Anda di halaman 1dari 3

Olah Rasa

Kepedihan dan Kenikmatan


Nurcahyono (176020300111019)

Hidup adalah sebuah petualangan dalam mendapatkan ridho Allah SWT, sehingga
dalam menggapai ridho itu Allah mengujinya dengan sebuah kenikmatan dan juga kepedihan
hal ini sesuai dengan firman Allah Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan
mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji (QS. Al Angkabut 2-3).
Sehingga menurut saya di dunia ini tidak ada yang benar-benar kenikmatan atau benar
benar kepedihan yang ada hanyalah ujian untuk menaikkan kita menjadi orang yang bertaqwa.
Apakah dengan kenikmatan itu kita menjadi orang yang bersyukur ataukah akan menjadi orang
yang kufur Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih. (QS. Ibrahim 14: 7). Ketika kita menangapi kenikmatan dengan penuh kesyukuran
maka akan bertambah nikmat kita dan akan ditingkatkan derajat kita dihadapan Allah SWT.
Namun apabila dengan kenikmatan itu kita lupa atau kufur maka Allah akan mencabut
kenikmatan didunia dan akan memberikan balasan di akhirat. Ilustrasi sederhananya jika hari
ini Allah memberikan anggota tubuh kita lengkap dan tanpa cacat maka itu adalah sebuah
kenikmatann yang Allah berikan. Ketika kita menyikapinya dengan penuh kesadaran dan
kesyukuran maka kita gunakan fasilitas yang Allah berikan tersebut untuk melakukan sesuatu
yang baik, karena kesyukuran itu tidaklah sebatas kata Alhamdulillah namun harus dibarengi
dengan sebuah aksi yang nyata. Jika kita menyikapinya dengan kufur atas nikmat misalkan
kita melakukan sesuatu yang negatif dengan anggota tubuh kita maka gampang saja Allah
mengambil bagian dari tubuh kita, misalnya tangan, kaki atau mata melalui kecelakaan atau
yang lainnya.
Ujian yang diberikan Allah selain kenikmatan adalah kepedihan. Kepedihan adalah
suatu kondisi dimana terjadi sesuatu hal yang tidak bisa kita terima atau peristiwa yang
mengguncang hati dan persaan dan menghasilkan hati yang retak dan bahkan remuk. Apakah
dengan hal ini kita akan menyikapinya dengan sesuatu yang negatif misalnya menghujat
keadaan, menghujat orang atau menghujat objek lain. Apakah dengan kepedihan itu
menjadikan diri ini berintrospeksi atas tindakan yang dilakukan selama ini dan menjadikan
sabar dan sholat sebagai penolong, Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan
sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al
Baqarah 153).
Kenikmatan itu akan benar-benar menjadi nikmat ketika segala sesuatunya di syukuri,
dan kita harus menyadari bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada mahluknya itu sangatlah
luas dan banyak ketikan pohon dijadikan pena dan lautan dijadikan tintan maka tidaklah
cukup untuk menuliskan nikmat Allah namun manusia tidak menyadarinya hal ini tercermin
dari ayat Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan (QS. Ar Rahman) dan
ayat ini di ulangi 31 kali dalam alquran bukankan ini menandai banyaknya nikmat Allah yang
kita tidak sadari dan bahkan kita sadari namun kita mengjufurinya.
Kepedihan itu akan menjadi kenikmatan bila kita menyikapinya dengan penuh
pengharapan atas pertolongan Allah (dengan sabar dan sholat) namun juga akan benar-benar
menjadi suatu kepedihan jika kita menyikapinya dengan suatu prasangka, mendiskreditkan
suatu objek atau bahkan menghardik suatu ciptaan atau kondisi, maka ketika kita menyikapinya
dengan tindakan yang seperti itu akan bertambah susah keadaanya dan cenderung tidak akan
ditolong oleh Allah hal ini disebabkan hatinya dipenuhi dengan rasa marah, dendam, iri, kufur
dan yang lainnya.
Ingatlah apa yang terjadi di dunia ini adalah sesuatu yang sudah digariskan oleh Allah,
sehingga setiap kondisi yang kita hadapi adalah atas se-izinNYA dan tidak ada sesuatu yang
luput dari pengawasannya hal ini sesuai dengan firmannya dalam QS Al Anaam, 59 ..dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). Sehingga segala bentuk kenikmatan
dan kepedihan hanyalah sebagai suatu ujian, apakah dengan ujian itu akan meningkatkan
derajat kita menjadi orang yang bertaqwa, ataukan sebaliknya.
Allah berfirman dalam surah QS. Al Baqarah 2016 ..... boleh Jadi kamu membenci
sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal
ia Amat buruk bagimu..... surah ini menjadikan refleksi bagi diri kita, ketika Allah sedang
menguji kita dengan suatu kepedihan, mungkin itu lah yang terbaik menurut kacamata Allah,
dengan tujuan agar kita menjadi orang yang mampu berintropeksi atas tindakan dan prilaku
yang telah kita lakukan selama ini.
Kisah kepedihan yang pernah saya alami dan yang masih membekas didalam hati yaitu
peristiwa 15 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, yaitu peristiwa
pembantaian suku pendatang (selain suku Aceh dan Gayo) oleh GAM (Gerakan Aceh
Merdeka), orang tua saya adalah perantau yang berasal dari Jawa Tengah yang ingin
memperbaiki kondisi ekonominya di Aceh. Peristiwa yang memprihatinkan itu terjadi
bebarapa tahun, dan saya melihat secara langsung bagaimana orang dipenggal kepalanya, orang
di tembak, rumah-rumah dibakar harta benda di jarah. Namun hal itu tidaklan menjadikan
orang tua saya mengeluh ataupun patah semangat dengan keadaan itu, orang tua saya
menanamkan kepada saya bahwa hidup itu adalah perjuangan, maka berjuanglah, jika tidak
mau berjuang ya mati saja secara tidak langsung begitulah ucapan ayah saya yang masih
membekas dihati saya sehingga itu yang menjadikan spirit kami untuk bertahan di Aceh saat
itu, walaupun setiap malam harus tidur di kebun-kebun dibawah pepohonan, mendengarkan
kebisingan senjata api sudah biasa ditelinga kami. Itulah kisah kepedihan yang pernah saya
alami dan yang paling menyayat hati, namun saya diajarkan untuk menghadapi kepedihan itu
dengan tegar dan memasrahkan diri kepada Allah karena tidak ada tempat untuk berharap
kecuali kepadanya serta menatap tegak kedepan, bahwasanya pasti ada cahaya dibalik
kelamnya situasi saat ini Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS.
As Sharh: 5).
Berbeda ketika orang tua saya menyikapi hal itu dengan keluh kesah, menyalahkan
keadaan mungkin saja kami akan kembali ke tanah kelahiran (Jawa Tengah), sehingga mungkin
saja tidak dapat merasakan nikmat yang Allah berikan berupa kelapangan rizeki, lingkungan
alam yang sangat indah (negara diatas awan), masyarakat guyub.
Kenikmatan dan kepedihan adalah sesuatu yang fitrah dalam diri manusia, sehingga
yang perlu diperhatikan adalah cara menyikapinya. Ketika diberikan nikmat namun
menyikapinya dengan salah maka akan membawa petaka, namun jika nikmat tersebut
menjadikan kita semakin bersyukur maka akan mendapat hadiah Allah di dunia dan syurga
insyaAllah. Begitu juga sebaliknya ketika kita menyikapi kepedihan dengan sabar dan sholat
maka niscaya akan diangkat derajat kita, namun jika kepedihan itu tidak kita sikapi dengan hal
yang positif maka pintu dosa seakan terbuka lebar untuk kita.