Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap
lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera
gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang
kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons
tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan
tidka adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan .
Pertumbuhan tanaman pada batas tertentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.
Di antara unsur-unsur lingkungan yang paling penting adalah ketersediaan air, oksigen,
karbon dan hara tanah. Suhu tanah dan udara juga merupakan unsur penting. Demikian
pula intensitas cahaya dan lamanya cahaya yaitu jumlah jam cahaya yang diterima setiap
hari.
Gerak pada bagian tumbuhan yang arahnya dipengaruhi oleh arah datangnya
rangsangan disebut tropisme. Gerak tropisme terjadi karena gerak tumbuh tumbuhan.
Berdasarkan jenis rangsangan yang diterima oleh tumbuhan, tropisme dibedakan menjadi
beberapa macam, yaitu fototropisme, geotropisme, hidrotropisme dan tigmotropisme.
Bila cahaya yang datang dari atas tumbuhan, tumbuhan akan tumbuh tegak
mengarah ke atas. Hal ini dapat kamu amati pada tumbuhan yang hidup di alam bebas.
Tanaman pot yang diletakkan di dalam ruangan dan mendapat cahaya dari samping, ujung
batangnya akan tumbuh membengkok ke arah datangnya cahaya. Tropisme yang
disebabkan oleh rangsangan cahaya disebut fototropisme atau dapat juga disebut
heterotropisme karena rangsangan cahayanya adalah cahaya matahari.
Berdasarkan uraian diatas dan keinginan untuk mengetahui pengaruh cahaya
terhadap perkecambahan maka dilaksanakan percobaan ini.

1
B. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh cahaya terhadap
perkembangan kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus yang ditempatkan pada tempat
gelap dan terang.

C. Waktu dan Tempat Percobaan


Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Nusa Lontar.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tingkat tinggi merupakan peristiwa yang


kompleks. Jika dimulai dari proses perkecambahan, maka proses selanjutnya merupakan
sederet perubahan morfologi dan fisiologi yang dinamakan pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan vegetatif menyusul perkecambahan yang merupakan proses pembentangan sel-
sel penyusun embrio, adalah terjadinya diferensiasi sel meristem apikal, membentuk organ
vegetatif dan selanjutnya terjadi pertumbuhan reproduktif.
Saat lingkungan tumbuh tidak sesuai dengan pertumbuhan. Misalnya di iklim sedang,
ada musim dingin yang tidak memungkinkan tumbuhan tumbuh normal. Di tropika sekalipun
ada saat tidak baik untuk pertumbuhan, misalnya keadaan kering yang lama. Untuk itu
tumbuhan akan memasuki masa dormansi, yaitu meristem kuncup tetap mempunyai potensi
untuk tumbuh, tetapi tidak melakukan pertumbuhan atau pertumbuhannya sangat lambat.
Dormansi dapat di jumpai pada berbagai organ lain misalnya rhizome, umbi, umbi lapis, dan
biji. Penyebab terjadinya dormasi bermacam-macam, ada yang spontan, ada yang karena
keadaan lingkungan, misalnya kekurangan air, temperatur rendah, hari pendek. Jika dianalisis,
ternyata ada beberapa hormon yang ikut mempengaruhinya. Pada organ dorman, selain kadar
kenaikan absisin juga terjadi perubahan lain, yaitu turunnya kadar air, transpor antar sel
terhambat, organel tertentu mereduksi dan metabolisme lambat.
Pada dormansi terdapat halangan internal terhadap pertumbuhan yang dapat dicegah
meskipun kondisi-kondisi eksternal sangat menguntungkan. Pertumbuhan yang terhambat
mungkin disebabkan oleh kurangnya zat yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan
maupun karena terdapatnya zat-zat penghambat yang aktif.
Pertumbuhan tanaman pada batas tertentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Di
antara unsur-unsur lingkungan yang paling penting adalah ketersediaan air, oksigen, karbon
dan hara tanah. Suhu tanah dan udara juga merupakan unsur penting. Demikian pula intensitas
cahaya dan lamanya cahaya yaitu jumlah jam cahaya yang diterima setiap hari. Setiap
organisme mampu menerima rangsang yang disebut iritabilitas, dan mampu pula menanggapi
rangsang tersebut. Salah satu bentuk tanggapan yang umum adalah berupa gerak. Gerak
berupa perubahan posisi tubuh atau perpindahan yang meliputi seluruh atau sebagian dari
tubuh.
Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya
akan lambat karena jika auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak
disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak

3
dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti
arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme. Untuk membedakan tanaman
yang memiliki hormon yang banyak atau sedikit qita harus mengetahui bentuk anatomi dan
fisiologi pada tanaman sehingga kita lebih mudah untuk mengetahuinya. sedangkan untuk
tanaman yang diletakkan ditempat yang terang dan gelap diantaranya.
Tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat
selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan. Hal
ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan
untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih
lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap, tetapi tekstur
batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja
hormon auksin dihambat oleh sinar matahari.
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik
untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon.
Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun
faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut literature, perkecambahan di pengaruhi oleh
hormon auksin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh
lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auksin sangat peka terhadap
cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan
terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara
merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus
menjulur ke atas.
Auksin berasal dari bahasa yunani yaitu auxien yang berarti meningkatkan. Auksin ini
pertama kali digunakan Frits Went, seorang mahasiswa pascasarjana di negeri belanda pada
tahun 1962, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin
menyebabkan pembengkokan koleoptil oat kerah cahaya. Fenomena pembengkokan ini
dikenal dengan istilah fototropisme. Senyawa ini banyak ditemukan Went didaerah koleoptil.
Aktifitas auksin dilacak melalui pembengkokan koleoptil yang terjadi akibat terpacunya
pemanjangan pada sisi yang tidak terkena cahaya matahari. Auksin yang ditemukan Went,
kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih
menyamakannya dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang
struktrurnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA.
Ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa-senyawa tersebut adalah
asam 4-kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA).

4
Para ahli fisiologi telah meneliti pengaruh auksin dalam proses pembentukan akar
lazim, yang membantu mengimbangkan pertumbuhan sistem akar dan system tajuk. Terdapat
bukti kuat yang menunjukkan bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal
pertumbuhan akar. Bila daun muda dan kuncup, yang mengandung banyak auksin, dipangkas
maka jumlah pembentukan akar sampling akan berkurang. Bila hilangnya organ tersebut
diganti dengan auksin, maka kemampan membentuk akar sering terjadi kembali.
Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu,
misalnya tanaman apel Pyrus malus, telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu
pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh
apabila dipacu dengan auksin. Primordia ini sering terdapat di nodus atau bagian bawah
cabang diantara nodus. Pada daerah tersebut, pada batang apel, masing-masing mengandung
sampai 100 primordia akar. Bahkan, batang tanpa primordia sebelumnya akan mampu
menghasilkan akar liar dari pembelahan lapisan floem bagian luar.
Gambar 1. Hormon auksin pada biji yang mengalami pertumbuhan.

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas


(kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).
Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji
yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran
intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji
yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya).
Biji positively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk
jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini disebut
skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant
jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah.

5
Kualitas cahaya menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari
spektrum (red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat
perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama
sekali bertentangan): jika diberikan bergantian, maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi
oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang
photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif) :
P650 : mengabsorbir di daerah merah
P730 : mengabsorbir di daerah infra merah
Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah menjadi P730.
P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya
perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah (far-red; 730 nm), maka
pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan.
Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperature :
Pemberian temperatur 10-200C : biji berkecambah dalam gelap
Pemberian temperatur 20-300C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah
Pemberian temperatur >350C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang.
Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang
diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh
zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin.
Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi pada biji dapat dikelompokkan dalam :
1. faktor lingkungan eksternal, seperti cahaya, temperatur, dan air
2. faktor internal, seperti kulit biji, kematangan embrio, adanya inhibitor, dan rendahnya zat
perangsang tumbuh
3. faktor waktu, yaitu waktu setelah pematangan, hilangnya inhibitor, dan sintesis zat
perangsang tumbuh.
Dormansi pada biji dapat dipatahkan dengan perlakuan mekanis, cahaya, temperatur,
dan bahan kimia. Proses perkecambahan dalam biji dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu proses perkecambahan fisiologis dan proses perkecambahan morfologis. Sedangkan
dormansi yang terjadi pada tunas-tunas lateral merupakan pengaruh korelatif dimana ujung
batang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagian tumbuhan lainnya yang
dikenal dengan dominansi apikal. Derajat dominansi apikal ditentukan oleh umur fisiologis
tumbuhan tersebut.
Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses
metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang
menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses

6
perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah
soumarin dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena
daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat
berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.
Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-biji
itu memerlukan rangsangan cahaya. Karena itu kelihatannya perkecambahan yang
dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang tidak toleran terhadap
penaungan. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas
menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada
morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar.
Ekologi tanaman dalam kaitannya dengan intensitas cahaya diatur oleh dua hal yaitu
penempatan daun dalam posisi dimana akan diterima intersepsi cahaya maksimum. Berarti
diatas kanopi dan didalam komunitas yang kompleks sebagian besar daun tesebut tidak dapat
mencapainya. Karena itu sebagian besar dari daun akan berada pada intensitas cahaya yang
kurang dari yang dibutuhkan.
Fotosintesis dimaksimumkan untuk energi yang diterima, dengan anggapan keadaan
ini menjadi dibawah titik jenuh cahaya untuk fotosintesis normal, sehingga tetap dalam
kesinambungan neto karbon yang positif (pengikatan CO2 untuk fotosintesis lebih besar
daripada jumlah yang dikeluarkan pada respirasi dan hasil karbohidrat). Sehelai daun yang
berada pada keseimbangan C yang negatif akan memerlukan gula yang diambil dari sisa
tanaman dan akan mengurangi ketegaran secara menyeluruh.
Adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya sangat
dibutuhkan untuk pembentukan zat warna hijau (chlorophyll), Pertumbuhan tanaman dan
kwalitas daripada produksi. Tanaman yang kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah,
pucat dan memanjang. Setiap jenis sayuran menghendaki syarat-syarat yang sangat
berlawanan, ada suatu jenis yang menghendaki penyinaran panjang, ada pula yang pendek.
Yang dimaksud penyinaran panjang ialah lebih dari 12 jam, sedang penyinaran pendek kurang
dari 12 jam.

7
BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah penggaris dan alat tulis, nampan,
dan gelas air mineral.

B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biji kacang hijau Phaseolus
radiatus, air, kertas label, tissue, dan kertas koran.

C. Cara kerja
Cara kerja dari percobaan ini yaitu :
1. Merendam 20 biji kacang hijau Phaseolus radiates dalam air.
2. Memilih biji yang tenggelam diair yang menandakan kualitasnya baik dan cocok.
3. Menyiapkan dua nampan yang telah diisi bubur koran.
4. Memasukkan masing- masing 10 biji yang telah direndam pada kedua nampan sebagai
perlakuan di tempat gelap dan terang.
5. Menempatkan nampan pertama ditempat yang terang dan nampan kedua pada tempat
yang gelap.
6. Melakukan pengamatan selama 5 hari untuk melihat perkembangan tanaman dan
mencatat hasilnya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Supeksa, Ketut, 2011, Hormon pada Tumbuhan (Fitohormon),


https://supeksa.wordpress.com/2011/06/05/hormon-pada-tumbuhan-fitohormon/,
diakses pada tanggal 22 Mei 2015, Pukul 19.23 WITA.

Elisa, 2011, Dormansi dan Perkecambahan Biji, http://elisa.ugm.ac.id/, diakses pada tanggal
tanggal 22 Mei 2015, Pukul 19.23 WITA.

Soerga, N., 2011, Pola Pertumbuhan Tanaman, http://soearga.wordpress.com/, diakses pada


tanggal 22 Mei 2015, Pukul 19.23 WITA.

Setiawan, Suwarno, 2011, Auksin, http://id.Anonim.org/, diakses pada tanggal 22 Mei 2015,
Pukul 19.23 WITA.

Zhamal, 2011, Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau, http://
catatanzhamal.blogspot.com/,. diakses tanggal 22 Mei 2015, Pukul 19.23 WITA.

Nextprogeneratiaon. Kuja, Perkecambahan dalam Gelap dan Terang,


http://gesangsharewithyou.blogspot.com/2013/03/perkecambahan-dalam-gelap-dan-
terang.html. diakses tanggal 22 Mei 2015, Pukul 19.23 WITA.

Sang Isahi, Dosso, Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan,


http://biologimediacentre.com/pertumbuhan-dan-perkembangan-1-pertumbuhan-dan-
perkembangan-pada-tumbuhan/. diakses tanggal 22 Mei 2015, Pukul 19.23 WITA.

9
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena

atas berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan

judul Perkecambahan pada Daerah Gelap dan Terang.

Penulis sadar bahwa atas bantuan moril dan materil dari berbagai pihak sehingga

penulis mampu menyelesaikan laporan ini. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima

kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

Menyadari pula bahwa penulisan laporan praktikum ini masih jauh dari harapan

pembaca, maka perlu adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan

tulisan ini.

Akhirnya Tuhanlah yang dapat membalas semua jasa baik Bapak, Ibu, Saudara-

saudari dan rekan semuanya.

Baa, Mei 2015

Penulis

10i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR------------------------------------------------------------------------ i

DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------------------------- ii

BAB I PENDAHULUAN ---------------------------------------------------------------- 1

A. Latar Belakang -------------------------------------------------------------- 1

B. Tujuan Percobaan ----------------------------------------------------------- 2

C. Waktu dan Tempat Percobaan -------------------------------------------- 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA --------------------------------------------------------- 3

BAB III METODE PERCOBAAN ------------------------------------------------------- 8

A. Alat ----------------------------------------------------------------------------- 8

B. Bahan -------------------------------------------------------------------------- 8

C. Cara Kerja --------------------------------------------------------------------- 8

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------------------ 9

11
ii
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
PERKECAMBAHAN PADA DAERAH GELAP DAN TERANG

OLEH :

WINDA BOIK
NIM. 130 710 070

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NUSA LONTAR

ROTE NDAO

2015

12