Anda di halaman 1dari 12

Teori Perdagangan Internasional

Posted by Fajrina Nurcahyanti.

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL


I. TEORI KLASIK
Absolute Advantage dari Adam Smith
Teori Absolute Advantage lebih mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan moneter sehingga
sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti
bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti misalnya nilai suatu barang
diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin
banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value )
Teori absolute advantage Adam Smith yang sederhana menggunakan teori nilai tenaga kerja, Teori
nilai kerja ini bersifat sangat sederhana sebab menggunakan anggapan bahwa tenaga kerja itu
sifatnya homogeny serta merupakan satu-satunya factor produksi. Dalam kenyataannya tenaga kerja
itu tidak homogen, factor produksi tidak hanya satu dan mobilitas tenaga kerja tidak bebas. dapat
dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: Misalnya hanya ada 2 negara, Amerika dan Inggris
memiliki faktor produksi tenaga kerja yang homogen menghasilkan dua barang yakni gandum dan
pakaian. Untuk menghasilkan 1 unit gandum dan pakaian Amerika membutuhkan 8 unit tenaga kerja
dan 4 unit tenaga kerja. Di Inggris setiap unit gandum dan pakaian masing-masing membutuhkan
tenaga kerja sebanyak 10 unit dan 2 unit.
Banyaknya Tenaga Kerja yang Diperlukan untuk Menghasilkan per Unit
Produksi Amerika Inggris
Gandum 8 10
Pakaian 4 2
Dari tabel diatas nampak bahwa Amerika lebih efisien dalam memproduksi gandum sedang Inggris
dalam produksi pakaian. 1 unit gandum diperlukan 10 unit tenaga kerja di Inggris sedang di Amerika
hanya 8 unit. (10 > 8 ). 1 unit pakaian di Amerika memerlukan 4 unit tenaga kerja sedang di Inggris
hanya 2 unit. Keadaan demikian ini dapat dikatakan bahwa Amerika memiliki absolute advantage
pada produksi gandum dan Inggris memiliki absolute advantage pada produksi pakaian. Dikatakan
absolute advantage karena masing-masing negara dapat menghasilkan satu macam barang dengan
biaya yang secara absolut lebih rendah dari negara lain.
Kelebihan dari teori Absolute advantage yaitu terjadinya perdagangan bebas antara dua negara yang
saling memiliki keunggulan absolut yang berbeda, dimana terjadi interaksi ekspor dan impor hal ini
meningkatkan kemakmuran negara. Kelemahannya yaitu apabila hanya satu negara yang memiliki
keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak akan terjadi karena tidak ada keuntungan.
Comparative Advantage : JS Mill
Teori ini menyatakan bahwa suatu Negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu
barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki
comparative diadvantage(suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor
barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar )
Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang
dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Contoh :
Produksi 10 orang dalam 1 minggu
Produksi Amerika Inggris
Gandum 6 bakul 2 bakul
Pakaian 10 yard 6 yard
Menurut teori ini perdagangan antara Amerika dengan Inggris tidak akan timbul karena absolute
advantage untuk produksi gandum dan pakaian ada pada Amerika semua. Tetapi yang penting bukan
absolute advantagenya tetapi comparative Advantagenya.
Besarnya comparative advantage untuk Amerika , dalam produksi gandum 6 bakul disbanding 2
bakul dari Inggris atau =3 : 1. Dalam produksi pakaian 10 yard dibanding 6 yard dari Inggris atau 5/3
: 1. Disini Amerika memiliki comparative advantage pada produksi gandum yakni 3 : 1 lebih besar dari
5/3 : 1.
Untuk Inggris, dalam produksi gandum 2 bakul disbanding 6 bakul dari Amerika atau 1/3 : 1.
Dalam produksi pakaian 6 yard dari Amerika Serikat atau = 3/5: 1. Comparative advantage ada pada
produksi pakaian yakni 3/5 : 1 lebih besar dari 1/3 : 1. Oleh karena itu perdagangan akan timbul
antara Amerika dengan Inggris, dengan spesialisasi gandum untuk Amerika dan menukarkan
sebagian gandumnya dengan pakaian dari Inggris. Dasar nilai pertukaran (term of Trade ) ditentukan
dengan batas batas nilai tujar masing masing barang didalam negeri.
Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat menerangkan berapa nilai tukar dan
berapa keuntungan karena pertukaran dimana kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori
absolute advantage.
II. COMPARATIVE COST DARI DAVID RICARDO
1. Cost Comparative Advantage ( Labor efficiency )
Menurut teori cost comparative advantage (labor efficiency), suatu Negara akan memperoleh manfaat
dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana
Negara tersebut dapat berproduksi relative lebih efisien serta mengimpor barang di mana negara
tersebut berproduksi relative kurang/tidak efisien. Berdasarkan contoh hipotesis dibawah ini maka
dapat dikatakan bahwa teori comparative advantage dari David Ricardo adalah cost comparative
advantage.
Data Hipotesis Cost Comparative
Negara Produksi 1 Kg gula 1 m Kain
Indonesia 3 hari kerja 4 hari kerja
China 6 hari kerja 5 hari kerja
Indonesia memiliki keunggulan absolute dibanding Cina untuk kedua produk diatas, maka tetap
dapat terjadi perdagangan internasional yang menguntungkan kedua Negara melalui spesialisasi jika
Negara-negara tersebut memiliki cost comparative advantage atau labor efficiency.
Berdasarkan perbandingan Cost Comparative advantage efficiency, dapat dilihat bahwa tenaga kerja
Indonesia lebih effisien dibandingkan tenaga kerja Cina dalam produksi 1 Kg gula ( atau hari kerja )
daripada produksi 1 meter kain ( hari bkerja) hal ini akan mendorong Indonesia melakukan
spesialisasi produksi dan ekspor gula.
Sebaliknya tenaga kerja Cina ternyata lebih effisien dibandingkan tenaga kerja Indonesia dalam
produksi 1 m kain ( hari kerja ) daripada produksi 1 Kg gula ( hari kerja) hal ini mendorong cina
melakukan spesialisasi produksi dan ekspor kain.
2. Production Comperative Advantage ( Labor produktifiti)
Suatu Negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi
produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih produktif
serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif kurang / tidak produktif
Walaupun Indonesia memiliki keunggulan absolut dibandingkan cina untuk kedua produk,
sebetulnya perdagangan internasional akan tetap dapat terjadi dan menguntungkan keduanya melalui
spesialisasi di masing-masing negara yang memiliki labor productivity. kelemahan teori klasik
Comparative Advantage tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat perbedaan fungsi produksi antara
2 negara. Sedangkan kelebihannya adalah perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat
terjadi walaupun hanya 1 negara yang memiliki keunggulan absolut asalkan masing-masing dari
negara tersebut memiliki perbedaan dalam cost Comparative Advantage atau production Comparative
Advantage.
Teori ini mencoba melihat kuntungan atau kerugian dalam perbandingan relatif. Teori ini
berlandaskan pada asumsi:
1. Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang
dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai barang yang ditukar seimbang
dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya.
2. Perdagangna internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.
3. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal pemasaran
4. Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak berpengaruh.
Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan
melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara
tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika
mempunyai kerugian dalam memproduksi.
Paham klasik dapat menerangkan comparative advantage yang diperoleh dari perdagangan luar
negeri timbul sebagai akibat dari perbedaan harga relatif ataupun tenaga kerja dari barang-barang
tersebut yang diperdagangkan.
III. TEORI MODERN
Teori Heckscher-Ohlin (H-O) menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik, negara-negara
cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif
melimpah secara intensif
Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan melakukan perdagangan dengan negara lain
disebabkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan
keunggulan faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah:
1. Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi didalam suatu negara.
2. Faktor intensity, yaitu teksnologi yang digunakan didalam proses produksi, apakah labor intensity
atau capital intensity.
A. The Proportional Factors Theory
Teori modern Heckescher-ohlin atau teori H-O menggunakan dua kurva pertama adalah kurva isocost
yaitu kurva yang menggabarkan total biaya produksi yang sama. Dan kurva isoquant yaitu kurva yang
menggabarkan total kuantitas produk yang sama. Menurut teori ekonomi mikro kurva isocost akan
bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik optimal. Jadi dengan biaya tertentu akan
diperoleh produk yang maksimal atau dengan biaya minimal akan diperoleh sejumlah produk
tertentu.
Analisis teori H-O :
a. Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau proporsi faktor
produksi yang dimiliki masing-masing Negara
b. Comparative Advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing negara akan
ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang dimilkinya.
c. Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor
barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif banyak dan murah untuk
memproduksinya
d. Sebaliknya masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu karena negara
tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk memproduksinya
Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-
masing negara relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan
internasional tidak akan terjadi.
B. Paradoks Leontief
Wassily Leontief seorang pelopor utama dalam analisis input-output matriks, melalui study empiris
yang dilakukannya pada tahun 1953 menemukan fakta, fakta itu mengenai struktur perdagangan luar
negri (ekspor dan impor). Amerika serikat tahun 1947 yang bertentangan dengan teori H-O sehingga
disebut sebagai paradoks leontief
Berdasarkan penelitian lebiih lanjut yang dilakukan ahli ekonomi perdagangan ternyata paradox
liontief tersebut dapat terjadi karena empat sebab utama yaitu :
a. Intensitas faktor produksi yang berkebalikan
b. Tariff and Non tariff barrier
c. Pebedaan dalam skill dan human capital
d. Perbedaan dalam faktor sumberdaya alam
Kelebihan dari teori ini adalah jika suatu negara memiliki banyak tenaga kerja terdidik maka
ekspornya akan lebih banyak. Sebaliknya jika suatu negara kurang memiliki tenaga kerja terdidik
maka ekspornya akan lebih sedikit.
C. Teori Opportunity Cost
Opportunity Cost digambarkan sebagai production possibility curve ( PPC ) yang menunjukkan
kemungkinan kombinasi output yang dihasilkan suatu Negara dengan sejumlah faktor produksi
secara full employment. Dalam hal ini bentuk PPC akan tergantung pada asusmsi tentang
Opportunity Cost yang digunakan yaitu PPC Constant cost dan PPC increasing cost
D. Offer Curve/Reciprocal Demand (OC/RD)
Teori Offer Curve ini diperkenalkan oleh dua ekonom inggris yaitu Marshall dan Edgeworth yang
menggambarkan sebagai kurva yang menunjukkan kesediaan suatu Negara untuk
menawarkan/menukarkan suatu barang dengan barang lainnya pada berbagai kemungkinan harga.
Kelebihan dari offer curve yaitu masing-masing Negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan
internasional yaitu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Permintaan dan penawaran pada faktor produksi akan menentukan harga factor produksi tersebut
dan dengan pengaruh teknologi akan menentukan harga suatu produk. Pada akhirnya semua itu akan
bermuara kepada penentuan comparative advantage dan pola perdagangan (trade pattern) suatu
negara. Kualitas sumber daya manusia dan teknologi adalah dua faktor yang senantiasa diperlukan
untuk dapat bersaing di pasar internasional. Teori perdagangan yang baik untuk diterapkan adalah
teori modern yaitu teori Offer Curve.

https://fajrina.wordpress.com/teori-perdagangan-internasional/
Teori Klasik Perdagangan Internasional
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Ekonomi Internasional
Yang dibina oleh bapak Thomas Soseco,SE,M.Sc

Oleh Kelompok 1
Arif Nur Ramadhon 150432605728
Binti Agustina W.N 150432601509
Charis Muhammad 150432600924

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
Januari 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah swt. Atas Berkah dan Rahmat-
Nya sehingga penyusunan makalah untuk melengakapi tugas mata kuliah Ekonomi
Internasional yang dibimbing oleh bapak Thomas Soseco,SE,M.Sc. dapat terselesaikan
dengan baik.

Dalam penyusunan makalah dengan judul Teori Klasik Perdagangan Internasional,


tidak sedikit masalah yang penyusun dapatkan. Namun berkat kerjasama, doa restu dan
bantuan dari berbagai pihak sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik. Maka dari itu penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Dalam penyusunan makalah, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan dari pihak-pihak
yang telah membacanya untuk perbaikan dimasa mendatang. Atas kritik dan sarannya,
penyusun mengucapkan banyak terima kasih.

Malang, 31 Januari 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Pembahasan 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian teori klasik 3
2.2 Pandangan teori klasik menurut Adam Smith 3
2.3 Kelemahan dari teori adam Smith 5
2.4 Pandangan teori klasik menurut David Ricardo 6

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan 10
3.2 Saran 11

DAFTAR PUSTAKA iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Teori perdagangan internasional yang sampai saat ini masih berkembang secara
umumnya dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu teori klasik, teori modern dan teori keunggulan
kompetitif secara umum. Sebelumnya teori-teori tersebut ada, sudah berkembang paham
kaum merkantilisme terutama di negara-negara Eropa pada abad enam belas dan tujuh belaas.
Para penganjurnya antara lain, Sir Josih Child, Thomas Mun, Jean Bodin. Mereka
beranggapan bahwa logam mulia adalah ukuran kemakmuran suatu negara, semakin banyak
memiliki logam mulia maka negara tersebut akan semakin kaya. Logam mulia diperoleh dari
surplus ekspor dan impor apabila ekspor lebih besar dari impor maka logam mulia akan
mengalir ke dalam negeri lebih banyak dan Peranan pemerintah sangat penting dalam
perdagangan internasional, dengan suatu kebijakan pemerintah maka akan diperoleh ekspor
lebih besar dari impor misalnya tarif quota dan subsidi, dipihak lain impor dapat ditekan.
Aliran klasik muncul pada abad ke 18 yaitu dimasa revolusi industri dimana suasana
waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan ekonomi. Pada waktu itu sistem liberal
sedang merajalela dan menurut aliran klasik, ekonomi liberal itu disebabkan oleh adanya
pacuan antara kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Mula-mula
kemajuan teknologi lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk, tetapi akhirnya terjadi
sebaliknya dan perekonomian mengalami kemacetan.
Para pelopor teori klasik sangat menentang teori tersebut. Logam mulia tak mungkin
ditumpuk dengan surplus ekspor karena penumpukan tersebut akan sia-sia. Logam mulia
akan mengalir dengan sendirinya melalui perdagangan internasional (price specie flow
merchanism). Ekspor naik berarti logam mulia masuk ke dalam negeri akibatnya uang yang
beredar bertambah, pertambahan tersebut menyebabkan harga dalam negeri naik dan
akhirnya logam mulia akan kembali lagi keluar sebagai akibat masuknya barang impor.
Dengan adanya spesialisasi, maka negara akan menghasilkan suatu produk yang
mempunyai keunggulan mutlak (absolut advantage) atau keuntungan
komperatif(comperative advantage).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan teori klasik ?

2. Bagaimana pandangan teori klasik menurut Adam Smith ?

3. Apa saja kelemahan dari teori adam Smith ?

4. Bagaimana pandangan teori klasik menurut David Ricardo?

1.3. Tujuan Pembahasan


1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan teori klasik

2. Untuk mengetahui pandangan teori klasik menurut Adam Smith

3. Untuk mengetahui kelemahan dari teori adam Smith

4. Untuk mengetahui pandangan teori klasik menurut David Ricardo


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teori Klasik


Aliran klasik muncul pada akhir abad ke 18 dan permulaan abad ke 19 yaitu dimasa
revolusi industri dimana suasana waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan
ekonomi. Pada waktu itu sistem liberal sedang merajalela dan menurut alairan klasik
ekonomi liberal itu disebabkan oleh adanya pacuan antara kemajuan teknologi dan
perkembangan jumlah penduduk. Mula-mula kemajuan teknologi lebih cepat dari
pertambahan jumlah penduduk, tetapi akhirnya terjadi sebaliknya dan perekonomian akan
mengalami kemacetan.

Menurut aliran ini bahwa meningkatnya tingkat keuntungan akan mendorong


perkembangan investasi dan investasi akan menambah volume persediaan capital(capital
stock). Keadaan ini akan memajukan tingkat teknologi dan memperbesar jumlah barang yang
beredar sehingga tingkat upah naik, yang berarti meningkatnya tingkat kemakmuran
penduduk. Tingkat kemakmuran akan mendorong bertambahnya jumlah penduduk sehingga
mengakibatkan berlakunya hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang (law of
diminishing return).

2.2 Pandangan teori klasik menurut Adam Smith


Pandangan teori klasik berkembang pada abad ke-18. Menurut Adam Smith bahwa
logam mulia idak mungkin ditumpuk dengan surplus ekspor karena logam mulia akan
mengalir dengan sendirinya melalui perdagangan internasional.Adam smith menginginkan
tidak adanya campur tangan pemerintah dalam perdagangan bebas, karena perdagangan
bebas aka membuat orang bekerja keras untuk kepentingan negaranya sendiri dan sekaligus
mendorong terciptanya spesialisasi, maka suatu negara akan menghasilkan suatu produk yang
memiliki keunggulan mutlak (absolut advantage).
Dari teori tersebut dikemukakan bahwa suatu negara akan memperoleh manfaat
perdagangan internasional karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang
jika negara ini memiliki keunggulan mutlak tersebut dan akan mengimpor barang bila tidak
memiliki ketidakunggulan mutlak. Walaupun negara yang satu dengan yang lainnya
(misalnya AS dan Kanada) sama-sama dapat menghasilkan dua jenis barang yang berbeda,
tetapi salah satu dari dari kedua jenis barang tersebut harus dipilih oleh AS atau Kanada,
barang mana yag lebih yang lebih menguntungkan baginya untuk menghasilkan sendiri yang
didasarkan atas keuntungan mutlak (absolut advantage).
Contohnya, kalau Amerika Serikat dapat menghasilkan produk A 1000 unit dalam
sehari, sedangkan Kanada hanya 800 unit, maka dikatakan Amerika Seikat mempunya
keuntungan mutlak dalam menghasilkan produk A. Dilihat dari jam kerja kalau untuk barang
B, Kanada dapat menghasilkan 20 unit dalam 1 jam sedangkan Amerika Serikat hanya 15
unit, maka kanada mempunya keuntungan mutlak dalam memproduksi produk B.
Dalam teori keunggulan mutlak, Adam Smith mengemukakan ide-ide sebagai berikut :
a) Adanya Division of Labour (Pembagian Kerja Internasional) dalam Menghasilkan Sejenis
Barang
Dengan adanya pembagian kerja, suatu negara dapat memproduksi barang dengan biaya
yang lebih murah dibandingkan dengan negara lain, sehingga dalam mengadakan
perdagangan negara tersebut memperoleh keunggulan mutlak.
b) Spesialisasi Internasional dan Efisiensi Produksi

Dengan spesialisasi, suatu negara akan mengkhususkan pada produksi barang yang
memiliki keuntungan. Suatu negara akan mengimpor barang-barang yang bila diproduksi
sendiri (dalam negeri) tidak efisien atau kurang menguntungkan, sehingga keunggulan
mutlak diperoleh bila suatu negara mengadakan spesialisasi dalam memproduksi barang.
Keuntungan mutlak diartikan sebagai keuntungan yang dinyatakan dengan banyaknya
jam/hari kerja yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang produksi. Suatu negara akan
mengekspor barang tertentu karena dapat menghasilkan barang tersebut dengan biaya yang
secara mutlak lebih murah daripada negara lain. Dengan kata lain, negara tersebut memiliki
keuntungan mutlak dalam produksi barang.
Jadi, keuntungan mutlak terjadi bila suatu negara lebih unggul terhadap satu macam
produk yang dihasilkan, dengan biaya produksi yang lebih murah jika dibandingkan dengan
biaya produksi di negara lain.
Pandangan Adam Smith (1723-1790) atas konsep nilai dibedakan menjadi 2 yaitu
nilai pemakaian dan nilai penukaran. Hal ini menimbulkan paradok nilai, yaitu barang yang
mempunyai nilai pemakaian (nilai guna_ yang sangat tinggi, misalnya air dan udara, tetapi
mempunyai nilai penukaran yang sangat rendah. Malahan boleh dikatakan tidak mempunyai
nilai penukaran. Sedangkan di sisi lain barang yang nilai gunanya sedikit tetapi dapat
memiliki nilai penukaran yang tinggi, seperti berlian. Hal ini baru diselesaikan oleh ajaran
nilai subyektif.

2.3 Kelemahan teori Adam Smith


Teori dam Smith ini juga memiliki kelemahannya juga, dikarenakan dalam
perdagangan internasional akan terjadi keunggulan ansolute yang berbeda, dimana hanya ada
satu negara yang \memiliki keunggulan absolute untuk kedua jenis produk, maka tidak akan
terjadi perdagangan internasional yang menguntungkan.
Masngudi (2006) menjelaskan bahwa teori keunggulan absolut dari Adam Smith
mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut:
1. Teori keunggulan absolut tidak menjelaskan dengan mekanisme apa dunia memperoleh
keuntungan dan output dan bagaimana dibagikan di antara para penduduk masing-masig
negara.
2. Dalam model teori keunggulan absolut tidak menjelaskan bagaimana jikalau negara yang
satu sudah mengadakan spesialisasi sedangkan yang lain masih memproduksikan kedua
produk.
3. Bahwa labor productivity berbeda-beda.
4. Bahwa Adam Smith tak terpikirkan adanya negara negara yang sama sekali tidak memiliki
keunggulan absolut.

2.4 Pandangan teori klasik menurut David Ricardo


Teori David Ricardo didasarkan pada nilai tenaga kerja atau (theory of labor
value)yang menyatakan bahwa nilai atau haraga suatu cost comparative produk ditentukan
oleh jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya. Menurutnya,
suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan
spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi
relatif lebih efisien serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif
kurang efisien.
Konsep perdagangan yang semakin disukai masyarakat internasional, pertama kali
dikemukakan oleh David Ricardo (1997-1823) ini dikenal juga dengan teori comparative
cost/comparative advantage. Dalam teori ini, setiap negara mengkhususkan produksinya
dalam bidang-bidang yang diunggulinya secara komparatif dan semua negara melakukan
perdagangan secara bebas tana hambatan, maka tercapainya efisiensi dalam penggunaan
faktor-faktor produksi dan pada gilirannya produksi dunia secara keseluruhan akan mencapai
maksimum, sehingga makin tinggi kemakmurannya.
Teori didasarkan pada nilai kerja yang menyatakan bahwa nilai atau harga suatu
produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya.
Menurut teori cost comperative advantage (labor efficiency), suatu negara akan memperoleh
manfaat dari peragangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengeksor
barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih efisien.

Di bawah ini contoh hipotesis teori comparative advantage dari David Ricardo, adalah cost
comparative advantage.
Data Hipotesis cost comperative
Produksi
Negara
1 Kg Gula 1 M Kain
Indonesia 3 hari kerja 4 hari kerja
Cina 6 hari kerja 5 hari kerja
Berdasarkan contoh hipotesis di atas, jika ditinjau dari keunggulan mutlak atau absolute
advantage Adam Smith maka Indonesia unggul mutlak karena labor cost nya lebih efisien
dibandingkan dengan Cina. Dengan demikian tentu tidak akan terjadi perdagangan antara
kedua negara jika didasarkan pada teori Adam Smith.
Akan tetapi, berdasarkan teori David Ricardo walaupun Indonesia memiliki
keunggulan absolute dibandingkan Cina, untuk kedua produk diatas maka akan tetap dapat
terjadi perdagangan internasional yang menguntungkan kedua negara melalui spesialisasi jika
negara negara tersebut memiliki cost comperative advantage atau labor effeciency.
Tabel Data Perhitungan Cost Comperative (Labor Efficiency)
PerbandinganCost 1 Kg Gula 1 M Kain

Indonesia Cina 3/4 HK 4/5 HK

Cina Indonesia 6/3 HK 5/4 HK

Berdasarkan perbandingan cost comperative diatas, dapat dilihat bahwa tenaga kerja
Indonesia lebih efisien dibandingkan tenaga kerja Cina dalam memproduksi 1kg gula. Hal ini
akan mendorong Indonesia melakukan spesialisasi produksi dan ekspor gula. Sebaliknya,
tenaga kerja Cina lebih efisien dibandingkan tenaga kerja Indonesia dalam memproduksi 1
meter kain. Hal ini mendorong Cina melakukan spesialisasi produksi dan ekspor kain.
Tabel Keuntungan Komperatif (output per jam kerja)
Negara Gandum Jagung DTD
1 unit gandum = 2 ton
Indonesia 10 20
jagung

1 ton gandum = 1,5 ton


Singapura 8 12
jagung
Jika berdasarkan teori absolut advantage, maka perdagangan tak akan mungkin terjadi
antara Indonesia dan Singapura karena Indoesia mutlak unggul dalm menghasilkan jagung
dan gandum dibandingkan dengan Singapura.
Tetapi jika secara comperative advantage perdagangan antara Indonesia dengan
Singapura dapat terjadi. Dengan dasar tukar internasional yang berada pada ruang gerak
masing-masing negara tersebut. 1,5 ton <DTI<2 ton. Disini jelas Indonesia mempunyai
keuntungan komperatif dalam menghasilkan jagung dan Singapura mempunyaicomperative
advantage dalam menghasilkan gandum.
Apakah suatu negara mempunyai keuntungan komperatif dibandingkan dengan
negara lain dilihat dari segi ongkos tenaga kerja (wage of labor). Apabila ongkos tenaga kerja
rendah, maka harga output akan rendah pula. Suatu negara akan memproduksi suatu produk
yang harag relatif lebih rendah dari negara lain yaitu dengan keunggulan komparatif.
Tabel Ongkos Komperatif
Output
Negara Input of labor
Mesin Pakaian
Amerika 1 hari 5 20
India 1 hari 1 10
Secara absolute advantage, Amerika mempunyai keuntungan mutlak dalam
menghasilkan kedua jenis produk mesin dan pakaian. Dalam 1 hari, tenaga kerja dapat
menghasilkan 5 unit mesin di Amerika sedangkan di India hanya 1 unit mesin. Untuk pakaian
dalam 1 hari, tenaga kerja di Amerika dapat menghasilkan 20 unit pakaian sedangkan di
Indoa hanya 10 unit. Jika seperti ini maka perdagangan internasional tidak akan terjadi antara
kedua negara tersebut. Tapi kalau dilihat secara comparative advantagemaka akan terjadi
karena Amerika secara komparatif akan lebih menguntungkan kalau spesialisasi dalam
produksi mesin, sedangkan India dalam memproduksi pakaian (dasar tukar internasional)
berada diantara dasar tukar dalam negeri kedua negara tersebut.
Untuk menentukan harga output yang paling murah kita anggap upah tenaga kerja per
hari untuk menghasilkan mesin dan pakaian di Amerika $20, sedangkan di India $5.
Tabel Comperatif cost
Input of wage Mesin Kain
Negara
labor rate Output Price Output Price
Amerika 1 hari $20 5 $4,00 20 $1,00
India 1 hari $5 1 $5,00 10 $0,50
Dengan tingkat upah per hari $20 di Amerika, maka harga mesin $4,00 dan kain
$1,00. Tapi di India dengan tingkat upah $5,00 per hari maka harga kain dalam negeri $0,50
sedangkan mesin $5,00. Berarti harga mesin relatif lebih rendah di Amerika dibandingkan di
India, begitu juga sebaliknya kain lebih murah di India daripada di Amerika. Untuk itu akan
menguntugkan apabila Amerika mengekspor mesin ke India dan mengimpor kain dari India.
Kelemahan teori klasik Comparative Advantage tidak dapat menjelaskan mengapa
terdapat perbedaan fungsi produksi antara 2 negara. Sedangkan kelebihannya adalah
perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat terjadi walaupun hanya 1 negara
yang memiliki keunggulan absolut asalkan masing-masing dari negara tersebut memiliki
perbedaan dalam cost Comparative Advantage atau production Comparative Advantage.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aliran klasik muncul pada abad ke 18 yaitu dimasa revolusi industri dimana suasana
waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan ekonomi. Pada waktu itu sistem liberal
sedang merajalela dan menurut aliran klasik, ekonomi liberal itu disebabkan oleh adanya
pacuan antara kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Mula-mula
kemajuan teknologi lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk, tetapi akhirnya terjadi
sebaliknya dan perekonomian mengalami kemacetan.
Para pelopor teori klasik sangat menentang teori tersebut. Logam mulia tak mungkin
ditumpuk dengan surplus ekspor karena penumpukan tersebut akan sia-sia. Logam mulia
akan mengalir dengan sendirinya melalui perdagangan internasional (price specie flow
merchanism). Ekspor naik berarti logam mulia masuk ke dalam negeri akibatnya uang yang
beredar bertambah, pertambahan tersebut menyebabkan harga dalam negeri naik dan
akhirnya logam mulia akan kembali lagi keluar sebagai akibat masuknya barang impor.
Dengan adanya spesialisasi, maka negara akan menghasilkan suatu produk yang mempunyai
keunggulan mutlak atau keuntungan komperatif.
Kelebihan dari teori Absolute advantage yaitu terjadinya perdagangan bebas antara
dua negara yang saling memiliki keunggulan absolut yang berbeda, dimana terjadi interaksi
ekspor dan impor hal ini meningkatkan kemakmuran negara. Kelemahannya yaitu apabila
hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak
akan terjadi karena tidak ada keuntungan. kelemahan teori klasik Comparative Advantage
tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat perbedaan fungsi produksi antara 2 negara.
Sedangkan kelebihannya adalah perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat
terjadi walaupun hanya 1 negara yang memiliki keunggulan absolut asalkan masing-masing
dari negara tersebut memiliki perbedaan dalam cost Comparative Advantage atau production
Comparative Advantage.
3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan
judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca bersedia memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Apridar.2009.Ekonomi Internasional Sejarah, Teori, Konsep dan Permasalahan


dalam Aplikasinya.Graha Ilmu
Krugman, Paul R and Maurice Obstfield.2003.Ekonomi Internasional.Edisi
kelima.Indeks.
http://ssbelajar.blogspot.com/2012/03/teori-perdagangan-internasional.html