Anda di halaman 1dari 2

4A_BM2_2118140004_ENI PRA APRIANI

SISTEM NUMERASI
Beberapa konsep yang digunakan dalam sistem numerasi adalah :
Aturan Aditif : Tidak menggunakan aturan tempat dan nilai dari suatu lambang
didapat dari menjumlah nilai lambang-lambang pokok. Simbolnya sama nilainya
sama dimanapun letaknya
Aturan pengelompokan sederhana :Jika lambang yang digunakan mempunyai
nilai-nilai n0, n1, n2, dan mempunyai aturan aditif
Aturan tempat : Jika lambang-lambang yang sama tetapi tempatnya beda
mempunyai nilai yang berbeda
Aturan Multiplikatif :Jika mempunyai suatu basis (misal b), maka mempunyai
lambang-lambang bilangan 0,1,2,3,..,b-1 dan mempunyai lambang untuk b2, b3,
b4,.. dan seterusnya.
Namun, harus disadari bahwa diperlukan berabad-abad lamanya untuk sampai
pada penyimpulan tersebut. Hal ini bukanlah yang pertama dalam sistem angka.
Dengan demikian, beberapa sistem angka akan dijelaskan sebagai berikut.
A. Sistem Angka Mesir kuno ( 3000 SM)
Hieroglif tidak tetap sama sepanjang dua ribu tahun atau lebih dari peradaban
Mesir kuno. Peradaban ini dipecah menjadi tiga periode berbeda:
1. Kerajaan tua sekitar 2700 SM sampai 2200 SM
Bukti dari penggunaan matematika di Kerajaan tua adalah langka, tapi dapat
disimpulkan dari contoh catatan pada satu tembok dekat mastaba di Meidum
yang memberikan petunjuk untuk kemiringan lereng dari mastaba. Garis pada
diagram diberi jarak satu cubit dan memperlihatkan penggunaan dari unit dari
pengukuran.
2. Kerajaan Tengah sekitar 2100 SM sampai 1700 SM
Dokumen matematis paling awal yang benar tertanggal antara dinasti ke-12.
Papirus Matematis Rhind yang tertanggal pada Periode Perantara (1650 SM)
berdasarkan satu teks matematis tua dari dinasti ke-12. Papyrus Matematis
Moscow dan papyrus Matematis Rhind adalah teks masalah matematis.
Terdiri dari satu koleksi masalah dengan solusi.
3. Kerajaan Baru sekitar 1600 SM sampai 1000 SM
Selama Kerajaan Baru masalah matematis disebutkan pada Papyrus Anastasi
1, dan Wilbour Papyrus dari waktu Ramesses III mencatat pengukuran lahan.
Angka hieroglif agak berbeda dalam periode yang berbeda, namun secara
umum mempunyai gaya serupa. Sistem bilangan lain yang digunakan orang
Mesir setelah penemuan tulisan di papirus, terdiri dari angka hieratic, dimana
setiap bilangan mempunyai satu lambang yang berbeda, jadi tidak ada
pengulangan. Mereka mengembangkan lambang sampai dengan, yang
mempunyai banyak sekali lambang.
B. Sistem Angka Babilonia ( 2000 SM)
Sistem angka babilonia (sekitar 2400 SM) disebut juga system sexagesimal,
karena menggunakan basis 60 yang diambil dari Sumeria. Sexagesimal masih ada
sampai saat ini, dalam bentuk derajat, menit, dan detik di dalam trigonometri dan
pengukuran waktu yang merupakan warisan budaya Babilonia.
C. Sistem Angka Mayan
Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang Indian Mayan dari Guatemala dan
Honduras mempunyai peradaban yang tinggi. Meskipun sampai sekarang tulisan
glifos (tulisan bangsa Maya) belum bisa diketahui arti atau maksudnya
sepenuhnya. Namun satu hal yang pasti bahwa bangsa Maya adalah bangsa yang
mahir dalam hitungan waktu. Walaupun mereka tidak memiliki jam, namun
4A_BM2_2118140004_ENI PRA APRIANI

kemajuan mereka dalam perhitungan matematika dan ilmu astronomi membuat


mereka mampu sejak ribuan abad lalu membuat kalender yang hampir
sempurna. Ahli arkeologi mengakui bahwa kalender Maya mulai menghitung
waktu mulai dari tahun 3114 SM. Disebut sebagai tahun nol dan disamakan ke
dalam tanggal 1 Januari.
D. Sistem angka Yunani kuno ( 300 SM)
Seperti halnya di Mesir dan Mesopotamia, bangsa Yunani pun mengembangkan
system numerasinya sendiri. Sistem Yunani kuno pada mulanya disebut dengan
sistem attic, muncul sekitar tahun 300 SM, kemudian berkembang menjadi
sistem ionia (alfabetis) Yunani.
1. Sistem angka yunani kuno (attic)
Sistem attic membentuk sebuah sistem kelompok sederhana berbasis sepuluh
yang dibentuk dari huruf pertama nama bilangan (angkaacrophonic disebut juga
angka Herodianic karena pertama kali dijelaskan pada sebuah naskah pada abad
ke-2 oleh Herodes).
2. Sistem alfabetis yunani
Pada abad ke-5 SM, sistem attic diganti dengan sistem alfabetis, dengan lambang
- lambang seperti pada tabel dalam sistem angka alfabetis Yunani, 1000, 2000,
, 9000 sering dinyatakan dengan tanda kutip lambang 1, 2, , 9.
E. Sistem angka Cina-Jepang ( 200 SM)
Sistem numerasi ini telah ada sejak tahun 200 S.M. Bangsa Cina menuliskan
angka-angkanya menggunakan alat tulis yang dinamakan pit
dimana bentuknya menyerupai kuas. Tulisannya berbentuk gambar atau
piktografi yang mempunyai nilai seni tinggi. Sistem angka Cina disebut dengan
sistem batang, mempunyai nilai tempat, berkembang sekitar 213 SM. Bangsa
Cina menggunakan tiga sistem penomoran, yaitu: sistem Hindu-Arab, dan dua
lainnya menggunakan penomoran bilangan setempat (disebut Daxie) yang
dibedakan untuk keperluan komersil dan financial demi menghindari pemalsuan.
F. Sistem angka Romawi ( 100 SM)
Sistem angka Romawi berkembang sekitar permulaan tahun 100 Masehi, yang
memiliki beberapa lambang dasar yaitu l, V, X, L, C, D, dan M yang masing-masing
menyatkan bilangan 1, 5, 10, 50, 100, 500, dan 1000. Sistem ini merupakan
adaptasi dari angka Etruscan. Penggunaan angka Romawi bertahan sampai
runtuhnya kekaisaran Romawi, sekitar abad ke-14, dan kemudian sebagian besar
digantikan oleh sistem Hindu-Arab.
G. Sistem angka Hindu-Arab ( 300 SM 750 M)
Menurut sejarahnya, sistem ini bermula dari India sekitar tahun 300 SM, belum
menggunakan nilai tempat dan belum mempunyai lambang nol. Mereka mulai
menggunakan sistem nilai tempat diperkirakan terjadi pada tahun 500 M. Sistem
numerasi Hindu-Arab menggunakan sistem nilai tempat dengan basis 10 yang
dipengaruhi oleh banyaknya jari tangan, yaitu 10. Berasal dari bahasa
latin decem yang artinya sepuluh, maka sistem numerasi ini sering disebut
sebagai sistem desimal. Tidak diketahui pastinya kapan dan di mana dimulainya
lambang nol digunakan, hanya ada beberapa dugaan bahwa lambang nol ini
berasal dari Babylonia lewat Yunani.

Sumber :
https://www.csribd.com
https://pakbisri.files.wordpress.com