cukup baik. Rendahnya persentase keterampilan proses

sains yang diperoleh oleh kelas kontrol disebabkan karena, metode yang

digunakan tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan

sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan, serta proses pembelajaran

yang tidak berpusat pada siswa sehingga keterampilan proses sains siswa

masih banyak yang tidak muncul. Untuk melihat perbandingan keterampilan

proses sains siswa yang diperoleh kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat

dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Perbandingan KPS di Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

15
18
15 20
9
15
10
7
4 10
5 1
5
0 0
Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah

Series1 Series1

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Berdasarkan dari gambar 4.1 diatas dapat dilihat bahwa, siswa yang

mendapat skor tertinggi pada kelas eksperimen lebih banyak dibandingkan


67

dengan siswa pada kelas kontrol, dan sebaliknya siswa yang mendapat skor

rendah lebih banyak dikelas kontrol dibandingkan kelas eksperimen. Dilihat

dari persentase keterampilan proses sains yang diperoleh siswa kelas

eksperimen (kelas XI IPA 1) lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol

(kelas XI IPA 2), dimana kelas eskperimen memperoleh 80.1% dengan

kategori baik sedangkan kelas kontrol memperoleh 70.6% dengan kategori

cukup baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Perbandingan Persentase Kelas Eksperimen dan Kela


Kontrol
85
Persentase

80
75
70
65
Eksperime Kontrol
n
KPS 80.1 70.6

Berdasarkan deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa model inkuiri

terbimbing dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan

keterampilan proses sains siswa pada materi larutan penyangga.

2. Hasil Belajar Siswa

Hasil analisis data untuk hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen

yang dibelajarkan dengan model inkuiri terbimbing berbasis pendekatan

kontekstual memperoleh nilai rata-rata sebesar 71,79. Sedangkan kelas

kontrol yang dibelajarkan dengan model konvensional memperoleh nilai

rata-rata sebesar 63,62. Tingginya nilai rata-rata yang diperoleh oleh kelas
68

eksperimen disebabkan karena dalam pembelajaran inkuiri terbimbing

berbasis pendekatan kontekstual siswa dituntut untuk berfikir kritis,

menemukan masalah dengan penalaran, serta membangun pengetahuan

sendiri. Dari pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis pendekatan

kontekstual siswa dapat mendapatkan pengetahuan dengan caranya sendiri

dengan bimbingan dari guru. Sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa

lebih tertanam dipikiran dan dapat lebih diingat oleh siswa. Hasil penelitian

yang diperoleh didukung oleh hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan

oleh M. Ahyar Rosidi (2008), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan

model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian

yang dilakukan oleh Bakke MM dan Igharo OK (2013) yang menyatakan

bahwa, siswa yang dibelajarakan dengan inkuiri terbimbing lebih baik

dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional.

Rendahnya hasil belajar siswa yang diperoleh oleh kelas kontrol

disebabkan karena, siswa masih terbiasa dengan model pembelajaran

sebelumnya dimana model yang digunkana tidak dapat menuntut siswa

untuk berfikir kritis serta tidak dapat membangun pengetahuan sendiri.

Berdasarkan hasil uji hiptesis pada materi larutan penyangga dengan

menggunkan rumus uji-t berbantuan program SPSS versi 13.0 for windows,

menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05. Dengan demikian terdapat

perbedaan model inkuiri terbimbing berbasis pendekatan kontekstual

terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga.


69

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan

sebagai berikut :

1. Tingkat keterampilan proses sain siswa pasca pembelajaran dengan model

inkuiri terbimbing berbasis pendekatan kontekstual lebih baik dari pada

metode konvensional. Hal ini terbukti dari peresentasi yang diperoleh dari

kelas eksperimen sebesar 80.1% sedangkan kelas kontrol sebesar 70.6%.

2. Ada pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis pendekatan

kontekstual terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga. Hal

ini terbukti dari hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan rata-rata sebesar

71,79 sedangkan kelas konrol sebesar 63,62. Selain itu dengan menggunakan

analisis statistik dapat diperoleh taraf signifikansi yang lebih kecil dari taraf

signifikansi yang telah ditetapkan yakni = 0,05.

B. Saran

Dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran pada pelajaran kimia di

SMAN 1 Pringgasela ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

1. Bagi guru kimia yang akan menerapkan model pembelajaran inkuiri

terbimbing dengan pendekatan kontekstual agar disesuaikan dengan

karakteristik dari materi yang akan diajarkan, dan jika ingin melakukan
70

penilaian terhadap keterampilan proses sains agar lebih memaksimalkan

prangkat yang akan digunakan.

2. Terdaapat beberapa hal yang menjadi kendala pada saat pelaksanaan

praktikum, seperti kurangnya bahan dan alat praktikum disekolah. Sehingga,

diharapkan bagi sekolah untuk lebih memperhatikan kekurangan-kekurangan

tersebut agar proses pembelajaran dapat berjalan secara maksimal.

3. Selama penelitian ada beberapa masalah yang tidak dapat dikontrol oleh

peneliti, diantaranya masih ada sebagian siswa yang tidak mendengarkan,

belum siap menerima pelajaran dan mengumpulkan tugas tidak tepat pada

waktunya. Untuk itu peneliti harapkan bagi peneliti selanjutnya yang

menggunakan model inkuiri terbimbing berbasis pendekatan kontekstual

untuk memperhatikan dan mempersiapkan cara dalam mengantisipasi hal

tersebut sehingga hasil yang diperoleh lebih baik.