Anda di halaman 1dari 140

GEOLOGI DAN POROSITAS BATUPASIR FORMASI KEREK SEBAGAI

RESERVOIR MINYAK BUMI DAERAH REPAKING DAN SEKITARNYA,


KECAMATAN WONOSEGORO, KABUPATEN GROBOGAN,
PROVINSI JAWA TENGAH
No Lembar Peta 4/9 1408-632 (Kedungjati)

SKRIPSI TIPE I

Diajukan untuk memenuhi persyaratan akademik tingkat sarjana pada


Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Oleh:
Subhan Arif
NIM 101.10.1052

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2014

i
HALAMAN PENGESAHAN

GEOLOGI DAN POROSITAS BATUPASIR FORMASI KEREK SEBAGAI


RESERVOIR MINYAK BUMI DAERAH REPAKING DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN WONOSEGORO, KABUPATEN GROBOGAN,
PROVINSI JAWA TENGAH
No Lembar Peta 4/9 1408-632
1408 (Kedungjati)

SKRIPSI TIPE I

Diajukan untuk memenuhi persyaratan akademik tingkat sarjana pada


Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Disahkan di : Yogyakarta
Pada tanggal : 15 Oktober 2014
Penulis

Subhan Arif
NIM 101.10.1052
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Miftahussalam, M.T. Ir. H. Siwi Sanjoto, M.T.


NIK 87.0254.317 E NIK 86.0555.311 E

Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Geologi

Dr. Sri Mulyaningsih, ST., M.T.


NIK 96.0672.516 E

ii
LEMBAR PENGUJI

GEOLOGI DAN POROSITAS BATUPASIR FORMASI KEREK SEBAGAI


RESERVOIR MINYAK BUMI DAERAH REPAKING DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN WONOSEGORO, KABUPATEN GROBOGAN,
PROVINSI JAWA TENGAH
No Lembar Peta 4/9 1408-632
1408 (Kedungjati)

SKRIPSI TIPE I

Telah dipertahankan pada sidang pendadaran tingkat sarjana


Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Waktu : 15 Oktober 2014


Tempat : Fakultas Teknologi Mineral, Jurusan Teknik
Geologi, Institut Sains & Teknologi AKPRIND
Yogyakarta
Tim Penguji
1. Ketua : Ir. Miftahussalam M.T

2. Sekertaris : Ir. H. Siwi Sanjoto, M.T .

3. Anggota : Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si. .

Mengetahui
Dekan Fakultas Teknologi Mineral Ketua Jurusan Teknik Geologi

Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si. Dr. Sri Mulyaningsih, ST., M.T.
NIK 91.0659.413 E NIK 96.0672.516 E

iii
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

GEOLOGI DAN POROSITAS BATUPASIR FORMASI KEREK SEBAGAI


RESERVOIR MINYAK BUMI DAERAH REPAKING DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN WONOSEGORO, KABUPATEN GROBOGAN,
PROVINSI JAWA TENGAH
No Lembar Peta 4/9 1408-632
1408 (Kedungjati)

Adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir skripsi
ini.

Oktober 2014
Yang menyatakan

Penulis,

Subhan Arif
NIM 101.10.1052

iv
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya penulis diberikan kemudahan dan kelancaran sehingga dapat
menyelesaikan skripsi tipe I dengan judul Geologi Dan Porositas Batupasir
Formasi Kerek Sebagai Reservoir Minyak Bumi Daerah Repaking Dan Sekitarnya,
Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah.
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa juga mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ir. Miftahussalam M.T. selaku dosen pembimbing I atas bimbingannya
selama pelaksanaan skripsi ini.
2. Ir. H. Siwi Sanjoto, M.T. selaku dosen pembimbing II atas bimbingannya
selama pelaksanaan skripsi ini.
3. Dekan Fakultas Teknologi Mineral Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si
dorongan moril yang senantiasa diberikan.
4. Kedua orang tua saya yang selalu memberi dukungan dan doa.
5. Adik-adik saya yang selalu memberikan semangat.
6. Rekan-rekan Geologi GAIA dan Jamaah Al-Kautsar Institut Sains &
Teknologi AKPRIND Yogyakarta atas dukungannya.
Penulis sangat menyadari bahwa laporan skripsi ini masih sangat banyak
sekali kekurangannya, baik dari segi isi maupun penulisannya, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
memperbaiki tulisan ini. Akhirnya, penulis mengharapkan semoga tulisan ini
bermanfaat sehingga dapat membuka wawasan bagi para pembaca dan kemajuan
ilmu geologi di Indonesia khususnya.

Yogyakarta, Oktober 2014

Penulis

v
INTISARI

Daerah penelitian secara administrative terletak di daerah Repaking dan


sekitarnya, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Grobogan Propinsi Jawa Tengah.
Secara astronomis terletak pada koordinat 7o1000 LS 7o1500 LS dan
110o3730 BT 110o4230 BT. Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui
keadaan geologi daerah penulisan, yang meliputi geomorfologi, stratigrafi, geologi
struktur, sejarah geologi, dan geologi lingkungannya, serta menganalisis porositas
batupasir karbonat Formasi Kerek sebagai reservoir minyakbumi.
Metode yang digunakan adalah dengan pemetaan geologi permukaan yang
meliputi beberapa tahapan, antara lain tahap pra lapangan yang berupa studi peneliti
terdahulu, tahap lapangan yaitu kolekting data, dan tahap pasca lapangan berupa
analisis laboratorium dan analisis di studio.
Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 4 yaitu: subsatuan
geomorfologi dataran alluvial (F1), subsatuan tubuh sungai (F2), subsatuan
perbukitan lipatan kompleks lipatan terdenudasi (S21), subsatuan geomorfologi
perbukitan denudasional (D1). Daerah penelitian mempunyai 1 pola aliran yaitu
subdendritik dengan stadia daerah dewasa. Stratigrafi daerah penelitian dibagi
menjadi 5 satuan batuan dan endapan aluvial. Urutan satuan batuan dari yang tertua
sampai yang paling muda adalah satuan batupasir karbonat, batupasir tufan, napal,
batugamping, breksi andesit dan.endapan alluvial. Struktur geologi yang
berkembang di daerah penelitian berupa sesar sesar, kekar dan lipatan. Sesar naik
yang ada adalah Sesar Naik Ngrengkesan, Sesar Naik Wonosegoro. Sesar Mendatar
Yang Ada Adalah Sesar Mendatar Karangploso, Sesar Mendatar Panimbo, Sesar
Mendatar Joho. Struktur lipatan yang ada adalah Sinklin Kentengsari, Antiklin dan
Sinklin Karang, Sinklin Bercak. Sesumber yang terdapat pada daerah penelitian
adalah air, lahan dan serta sumberdaya energi berupa rembesan minyakbumi.
Bencana geologi yang ada, bencana kekeringan, gerakan massa dan banjir. Dari
hasil analisis porositas yang dilakukan didapatkan hasil porositas batupasir formasi
kerek termasuk dalam kategori sangat baik sampai istimewa.

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................i


HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................ii
LEMBAR PENGUJI .......................................................................................iii
LEMBAR PERNYATAAN .............................................................................iv
PRAKATA .......................................................................................................v
INTISARI .........................................................................................................vi
DAFTAR ISI ....................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1
I.1. Latar Belakang ...................................................................................1
I.2. Maksud dan Tujuan ............................................................................2
I.3. Luas, Letak dan Kesampaian Daerah ..................................................2
I.4. Tahapan Penulisan ..............................................................................3
I.4.1. Studi pustaka .................................................................................3
I.4.2. Penelitian lapangan........................................................................4
I.4.3. Penelitian di laboratorium ..............................................................6
I.4.4. Penulisan draft laporan ..................................................................6
I.5. Bagan Alir Penelitian ..........................................................................6
I.6. Peralatan dan Bahan Penelitian ...........................................................7
I.7. Peneliti Terdahulu ..............................................................................8

BAB II GEOMORFOLOGI ............................................................................10


II.1. Geomorfologi Regional Zona Kendeng .............................................11
II.2. Geomorfologi Daerah Penulisan ........................................................12
II.2.1. Subsatuan geomorfologi dataran aluvial (F1)................................15
II.2.2. Subsatuan geomorfologi tubuh sungai (F2)...................................16
II.2.3. Subsatuan geomorfologi kompleks lipatan terdenudasi (S21) .......16
II.2.4. Subsatuan geomorfologi perbukitan denudasional (D1) ................18
II.3. Pola Aliran Sungai ............................................................................19
II.3.1. Pola aliran daerah penelitian .........................................................20
II.4. Stadia Daerah ....................................................................................22

BAB III STRATIGRAFI .................................................................................27


III.1. Stratigrafi Regional ..........................................................................27
III.1.1. Formasi Pelang ...........................................................................27
III.1.2. Formasi Kerek ............................................................................27
III.1.3. Formasi Kalibeng........................................................................28
III.1.4. Formasi Pucangan .......................................................................31
III.1.5. Formasi Kabuh ...........................................................................32
III.1.6. Formasi Notopuro .......................................................................32

vii
III.1.7. Endapan Undak Bengawan Solo .................................................32
III.2. Stratigrafi Daerah Penelitian ............................................................33
III.2.1. Satuan batupasir karbonat ...........................................................35
Iii.2.2. Satuan batupasir tufan .................................................................42
Iii.2.3. Satuan napal ................................................................................47
Iii.2.4. Satuan batugamping ...................................................................54
Iii.2.5. Satuan breksi breksi andesit .........................................................56
Iii.2.5. Satuan endapan aluvial ................................................................59
BAB IV STRUKTUR GEOLOGI ...................................................................61
IV.1. Struktur Geologi Regional ...............................................................61
IV.2. Struktur Geologi Daerah Penelitian ..................................................62
IV.2.1. Struktur kekar .............................................................................63
IV.2.2. Struktur sesar ..............................................................................65
IV.2.3 Struktur lipatan ...........................................................................74
IV.3. Mekanisme dan Genesa Struktur Geologi di Daerah Penulisan.........80

BAB V SEJARAH GEOLOGI ........................................................................82


BAB VI GEOLOGI LINGKUNGAN..............................................................86
VI.1. Sesumber .........................................................................................86
VI.1.1. Air ..............................................................................................87
VI.1.2. Bahan galian ...............................................................................88
VI.1.3. Lahan .........................................................................................89
VI.1.4. Minyakbumi ...............................................................................90
VI.2. Bencana Alam .................................................................................90

BAB VII ANALISIS POROSITAS BATUPASIR KARBONAT


FORMASI KEREK SEBAGAI RESERVOIR
MINYAKBUMI ...............................................................................94
VII.1. Dasar Teori .....................................................................................94
VII.1.1. Pengertian reservoir minyakbumi ..............................................94
VII.1.2. Pengertian porositas ..................................................................96
VII.1.3. Metode analisis porositas...........................................................100
VII.2. Analisis Porositas Batupasir Karbonat Formasi Kerek Daerah
Repaking Sebagai Reservoir Minyakbumi ......................................101
VII.2.1. Lokasi pengambilan sampel dan jenis sampel yang digunakan...102
VII.2.2. Metode yang digunakan.............................................................103
VII.2.3. Hasil analisis porositas batupasir karbonat Formasi Kerek
Daerah Repaking Sebagai Reservoir Minyakbumi .....................110

BAB VIII KESIMPULAN ...............................................................................113


DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Peta indeks dan lokasi daerah penelitian (Bakorsutanal,


2001) ..........................................................................................3

Gambar 1.2. Bagan alir penelitian (Penulis, 2014) ...........................................7

Gambar 2.1. Fisiografi Jawa Timur (Modifikasi dari Bemmelen, 1949) ...........11

Gambar 2.2. Pembagian subsatuan geomorfik pada daerah penelitian,


Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Propisi
Jawa Tengan (Penulis, 2014) .......................................................14

Gambar 2.3. Subsatuan geomorfik dataran aluvial (F1). Foto


menghadap ke arah utara (Penulis, 2014) ....................................15

Gambar 2.4. Subsatuan geomorfik tubuh sungai (F2). Foto menghadap


ke arah selatan (Penulis, 2014) ....................................................16

Gambar 2.5. Perbukitan sesar naik terdenudasi. Foto ke arah timur


(Penulis, 2014) ............................................................................17

Gambar 2.6. Morfologi bergelombang sedang sampai kuat. Foto


menghadap ke arah selatan (Penulis, 2014) .................................17

Gambar 2.7. Lembah sinklin. Foto menghadap ke arah timur (Penulis,


2014) ..........................................................................................18

Gambar 2.8. Subsatuan geomorfik perbukitan denudasional (D1). Foto


menghadap ke arah utara (Penulis, 2014) ....................................18

Gambar 2.9. Klasifikasi pola aliran sungai yang belum mengalami


perubahan (modified basic pattern) (Howard, 1967) ...................20
Gambar 2.10. Klasifikasi pola aliran sungai yang telah mengalami
perubahan (modified basic pattern) (Howard, 1967) ...................20
Gambar 2.11. Peta pola aliran daerah penelitian (Penulis, 2014)........................21
Gambar 2.12. Stadia daerah menurut Lobeck (1939), sebagai model
pedekatan penentuan stadia sungai di daerah penelitian ..............25
Gambar 2.13. Morfologi bergelombang lemah sampai sedang. Foto
diambil dari LP 175....................................................................25

ix
Gambar 2.14. Penampang sungai berbentuk U dan point bar pada
Sungai repaking yang menunjukan stadia daerah adalah
dewasa. Foto diambil dari LP 86 ................................................26
Gambar 3.1. Batupasir karbonat dan batulempung karbonat (Penulis,
2014) ..........................................................................................35
Gambar 3.2. Batupasir karbonat dengan struktur fluet castnya, lensa
kamera menghadap utara LP 108................................................36
Gambar 3.3. Batupasir karbonat dengan kedudukan tegak di dusun
Repaking, lensa kamera menghadap timur (Penulis, 2014) ..........36
Gambar 3.4. Beberapa fosil hasil determinasi pada satuan batuan
batupasir karbonat (Penulis, 2014) ..............................................38
Gambar 3.5. Model fasies kipas bawah laut dan model progradasi kipas
bawah laut, dimodifikasi (Walker, 1978) .....................................40
Gambar 3.6. Model fasies pengendapan satuan batupasir karbonat,
dimodifikasi (Walker, 1978)........................................................41
Gambar 3.7. Satuan batupasir tufan, diambil pada LP 131. Lensa
kamera menghadap NE (Penulis, 2014) .......................................43
Gambar 3.8. Batupasir kerikilan yang merupakan anggota satuan
batupasir tufan, diambil pada LP 126. Lensa kamera
menghadap NE (Penulis, 2014) ...................................................43
Gambar 3.9. Batupasir tufan dengan sisipan batulempung karbonat.
Lensa kamera menghadap utara (Penulis, 2014) ..........................44
Gambar 3.10. Batupasir kerikilan dengan dengan fragmen batupasir
berfosil, diambil pada LP 10. Lensa kamera menghadap
SE (Penulis, 2014) ......................................................................44
Gambar 3.11. Model fasies pengendapan satuan batupasir tufan,
dimodifikasi (Walker, 1978)......................................................46
Gambar 3.12. Satuan napal dengan struktur berlapis, diambil pada LP
25. Lensa kamera menghadap NW (Penulis, 2014)......................48
Gambar 3.13. Satuan napal perselingan dengan batupasir karbonat.
Lensa kamera menghadap timur (Penulis, 2014)..........................49
Gambar 3.14. Beberapa fosil hasil determinasi pada satuan napal
(Penulis, 2014) ............................................................................50
Gambar 3.15. Model fasies pengendapan satuan napal, dimodifikasi
(Walker, 1978) ............................................................................53

x
Gambar 3.16. Satuan batugamping terdapat pada LP 28. Lensa kamera
menghadap timur (Penulis, 2014) ................................................54
Gambar 3.17. Satuan batugamping terdapat pada LP 26. Lensa kamera
menghadap utara (Penulis, 2014).................................................54
Gambar 3.18. Satuan breksi dengan fragmen andesit terdapat pada LP
123. Lensa kamera menghadap timur (Penulis, 2014) ..................57
Gambar 3.19. Kontak ketidakselarasan antara satuan breksi dengan
satuan batupasir karbonat diambil pad aLP 109. Lensa
kamera menghadap utara (Penulis, 2014) ....................................59
Gambar 3.20. Endapan alluvial yang dimanfaatkan oleh warga sekitar
sebagai lahan persawahan. Lensa kamera menghadap utara
(Penulis, 2014) ............................................................................60
Gambar 3.21. Endapan aluvial yang tersingkap di tebing Sungai
Tuntang. Lensa kamera menghadap selatan (Penulis,
2014) ..........................................................................................60
Gambar 4.1. Gambaran umum struktur geologi Pulau Jawa, Jawa Timur
dan Jawa tengah (Anonim, 2014) ................................................61
Gambar 4.2. Kekar pada LP 41, lensa kamera menghadap timurlaut
(Penulis, 2014) ............................................................................64
Gambar 4.3. Analisis kekar LP 41 (Penulis, 2013)..........................................65
Gambar 4.4. Sesar menadatar, lipatan dan sesar naik model Moody dan
Hill (1956) ..................................................................................66
Gambar 4.5. Sesar-sesar utama pada daerah penelitian (Penulis, 2014) ............67
Gambar 4.6. Sesar-sesar naik sintetik dan lokasinya (Penulis, 2014)................68

Gambar 4.7. Offset morfologi yang merupan indikasi Sesar Mendatar


Joho (Penulis, 2014) ....................................................................69
Gambar 4.8. Sungai Ngetawu yang merupakan jalur Sesar Mendatar
Joho. Foto diambil di LP 162 (Penulis, 2014) .............................69
Gambar 4.9. Analisis sesar pada LP 61, gambar a merupakan SF dan
GF dan gambar b adalah zona hancuran (Penulis, 2014) ..............70
Gambar 4.10. Drag fold yang menunjuka arah pergerakan dari sesar
Karangploso dan Offset litologi sebagai indikasi Sesar
Mendatar Kanan Karangploso (Penulis, 2014).............................70

xi
Gambar 4.11. Sesar minor sintetik pada jalur Sesar Panimbo (Penulis,
2014) ..........................................................................................71
Gambar 4.12. Drag fold yang menunjukan arah pergerakan dari Sesar
Karangploso dan offset litologi sebagai indikasi Sesar
Mendatar Kanan Karangploso (Penulis, 2014).............................71
Gambar 4.13. Sesar mendatar kiri turun, LP 108 (Penulis, 2014) ......................72
Gambar 4.14. Sesar mendatar kiri turun, LP 48 (Penulis, 2014) ........................72
Gambar 4.15. Drag fold dan milonit. Foto kamera menghadap NW di LP
91 (Penulis, 2014) .......................................................................73
Gambar 4.16. Kenampakan drag fold lensa kamera menghadap barat,
LP 87 (Penulis, 2014).................................................................74
Gambar 4.17. Lapisan yang mengalami pembalikan, ditandai dengan
struktur fluet cast yang berada di permukaan, LP 74
(Penulis, 2014) ............................................................................74
Gembar 4.18. Anatomi lipatan (Fossen, 2010) ...................................................76
Gambar 4.19. Lipatan-lipatan utama pada daerah penelitian (Penulis,
2014) ..........................................................................................77
Gambar 4.20. Kenampakan struktur antiklin minor (lipatan ini
merupakan lipatan seretan dari sesar naik wonosegoro) LP
75 lensa kamera menghadap timurlaut (Penulis, 2014) ................77
Gambar 4.21. Kenampakan struktur antiklin minor LP 116 (Penulis,
2014) ..........................................................................................78
Gambar 4.22. Hasil analisis Sinklin Bercak. (Penulis, 2014) ..............................79
Gambar 4.23. Hasil analisis Sinklin Kentengsari. (Penulis, 2014) ......................79
Gambar 4.24. Hasil analisis Sinklin Karang. (Penulis, 2014) ..............................79
Gambar 4.25. Hasil analisis Antiklin Karang. (Penulis, 2014) ............................80
Gambar 5.1. Kronologi terbentuknya satuan batuan pada daerah
penelitian, tanpa skala (Penulis, 2014) .........................................83
Gambar 5.2. Kronologi awal terbentuknya struktur geologi pada daerah
penelitian, tanpa skala (Penulis, 2014) .........................................84
Gambar 5.3. Kondisi geologi terkini daerah penelitian, tanpa skala
(Penulis, 2014) ............................................................................84

xii
Gambar 6.1. Air sungai sebagai sumber daya air pada Kali Tuntang.
Foto diambil dari LP 98, di Desa Rekesan. Kamera
menghadap timur (Penulis, 2014). ...............................................87
Gambar 6.2. Tempat penempungan air (Embong) yang dibuat oleh
warga (Penulis, 2014)..................................................................88
Gambar 6.3. Boulder dan brangkal yang dikumpulkan warga dari
sungai sebagai bahan bagunan (Penulis, 2014) ............................89
Gambar 6.4. Potensi tanah dan lahan sebagai lahan pertanian. Foto
diambil dari LP 88, foto mengarah ke timur. (Penulis,
2014) ..........................................................................................89
Gambar 6.5. Rembesan minyak bumi pada Desa Repaking yang sudah
dimanfaatkan oleh warga. Foto diambil dari LP 83
(Penulis, 2014) ............................................................................90
Gambar 6.6. Banjir pada lahan perkebunan warga yang teramati pada
musim kemarau. Foto diambil dari LP 213 (Penulis,
2014) ..........................................................................................91
Gambar 6.7. Gerakan masa akibat proses erosi lateral pada tebing
sungai (Penulis, 2014) .................................................................92
Gambar 6.8. Sungai yang mengalami kekeringan pada musim kemarau,
Dusun Traban. Lensa kamera menghadap barat (Penulis,
2014) ..........................................................................................93
Gambar 7.1. Lokasi Pengambilan sample dan lokasi rembesan minyak
bumi pada LP 83, Dusun Repacking (Penulis, 2014) ..................102

Gambar 7.2. Bit diamond boart dengan media air ............................................105

Gambar 7.3. Core hasil pluging (Penulis, 2014) ..............................................106

Gambar 7.4. LabLine Multi Unit Extraction Heater (Soxhlet Extraction) .........108

Gambar 7.5. (1) Oven Humidity, (2) oven biasa. ..............................................108

Gambar 7.6. Helium gas porosimeter. ..............................................................109

Gambar 7.6. Chart korelasi porositas dan permeabilitas (Penulis, 2014). .........111

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Stratigrafi Kendeng (Harsono, 1983) ...............................................33


Tabel 3.2. Stratigrafi daerah penelitian, tanpa skala. (Penulis, 2014) ........................34
Tabel 3.3. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera
planktonik pada LP 160, bagian top (Penulis, 2014) ..............................38

Tabel 3.4. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera


planktonik pada LP 161, bagian middle (Penulis, 2014) .........................39

Tabel 3.5. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera


planktonik pada LP 162, bagian bottom (Penulis, 2014) .........................39

Tabel 3.6. Kolom litologi satuan batupasir karbonat (Penulis, 2014) ........................42
Tabel 3.7. Kolom litologi satuan batupasir tufan (Penulis, 2014) ......................47
Tabel 3.8. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil
Foraminifera planktonik pada LP 1, bagian top (Penulis,
2014) ...............................................................................................51
Tabel 3.9. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil
Foraminifera planktonik pada LP 91, bagian middle (Penulis,
2014) ...............................................................................................51
Tabel 3.10. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil
Foraminifera planktonik pada LP 45, bagian bottom (Penulis,
2014) ...............................................................................................51
Tabel 3.11. Kolom litologi satuan kolom litologi satuan napal (Penulis,
2014) ...............................................................................................53
Tabel 3.12. Kolom litologi satuan kolom litologi satuan batugamping
(Penulis, 2014).................................................................................56
Tabel 4.1. Tabel klasifikasi lipatan (Fluety, 1964 vide Ragan, 2009) ................78

Tabel 7.1. Klasifikasi porositas (Koesoemadinata, 1980)..................................99

Tabel 7.2. Hasil pengukuran porositas absolut ..................................................110

Tabel 7.3. Hasil pengukuran porositas efektif ...................................................110

Tabel 7.4. Hasil pengukuran permeabilitas .......................................................110

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab pertama ini penulis mengemukakan mengenai pendahuluan

yang terdiri dari lima subbab, yaitu tentang latar belakang masalah, maksud dan

tujuan dari penyusunan skripsi ini, letak lokasi dan kesampaian daerah,tahapan

penelitian, sampai pada peneliti terdahulu yang digunakan sebagai acuan dalam

menyusun draft skripsi ini. Berikut ini akan dijabarkan mengenai penjelasan dan

isi dari subbab tersebut.

I.1. Latar Belakang

Daerah penelitian dianggap menarik untuk diteliti karena terdapat

rembesan minyakbumi yang dapat teramati secara jelas. Selain dari itu daerah

telitian merupakan daerah yang termasuk dalam zona kendeng. Zona kendeng

merupakan zona perbukitan terlipat yang banyak terdapat struktur yang bekerja.

Perbukitan pada zona ini telah banyak mengalami proses erosi dan pelapukan,

sehingga terdapat singakapan yang mengalami pelapukan tingkat sedang-tinggi

dan adanya perbukitan yang terpotong. Proses Pengendapan pada daerah

penelitian diketahui karena pengaruh dari arus turbid bawah permukaan, yang

pada singkapan di lapangan dijumpai adanya struktur khusus yaitu Bouma

Sekuen, dan perselingan lapisan tipis yang mencirikan lingkungan pengendapan

laut dalam. Proses pengendapan batuan dipengaruhi oleh aktivitas volkanik yang

dicirikan adanya endapan batupasir yang mengandung tuf.

Daerah ini telah banyak dilakukan penelitian baik dalam skala regional

maupun lebih detil. Penelitian regional telah banyak dilakukan dan menghasilkan

1
2

berbagai versi, baik itu hasil yang hampir sama maupun berbeda. Oleh karena itu,

sebagai seorang mahasiswa Jurusan Teknik Geologi dituntut untuk dapat

melaksanakan penelitian geologi di daerah tersebut, untuk mengaplikasikan teori-

teori geologi yang didapat di bangku kuliah agar dapat melakukan pemetaan

geologi secara rinci, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan geologi di

daerah penelitian.

I.2. Maksud dan Tujuan

Maksud pemetaan geologi adalah untuk memenuhi persyaratan akademik

tingkat Sarjana pada Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,

Institus Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi

permukaan yang mencakup aspek geomorfologi, litologi, stratigrafi dan struktur

geologi yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menentukan sejarah geologi

dan aspek-aspek geologi lingkungan serta mengevaluasi data geologi peneliti

pendahulu pada daerah penelitian.

I.3. Letak, Luas dan Kesampaian Daerah

Secara administratif, daerah penelitian terletak kurang lebih 110 km


kearah utara dari kota Yogyakarta, terletak pada Kabupaten Grobogan. Secara
astronomi daerah penelitian terletak pada posisi 7o1000 LS 7o1500 LS dan
110o3730 BT 110 o
4230 BT. Indeks lokasi penelitian dapat dilihat pada
gambar 1. Daerah penelitian mempunyai skala peta 1 : 25.000, terletak pada
nomor lembar peta RBI 1408-632 (Kedungjati), dengan luas daerah penelitian
adalah 9 km 9 km atau sama dengan 81 km2.
3

Gambar 1.1. Peta indeks dan lokasi daerah penelitian (Bakorsutanal, 2001)

Daerah penelitian dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda


empat dan roda dua, tetapi di beberapa tempat seperti jalan setapak dan curam
hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

I.4. Tahapan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti membagi tahapan penelitian menjadi 4 tahap

besar. Tahapan-tahapan
tahapan tersebut antara lain studi pustaka, penelitian lapangan,

penelitian laboratorium, dan penulisan draft laporan serta pembuatan peta. Dari

keempat tahapan berikut hasilnya akan saling berkaitan dan saling melengkapi

baik dari isi dan susunannya.

I.4.1. Studi pustaka

Sebelum memulai penelitian memang sudah seharusnya dilakukan studi

pustaka. Studi pustaka dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari


mempelajari segala sesuatu

yang berhubungan dengan daerah penelitian yang akan dilakukan. Pencarian data

sekunder dapat diperoleh dari interpretasi peta topografi, pembuatan peta geologi

tentative, dan pembuatan peta geomorfologi tentative serta dapat dilakuka


dilakukan
4

dengan citra penginderaan jauh baik dari foto udara maupun dari citra satelit dan

studi data regional.

Meskipun penelitian ini pada dasarnya adalah penelitian yang

mengutamakan data factual yang di dapatkan di lapangan namun penelitian ini

tetap memperhatikan hasil dari peneliti-peneliti terdahulu yang telah

melaksanakan penelitian di daerah penelitian untuk mempermudah dalam

pelaksanaan pemetaan geologi secara cepat dan tepat.

I.4.2. Penelitian lapangan

Penelitian lapangan dibagi menjadi beberapa tahap urutan pelaksanaan,

yaitu perencanaan lintasan, jalur jalan atau sungai, pembuatan stratigrafi terukur,

pemetaan detil, pengambilan data struktur geologi dan interpolasi batas satuan

batuan.

a. Perencanaan lintasan

Perencanaan lintasan dilakukan dengan melakukan interpertasi

peta, baik RBI maupun peta topografinya. Selain itu perencanaan lintasan

juga dipertimbangkan dengan interpertasi medan dari penginderaan jauh

melalui citra satelit.

b. Jalur jalan atau sungai

Lintasan tersebut dapat melalui jalur jalan yang telah tersedia dan

apabila memungkinkan untuk melalui jalur sungai, maka hal itu akan lebih

baik dilakukan karena singkapan yang terdapat di sungai merupakan

singkapan hasil dari pengelupasan soil oleh air. Tahap ini disertai dengan

pengeplotan jalur yang akan digunakan untuk pengambilan sample batuan


5

dan analisis lainnya yang dianggap perlu untuk memperkuat data

penelitian.

c. Pembuatan stratigrafi dan penampang stratigrafi terukur (measuring

section)

Pembuatan stratigrafi dan stratigrafi terukur bertujuan untuk

mengetahui susunan setiap batuan, ketebalan masing-masing satuan

batuan, lokasi kontak antara satuan batuan, penentuan proses sedimentasi,

interpretasi sejaran geologi, penentuan lingkungan pengendapan, dam

membantu dalam memecahkan masalah-masalah geologi.

d. Pemetaan detil

Pelaksanaan pemetaan detil dilakukan dengan pencarian data

litologi, struktur geologi, lokasi oil seepage, mataair dan pengeplotan

lokasi pada peta topografi. Pencarian data tersebut disertai dengan

pengeplotan data litologi, dan pengambilan sampel batuan yang akan

dianalisis di laboratorium sesuai kebutuhan, pengambilan foto struktur

geologi, struktur sedimen, litologi, bentangalam, bahan-bahan galian,

sesumber, bencana alam, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan

penelitian serta data lain yang dianggap perlu dan mendukung penelitian

ini.

e. Interpolasi batas satuan batuan

Dari hasil pemetaan detil, dengan pengeplotan data pada setiap

stasiun pengamatan dan lokasi pengamatan, selanjutnya dibuat interpolasi

batas satuan batuan dengan menghubungkan setiap titik yang mempunyai


6

ciri-ciri satuan batuan yang sama dengan berpedoman pada stratigrafi

terukur yang telah dibuat

f. Pembuatan sayatan geologi

Pembuatan sayatan geologi bertujuan untuk membuat interpretasi

bawah permukaan yang termasuk di dalamnya adalah lapisan batuan serta

struktur geologi. Selain itu, sayatan juga bertujuan untuk mengetahui

urutan batuan dari tua ke muda dan ketebalan lapisan batuan, sehingga

dapat dibuat legenda pada peta geologi.

I.4.3. Penelitian di laboratorium

Penelitian laboratorium dilakukan selama dan setelah penelitian lapangan

selesai. Penelitain ini berupa analisis paleontologi dan analisis petrografi. Analisis

petrografi dilakukan untuk mengetahui tekstur batuan, serta analisis porositas

batuannya.

I.4.4. Penulisan draft laporan

Tahap ini merupakan tahap pelaporan akhir dari semua data yang telah di

dapatkan dari lapangan dan selanjutnya di analisis di laboratorium. Tahap ini

termasuk di dalamnya adalh pembuatan peta geologi, geomorfologi dan peta

lintasan termasuk juga pembuatan kolom stratigrafi terukur.

I.5. Bagan Alir Penelitian

Proses penelitian geologi secara garis besar dari penentuan daerah hingga

pembuatan laporan, dapat dibuat bagan alir sebagai berikut:


7

Gambar 1.2. Bagan alir penelitian (Penulis, 2013)

I.6. Peralatan dan Bahan Penelitian

Peralatan dan bahan yang akan digunakan selama mengadakan penelitian

di lapangan dan di laboratorium adalah; peta topografi skala 1 : 25.000, peta rupa

bumi skala 1 : 25.000 lembar Kedungjati (1408


(1408-632),
632), kompas geologi tipe

Brunton sistem azimut 0o-360o, GPS merk Garmin, palu geologi batuan beku dan

sedimen merk Estwing, loupe dengan pembesaran 20x, larutan HCl 0,1 N, kamera

digital,, pita ukur 50 m, alat tulis, kantong sampel batuan, mikroskop polarisasi

merk Olympus dengan pembesaran 40x, mikroskop binokuler dengan pembesaran


8

10x dan 20x, mesh 40, 60, 80, 100, 150, 200 dan kuas untuk mengayak fosil

mikro, seperangkat computer, perlengkapan pribadi, obat-obatan.

I.7. Peneliti Pendahulu

Geologi daerah penelitian dan daerah sekitarnya telah banyak diteliti oleh

peneliti-peneliti pendahulu, antara lain:

a. Asikin, (1947), membahas tentang struktur geologi secara regional daerah

Jawa Tengah dan sekitarnya, dalam bukunya Evolusi Geologi Jateng dan

sekitarnya Ditinjau dari Segi Tektonik Dunia yang Baru.

b. Marks, P., (1961), dalam bukunya Stratigrafi Lexcion of Indonesia, yang

menguraikan tentang stratigrafi Zona Kendeng.

c. Sukardi, dan T. Budhitrisna, (1992), telah membuat peta geologi lembar

Salatiga termasuk di dalamnya daerah penelitian.

d. Harsono, P., (1983), dalam Stratigrafi Daerah Mandala Rembang dan

Sekitarnya, Stratigrafi daerah kendeng terbagi menjadi dua cekungan

pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang membentuk

Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang

membentuk Pegunungan Kendeng.

e. Van bemmelen (1949), dalam bukunya The Geology of Indonesia yang

membagi Zona Kendeng menjadi 3 bagian, yaitu bagian barat yang

terletak di antara G.Ungaran dan Solo (utara Ngawi), bagian tengah yang

membentang hinggaJombang dan bagian timur mulai dari timur Jombang

hingga Delta Sungai Brantas dan menerus ke Teluk Madura.


9

f. M. Irham Nurwidyanto dkk (2005), dalam ISSN : 1410 - 9662 Vol.8,

No.3, Juli 2005, hal 87-90 dengan judul Estimasi Hubungan Porositas

Dan Permeabilitas Pada Batupasir (Studi Kasus Formasi Kerek, Ledok,

Selorejo).
BAB II
GEOMORFOLOGI

Geomorfologi berasal dari bahasa Yunani yang lebih kurang dapat

diartikan perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi. Akan tetapi secara

umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam, yaitu meliputi

bentuk-bentuk umum roman muka bumi serta perubahan-perubahan yang terjadi

sepanjang evolusinya dan hubungannya dengan keadaan struktur di bawahnya,

serta sejarah perubahan geologi yang diperlihatkan atau tergambar pada bentuk

permukaan itu (American Geological Institute, 1973). Dalam bahasa Indonesia

banyak orang memakai kata bentangalam sebagai terjemahan geomorfologi,

sehingga kata geomorfologi sebagai ilmu dapat diterjemahkan menjadi Ilmu

Bentangalam

Dalam geomorfologi sasaran yang dipelajari pada dasarnya dibagi menjadi

3 unsur yaitu:

a. Relief : besar kecilnya perbedaan tinggi rendahnya suatu tempat yang relatif

berdekatan pada suatu daerah.

b. Drainase (penyaluran): yang meliputi semua bentuk, kerapatan, pola-pola

serta hubungan dari penyaluran air yang menoreh permukaan bumi.

c. Culture: semua kenampakan permukaan bumi yang merupakan hasil budaya

manusia seperti gedung-gedung, persawahan, pedesaan, serta bangunan-

bangunan lain.

10
11

Dalam bab ini penulis membagi penjelasannya menjadi empat sub

pembahasan. Berikut ini adalah penjelasan-penjelasan dari setiap subbab yang

ada.

II.1. Geomorfologi Reginal Zona Kendeng

Ditinjau dari segi regional, Zona Kendeng merupakan kompleks antiklin

atau antiklinorium yang memiliki orientasi timur-barat. Zona kendeng bagian

selatan dibatasi oleh jajaran gunung api yang masuk pada Zona Solo, sedangkan

Depresi Randublatung membatasi bagian utara. Zona Kendeng mencakup mulai

dari Salatiga sampai Mojokerto kemudian menunjam dan tertutup oleh endapan

Sungai Brantas. Zona Kendeng merupakan kelanjutan dari Pegunungan Serayu.

Menurut Bemmelen (1949), secara kesamaan morfologi dan tektonik

wilayah Jawa bagian timur (Proponsi Jawa Tengah dan Jawa Timur) dibagi

menjadi beberapa zona, yitu: Zona Pegunungan Selatan, Zona solo, Zona

Kendeng, Depresi Randublatung, dan Zona Rembang. Hal ini dapat dilihat pada

gambar di bawah ini.

Gambar 2.1. Fisiografi Jawa Timur (Modifikasi dari Bemmelen, 1949)


12

II.2. Geomorfologi Daerah Penelitian

Dengan mempertimbangkan keadaan geomorfologi daerah penelitian

maka penulis membagi satuan geomorfik daerah penelitian didasarkan pada relief,

litologi, proses pembentukan, serta struktur geologi yang berkembang di daerah

penelitian. Klasifikasi geomorfik yang digunakan dalam penelitian ini mengacu

pada klasifikasi Zuidam (1983) yang telah dimodifikasi sesuai dengan kondisi

daerah penelitian.

Konsep geomorfologi yang dijabarkan oleh Verstappen (1983), terdapat

empat aspek utama dalam geomorfologi yaitu, bentuklahan, proses, genesis dan

lingkungan. Mangunsukardjo (1986) menjabarkan aspek geomorfologi menjadi:

1. Studi mengenai bentuklahan, atau disebut sebagai morfologi, mempelajari

relief secara umum yang meliputi aspek:

a. Morfografi; yakni aspek-aspek yang bersifat pendeskripsian bentuk

suau daerah, seperti teras sungai, beting gisik, plato.

b. Morfomeri; yakni aspek-aspek kuantitatif dari suatu daerah, seperti

kemiringan lereng, bentuk lereng, ketinggian, beda tinggi, bentuk

lembah, pola aliran.

2. Studi mengenai proses geomorfologi, yakni proses yang mengakibatkan

perubahan betuklahan dalam waktu pendek serta proses terjadinya

bentuklahan yang mencakup morfogenesa, mencakup aspek-aspek:

a. Morfo-struktur pasif, meliputi litologi (tipe dan struktur batuan) yang

berhubungan dengan pelapukan

b. Morfo-struktur aktif, berupa tenaga endogen


13

c. Morfo-dinamik berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan

tenaga angin, air, es, gerak masa batuan dan volkanisme

3. Studi geomorfologi yang menekankan pada evolusi pertumbuhan bentuklahan

atau morfo-kronologi, menentukan dan mendeskripsikan bentuklahan dan

proses yang mempengaruhinya dari umur relatif dan umur mutlak.

4. Geomorfologi yang mempelajari hubungan dengan lingkungan, studi ini

mempelajari hubungan antara bentuklahan dengan unsur-unsur batuan,

struktur geologi, tanah, air, vegetasi dan penggunaan lahan.

Mengacu dari dasar-dasar di atas maka peneliti menggunakan beberapa

metode pendekatan dalam melakukan analisis untuk mementukan setiap satuan-

satuan dan subsatuan geomorfologi yang ada pada daerah penelitian. Dalam

pembagian subsatuan geomorfik daerah penelitian, langkah-langkah yang di

tempuh adalah:

1. Penulis melakukan analisis peta topografi daerah penelitian dengan skala 1 :

25.000, metode yang digunakan adalah dengan menafsirkan pola dan

pelamparan bentang alam sesuai dengan pola dan sifat garis kontur yang ada.

Selain itu, dilakukan pula analisis citra 3 dimensi melalui penggambaran 3

dimendi yang berbasis data elevari dari peta topografi dan menggunakan data

SRTM sebagai pembanding.

2. Pengamatan langsung di lapangan,hal ini bertujuan untuk mengetahui secara

langsung serta pengumpulan data dari setiap satuan geomorfiknya, meliputi

litologi penyusun, ada tidaknya pengaruh struktur geologi, dan proses-proses

eksogenik yang bekerja pada setiap satuan geomorfik tersebut.


14

3. Tahap analisis, tahapan ini merupakan proses overlay dari seluruh data yang

ada baik data


ata sekunder maupun data primer. Meliputi proses penggabungan

data dari analisis peta topografi 2 dimensi dan 3 dimensi, kajian lapangan,

serta lebih terperinci lagi.

Atas dasar-dasar
dasar yang telah disebutkan di atas, maka daerah penelitian

dikelompokkan berdasarkan
dasarkan aspek relief, litologi, dan genetiknya, terbagi menjadi

4 subsatuan geomorfik (Gambar 2.2),


2.2) yaitu; subsatuan
ubsatuan geomorfologi tubuh sungai
sungai,

subsatuan geomorfik dataran banjir,


banjir dan subsatuan
ubsatuan geomorfologi perbukitan

lipatan kompleks terdenudasi


terdenudasi, subsatuan perbukitan denudasional.

Gambar 2.2. Pembagian subsatuan geomorfik pada daerah penelitian, Kecamatan


Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Propisi Jawa Tengan (Penulis, 2014)
15

Penjelasan mengenai subsatuan


subsatuan-subsatuan
subsatuan tersebut akan disampaikan

melalui anak subbab berikut ini. Penjelasan tersebut akan mencakup aspek

morfogenesa, morfografi dan yang lainnya.

II.2.1 Subsatuan geomorfologi dataran aluvial (F1)

Daerah ini merupakan dataran yang tersusun oleh material lepas berupa

aluvian.. Daerah ini terbentuk akibat adanya akumulasi material sedimen hasil

proses erosi yang tertransportasi kedaerah yang lebih rendah.


rendah. Subsatuan ini

memiliki kemiringan lereng yang datar (kurang dari 5o). Ketinggian daerah ini

berkisar antara 25 - 38 m di atas


atas permukaan laut. Subsatuan ini tersusun oleh

material rombakan berukuran kerakal sampai lempung. Maaterial ini adalah

merupakan rombakan dari napal, batugamping, batupasir, batupasir karbonat dan

breksi andesit.. Daerah ini sebagian besar dimanfaatkan sebagai


sebagai lahan perkebunan

oleh warga, selain itu ada juga yang memanfaatkan sebagai pemukiman.

Subsatuan geomorfik ini menempati sekitar 2% dari keseluruhan daerah

penelitian.

Gambar 2.3. Subsatuan geomorfologi dataran aluvial (F1). Foto menghadap ke arah utara
(Penulis, 2014)
16

II.2.2 Subsatuan geomorfik


geomorf tubuh sungai (F2)

Daerah ini berupa tubuh sungai yang terpetakan. Subsatuan geomorfik ini

termasuk di dalamnya adalah gosong sungai (point


( bar dan chanel bar
bar).

Subsatuan ini didominasi oleh Kali Tuntang dan Kali Bercak


Bercak yang secara garis

besar memiliki aliran dari utara ke selatan (Gambar 2.4).. Secara umum subsatuan

ini tersusun oleh material lepas atau endapan talus berukuran brangkal sampai

lempung berwarna coklat terang. Rata-rata


Rata rata ketebalan soil pada tebing sunga
sungai

mencapai ketebalan 1,5 m. Lebar sungai rata-rata


rata sekitar 10-50
50 meter. Subsatuan

ini di dominasi oleh sungai berstadia dewasa. Tidak semua lokasi tersusun oleh

endapan lepas. Terdapat beberapa lokasi yang menunjukan adanya singkapan

segar dari litologi Batupasir


tupasir karbonat dan napal.
apal. Subsatuan ini menempati sekitar

2% dari lokasi penelitian.

Gambar 2.4. Subsatuan geomorfologi tubuh sungai (F2). Foto menghadap ke arah selatan
(Penulis, 2014)

II.2.3 Subsatuan geomorfik


geomorf perbukitan lipatan kompleks terdenudasi (S21)

Subsatuan geomorfik ini disusun oleh lipatan-lipatan


lipatan berupa antiklin dan

sinklin. Beberapa lipatan diantaranya sudah menjadi sesar naik akibat adanya gaya
17

endogen yang terus bekerja.(Gambar 2.5). Subsatuan ini memiliki morfologi

daerah bergelombang sedang sampai kuat. (Gambar 2.6).


). Selain itu subsatuan ini

juga di Kontron oleh faktor eksogen berupa denudasi yang cukup kuat bekerja.

Secara umum arah lipatan-lipatan


lipatan lipatan yang membentuk morfologi daerah ini memiliki

sumbu
umbu yang membentang dari timur ke barat. Subsatuan ini tersusun oleh litologi

berupa batupasir karbonat dan napal. Kemiringan lereng subsatuan ini berkisar

antara 5o-30o. Ketinggian pada daerah ini berkisar antara 50-250


50 250 m di atas

permukaan laut. Secara keseluruhan daerah ini menempati sekitar 87% dari total

lokasi penelitian. Sebagian besar daerah ini dimanfaatkan sebagai daerah

perkebunan dan pemukiman.

Gambar 2.5. Perbukitan sesar naik terdenudasi. Foto ke arah timur (Penulis, 2014)

Gambar 2.6. Morfologi bergelombang sedang sampai kuat (S4). Foto menghadap ke arah
Selatan (Penulis, 2014)
18

Gambar 2.7. Lembah sinklin. Foto menghadap ke arah timur (Penulis, 2014)

II.2.4 Subsatuan perbukitan denudasional (D1)

Subsatuan ini adalah daerah dengan kontrol dari


dari proses aksogen yang

paling dominan. Hal ini ditunjukan dengan minimnya singkapan yang di jumpai

pada daerah ini. Derajat pelapukan pada daerah ini termasuk sedang sampai kuat.

Daerah ini memiliki relief yang bergelombang sedang. Litologi yang menyusun

daerah ini berupa Batupasir karbonat,, Napal, Batugamping, Breksi dan Batupasir

tufan. Daerah ini memiliki ketinggian 50-100


50 100 meter di atas permukaan laut.

Pemanfaatan daerah ini oleh warga sekitar adalah sebagai lahan perkebunan dan

pemukinam, namun masih lebih dominan perkebunannya. Subsatuan ini

menempati sekitar 9% dari keseluruhan lokasi penelitian.

Gambar 2.8. Subsatuan geomorfologi perbukitan denudasional (D1). Foto menghadap ke


arah utara (Penulis, 2014)
19

II.3. Pola Aliran Sungai

Pola pengaliran didefinisikan sebagai suatu kumpulan dari alur-alur sungai

pada suatu daerah tanpa mempedulikan apakah alur-alur tersebut merupakan alur

yang permanen (permanent stream) (Howard, 1967). Perkembangan pola

pengaliran pada suatu daerah dipengaruhi oleh kelerengan, jenis batuan dasar,

kerapatan vegetasi, serta iklim di daerah yang bersangkutan (Zuidam, 1983).

Air adalah agen penting dalm proses geologi, baik dalam pembentukan

morfologi maupun proses transportasi dan proses geologi lainya. Dalam hal ini

adalah pembentukan morfologi, air memegang peranan sangat prnting antara lain

adalah proses ekseogen berupa pelapukan dan transportasi dsampai kepada proses

sedimentasi. Dalam hal ini proses erosi oleh air tersebut yang pada umumnya

dominan melalui tubuh sungai, akan menyebabkan sungai bertambah lebar,

dalam, dan panjang, sehingga membentuk pola sungai (stream pattern) dan

selanjutnya membentuk pola pengaliran (drainage pattern). Dalam klasifikasinya

Howard (1967) membuat pola pengaliran menjadi 2 macam, yaitu:

A. Pola dasar (basic pattern): merupakan sebuah pola aliran yang mempunyai

karakteristik yang khas yang dapat secara jelas dapat dibedakan dengan pola

aliran lainnya. Pola dasar ini umumnya berasal dari perkembangan pola dasar

yang lain dan kebanyakan dikontrol oleh struktur regional (Gambar 2.10).

B. Pola ubahan (modified basic pattern): merupakan sebuah pola pengaliran yang

berbeda dari bentuk pola dasar dalam beberapa aspek regional. Pola ubahan

biasanya merupakan ubahan dari salah satu pola dasar (Gambar 2.11).
20

Gambar 2.9. Klasifikasi pola aliran sungai yang belum mengalami perubahan ((basic
pattern)) (Howard, 1967)

Gambar 2.10. Klasifikasi pola aliran sungai yang telah mengalami perubahan ((modified
basic pattern)
pattern (Howard, 1967)

II.3.1. Pola aliran daerah penelitian

Membahas mengenai pola pegaliran daerah penelitian, pembahas

melakukan pendekatan melalui analisis peta topografi ditambah dengan

mempertimbangkan keadaan sebenarnya di lapangan. Pada daerah penelitian

terdapat sungai induk yang berupa sungai permanen atau perennial.Sungai

perennial beratti sungai tersebut dialiri air sepanjang tahun (Sungai Tu


Tuntang).

Sedang sifat aliran pada anak-anak


anak sungai bersifat periodik atau evemeral
evemeral, yaitu
21

ada aliran air pada musim hujan saja. Selain itu juga banyak anak-anak
anak sungai

yang bersifat intermiten, yaitu sungai yang hanya dialiri air pada saat hujan saja.

Melalui
ui hasil observasi lapangan serta interpretasi topografi yang telah

dilakukan dan kemudian dilakukan pencocokan dan pendekatan model pengaliran

menurut klasifikasi dari Howard (1967)


(1967),, maka disimpulkan bahwa lokasi

penelitian memiliki 1 pola aliran.


aliran Pola aliran tersebut adalah subdendritik yang

juga ikit berkembang pola aliran trelis


trelis.

Gambar 2. 11. Peta pola aliran daerah penelitian (Penulis, 2014)


22

Pola aliran trellis memilikki cirri yaitu sungai-sungai yang mengalir lurus

sepanjang lembah dengan cabang-cabangnya berasal dari lereng yang curam dari

kedua sisinya. Sungai utama dengan cabang-cabangnya membentuk sudut tegak

lurus sehingga menyerupai bentuk pagar. Pola aliran ini di dominasi oleh kontrol

struktur geologi berupa lipatan maupun sesar. Pada lipatan, saluran utama berarah

searah dengan sumbu lipatan.

Pola aliran subdendritik adalah pola aliran yang memiliki pola seperci

cabang ranting-ranting pohon. Pola aliran ini sangat dikontrol oleh lotologi

penyusun daerah tersebut. Daerah penelitin didominasi oleh pola aliran jenis ini

karena daerah penelitian tersusun oleh batuan sedimen berbutir halus. Litologi

jenis ini akan sangan mudah lapuk dan tererosi sehingga mudah membentuk

chanel pada lembang-lembah perbukitan.

II.4. Stadia Daerah

Stadia daerah merupakan gambaran dari kondisi suatu daerah, bagaimana

daerah itu telah mengalami perubahan morfologi dari morfologi aslinya. Tingkat

kedewasaan suatu daerah dapat ditentukan dengan melihat keadaan bentang alam

dan stadia sungai yang terdapat di daerah tersebut. Pembentukan morfologi suatu

daerah biasanya dikontrol oleh beberapa faktor seperti struktur geologi, litologi,

dan proses geomorfologi, baik berupa proses endogen maupun eksogen.

Proses yang paling dominan mempengaruhi stadia suatu daerah adalah

proses eksogen. Pada awalnya memang proses pengangkatan setelah sedimentasi

selesai. Seiring proses pengangkatan tersebut, proses erosi juga terus bekerja

secara bersamaan. Proses erosi bekerja pada saat dan setelah terjadinya
23

pengangkatan suatu daerah dan secara terus-menerus akan sampai pada proses

pendataran. The Present in The Key to The Past Berdasarkan hukum ini dapat

disimpulkan bahwa kenampakan morfologi saat ini merupakan hasil proses-proses

endogen dan eksogen yang bekerja dimasa lalu, terutama proses eksogen yang

berhubungan langsung dengan proses erosi. Selain itu semua, sifat dasar dari

litologi penyusun suatu daerah juga sangat mempengaruhi proses perubahan

stadia suatu daerah serta factor lainnya tingkat resistensi batuan terhadap

pelapukan dan erosi, kemiringan lereng, iklim (curah hujan), tingkat ketebalan

vegetasi, aktivitas organisme (terutama manusia), waktu (lamanya proses erosi

yang bekerja), dan permebilitas batuan.

Lobeck (1939), mengelompokkan stadia daerah menjadi empat, yaitu :

II.4.1. Stadia muda

Stadia ini dicirikan oleh gradien sungai yang besar, arus sungai

masih deras, lembah sungai atau chanel berbentuk V, erosi vertikal

lebih besar dari pada erosi lateral sehingga sungai masih mengalami proses

pendalaman, masih sering di temui air terjun akibat adanya sesar, kadang-

kadang terdapat danau, keadaan permukaan yang masih rata, pada

umumnya sedikit sekali perajangan sungai serta susunan stratigrafinya

relatif teratur serta lembahnya sempit dan dangkal. Sungai-sungai masih

relative lurus.

II.4.2. Stadia dewasa

Stadia dewasa dicirikan oleh gradien sungai yang sedang, aliran

sungai sudah mulai agak berkelok-kelok atau sungai memiliki meander


24

meander, sudah tidak dijumpai air terjun maupun danau, erosi vertikal

berimbang dengan erosi lateral, lembahnya sudah mulai berbentuk U,

lembah yang besar dan dalam, reliefnya relatif curam, stratigrafinya sudah

agak kacau serta proses erosi yang dominan. Divede sungia mulai

terbentuk dan membentuk relief yang kuat.

II.4.3. Stadia tua

Stadia ini dicirikan oleh erosi lateral lebih kuat daripada vertikal,

lembah bebentuk U dan semakin bertambah lebar, tidak dijumpai

meander lagi karena kelokan sungainya telah tersambung dan terbentuk

danau tapal kuda, arus sungai tidak kuat. Kelanjutan dari prosesproses

yang bekerja pada stadia dewasa yaitu keadaan permukaan semakin

rendah, reliefnya relatif datar serta lembah sungai lebar dan dangkal.

II.4.4. Stadia rejuvinasi (muda kembali)

Stadia ini dicirikan oleh perkembangan permukaan yang relatif

datar kembali dan terlihat adanya perajangan perajangan sungai kembali.

Kemudian akan terjadi proses yang sama lagi seperti proses yang terjadi

mulai dari stadia muda sampai stadia tua.


25

Gambar 2.12. Stadia daerah menurut Lobeck (1939), sebagai model pedekatan
penentuan stadia sungai di daerah penelitian.

Secara keseluruhan mm
mmorfologi
orfologi daerah penelitian sebagian besar masih

didominasi oleh daerah perbukitan bergelombang lemah-sedang.


sedang. Beda tinggi yang

terbentuk secara keseluruhan adalah sekitar 100 m. Kemiringan lereng pada

daerah penelitian berkisar antara 0o sampai maksimal 20o. (Gambar 2.14)

Gambar 2.13. Morfologi bergelombang lemah sampai sedang.


sedang Foto diambil dari LP 175
26

Sungai-sungai
sungai sudah memiliki banyak cabang. Sungai utama sudah mulai

memiliki meander. Lembah sungai sudah berbentuk U, erosi sungai yang

bersifat lateral terbukti dengan longsornya tebing tebing


tebing sungai akibat arus

sungai yang
g mengerosinya. Dataran banjir sudah mulai terbentuk. Berdasarkan

atas data-data
data yang telah didaparkan dari hasil observasi lapangan dan data citra

dari Google Earth maka peneliti menafsirkan status stadia daerah penelitian

adalah stadia dewasa.

Gambar 2.14.. Penampang sungai berbentuk U dan point bar pada Sungai repaking
yang menunjukan stadia daerah adalah dewasa. Foto diambil dari LP 86
27

BAB III
STRATIGRAFI

Stratigrafi secara umum membahas tentang semua jenis batuan dalam

hubungan mula jadi dan sejarah pembentukkanya dalam ruang dan waktu geologi.

Urutan pembahasannya meliputi unsur-unsur stratigrafi, yaitu pemerian litologi,

penamaan batuan, unsur perlapisan, struktur sedimen, hubungan antara batuan

yang satu dengan yang lain, penyebarannya secara vertikal dan lateral, serta

dinamika pengendapan dan lingkungan pengendapannya.

III.1. Stratigrafi Regional

Stratigrafi penyusun Zona Kendeng merupakan endapan laut dalam di

bagian bawah yang semakin ke atas berubah menjadi endapan laut dangkal dan

akhirnya menjadi endapan non laut. Stratigrafi Zona Kendeng terdiri atas 7

formasi batuan (gambar 4),dari tua ke muda sebagai berikut (Harsono, 1983) :

III.1.1. Formasi Pelang

Formasi ini dianggap sebagai formasi tertua yang tersingkap di Mandala

Kendeng. Formasi ini tersingkap di Desa Pelang, Selatan Juwangi. Tidak jelas

keberadaan bagian atas maupun bawah dari formasi ini karena singkapannya pada

daerah upthrust ,berbatasan langsung dengan formasi Kerek yang lebih muda.

Litologi utama penyusunnya adalah napal, napal lempungan dengan lensa

kalkarenit bioklastik yang banyak mengandung fosil Foraminifera besar.

III.1.2. Formasi Kerek

Formasi Kerek memiliki kekhasan dalam litologinya berupa perulangan

perselang-selingan antara lempung, napal, batupasir tuf gampingan dan


28

batupasirtufaan. Di daerah sekitar lokasi tipe formasi ini terbagi menjadi tiga

anggota, dari tua ke muda masing-masing :

a. Anggota Banyuurip

Anggota Banyuurip tersusun oleh perselingan antara napal lempungan,

lempung dengan batupasir tuf gampingan dan batupasir tufaan dengan total

ketebalan 270 meter. Di bagian tengahnya dijumpai sisipan batupasir

gampingan dan tufaan setebal 5 meter, sedangkan bagian atasnya ditandai

dengan adanya perlapisan kalkarenit pasiran setebal 5 meter dengan sisipan tuf

halus.

b. Anggota Sentul

Anggota Sentul tersusun atas perulangan yang hampir sama dengan

anggota Banyuurip, tetapi lapisan yang bertuf menjadi lebih tebal. Ketebalan

anggota Sentul mencapai 500 meter. Anggota Sentul berumur N16 (Miosen

atas bagian bawah).

c. Anggota Batugamping Kerek


Merupakan anggota teratas dari formasi Kerek, tersusun oleh

perselingan antara batugamping tufaan dengan perlapisan lempung dan tuf.

Ketebalan anggota ini mencapai 150 meter. Umur batugamping kerek ini

adalah N17 (Miosen atas bagian tengah).

III.1.3. Formasi Kalibeng

Formasi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian bawah dan bagian

atas. Bagian bawah formasi Kalibeng tersusun oleh napal tak berlapis setebal 600

meter, berwarna putih kekuning-kuningan sampai abu-abu kebiru-biruan, kaya

akan kanndungan Foraminifera plangtonik.


29

Lingkungan pengendapannya laut terbuka, jauh dari pantai, Zona Batial

Atas hingga Neritik Luar dengan kedalaman 200-500 meter. Hubungan stratigrafi

dengan formasi yang lebih tua dan lebih muda adalah selaras dan berbatasan

dengan Formasi Kerek melalui sesar sentuh. Formasi Kalibeng terbagi menjadi 4

anggota yaitu:

a. Anggota Banyak Formasi Kalibeng

Litologi penyusunnya terdiri perselingan batupasir tufan, batulanau

gampingan, batupasir dan tuf pasir kerikilan. Batupasir tufan, berwarna kelabu

tua-kehitaman, berbutir sangat kasar dan membundar tanggung-menyudut,

terpilah buruk, tidak padat, mengandung karbon, berlapis sangat baik dan tebal

antara 0,5-3 cm yang ke arah bawah makin tebal, pelapukannya mengulit bawang,

berstruktur arian dan pelor.

Batulanau gampingan, kelabu, tidak padat, berfosil plankton dan berlapis

dengan tebal antara 1 - 5 m. Batupasir berwarna kelabu, berbutir halus dan

membundar tanggung, terpilah sedang, mengandung karbon, berlapis baik dengan

ketebalan antara 10-100 cm, silangsiur dan konvolut. Batupasir kerikilan,

berkomponen utama andesit yang bergaris tengah sampai 3 centimeter; terpilah

buruk dan membulat tanggung-menyudut, kemas terbuka, berstruktur lapisan

bersusun.

Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Tebal lapisan paling

tidak 400 meter, tersingkap baik di Kali Jragung. Nama lain adalah Formasi

Banyak yang dipakai oleh R.W. Van Bemmelen (1949).


30

b. Anggota Damar Formasi Kalibeng

Litologi penyusunnya adalah konglomerat, batupasir kerikilan, batupasir

gampingan bersisipan batulempung. Konglomerat berwarna kelabu, berkomponen

batuan bersifat andesit yang berukuran dari kerikil sampai kerakal, terpilah baik,

kemas tertutup, pejal dan padat, tebal lapisan antara 5-10 cm. Batupasir kerikilan

berwarna kelabu kecoklatan, berbutir halus sampai kasar, berkomponen kerikil

yang umumnya dari andesit dalam masa dasar tuf gampingan. Batupasir

gampingan berwarna kelabu, berbutir sedang-halus, berlapis kurang baik, agak

getas, kaya akan fosil Foraminifera kecil. Batulempung berwarna kelabu, berbutir

halus dan membundar tanggung, terpilah sedang, kemas tertutup, padat, tebal

lapisannya antara 1- 20 cm, berfosil foram besar dalam jumlah kecil.

c. Anggota Kapung Formasi Kalibeng

Litologi penyusunnya adalah batugamping pejal di bagian bawah,

perselingan batugamping pasiran dan napal di bagian atas. Batugamping berwarna

putih atau coklat kekuningan, sangat padat, pejal dan kaya akan Foraminifera

besar.

Batugamping pasiran berwarna coklat kekuningan-kehitaman, berbutir

sangat kasar dan membundar tanggung-menyudut, terpilah buruk, mengandung

bahan gunungapi, berlapis baik dengan tebal lapisan antara 10 sampai 20 cm,

setempat mencapai 45 cm. Napal kelabu, setempat pasiran berwarna kekuningan

atau kecoklatan, tidak keras, mengandungkarbon dan kaya akan fosil plankton.

d. Anggota Klitik Formasi Kalibeng


31

Litologi penyusunnya adalah kalkarenit, batugamping tufan, batupasir

tufan dan napal di bagian atas, dan bioklastik di bagian bawah. Kalkarenit

berwarna kuning kecoklatan, berbutir kasar dan membundar tanggung-sedang,

terpilah buruk, padat, setempat berongga, berlapis dengan tebal 20-30 centimeter,

mengandung cangkang Molusca dan Balanus. Batugamping tufan berwarna coklat

kekuningan, berbutir kasar dan membundar baik, terpilah baik, padat, setempat

berkarbon, berglokonit dan berbahan gunungapi, berlapis baik, tebal antara 10- 20

cm.

Batupasir tufan berwarna coklat kekuningan-kelabu terang, berbutir kasar

dan membundar tanggung, terpilah baik, kurang padat, mengandung bahan

gunungapi dan glokonit, berlapis dengan tebal antara 20-40 cm. Napal setempat

kelabu berstruktur concoidal fracture. Biokalkarenit berwarna kelabu cerah-

kecoklatan, berbutir kasar danmembundar, terpilah baik, berkelulusan tinggi, tidak

keras, sangat kaya akan fosil Foraminifera, berlapis baik dengan tebal antara 5- 10

cm.

III.1.4. Formasi Pucangan

Formasi Pucangan ini mempunyai penyebaran yang cukup luas. Di

Kendeng bagian barat satuan ini tersingkap luas antara Trinil dan Ngawi. Di

Mandala Kendeng yaitu daerah Sangiran, Formasi Pucangan berkembang sebagai

fasies vulkanik dan fasies lempung hitam. Fasies vulkaniknya berkembang

sebagai endapan lahar yang menumpang di atas formasi Kalibeng. Fasies lempung

hitamnya berkembang dari fasies laut, air payau hingga air tawar. Di bagian

bawah dari lempung hitam ini sering dijumpai adanya fosil diatomae dengan
32

sisipan lapisan tipis yang mengandung Foraminifera bentonik penciri laut

dangkal. Semakin ke atas akan menunjukkan kondisi pengendapan air tawar yang

dicirikan dengan adanya fosil Moluska penciri air tawar.

III.1.5. Formasi Kabuh

Formasi ini tersusun oleh batupasir dengan material non vulkanik antara

lain kuarsa, berstruktur silang siur dengan sisipan konglomerat, mengandung

moluska air tawar dan fosil-fosil vertebrata. Formasi ini mempunyai penyebaran

geografis yang luas. Di daerah Kendeng Barat formasi ini tersingkap di Kubah

Sangiran sebagai batupasir silang siur dengan sisipan konglomerat dan tuf setebal

100 m.

III.1.6. Formasi Notopuro

Formasi ini terdiri atas batuan tuf berselingan dengan batupasir tufaan,

breksi lahar dan konglomerat vulkanik. Makin keatas sisipan batupasir tufaan

semakin banyak. Sisipan atau lensa-lensa breksi volkanik dengan fragmen kerakal

terdiri dari andesit dan batuapung juga ditemukan yang merupakan ciri formasi

Notopuro.

III.1.7. Endapan Undak Bengawan Solo

Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik dengan fragmen napal dan

andesit disamping endapan batupasir yang mengandung fosil-fosil vertebrata. di

daerah Brangkal dan Sangiran, endapan undak tersingkap baik sebagai

konglomerat dan batupasir andesit yang agak terkonsolidasi dan menumpang di

atas bidang erosi pada Formasi Kabuh maupun Notopuro.


33

Tabel 3.1.Stratigrafi
3.1 Kendeng (Harsono, 1983)

Dari hasil penelitian dan pengumpulan data di lapangan maka penulis


membagi daerah penelitian menjadi lima satuan batuan dan endapan alluvial yang
akan dibahas dalam bagian subbab ini.

III. 2 . Stratigrafi Daerah Penelitian


Mengacu dari hasil observasi di lapangan analisis laboratorium maka
penelitian mengambil kesimpulan dengan membagi litologi di daerah penelitian
menjadi 6 satuan batuan (Tabel
( 3.2). Berikut ini diurutkan dari yang paling tua ke
yang paling muda; batupasir
atupasir karbonat,
karbonat batupasir tufan, napal, batugamping
batugamping, breksi
andesit, endapan aluvial
aluvial.
34

Tabel 3.2. Korelasi Stratigrafi daerah penelitian, tanpa skala. (Penulis, 2014)

Penamaan satuan batuan terebut adalah berdasarkan dari karakter atau

ciriciri fisiknya. Ciriciri


ciri fisik tersebut diantaranya adalah struktur, tekstur, dan

komposisi batuan. Penamaan ini dilakukan secara megaskopis dan mikrokopis.

Selain itu didukung juga dari kandungan fosilnya.

Hubungan stratigrafi antar satuan batuan ditentukan berdasarkan posisi

stratigrafi serta gejalagejala


gejala yang dijumpai di lapangan. Untuk mengetehui umur

batuan, peneliti menggunakan hasil dari hasil analisis mikropaleontologi, karena


kare

keterbatasan dana dan sarana, untuk sebagian yang peneliti mengacu pada peneliti

terdahulu. Sementara ganesa dan lingkungan pengendapan menggunakan acuan

dari sifat fisik batuan tersebut.


35

II.2.1 Satuan batupasir karbonat

a. Ciri litologi

Satuan batuan ini secara keseluruhan merupakan perselingan secara ritmis

dari batupasir karbonat dan batulempung karbonat. Terkadang disisipi oleh

batupasir dan batupasir kerikilan. Batupasir karbonat berwarna abu-abu


abu keputih-
keputih

putihan sampai abu-abu


abu gelap, memiliki struktur beragam diantaranya; masif,

laminasi, wavy lammasi, parallel laminasi, graded bedding dan perlapisan. Selain

itu juga terdapat struktur khusus seperti fluet cast dan groove cast pada litologi

ini. Batupasir karbonat


arbonat memiliki ukuran
ukuran butir pasir halus sampai dengan pasir

kasar, sortasi sangat baik sampai sedang, dengan kebundaran rounded sampai

subrounded,, kemas tertutup dan komposisi semen karbonat.

Batulempung Karbonat memiliki warna abu-abu


abu abu sampai dengan abu
abu-abu

gelapdan berstruktur
ur masif. Ukuran butir dari litologi ini adalah lanau sampai

lempung dengan semen karbonat (Gambar 3.1).

Gambar 3.1. Batupasir karbonat dan batulempung karbonat (Penulis, 2014)


36

Gambar 3.2. Batupasir karbonat dengan struktur fluet castnya,


nya, lensa kamera menghadap
utara, LP 108 Dusun Kentengsari

Gambar 3.3. Batupasir karbonat dengan kedudukan tegak di dusun Repaking, lensa
kamera menghadap timur (Penulis, 2014)

Selain kedua litologi tadi masih ada batupasir kerikilan dengan struktur

masif sampai graded bedding


bedding.. Litologi ini memiliki ukuran butir pasir sedang

sampai kerikil,, sortasi sedang, kemas terbuka, bentuk butir rounded sampai
37

subrounded dan memiliki komposisi semen karbonat. Sementara batupasir

memiliki ciri fisik yang relatif sama dengan batupasir karbonat, hanya saja yang

membedakan adalah dari semen pengikat butirnya yang bukan karbonat.

b. Penyebaran dan ketebalan

Satuan batupasir karbonat ini adalah satuan batuan yang memiliki

penyebaran paling luas di daerah penelitian yaitu 54% dari total luas daerah

penelitian. Penyebaran satuan batuan ini adalah pada bagian tengah peta

membentang dari arah timur ke arah barat. Berdasarkan hasil pengukuran dari

penampang geologi A-B didapatkan ketebalan satuan batuan ini mencapai kurang

lebih 625 m. Satuan batuan ini juga merupakan satuan yang paling tua dan tidak

ditemukan lagi satuan batuan yang berada dibawahnya.

c. Umur batuan

Umur dari satuan batuan batupasir karbonat, peneliti menentukan

menggunakan umur relatif dari fosil Foraminifera yang terkandung di dalam

satuan batuan ini. Fosil Foraminifera yang digunakan untuk menentukan umur

dari satuan batuan ini adalah fosil planktonik. Berdasar dari sampel pada 3 titik

yang peneliti anggap representatif untuk daerah penelitian maka penyusun

mendapatkan beberapa fosil diantaranya adalah Globigerina paebulloides,

Globigerina nepenthes, Globigerinoides immaturus, Globorotalia fhosi,

Globorotalia lobata, Hastigerina micra, Orbulina universa, Globigerina bower,

Globigerina gravelli, Globigerina riveroae, Globigerinoides primordius,

Globoquardina dehiscens, Globigerinoides extremus, Globorotalia


38

pseudomiocenica, Globorotalia siakensis, Praeorbulina transitoria,

Spaeroidinella subdehiscens (Gambar 3.3).

Gambar 3.4. Beberapa fosil hasil determinasi pada satuan batuan batupasir karbonat
(Penulis, 2014)

Dari kesemua spesies


spesies yang berhasil diidentifikasi maka peneliti melakukan

penarikan umur berdasarkan Zonasi Blow tahun 1969 (Tabel 3.2, 3.3 dan 3.4).
3.4

Berdasarkan penarikan umur dari diga lokasi yang berbeda dan diasumsikan

sebagai bagian top, middle dan bottom dari satuan batupasir karbonat maka

didapatkan bahwa Batupasir Karbonat memiliki umur N


N9-N17 (miocene tengah

sampai Miosen atas).

Tabel 3.3. Tabel penentuan umur relatif


relati berdasarkan fosil Foraminifera planktonik pada
LP 160, bagian top (Penulis, 2014)
39

Tabel 3.4. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera planktonik pada
LP 161, bagian middle (Penulis, 2014)

Tabel 3.5. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera planktonik pada
LP 162, bagian bottom (Penulis, 2014)

d. Lingkungan dan m
mekanisme pengendapan

Mengacu pada hasil Measured Section (MS)) yang telah dilakukan dan

analisis lingkungan pengendapan berdasarkan struktur dan tekstur batuannya.

Maka peneliti melakukan pendekatan model mekanisme sedimentasi pada satuan

ini menurut model fasies (Walker 1979) kipas bawah laut dan model

progradasikipas bawah laut ( Gambar 3.3).


40

Gambar 3.5. Model


odel fasies kipas bawah laut dan model progradasi kipas bawah laut
laut,
dimodifikasi (Walker, 1978)

Pada satuan ini mengacu berdasarkan ciri litologi berupa perselingan

antara material kasar dan halus yaitu batupasir karbonat dan batulempung

karbonat secara ritmis. Hal ini menunjukan bahwa adanya perulangan atau ritme

yang teratur antara arus traksi dan suspersi maupun bedload.. Mengacu pada fasies

turbidit menurut Walker 1978, maka litologi batupasir kerikilan-batupasir


batupasir sangat

kasar graded bedding sam


sampai
pai berlapis dan wavy lamination masuk dalam fasies

Clasical Turbidite (.C.T


T.). Pada Sekuen Bouma, 1962 fasies ini masuk mulai dari

Ta-Tc.

Sementara itu perulangan ritmis antara batupasir karbonat sangat halus

degan batulempung karbonat dengan struktur masif


sif pada model Fasiel Walker

1978 juga masuk ke dalam bagian Fasies Clasical Turbidite (.C.T.). Pada Sekuen

Bouma 1962 fasies ini masuk pada sekuen


se Td-Te
Te dan berulang secara ritmis dan

berlapis baik sekali.


41

Berdasarkan ciri litologi dan hasil dari pendekatan


pendekatan menggunakan model

fasies Walker 1978, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa satuan batuan

ini merupakan endapan turbidit yang terbentuk akibat mekanisme arus turbit
turbit.

Selain itu mengacu dari hasil analisis di atas penulis menginterpretasikan ba


bahwa

satuan batuan ini diendapkan pada suatu kompleks kipas bawah laut pada bagian

lower fan (Gambar 3.4). Maka fosil bentonik


tonik yang ada adalah produk dari hasil

reworking batuan sebelumnya. Sehingga fosil bentonik tidak dapat dijadikan

acuan dalam menentukan


an lingkungan pengendapan satuan batuan ini.

Gambar 3.6. Model


odel fasies pengendapan satuan batupasir karbonat, dimodifikasi (Walker,
1978)

e.. Hubungan Stratigrafi

Mengingat satuan ini mrupakan satuan batuan tertua di lokasi penelitian

maka peneliti tidak menemukan satuan lagi di bawah satuan batupasir karbonat

ini.
42

Tabel 3.6. Kolom litologi satuan batupasir karbonat (tanpa skala) (Penulis, 2014)
Struktur Kolom Lingkungan
Umur Tebal Pemerian
sedimen litologi pengendapan
Satuan batupasir tufan

Batupasir karbonat; secara megaskopis


berwarna abu-abu keputih-putihan sampai abu-
abu gelap, struktur; masif, laminasi, wavy
lammasi, parallel laminasi, graded bedding dan
perlapisan, struktur khusus fluet cast dan
groove cast. Ukuran butir pasir halus sampai
pasir kasar, sortasi sangat baik sampai sedang,
Miosen Tengah-Miosen Akhir (N9 N17)

kebundaran rounded sampai subrounded,


kemas tertutup dan semen karbonat.
Berdasarkan pengamatan petrografis, warna
abu-abu kecoklatan-kemerahan, tekstur klastik,
semen karbonat, butiran terdiri dari feldspar,
kuarsa, lithik, siderite, glaukonit, fosil dan
mineral opak, ukuran butir 0,05-0,25mm, Lower fan
bentuk butir menyudut tanggung-membulat
tanggung. (Walker,
1978)
625

Batulempung karbonat; abu-abu sampai


dengan abu-abu gelapdan berstruktur masif.
Ukuran butir lanau sampai lempung semen
karbonat. Berdasarkan pengamatan petrografis,
coklat muda, tekstur klastik, komposisi
didominasi mineral berukuran lempung
(<0,01mm) dengan butiran berupa feldspar,
fosil, dan mineral opak, dengan ukuran butir
0,05-0,1mm, bentuk butir menyudut tanggung-
membulat tanggung, butiran mengambang
dalam matrik lempung dan lumpur karbonat

II.2.2 Satuan Batupasir tufan


a. Ciri litologi
Secara megaskopis satuan batupasir tufan tersusun dari beberapa litologi

diantaranya adalah batupasir tufan dengan semen karbonat, batupasir tufan dengan

semen silika dan batupasir kerikilan yang mengandungfosil molusca. Litologi

yang paling dominan adalah batupasir tufan dengan semen silika, sementara

litologi lainnya ditemukan setempat setempat. Satuan batuan batupasir tufan

berlapis baik. Selain itu terdapat sisipan berupa batulempung karbonat (Gambar

3.9).
43

Batupasir tufan memiliki warna abu-abu


abu abu cerah, berstruktur masif dan

graded bedding),
terkadang berlapis (graded bedding ukuran butir pasir sedang-kerikil
kerikil, sortasi

sedang, kemas tertutup, butir rounded-subrounded,, dengan semen silika dan

terkadang karbonat.. Litologi ini juga banyak mengandung material vulkanik

berupa glass,, sehingga litologi ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan

dibandingkan dengan litologi yang lain (Gambar 3.7).

Gambar 3.7. Satuan


an batupasir tufan, diambil pada
pad LP 131. Lensa kamera menghadap NE
(Penulis, 2014)

Gambar 3.8. Batupasir kerikilan yang merupakan anggota satuan batupasir tufan, diambil
pada LP 126. Lensa kamera menghadap NE (Penulis, 2014)
44

Gambar 3.9. Batupasir tufan dengan sisipan batulempung karbonat LP 147 daerah
Kalianjang.. Lensa kamera menghadap utara (Penulis, 2014)

Litologi batupasir tufan memiliki ciri


ciri-ciri
ciri fisik berwarna coklat terang
dengan struktur masif, memiliki ukuran butir pasir sedang-brangkal,
sedang , sortasi buruk,
kemas terbuka, bentuk butir subrounded-angular.. Komposisi matriksnya
berukuran pasir sedang--pasir kasar, dengan fragmen batupasir kerikilan berfosil
dan semen karbonat. Pada litologi ini didapatkan fosil
fosil-fosil
fosil gastropoda, baik
berupa fosil asli maupun internal mud dan external mud. Fosil yang terdapat pada
batuan ini adalah dari kelas Pelycipoda dan Gastropoda. Berikut ini adalah
internal mud dari fosil P
Pelicypoda. ( Gambar 3.10)

Gambar 3.10. Batupasir kerikilan dengan dengan fragmen batupasir berfosil, diambil
pada LP 10 daerah Ringin.. Lensa kamera menghadap SE (Penulis, 2014)
45

b. Penyebaran dan ketebalan

Satuan batuan batupasir tufan ini menempati sekitar 6% dari total

keseluruhan lokasi penelitian. Satuan ini hanya terdapat di daerah bagian utara

pada lokasi penelitian berarah timur-barat. Dari data lapangan, peneliti tidak dapat

memperkirakan ketebalan dari satuan batuan ini sehingga peneliti mengacu dari

peneliti terdahulu. Berdasarkan hasil penelitian Teoriang, 2013 dalam naskah

skripsinya (tidak diterbitkan) diketahui bahwa ketebalan satuan batuan ini

mencapai sekitar 725 m.

c. Umur batuan

Mengingat komposisi dominan dari batuan ini adalah silika, sehingga

peneliti tidak melakukan analisis mikropaleontologi. Berdasarkan kenampakan di

lapangan dan mengacu dari peneliti terdahulu bahwa satuan batuan ini menjari

dengan satuan batuan Napal sehingga keduanya memiliki umur yang relatif sama.

Hasil analisis mikro paleontoligi menunjukan satuan Napal memiliki kisaran umur

( N18-N20 ) yaitu Miosen atas-Pliosen, maka begitu pula satuan batuan ini.

d. Lingkungan dan mekanisme pengendapan

Pada satuan batupasir tufan peneliti tidak dapat melakukan MS (Measured

Section) sehingga interpretasi mekanisme dan lingkungan pengendapannya hanya

dilakukan berdasarkan kenampakan fisik litologinya saja. Hal ini dikarenakan

penyebaran satuan batuan yang cukup minim di lokasi penelitian sehingga peneliti

tidak menemukan lokasi ideal untuk melakukan MS.

Sebagai pendekatan model mekanisme dan lingkungan pengendapan,

peneliti masih menggunakan model kipas bawah laut dan model pengendapan
46

progadasi kipas bawah


awah laut (Walker
( 1978).. Mengacu pada litologi batupasir tufan

yang menunjukan adanya perlapisan berupa perlapisan sejajar dan perapisan

graded bedding dengan ukuran batupasir


batu halus-kraka
kraka maka peneliti

memasukannya ke dalam facies Masive Sandstone (.M.S.). Sedangkan

keterdapatan sisipan-sisipan
sisipan lempung pada satuan ini dan mengalami perulangan

dengan batupasir tufan berukuran kasar peneliti memasukannya ke dalam fasies

Clasical Turbidite (.C.T.) menurut Walker 1978.

Berdasarkan data--data
data terebut maka peneliti dapat melakukan pena
penarikan

kesimpulan. Dari interpretasi model kipas bawah laut dan model pengendapan

progradasi kipas bawah laut (Walker,


(Walker 1978) bahwa satuan batuan ini memiliki

fasies pengendapan. Suprafan lobes on mid fan dan tepatnya smooth portion of

suprafan lobes (Walker,, 1978) ( Gambar 3.11).

Gambar 3.11. Model


odel fasies pengendapan satuan batupasir tufan, dimodifikasi
(Walker,
(Walker 1978)
47

e. Hubungan stratigrafi
Dari hasil observasi lapangan dan analisis yang dilakukan
menunjukan bahwa satuan ini diendapkan selaras di atas satuan batupasir
karbonat dan menjari dengan satuan napal.

Tabel 3.7. Kolom litologi pada satuan batuasir tufan (tanpa skala) (Penulis, 2014)
Struktur Kolom Lingkungan
Umur Tebal Pemerian
sedimen litologi pengendapan

Satuan napal

Batupasir tufan; berwarna putih abu-abu,


berbutir kasar, betuk butir membulat
tanggung-menyudut, kemas terbuka, sortasi
Miosen Akhir-Pliosen (N18 N 20)

buruk, struktur masif-perlapisan, berlapis baik


dengan tebal antara 0,3 dan 5 m (gambar 3.6).
Berdasarkan pengamatan petrografis,
berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik,
komposisi didominasi oleh lithic (pecahan
batuan), sedikit butiran feldspar, kuarsa,
725 meter

Supra fan
piroksen dan mineral opak dengan butiran
berukuran 0,0510,5mm, bentuk menyudut
lobes
tanggung. Napal; berwarna abu-abu, struktur
(Walker,
masif-laminasi, ukuran butir lempung (0.004-
1978)
0.06mm), bentuk butir membundar , sortasi
terpilah baik, kemas tertutup, matrik cangkan
fosil, semen karbonat.

Satuan batupasir karbonat

II.2.3 Satuan Napal

a. Ciri litologi

Satuan batuan napal secara garis besar tersusun oleh perselingan antara

napal dengan batupasir karbonat. Napal memiliki warna abu-abu kehijauan

sampai abu-abu gelap, berstruktur masif dengan ukuran butir lanau sampai

lempung, terikat oleh semen karbonat. Litologi ini banyak mengandung fosil dari

cangkang Foraminifera. Tebal dari litologi ini beragam mulai dari beberapa

centimeter sampai puluhan meter. (Gambar 3.12)


48

Gambar 3.12. Satuan napal dengan struktur berlapis, diambil pada LP 25 Dusun
Sambeng.. Lensa kamera menghadap NW (Penulis, 2014)

Batupasir karbonat dengan ciri-ciri fisik dilapangan berwarna kuning

kecoklatan, abu-abu
abu cerah dan abu-abu
abu keputih-putihan. Batupasir
atupasir karbonat

memiliki struktur dominan masif namun beberapa berstruktur wavy laminasi dan

laminasi sejajar serta terkadang nampak berlapis.


berlapis. Litologi ini memiliki ukuran

sedang, bentuk butir rounded-sub rounded,, kemas tertutup, dan


butir pasir halus-sedang,

sortasi
rtasi baik dengan semen karbonat.. Lapisan litologi ini hanya memiliki tebal

maksimal beberapa meter saja (Gambar 3.13).


49

Gambar 3.13. Satuan napal perselingan dengan batupasir karbonat. Lensa kamera
menghadap timur (Penulis, 2014)

b. Penyebaran dan ketebalan

Satuan ini memiliki luas daerah penyebaran sekitar 30% dari total luas

daerah penelitian. Sebagian besar menempati bagian selatan dari lokasi penelitian.

Berdasarkan penampang geologi A-B


A B didapatkan tebal dari satuan ini mencapai

700 m satuan batuan


uan ini juga mudah
m dah sekali mengalami perlipatan dikarenakan

sifatnya yang plastis.

c. Umur batuan

Penentuan umur satuan batuan napal dilakuakan dengan melakukan analisis

umur dari fosil FForaminifera


oraminifera plangtonik.. Hal ini dikarenakan satuan batuan ini

kaya akan kandungan fosil Foraminifera plantonik.


lantonik. Berdasarkan hasil analisis

fosil Foraminifera plantonik pada 3 lokasi pengamatan yang berbeda maka

penyusun menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur relatif Miocen

Atas - Pliosen (N18-N20


20) (Blow, 1969).
50

Fosil Foraminifera yang berhasil diidentifikasi antara lain; Globigerina

riveroae,, Globoquadrina dehiscens, Globorotalia miocenica, Globorotalia

miocenica, Globigerinoides immaturus, Globorotalia acostaensis, Orbulina

universa, Globigerina venuzuelana, Pulleniatina obliquiloculata, Globigerinoides

immaturus, Globigerina nepenthes, Globoquadrina altispira, Globigerinoides

conglobatus, Globigerinoides ruber, Globorotalia foshi, Globorotalia

plesiotumidai, Globorotalia praemenardi (Gambar 3.14).

Gambar
bar 3.14. Beberapa fosil hasil determinasi pada satuan napal (Penulis, 2014)

Berdasarkan dari beberapa fosil


fosil yang berhasil diidentifikasi tersebut

kemudian dibandingkan dan dicocokkan dengan Zonasi Blow, 1969 dan kemudian

diambil frekuensi yang paling besar


besar dan diasumsikan sebagai umur relatif satuan

batuan napal (Tabel 3.8, 3.9, 3.10).


3.10
51

Tabel 3.8. Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera planktonik
pada LP 1, bagian top (Penulis, 2014)

Tabel 3.9 Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera planktonik pada
LP 91, bagian middle (Penulis, 2014)

Tabel 3.10 Tabel penentuan umur relative berdasarkan fosil Foraminifera planktonik
pada LP 45, bagian bottom (Penulis, 2014)
52

d. Lingkungan dan mekanisme pengendapan

Membahas mengenai lingkungan pengendapan maka penyusun mengacu

dari hasil Measuring Section yang telah dilakukan (terlampir). Penyusun tidak

melakukan analisis batymetri mengingat bahwa satuan batuan ini merupakan

satuan batuan yang terbentuk akibat mekanisme arus turbit. Hal ini menyebabkan

fosil bentonik yang ada pada satuan ini tidak akurat untuk dijadikan acuan

menentukan lingkungan batymetri karena merupakan fosil-fosil hasil reworking.

Sementara itu untuk penentuan lingkungan pengendapan, penyusun

melakukan pendekatan dengan menggunakan model progradasi kipas bawah laut

dan model kipas bawah laut (Walker,1978). Pada satuan batuan ini berdasarkan

ciri litologinya tersusun oleh napal dengan struktur masif berukuran lempung-

lanau dengan semen karbonat yang kemudian berselingan secara ritmis dengan

batupasir karbonat berstruktur masif, paralel laminasi dan terkadang wavy

laminasi berukuran butir pasir halus-sedang, rounded, sortasi baik, dan kemas

tertutup. Berdasarkan sifat fisik tersebut pada model fasies progradasi Walker

(1978) masuk kedalam sekuen Clasical Turbidite (.C.T.). Hal ini menunjukan

adanya ritme yang teratur antara arus traksi dan arus suspensi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saat itu pengendapan

berlangsung dalam mekanisme arus turbit pada sekuen Clasical Turbidite (.C.T.)

(Walker, 1978). Mengacu data ini maka penyusun menyimpulkan bahwa satuan

batuan ini terbentuk pada lower fan. (Gambar 3.15)


53

Gambar 3.15. Model


odel fasies pengendapan satuan napal, dimodifikasi (Walker
(Walker, 1978)

E.. Hubungan stratigrafi

Dari hasil observasi lapangan dan analisis yang dilakukan menunjukan

bahwa satuan ini diendapkan selaras di atas satuan batupasir karbonat dan menjari

dengan satuan batupasir tufan serta batugamping (Tabel 3.11).

Tabel 3.11. Kolom litologi pada satuan napal (tanpa skala) (Penulis, 2014)
Struktur Kolom Lingkungan
Umur Tebal Pemerian
sedimen litologi pengendapan

Satuan batugamping

Napal; warna abu-abu kehijauan sampai abu-


abu gelap, berstruktur masif dengan ukuran
butir lanau sampai lempung, terikat oleh semen
karbonat Berdasarkan pengamatan petrografis,
Miosen Atas - Pliosen (N18-N20

berwrna coklat muda, tekstur klastik, dengan


komposisi didominasi mineral berukuran
lempung (<0,01mm) dengan butiran berupa
fosil, glaukonit dan mineral opak, dengan
ukuran butir 0,05-0,3mm,
0,3mm, bentuk butir
700 meter

Lower fan
menyudut tanggung-membulat
membulat tanggung,
butiran mengambang dalam matrik lempung (Walker,
dan lumpur karbonat. Batupasir karbonat; 1978)
berwarna kuning kecoklatan, abu-abu
abu cerah dan
abu-abu keputih-putihan. Batupasir karbonat
memiliki struktur dominan masif namun
beberapa berstruktur wavy laminasi dan
laminasi sejajar serta terkadang nampak
berlapis.

Satuan batupasir tufan


54

II.2.4 Satuan batugamping

a. Ciri litologi

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan satuan ini memiliki cirri-ciri


cirri

secara megaskopis berwarna Putih kekuningan, putih kecoklatan, dengan struktur

masif-berlapis.
berlapis. Dilapangan dijumpai bahwa satuan batuan ini memiliki sifat yang

sangat padat (Gambar 3.16 dan 3.17), tekstur amorf, komposisi monomineralik

karbonat. Berdasarkan hasil analisis petrografi bahwa satuan ini termasuk

packstone.

Gambar 3.16. Satuan batugamping terdapat pada LP 28 Dusun Sambeng.. Lensa kamera
menghadap timur (Penulis, 2014)

Gambar 3.17. Satuan batugamping terdapat pada LP 26 Dusun Sambeng. Lensa kamera
menghadap utara (Penulis, 2014)
55

b. Penyebaran dan ketebalan

Satuan batugamping hanya memiliki penyebaran yang sempit pada daerah

penelitian. Satuan ini hanya terdapat pada sebelah timurlaut daerah penelitian,

tepatnya pada daerah Gedangan. Luasan dari satuan batugamping ini hanya

mencakup 2% dari keseluruhan lokasi penelitian. Satuan ini memiliki ketebalan

yang bervariasi mencapai 250 m. namun hal ini dapat diketahui dari data yang

ditemukan di luar lokasi penelitian dan berdasarkan penampang geologi yang

dibuat.

c. Umur batuan

Berdasarkan data yang terkumpul dilapangan, didapatkan hasil bahwa

satuan batugamping ini menjari dengan satuan napal. Berdasarkan hal tersebut

penulis menarik kesimpulan bahwa satuan batugamping memiliki umur yang

sama dengan satuan napal yaitu berumur Miosen atas sampai Pliosen (N18-N20).

d. Hubungan stratigrafi

Satuan batugamping ini mempunyai hubungan selaras menjari dengan

satuan napal. Di lapangan didapati satuan batu gamping berada diatas satuan

napal. Selain itu kedua satuan ini memiliki kesamaan dari segi arah

penyebarannya. Ketidak menerusan satuan batu gamping dan jika melihat luasan

sebaran batugamping, maka batugamping menjari terhadap satuan napal (Tabel

3.12) . Kesimpulan ini tidak hanya ditunjang dari data lapangan yang didapatkan,

melainkan juga di dukung oleh data dari kesebandingan dengan stratigrafi

regional Salatiga.
56

Tabel 3.12. Kolom litologi pada satuan batugamping(tanpa skala) (Penulis, 2014)
Struktur Kolom
Umur Tebal Pemerian
sedimen litologi

Endapan Aluvial

ketidakselarasan

Breksi andesit
Miosen Atas-Pliosen (N18 N20)

ketidakselarasan

Batugamping; secara megaskopis


berwarna berwarna Putih kekuningan, putih
kecoklatan, dengan struktur masif-berlapis.
250 meter

Dilapangan dijumpai bahwa satuan batuan


ini memiliki sifat yang sangat padat, tekstur
amorf, komposisi monomineralik karbonat.
Berdasarkan pengamatan petrografis,
batugamping klastik, berwarna putih
kecoklatan-coklat, klastik, mud suppoted,
dengan sedikit detritus siderite dan mineral
opak, berukuran 0,050,5mm. Sebagian
besar rongga porositas (inter dan
intrapartikel) terisi oleh sparit.
Satuan napal

II.2.5 Satuan breksi andesit

a. Ciri litologi

Secara megaskopis satuan batuan ini memiliki warna coklat kehitaman

dengan warna lapuk coklat kemerahan. Satuan batuan ini memiliki struktur massif

dengan ukuran butir pasir halus sampai krakal, bentuk butir membundar sampai

menyudut tanggung. Kemas terbuka dan sortasi sangat buruk. Komposisis

fragmen andesit berwarna hitam, masif, hipokristalin, inequigranular, subhedral

sampai anhedral dan porfirofaneritik, mineral yang nampak adalah kelompok


57

plagioklas dan piroksin. Sedangkan matriks dari breksi andesit adalah pasir halus

sampai pasir kasar dan semennya adalah silika.

Gambar 3.18. Satuan breksi andesit dengan fragmen andesit terdapat pada LP 123 di
Dusun Tegalrejo.
Tegalrejo. Lensa kamera menghadap timur (Penulis, 2014)

b. Penyebaran dan ketebalan

Satuan batuan breksi andesit hanya memiliki penyebaran yang sempit pada

daerah penelitian. Satuan batuan ini hanya tersingkap


tersingkap satu daerah sebelah barat

laut daerah penelitian, tepatnya pada Desa Kentengsari. Luasan dari satuan breksi

andesit ini hanya mencakup 2% dari keseluruhan lokasi penelitian. Ketebalan

satuan ini belum diketahui karena hubungan stratigrafinya yang tisak selaras dan

menumpang di atas satuan batupasir karbonat. Untuk mengetahui


mengetahui ketebalan satuan

ini perlu dilakukan


lakukan penyelidikan khusus berupa pengeboran. Berdasarkan

penelitian ini penulis tidak dapat menentukan ketebelan satuan ini dikarenakan

keterbatasan
asan dana dan peralatan.
58

c. Umur batuan

Dalam menentukan umur satuan batuan ini penulis mengacu pada peneliti

terdahulu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harsono (1983), satuan

batuan breksi andesit memiliki umur pleistosen atau sekitar 500.000 tahun yang

lalu.

d. Lingkungan dan mekanisme pengendapan

Mengenai lingkungan pengendapannya, satuan ini diidentifikasi

berdasarkan cirri fisiknya di lapangan. Satuan breksi ini memiliki ukuran fragmen

mulai dari kerikil sampai brangkal dengan kemas yang terbuka dan fragmen sub

angular lebih mendominasi dan jarak antara fragmen penulis menyimpulkan

bahwa satuan breksi andesit ini merupakan endapan laharik yang sudah

tertranspor cukup jauh dari sumbernya.

e. Hubungan stratigrafi

Satuan ini diendapkan tidak selaras di atas satuan batupasir karbonat.

Berdasarkan data pengamatan langsung di lapangan diketahui bahwa

ketidakselarasan satuan ini dengan satuan batupasir karbonat adalah jenis

ketidakselarasan angular unconformity. Hal ini terlihat jelas di lapangan kontak

ketidaselarasan antara kedua satuan batuan ini. Jenis dari ketidakselarasannya

adalah angular unconformity yaitu batupasir karbonat yang sudah memiliki

kemiringan ditumpangi oleh satuan breksi andesit diatannya. Hal ini

menyebabhak terdapatnya sudut antara kontak vertical batupasir karbonat dengan

braksi andesit (Gambar 3.19).


59

Gambar 3.19. Kontak ketidakselarasan antara satuan breksi andesit dengan satuan
batupasir karbonat diambil pada LP 109. Lensa kamera menghadap
meng utara
(Penulis, 2014)

II.2.6 Satuan endapan aluvial

Satuan ini terdiri atau tersusun dari material lepas yang belum mengalami

litifiksi. Material ini merupakan hasil dari rombakan batuan yang lebih tua di

sekitarnya. Material lepas ini memiliki ukuran yang beragam, muali dari lempung

sampai brangkal. Satuan ini bertempat di daerah-daerah


daerah daerah yang memiliki morfologi

landai dan rendah, terbawa melalui sungai-sungai


sungai sungai dan angin yang menjadi agen

geologi. Berdasarkan data pengamatan di lapangan satuan ini memiliki ketebalan


ke

1 - 2,5 m (Gambar 3.20). Penyebaran satuan ini di lapangan mencapai sekitar 6%

dari luas total lokasi penelitian. Daerah dengan satuan endapan alluvial sebagian

besar digunakan oleh penduduk sekitar sebagai lahan pertanian (Gambar 3.21).
60

Gambar 3.20. Endapan alluvial yang dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai lahan
persawahan. Lensa kamera menghadap utara (Penulis, 2014)

Dari hasil pengamatan lapangan, stuan ini di endapkan tidak selaras diatas

satuan batupasir karbonat, napal, dan batupasir tufan.


tufan. Jenis ketidal selarasannya

adalah angular unconformity.

Gambar 3.21. Endapan aluvial yang tersingkap di tebing Sungai Tuntang. Lensa kamera
menghadap selatan (Penulis, 2014)
BAB IV
STRUKTUR GEOLOGI

Geologi struktur adalah studi mengenai distribusi tiga dimensi tubuh

batuan dan permukaannya yang datar ataupun terlipat, beserta susunan

internalnya. Geologi struktur mencakup bentuk permukaan yang juga dibahas

pada studi geomorfologi, metamorfisme dan geologi rekayasa. Dengan

mempelajari struktur tiga dimensi batuan dan daerah, dapat dibuat kesimpulan

mengenai sejarah tektonik, lingkungan geologi pada masa lampau dan kejadian

deformasinya

IV.1. Struktur Geologi Regional

Secara regional perkembangan tektonik Jawa Tengah adalah periode

antara Miosen Bawah sampai Pliosen Atas. Deformasi tektonik tersebut

berpengaruh pada terbentuknya Sistem Geantiklin Jawa Tengah, Sistem

Geantiklin Pegunungan Serayu Selatan dan Sistem Geantiklin Pegunungan Serayu

Utara (Bemmelen, 1949). Secara umum gambaran tektonik daerah jawa tengah

dapat
at di lihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.1. Gambaran umum struktur geologi Pulau Jawa, Jawa Timur dan Jawa tengah
(Anonim, 2014)

61
62

Struktur geologi regional yang berada di regional daerah penelitian adalah

berupa lipatan dan sesar. Struktur yang ada berkembang baik di bagian tengah.

Struktur lipatan umumnya berupa antiklin dan sinklin tak setangkup berarah barat-

timur dengan sayap utara yang lebih terjal bahkan sampai pada lipatan terbalik.

Lipatan-lipatan kecil orde dua memiliki arah timurlaut-baratdaya.

Sesar naik yang terdapat juga memiliki arah yang sama dengan sumbu

lipatan, yaitu berarah barat-timur. Sementara sesar mendatar memiliki arah

timurlaut-baratdara dan baratlaut-tenggara. Secara struktural Zona Kendeng

merupakan antiklinorium dengan arah timur-barat dan terutama terdiri dari

sedimen-sedimen marin. Sebenarnya panjang 250 kilometer dan rata-rata lebar

20 kilometer. Menuju kearah timur menunjam di bawah dataran aluvial dan Selat

Madura. Pola strukturnya sangat ketat dengan lipatan-lipatan asimetris dengan

sesar-sesar yang rumit di bagian dalam.

IV.2. Struktur Geologi Daerah Penelitian

Subbab ini lebih menjelaskan mengenai struktur geologi sekunder (kekar,

sesar dan lipatan) yang terbentuk selama atau setelah proses pembentukan struktur

geologi akibat gaya yang dihasilkan dari tektonik lempeng yang bekerja. Untuk

menyelesaikan masalah-masalah tentang bentuk, posisi, arah gaya yang bekerja

dan arah pergerakannya, penulis menggunakan metode geometri proyeksi,

khususnya metode proyeksi stereografis (stereonet) dan menggunakan software

Dips serta menggunakan data sekunder berupa interpertasi citra satelit guna

memperkuat data lapangan dan hasil analisis. Sedangkan untuk penamaan sesar-
63

sesar besar didaerah penelitian menggunakan nama daerah yang dilewati struktur

tersebut, terlebih lagi lokasi yang paling baik kondisi struktur geologinya.

IV.2.1 Struktur kekar

Kekar merupakan suatu rekahan yang relatif tanpa mengalami pergeseran

pada bidang rekahannya. Penyebab terjadinya kekar dapat disebabkan oleh gaya

yang dihasilkan akibat adanya aktivitas tektonik lempeng tektonik. Dalam analisis

struktur geologi, yang diperlukan adalah kekar yang disebabkan oleh gejala

tektonik. Jadi dilapangan baru dapat dibedakan dua jenis kekar tersebut.

Klasifikasi kekar ada beberapa macam, tergantung dasar klasifikasi yang

digunakan diantaranya: berdasarkan bentuknya, berdasarkan urutannya,

berdasarkan kerapatannya, berdasarkan cara terjadinya atau genesanya.

Klasifikasi kekar berdasarkan genesanya:

a. Shear joint

b. Tension joint

c. Tegangan utamanya terbesar akan membagi dua sama besar sudut lancip

yang dibentuk oleh dua shear joint.

d. Tegasan terkecil akan membagi dua sama besar sudut tumpul yang

dibentuk oleh shear joint.

Mengingat bahwa struktur kekar adalah struktur pre-deformasi maka data

yang yang diambil juga harus memperhatikan keadaan atau kedudukan batuan

yang sekarang. Karena jika kedudukan batuan sudah mengalami deformasi maka

data kekar yang diambil sudah tidak akurat lagi. Berdasarkan hasil observasi
64

dilapangan didapatkan bahwa daerah penelitian merupakan daerah yang

mengalami deformasi kuat. Maka tidak banyak data kekar yang


yang dapat diambil di

lokasi penelitian. Untuk menentukan arah gaya utama pada daerah penelitian

dapat menggunakan data dari analisis sesar maupun lipatan. Setelah melakukan

observasi di lapangan maka didapatkan data kekar yang kemudian dilakukan

analisis yang terdapat di lokasi penelitian sebagian besar gaya yang dihasilkan

relatif berarah utara timurlaut-baratdaya,


timurlaut dengan beberapa
rapa hasil lain dari analisis

sesar dan lipatan yang menunjukan arah yang berbeda yang diinterpretasikan

sebagai gaya yang terbentuk


terbentu sesudah gaya utama berlangsung.

Gambar 4.2. Kekar pada LP 41, lensa kamera menghadap timurlaut (Penulis, 2014)
65

Gambar 4.3. Analisis kekar LP 41 (Penulis, 2013)

IV.2.2 Struktur sesar

Sesar adalah suatu rekahan/kekar yang


y g telah mengalami pergeseran (dari

salah satu muka yg berhadapan) arahnya paralel ddengann zona permukaan (Twiss

& Moores, 1992). Sesar adalah rekahan yang telah mengalami pergeseran yang

arahnya relatif sejajar dengan bidang rekahan (bergeser pada bidang sesar).

Moody dan Hill (1956), membuat model pembentukan sesar mendatar

yang dikaitkan dengan sistem tegasan. Di dalam model tersebut dijelaskan bahwa

sesar orde I membentuk terhadap tegasan utama. Sesar orde I baik sudut kurang

lebih 30o dekstral maupun sinistral merupakan sesar utama


utama yang pembentukannya

dapat terjadi bersamaan atau salah satu saja. (Gambar 4.4).


66

Gambar 4.4. Sesar menadatar, lipatan dan sesar naik model Moody dan Hill (1956)

Unsur-unsur geologi yang mengindikasikan adanya sesar pada suatu

daerah antara lain: bidang sesar, gawir, kelurusan topografi, kelurusan sungai,

perbedaan offset litologi dan topografi, penjajaran mataair, air terjun dan breksiasi.

Berdasarkan dari hasil observasi lapangan dan hasil analisis di laboratorium

kemudian diperkuat lagi dengan interpretasi dari penginderaan jauh maka

ditemukan beberapa struktur geologi besar. Sesar-sesar yang ada pada daerah

penelitian melingkupi sesar naik dan sesar mendatar (Gambar 4.5).


67

Gambar 4.5. Sesar-sesar


Sesar sesar utama pada daerah penelitian (Penulis, 2014)

a. Sesar naik Ngrengkesan

Berdasarkan hasil observasi lapangan, sesar naik Nrengkesan dicirikan

dari beberapa indikasi. Indikasi tersebut diantaranya adalah sesar-sesar


sesar sesar minor

sintetik dari sesar naik Nrengkesan. Berdasarkan dari citra 3D dengan bantuan

software Global Mapper.V13 juga masih terlihat kelurusan morfologi dari sesar

naik Nrengkesan. Sesar naik Ngrengkesan pada awalnya merupakan lipatan yang

tersesarkan. Kemudian
ian sesar ini dipotong oleh beberapa sesar mendatar.
68

Gambar 4.6. Sesar-sesar


Sesar naik syntetik dan lokasinya (Penulis, 2014)

b. Sesar mendatar Joho

Mengingat stadia daerah penelitian yang merupakan stadia dewasa dengan

topografi bergelombang lemah sampai sedang. Tingkat pelapukan daerah

penelitian juga cukup kuat, sehingga struktur geologi hanya dapat diamati pada

sungai-sungai
sungai karena merupakan tempat yang baik tersingkapnya litologi

penyusun daerah penelitian. Struktur geologi ini nampak merbasarkan struktur


struktur-

struktur penyertanya seperti drag fold, zona hancuran dan adanya kedudukan

batuan yang terbolak-balik


balik sepanjang jalur sesar. Jalur sesar yang mem
membentuk

zona lemah sekarang telah menjadi sungai yaitu sungai ngetawu yang memiliki

arang baratlaut-tenggara
tenggara dengan arah aliran dari selatan ke utara. Selain itu sedikit

banyaknya interpretasi struktur geologi ini juga terbantu dari citra 3D yang

menunjukan adanya offset morfologi seperti pada gambar di bawah ini yang juga

menunjukan arah pergerakan sesarnya yaitu sesar mendatar kanan.


69

Gambar 4.7. Offset morfologi yang merupan indikasi sesar mendatar Joho (Penulis, 2014)

Gambar 4.8. Sungai Ngetawu yang merupakan jalur sesar mendatar Joho. Foto diambil di
LP 162 (Penulis, 2014)

c. Sesar mendatar Karangploso

Sesar mendatar karangploso merupakan sesar mendatar kanan turun.

Hal ini ditunjukan dari hasil observasi dilapangan berupa


berupa offset batuan dan adanya

lipatan-lipatan
lipatan seretan. Selain itu secara luas jalur sesar ini ditunjukan dengan

adanya kedudukan batuan yang tudak normal atau terbolak-balik.


terbolak balik. Sesar mendatar

karangploso melalui tiga sungai yaitu K. Brumbung, K. Bungu dan K. Bercak.


70

Berdasarkan pantauan dari data citra 3D juga mendukung data-data


data data lapangan yang

menunjukan adanya sesar Karangploso.

Gambar 4.9. Analisis sesar pada LP 61, gambar A merupakan SF dan GF dan gambar B
adalah zona hancuran (Penulis, 2014)

Gambar 4.10. Drag fold yang menunjuka arah pergerakan dari sesar Karangploso dan
Offset litologi sebagai indikasi sesar mendatar kanan Karangploso
(Penulis, 2014)

d. Sesar mendatar Panimbo

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, peneliti mendapatkan indikasi

adanya sasar mendatar Panimbo. Berdasarkan pertimbangan dari data-data


data yang

ada peneliti mengambil kesimpulan bahwa sesar mendatar Panimbo merupakan


71

sesar mendatar kiri yang memiliki arah sesar timutlaut-barat


timutlaut barat daya memotong

diagonal daerah penelitian.


ian.

Gambar 4.11. Sesar minor syntetik pada jalur sesar Panimbo (Penulis, 2014)

Indikasi adanya sesar ini dilapangan dalah berupa adanya sesar sesar

minoe syntetik dan zona hancuran pada jalur sesar. Pada daerah utara penelitian,

peneliti masih menginterpretasikan kelurusan sesar ini dikarenakan kondisi

pelapukan yang cukup intensif sehingga cukup menjadi kendala dalam elakukan

pengumpulan data.

Gambar 4.22. Zona hancuran yang mengindikasikan sesar mendatar Joho

Gambar 4.12. Drag fold yang menunjuka arah pergerakan dari sesar Karangploso dan
Offset litologi sebagai indikasi sesar mendatar kanan Karangploso
(Penulis, 2014)
72

Selain ssesar-sesar
sesar besar yang ada pada daerah penelitian juga terdapat

sesar-sesar
sesar kecil yang dapt dilakukan analisis. Sesar sesar mendatar yang lebih

dominan didapatkan. Diantaranya dapat dilihat dari gambar-gambar


gambar gambar di bawah ini.

Gambar 4.13. Sesar mendatar kiri turun, LP 108 (Penulis, 2014)

Gambar 4.14. Sesar mendatar kiri turun, LP 48 (Penulis, 2014)


73

e. Sesar naik Wonosegoro

Keberadaan sesar naik wonosegoro ditunjukan berdasarkan data-data


data data yang di

dapatkan di lapangan berupa kedudukan batuan yang memiliki dip cukup besar, adanya

pembalikan lapisan batuan. Pembalikan lapisan batuan ini dapat diketahui berdasarkan
berd

dari struktur sedimen berupa fluet cast yang berada diposisi atas. Sesar naik wonosegoro

juga dicirikan dari adanya lipatan-lipatan


lipatan lipatan seretan disertai adanya milonit yang

menunjukan adanya pergerakan dari sesar tersebut.

Sesar naik wonosegoro juga merupakan


merupakan batas litologi. Litologi yang dibatasi oleh

sesar ini adalah satuan batupasir karbonat dengan satuan napal. Sesar naik wonosegoro

terjadi pada bidang lapisan dari kedua satuan batuan ini, mengingat keduanya merupakan

satuan batuan yang selaras baik.


baik. Selain daripada itu dari permodelan 3D menunjukan

adanya perbedaan morfologi yang mengindikasikan adanya sesar naik wonosegoro.

Berikut ini adalah gambar--gambar


gambar yang menunjukan adanya sesar naik wonosegoro.

Gambar 4.15. Drag fold dan milonit. Foto kamera menghadap NW di LP 91 (Penulis,
2014)
74

Gambar 4.16. Kenampakan drag fold lensa kamera menghadap barat, LP 87 (Penulis,
2014)

Gambar 4.17. Lapisan yang mengalami pembalikan, ditandai dengan struktur flute cast
yang berada di permukaan, LP 74 (Penulis, 2014)

IV.2.3 Struktur lipatan

Lipatan adalah merupakan hasil perubahan bentuk dari suatu bahan yang

ditunjukan sebagai lengkungan atau kumpulan dari lengkungan atau kumpulan

dari lengkungan yang ditunjukannya pada unsur


unsur garis atau bidang didalam bahan
75

tersebut, pada umumnya unsur yang terlibat pada lipatan adalah bidang perlipatan,

foliasi dan liniasi. Hansen (1971) vide Ragan (2009) mendefinisikan lipatan

sebagai hasil perubahan bentuk suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan

atau kumpulan lengkungan pada unsur garis atau bidang di dalam bahan tersebut.

Mekanisme gaya yang menyebabkan ada dua macam :

A. Buckling (melipat) disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar dengan

permukaan lempeng.

B. Bending (pelengkungan) disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak lurus

permukaan lempeng.

Berdasarkan proses lipatan dan jenis batuan yang terlipat dapat dibedakkan

menjadi 4 macam lipatan, yaitu :

1) Flexure / competent folding.

2) Flow / incompetent folding.

3) Shear folding.

4) Flexure and flow folding.

Jenis-jenis lipatan :

a) Antiklin, struktur lipatan dengan bentuk convek kanan yang tua

dibagian bawah.

b) Antiform, struktur lipatan seperti antiklin namun umurnya tidak

diketahui.

c) Sinklin, struktur lipatan dengan bentuk concav keatas yang tua

dibagian bawah.
76

d) Sinform, struktur lipatan sperti sinklin namun umur lapisan tidak

diketahui.

e) Dome, suatu jenis tertentu antiform dengan kemiringan batuan

kesegala arah.

f) Basin, jenis sinform dengan kemiringan ke satu titik.

g) Antiformal sinklin, struktur lipatan sperti antiklin dengan batuan tua

yang diatas.

h) Sinformal antiklin, struktur lipatan seperti sinklin dengan lapisan

batuan tua dibagian atas.

Layaknya tubuh manusia, lipatan juga memiliki anatomi. Anatomi ini

berfungsi untuk berbagai macam, salahsatunya adalah untuk menentukan nama

atau jenis lipatan yang terbentuk, sedagai bantuan untuk melakukan analisis

lipatan dan lain-lain. Berikut ini merupakan anatomi dari struktur lipatan tersebut.

Gambar 4.18. Anatomi lipatan (Fossen, 2010)

Daerah penelitian otabennya adalah daerah kompleks lipatan. Hal ini

ditunjukan dengan adanya lipatan-lipatan minor sampai parasitic fold. Selain

lipatan minor juga terdapat lipatan-lipatan mayor diantaranya adalah sinklin

Bercak, sinklin Kentengsari, sinklin dan antiklin Karang. (Gambar 4.19). Lipatan-

lipatan tersebut mempunyai pola umum membujur dengan arah sumbu lipatan
77

timur-barat.
barat. Beberapa dari lipatan-lipatan
lipatan lipatan tersebut sudah mengalami sesar naik

akibat sudah terlampauinya batas elastisitas batuan tersebut.

Gambar 4.19. Lipatan-lipatan


Lipatan lipatan utama pada daerah penelitian (Penulis, 2014)

Gambar 4.20. Kenampakan struktur antiklin minor (lipatan ini merupakan lipatan
seretan dari sesar naik wonosegoro) LP 75 lensa kamera menghadap
timurlaut (Penulis, 2014)
78

Gambar 4.21. Kenampakan struktur antiklin minor LP 116 (Penulis, 2014)

Dari hasil yang di dapatkan di lapangan dan di lakukan analisis lipatan

menggunakan strereonet dengan software dips berikut merupakan hasil

analisisnya,
nya, mengenai penamaan lipatan mengacu pada klasifikasi lipatan

berdasarkan dip dari hinge surface dan plunge dari hinge line (Fluety, 1964).

Tabel 4.1. Tabel klasifikasi lipatan (Fluety, 1964 vide Ragan, 2009)
79

Gambar 4.22. Hasil analisis sinklin Bercak. (Penulis, 2014)

Gambar 4.23. Hasil analisis sinklin Kentengsari. (Penulis, 2014)

Gambar 4.24. Hasil analisis sinklin Karang. (Penulis, 2014)


80

Gambar 4.25. Hasil analisis antiklin Karang. (Penulis, 2014)

IV.3. Mekanisme dan Genesa Struktur Geologi di Daerah Penelitian

Mengacu dari data kesebandingan dengan struktur geologi regional daerah

Salatiga maka didapatkan bahwa struktur geologi pada daerah penelitan terjadi

pada akhir Pliosen (Plio-Plistosen).


(Plio Plistosen). Gaya yang bekerja pada daerah penelitian

secara umum berarah utara-selatan.


utara Hal ini di dasarkan dari hasil analisis kekar,

beberapa sesar dan lipatan yang dijumpai di daerah penelitian.

Gaya yang bekerja pada daerah penelitian menghasilkan


menghasilkan beberapa lipatan.

Lipatan yang terdapat pada daerah penelitian berupa antiklin dan sinklin yang

memiliki arah relatif timur-barat.


timur barat. Gaya kompresi yang bekerja pada daerah

penelitian semakin besar sehingga mengakibatkan lipatan-lipatan


lipatan lipatan yang ada

mengalami kelanjutan menjadi beberapa sesar naik. Terdapat dua sesar naik pada

daerah penelitian adalah sesar naik Wonosegoro dan sesar naik Ngerngkesan.

Sesar-sesar
sesar naik yang muncul akibat gaya kompresi pada daerah penelitian
81

menghasilkan lipatan-lipatan penyerta, lipatan berupa antiklin dan sinklin yang

tidak menerus.

Lipatan lipatan penyerta hanya terjadi secara setempat, hal ini disebabkan

oleh terputusnya pola-pola hubungan litologi akibat berkembangnya sesar-sesar

mendatar pada daerah penelitian. Lipatan penyerta memiliki arah kelurusan yang

relative masih sejajar dengan pola sesar naik yang berarah tenggara-baratlaut.

Gaya kompresi yang bekerja pada daerah penelitian masih terus

berlangsung sehingga menghasilkan sesar mendat mendatar kiri Panimbo. Sesar

ini memotong lipatan-lipatan dan sesar naik yang sudah terbentuk sebelumnya.

Kemudian disusul oleh beberapa sesar mendatar kanan pada daerah penelitian

yang kembali memotong sesar naik dan lipatan-lipatan yang sudah terbentuk

sebelumnya. Salein itu juga ikut memotong sesar mendatar kiri yang lebih dulu

terbentuk.
BAB V
SEJARAH GEOLOGI

Ditinjau dari data regional perkembangan sejarah geologi pada daerah

penelitian dimulai pada Oligosen Akhir sampai sampai Pliosen. Proses

pengendapan pada daerah penelitian di mulai pada kala Miosen tengah. Material

sedimen yang terendapkan merupakan material sedimen asal darat. Material

sedimen tertransport ke dalam cekungan pengendapan yang berupa laut.

Pengendapan yang pertamakali terjadi adalah satuan batupasir karbonat.

Pengendapan yang terjadi melalui mekanisme arus turbid.

Seiring berjalanya proses pengendapan ini juga terjadi aktivitas gunung

api yang menghasilkan material piroklastik yang berupa abu jatuhan. Bersamaan

itu juga terjadi penurunan muka air laut yang diiringi dengan pengendapan

material piroklastik tersebut menjadi satuan batupasir tufan pada kala Miosen

akhir. Kemudian terjadi kenaikan muka air laut relatif dan mulainya pengendapan

satuan napal yang bersamaan itu juga masih terjadi pengendapan satuan batpasir

tufan namun proses pengendapan satuan batupasir karbonat sudah terhenti.

Pada fase selanjutnya terjadi penurunan muka air laut yang

menyebabkan terjadinya pengendapan batugamping pada kala Pliosen akhir.

Namun bersamaan dengan pengendapan satuan batugamping, satuan napal juga

masih terus terbentuk sehingga batugamping terbentuk menjari dengan satuan

napal (Gambar 5.1).

82
83

Gambar 5.1. Kronologi terbentuknya satuan batuan pada daerah penelitian, tanpa skala
(Penulis, 2014)

Setelah satuan-satuan
satuan batuan tersebut terbentuk mulailah ada gaya yang

bekerja mempengaruhi litologi tersebut pada kala plio-plistosen. Gaya yang

bekerja adalah gaya kompresi berarah utara selatan. Gaya ini dihasilkan oleh

adanya kontak subduksi antara lempeng Eruasia (utara) dengan lempeng

Indoaustralia (selatan). Hal ini menyebabkan terbentuknya lipatan-lipatan


lipatan lipatan yang

memiliki sumbu relative timur-barat.


timur

Gaya kompresi yang terus bekerja ini menyebabkan patahnya lipatan


lipatan-lipatan

ini menjadi sesar naik. Terdapat satu sesar naik (sesar naik Nrengkesan
Nrengk n dan sesar

naik Wonosegoro)) yang membentang dari barat-timur


barat timur di daerah penelitian.

(Gambar 5.2).
). Sementara itu proses-prose
proses degradasi
egradasi pada daerah penelitian terus

berlangsung. Hal ini lebih dipermudah karena litologi penyusunnya relatif berbutir

halus yang notabenenya kurang resisten terhadap pelapukan.


84

Gambar 5.2. Kronologi awal terbentuknya struktur geologi pada daerah penelitian, tanpa
skala (Penulis, 2014)

Gaya kompresi masih terus bekerja pada daerah penelitian Hal ini

menyebabkan terbentuknya sesar-sesar


sesar sesar mendatar yang memotong lipatan dan

sesar naik yang telah terbentuk sebelumnya. Sesar mendatar yang terbentuk

memiliki
liki arah Timur Laut-Barat
Laut Daya dan Barat Laut-Tenggara.
Tenggara. Proses ini juga

diikuti dengan proses degradasi yang terus bekerja membentuk reliefnya (Gambar

5.3).

Gambar 5.3. Kondisi geologi terkini daerah penelitian, tanpa skala (Penulis, 2014)

Pada kala pleistosen kembali terjadi peningkatan aktivitas gunung api

disekitar lokasi penelitian. Hal ini diindikasikan dari ditemukannya litologi berupa
85

breksi andesit yang menumpang secara tidak selaras di atas litologi batupasir

karbonat. Jenis ketidak selarasan dari kontak tersebut adalah angular

unconformity. Setelah itu proses degradasi atau proses aksogen semakin intensif

yang mengakibatkan lapuknya satuan batuan yang ada dan tererosi kemudian

terendapkan pada daerah-daerah yang memiliki morfologi rendah membentuk

endapan alluvial. Endapan alluvial ini sekarang dimanfaatkan oleh warga sebagai

pemukiman dan pertanian.


BAB VI
GEOLOGI LINGKUNGAN

Secara harfiah geologi lingkungan adalah interaksi antara manusia dengan

lingkungan geologis. Lingkungan geologis terdiri dari unsur-unsur fisik bumi dan

unsur permukaan bumi, bentang alam dan proses-proses yang mempengaruhinya.

Bagi kehidupan manusia, lingkungan geologis tidak hanya memberikan unsur-

unsur yang menguntungkan/bermanfaat seperti ketersediaan air bersih, mineral

ekonomis, bahan bangunan, bahan bakar dan lain-lain, tetapi juga memiliki

potensi bagi terjadinya bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api dan

banjir. Selain itu geologi lingkungan juga merupakan salah satu cabang ilmu

geologi yang mempelajari tentang interaksi antara manusia dengan alam

lingkungannya, serta pelestarian dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Interaksi

tersebut meliputi pemanfaatan dan pengembangan sumber daya alam, dampak

yang ditimbulkan oleh adanya kegiatan pemanfaatan dan pengembangan sumber

daya alam tersebut, serta adaptasi terhadap bencana alam.

VI.1. Sesumber

Pada dasarnya sesumber adalah segala sesuatu yang terdapat di alam yang

dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya,

termasuk yang telah digunakan pada masa kini maupun untuk masa yang akan

datang. Dalam bahasa lain sesumber diartikan sebagai sumberdaya alam, secara

khusus dalam bab ini yang dimaksudkan adalah sumberdaya geologi. Dalam

pembahasan geologi lingkungan sesumber geologi yang ada di daerah penelitian

berupa sumber daya air, lahan dan lain-lain.

86
87

V.1.1. Air

Air sebagai salahsatu sumber kebutuha primer dari kehidupan manusia.

Sumber air
ir dapat berasal dari berbagai sumber salah satunya adalah sungai dan

sumur. Baerah penelitian dibelah oleh sebuah sungai besar (Kali Tuntang) yang

secara umum mengalir dari utara keselatan. Sungai ini bersifat permanen atau

berair sepanjang tahun, namun anak-anak


a anak sungai dari sungai tersebut lebih

bersifat intermiten atau sungai yang dialiri air hanya pada musim hujan saja,

bahkan terdapat beberapa sungai yang merupaan sungai evemeral atau sungai

yang dialiri air hanya pada saat hujan saja.

Air dari sungai ini tidak dimanfaatkan oleh warga sebagai air minum

dikarenakan kandungan kapurnya yang cukup tinggi, hal ini dipengaruhi oleh

komposisi kimia lotologinya. Warga sekitar memanfaatkan air di sungai sebagai

pengairan sawah dan perkebunan warga selain itu juga


juga untuk sector pertenakan.

Gambar 6.1. Air sungai sebagai sumber daya air pada Kali Tuntang. Foto diambil dari
LP 98, di desa Rekesan. Kamera menghadap timur (Penulis, 2014)
88

Untuk mengatasi kekeringan pada musim kemarau, warga di

daerah penelitian membuat tempat penampungan air sebagai cadangan disaat

musim kemarau terjadi. Namun tidak semua desa memiliki sarana seperti ini,

hanya desa-desa
desa yang jauh dari sungai utama yang membuat tempat penampungan

air seperti ini ( Gambar 6.2).

Gambar 6.2. Tempat


at penempungan air (Embong) yang dibuat oleh warga (Penulis, 2014)

V.1.2. Bahan galian

Bahan galian yang terdapat di daerah penelitian adalah bahangalian non

logam berupa pasir dan batu. Bahan galian ini dimanfaatkan oleh warga sebagai

bahan bangunan, terutama untuk bangunan rumah dan campuran bahan material

pembuatan jalan beton.

Bahan galian
lian terdiri dari pasir, kerikil, kerakal dan berangkal yang

merupakan endapan sungai yang berada di pointbar maupun chanelbar sungai,

yaitu material lepas hasil rombakan batuan yang lebih tua maupun material lepas

lainnya yang terbawa oleh sungai. Material


Material ini kemudian dikimpulkan oleh warga

untuk nantinya diolah menjadi split maupun langsung dijual berupa brangkal.
89

Gambar 6.3. Boulder dan brangkal yang dikumpulkan warga dari sungai sebagai bahan
bagunan (Penulis, 2014)

V.1.3. Lahan

Endapan alluvial juga merupakan aspek penting sebagai sumberdaya alam

atau khususnya sebagai semberdaya geologi. Endapan alluvial pada daerah

penelitian dimanfaatkan oleh warga sebagai lahan pertanian (sawah) maupun

perkebunan (Jagung, kacang hijau, kedelai dan lain-lain).


lain Selain
in sebagai lahan

pertanian maupun perkebunan, di daerah yang cukup strategis juga dimanfaatkan

oleh warga sebagai lahan pemukiman.


pemukiman

Gambar 6.4.. Potensi tanah dan lahan sebagai lahan pertanian. Foto diambil dari LP 88,
foto mengarah ke timur. (Penulis, 2014)
90

V.1.4. Minyakbumi

Minyakbumi merupakan sumberdaya geologi yang bersifat

strategis, karena merupakan bahan bakar utama yang digunakan manusia pada

masa sekarang. Daerah penelitian merupakan reservoir yang cukup baik bbagi

minyakbumi dikarenakan porositas sekunder yang cukup baik akibat adanya

struktur geologi yang bekerja cukup signifikan untuk membuat rekahan


rekahan-rekahan

pada batuan. Minyakbumi pada lokasi penelitian diketahui dari adanya rembesan

yang berlokasi di Desa Re


Repaking tepatnya pada LP 83. Terdapat rembesan

minyakbumi yang memiliki debit yang cukup besar sudah coba dimanfaatkan oleh

salah satu warga (Bapak Muhtadi) sebagai bahan bakar. Pengolahan minyakbumi

masih dilakukan secara tradisional dan hasilnya baru dapat


dapat digunakan sendiri.

Gambar 6.5. Rembesan minyak bumi pada Desa Repaking yang sudah dimanfaatkan
oleh warga. Foto diambil dari LP 83 (Penulis, 2014)

VI.2. Bencana Alam

Bencana alam adalah suatu proses yang dapat menimbulkan kerugian bagi

makhluk hidup. Disebut bencana adalah karena adanya aktivitas geologi yang
91

memberi dampak negatif bagi kehidupan manusia, baik langsung maupun tidak

langsung. Bencana alam atau secara khususnya adalah bencana geologi adalah

suatu gejala yang berhubungan dengan proses geologi


geologi yang menimbulkan

kerugian secara materi bahkan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa


jiwa.

Dari hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan beberapa potensi

bencana geologi. Daerah penelitian diantaranya memiliki potensi bencana geologi

berupa banjir, longsor dan kekeringan. Bencana banjir dikarenakan oleh litologi

penyusun daerah tersebut yang merupakan perselingan lempung dan pasir. Hal ini

menyebabkan air pada tubuh sungai yang memenuhi tubuh sungai pada saat hujan

tidak dapat terinfiltrasi dengan cepat


cepat sehingga terjadi limpahan ke daerah

sekitaran sungai.

Gambar 6.6. Banjir pada lahan perkebunan warga yang teramati pada musim
kemarau. Foto diambil dari LP 213 (Penulis, 2014)

Bencana longsor tidak begitu signifikan pada daerah penelitian. Bencan


Bencana

longsor atau gerakan masa tidak begitu dominan di daerah penelitian dikarenakan

oleh morfofologi daerah penelitian. Morfologi daerah penelitian yang


92

bergelombang lemah sampai sedang, sehingga factor kemiringan lereng tidak

begitu dominan pengaruhnya. Sehingga


Sehingga bencana longsor ini hanya berpengaruh

pada daerah yang memiliki kontak langsung dengan tebing sungai dan sebagian

besar yang terkena dampaknya adalah lahan perkebunan. Hal ini dikarenakan sifat

erosi sungai yang cenderung lateral sesuai dengan stadia daerah yang masuk

kategori dewasa dan stadia sungai sudah mengarah ke stadia dewasa sampai tua.

Namun terdapat beberapa tempat yang berpengaruh langsung pada pemukiman

namun sudah di luar lokasi penelitian.

Gambar 6.7 Gerakan masa akibat proses erosi lateral pada tebing sungai (Penulis, 2014)

Bencana geologi lainnya adalah bencana kekeringan. Bencana ini

merupakan bencana yang disebabkan oleh faktor alami, tanpa adanya campur

tangan manusia. Ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya bencana kekeringan

pada daerah penelitian yaitu daerah penelitian dipengaruhi oleh keadaan dan

pergantian musim.; ketinggian didaerah penelitian belum mencukupi untuk

terbentuknya kondisi dimana awan mengalami titik jenuh dan kondensasi


93

sepanjang musim dan susunan litologi dari


dari penyusun daerah penelitian yang

didominasi oleh materian berbutir halus, sehingga proses ilfiltrasi yang kurang

baik yang memnyebabkan kurangnya jumlah air tanah pada akifer.

Sealin itu bencana alam yang lain adalah bencana kekeringan saat

dimusim kemarau
rau sebagian sungai-sungai
sungai sungai pada daerah penelitian mengalami

kekeringan (Gambar 6.9). Hal ini mengakibatkan warga mengalami kesulitan air

bagi warga yang mengandalkan air dari sungai sebagai sumber air utama,

terutama bagi perkebunan maupun peternakan.

Gambar
mbar 6.8. Sungai yang mengalami kekeringan pada musim kemarau, Dusun Traban.
Lensa kamera menghadap barat (Penulis, 2014)
BAB VII
ANALISIS POROSITAS BATUPASIR FORMASI KEREK SEBAGAI
RESERVOIR MINYAKBUMI, DAERAH REPAKING,
KECAMATAN WONOSEGORO, KABUPATEN GROBOGAN,
PROPINSI JAWA TENGAH

Eksplorasi adalah kegiatan penting dalam perkembangan industri energi

termasuk di dalamnya adalah minyakbumi. Hal ini sangat menentukan

keberhasilan dalam produksi sebagai tahap selanjutnya. Termasuk di dalam tahap

eksplorasi adalah melakukan analisis dari setiap aspek dalam petroleum system

salah satunya adalah analisis porositas dari batuan yang dianggap sebagai

reservoir minyakbumi. Pada bab ini akan dijabarkan melalui subbad dan

bagiannya mengenai analisis porositas yang dilakukan dalam penelitian ini.

VII.1 Dasar Teori

Pada subbab ini akan dijelaskan dasar teori yang digunakan dalam

melakukan analisis porositas. Termasuk metode apa saja yang telah ada dan mana

metode yang digunakan dalam melakukan analisis porositas pada penelitian ini.

VII.1.1. Pengertian reservoir minyakbumi

Terdapat beberapa syarat terakumulasinya minyak dan gas bumi yang

diantaranya adalah; Adanya batuan Induk (Source Rock) Merupakan batuan

sedimen yang mengandung bahan organik seperti sisa-sisa hewan dan tumbuhan

yang elah mengalami proses pematangan dengan waktu yang sangat lama

sehingga menghasilkan minyak dan gas bumi. Adanya batuan waduk (Reservoir

Rock) Merupakan batuan sedimen yang mempunyai pori, sehingga minyak dan

gas bumi yang dihasilkan batuan induk dapat masuk dan terakumulasi. Adanya

struktur batuan perangkap Merupakan batuan yang berfungsi sebagai penghalang

94
95

bermigrasinya minyak dan gas bumi lebih jauh. Adanya batuan penutup (Cap

Rock) Merupakan batuan sedimen yang tidak dapat dilalui oleh cairan

(impermeable), sehingga minyak dan gas bumi terjebak dalam batuan tersebut.

Adanya jalur migrasi Merupakan jalan minyak dan gas bumi dari batuan induk

sampai terakumulasi pada perangkap.

Reservoir adalah bagian kerak bumi yang mengandung minyak dan gas

bumi. Sedangkan batuan reservoir adalah wadah dibawah permukaan yang

mengandung minyak dan gas bumi (Koesoemadinata, 1980). Secara teoritis

semua batuan, baik batuan beku maupun batuan metaforf dapat bertindak sebagai

batuan reservoir, tetapi pada kenyataan 99 % batuan sedimen.

Jenis dari batuan reservoir ini akan berpengaruh terhadap besarnya

porositas dan permeabilitas. Porositas merupakan perbandingan volume pori-pori

terhadap volume batuan keseluruhan, sedangkan permeabilitas merupakan

kemampuan dari medium berpori untuk mengalirkan fluida dan sebagai fungsi

dari pada ukuran butiran, bentuk butiran serta distribusi butiran.

Batuan yang menjadi reservoir minyak bumi memiliki beberapa kriteria

atau karakteristik tertentu. Pada umumnya batuan reservoir merupakan batuan

sedimen. Tidak menutup kemungkinan pada batuan beku dan batuan metamorf

asalkan sifat fisik dari reservoir tersebut terpenuhi. Salah satu sifat fisik dari

batuan reservoir adalah memiliki porositas dan permeabilitas. Penelitian ini

khusus membahas mengenai porositas batuan resorfoir, tepatnya adalah porositas

primer dari batuan reservoir. Porositas primer adalah porositas yang terbentuk

bersamaan dengan terbentuknya batuan reservoir tersebut.


96

Kualitas reservoir, kualitas formasi merupakan perpaduan antara sistem

batuan dan sistem fluida di dalam pori yang tidak terpisahkan, ini mencakup

geometri, penyebaran sifat fisika-kimia daninteraksi antar keduanya.

VII.1.2. Pengertian porositas

Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu batuan reservoir adalah harus

mempunyai kemampuan untuk menampung dan mengalirkan fluida yang

terkandung di dalamnya. Dan hal ini dinyatakan dalam bentuk permeabilitas

dan porositas. Porositas dan permeabilitas ini sangat erat hubungannya sehingga

dapat dikatakan bahwa permeabilitas adalah tidak mungkin tanpa porositas

walaupun sebaliknya belum tentu demikian, karena batuan yang bersifat porous

belum tentu mempunyai sifat kelulusan terhadap fluida yang melewatinya. Sifat-

sifat batuan yang lainnya adalah: wettabilitas, tekanan kapiler, saturasi dan

kompresibilitas batuan.

Porositas adalah perbandingan suatu rongga pori-pori terhadap volume

total seluruh batuan (Koesoemadinata, 1980). Perbandingan ini biasanya

dinyatakan dalam persen. Dikenal dua jenis porositas yaitu porositas absolut dan

porositas efektif. Porositas absolut adalah perbandingan suatu rongga pori-pori

terhadap volume total seluruh batuan. Sedangkan porositas efektif adalah

perbandingan suatu rongga pori-pori yang saling terhubung terhadap volume total

seluruh batuan. Dengan demikian porositas efektif biasanya lebih kecil daripada

rongga pori-pori total.

Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas

dapat juga diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :


97

A. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan

sedimen diendapkan.

B. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah

batuan sedimen terendapkan.

Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer

adalah batuan konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder

dapat diklasifikasikan menjadi 3 golongan , yaitu :

Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses

pelarutan batuan. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk

karena adanya kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban,

seperti : lipatan, sesar, atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau

ditentukan secara kuantitatif karena bentuknya tidak teratur. Dolomitisasi, dalam

proses ini batugamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi dolomite

(CaMg(CO3)2) atau menurut reaksi kimia :

2CaCO3+ MgCl3 CaMg(CO3)2+ CaCl2

Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas

yang lebih besar dari pada batugamping sendiri. Besar-kecilnya porositas

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: ukuran butir (semakin baik distribusinya,

semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan butir berbentuk kubus

mempunyai porositas lebih baik dibandingkan bentuk rhombohedral), kompaksi,

dan sementasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas antara lain :


98

a. Ukiran butir atau grain size, Semakin kecil ukuran butir maka rongga yang

terbentuk akan semakin kecil pula dan sebaliknya jika ukuran butir besar

maka rongga yang terbentuk juga semakin besar.

b. Bentuk butir atau sphericity, Batuan dengan bentuk butir jelek akan memiliki

porositas yang besar, sedangkan kalau bentuk butir baik maka akan memiliki

porositas yang kecil.

c. Susunan butir, Apabila ukuran butirnya sama maka susunan butir sama

dengan bentuk kubus dan mempunyai porositas yang lebih besar dibandingkan

dengan bentuk rhombohedral. Pemilahan Apabila butiran baik maka ada

keseragaman sehingga porositasnya akan baik pula. Pemilahan yang jelek

menyebabkan butiran yang berukuran kecil akan menempati rongga diantara

butiran yang lebih besar akibatnya porositasnya rendah.

d. Komposisi mineral, Apabila penyusun batuan terdiri dari mineral-mineral

yang mudah larut seperti golongan karbonat maka porositasnya akan baik

karena rongga-rongga akibat proses pelarutan dari batuan tersebut.

e. Sementasi, Material semen pada dasarnya akan mengurangi harga porositas.

Material yang dapat berwujud semen adalah silika, oksida besi dan mineral

lempung.

f. Kompaksi dan pemampatan, Adanya kompaksi dan pemampatan akan

mengurangi harga porositas. Apabila batuan terkubur semakin dalam maka

porositasnya akan semakin kecil yang diakibatkan karena adanya penambahan

beban.
99

Cara untuk menghitung persentase porositas batuan dapat dilakukan

dengan rumus berikut ini;

Rumus porositas absolut = 100% (1)

Rumus porositas efektif = x 100% (2)

Tabel 7.1 Klasifikasi porositas (Koesoemadinata, 1980)


05% Dapat diabaikan
5 10 % Buruk
10 15 % Cukup
15 20% Baik
20 25 % Sangat baik
>25% Istimewa

Porositas batupasir dihasilkan dari proses-proses geologi yang

berpengaruh terhadap proses sedimentasi. Proses-proses ini dapat dibagi

menjadi 2 kelompok, yaitu proses pada saat pengendapan dan proses setelah

pengendapan. Kontrol pada saat pengendapan menyangkut tekstur batupasir

(ukuran butir dan sortasi). Proses setelah pengendapan yang berpengaruh

terhadap porositas diakibatkan oleh pengaruh fisika dan kimia, yang

merupakan fungsi dari temperatur, tekanan efektif dan waktu. Ada dua jenis

porositas yaitu porositas primer dan porositas sekunder. Porositas primer

merupakan porositas yang terjadi bersamaan batuan menjadi sedimen,

sedangkan porositas sekunder merupakan porositas yang terjadi sesudah

batuan menjadi sedimen salah satunya akibat pengaruh struktur geologi.


100

VII.1.3. Metode analisis porositas

Terdapat berbagai macam cara untuk dapat mengetahui porositas dari

batuan. Dikenal ada tujuh metode uji porositas, yaitu:

A. Penjumlahan uida; pori-pori batu inti yang masih segar diisi dengan gas, air,

kadang-kadang minyak. Kandungan gas ditentukan dengan injeksi air raksa

(merkuri) atau air ke dalam contoh batu inti yang segar. Kandungan air dan

minyak ditentukan dengan cara distilasi dari contoh batu inti tersebut. Volume

pori ditentukan dari jumlah kandungan uida.

B. Hukum Boyle; penentuan volume butiran, volume butiran contoh yang

diekstraksi dan dikeringkan ditentukan dengan penerapan hukum Boyle atas

data tekanan yang diukur dengan menekan gas ke dalam suatu sel yang ada

contoh batu intinya, seperti terlihat pada butiran ditentukan dengan

mengurangi volume butiran dari volume seluruh materi.

C. Metode Washburn-Bunting; gas dari pori-pori contoh yang diekstraksi dan

dikeringkan, diekstraksi melalui penyedot. Gas yang berada di dalam pipet,

yang sudah dikalibrasi volumenya, diukur pada tekanan atmosr. Ini

dilakukan beberapa kali untuk mengeluarkan semua gas yang berada di dalam

contoh. Jumlah seluruh volume gas yang dikeluarkan adalah volume pori

contoh.

D. Saturasi kembali; volume pori dari contoh yang diekstraksi dan dikeringkan

ditentukan secara gravimetri, mensaturasi kembali dengan cairan, apakah

larutan garam, atau hidrokarbon yang telah diketahui densitasnya. Contoh


101

diambil dahulu sebelum ditenggelamkan ke dalam cairan jenuh. Diperlukan

tekanan tinggi untuk menjenuhkan cairan ke dalam contoh.

E. Metode Russel; densitas butiran, contoh kering ditimbang. Ukuran butiran

contoh diperkecil dengan menggerusnya. Berat butiran ditimbang dan volume

butiran diukur dengan pendesakan cairan atau alat hukum Boyle. Densitas

butiran digunakan dengan menimbang berat kering contoh untuk menentukan

volume butiran contoh. Volume pori contoh diperoleh dari perbedaan volume

materi dan volume butiran. Teknik ini dianggap cara terbaik untuk

menentukan porositas total.

F. Pengukuran porositas menggunakan helium porosimeter. Untuk mengukur

porositas menggunakan gas helium karena gas helium tidak bereaksi dengan

batuan, dapat masuk ke pori-pori yang kecil dan memenuhi hukum gas ideal

(karena molekulnya yang kecil). Sedangkan alat untuk mengukur porositas

adalah helium porosimeter.

VII.2 Analisis Porositas Batupasir Karbonat Formasi Kerek Daerah


Repaking Sebagai Reservoir Minyakbumi

Pada subbab ini akan dibahas mengenai analisis porositas batupasir pada

daerah penelitian dan metode apa yang digunakan dalam melakukan analisis

porositas batupasir tersebut. Termasuk di dalamnya yang akan dijabarkan dibawah

ini adalah lokasi pengambilan dan jenus sampel yang digunakan, metode yang

digunakan serta hasil dari analisis porositas batupasir dengan kaitannya terhadap

reservoir minyakbumi pada daerah penelitian.


102

VII.2.1. Lokasi pengambilan sampel dan jenis sampel yang digunakan

Sampel yang digunakan dalam proses analisis porositas ini diambil pada

LP 83 daerah Repaking Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Grobogan, Propinsi

Jawa Tengah. Sampel diambil pada lokasi rembesan minyakbumi dan beberapa

lokasi lain (LP 113 dan LP 108) yangg masih termasuk ke dalam formasi kerek

khususnya satuan batupasir karbonat. Sampel yang digunakan merupakan sampel

permukaan. Sampel permukaan adalah sampel yang tersingkap dilapangan dan

dianggap memenuhi syarat, diantaranya insitu dan masih fres. Sampel diambil

pada tiga jenis ukuran butir yang da pada batupasir karbonat di daerah penelitian.

Ukuran butir sampel adalah pasir halus ((LP


(( 108) mud suported),
), pasir kasar ((LP

83) (Gambar 7.1) dan pasir sedang(LP


sedang( 113).

Gambar 7.1. Lokasi Pengambilan sample dan lokasi rembesan minyak bumi pada
LP 83, Dusun Repacking (Penulis, 2014)
103

VII.2.2. Metode yang digunakan

Analisis porositas batupasir pada daerah penelitian dilakukan dengan dua

cara, hal ini dikarenakan terdapat dua aspek yang harus di tentukan nilainya dalam

melakukan analisis porositas yaitu porositas absolut dan porositas efektif. Tahap

pertama adalah melekukan analisis porositas absolut. Tahap ini dilakukan di

laboratorium Geologi Teknik IST AKPRIND Yogyakarta.

Menghitung porositas absolut dilakukan dengan dengan metode sederhana

yaitu dengan cara penjumlahan uida; pori-pori batu inti yang masih segar diisi

dengan air. Kandungan air ditentukan dengan injeksi air ke dalam contoh batu

yang segar. Hal ini dilakukan untuk mengisi semua rongga pada batuan contoh.

Setelah semua terisi dengan direndam selama lebih dari 24 jam maka contoh

batuan dimasukkan kedalam gelas ukur untuk di hitung volumenya atau volume

bulk dari contoh tersebut. Kemudian setelah diketahui volumenya contoh batuan

dioven selama 24 jam dengan suhu 90oC. Hal ini bertujuan untuk mengosongkan

rongga batuan yang telah terisi air tadi. Setelah kering, contoh batuan kembali di

ukur atau dimasukkan kedalam gelas ukur dengan jumlah air yang sama dengan

pengukuran volume bulk. Volume pori ditentukan dari jumlah kandungan uida

atau air yang masuk kedalam batuan tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam

rumus (1).

Tahap berikutnya adalah analisis porositas efektif dari contoh batuan yang

diambil. Analisis porositas efektif dilakukan di laboratorium LEMIGAS Jakarta.

Hal ini dikarenakan alat yang mendukung analisis porositas efektif baru ada di
104

beberapa instansi termasuk di LEMIGAS. Terdapat beberapa tahap dalam

melakukan analisis porositas efektif yang akan dijelaskan dibawah ini.

A. Plugging

Plugging adalah proses pemotongan sample menjadi lebih kecil sekitar

1 1.5 inchi dimana pada awalnya merupakan whole core. Pemotongan

tersebut menggunakan mesin bor dengan bit diamond boart (Gambar 7.2).

Langkah-langkah pembuatan plug:

a. Setelah whole core melalui tahap spectral gamma ray dan CT-Scan dan

telah diketahui letak/posisi plug maka proses selanjutnya adalah plugging.

b. Core sample dikeluarkan daricore barrel kemudian dibersihkan dari mud

(lumpur) yang menempel pada batuan/core sample.

c. Menentukan posisi plug yang akan di bor pada whole coredisetiap

kedalaman tertentu oleh seorang geologis dengan melihat data dari spectral

gamma ray.

d. Melakukan pemboran denganbit diamond boart untuk menghasilkan suatu

plug.

Pada proses pembuatan plug atau plugging terdapat empat media yang

digunakan untuk melakukan pemotongan, yaitu:

a. Liquid Nitrogenmerupakan media pemotong yang digunakan untuk core

yang mudah pecah (unconsolidated), dengan komposisi semen yang tidak

banyak atau kurangnya penyemenan. Liquid nitrogen dapat berfungsi

hingga suhu -32C dan bisa menjaga core agar tidak mudah pecah.
105

b. Air merupakan media pemotong yang digunakan untuk core yang tidak

mudah pecah yang memiliki litologi deeper limestone (sedikit mengandung

clay).

c. Minyak (kerosene) merupakan media pemotong yang digunakan untuk core

yang memiliki litologi yang banyak mengandung clay atau untuk jenis

batuan shale karena pada batuan shale banyak mengandung mineral yang

menyulitkan bit untuk mengambil sempel dan menyebabkan swelling

(pengembangan).

d. Udara merupakan media pemotong yang jarang digunakan biasanya

digunakan untuk media batuan yang mengandung clay dimana terasa keras

namun apabila terkena air akan pecah.

7. Bit Diamond Boart Dengan Media Air


Gambar 7.2.
106

7. Core hasil pluging (Penulis, 2014)


Gambar 7.3.

B. Cleaning/Pencucian
/Pencucian

Cleaning atau pencucian merupakan proses setelah dilakukannya

plugging.. Fungsi dari pencucian adalah untuk membersihkan kotoran


kotoran-kotoran

pori-pori sample agar diperoleh hasil pengukuran porositas


yang menempati pori

() dan permeabilitas (k) yang objektif atau akurat. Dimana plug tersebut akan

dibersihkan terlebih dahulu dari fluida hidrokarbon dan air formasi yang

mengandung garam sebelum dilakukan tahap berikutnya. Plug dicuci dengan

mempergunakan soxhlet extraction (Gambar 7.4).. Pada soxhlet extraction

terdapat tiga media untuk melakukan pencucian. Media tersebut adalah

toluene, methanol dan clorofom. Toluene digunakan untuk

memebersihkan/menghilangkan plug dari kandungan hirokarbon (air, minyak

dan gas).

Methanol digunakan sebagai pencuci plug dari air formasi atau filtrate

lumpur yang ada, selain itu methanol juga berfungsi untuk menghilangkan

kadar garam yang terdapat pada plug.. Sedangkan media pencuci terakhir,
107

yaitu clorofom untuk saat ini jarang digunakan karena molekulnya lebih kecil.

Prinsip kerja dari soxhlet extraction:

a. Periksa dahulu toluene yang berada didalam labu kaca. Toluene harus

masih cukup bersih dan banyak dimana warna awal toluene bening.

b. Melepaskan soxhlet extraction yang akan dipakai dari rangkaian dengan

mencabut rangkaian gelas pendingin yang ada diatasnya ke arah atas dan

letakkan hati-hati.

c. Memasukkan contoh batuan kedalam soxhlet sesuai dengan kapasitasnya.

d. Memasang rangkaian kembali ketempatnya.

e. Menghubungkan alat dengan arus listrik sebesar 220 volt.

f. Mengalirkan air yang diperlukan untuk poses pendinginan dan pastikan air

mengalir.

g. Menyalakan pemanas dan atur temperatur agar toluene cepat mendidih

(skala 1-6).Toluene dipanaskan hingga 90F sampai menguap (berubah

menjadi gas, uap kemudian naik ke atas melalui core, dikondensasikan

(didinginkan) oleh air sehingga menjadi cair kembali. Kemudian toluene

kembali turun kebawah bersama minyak yang ada.

h. Mengamati warna toluene yang tersublimasi jika warna toluene sudah tidak

bening atau kehitaman maka ganti dengan toluene yang baru dan apabila

sudah tidak kotor dan tetap berwarna bening maka batuan sudah bersih dari

hidrokarbon.

i. Mematikan alat dengan memutar tombol ke arah kiri (Off).

j. Mematikan aliran listrik.


108

Gambar 7.4. Lab-Line-Multi-Unit


Lab Unit Extraction Heater (Soxhlet Extraction)

C. Drying/Pengeringan
/Pengeringan

Pengeringan dimaksudkan untuk mengeringkan sample core yang baru

selesai dicuci dengan toluene, agar toluene tersebut dapat habis bersih

menguap sehingga tidak mempengaruhi dalam pengukuruan porositas () dan

permeabilitas (k) proses pengeringan dilakukan selama 2 - 3 hari. Pada proses

pengeringan terdapat dua jenis oven, yaitu oven biasa dan oven humidity

(Gambar 7.5).. Oven biasa digunakan untuk semua batuan kecuali clay, karena

clay dipanaskan pada oven humidity dimana pada oven humidity terdapat

kelembaban yang membuat clay tidak mudah pecah atau rusak biasanya untuk

oven humidity akan di set pada suhu 600C dengan kelembaban sebesar 60%.

7. (1) Oven Humidity, (2) oven biasa.


Gambar 7.5.
109

D. Pengukuran Porositas Menggunakan Helium Porosimeter

Untuk mengukur porositas menggunakan gas helium karena gas

helium tidak bereaksi dengan batuan, dapat masuk ke pori-pori


pori pori yang kecil dan

memenuhi hukum gas id


ideal
eal (karena molekulnya yang kecil). Sedangkan alat

untuk mengukur porositas adalah helium porosimeter (Gambar 7.6)..

Gambar 7.6. Helium gas porosimeter

Prinsip kerja helium porosimeter:

Mengukur berat (gr), panjang (cm) dan diameter (cm) dari setiap

sample core (plug).

Setelah mengukur berat, panjang, diameter data tersebut dimasukkan

kedalam software yang sambungkan dengan alat.

Setelah data dimasukkan ke software kemudian menginjeksikan gas

helium ke dalam batuan dengan tekanan 100 psi dan akan terb
terbaca nilai

tekanan yang tersisa, misalnya tekanan yang tersisa sebesar 50 psi

maka tekanan yang masuk kedalam batuan sebesar 50 psi dan


110

diperoleh nilai grain density, porosity, volume pori yang berhubungan

dan bulk volume. Kemudian dimasukan kedalam rumus dibawah ini.

Porositas (%) = x 100%

VII.2.3. Hasil analisis porositas Batupasir Karbonat Formasi Kerek


Daerah Repaking Sebagai Reservoir Minyakbumi

Setelah semua sampel dilakukan analisis maka di dapatkan dua hasil

analisis porositas, yaitu porositas absolut dan porositas efektif dengan hasil

sebagai berikut.

Tabel 7.2. Hasil pengukuran porositas absolut


Volume Porositas
ID Sampel Volume Bulk (cc)
pori-pori (cc) Absolute (%)
LP 108 250 50 20
LP 113 250 85 34
LP 83 250 65 26

Tabel 7.3. Hasil pengukuran porositas efektif


Volume
ID Length Diameter Volume Porositas
pori-pori
Sampel (cm) (cm) Bulk (cc) efektif (%)
(cc)
LP 108 4,825 2,502 23,71 4,9497 22,59
LP 113 3,75 2,470 17,95 5,327 27,56
LP 83 4,615 2,502 22,68 5,3561 23,44

Tabel 7.4. Hasil pengukuran permeabilitas


ID Diameter Length Orifice Water Mercury KA
Sampel (cm) (cm) (o) (w) (c) (Daecy
LP 108 23,71 4.825 0.948 15 4 0,18
LP 113 17,95 3.375 6.702 7,157 60 13
LP 83 22,68 4.615 0.948 10,651 60 3,35
111

Berdasarkan hasil tersebut maka porositas absolut dan efektif batupasir

karbonat formasi kerek masuk dalam kategori sangat baik sampai istimewa

(Koesoemadinata, 1980). Hal ini merupakan indikasi bahwa satuan batuan batupasir

karbonat cukup baik sebagai reservoir minyak bumi hal ini masih di dukung dengan

korelasinya terhadap permeabilitas batupasir karbonatnya (Gambar 7.7).

Chart korelasi porositas dan


permeabilitas
Porositas efektif Permeabilitas Porositas absolute

34
22.59 27.56
20 23.44 26
13
0.18
3.35

Lp 108
Lp 113
Lp 83

Gambar 7.7. Chart korelasi porositas dan permeabilitas (Penulis, 2014)

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil uji porositas adalah bahwa satuan

batupasir formasi kerek atau satuan batupasir karbonat merupakan reservoir yang

baik atau memiliki potensi untuk menjadi reservoir minyakbumi yang baik. Hal

ini didukung juga oleh hasil analisis permeabilitas satuan batuan ini.

Dalam petroleum sistem setidaknya dibutuhkan adanya perangkap,

reservoir, batuan induk, batuan penutup dan jalur migrasi yang dapat diketahui

untuk mengungkap
p sumberdaya minyakbumi disuatu daerah. Interpertasi yang
112

dapat penulis lakukan adalah bahwasanya batupasir karbonat merupakan reservoir

minyakbumi.

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, tipe perangkap yang

terbentuk merupakan perangkap kombinasi antara struktur dan perangkap

stratigrafi. Perangkap struktur berupa antiklin-antiklin yang tersesarkan yang ada

pada daerah penelitian, sedangkan perangkap stratigrafi adalah dari adanya satuan

batuan napal yang menumpang dan selaras baik di atas satuan batupasir karbonat.

Jalur migrasi merupakan sesar-sesar yang sangat kompleks pada daerah

penelitian, yang mengalirkan hidrokarbon dari batuan induk ke reservoir. Batuan

induk pada daerah penelitian belum diketahui, kemungkinan berada dibawah

satuan batuan batupasir karbonat.


BAB VIII
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian di lapangan serta analisis

laboratorium, maka dapat disimpulkan mengenai kondisi geologi daerah

penelitian. Geomorfologi daerah penelitian terdiri atas 4 subsatuan geomorfik,

yaitu: subsatuan geomorfik dataran alluvial (F1), subsatuan geomorfik tubuh

sungai (F2), subsatuan geomorfologi kompleks lipatan terdenudasi (S21) dan

subsatuan geomorfologi perbukitan denudasional (D1). Stadia sungai utama di

daerah penelitian adalah berstadia dewasa dengan stadia daerah dewasa sampai

tua. Pola aliran daerah penelitian yaitu trellis dan dendritik.

Satuan batuan daerah penelitian dibagi menjadi 5 satuan batuan dan

endapan aluvial, dari yang tua sampai yang muda berdasarkan umur fosil yang

terdapat dalam batuan: satuan batupasir karbonat, satuan batupasir tufan, satuan

napal, satuan batugamping, dan satuan breksi andesit.

Struktur geologi daerah penelitian melingkupi struktur kekar, sesar (sesar

naik dan mendatar) dan lipatan (sinklin dan antiklin) yang dikontrol oleh gaya

kompresi berasal dari arah utara dan selatan diakibatkan dari lempeng Indo-

australia dan lempeng Eruasia.

Bencana alam di daerah penelitian adalah kekeringan, gerakan tanah

berupa slide dan debris serta bencana banjir. Potensi geologi melingkupi bahan

galian golongan nonlogam berupa sirtu, lahan kebun, permukiman serta

sumberdaya energy berupa minyakbumi.

113
114

Satuan batupasir karbonat pada Formasi Kerek dari hasil uji porositas

adalah bahwa satuan batupasir Formasi Kerek atau satuan batupasir karbonat

merupakan reservoir yang baik atau memiliki potensi untuk menjadi reservoir

minyakbumi yang baik. Hal ini didukung juga oleh hasil analisis permeabilitas

satuan batuan ini.

Mengingat penelitian ini hanya menggunakan data permukaan maka

kesimpulan yang didapatkan juga masih mengacu hanya terbatas pada data

surveiawal meskipun didukung dengan pemetaan detil. Saran yang dapat peneliti

berikan adalah untuk mengetahui seberapa besar potensi dari reservoir ini

dibutuhkan data yang lebih kuat yaitu data bawah permukaan. Data bawah

permukaan dapat diambil dengan melakukan survey geofisika maupun

pengeboran sehingga data yang di dapatkan lebih akurat.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011, Tatanan Tektonik Pulau Jawa, Diunduh 9 Agustus 2014 dari
http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/tatanan-tektonik-pulau-jawa.html

Bandy, O.I., 1967, Foraminiferal Indices in Paleontology, Texas W. H.


Freemanand Company.
Blow, W. H., 1969, Late Middle Eocene to Recent Planktonic Foraminifera
Biostratigraphy, Leideen Nederland, E. J, Vol 1, Geneva
Boggs, S., 20006, Principles of Sedimentary and Stratigraphy, 4th Ed, Prentice
Hall, New Jersey
De Genevraye , P., Samuel, Luki, 1972, Geology of the Kendeng Zone (Central
and East Java), Indonesian Petroleum Association
Fossen, H., 2010, Structural geology, Cambridge University Press, New York

Harsono, P., 1983. Stratigrafi daerah Mandala Rembang dan sekitarnya, Jakarta
Howard, A.D., 1967, Drainage Analysis in Geologic Interpretation, AAPG
Bulletn, vol.51.

Koesoemadinata, R.P., 1930, Geologi Minyak Dan Gasbumi Edisi Kedua Jilid I,
ITB, Bandung

Koesoemadinata, R.P., 1980, Geologi Minyak Dan Gasbumi Edisi Kedua Jilid 2,
ITB, Bandung

Krumbein, W.C., and Sloss, L.L., 1963, Stratigrafi and Sedimentation, Chapter 4,
2nd Ed, W.H. Freeman and co., San Fransisco and London
Lobeck, A.K., 1939, Geomorphology, An Introduction to the Study of Landscape,
Mcgraw-Hill Book Company Inc., New York
Marks, P., 1961, Stratigrafi Lexcion of Indonesia, RI Kementerian Perekonomian
Pusat Djawatan Geologi Bandung, Publikasi Keilmuan, No. 31, seri
Geologi
Shanmugam, G., 1997, The Bouma Sequence and the turbidite mind set, Eatrh-
Science Reviews 42, p 201-299, Elsevier
Stow, A.D.V., 2012, Sedimentary Rock in the Field, A Color Guide, 6th Edition,
Academic Press, London
Sukardi, dan T. Budhitrisna, 1992, Peta Geologi Lembar Salatiga skala 1 :
100.000, Puasat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung

Van Bemmelen, R. W., 1949, The Geology of Indonesia, Vol IA, Govement
Printing Office, The Haque Martinus Nijhroff

Walker, R., 1984, Facies Model, 2nd Editoin, Mc Master University, Ontario,
Canada
LAMPIRAN
Nomor sayatan : 2/A83 PEMERIAN PETROGRAFIS:

Perbesaran : 30 x Sayatan batuan sedimen, warna abu-abu kecoklatan-


kemerahan, tekstur klastik, semen karbonat, butiran
terdiri dari feldspar, kuarsa, lithik, siderite, glaukonit,
fosil dan mineral opak, ukuran butir 0,05-0,25mm,
bentuk butir menyudut tanggung-membulat tanggung.
Kuarsa
KOMPOSISI MINERAL:
Feldspar (35%), putih, relief rendah, berukuran
Feldspar 0,1 0,25mm, bentuk menyudut
tanggung, berupa mineral plagioklas.
Kwarsa (3%), tidak berwarna, relief rendah,
berukuran 0,10,25mm hadir merata
Lithik dalam sayatan.
Siaderit (15%), coklat kekuningan, bias rangkap
kuat, belah an satu arah (parallel),
ukuran 0,05-0,25 mm.
Glaukonit (5%), hijau kekuningan, bias rangkap
kuat, belah an satu arah (parallel),
ukuran 0,05-0,25 mm.
Lithic (5%), abu-abu, kecoklatan, berupa
pecahan batuan beku (andesit) dan
batuan sedimen dengan ukuran butir
0,10,5 mm, bentuk menyudut
Nikol bersilang
tanggung.
Fosil (15%), tidak berwarna (sudah
terekristalisasi) kecoklatan, relief
sedang, bias rangkap ekstrim,
berukuran 0,10,5mm, berupa foram
planktonik dan bentonik, hadir tidak
merata dalam sayatan.
Mineral opak (2%), hitam, relief sedang,
Opak ukuran 0,02-0,1 mm.
Semen karbonat (20%), tidak berwarna, relief
Fosil bervariasi, berukuran kurang dari
0,02mm, warna interferensi sangat
tinggi ekstrim, hadir merata dalam
sayatan.
Siderit
Penamaan Petrografis:

Calcareous Feldsphatic Arenite (Klasifikasi


Pettijohn, 1972 (modifikasi))

Calcareous Feldsphatic Arenite (Klasifikasi


Gilbert 1954 (modifikasi))
Nikol sejajar Calcareous Feldsphatic Arenite (Klasifikasi
0 0,5 mm Dott 1964 vide Gilbert, 1982
(modifikasi))
Nomor sayatan : 3/A45
Perbesaran : 30 x
PEMERIAN PETROGRAFIS:

Sayatan tipis batuan sedimen, coklat muda, tekstur


klastik, dengan komposisi didominasi mineral
berukuran lempung (<0,01mm) dengan butiran
berupa fosil, glaukonit dan mineral opak, dengan
ukuran butir 0,05-0,3mm, bentuk butir menyudut
tanggung-membulat tanggung, butiran
mengambang dalam matrik lempung dan lumpur
karbonat.

KOMPOSISI MINERAL:
Fosil (15%), berupa Foraminifera
plankton dan bentos, ukuran 0,05-
Fosil 0,3mm, kondisi cangkang sebagian
besar dalam keadaan utuh, hadir
merata dalam sayatan.
Glaukonit Glaukonit (3%), hijau kekuningan, bias
rangkap kuat, belahan satu arah
(parallel), ukuran 0,05-0,15 mm.
Mineral opak (2%), hitam, isotrop, relief tinggi,
ukuran 0,05-0,3 mm, bentuk
membulat-membulat tanggung.
Nikol bersilang Min Lempung (40%), kecoklatan-hijau, relief
bervariasi, berukuran sangat halus,
warna interferensi abu-abu gelap
orde I, hadir merata dalam sayatan.
Lumpur Karbonat (40%), coklat kekuningan,
bias rangkap kuat (ekstrim)

Penamaan Petrografis:

Marl (Klasifikasi Gilbert, 1954)


Lempung
Opak
+
Lumpur
Karbonat

Nikol sejajar

0 0,5 mm
Nomor sayatan : 4/A179 PEMERIAN PETROGRAFIS:
Perbesaran : 30 x Sayatan tipis batuan sedimen/vulkaniklastik,
berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik,
komposisi didominasi oleh lithic (pecahan
batuan), sedikit butiran feldspar, kuarsa,
piroksen dan mineral opak dengan butiran
Feldspar
berukuran 0,0510,5mm, bentuk menyudut
tanggung.
Lithik
KOMPOSISI MINERAL:
Lithic (65%), abu-abu, kecoklatan,
Lithik berupa pecahan batuan beku
(didominasi batuan beku andesit
dan basalt) dan piroklastik
Piroksen (pumice) dengan ukuran butir 0,5
10,5 mm, bentuk menyudut
tanggung.
Feldspar (10%), putih, relief rendah, indeks
bias n>nKb, berukuran 0,1
0,25mm, bentuk menyudut
tanggung, berupa plagioklas.
Kwarsa (1%), tidak berwarna-kuning orde
Nikol bersilang I, relief relief rendah, berukuran
0,020,05mm, sudut pemadaman
bergelombang.
Piroksen (2%), hijau muda pucat, abu-abu
pucat, relief sedang, pleokroisme
lemah-tidak ada, bentuk subhedral
- anhedral, ukuran 0,05-0,15 mm.
Min opak (2%), hitam , kedap cahaya, relief
sangat tinggi, berukuran 0,05
Lithik 0,2mm, bentuk menyudut
opak tanggung.
Ash (20%), tidak berwarna,
Ash
pengamatan dengan menggunakan
nikol silang menjadi gelap,
sebagian besar telah terubah
menjadi mineral lempung.

Penamaan Petrografis :

Chiefly Volcanic Arenite (Klasifikasi Gilbert


1954)
Nikol sejajar Tufaceous Lithik Arenite (Klasifikasi Dott
1964 Vide Gilbert, 1982 (modifikasi))
0 0,5 mm
Tufaceous Lithic Arenite (Klasifikasi
Pettijohn, 1972 (modifikasi)).
Nomor sayatan : 5/A 83
Perbesaran : 30 x
PEMERIAN PETROGRAFIS:

Sayatan tipis batuan sedimen, coklat muda, tekstur


klastik, komposisi didominasi mineral berukuran
lempung (<0,01mm) dengan butiran berupa
kuarsa feldspar, fosil, dan mineral opak, dengan ukuran
Feldspar
butir 0,05-0,1mm, bentuk butir menyudut
tanggung-membulat tanggung, butiran
mengambang dalam matrik lempung dan lumpur
karbonat.

KOMPOSISI MINERAL:
Fosil (15%), berupa Foraminifera
plankton dan bentos, ukuran 0,05-
Fosil 0,1mm, kondisi cangkang sebagian
besar dalam keadaan utuh, hadir
tidak merata dalam sayatan. (genus
orbulina, globigerina dan
globorotalia).
Kwarsa (2%), tidak berwarna, relief rendah,
berukuran 0,10,15mm hadir
merata dalam sayatan
Feldspar (5%), putih, relief rendah, berukuran
Nikol bersilang 0,050,15mm, bentuk menyudut
tanggung, berupa plagioklas .
Mineral opak (3%), hitam, isotrop, relief tinggi,
ukuran 0,05-0,06 mm, bentuk
Opak membulat-membulat tanggung.
Min Lempung (55%), kecoklatan-hijau, relief
bervariasi, berukuran sangat halus,
warna interferensi abu-abu gelap
orde I, hadir merata dalam sayatan.
Lumpur Karbonat (20%), coklat kekuningan,
Lempung bias rangkap kuat (ekstrim)
Lumpur
Penamaan Petrografis:
ka
rb Calcareous Claystone (Klasifikasi Gilbert,
o 1954)

Calcareous Sandy mudstone (Klasifikasi Dott


vide Gilbert, 1982)

Calcareous Claystone (Klasifikasi Petijohn,


1972)

Nikol sejajar

0 0,5 mm
Nomor sayatan : 6/A.24 PEMERIAN PETROGRAFIS:
Perbesaran : 30 x
Sayatan tipis batugamping klastik, berwarna
putih kecoklatan-coklat, klastik, mud
suppoted, dengan sedikit detritus siderite dan
Sparit mineral opak, berukuran 0,050,5mm.
Sebagian besar rongga porositas (inter dan
intrapartikel) terisi oleh sparit.

KOMPONEN PENYUSUN:

Fosil (60%), tidak berwarna (sudah


terekristalisasi) kecoklatan,
relief sedang, bentuk sebagian
besar dalam kondisi utuh,
berukuran 0,10,5mm, bias
Mikrit rangkap ekstrim, berupa
campuran foram plankton dan
bentos, foram besar serta
ganggang, hadir merata dalam
sayatan.
Siaderit (4%), coklat kekuningan, bias
rangkap kuat, belah an satu arah
Nikol bersilang
(parallel), ukuran 0,05-0,25 mm.
Mineral opak (1%), hitam, isotrop, relief
tinggi, ukuran 0,05-0,08mm.
Mikrit (15%), tidak berwarna, relief
bervariasi, berukuran kurang
Opak dari 0,02mm, warna interferensi
sangat tinggi ekstrim, hadir
merata dalam sayatan.
Fosil Sparit (20%), tidak berwarna, relief
sedang, berukuran 0,020,3mm,
Siderit bias rangkap ekstrim, hadir
merata dalam sayatan.

Penamaan Petrografis :

Mixed Fossil lime Packstone (Klasifikasi


Dunham, 1962)

Biosparite (Klasifikasi R.L. Folk, 1962)

Nikol sejajar

0 0,5 mm
Nomor sayatan : 7/A83 PEMERIAN PETROGRAFIS:
Perbesaran : 30 x
Sayatan tipis batuan sedimen, coklat muda,
tekstur klastik, komposisi didominasi mineral
berukuran lempung (<0,01mm) dengan butiran
berupa feldspar, kuarsa dan mineral opak,
dengan ukuran butir 0,05-0,1mm, bentuk butir
menyudut tanggung-membulat tanggung,
butiran mengambang dalam matrik lempung.
kuarsa
KOMPOSISI MINERAL:
Feldspar (5%), putih, relief rendah,
berukuran 0,050,15mm,
bentuk menyudut tanggung,
Feldspar berupa plagioklas .
Kwarsa (2%), tidak berwarna, relief
rendah, berukuran 0,10,15mm
hadir merata dalam sayatan
Mineral opak (3%), hitam, isotrop, relief
tinggi, ukuran 0,05-0,06 mm,
bentuk membulat-membulat
tanggung.
Min Lempung (55%), kecoklatan-hijau, relief
bervariasi, berukuran sangat
halus, warna interferensi abu-
Nikol bersilang abu gelap orde I, hadir merata
dalam sayatan.

Penamaan Petrografis:

Claystone (Klasifikasi Gilbert, 1954)

Sandy mudstone (Klasifikasi Dott vide Gilbert,


1982)

Claystone (Klasifikasi Petijohn, 1972)


Lempung

Opak

Nikol sejajar

0 0,5 mm
Nomor sayatan : 8/A.45
Perbesaran : 30 x
PEMERIAN PETROGRAFIS:

Sayatan tipis batugamping klastik, berwarna


putih kecoklatan-coklat, klastik, mud
Sparit
suppoted, dengan sedikit detritus feldspar,
kuarsa, siderite dan mineral opak, berukuran
0,050,5mm.
Sebagian besar rongga porositas (inter dan
intrapartikel) terisi oleh sparit.

KOMPONEN PENYUSUN:
Kuarsa
Fosil (55%), tidak berwarna (sudah
Feldspar
terekristalisasi) kecoklatan,
relief sedang, bentuk sebagian
Mikrit besar dalam kondisi utuh,
berukuran 0,10,25mm, bias
rangkap ekstrim, berupa foram
plankton dan bentos, hadir
merata dalam sayatan.
Feldspar (5%), putih, relief rendah,
Nikol bersilang berukuran 0,050,15mm, bentuk
menyudut tanggung, berupa
plagioklas .
Kwarsa (3%), tidak berwarna, relief
rendah, berukuran 0,10,15mm
hadir merata dalam sayatan
Siderit
Siaderit (1%), coklat kekuningan, bias
rangkap kuat, belah an satu arah
Fosil
(parallel), ukuran 0,05-0,25 mm.
Mineral opak (1%), hitam, isotrop, relief
tinggi, ukuran 0,05-0,08mm.
Opak Mikrit (15%), tidak berwarna, relief
bervariasi, berukuran kurang
dari 0,02mm, warna interferensi
sangat tinggi ekstrim, hadir
merata dalam sayatan.
Sparit (20%), tidak berwarna, relief
sedang, berukuran 0,020,3mm,
bias rangkap ekstrim, hadir
merata dalam sayatan.

Penamaan Petrografis :
Nikol sejajar
Small Forams lime Packstone (Klasifikasi
0 0,5 mm Dunham, 1962)

Biosparite (Klasifikasi R.L. Folk, 1962)


Nomor sayatan : 9/A 109 PEMERIAN PETROGRAFIS:
Perbesaran : 30 x
Sayatan batuan beku volkanik, warna abu-abu
kehijauan, tekstur porfiritic (fenokris tertanam
dalam oleh masa dasar fine grain plagioklas,
piroksen, min opak dan gelas), bentuk subhedral-
anhedral, komposisi mineral tersusun oleh mineral
Plagioklas plagioklas, piroksen, mineral opak dan gelas.

KOMPOSISI MINERAL:
Plagioklas (60%), putih-abu-abu, indek bias
n>nkb, relief sedang, kembaran
karlsbad - Albit, sebagai fenokris
(25%) berukuran 0,5-1,5 mm,
bentuk subhedral-anhedral, An43
Piroksen (jenis andesin), sebagai massa dasar
(35%) berukuran 0,15-0,25mm,
An43 (jenis andesin), tersebar merata
dalam sayatan.
Piroksen (15%), hijau muda pucat, abu-abu
pucat, relief sedang, pleokroisme
lemah-tidak ada, bentuk subhedral -
anhedral, ukuran 0,05-1,3 mm.
Hadir sebagai klinopiroksen
(Augite) Sebagian besar mineral
telah mengalami ubahan menjadi
Nikol bersilang mineral chlorit.
Mineral opak (5%), hitam, isotrop relief tinggi,
Gelas ukuran butir 0,05-0,3mm. hadir
berupa mineral magnetite.
Gelas (20%) tidak bewarna, pengamatan
posisi nikol bersilang bewarna
gelap, dengan menggunakan
keping gips bewarna ungu muda
berkabut. Sebagian telah mengalami
ubahan menjadi lempung.

Penamaan Petrografis:

opak Pyroxene Andesite (klasifikasi


Williams, 1982)

Nikol sejajar

0 0,5 mm
Nomor sayatan : 10/A 109 PEMERIAN PETROGRAFIS:
Perbesaran : 30 x Sayatan tipis batuan sedimen/vulkaniklastik,
berwarna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik,
komposisi didominasi oleh lithic (pecahan batuan),
sedikit butiran feldspar, kuarsa, piroksen dan
mineral opak dengan butiran berukuran 0,05
Lithik 10,5mm, bentuk menyudut tanggung.
KOMPOSISI MINERAL:
Piroksen Lithik
Lithic (50%), abu-abu, kecoklatan, berupa
pecahan batuan beku (didominasi
batuan beku andesit dan basalt) dan
Feldspar piroklastik (pumice) dengan ukuran
butir 0,510,5 mm, bentuk menyudut
tanggung.
Feldspar (10%), putih, relief rendah, indeks
bias n>nKb, berukuran 0,10,25mm,
bentuk menyudut tanggung, berupa
plagioklas.
Kwarsa (1%), tidak berwarna-kuning orde I,
relief relief rendah, berukuran 0,02
0,05mm, sudut pemadaman
bergelombang.
Nikol bersilang Piroksen (1%), hijau muda pucat, abu-abu
pucat, relief sedang, pleokroisme
lemah-tidak ada, bentuk subhedral -
anhedral, ukuran 0,05-0,15 mm.
Min opak (3%), hitam , kedap cahaya, relief
sangat tinggi, berukuran 0,050,2mm,
bentuk menyudut tanggung.
opak Ash (20%), tidak berwarna, pengamatan
dengan menggunakan nikol silang
menjadi gelap, sebagian besar telah
Ash terubah menjadi mineral lempung.
Min Lempung (15%), kecoklatan-hijau, relief
bervariasi, berukuran sangat halus,
warna interferensi abu-abu gelap orde
I, hadir merata dalam sayatan.
Penamaan Petrografis:

Chiefly Volcanic Wacke (Klasifikasi Gilbert


1954)
Lithik Tufaceous Lithik Wacke (Klasifikasi Dott
1964 Vide Gilbert, 1982 (modifikasi))
Tufaceous Lithic Wacke (Klasifikasi
Pettijohn, 1972 (modifikasi)).
Nikol sejajar

0 0,5 mm