Anda di halaman 1dari 13

A.

Penyakit Demam Berdarah Dengue


Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang
berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan
wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya
menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada
tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang
(41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung
menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988
dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini erat
kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan semakin
lancarnya hubungan transpotasi.
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit
Demam Berdarah Dengue karena virus penyebab clan nyamuk penularnya tersebar luas
baik di rumah maupun tempat- tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari
1000 meter diatas permukaan laut. Pada saat ini seluruh propinsi di Indonesia sudah
terjangkit penyakit ini baik di kota maupun desa terutama yang padat penduduknya dan
arus transportasinya lancar. Menurut laporan Ditjen PPM clan PLP penyakit ini telah
tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Dari 300 kabupaten di 27 propinsi pada tahun 1989
(awal Pelita V ) tercatat angka kejadian sebesar 6,9 % dan pada akhir Pelita V meningkat
menjadi 9,2 %. Pada kurun waktu yang sama angka kematian tercatat sebesar 4,5 %.
Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan
vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue belum tersedia. Cara yang
tepat guna untuk menanggulangi penyakit ini secara tuntas adalah memberantas
vektor/nyamuk penular. Vektor Demam Berdarah Dengue mempunyai tempat
perkembangbiakan yakni di lingkungan tempat tinggal manusia terutama di dalam stan
diluar rumah. Nyamuk Aedes aegypti berkembangbiak di tempat penampungan air seperti
bak mandi, drum, tempayan dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang seperti
kaleng bekas, tempurung kelapa , dan lain-lain yang dibuang sembarangan.
Pemberantasan vektor Demam Berdarah Dengue dilaksanakan dengan memberantas
sarang nyamuk untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti. Mengingat nyamuk
Aedes aegypti tersebar luas diseluruh tanah air baik dirumah maupun tempat-tempat
umum, maka untuk memberantasnya diperlukan peran serta seluruh masyarakat.
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus akut yang
disebabkan oleh virus Dengue dan terutama menyerang anak- anak dengan ciri- ciri
1
demam tinggi mendadak dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan
shock dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
mungkin juga Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia kecuali ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Masa inkubasi
penyakit ini diperkirakan lebih kurang 7 hari.
Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat menyerang semua golongan umur.
Sampai saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue lebih banyak menyerang anak- anak
tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi
penderita Demam Berdarab Dengue pada orang dewasa.
Indonesia termasuk daerah endemik untuk penyakit Demam Berdarah
Dengue. Serangan wabah umumnya muncul sekali dalam 4 - 5 tahun. Faktor lingkungan
memainkan peranan bagi terjadinya wabah. Lingkungan dimana terdapat banyak air
tergenang dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang merupakan tempat ideal
bagi penyakit tersebut.

B. Konsep (MPBL) Manajemen Penyakit Berbasis Lingkungan


Kondisi patologis (kelainan fungsi atau morfologi) suatu organ tubuh yang
disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki
potensi penyakit. Penyakit yang memiliki akar atau hubungan yang erat dengan
lingkungan dan kependudukan.
1. Sumber Penyakit
Penyakit demam dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan kepada
manusia melalui perantara nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Tidak seperti
nyamuk-nyamuk yang pada umumnya mencari makan di malam hari, Aedes aegypti
dan Aedes albopictus umumnya menggigit di pagi hari sampai sore hari menjelang
petang.
Jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sering ditemukan
pada air selokan yang tidak mengalir, kolam, waduk, atau kamar mandi di rumah kita.
Itu artinya serangga ini menjadikan air yang tenang sebagai media untuk berkembang
biak. Wilayah yang memiliki tingkat sanitasi buruk, seperti di kota-kota berpenduduk
padat yang terletak di negara-negara berkembang (salah satunya Indonesia), adalah
wilayah yang sering dilanda permasalahan demam dengue. Selain populasi penduduk
yang terus bertambah, penyebaran virus dengue juga didukung oleh mobilitasnya
yang terus meningkat.
2
2. Faktor Risiko Lingkungan
Salah satu faktor risiko penularan DBD adalah pertumbuhan penduduk
perkotaan yang cepat, mobilisasi penduduk karena membaiknya sarana dan prasarana
transportasi dan terganggu atau melemahnya pengendalian populasi sehing- ga
memungkin terjadinya KLB. Faktor risiko lainnya adalah kemiskinan yang
mengakibatkan orang tidak mempunyai ke- mampuan untuk menyediakan rumah
yang layak dan sehat, pasokan air minum dan pembuangan sampah yang benar.
Tetapi di lain pihak, DBD juga bisa menyerang penduduk yang lebih makmur
terutama yang biasa bepergian. Dari penelitian di Pekanbaru Provinsi Riau, diketahui
faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD adalah pendidikan dan pekerjaan
masyara- kat, jarak antar rumah, keberadaan tempat penampungan air, keberadaan
tanaman hias dan pekarangan serta mobilisai penduduk; sedangkan tata letak rumah
dan keberadaan jentik tidak menjadi faktor risiko.
Faktor risiko yang menyebabkan mun culnya antibodi IgM anti dengue
yang merupakan reaksi infesksi primer, berdasar- kan hasil penelitian di wilayah
Amazon Brasil adalah jenis kelamin laki-laki, kem- iskinan, dan migrasi. Sedangkan
faktor risi- ko terjadinya infeksi sekunder yang me- nyebabkan DBD adalah jenis
kelamin laki- laki, riwayat pernah terkena DBD pada periode sebelumnya serta
migrasi ke daerah perkotaan.
3. Faktor Risiko Masyarakat
a. Kepadatan Hunian Rumah
Kepadatan penghuni adalah perbandingan jumlah penghuni dengan luas rumah
dimana berdasarkan standar kesehatan adalah 10 m2 per penghuni, semakin luas
lantai rumah maka semakin tinggi pula kelayakan hunian sebuah rumah.
Kepadatan penduduk yang tinggi dan jarak rumah yang sangat berdekatan
membuat penyebaran penyakit DBD lebih intensif di wilayah perkotaan dari pada
wilayah pedesaan karena jarak rumah yang berdekatan memudahkan nyamuk
menyebarkan virus dengue dari satu orang ke orang lain yang ada di sekitarnya.

3
b. Ventilasi Rumah
Pemakaian kawat kasa pada ventilasi rumah adalah salah satu upaya untuk
mencegah penyakit DBD. Pemakaian kawat kasa pada setiap lubang ventilasi
yang ada dalam rumah bertujuan agar nyamuk tidak masuk ke dalam rumah dan
menggigit manusia.
c. Kelembaban
Kelembaban merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat
kenyamanan penghuni suatu rumah. Kondisi kelembaban udarah dalam ruangan
dipengaruhi oleh musim, kondisi udara luar, kondisi ruangan yang kebanyakan
tertutup. Suatu daerah akan menjadi potensial untuk penularan DBD apabila
didukung oleh faktor lingkungan misalnya.
d. Suhu Udara
Keberhasilan perkembangan nyamuk aedes aegypti ditentukan oleh tempat
perindukan yang dibatasi oleh temperatur tiap tahunnya dan perubahan musimnya.
Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangbiakan jentik
nyamuk Aedes aegypti adalah suhu udara. Nyamuk aedes aegypti sangat rentan
terhadap suhu udara. Dalam waktu tiga hari telur nyamuk telah mengalami
embriosasi lengkap dengan temperatue udara 25-30C. Namun telur akan
mencoba menetas 7 hari pada air dengan suhu 16C. Telur nyamuk ini akan
berkembang pada air dengan suhu udara 20-30C.

4. Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue


Virus dengue sendiri terbagi menjadi empat strain atau tipe, yaitu DEN 1,
DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Ketika Anda terjangkit salah satu tipe virus dengue untuk
pertama kalinya dan berhasil pulih, maka tubuh Anda akan membentuk kekebalan
seumur hidup terhadap tipe virus tersebut. Namun Anda belum sepenuhnya aman dari
demam dengue karena masih berpotensi menderita penyakit ini kembali oleh tipe
virus yang berbeda.
a. Cara Penularan Virus Dengue
Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia dengan
manusia. Virus dengue sebagai penyebab munculnya gejala demam berdarah
hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Oleh karena itu, penyakit ini termasuk
kedalam kelompok arthropod borne diseases. Virus dengue berukuran 35-45 nm.
Virus ini dapat terus tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk.
4
Terdapat tiga faktor yang memegang peran pada penularan infeksi dengue,
yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue masuk ke dalam tubuh
nyamuk pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, kemudian
virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti
dan Aedes albopictus yang infeksius. Seseorang yang di dalam darahnya memiliki
virus dengue (infektif) merupakan sumber penular gejala demam berdarah. Virus
dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam (masa
inkubasi instrinsik). Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus
dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk. Selanjutnya
virus akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh nyamuk, dan
juga dalam kelenjar saliva. Kira-kira satu minggu setelah menghisap darah
penderita (masa inkubasi ekstrinsik), nyamuk tersebut siap untuk menularkan
kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang
hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah menghisap virus
dengue menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan virus dengue ini
terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit (menusuk), sebelum menghisap darah
akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (probosis), agar darah
yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan
dari nyamuk ke orang lain. Hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang dapat
menularkan virus dengue dan menyebabkan adanya gejala demam berdarah.
Nyamuk betina sangat menyukai darah manusia (anthropophilic) dari pada
darah binatang. Kebiasaan menghisap darah terutama pada pagi hari jam 08.00-
10.00 dan sore hari jam 16.00-18.00. Nyamuk betina mempunyai kebiasaan
menghisap darah berpindah-pindah berkali-kali dari satu individu ke individu lain
(multiple biter). Hal ini disebabkan karena pada siang hari manusia yang menjadi
sumber makanan darah utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak sehingga
nyamuk tidak bisa menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada satu
individu. Keadaan inilah yang menyebabkan penularan gejala demam berdarah
menjadi lebih mudah terjadi.
Penularan penyakit DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk
penularan virus dengue. Tempat-tempat potensial untuk terjadinya penularan
gejala demam berdarah adalah :
1) Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)

5
2) Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang
datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran
beberapa tipe virus dengue cukup besar.
3) Pemukiman baru di pinggiran kota Karena di lokasi ini, penduduk umumnya
berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat
penderita atau carier yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari
masing-masing lokasi awal
b. Gejala penyakit Demam Berdarah Dengue:
Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi
oleh salah satu dari empat jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus
dengue yang berbeda. Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah
infeksi pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang
lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh
sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang
sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang
terbentuk.
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor
pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan
Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan
menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah
menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa
inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat
mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya.
Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke
keturunannya melalui telur (transovarial). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula berperan
sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor nyamuk.
Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang
yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu,
risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, seseorang yang berusia
kurang dari 12 tahun, atau seseorang yang berasal dari ras Kaukasia.
1) Demam
Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus
berlangsung 2 - 7 hari, kenudiml turun secara cepat. Demam secara
6
mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia lemas,
nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.
2) Manipestasi Pendarahan.
Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah
demam. Sebab perdarahan adalah trombositopenia. Bentuk perdarahan dapat
berupa :
Ptechiae
Purpura
Echymosis
Perdarahan cunjunctiva
Perdarahan dari hidung (mimisan atau epestaxis)
Perdarahan gusi
Muntah darah (Hematenesis)
Buang air besar berdarah (melena)
Kencing berdarah (Hematuri)
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu
diperlukan toreniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar
penderita Demam Berdarah Dengue.
3) Pembesaran hati (Hepotonegali).
Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran hati
tidak sejajar dengan berapa penyakit Pembesan hati mungkin berkaitan dengan
strain serotype virus dengue.
4) Renjatan (ShocK).
Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai
sakit. Renjatan terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke daerah
ekstra vaskuler melalui kapilar yang rusak. Adapun tanda-tanda perdarahan:
Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.
Penderita menjadi gelisah.
Nadi cepat, lemah, kecil sampai tas teraba.
Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmhg atau kurang)
Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmhg atau
kurang). Renjatan yang terjadi pada saat demam, biasanya mempunyai
kemungkinan yang lebih buruk.
5) Gejala Klinis Lain.
7
GejaJa lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia, mual, muntah, lemah,
sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang.
c. Diagnosa Demam Berdarah Dengue.
Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan:
1) Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus
selama 2-7
2) Manitestasi Perdarahan
3) Tombositoperiia yaitu jumlah trombosit dibawah 150.000/mm3,
biasanya Ditemukan antara hari ke 3-7 sakit.
4) Mokonsentrasi yaitu meningkatnya hematokrit, merupakan indikator yang
peka Terhadap jadinya renjatan sehingga perlu dilaksanakan penekanan
berulang secara periodik. Kenaikan Ht 20% menunjang diagnosa klinis
Demam Berdarah Dengue. Mengingat derajat berat ringan penyakit
berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas (WHO 75).
Derajat I (ringan).
Demam mendadak 2 7 hari disertai gejala klinis lain, dengan
manifestasi perdarahan dengan uji truniquet positif
Derajat II (sedang).
Penderita dengan gejala sama, sedikit lebih berat karena ditemukan
perdarahan spontan kulit dan perdarahan lain.
Derajat III (berat).
Penderita dengan gejala shoch/kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat
dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmhg) atau hipotensi
disertai kulit dingin, lembab dan penderita menjadi gelisah.
Derajat IV (berat).
Penderita shocK berat dengan tensi yang tak dapat diukur dan nadi yang
tak dapat diraba.
C. Penerapan Konsep Manajemen Penyakit Berbasis Lingkungan
Penyakit berbasis lingkungan merupakan kondisi patologis yang mengakibatkan
terjadinya kelainan baik secara morfologi maupun fisiologi yang diakibatkan karena
interaksi antar manusia maupun interaksi dengan hal - hal yang berada di lingkungan
sekitar yang berpotensi menimbulkan penyakit.

8
Menurut Pedoman Arah Kebijakan Program Kesehatan Lingkungan Pada Tahun 2008
menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki penyakit menular yang berbasis lingkungan
yang masih menonjol seperti DBD, TB paru, malaria, diare, infeksi saluran pernafasan,
HIV/AIDS, Filariasis, Cacingan, Penyakit Kulit, Keracunan dan Keluhan akibat
Lingkungan Kerja yang buruk.
Mengacu pada model paradigma kesehatan dan lingkungan, maka manajemen
penyakit secara terpadu berbasis lingkungan dapat dilakukan pada sumbernya, media
transmisi, simpul pemajanan, maupun penyakit.
1. Simpul 1: Sumber Penyakit
Sumber penyakit adalah sesuatu yang secara konstan mengeluarkan agent penyakit.
Agent penyakit merupakan komponen lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan
penyakit baik melalui kontak secara langsung maupun melalui perantara.
Beberapa contoh agent penyakit:
Agent Biologis: Bakteri, Virus, Jamur, Protozoa, Amoeba, dll
Agent Kimia : Logam berat (Pb, Hg), air pollutants (Irritant: O3, N2O, SO2,
Asphyxiant: CH4, CO), Debu dan seratt (Asbestos, silicon), Pestisida, dll
Agent Fisika : Radiasi, Suhu, Kebisingan, Pencahayaan, dll
2. Simpul 2: Komponen Lingkungan Sebagai Media Transmisi,
Komponen lingkungan berperan dalam patogenesis penyakit, karna dapat
memindahkan agent penyakit. Komponen lingkungan yang lazim dikena sebagai
media transmisi adalah:
- Udara
- Air
- Makanan
- Binatang
- Manusia / secara langsung
3. Simpul 3: Pemajanan
Komponen penduduk yang berperan dalam patogenesis penyakit antara lain:
- Perilaku
- Status gizi
- Pengetahuan
- dll
4. Simpul 4: Penyakit

9
Seseorang dikatakan sakit DBD jika dengan diagnosa konfirmasi laboratorium
dipastikan dengan ditemukannya parasit DBD pada tubuh. Pemeriksaan mikroskopis
yang diulang setiap 12-24 jam mempunyai arti penting karena kepadatan Plasmodium
falciparum pada darah tepi yang tidak tentu dan sering parasit tidak ditemukan dengan
pemeriksaan sediaan darah tepi pada pasien yang baru terinfeksi DBF atau penderita
yang dalam pengobatan Demam Berdarah Dengue. Beberapa cara tes Demam
Berdarah Dengue sedang dalam uji coba. Tes dengan menggunakan dipstick
mempunyai harapan yang paling baik, tes ini mendeteksi antigen yang beredar
didalam darah. Walaupun sudah mendapat lisensi di beberapa negara di dunia akan
tetapi di Amerika lisensi baru diberikan pada tahun 1999. Diagnosis dengan
menggunakan metode PCR adalah yang paling sensitif, akan tetapi metode ini tidak
selalu tersedia di laboratorium diagnosa Demam Berdarah Dengue. Antibodi di dalam
darah yang diperiksa dengan tes IFA atau tes lainnya, dapat muncul pada minggu
pertama setelah terjadinya infeksi akan tetapi dapat bertahan lama sampai bertahun-
tahun tetap beredar didalam darah. Pemeriksaan ini berguna untuk membuktikan
riwayat infeksi Demam Berdarah Dengue yang dialami sebelumnya dan tidak untuk
mendiagnosa penyakit Demam Berdarah Dengue yang sedang berlangsung.

D. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue


1. Pencegahan
Demam berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk Demam
Berdarah (Aedes Aegypi) dengan cara melakukan PSN (Pembersihan Sarang Nyamuk)
Upaya ini merupakan cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan oleh
masyarakat, dengan cara sebagai berikut:
a. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (seperti : bak mandi / WC, drum, dan lain-
lain) sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas kembang, tempat
minum burung, perangkap semut dan lain-lain sekurang-kurangnya seminggu sekali
b. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tampayan, drum, dan lain-lain
agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di tempat itu
c. Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, ban
bekas, botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat menampung air hujan, agar tidak
menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Potongan bamboo, tempurung kelapa, dan
lain-lain agar dibakar bersama sampah lainnya
d. Tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar bambu dengan tanah atau adukan semen
10
e. Lipatlah pakaian/kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap
disitu
f. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk
ABATE ke dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.
Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali
2. Penanganan
Penanganan demam berdarah antara lain:
a. Selelu memonitori suhu penderita penyakit demam berdarah dengue setiap hari
dan harus selalu didampingi.
b. Bawa penderita penyakit demam berdarah bila demam berlangsung 3 hari.
c. Penanganan demam berdarah dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup
merupakan dua hal yang sangat penting pada pasien penderita penyakit ini.
d. Apabila penderita semakin lemas, muntah, sulit makan atau minum, maka
penderita perlu dilakukan pemberian cairan lewat infus oleh dokter.
e. Bila hasil tes laboratorium menunjukkan adanya tanda tanda penurunan trombosit
atau kenaikan hematokrit maka penderita harus dirawat dirumah sakit untuk
mendapat penanganan demam berdarah yang lebih lanjut.
f. Pasien harus selalu diawasi jangan sampai terjadi syok yang ditandai dengan rasa
lemas, ngantuk, dan pingsan, sementara kaki terasa dingin sekali.

E. Cara Penanggulangan Wabah Demam Berdarah Dengue


Penanggulangan penyakit DBD merupakan kunci keberhasilan upaya pemeberantasan
penyakit DBD. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat, maka upaya-
upaya advokasi dan berbagai penyuluhan dilaksanakan secara intensif dan
berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana.
Salah satu strategi ampuh untuk Penanggulangan wabah DBD yaitu pemberdayaan
masayarakat, maka dari itulah diperlukan adanya perencanaan bentuk kegiatan nyata yang
dilakukan oleh kelompok pemberdayaan masyarakat. Berikut merupakan pokok-pokok
kegiatan yang mestinya dilakukan dalam kelompok pemberdayaan masyarakat tersebut,
1. Melakukan tata laksana kasus, yang meliputi penemuan kasus, pengobatan penderita,
dan sistem pelaporan yang cepat dan terdokumentasi baik.
2. Melakukan penyelidikan epidemiologi, terutama terhadap daerah yang terdapat kasus
penderita DBD.

11
3. Melakukan penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat, melakukan pemantauan
jentik secara berkala, melakukan pemetaan penyebaran kasus, dan melakukan
pertemuan kelompok kerja DBD secara lintas sektor dan program.
4. Melakukan gerakan bulan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang dilaksanakan
sebelum bulan-bulan musim penularan penyakit DBD (data ini dapat kita peroleh dari
data tahun sebelumnya).
5. Dilakukannya kegiatan pelatihan seputar penyakit DBD, mulai dari gejala penyakit,
cara pengobatan, cara pencegahan penyakit DBD, dan lainnya.

12
Daftar Pustaka
Achmadi, Umar Fahmi. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah,
Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2008.
Anonim. 2009. Jenis dan patogenesis Mikroorganisme penyebab diare.
http://www.scribd.com. (diakses tangga18 desember 2014, Pkl. 11.30)
Pelczar Jr, Michael J. 1988. Dasar-dasar mikrobiologi jilid 2 terjemahan. Jakarta : Universitas
Indonesia.

13