Anda di halaman 1dari 2

DIABETES MELITUS TIPE II

No Dokumen
No. Kode
SPO No.Revisi
Tgl. MulaiBerlaku
Halaman
PUSKESMAS drg. Elfida Firi
KUTA MAKMUR
NIP. 197711102005042005
Pengertian Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolisme yang ditandai oleh tingginya kadar
plasma glukosa (hiperglikemia) yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, aksi
insulin atau keduanya
Tujuan Sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan medis pada pasien dengan diabetes
melitus
Kebijakan SK Kepala Puskesmas No. /2017 Tentang pelayanan 10 penyakit terbesar di puskesmas
kuta makmur
Referensi Buku pedoman pengobatan dasar di Puskesmas. 2007

Prosedur A. Anamnesa
Menanyakan keluhan seperti :
1. sering mengeluh lemah, kadang-kadang terasa kesemutan atau rasa baal serta gatal
yang kronik.
2. Penderita pada umumnya mengalami poliuria (banyak berkemih) polidipsia
(banyak minum) dan polifagia (banyak makan).
3. Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan.
4. Selain itu penderita akan merasa sangat haus, kehilangan energi, rasa lemas dan
cepat lelah.
5. Pada keadaan lanjut mungkin terjadi penurunan ketajaman penglihatan

B. Diagnosis
Diagnosis berdasarkan gejala diabetes dengan 3P (polifagia, poliuria, polidipsia).
Diagnosis dapat dipastikan dengan Penentuan Kadar Gula Darah.
1. Bila kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dl
2. Glukosa darah puasa 126 mg/dl
3. pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) didapatkan hasil pemeriksaan kadar
gula darah 2 jam 200 mg/dl sesudah pemberian glukosa 75 gram.

C. Penatalaksanaan
1. Tindakan umum yang dilakukan bagi penderita diabetes antara lain; diet dengan
pembatasan kalori, gerak badan bila terjadi resistensi insulin gerak badan secara
teratur dapat menguranginya, berhenti merokok karena nikotin dapat
mempengaruhi penyerapan glukosa oleh sel.
2. jika tindakan umum tidak efektif menurunkan glukosa darah pada penderita
diabetes Tipe-2 maka dapat diberikan antidiabetik oral :
Klorpropamid mulai dengan 0,1 gr/hari dalam sekali pemberian, maksimal 0,5
mg/hari
Glibenklamid mulai dengan 5 mg/hari dalam sekali pemberian, maksimal 10
mg/hari
Metformin mulai dengan 0,5 gr/hari dalam 2 3 kali pemberian, maksimal 2
g/hari. Obat ini harus dimulai dengan dosis terkecil. Setelah 2 minggu
pengobatan, dosis dapat ditingkatkan.
Unit terkait 1. Poli umum
2. Laboratorium
3. Ruang kartu

ASMA BRONKIAL
SPO No Dokumen
No. Kode
No.Revisi
Tgl. Mulai Berlaku

Halaman

PUSKESMAS drg. Elfida Firi


KUTA MAKMUR
NIP. 197711102005042005
Pengertian Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan dan
penyempitan yang bersifat sementara.
Tujuan

Kebijakan SK Kepala Puskesmas No. /2017 Tentang pelayanan 10 penyakit terbesar di puskesmas
kuta makmur
Referensi Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. 2007

Prosedur A. Anamnesa
Menanyakan keluhan seperti :
1. Sesak napas disertai suara mengi akibat kesulitan ekspirasi.
2. Sesaknafas di pagi hari dan sepanjang malam, sesudah latihan fisik (terutama saat
cuaca dingin), berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas, berhubungan dengan
paparan terhadap alergen seperti pollen dan bulu binatang.
3. Batuk yang panjang di pagi hari dan larut malam, berhubungan dengan faktor iritatif,
batuknya bisa kering, tapi sering terdapat mukus bening yang diekskresikan dari
saluran nafas.

B. Pemeriksaan Fisik
Auskultasi : wheezing dan ekspirasi memanjang

C. Diagnosis
Diagnosis asma dapat ditegakkan atas dasar anamnesis dan auskultasi.

D. Penatalaksanaan
1. Menghilangkan faktor pencetus.
2. Pada serangan ringan dapat diberikan suntikan adrenalin 1 : 1000 0,2 0,3 ml
subkutan yang dapat diulangi beberapa kali dengan interval 10 15 menit. Dosis
anak 0,01 mg/kgBB yang dapat diulang dengan memperhatikan tekanan darah, nadi
dan fungsi respirasi.
3. Bronkodilator terpilih adalah teofilin 100 150 mg 3 x sehari pada orang dewasa dan
10 15 mg / kgBB sehari untuk anak. -Pilihan lain : Salbutamol 2 4 mg 3 x sehari
untuk dewasa -Efedrin 10 15 mg 3 x sehari dapat dipakai untuk menambah khasiat
theofilin.
4. Prednison hanya dibutuhkan bila obat-obat diatas tidak menolong dan diberikan
beberapa hari saja untuk mencegah status asmatikus. Namun pemberiannya tidak
boleh terlambat.
5. Penderita status asmatikus memerlukan oksigen, terapi parenteral dan perawatan
intensif sehingga harus dirujuk.

Unit terkait 4. Poli umum


5. Ruang kartu