Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Osteichthyes atau disebut juga Ikan bertulang sejati adalah kelas dari
anggota hewan bertulang belakang yang merupakan subfilum dari Pisces.
Osteichthyes berasal dari bahasaYunani, yaitu osteon yang berati tulang dan ichthyes
yang berarti ikan. Hidup di laut, rawa-rawa, atau air tawar. Semua jenis ikan yang
termasuk dalam kelas Osteichthyes memiliki sebagian tulang keras,mulut dan
lubang hidungnya ventral, celah-celah pharyngeal tertutup (tidak terlihat dari
luar) dan jantungnya hanya memiliki satu ventrikel. Jantung beruang dua, darah berwarna
pucat, mengandung eritrosit yang berinti dan leukosit. Ikan ini juga mempunyai sistem limfa
dan sistem porta renalis. Mempunyai hati yang berkantong empedu. Lambung dipisahkan
dariusus oleh sebuah katup, mempunyai kloaka, tetapi tidak jelas adanya
pankreas. Terdapat gelembung renang. Mempunyai gurat sisi, indra mata,
telinga dalam dengan tiga saluran semisirkuler dan memiliki otolit untuk
keseimbangan. Bernapas dengan insang yang memiliki tutup insang (operkulum). Sirip ekor
memiliki panjang yang sama pada bagian atas dan bawah, kulit licin karena sekresi mukus
oleh kelenjar pada kulit, adanya gelembung renang sehingga tidak tenggelam saat
tidak bergerak. Sistem gurat sisi terdapat pada sisi tubuh, usus panjang dan
ramping menggulung, fertilisasi terjadi di luar, mengeluarkan telurnya
atau bersifat ovipar. Ikan bertulang sejati memiliki gelembung renang yaitu kantong
udara yang dapat digunakan untuk mengubah daya apung dan sebagai alat bantu dalam
bernafas.
Beberapa anggotanya dapat berpindah dari perairan asin ke perairan tawar, misalnya ikan
salmon dan belut laut. Pada saat berada di air tawar, ginjal mengeluarkan urin yang
sangat encer dan insangnya menyerap garam dari air dengan cara transfor aktif.
Ikan yang sering dijumpai di air tawar seperti ikan nila dan ikan gabus. Sistem
digestoria (Sitem pencernaan) pada ikan merupakan serangkaian jalur yang melalui
berbagai organ yaitu dimulai dari mulut, pharink, esophagus, lambung, usus

1
(intestin) dan anus. Sistem urogenital dibagi menjadi dua yaitu organ genitalia dan organ
uropoetica. Organ genitalia terdiri dari gonad (kelenjar kelamin) yang dibedakan menjadi
jantan (testis), betina (ovarium) dan saluran keluar dari gonad yang sangat pendek.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Osteichthyes?
2. Bagaimanakah karakteristik umum Osteichthyes?
3. Bagaimanakah sitem tubuh Osteichthyes?
4. Bagaimanakah klasifikasi Osteichthyes?
5. Bagaimana penyebaran habitat Osteichthyes?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Osteichthyes
2. Untuk mengetahui karakteristik umum Osteichthyes
3. Untuk mengetahui sistem tubuh Osteichthyes
4. Untuk mengetahui klasifikasi Osteichthyes

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Osteichthyes
Osteichthyes atau disebut juga Ikan bertulang sejati adalah kelas dari
anggota hewan bertulang belakang yang merupakan subfilum dari Pisces.
Osteichthyes berasal dari bahasaYunani, yaitu osteon yang berati tulang dan ichthyes
yang berarti ikan.

B. Karakteristik Osteichthyes
1. Kulit banyak mengandung kelenjar mocusa, biasanya diliputi oleh sisik
(ganoid,cycloid atau ctenoid) beberapa spesies tidak bersisik, bersirip pada
mediana, baik dorsal maupun ventral dan pada sebelah tubuh dengan
beberapa pengecualian. Sirip (pina) biasanya disokong oleh jari dari tulang
rawan atau tulang keras, tidak berkaki.
2. Mulut terletak diujung dan bergigi baik. Rahang tumbuh dengan baik dan
bersendi pada tempurung tulang kepala, mempunyai dua Sacci olfactorius
yang umumnya berhubungan dengan rongga mulut, bermata besar dan tidak
berkelopak mata.
3. Skleton terutama tulang keras, kecuali beberapa jenis sebagian bertulang
rawan, bentuk vertebrata bermacam-macam, sirip anus/belakang (pina
caudalis) biasanya bersifat homocerca, sisa sisa notochord (perkembangan
skleton masing-masing.
4. Cor terdiri dari dua ruangan (auriculum dan ventriculum) dengan sinus
venosus dan conus arteriosus yang berisi darah vena, terdapat empat pasang
archus aorticus, sel darah merah berbentuk oval dan berinti.
5. Pernapasan (respirasi) dilakukan dengan beberapa pasang insang yang
terletak pada archus branchius yang berada dalam ruangan celah insang
pada kedua tepi samping dari pharing, tertutup oleh Operculum, biasannya
memiliki vesica pneumatica (gelembung udara) dan memiliki

3
Dustuspneumaticus. Beberapa jenis mempunyai bentuk seperti paru-paru,
misalnnya pada dipnoi.
6. Terdapat sepuluh pasang Nervi cranialis (saraf pusat).
7. Suhu tubuh bergantung dengan lingkungan sekitar.
8. Memiliki sepasang gonad, umumnya ovipar(beberapa ada yang ovovivipar
dan vivipar), fertilisasi atau pembuahan terjadi didalam tubuh, telur kecil
berukuran sampai 12 mm, kandungan kuning telur (yolk) bermacam-
macam, segmentasi biasanya secara meroblastis, tidak mempunyai
membran embrio, hewan mudanya (post larva) kadang-kadang tidak mirip
dengan yang dewasa.

C. Sistem Tubuh pada Osteichthyes


1. Sistem Musculus
Tubuh dan ekor sebagin besar tersusun oleh otot daging yang bersegmen,
otot daging itu melekat pada vetebrata jari-jari penyokong. Bagian-bagian
otot daging itu lebar dan berbentuk lapisan zigsag memanjang kebelakang.
Antara segmen-segmen terdapat lapisan jaringan ikat seolah-olah sebagai
septa (mycomata).

2. Sistem Digestoria
Rahang banyak mengan banyak gigi-gigi yang berguna untuk
mengunyah makanan. Lidah kecil melekat pada rongga mulut dan
membantu dalam proses pernapasan. Pharink pada celah insang banyak
mengandung lembaran-lembaran insang yang terletak sebelah menyebelah
dan selanjutnya saluran pencernaan makanan menuju ke Oesophagus terus
ke Ventriculus.

3. Sistem sirkulasi
Cor terdiri dari dua bagia yaitu auriculum dan ventriculum sinus venosus
conus arteriosus aorta ventrali aorta clorsalis. Plasma darah mengandung sel
darah merah.

4
4. Sistem Respirasi
Pernapasan dilakukan dengan menggunakan insang yang terdapat dalam
4 pasang kantong insang. Terdapat filament yang tersusun atas banyak plat
transpersal yang banyak mengandung pembulu darah kapiler. Terdapat
overculum yang dapat membuka dan menutup saat bernafas. Gelembung
udara/ gelembung renang berfungsi membantu alat respirasi.

5. Sistem Ekskresi
Ren yang berbentuk gilik terletak antara Vesica urinaria dengan tulang
vertebrae. Cairan yang mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan
hydrogen di ambil dari darah dalam ren akan di tamping kedalam vesica
urinaria melalui ureter dan selanjutnya pengosongan dilakukan melalui
sinus urogenitalis keluar.

6. Sistem Syaraf
Sebagai sentral dalam otak dan sumsum tulang belakang. Otak terdiri
atas lobus alfactorius, hemispericus, lobus opticusdan cerebellum. Dari otak
akan keluar 10 pasang saraf cranial sebagai saraf perifer. Dari nervecord
pada setiap vertebrae akan keluar saraf-saraf yang akan member persyarafan
pada tiap-tiap segmen tubuh sekitarnya.

7. Sistem Reproduksi
Seks terpisah pada ikan jantan terdapat sepasang testis yang membesar
pada masa perkawinan. Melalui vase deverensia sperma di keluarkan lewat
papillae urogenitalis. Pada ikan betina sel telur akan keluar dari ovary
melalui oviduct yang selanjutnya keluar melalui papillae urogenitalis.
Pembuahan umumnya terjadi diluar tubuh.

5
D. Klasifikasi Osteichthyes

1. Ikan Terbang (Hirundichthys oxycephalus)


a. Karakteristik Umum Ikan Terbang
Karakter ikan terbang yaitu bentuk tubuh memanjang, silindris,
beberapa spesies mempunyai bagian perut yang datar, kepala pendek, dan
mulut kecil. Gurat sisi (lateral line) berada tepat menyentuh dasar sirip
perut yang berfungsi sebagai alat deteksi terhadap mangsa dari bawah,
dan mata yang diadaptasikan untuk melihat, baik di udara maupun di
dalam air
Ikan terbang memiliki sisik sikloid yang mudah lepas. Tidak
mempunyai sirip berjari-jari keras, sirip punggung dan sirip dubur
letaknya jauh ke belakang tubuh. Sirip perut abdominal berukuran
panjang mencapai pangkal depan dasar sirip anal. Sirip dada panjang,
selalu mencapai pangkal sirip punggung. Kedua sirip dada yang panjang
tersebut diadaptasikan sebagai sayap untuk terbang melayang keluar dari

6
permukaan air ke udara sejauh 200 m bahkan lebih untuk menghindari
predator atau suatu mekanisme penghematan energi. Sirip ekor
bercabang dua dengan cabang bawah lebih panjang dari bagian atas
b. Klasifikasi ikan terbang
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Beloniformes
Family : Exocoetidae
Genus : Cypselurus
Species : Hirundichthys oxycephalus

Gambar: ikan terbang


Sumber: www.Biologi.com
c. Habitat
Ikan terbang menyukai perairan hangat di laut lepas, seperti Samudera
Hindia, Pasifik dan Atlantik. Di Indonesia, sebagian besar populasi ikan
terbang hidup di perairan Sulawesi, Papua, hingga Flores. Ikan terbang
adalah hewan sosial dan senang hidup berkelompok.
2. Ikan Nila (Oreochromis Niloticus).
a. Klasifikasi dan Identifikasi Ikan Nila.
Klasifikasi Ikan Nila.

7
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleosin
Ordo : Percormorphii
Sub Ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Gambar: ikan nila


Sumber: www.google.com
Identifikasi Ikan Nila
Ikan Nila berasal dari daerah Afrika bagian timur seperti di bawah
sungai Nil, Danau Tangayika, Nigeria yang pada awal perkembangan
ikan nila masih digolongkan dalam kelompok Tilapia. Dalam
perkembangannya para taksonom menggolongkan ikan ini ke
jenis Sarathrodon niloticus atau kelompok Tilapia yang yang mengerami
telur dalam ikan betina yang disebut Mouth breeder. Nama ikan nila
diambil dari tempat asalnya yaitu sungai Nil.
Ikan nila banyak hidup di dareah sungai dan danau. Ikan nila sangat
cocok dengan dipelihara pada perairan yang tenang, kolam atau reservoir.
Ikan nila merupakan ikan tropis yang hidup pada perairan hangat yang
berasal dari benua Afrika dan memiliki sifat cepat tumbuh dan
berkembang biak pada umur masih muda, sekitar 3.6 bulan.

8
Ikan nila akan mampu bertahan hidup pada air dengan salinitas 50 g/l
dan tumbuh baik pada air dengan salinitas 18ppt. Sedangkan ikan nila
dengan jenis Tilapia Aurea dan Tilapia Nilotica akan berkembang biak
dan tumbuh baik pada salinitas perairan berkisar 10-20 g/l.
Ikan nila mempunyai habitat diperairan tawar, seperti sungai, danau,
waduk dan rawa, tetapi karena toleransinya yang luas terhadap salinitas,
sehingga ikan dapat pula hidup dan berkembang biak di perairan payau
dan laut. Salinitas yang disukai antara 0-35 promil. Ikan nila air tawar
dapat dipindakan ke air asin dengan proses adaptasi yang
bertahap. Kadar garam air dinaikan sedikit demi sedikit. Berkaitan
dengan habitatnya, ikan nila yang masih kecil lebih tahan terhadap
perubahan lingkungan dibanding dengan ikan yang sudah besar.
b. Morfologi Ikan Nila
Ikan Nila memiliki bagian tubuh yang memanjang ramping dan
relative pipih. Sisinya besar dan kasar, bentuknya ctenoid, gurat sisi
terputus-putus di bagian tengah badan ikan. Warna sisik abu-abu
kecoklatan (nila hitam) dan putih atau merah (nila merah). Posisi mulut
terletak di ujung mulut dan terminal. Pada sirip punggung terdapat jari-
jari sirip punggung yang keras dan garis-garis vertical yang bulat dan
berwarna kemerahan.
Ikan nila memiliki ciri pada tubuh secara fisik perbandingannya
adalah 2:1 antara panjang dan tinggi. Sirip punggung dengan 16-17 duri
tajam dan 11-15 duri lunak dan pada bagian anal terdapat 3 duri dan 8-11
jari-jari. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan dengan beberapa pita
hitam belang yang semakin memudar atau samar-samar kelihatan pada
saat ikan dewasa.
Untuk membedakan antara jantan dan betina dapat dilihat melalui
bentuk dan alat kelamin yang ada pada bagian tubuh ikan. Ikan jantan
memiliki sebuah lubang kelamin yang bentuknya memanjang dan
menonjol. Berfungsi sebagai alat pengeluaran sperma dan air seni. Warna
sirip memerah, terutama pada saat matang gonad. Ikan betina memiliki

9
dua lubang kelamin di dekat anus, berbentuk seperti bulan sabit dan
berfungsi untuk keluarnya telur. Lubang yang kedua berada di belakang
saluran telur dan berbentuk bulat dan berfungsi sebagai tempat keluarnya
air seni.
c. Anatomi Ikan Nila
Sistem anatomi ikan nila memiliki fungsi masing-masing, yaitu:
1) Sistem pelindung : Kulit
2) Sistem otot : Penggerak otot
3) Sistem rangka : Pelindung organ dalam
4) Sistem pernafasan : Ekskresi dan Sekresi
5) Sistem peredaran darah : Sirkulasi
6) Sistem pencernaan : Metabolisme
7) Sistem saraf : Penyusun
8) Sistem Hormon : Pengendali
9) Sistem Reproduki : Perkembangbiakan
Struktur anatomi ikan sangat berperan penting dalam tubuh ikan.
Contohnya adalah ginjal. Semua ginjal vertebrata termasuk ikan
nila terdiri atas unit-unit nephrons yang berfungsi sebagai berikut :
1. Filtrasi glomerulus terhadap air dan molekul yang diperlukan ke
dalam darah.
2. Penyerapan kembali air dan molekul yang diperlukan ke dalam darah
pada bagian mulut.
3. Mensekresi ion dan produk limbah dari kapiler ke dalam tubulus dista.
d. Sistem pencernaan ikan Nila
Langakah-langkah proses pencernaan adalah:
1) Pencernaan di mulut, rongga mulut, makanan digiling menjadi kecil-
kecil oleh gigi dan dibasahi oleh saliva.
2) Disalurkan melalui faring dan esophagus
3) Pencernaan di lambung dan usus halus
4) Absorbs air dalam usus besar, sisa makanan menjadi feses
5) Feses dikeluarkan melalui kloaka

10
e. Sistem Ekskresi ikan Nila
Tubuh ikan air tawar lebih hipertonis dari lingkungannya sehingga air
banyak yang masuk lewat permukaan tubuhnya, akibatnya ikan ini
sedikit minum air. Dan urin yang dihasilkan banyak dan encer. Untuk
mendapatkan air dan garam dari makanan, air masuk secara osmosis
lewat permukaan tubuhnya
Konsentrasi larutan dalam tubuh lebih besar dengan yang ada di
lingkungan supaya mencegah masuknya air dan kehilangan garam agar
tidak minum, kulit diliputi mucus, osmosis melalui insang, produksi urin
encer, pompa garam melalui sel-sel khusus pada insang
f. Sistem Reproduksi ikan Nila
Pada ikan betina mempunyai indung telur sedangkan ikan jantan
mempunyai testis. Baik indung telur maupun testis ikan semuanya
terletak pada rongga perut di sebelah kandung kemih dam kanal
alimentari. Keadaan gonad ikan sangat menentukan kedewasaan ikan.
Kedewasaan ikan meningkat dengan makin meningkatnya fungsi
gonad Ikan Nila umumnya mempunyai sepasang gonad, terletak pada
bagian posterior rongga perut di sebelah bawah ginjal. Pada saat ikan nila
bertelur dan sperma dikeluarkan oleh ikan jantan, pada saat itu pula
terjadilah fertilasi di luar tubuh induknya (eksternal) yaitu di dalam air
tempat dimana ikan itu berada, kemudian mengerami telur di dalam
mulutnya antara 4-5 hari dan telur tersebut menetas 3-4 hari. Telur ikan
yang dibuahi dan menetas dinamakan larva. Larva tersebut mempunyai
kuning telur yang masih menempel pada tubuhnya digunakan sebagai
cadangan makanan untuk awal kehidupannya
3. Ikan sidat

11
Gambar: ikan sidat
Sumber: www.google.com

a. Klasifikasi Ikan Sidat


Ikan sidat (eels) adalah ikan dari family Anguilidae. Ada sekitar 16
sampai dengan 20 spesies yang semuannya dalam genus Anguila. Di
Indonesia sendiri punya tujuh jenis spesies. Ketujuh jenis itu, dapat
digolongkan menjadi dua kelompok yaitu yang kelompok bersirip
punggung pendek dan kelompok yang bersirip punggung panjang.
Kelompok bersirip punggung pendek diantaranya Anguilla bicolor
bicolor, Anguilla bicolor Pacifica sedangkan kelompok yang memiliki
sirip punggung panjang diantaranya Anguilla borneoensis, Anguilla
marmorata, Anguilla celebesensis, Anguilla megastoma dan Anguilla
interioris. Persebarannya di daerah daerah yang berbatasan dengan laut
dalam. Di perairan daratan (inland water) ikan sidat hidup di perairan
estuaria (laguna) dan perairan air tawar (sungai, rawa, dan danau) dataran
rendah hingga dataran tinggi.
Jenis yang banyak ditangkap oleh para nelayan adalah jenis sidat
kembang (Anguila mauritiana) dan sidat anjing (Anguila bicolon). Kedua
jenis ikan ini hidup dalam lubang pada cadas-cadas atau diantara sela-
sela batu, dan yang disukai masyarakat adalah jenis sidat kembang. Sidat
anjing kurang disukai, atau bahkan sebagian ada yang menolaknya
karena nama ikan ini diembel embeli dengan nama anjing.
Klasifikasi ikan sidat sebagai berikut :

12
Filum : Chordata
Subfilum : Euchordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Anguilliformes
Famili : Anguillidae
Genus : Anguila
Spesies : Anguilla sp.

Sebagian besar ikan sidat hidup di daerah tropis. Indonesia dianggap


sebagai pusat keanekaragaman ikan sidat. Indonesia dengan iklim tropis
dan dikelilingi oleh samudra serta persebaran kepulauannya yang
membentang menjadikan Negara Indonesia mempunyai keanekaragaman
jenis ikan sidat yang tinggi.
Di Indonesia ikan sidat mempunyai banyak nama antara lain, di
daerah Jawa Barat dikenal dengan sebutan ikan uling, ikan moa, ikan
lubang, ikan lumbon, dan ikan larak. Di Jawa Tengah mempunyai nama
yang berbeda lagi yaitu ikan pelus, ikan gating, ikan lembu, ikan denong,
ikan megaling, ikan lara, dan ikan lucah. Itu semua adalah contoh
penamaan ikan sidat menurut nama lokal setempat, masih banyak lagi
nama daerah ikan sidat yang belum disebutkan.
b. Reproduksi Ikan Sidat
Ikan sidat merupakan ikan yang tumbuh dewasa di perairan tawar dan
saat dewasa (matang gonad) akan kembali ke laut untuk memijah. Siklus
hidup ikan sidat dimulai dari sidat dewasa yang dikenal dengan silver eel
yang memijah di laut dalam. Temperatur optimum untuk memijah adalah
20 C dan salinitas tinggi. Telur yang dihasilkan sebanyak 3 juta telur per
kilogram sidat betinanya. Telur-telur sidat menetas sekitar 24 jam
menjadi larva kecil berukuran 5 mm. Kemudian berangsur-angsur
menjadi larva (leptocephalus) berbentuk seperti daun yang transparan.
Larva ini terus hanyut terbawa arus. Tahapan selanjutnya setelah larva

13
mengalami metamorfosis adalah stadia glass eel . Pada tahapan ini sidat
kecil sudah menyerupai sidat secara utuh namun masih belum ada
pigmentasi pada tubuhnya sehingga bening seperti kaca. Glass
eel beruaya secara aktif kearah perairan yang memiliki salinitas rendah.
Pada saat inilah sidat secara bertahap mengalami pigmentasi pada
tubuhnya yang sering di sebut stadia elver.
Dalam waktu yang panjang elver terus tumbuh berkembang
menjadi yellow eel atau sering disebut stadia fingerling dan mendiami
perairan tawar seperti sungai, waduk, danau, rawa selama kurang lebih 2-
3 tahun sampai menjadi sidat dewasa (silver eel) yang matang gonad
kemudian akan kembali ke laut untuk memijah.
Tahap akhir sidat hidup di perairan tawar ditandai dengan perubahan
warna pada tubuh sidat menjadi warna perak (silver) oleh karena itu
disebut silver eel. Pada masa ruaya, sidat mencari sungai untuk menuju
ke laut. Selama perjalanan silver eel tidak makan sehingga terjadi
perubahan pada tubuh sidat. Sidat menjadi kurus, mata membesar, dan
warnanya semakin perak. Pemijahan terjadi pada kedalaman 400-6000
meter di bawah laut dengan suhu 16C-17C dan induk sidat akan mati
setelah proses pemijahan. Waktu berpijah sidat terjadi sepanjang tahun.
Puncak pemijahan Anguilla bicolor pada bulan Mei dan Desembar
dan Anguilla marmorata pada bulan Oktober. Sidat merupakan hewan
nokturnal, shingga menjadi lebih aktif pada malam hari. Oleh karena
itu penangkapan sidat cenderung dilakukan pada malam hari dan
tangkapan melimpah pada saat bulan gelap.
Ikan sidat mampu beradaptasi pada salinitas 0-35 ppm dan suhu 12-
31C. Sidat bernafas menggunakan kulit sekitar 60% dan menggunakan
insang sebesar 40%. Sidat juga mampu mengambil oksigen langsung
dari udara. Jika Ikan sidat merupakan ikan yang tumbuh dewasa di
perairan tawar dan saat dewasa (matang gonad) akan kembali ke laut
untuk memijah. Siklus hidup ikan sidat dimulai dari sidat dewasa yang
dikenal dengan silver eel yang memijah di laut dalam. Temperatur

14
optimum untuk memijah adalah 20 C dan salinitas tinggi. Telur yang
dihasilkan sebanyak 3 juta telur per kilogram sidat betinanya. Telur-telur
sidat menetas sekitar 24 jam menjadi larva kecil berukuran 5 mm.
Kemudian berangsur-angsur menjadi larva(leptocephalus) berbentuk
seperti daun yang transparan. Larva ini terus hanyut terbawa arus.
Tahapan selanjutnya setelah larva mengalami metamorfosis adalah
stadia glass eel . Pada tahapan ini sidat kecil sudah menyerupai sidat
secara utuh namun masih belum ada pigmentasi pada tubuhnya sehingga
bening seperti kaca. Glass eel bermuara secara aktif kearah perairan yang
memiliki salinitas rendah. Pada saat inilah sidat secara bertahap
mengalami pigmentasi pada tubuhnya yang sering di sebut stadia elver.
Dalam waktu yang panjang elver terus tumbuh berkembang
menjadi yellow eel atau sering disebut stadia fingerling dan mendiami
diperairan tawar seperti sungai, waduk, danau, rawa selama kurang lebih
2-3 tahun sampai menjadi sidat dewasa (silver eel) yang matang gonad
kemudian akan kembali ke laut untuk memijah.
c. Morfologi Ikan Sidat
Tubuh sidat berbentuk bulat memanjang, sekilas mirip dengan belut
yang biasa dijumpai di areal persawahan. Salah satu karakter/bagian
tubuh sidat yang membedakannya dari belut adalah keberadaan sirip dada
yang relatif kecil dan terletak tepat di belakang kepala sehingga mirip
seperti daun telinga sehingga dinamakan pula belut bertelinga. Bentuk
tubuh yang memanjang seperti ular memudahkan bagi sidat untuk
berenang diantara celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan.
Panjang tubuh ikan sidat bervariasi tergantung jenisnya yaitu antara 50-
125 cm. Ketiga siripnya yang meliputi sirip punggung, sirip dubur dan
sirip ekor menyatu. Selain itu terdapat sisik sangat kecil yang terletak di
bawah kulit pada sisi lateral. Perbedaan diantara jenis ikan sidat dapat
dilihat antara lain dari perbandingan antara panjang preanal (sebelum
sirip dubur) dan predorsal (sebelum sirip punggung), struktur gigi pada
rahang atas, bentuk kepala dan jumlah tulang belakang.

15
Ciri utama sidat dewasa adalah bentuknya menyerupai belut. Apabila
diperhatikan lebih teliti terdapat beberapa perbedaan morfologi yang
membedakan antara sidat dengan belut.
d. Anatomi Ikan Sidat
Organ pernafasan utama ikan sidat adalah insang yang berfungsi
sebagai paru-paru seperti pada hewan darat. Ikan ini memiliki empat
pasang insang yang terletak pada rongga branchial. Setiap lembar insang
terdiri atas beberapa filamen insang dan setiap filamen insang terbentuk
dari sejumlah lamella yang di dalamnya terdapat jaringan pembuluh
darah. Kemampuan ikan sidat dalam mengambil oksigen dari udara secara
langsung menyebabkan ikan sidat dapat bertahan cukup lama di udara
terbuka yang memiliki kelembaban yang tinggi.

4. Ikan gabus

Gambar: ikan gabus


Sumber: www.google.com
Ikan gabus adalah sejenis ikan predator yang hidup di air tawar. Ikan
gabus mempunyai nama ilmiah Channa striata. Ikan gabus atau betutu
adalah salah satu ikan asli yang hidup di perairan tawar di Indonesia, seperti
daerah aliran sungai di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Di Sumatera
Selatan nilai ekonominya terus meningkat karena ikan gabus selain
dimanfaatkan dalam bentuk ikan segar juga telah digunakan sebagai bahan
pembuatan kerupuk, pempek dan olahan lainnya.
Ikan gabus merupakan golongan ikan yang mempunyai alat pernafasan
tambahan sehingga dapat tumbuh di air tergenang yang minim oksigen dan

16
tidak perlu dilakukan pergantian air, oleh karena itu jenis ikan ini sangat
mudah di budidayakan. Ikan gabus mengandung protein 70% , albumin
21%, asam amino, mikronutrien serta selenium dan iron yang sangat penting
untuk kesehatan sehingga dapat digunakan sebagai obat.
Albumin ikan gabus dan kandungan lainnya penting untuk pembentukan
sel-sel baru dan mengganti sel-sel yang rusak di tubuh. Beberapa kasus
pasien kanker, gagal ginjal, stroke, tuberkolusis, dan diabetes yang telah
menjalani terapi nutrisi dengan albumin ikan gabus memberikan kondisi
memuaskan. Dalam sebuah situs web menjelaskan ada seorang yang sakit
kanker kandung kemih namanya Amir Hnama samarandi Bandung Jawa
Barat. Amir yang sejak 3 tahun lalu divonis menderita kanker kandung
kemih mesti menjalani kemoterapi sebagai salah satu pencegahan agar sel-
sel tumor di tubuhnya tidak berkembang. Pada kasus kemoterapi, efek
samping yang ditimbulkan umumnya: rambut rontok dan mudah lemas.
Amir H yang selalu rutin mengonsumsi 6 kapsul per hari albumin ikan
gabus memperlihatkan kondisi menggembirakan.
Habitat pada ikan gabus
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air
hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-
kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.
Seringkali ikan gabus terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau
memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang
memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit
mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa,
akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh
sebab itu ikan ini acap kali ditemui berjalan di daratan, khususnya di
malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair.
Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung
dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada
ikan lele atau betok) namun lebih primitif.

17
Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan
sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga
merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-
sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh
induknya.
Ikan gabus menyebar luas mulai dari Pakistan di barat, Nepal bagian
selatan, kebanyakan wilayah di India, Bangladesh, Sri Lanka,Tiongkok
bagian selatan, dan sebagian besar wilayah di Asia Tenggara termasuk
Indonesia.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Osteichthyes atau disebut juga Ikan bertulang sejati adalah kelas dari
anggota hewan bertulang belakang yang merupakan subfilum dari Pisces.
Osteichthyes berasal dari bahasaYunani, yaitu osteon yang berati tulang dan ichthyes
yang berarti ikan. Karakteristik Osteicthyes dapat dilihat dari kulit, letak mulut, skeleton, cor,
pernapasan, sepuluh pasang Nervi cranialis (saraf pusat), suhu tubuh, dan
sepasang gonad. Adapun sistem tubuh pada Osteicthyes yaitu sistem musculus, sistem
digestoria, sistem sirkulasi, sistem respirasi, sistem ekskresi, sistem syaraf, dan sistem
resproduksi.
Contoh Osteichthyes yaitu ikan terbang, ikan nila, ikan sidat, dan ikan
gabus. Karakter ikan terbang yaitu bentuk tubuh memanjang, silindris,
beberapa spesies mempunyai bagian perut yang datar, kepala pendek, dan
mulut kecil. Ikan Nila memiliki bagian tubuh yang memanjang ramping dan
relative pipih. Tubuh sidat berbentuk bulat memanjang, sekilas mirip dengan
belut yang biasa dijumpai di areal persawahan. Ikan gabus adalah
sejenis ikan predator yang hidup di air tawar. Ikan gabus mempunyai nama
ilmiah Channa striata.

19