Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

IMPLEMENTASI SIKAP PROFESIONAL GURU


TERHADAP PIMPINAN

Disusun Oleh :

Hilda Yulianti (5525131839)

JURUSAN ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA

FAKULTAS TEKNIK

PRODI TATA BUSANA

TAHUN 2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-
Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang Implementasi Sikap
Profesional Guru Terhadap Pimpinan tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga
selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw beserta para keluarga,
sahabat serta para pengikut beliau dari dulu sekarang hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas mata kuliah Profesi Kependidikan.
Diharapkan dengan tersusunnya makalah ini dapat menyelesaikan berbagai macam masalah
mengenai profesi guru. Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca umumnya dan penulis secara pribadi.
Kami selaku penulis banyak masih merasa dan demi terwujudnya kesempurnaan makalah ini
maka kami pihak penulis mengharapkan berbagai kritik dan saran-saran yang sifatnya
membangun kearah kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 30 Oktober 2014

Hilda Yulianti
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Maksud dan tujuan penulisan
4. metodologi penulisan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1. Pengertian Sikap Profesional Guru


2. Pengertian Kinerja Profesional Guru
3. Sasaran Sikap Profesional Guru
4. Sikap profesional guru
5. Sikap Terhadap Pemimpin
6. Pengembangan Sikap Profesional
7. Pengertian kode etik

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Saran-saran

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Di tingkat nasional, Implementasi sikap profesional guru tehradap pimpinan merupakan


langkah penting dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang efektif dan efisien.
Tenaga-tenaga handal dalam dunia pendidikan hanya akan diperoleh jika sistem pendidikan
telah memiliki mekanisme yang ideal untuk melakukan pengadaan, penempatan, penugasan,
pemeliharaan, pembinaan, dan pemberhentian atau pemutusan hubungan kerja yang tepat.
Dengan kata lain sistem pendidikan nasional memerlukan mekanisme manajemen tenaga
kependidikan yang searah dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Tenaga pendidik
dan kependidikan mempunyai peranan penting dalam proses pendidikan. Hal ini disebabkan
karena ada dimensi-dimensi proses pendidikan atau lebih khusus lagi proses pembelajaran
yang diperankan oleh pendidik yang tidak bisa diganti oleh teknologi. Walaupun teknologi
dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran yang cepat, namun peranan pendidik lebih
dominan. Begitu juga dengan tenaga kependidikan yang bertugas melaksanakan administrasi,
pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses
pendidikan pada satuan pendidikan.
B. Rumusan Masalah

Apa pengertian sikap profesional guru?


Apa pengertian kinerja profesional guru?
Apa sasaran sikap profesional guru?
Apa Sikap profesional guru?
Apa sikap terhadap pemimpin?
Apa pengembangan sikap profesional?
Apa pengertian kode etik?
Apa etika guru terhadap atasannya?

C. Tujuan Penulisan

Mengetahui pengertian sifat profesional guru.


Mengetahui kinerja profesional guru.
Agar mengetahui sasaran sikap profesional guru.
Supaya mengetahui sifat terhadap pemimpin.
Agar mengetahui bagaimana pengembangan sikap profesional.
Agar lebih mengetahui pengertian kode etik.
Supaya lebih mengetahui bagaimana etika guru terhadap atasannya.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Sikap Profesional Guru

Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila
dapat menunjukkan sikap yang baik sehingga dapat dijadikan panutan bagi lingkungannya,
yaitu cara guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan
dan dorongan kepada anak didiknya dan cara guru berpakaian, berbicara, bergaul baik dengan
siswa, sesama guru, serta anggota masyarakat.

Menurut Walgito (dalam Deden, 2011), sikap adalah gambaran kepribadian seseorang
yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu
objek, sedangkan Berkowitz (dalam Deden, 2011) mendefinisikan sikap seseorang pada
suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah respon atau kecenderungan
untuk bereaksi. Sebagai reaksi, maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu
senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menghindari
sesuatu.

Guru sebagai suatu profesi dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 1
ayat (1) tentang guru dan dosen adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. Lebih lanjut, Sagala (dalam Deden, 2011), menegaskan bahwa, guru yang
memenuhi standar adalah guru yang memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan dan
memahami benar apa yang harus dilakukan, baik ketika di dalam maupun di luar kelas.

Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan, guru yang profesional adalah guru
yang kompeten menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi. Untuk
memahami beratnya profesi guru karena harus memiliki keahlian ganda berupa keahlian
dalam bidang pendidikan dan keahlian dalam bidang studi yang diajarkan, maka Kellough
(dalam Deden, 2011) mengemukakan profesionalisme guru antara lain sebagai berikut.
1. Menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan.
2. Guru merupakan anggota aktif organisasi profesi guru, membaca jurnal profesional,
melakukan dialog sesama guru, mengembangkan kemahiran metodologi, membina siswa
dan materi pelajaran.
3. Memahami proses belajar dalam arti siswa memahami tujuan belajar, harapan-harapan,
dan prosedur yang terjadi di kelas.
4. Mengetahui cara dan tempat memperoleh pengetahuan.
5. Melaksanakan perilaku sesuai sesuai model yang diinginkan di depan kelas.
6. Memiliki sikap terbuka terhadap perubahan, berani mengambil resiko, dan siap
bertanggung jawab.
7. Mengorganisasikan kelas dan merencanakan pembelajaran secara cermat.

Walaupun segala perilaku guru selalu diperhatikan masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan
dalam bagian ini adalah khusus perilaku guru yang berhubungan dengan profesinya. Hal ini
berhubungan dengan pola tingkah laku dalam memahami, menghayati serta mengamalkan
sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Pola tingkah laku guru yang berhubungan
dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya.

2. Pengertian Kinerja Profesional Guru

Kinerja profesional terdiri dari dua kata, yaitu kinerja dan profesional. Istilah kinerja
sering diidentikkan dengan istilah prestasi. Istilah kinerja atau prestasi merupakan pengalih
bahasaan dari kata Inggris performance. Terdapat beberapa pengertian mengenai kinerja
dalam Utami (2011), yaitu sebagai berikut.
1. Mangkunegara mendefinisikan kinerja adalah hasil kerja yang secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
2. Sulistiyani dan Rosidah menyatakan kinerja seseorang merupakan kombinasi dari
kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
3. Bernandin dan Russell mengemukakan kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan
atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan, serta waktu.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, definisi kinerja sebagai hasil kerja yang
dicapai oleh individu yang disesuaikan dengan peran atau tugas individu tersebut dalam suatu
organisasi pada suatu periode tertentu, yang dihubungkan dengan suatu ukuran nilai atau
standar tertentu dari organisasi di mana individu tersebut bekerja.

Sedangkan profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu


keahlian pada pendidikan dan jenjang pendidikanya atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan
tertentu yang menurut keahlian, yang dimiliknya yang merupakan jalan untuk mendapatkan
hasil yang maksimal dari apa yang berupa perkerjaanya.

Dengan demikian, kinerja profesional merupakan hasil kerja yang dicapai oleh
individu dengan mempraktekkan suatu keahlian pada pendidikan dan jenjang pendidikanya
pada suatu periode tertentu, yang dihubungkan dengan suatu ukuran nilai atau standar
tertentu dari organisasi di mana individu tersebut bekerja.

3. Sasaran Sikap Profesional Guru

Secara umum, sikap profesional seorang guru dilihat dari faktor luar. Akan tetapi,
hal tersebut belum mencerminkan seberapa baik potensi yang dimiliki guru sebagai seorang
tenaga pendidik. Menurut PP No. 74 Tahun 2008 pasal 1.1 Tentang Guru dan UU. No. 14
Tahun 2005 pasal 1.1 Tentang Guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalar pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan
menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan
kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan
profesi (UU. No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 1.4). Guru sebagai pendidik
professional dituntut untuk selalu menjadi teladan bagi masyarakat di sekelilingnya. Berikut
dijelaskan tujuh sikap profesional guru (dalam Ady, 2009).

4. Sikap profesional guru

Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat
menunjukakan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat
sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihan bagaimana sikap dan perbuatan guru itu
sehari-hari, apakah memang ada yang patut ditaladani atau tidak. Bagaimana guru
meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberikan arahan dan
dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta
bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi
perhatian masyarakat luas.

Walaupun segala perilaku guru selalu diperhatikan masyarakat,tetapi yang akan dibicarakan
dalam bagian ini adalah khusus perilaku guru yang berhubungan dengan profesinnya. Hal ini
berhubungan dengan bagaimana pola tengkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan
dibicarakan sesuai dengan sasarannyan, yakni sikap profesional keguruan terhadap: (1)
Peraturan perundang-undangan, (2) Organisasi profesi, (3) Teman sejawat, (4) Anak didik,
(5) Tempat kerja, (6) Pemimpin, Dan (7) Pekerjaan.

5. Sikap Terhadap Pemimpin

Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih
besar ( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ) guru akan selalu berada dalam bimbingan
dan pengawasan pihak atasan. Dari organisasi guru, ada strata kepemimpinan mulai dari
pengurus cabang, daerah,sampai ke pusat. Begitu juga sebagai anggota keluarga besar
Depdikbud, ada pembagian pengawasan mulai dari kepala sekolah, kakandep, dan seterusnya
sampai ke menteri pendidikan dan kebudayaan.

Sudah jelas bahwa pemimpin suatu unit atau organisasi akan mempunyai kebijaksanaan dan
arahan dalam memimpin organisasinya, di mana tiap anggota organisasi itu di tuntut berusaha
untuk bekerja sama dalam melaksanakan tujuan organisasi tersebut. Dapat saja kerja sama
yang di tuntut pemimpin tersebut diberikan berapa tuntutan akan kepatuhan dalam
melaksanakan arahan dan petunujuk yang diberikan mereka. Kerja sama juga dapat di
berikan dalam bentuk usulan dan malahan kritik yang membangun demi pencapaian tujuan
yang telah digariskan bersama dan kemajuan organisasi. Oleh sebab itu, dpat kita simpulkan
bahwa sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja
sama dalam menyukseskan program yang telah disepakati, baik sekolah maupun di luar
sekolah.
6. Pengembangan Sikap Profesional

Seperti telah diungkapkan, bahwa dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu profesional,
maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya. Ini berarti bahwa
ketujuh sasaran penyikapan yang telah dibicarakan harus selalu dipupuk dan dikembangkan.
Pengembangan sikap profesional ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan
maupun setelah bertugas ( dalam jabatan ).

Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan


Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang di perlukan dalam pekerjaan nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik,
guru selalu menjadi panutan bagi siswanya, bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh
sebab itu, bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatan selalu menjadi
perhatian siswa dan masyarakat.
Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak
calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan
latihan, contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu, keterampilan dan bahkan sikap
professional dirancang dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidikan
prajabatan. Sering juga pembentukan sikap tertentu terjadi sebagai hasil sampingan ( by-
product ) dari pengetahuan yang diperoleh calon guru. Sikap teliti dan disiplin, misalnya
dapat terbentuk sebagai hasil samping dari hasil belajar matematika yang benar, karena
belajar matematika selalu menuntut ketelitian dan kedisiplinan penggunaan aturan dan
prosedur yang telah ditentukan . Sementara itu tentu saja pembentukan sikap dapat
diberikan dengan memberikan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan khusus.
Penghayatan dan Pengalaman Pancasila ( P4 ) yang diberikan kepada seluruh siswa sejak
sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan

Pengembangan sikap professional tidak berhenti apabila caoln guru selesai mendapatkan
pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap
professional keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Seperti telah disebut,
peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran,
lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media
massa televise, radio, Koran dan majalah maupun publikasi lainnnya. Kegiatan ini selain
dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan
sikap.

7. Pengertian Kode Etik

Kode etik tenaga kependidikan adalah pedoman sikap tingkah laku dan perbuatan semua
tenaga kependidikan yang terlibat dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan tugasnya
dan dalam pergaulan hidup sehari hari.

Kepala Sekolah sebagai atasan guru di dalam sebuah lembaga sekolah, hendaknya guru
menjaga etika moral sebagai berikut:

1. Guru Wajib Menghormati Hirarki Jabatan

Yaitu yang pada dasarnya tetap ada starata, tetapi masih tetap menghargai pandangan atau
tetap menjalankan demokrasi didalam pertemuan pertemuan artinya setiap anggota diberi
kebebasan untuk mengeluarkan pendapatnya dalam pertemuan atau rapat. Sehingga pada
waktu diadakan rapat tidak ada klasifikasi tentang pandangan atau pendapat itu dari siapa.

Dan kode etik jabatan guru pada umumnya:

1. Untuk mencapai tujuan sebagaimana yang termaktub dalam preambule, yaitu


brkepribadian, berilmu, serta trampil didalam melaksanakan tugasnya.

2. Guru adalah setiap orang yang bertugas dan berwenang dalam dunia pendidikan dan
pengajaran pada lembaga pendidikan formal.

3. Untuk melaksanakan tugasnya, maka prinsip tentang tingkah laku yang diinginkan
dan diharapkan oleh setiap guru dalam jabatannya terhadap orang lain dalam semua situasi
pendidikan adalah berjiwa pancasila, berilmu pengetahuan serta trampil dalam
menyampaikannya, yang dapat dipertanggungjawabkan secara didaktis dan metodis sehingga
tujuan pendidikan dapat dicapai.

4. Berdasarkan prinsip prinsip umum di atas,maka petunjuk petunjuk yang


merupakan tata cara akhlak itu wajib diamalkan oleh setiap guru dalam antar hubungan
dengan manusia lain dalam lingkungan jabatannya.

5. Guru wajib menyimpan rahasia jabatan, hal hal yang dikategorikan dalam rahasia
jabatan antara lain: Sesuatu hal yang bertalian dengan dinas, yang telah dibicarkan dengan
rapat guru/ rapat panitia ujian, yang harus dirahasiakan, diteruskan kepada siswa siswa/
orang lain untuk memenuhi keinginan untuk mengetahui, seperti:

1. Soal soal ujian

2. Soal soal/ problema staf yang sifatnya tak boleh diketahui umum.

3. Keadaan murid murid terutama yang tak boleh disebarluaskan kepada umum.
Dalam pelaksanaan sehari harinya misalnya seorang guru tidak boleh menyebut terhadap
murid lainnya tentang kekurangan kekurangan yang dialami oleh seorang murid. Guru
harus mengayomimuridnya dan harus bertindak bijaksana terhadap setiap anak didiknya.

6. Setiap saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui prosedur dan forum
yang semestinya.Para karyawan/ guru diberi kebebasan dan karenanya mempunyai tanggung
jawab. Organisasi sekolah, program kerja, usaha kesejahteraan ditentukan bersama oleh
seluruh kepala sekolah dan para guru sekolah.hal itu semua dibicarakan dalam rapat dewan
guru.

7. Jalinan hubungan antara guru dan atasan hendaknya selalu diarahkan untuk
meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.

8. Etika Guru Terhadap Atasannya

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian


hingga / rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama. Pengertian
umum kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat
mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa
orang lain agar ia menerima pengaruh itu. Selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu
pencapaian suatu maksud atau tujuan tertentu.

Menurut Drs. Mardjiin Syam, dalam bukunya kepemimpinan dalam organisasi menyatakan
keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama
untuk mencapai tujuan atau dengan defenisi yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa
kepemimpinan adalah proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada pekerjaan
orang lain yang terorganisir dalam organisasi fromal guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Sedangkan menurut Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo mengemukakan orang baru dapat
dinamakan pemimpin bila berhasil menumbuhkan pada bawahanya perasaan ikut serta, ikut
bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang sedang diselenggarakan di bawah pimpinannya.
Dari pendapat-pendapat itu ada beberapa unsur-unsur yang menjadi dasar seorang itu
dinyatakan sebagai pemimpin yaitu :

1. Mampu mempengaruhi orang

2. Mampu menumbuhkan perasaan ikut serta

3. Bertanggung jawab

Ajaran islam menyatakan bahwa setiap individu itu pada hakikatnya adalah pemimpin dan
setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, kita sebagai
bawahannya sangatlah penting dan berpengaruh terhadap atasan (pemimpin). Adapun kode
etik yang perlu kita terapkan terhadap atasan (pemimpin) adalah sebagai berikut :

1. Bersifat harga menghargai atau menghormati atas keputusannya

2. Bersifat toleran

3. Tolong menolong

4. Lemah Lembut

5. Pemaaf, tidak menghina / melecehkannya.

6. Sabar, tidak mudah marah karena hal-hal kecil.

7. Tidak merasa rendah hati

8. Bersifat tenang apabila kita mendapat masalah ataupun tugas yang diberikan atasan
(pemimpin).

9. dan lain-lain.

Secara langsung kewajiban seorang pemimpin terhadap bawahannya adalah menjadi hak
penuh bagi rakyat (bawahan) itu sendiri, dan kewajiban bawahan menjadi hak bagi
pemimpinnya. Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan hak-hak pemimpin yang menjadi
kewajiban terhadap bawahannya seperti yang dituntun oleh al-Quran dan Sunnah. Pada
prinsipnya, kewajiban rakyatnya (bawahan) yang menjadi hak bagi pemimpinnya ialah
menaati dan mengikuti pemimpinnya. Hal ini jelas diungkapkan Allah melalui ayat berikut :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih
baik akibatnya.( QS. An-nisa : 59)

Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak sempurna jika tidak diiringi dengan
ketaatan kepada Rasul, ketaatan kepada Allah dan Rasul juga belum sempurna jika tidak
dibarengi dengan ketaatan kepada pemimpin yang sah. Dengan kata lain mentaati pemimpin
berarti mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya mendurhakai dan menentang pemimpin
sama dengan mendurhakai dan menentang Allah. Orang yang mendurhakai pemimpin sama
jeleknya dengan mendurhakai Allah. Orang yang mendurhakai pemimpin Rasul sama dengan
mendurhakai Allah. Natijahnya ialah menentang pemimpin berarti menentang Allah.

Menurut keterangan yang diperoleh dari hadits-hadits rasulullah, paling tidak ada dua
persyaratan kewajiban mentaati pemimpin :

1. Pemimpin yang ditaati itu adalah pemimpin yang legal (sah)

2. Pemimpin yang taat beragama dan setia kepada aturan agama.

Dalam penyampaiannya, seorang muslim tetap dituntut supaya tidak menyalahi kardinir
agama. Oleh sebab itu, kita sebagai bawahan haruslah bisa untuk tidak mengeluarkan kata-
kata kotor, penghinaan, penghajatan dan yang melecehkan hak-hak asasi orang lain. Karena
menghina dan melecehkan pemimpin adalah sikap dan perbuatan yang tidak moral dan
bahkan bukan perbuatan seorang muslim, meskipun apa yang disampaikan itu adalah benar.

Sebagai bawahan haruslah menjaga etika ataupun hubungan yang baik karena sesungguhnya
kode etik guru itu sesungguhnya merupakan pedoman yang mengatur hubungan guru dengan
teman sejawat, peserta didik, orang tua peserta didik, pimpinan, masyarakat dan dengan misi
tugasnya. Etika hubungan guru dengan teman sejawat menuntut prilaku yang kooperatif,
mempersoalkan dan saling mendukung.
Adapun hubungan guru dengan atasannya adalah sebagai berikut :

1. Guru wajib melaksanakan perintah dan kebijaksanaan atasannya

2. Guru wajib menghormati hirarki

3. Guru wajib menyimpan rahasia jabatan

4. Setiap saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui prosedur dan forum
yang semestinya.

5. Jalinan hubungan antara guru dengan atasan hendaknya selalu diarahkan untuk
meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.

Etika hubungan dengan pemimpin di sekolah menuntut adanya saling mempercayai guru
percaya bahwa pimpinan sekolah memberi tugas yang dapat dikerjakannya dan setiap
pekerjaan yang dilakukan pasti ada imbalannya, paling tidak di akhirat kelak. Sebaliknya
pemimpin sekolah/madrasah mempercayakan suatu tugas kepada guru karena keyakinannya
bahwa guru tersebut akan mampu melaksanakannya sebaik mungkin. Dalam hubungan guru
dengan pemimpin tersebut yang terpenting adalah tanggung jawab dari kedua belah pihak
atas konsekuensi dari beban kerja itu. Yang harus diterima guru dari pimpinan sekolah adalah
tugas kependidikan. Kalau dalam pelaksanaan tugas ada masalah tertentu perlu konsultasi,
manakala tugas telah dilaksanakan, guru memberi laporan. Jadi, isi utama hubungan guru
dengan pimpinan sekolah adalah penerimaan pemberian tugas.

Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih
besar guru akan selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Dari
organisasi ada strata kepemimpinan mulai dari pengurus cabang, daerah, sampai ke pusat,
begitu juga sebagai anggota keluarga besar depdikbud, ada pembagian pengawasan mulai
dari kepala sekolah, kakandep, dan seterusnya. Agar dapat memberikan layanan yang
memuaskan masyarakat atau guru. Pemimpin ataupun atasan harus selalu dapat
menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan keinginan dan permintaan
masyarakat.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Sebagai profesional, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan
secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-
undangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin, dan
pekerjaan.
Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tantangan perkembangan masyarakat, jabatan
guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru selalu
mengadakan pembaharuan dengan tuntutan tugasnya.

SARAN

Dalam penyusunan makalah ini penulis mohon dengan sangat masukan dan
kritikan dari dosen agar penulis menjadi lebih baik, karena dalam penyusunan makalah
ini kami mungkin banyak kata atau penulisan kata yang salah.
DAFTAR PUSATAKA

Buku profesi kependidikan

http://pakdenanda.blogspot.com/2014/03/makalah-profesi-keguruan-sikap.html (29 Oktober


2014 )
http://anton-suryadi.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html( 28 Oktober 2014
0

ndang965.wordpress.com/thesis/4-persepsi-guru-kepemimpinan-kepala-sekolah-lingkungan-
kerja-sikap-guru/bab-1-pendahuluan/ ( 25 OKTOBER 2014 )
DAFTAR PUSATAKA

www.wikipedia.com

http://pakdenanda.blogspot.com/2014/03/makalah-profesi-keguruan-sikap.html (29 Oktober


2014 )
http://anton-suryadi.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html( 28 Oktober 2014
0

ndang965.wordpress.com/thesis/4-persepsi-guru-kepemimpinan-kepala-sekolah-lingkungan-
kerja-sikap-guru/bab-1-pendahuluan/ ( 25 OKTOBER 2014 )

Buku profesi kependidikan