Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inflamasi merupakan suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi
yang rusak. Rangsangan tersebut menyebabkan lepasnya mediator-mediator inflamasi seperti
histamin, serotonin, bradikinin, dan prostaglandin yang menimbulkan reaksi berupa panas,
nyeri, bengkak, kemerahan serta gangguan fungsi. Kerusakan sel terkait inflamasi
mempengaruhi selaput membran sel yang menyebabkan leukosit mengeluarkan enzim-enzim
lisosomad dan asam arakhidonat. Metabolisme dari asam arakhidonat menghasilkan
prostaglandin-prostaglandin yang memiliki efek pada pembuluh darah, ujung saraf, dan sel-
sel yang terlibat dalam inflamasi (Katzung, 2004).
Sebagian obat-obat antiinflamasi bekerja pada mekanisme penghambatan sintesis
prostaglandin yang diketahui berperan sebagai mediator utama dalam inflamasi. Terdapat
beberapa golongan obat antiinflamasi diantaranya obat antiinflamasi golongan steroid dan non
steroid. Obat antiinflamasi golongan steroid diketahui dapat menghambat phospholipase A2
dalam sintesis asam arakhidonat, sehingga memiliki efek antiinflamasi yang poten, namun
diketahui penggunaan obat-obatan ini dalam jangka waktu yang lama justru akan
mengakibatkan efek samping berupa hipertensi, osteoporosis, dan hambatan terhadap
pertumbuhan. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa penggunaan steroid jangka panjang
dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker, penyakit jantung dan hati (Anonim, 2013).
Disebutkan pula bahwa penggunaan steroid secara topikal pada beberapa orang menunjukkan
efek samping antara lain dermatitis, diabetes mellitus dan atrofi jaringan (Judarwanto &
Dewi, 2012).
Obat-obatan konvensional yang digunakan terutama dalam jangka panjang akan
menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan sehinggaperlu dicari pengobatan alternatif
untuk melawan dan mengendalikan rasa nyeri serta peradangan dengan efek samping yang
relatif lebih kecil. Penggunaan obat-obatan tradisional yang berasal dari tanaman menjadi
salah satu alternatif dalam pengobatan inflamasi yang dinilai lebih aman dari segi efek
samping dan toksisitas (Awang, 2009). Beberapa tanaman telah diteliti mengandung zat aktif
yang memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi seperti Tapak liman (Elephantophus scaber L.),
Sambiloto (Andrographis paniculata), Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus), Tembelekan
(Lantana camara L.), Nanas (Ananas comosus), Meadow Saffron (Colchicum autumnale),
Jelatang (Urtica dioica L.), Cakar Setan (Harpagophytum procumbens), Kelor (Moringa
oleifera Lam), Petai Cina (Leucaena glauca, Benth).
Pada makalah ini akan dibahas satu per satu mengenai tanaman tersebut sebagai anti
inflamasi mulai dari klasifikasi, kandungan zat aktif, efek farmakologi, mekanisme hingga
dosis yang digunakan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan inflamasi?
1.2.2 Apa saja tanaman yang dapat digunakan sebagai antiinflamasi?
1.2.3 Bagaimana kandungan zat aktif, manfaat serta aktivitas farmakologi dari masing-masing
tanaman tersebut?
1.2.4 Bagaimana mekanisme antiinflamasi dari masing-masing tanaman tersebut?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengatahui apa yang dimaksud dengan inflamasi.
1.3.2 Untuk mengetahui tanaman apa saja yang memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi.
1.3.3 Untuk mengetahui kandungan zat aktif, manfaat, aktivitas farmakologi termasuk
mekanisme masing-masing tanaman sebagai antiinflamasi.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Inflamasi
a. Inflamasi
Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera
atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau
mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu
(Dorland, 2002). Inflamasi (peradangan) merupakan reaksi kompleks pada jaringan
ikat yang memiliki vaskularisasi akibat stimulus eksogen maupun endogen. Dalam arti
yang paling sederhana, inflamasi adalah suatu respon protektif yang ditujukan untuk
menghilangkan penyebab awal jejas sel serta membuang sel dan jaringan nekrotik
yang diakibatkan oleh kerusakan sel (Robbins, 2004).
Penyebab inflamasi antara lain mikroorganisme, trauma mekanis, zat-zat kimia,
dan pengaruh fisika. Tujuan akhir dari respon inflamasi adalah menarik protein plasma
dan fagosit ke tempat yang mengalami cedera atau terinvasi agar dapat mengisolasi,
menghancurkan, atau menginaktifkan agen yang masuk, membersihkan debris dan
mempersiapkan jaringan untuk proses penyembuhan (Corwin, 2008).
Respons inflamasi terjadi dalam tiga fase dan diperantarai oleh mekanisme yang
berbeda :
fase akut, dengan ciri vasodilatasi lokal dan peningkatan permeabilitas
kapiler.
reaksi lambat, tahap subakut dengan ciri infiltrasi sel leukosit dan fagosit.
fase proliferatif kronik, dengan ciri terjadinya degenerasi dan fibrosis
(Wilmana, 2007).

Respon antiinflamasi meliputi kerusakan mikrovaskular, meningkatnya


permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala proses inflamasi
yang sudah dikenal ialah:

Kemerahan (rubor) : Terjadinya warna kemerahan ini karena arteri yang


mengedarkan darah ke daerah tersebut berdilatasi sehingga terjadi
peningkatan aliran darah ke tempat cedera (Corwin, 2008).
Rasa panas (kalor) Rasa panas dan warna kemerahan terjadi secara
bersamaan. Dimana rasa panas disebabkan karena jumlah darah lebih
banyak di tempat radang daripada di daerah lain di sekitar radang.
Fenomena panas ini terjadi bila terjadi di permukaan kulit. Sedangkan bila
terjadi jauh di dalam tubuh tidak dapat kita lihat dan rasakan (Wilmana,
2007).
Rasa nyeri (dolor) : Rasa sakit akibat radang dapat disebabkan beberapa hal:
adanya peregangan jaringan akibat adanya edema sehingga terjadi
peningkatan tekanan lokal yang dapat menimbulkan rasa nyeri.
adanya pengeluaran zat zat kimia atau mediator nyeri seperti
prostaglandin, histamin, bradikinin yang dapat merangsang saraf
saraf perifer di sekitar radang sehingga dirasakan nyeri (Wilmana,
2007).
Pembengkakan (tumor) : Gejala paling nyata pada peradangan adalah
pembengkakan yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan permeabilitas
kapiler, adanya peningkatan aliran darah dan cairan ke jaringan yang
mengalami cedera sehingga protein plasma dapat keluar dari pembuluh
darah ke ruang interstitium (Corwin, 2008).
Fungsiolaesa : Fungsiolaesa merupakan gangguan fungsi dari jaringan
yang terkena inflamasi dan sekitarnya akibat proses inflamasi. (Wilmana,
2007)
Selama berlangsungnya respon inflamasi banyak mediator kimiawi yang
dilepaskan secara lokal antara lain histamin, 5-hidroksitriptamin (5HT), faktor
kemotaktik, bradikinin, leukotrien dan prostaglandin (PG).
b. Antiinflamasi
Antiinflamasi didefinisikan sebagai obat-obat atau golongan obat yang memiliki
aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. Radang atau inflamasi dapat
disebabkan oleh berbagai rangsangan yang mencakup lukaluka fisik, infeksi, panas
dan interaksi antigen-antibodi (Houglum et al, 2005). Berdasarkan mekanisme kerja
obat-obat antiinflamasi terbagi dalam dua golongan, yaitu obat antiinflamasi golongan
steroid dan obat antiinflamasi non steroid. Mekanisme kerja obat antiinflamasi
golongan steroid dan non-steroid terutama bekerja menghambat pelepasan
prostaglandin ke jaringan yang mengalami cedera (Gunawan, 2007). Obatobat
antiinflamasi yang banyak di konsumsi oleh masyarakat adalah antiinflamasi non
steroid (AINS). Obat-obat golongan AINS biasanya menyebabkan efek samping
berupa iritasi lambung (Kee dan Hayes, 1996).
2.2 Tumbuhan yang memiliki anti inflamasi
Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai
obat, dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Obat berkhasiat mengandung zat
aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak mengandung zat aktif
tertentu tapi mengandung efek resultan/ sinergi dari berbagai zat yang berfungsi
mengobati. Pemanfaatan tumbuhan herbal ini diwariskan secara turun temurun hingga
sekarang (Prabowo, 2010).

2.2.1 Tapak liman (Elephantophus scaber LI)

a. Klasifikasi
Kingdom :Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Elephantopus
Spesies : Elephantopus scaber L.
b. Gambaran Umum
Tapak liman merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang tumbuh
sepanjang tahun, berdiri tegak, berdaun hijau-tua. Daun rendahan berkumpul
membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan tangkai yang pendek;
bentuknya panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-35
x 2-7cm. Bunganya berwarna merah-ungu, terbagi menjadi lima bagian dan
mulai muncul sekitar bulan April sampai Oktober. Bunganya mekar antara Jam
13-14 siang, dimana bunganya siap untuk dibuahi oIeh serangga, dan sekitar
jam 16 bunga telah tertutup kembali.Bunganya berwarna ungu dan tumbuh
dari jantung daun. Pada tumbuhan ini terjadi pembuahan dini. Akar pada
tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat.
c. Kandungan
Kandungan epifrieelinol, lupeol, stiqmasterol, triacontan-l-ol,
dotriacontan-l-ol, lupeol acetat, deoxyelephantopin, dan isodeoxyelephantopin.
Senyawa deoxyelephantopin inilah yang merupakan senyawa antitumor,
penghilang radang akibat bakteri, antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus
penyebab keputihan.
d. Manfaat
Jenis-jenis penyakit yang dapat di atasi dengan daun tapak liman, yaitu
: peradangan amandel, influenza, radang tenggorok, radang mata, radang ginjal
yang akutdan krinis, radang rahim atau keputihan, mengatasi perut kembung,
hepatitis, beri-beri, disentri, kurang darah, dan lain-lain.
e. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme Antiinflamasi
Pada penelitian, antiinflamasi ekstrak daun tapak liman di uji
dan di peroleh hasil telapak kaki tikus yang di induksi dengan
karagenin (induksi inflamasi) dapat di blok oleh penghambat selektif
COX-2 dan oleh antibodi monoklonal PGE2. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa telapak kaki tikus akibat pemberian karagenin
dapat disebabkan oleh peningkatan produksi PGE2 yang berasal dari C
OX-2. Ekstrak tapak liman dapat menghambat pembentukan PGE2,
karena ekstrak tapak liman dapat menghambat udema telapak kaki tikus
akibat pemberian karagenin.
2) Dosis
Efek anti inflamasi dari ekstrak tapak liman tergantung
besarnya dosis yang diberikan. Semakin besar dosis yang diberikan
semakin kuat efeknya sebagai anti inflamasi. Hal ini karena semakin
besar dosis ekstrak tapak liman yang diberikan semakin besar pula
kandungan senyawa aktif nya sehingga semakin kuat pula khasiatnya
sebagai anti inflamasi. Pemberian ekstrak tapak liman dosis 400 mg/kg
BB mampu memghambat udema telapak kaki tikus akibat pemberian
karagenin.
2.2.2 Sambiloto (Andrographis paniculata)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Scrophulariales
Famili : Acanthaceae
Genus : Andrographis
Spesies : Andrographis paniculata Nees
b. Gambaran umum
Sambiloto dikenal sebagai King of Bitters bukanlah tumbuhan asli
Indonesia, tetapi diduga berasal dari India. Menurut data spesimen yang ada di
Herbarium Bogoriense di Bogor, sambiloto sudah ada di Indonesia sejak 1893. Di
India, sambiloto adalah tumbuhan liar yang digunakan untuk mengobati penyakit
disentri, diare, atau malaria. Hal ini ditemukan dalam Indian Pharmacopeia dan
telah disusun paling sedikit dalam 26 formula Ayurvedic.7 Dalam Traditional
Chinese Medicine (TCM), sambiloto diketahui penting sebagai tanaman cold
property dan digunakan sebagai penurun panas serta membersihkan racunracun di
dalam tubuh.8 Tanaman ini kemudian menyebar ke daerah tropis Asia hingga
sampai di Indonesia. (Widyawati, 2007)
c. Kandungan
Secara kimia mengandung flavonoid dan lakton. Pada lakton, komponen
utamanya adalah andrographolide, yang juga merupakan zat aktif utama dari
tanaman ini. Andrographolide sudah diisolasi dalam bentuk murni dan menunjuk-
kan berbagai aktivitas farmakologi. Berdasarkan penelitian lain yang telah
dilakukan, kandungan yang di-jumpai pada tanaman sambiloto diantaranya
diterpene lakton dan glikosidanya, seperti andrographolide, deoxyandrographolide,
11,12-didehydro-14- eoxyandro-grapholide, dan neoandrographolide. Flavonoid
juga dilaporkan ada terdapat pada tanaman ini. Daun dan percabangannya lebih
banyak mengandung lakton sedangkan komponen flavonoid dapat diisolasi dari
akarnya, yaitu polimetok-siflavon, androrafin, panikulin, mono-0-metilwithin dan
apigenin- 7,4 dimetileter. Selain komponen lakton dan flavonoid, pada tanaman
sambiloto ini juga terdapat komponen alkane, keton, aldehid, mineral (kalsium,
natrium, kalium), asam kersik dan damar.Di dalam daun, kadar senyawa
andrographolide sebesar 2,5-4,8% dari berat keringnya. Ada juga yang
mengatakan biasanya sambiloto distandarisasi dengan kandungan andrographolide
sebesar 4-6%.12 Senyawa kimia lain yang sudah diisolasi dari daun yang juga
pahit yaitu diterpenoid viz. deoxyandro-grapholide-19-D-glucoside, dan neo-
andrographolide.
d. Manfaat
Sambiloto memiliki manfaat sebagai pencegah pembentuka radang,
memperlancar air seni (diuretik), menurunkan panas pada badan (antipiretik),
antihipertensi, mengobati malaria, dan meningkatkan daya tahan tubuh.
e. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme antiinflamasi
Kandungan utama sambiloto yang memiliki efek antiinflamasi adalah
andrographolide. Andrographolide terbukti dapat mengganggu ekspresi
gen proinflamasi yang mempengaruhi jalur transduksi sinyal
MAPK/ERK1/2 atau P13K/Akt dalam makrofag. Selanjutnya,
andrographolide dapat mengurangi fosforilasi ERK1/2 dalam sel T, yaitu
suatu sinyal jalur intraseluler yang terlibat dalam ekspresi sitokin, yaitu IL-
2, TNF-, dan TNF- (Burgos, dkk., 2009).
Mekanisme antiinflamasi yaitu dengan menghambat adhesi antar
molekul yang di keluarkan oleh monosit yang di aktifkan oleh faktor
nekrosis tumor , menekan nitrat yang menginduksi sintetase oksida,
menekan pengeluaran COX-2 dalam neutrofil dan interferon gamma (TNF-
). Pada penyakit rheumatoid arthritis, faktor transkripsi NF-kB dan NF-
AT telah di akui sebagai faktor penting dalam mengatur proses inflamasi
dan perkembangan penyakit tersebut. Sehingga dapat di simpulkan bahwa
senyawa andrographolide pada sambiloto dapat di manfaatkan sebagai
agen antiinflamasi (Burgos, dkk., 2009).
2) Dosis
Untuk mengetahui efek antiinflamasi sambiloto di lakukan percobaan,
pada tikus putih menunjukkan bahwa infusa daun 51.4 mg/100 g bb secara
oral dapat meningkatkan efek antiinflamasi. (inflamasi disebabkan oleh
suspensi karagen 1% dalam larutan NaCI fisiologis dosis 0.2 ml/ekor yang
disuntikkan pada telapak kaki), dengan pembanding fenilbutazon.
3) Interaksi
ekstrak sambiloto kemungkinan memiliki efek sinergis dengan
isoniazide.Selain itu, sampai saat ini belum diketahui interaksi obat lain
dengan sambiloto.
4) Efek samping
Efek samping yang di miliki ekstrak sambiloto, yaitu sakit kepala,
fatique, rasa pahit, dan peningkatan enzim hati dilaporkan terjadi pada uji
klinis pada pasien yang terinfeksi HIV yang diberi andrographolide dosis
tinggi. Hal ini tidak ada dilaporkan pada orang yang menggunakan
andrographis atau ekstrak terstandard pada jumlah yang direkomendasikan.
Seperti semua herba yang pahit, sambiloto mungkin menyebabkan ulkus
dan adanya rasa terbakar. Keamanan terhadap wanita hamil dan menyusui
sampai saat ini belum diketahui.
2.2.3 Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Orthosiphon
Spesies : Orthosiphon stamineus Benth.
b. Gambaran umum
Tanaman kumis kucing dapat dideskripsikan sebagai berikut. Herba berkayu
naik perlahan lahan, pada pangkal sering bercabang, berakar kuat, tinggi 0,4-1,5m
batang berambut, pendek bertangkai daun berbentuk baji diatas pangkal yang
bertepi rata, bergerigi kasar dapat berbunga 6 dan terkumpul menjadi tandan
ujung. Daun pelindung kecil. Tangkai bunga pendek, Kelopak berambut pendek
panjang 5,5-7,5mm, taju atau hampir sampai pangkal tabung berakhir dengan 2
rusuk, bulat telur terbalik dan lebih lebar dari taju lainya, taju samping dengan
ujung runcing ungu, kedua mahkota berbibir 2, bawah lurus menjulang kedepan,
kepala sari berwarna ungu. Bakal buah gundul, kelopak buah kurang lebih
panjangnya 1cm, buahnya keras memanjang, berkerut halus (Van Steenis, 1947).
c. Kandungan
Daun kumis kucing mengandung beberapa senyawa kimia antara lain minyak
atsiri 0,02-0,06%, terdiri dari 60 macam seskuiterpen dan senyawa fenolik
(Sudarsono dkk., 1996). Tanaman ini juga mengandung Benzokhromon,
Orthokhromen A, methyl riparikhromen A dan asetovanillochromen. Diterpen,
isopimarantype diterpen (orthosiphones dan orthosiphol), primarantype diterpen
(neoorthosiphol dan staminol A). Flavonoid, sinensetin, tetrametil sculaterin dan
tetramethoksiflavon, eupatorin, salvigenin, circimaritrin, piloin, rhamnazin,
trimethilapigenin, dan tetrametilluteonin, kadar flavonoid lipofilik pada daun
kumis kucing ini antara 0,2-0,3%, kadar flavonoid glikosida juga sekitar itu.
Kandungan lain pada tanaman ini antara lain asam kafeat dan turunannya (contoh
asam rosmarat) inositol, fitosterol (contoh -sitosterol) dan garam kalium (Barnes
et al., 1996).
d. Manfaat
Tanaman kumis kucing mempunyai banyak manfaatnya untuk pengobatan.
Bagian tanaman yang biasa digunakan adalah herba baik segar maupun yang telah
dikeringkan. Teh yang dibuat dari daun yang dikeringkan mempunyai reputasi
yang baik sebagai obat-obatan terhadap penyakit ginjal (Van Steenis, 1947).
Kumis kucing berkhasiat diuretik, di Jawa digunakan untuk pengobatan hipertensi
dan diabetes, tanaman ini juga sudah digunakan masyarakat untuk pengobatan
pendarahan, ginjal, batu empedu, gout dan rematik (Barnes, 1996).
e. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme antiinflamasi
Kemampuan antiinflamasi ekstrak daun kumis kucing ini kemungkinan
karena kemampuan penghambatan enzim siklooksigenase dan lipooksigenase
sehingga asam arakidonat tidak dirubah menjadi prostaglandin dan leukotrin.
Penghambatan ini kemungkinan disebabkan oleh flavonoid yang tersari dalam
ekstrak ini, karena flavonoid secara umum mempunyai kemampuan
penghambatan enzim siklooksigenase dan lipooksigenase.
2) Dosis
Menurut penlitian Prayoga,2008 ekstrak etanol daun kumis kucing
dosis 245mg/kgBB mempunyai % daya antiinflamasi 50,71%. Daya
antiinflamasi pada ekstak etanol ini hampir sama dibandingkan dengan
pemberian infusa yang mungkin disebabkan karena zat yang terlarut dalam
etanol 70% ini hampir sama dengan yang tersari pada penyarian dengan
menggunakan air.

2.2.4 Tembelekan (Lantana camara L.)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Verbenaceae
Genus : Lantana
Spesies : Lantana camara L.
b. Gambaran umum
Saliara (Lantana camara) adalah jenis tumbuhan berbunga dari familia
Verbenaceae yang berasal dari wilayah tropis di Amerika Tengah dan Selatan.
Tanaman ini tumbuh di daerah dengan ketinggian 1.700 m dpl dan memiliki
banyak percabangan dengan tinggi antara 0,5-4 meter.
c. Kandungan
Analisis kandungan saponin pada akar, daun dan buah L. Camara dilakukan
dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Saponin terakumulasi
dalam dinding sel danvakuola. Kandungan flavonoid pada organ akar, daun dan
buah dapat dilakukan analisis dengan Kromatografi Lapis Tipis(KLT) metode
densitometri. Minyak atsiri pada organ akar, daun dan buah dapat dilakukan
analisis dengan Kromatografi Lapis Tipis(KLT) metode densitometri.
d. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme antiinflamasi
Mekanisme aktivitas antiinflamasi saponin dari berbagai tumbuhan
sudah banyak dilaporkan namun belum banyak yang diketahui tentang
mekanisme antiinflamasi yang dilakukan oleh saponin secara pasti.
Saponin terdiri dari steroid atau gugus triterpen (aglikon) yang mempunyai
aksi seperti detergen. Mekanisme antiinflamasi yang paling mungkin
adalah diduga saponin mampu berinteraksi dengan banyak membran lipid
(Nutritional Therapeutics, 2003) seperti fosfolipid yang merupakan
prekursor prostaglandin danmediator-mediator inflamasi lainnya.
Mekanisme antiinflamasi yang dilakukan olehflavonoid dapat melalui
beberapa jalur, yaitu : menghambat aktivitas enzim COX dan/atau
lipooksigenase, menghambat akumulasi leukosit, menghambat degranulasi
netrofil, menghambat pelepasan histamin, dan penstabil Reactive Oxygen
Species (ROS).
1) Penghambatan aktivitas enzim COXdan/atau lipooksigenase.
Aktivitas antiinflamasikarena penghambatanCOX atau
lipoooksigenase. Penghambatanjalur COX dan lipooksigenase ini
secaralangsung juga menyebabkan penghambatanbiosintesis dan yang
merupakan produk akhir dari jalurCOX dan lipooksigenase.
2) Penghambatan akumulasi leukosit.
Ferrandizdan Alcaraz (1991) mengemukakan bahwa
efekantiinflamasi flavonoid dapat disebabkan olehaksinya dalam
menghambat akumulasi leukositdi daerah inflamasi. Menurut
Frieseneker et al.,(1994) dalam Nijveldt et al., (2001), pada
kondisinormal leukosit bergerak bebas sepanjangdinding endotel.
Selama inflamasi, berbagaimediator turunan endotel dan faktor
komplemenmungkin menyebabkan adhesi leukosit kedinding endotel
sehingga menyebab-kan leukositmenjadi immobil dan menstimulasi
degranulasinetrofil. Frieseneker et al., (1994 dalam Nijveldt etal.,
(2001) menyebutkan bahwa pemberianflavonoid dapat menurunkan
jumlah leukositimmobil dan mengurangi aktivasi komplemensehingga
menurunkan adhesi leukosit ke endoteldan mengakibatkan penurunan
respon inflamasi tubuh.
3) Penghambatan degranulasi netrofil
Torderaet al., (1994) dalam Nijveldt et al., (2001)
mendugabahwa flavonoid dapat menghambat degranulasinetrofil,
sehingga secara langsung mengurangipelepasan asam arakhidonat oleh
netrofil.
4) Penghambatan pelepasan histamin
Efekantiinflamasi flavonoid didukung oleh aksinya sebagai
antihistamin. Histamin adalah salah satumediator inflamasi yang
pelepasannya distimulasi oleh pemompaan kalsium ke dalamsel.
Amella et al., (1985) dalam Nijveldt et al.,(2001) melaporkan bahwa
flavonoid dapatmenghambat pelepasan histamin dari sel
mast.Mekanisme yang tepat belum diketahui, namunMueller (2005)
menduga bahwa flavonoid dapatmenghambat enzim c-AMP
fosfodiesterasesehingga kadar c-AMP dalam sel mastmeningkat,
dengan demikian kalsium dicegahmasuk ke dalam sel yang berarti juga
mencegahpelepasan histamin (Gomperts et al., 1983).
5) Penstabil Reactive Oxygen Species (ROS).
Efek flavonoid sebagai antioksidan secara tidaklangsung juga
mendukung efek antiinflamasiflavonoid. Adanya radikal bebas dapat
menarikberbagai mediator inflamasi menambahkan bahwaflavonoid
dapat menstabilkan Reactive OxygenSpecies (ROS) dengan bereaksi
dengan senyawareaktif dari radikal sehingga radikal menjadi inaktif.
Minyak atsiri yang mengandung eugenol dan beberapa senyawa
terpen di yangdiduga memiliki efek antiinflamasi. Eugenol yang
merupakan penyusun minyak atsiri L.camara dilaporkan dapat
menghambat agregasi platelet dengan cara menghambat
pembentukantromboksan sehingga juga berperan dalam
efekantiinflamasi (Srivastava, 1993). Eugenol juga dapat menghambat
aktivitas PGH sintase karena berkompetisi dengan asam arakhidonat
pada sisiaktif PGH sintase sehingga menghambat pembentukan PG
(Thompson dan Eling, 1989). Seskuiterpen dilaporkan Heras et al.,
(1999) dapat menghambat inflamasi dengan menghambat beberapa
faktor transkripsi yang berperan dalam pengaturan ekspresi gen yang
terlibat dalamrespon inflamasi. Mekanisme yang pasti tentangaktivitas
antiinflamasi minyak atsiri juga belumbanyak diketahui.
2) Dosis
Ekstrak etanol L. camara dosis 720 mg/kg BB mempunyai aktivitas
antiinflamasi yang paling efektif padatikus putih (Rattus norvegicus L.)
jantan.
2.2.5 Nanas (Ananas comosus)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Zingiberidae
Ordo : Bromeliales
Famili : Bromeliaceae
Genus : Ananas Mill.
Spesies : Ananas comosus L. Merr.
b. Gambaran umum
Nanas merupakan tanaman buah berupa herba tahunan atau dua tahunan
dengan tinggi 50-150 cm. Daun berkumpul dalam roset akar dan pada bagian
pangkalnya melebar menjadi pelepah., berujung tajam, tersusun dalam bentuk
roset mengelilingi batang yang tebal. Terdapat tunas merayap pada bagian
pangkalnya. Helaian daun bentuk pedang, tebal, liat, panjang 80-120 cm, lebar 2-6
cm, ujung lancip menyerupai duri, tepi berduri tempel yang membengkok ke atas,
sisi bawah bersisik putih, berwarna hijau atau hijau kemerahan. Bunga majemuk
tersusun dalam bulir yang sangat rapat, letaknya terminal dan bertangkai panjang.
Buahnya buah buni majemuk, bulat panjang, berdaging, berwarna hijau, jika
masak warnanya menjadi kuning.
Nanas berasal dari Brazilia (Amerika Selatan) yang telah didomestikasi disana
sebelum masa Colombus. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke
Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Di
Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan, dan meluas
dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Tanaman ini
kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik.
c. Kandungan
Tiap 100 gram buah Nanas mengandung vitamin A, B1(6%), B2(2%), B3(3%),
B5(4%), B6(8%), B9(4%) dan C(60%), kalsium(1%), fosfor(1%),
magnesium(3%), besi(1%), natrium, kalium(2%), dekstrosa, sukrosa (gula tebu),
serat(1,4gr), lemak(0,12gr) dan enzim bromelain. Bromelain berkhasiat
antiradang, membantu melunakkan makanan di lambung, mengganggu
pertumbuhan sel kanker, menghambat agregasi platelet, dan mempunyai aktivitas
fibrinolitik. Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada
penderita sembelit (konstipasi). Daun mengandung kalsium oksalat dan serat.
Batangpun mengandung enzim Bromelain ( P. Hale dkk, 2008).
Senyawa yang berperan dalam antiinflamasi pada nanas adalah senyawa
bromelain. Bromelain mampu mencegah inflamasi serta penggumpalan keping
darah dan mencegah inflamasi.Enzim bromelain memiliki kegunaan yang penting
sebagai anti inflamasi pada berbagai penyakit inflamasi kronis, keganasan dan
penyakit autoimun. Pemberian secara oral bromelain terbukti dapat menjadi
analgesic dan anti inflamasi pada pasien rheumatik arthritis, dimana merupakan
penyakit autoimun yang sering dijumpai.
d. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme antiinflamasi
Bromelain berperan sebagai agen antiinflamasi. Bromelain
meningkatkan aktivitas fibrinolisis dengan aktivasi enzim. Bromelain juga
mengaktivasi plasminogen ke dalam bentuk plasmin. Plasmin akan
menyebablan fibrin terdepolimerasasi, yang nantinya akan mencegah
penyumbatan vena karena fibrin. Hal ini membantu mengurangi edema dan
pemulihan keusakan jaringan.
2) Dosis
Bromelain dengan dosis 7.5 mg/kg menyebabkan penurunan jumlah
Bradikinin bersamaan dengan penurunan prekallikrein pada daerah
inflamasi. Eksudasi plasmapun berkurang sesuai dengan perubahan dosis.
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa Bromelain menghambat eksudasi
plasma dengan penghambatan generasi bradikinin pada daerah inflamasi
melalui deplesi sistem plasma kallikrein (Seiichiro Kumakura dkk, 1988).
Bromelain menunjukkan hasil terapi yang baik pada dosis kecil 160
mg/hari akan tetapi hasil terbaik yang diperoleh pada dosis yang dimulai
dari 750-1000mg/hari. Dosis yang dianjurkan adalah 200-1000 mg
bromelain dua kali sehari.
Berdasarkan penelitian bromelain sebaiknya dikonsumsi tidak
bersama dengan makanan kecuali digunakan untuk tujuan digestif, karena
jika dikonsumsi bersama makanan Bromelain akan cenderung berfungsi
sebagai enzim digestif sehingga efek terapeutiknya berkurang.

2.2.6 Meadow Saffron (Colchicum autumnale)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Liliales
Famili : Colchicaceae
Genus : Colchicum
Spesies : Colchicum autumnale
b. Gambaran Umum
Colchicum autumnale merupakan tanaman yang berasal dari benua Eropa,
terutama Inggris Selatan, Sanyol, Portugal, dan Rusia. Pada musim gugur
Colchicum autumnale berwarna putih, merah muda, lavender atau bunga ungu
yang berbentuk seperti gelas sampanye dengan tinggi 12,7-17,8 cm dan lebar 5-
7,6 cm. Bunga-bunga muncul dari umbi yang merupakan organ penyimpanan yang
terlihat seperti bola tanpa sisik, tetapi sebenarnya batang dimodifikasi yang
menggantikan dirinya setiap musim dengan umbi baru yang membentuk di atas
sebelumnya. Besar umbi adalah dengan diameter sebesar 2,5-5 cm dan sat bagian
besar dapat menghasilkan sebanyak enam bunga. Satu atau dua minggu setelah
bunga telah menunjukkan diri, 5-8 sempit tali berbentuk daun agak berdaging
dengan panjang 15-30.5 cm.
c. Kandungan
2,5 gram biiji dan 25 gram tingtur mengandung 10 mg colchicine.
d. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme Antiinflamasi
Colchicine digunakan untuk beberapa penyakit inflamasi seperti
arthritis, nyeri pada pasien gout, dan Peyronies disease.Colchicine akan
menurunkan pelepasan asam laktat dan memperlambat pergerakan
granulosit ke arah lokasi inflamasi. Aksi ini akan menghentikan siklus
yang mengarah pada respon inflamasi.
2) Dosis
Bentuk sediaan yaitu berupa bubuk dan tingtur dari biji kamboja
Jepang, serta ekstrak alkoholik. Dosis yang dapat digunakan adalah 10
tetes dari tingtur dua kali sehari. Untuk kemanannya, penggunaan
colchicine dapat dikombinasikan degan pemberian vitamin E.
2.2.7 Jelatang (Urtica dioica L.)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Hamamelididae
Ordo : Urticales
Famili : Urticaceae
Genus : Urtica L.
Spesies : Urtica dioica L. (European Medicines Agency, 2007)
b. Gambaran Umum
Jelatangadalah tumbuhan yang daunnya berbulu (miang) yang dapat
menyebabkan gatal pada kulit jika bersentuhan. Keberadaan jelatang ini sering
diabaikan oleh orang-orang karena bentuknya yang tidak menarik dan bisa
menyebabkan rasa panas, gatal dan bentol jika disentuh. Habitat jelatang adalah
daerah yang memiliki kelembaban yang tinggi. anaman ini memiliki perlindungan
berupa bulu-bulu kecil, yang akan melepaskan bahan kimia penyengat ketika
disentuh, pada seluruh bagian tanamannya sehingga akan membuat gatal ketika
disentuh.
Jelatang merupakan tanaman perennial (tahunan) yang berkembangbiak
dengan rhizoma sehingga membentuk rumpun. Tinggi batangnya sekitar 1-2 m.
Daun, batang dan bunga jelatang ditutupi oleh bulu-bulu yang berbau menyengat.
Batangnya bisa bercabang atau tidak, tumbuh tegak atau menjalar di tanah.
Lembar daun berbentuk elips dengan dimensi 6-20 x 2-13 cm. Tepian daun
bergerigi dan ujungnya lancip (Gambar 1). Selain dengan cara vegetatif
(menggunakan rhizoma), jelatang (Urticadioica L.) juga dapat berkembangbiak
dengan cara generatif, yaitu dengan produksi biji.
Jelatang memproduksi banyak biji dalam setiap proses reproduksinya. Jelatang
yang ditanam di area yang teduh menghasilkan sekitar 500 hingga 5000 biji
sementara tanaman yang tumbuh di area yang disinari cahaya matahari dengan
baik menghasilkan 10.000 hingga 20.000 biji. Biji-biji tersebut tidak bersifat
dorman dan bisa bergerminasi 5-10 hari setelah mencapai kematangan.
c. Kandungan
Bulu jelatang memiliki kandungan asam format dan histamin sehingga dapat
mengatasi proses inflamasi yang terjadi pada eksim dan juga rematik. Jelatang
juga mengandung sterol dan flavonoid yang bermanfaat sebagai anti inflamasi.
Jelatang mengandung senyawa-senyawa berikut: polisakarida, vitamin C, karoten
serta flavonoid quercetin, rutin, kaempferol dan beta-sitosterol (Fragoso et
al., 2008). Daun jelatang mengandung 14,4 mg/100 g -tokoferol; 0,23 mg/100 g
riboflavin; 13 mg/100 g besi; 0,95 mg/100 g seng; 873 mg/100 g kalsium; 75
mg/100 g fosfor; dan 532 mg/100 g kalium (Aksu dan Kaya, 2004
d. Manfaat
Pucuk stinging nettle digunakan sebagai sayuran di banyak daerah. Sebagian
orang membuang air rebusan pertamanya untuk menghilangkan bau yang
menyengat, sementara yang lainnya tidak. Selain sebagai sayuran, herbal ini
digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit.
Penyakit-penyakit yang dimaksud antara lain penyakit kelamin dan saluran
kencing yang ringan (nocturia, dysuria, penghambatan saluran ginjal, iritasi
kantung kemih, dan infeksi), gangguan ginjal, alergi, diabetes, pendarahan internal
(mencakup pendarahan uterine, epistaxis, dan melena), anemia, penyakit saluran
pencernaan yang ringan (diare, disentri, dan keasaman lambung yang meningkat),
sakit muskoluskeletal, osteoarthritis, dan alopecia (Fragoso et al., 2008).
Menurut beberapa peneliti, penggunaan biji dan daun Urtica dioica L. dengan
atau tanpa tanaman lainnya dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti
diabetes, eczema, hemorrhoid, inflamasi hati, anemia, rematik, dan kanker prostat
(Aksu dan Kaya, 2004). Akar jelatang juga diketahui dapat mengobati penyakit
BPH (benign prostat hyperplasia) karena memiliki efek anti-proliferatif pada sel-
sel epithelial dan stromal dari prostat (Durak et al., 2004).
Beberapa ahli medis menggunakan ekstrak daun jelatang yang dikombinasikan
dengan obat anti-radang nonsteroidal atau analgesik lainnya. Suatu penelitian
pendahuluan menunjukkan penambahan daun jelatang dapat mengurangi rasa sakit
pada pasien yang menderita osteoarthritis pada jempolnya (Fragoso et al., 2008).
Karena efek hipotensifnya, ekstrak jelatang sering dimanfaatkan sebagai obat
tradisional untuk hipertensi. Suatu penelitian pada tikus menunjukkan bahwa
jelatang memiliki efek antihiperglikemik, bradikardial, hipotensif, diuretik, dan
antiagregant (El Haouari et al., 2007). Ada beberapa data yang menunjukkan
jelatang mampu menurunkan kadar gula darah. Suatu hasil studi yang dipaparkan
dalam El Haouari et al. (2007) mendemonstrasikan bahwa ketika diberikan ekstrak
air dari jelatang (AEN = aqueous extract of nettle) sebesar 250 mg/kg berat badan
30 menit sebelum konsumsi glukosa, terjadi efek penurunan kadar gula darah
(333,4% lebih kecil dari kontrol pada pengukuran 1 jam setelah konsumsi
glukosa).
e. Aktivitas Antiinflamasi
1) Mekanisme antiinflamasi
Stinging nettle menunjukkan aktivitas antiinflamasi melalui beberapa
mekanisme; ekstrak Urtica menghambat enzim siklooksigen dan lipoksigenase
(gambar 2), bertanggung jawab atas produksi berturut-turut prostaglandin dan
leukotrien. Rebusan nettle mengandung asam fenolat dalam jumlah tinggi,
yang berperan sebagai inhibitor lipoksigenase.
2) Dosis
Dosis harian rata-rata yang direkomendasikan adalah 8-12 g simplisia.
Preparasi dapat dibuat dalam infus atau ekstrak cair (1:1 dalam 25% alkohol).
Untuk menyiapkan infus, gunakan 1,5 g tumbuhan yang telah dipotong halus
dalam air dingin, didihkan sebentar dan biarkan dalam air panas selama 10
menit, kemudian saring.
Dalam materia medica herbal tanaman ini efektif digunakan dalam
mengobati diare anak. Untuk anak-anak dosis yang digunakan adalah 200 mg
kapsul dua sampai tiga kali sehari. Urtica juga mengurangi gejala demam.
Dosis yang digunakan adalah dua kapsul 200 mg tiga kali sehari.
Urtica mengandung sitosterol bebas dan glikosilasi. sitosterol
mengurangi sintesis prostaglandin dalam prostat dan berguna untuk mengobati
hipertrofi prostat jinak. Urtica juga digunakan untuk mengobati sakit kepala
migrain. Dosis yang digunakan adalah 2 kapsul setiap 2 jam pada gejala
pertama migrain.
3) Efikasi klinik
Stinging nettle merupakan obat herbal antiinflamasi yang menjanjikan.
Monografi Commision E 1987 menyebutkan bahwa preparasi nettle (daun dan
bagian atas) telah disetujui untuk digunakan sebagai pengobatan pendukung
untuk komplain rematik. Suatu penelitian random terkontrol menggunakan
rebusan yang dibuat dari bagian aerial dari tumbuhan menunjukkan efikasi
klinik pada artritis akut.

4) Efek samping/Kontraindikasi
Stinging nettle dapat memiliki efek yang tidak diinginkan. Pada suatu
survey pemasaran dari 8955 pasien, efek merugikan terjadi sebesar 1%
(n=110). Termasuk komplain gastrointestinal (n=57), reaksi alergi (n=12),
pruritus (n=6) dan mikturition (n=11). Obat menjadi kontraindikasi ketika ada
retensi cairan yang dihasilkan dari fungsi kardiak atau renal yang berkurang.

2.2.8 Cakar Setan (Harpagophytum procumbens)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Pedaliaceae
Genus : Harpagophytum
Spesies : Harpagophytum procumbens
b. Gambaran umum
Cakar setan adalah umbi akar sekunder dari Harpagophytum procumbens
(Burch) DC seperti Meisson (Fam. Pedaliaceae), sebuah ramuan Afrika dari
daerah gurun Afrika Barat Daya. Tumbuhan asli dari savana di Afrika Selatan,
Botswana dan Namibia, dan digunakan dalam pengobatan tradisional Afrika
Selatan untuk pengobatan berbagai gangguan, seperti demam, gangguan perut,
nyeri persalinan dan penyakit rematik.
c. Morfologi Tanaman
Daun cakar setan terdiri dari helaian daun dan tangkai daun. Berdasarkan
kelengkapan yang dimiliki, daun cakar setan masuk ke dalam golongan daun
bertangkai karena terdiri dari helaian daun dan tangkai daun. Cakar setan memiliki
daun yang berjenis daun tunggal karena setiap tangkai hanya menyokong satu
daun saja. Tata letak daun pada suatu tanaman disebut phyllotaxis. Phillotaxis
daun dari dari tanaman cakar setan adalah menyebar. Hal itu terlihat dari letak
daun tang memang tidak beraturan. Tata letak daun yang menyebar disebut dengan
istilah sparsa. Helaian daun cakar setan benbentuk bulat disertai dengan lekukan.
Permukaan daun dipenuhi oleh bulu-bulu halus berwarna putih. Rambut yang
menutupi daun cakar setan memiliki sifat lengket apabila disentuh.
Bunga dari tumbuhan cakar setan mekar saat musim panas dimulai.Bunga
cakar setan berwarna kuning cerah dengan bercak-bercak warna coklat pada
bagian tengahnya. Bunga cakar setan berbentuk seperti terompet dengan panjang
kurang lebih 4,4 cm dikelilingi 5 lekukan mahkota bunga. Bagian dalam lubang
teromper berwarna bercak coklat. Bagian bunga cakar setar terdiri dari tangkai
bunga, kelopak bunga, kepala sari, kepala putik dan mahkota bunga. Melihat dari
kelengkapan bunga yang dimiliki oleh cakar setan, bunga tersebut termasuk bunga
sempurna dan dapat menghasilkan buah. Bagian luar bunga yang berbentuk
terompet juga memiliki bulu halus yang bersifat lengket.
Buah cakar setan yang masih muda berwarna hijau. Bentuk buah cakar setan
lonjong dengan ujung meruncing dan melengkung. Buah inilah yang nantinya
akan kering dan jatuh ketanah. Buah cakar setan yang sudah kering berwarna
merah dan akan membelah menjadi dua mebentuk seperti cakar.
Batang cakar setan berwarna hijau agak kecoklatan. Seluruh permukaan batang
dipenuhi oleh bulu-bulu halus dan lengket seperti halnya bulu bada daun dan
bunga.Batang tanaman ini tumbuh mendatar pada permukaan tanah. Batang dari
cakar setan termasuk batang yang lunak atau herba.
d. Kandungan
Kandungan utama meliputi iridoids (termasuk harpagosid dan harpagid),
fitosterol, triterpen (asam oleanolic) dan fenol. Iridoids terdapat 0,5-3% dari berat
kering obat. Perlu dicatat bahwa bagian-bagian tanaman lainnya (bunga, batang
dan buah yang matang) tidak mengandung harpagosid.
e. Aktivitas farmakologi
1) Mekanisme antiinflamasi
Kerusakan jaringan dan disertai distorsi membran plasma mengaktifkan
enzim fosfolipase A2 yang memotong asam arakidonat bebas dari tempat
ikatannya pada membrane fosfolipid. Hal ini membuatnya rentan terhadap
aktivitas enzimatik cycloxygenase (dengan produksi prostaglandin) dan
lipoxygenase (dengan produksi leukotrien). Prostaglandin dan leukotrien
adalah molekul yang pro- inflamasi dan dengan demikian dapat menghasilkan
peradangan, nyeri dan demam. Penghambatan metabolism asam arakidonat
dihasilkan dari efek anti inflamasi.
2) Efikasi klinis
German Commission E yang menyatakan monografi cakar setan
diindikasikan untuk mendukung pengobatan gangguan muskuloskeletal
degeneratif. Sebuah tinjauan baru yang sistematis melaporkan lima acak,
plasebo-terkontrol, uji klinis double blind untuk penyakit rematik (nyeri
punggung ringan dan osteoarthritis). Semua hasil percobaan menunjukkan
lebih banyak kasus bebas rasa sakit pada pasien yang diobati dengan cakar
setan (3-4 minggu pengobatan) dibandingkan dengan plasebo. Bukti lain
menunjukkan bahwa cakar setan sebanding dalam keberhasilan dan unggul
dalam keselamatan dengan obat referensi diacerhein dalam pengobatan
osteoarthritis, mengurangi kebutuhan analgesik dan terapi anti- inflamasi non-
steroid.
3) Kontraindikasi
Frekuensi kejadian merugikan yang terkait dengan penggunaan cakar
setan rendah. Kejadian yang paling sering dilaporkan adalah diare yang terjadi
pada sekitar 8% pasien. Komisi E Jerman mengatakan ulkus lambung dan
duodenum sebagai kontraindikasi. Cakar setan dinyatakan kontraindikasi pada
penderita diabetes (aksi hipoglikemik) dan pada wanita hamil, namun tidak ada
data ilmiah yang mendukung pernyataan ini.
4) Sediaan/Dosis
The European Scientific Cooperative of Phytotherapy (ESCOP)
menunjukkan bahwa dosis harian tidak boleh melebihi 9g akar kering. Ini
dapat diberikan sebagai ekstrak cair (1:1 dalam alkohol 25%), tinktur (1:5
dalam alkohol 25%) atau sediaan padat. Ekstrak hidroalkoholik
Harpagophytum (400-1200 mg setiap hari, sesuai dengan 30-100 mg
harpagosid) telah digunakan pada kebanyakan uji klinis. Namun, perlu dicatat
bahwa dalam ekstrak komersial kandungan harpagosid berkisar dari 0,8 sampai
5%. Farmakope Jerman menetapkan kandungan minimal harpagosid 1%
berdasarkan obat kering. Bentuk galenik cakar setan yang digunakan secara
topikal (telah dinebulisasi) dan oral; yang terakhir akan lebih aktif jika
digunakan dalam formulasi tahan lambung.

2.2.9 Kelor (Moringa oleifera Lam)


a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan Berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan Biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan Berbunga)
Class : Dicotyledoneae (Berkeping dua)
Subclass : Dialypetalae
Ordo : Rhoeadales (Brassicales)
Familia : Moringaceae
Genus : Moringa
Species : Moringa oleifera Lam (USDA,2013)
b. Gambaran umum
Tanaman kelor mengandung gizi yang tinggi dan sangat bermanfaat untuk
perbaikan gizi. Terbukti bahwa kelor telah berhasil mencegah wabah kekurangan
gizi di beberapa negara di Afrika dan menyelamatkan banyak nyawa anak-anak
dan ibu-ibu hamil. Dilihat dari nilai gizinya kelor adalah tanaman berkhasiat sejati
(miracle tree), artinya tanaman ini bisa dimanfaatkan dari akar, batang, buah dan
daun serta mengandung gizi tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa
kandungan bioaktif dalam daun kelor berpotensi sebagai senyawa obat diantaranya
sebagai antiinflamasi, antifungi, antikanker, hepatoprotektif serta antioksidan.
c. Morfologi
Kelor (Moringa oleifera Lam) tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang
(perenial) dengan tinggi 7 - 12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna
putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang
tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk,
bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal
(imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda - setelah dewasa
hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1 - 2 cm, lebar 1 - 2 cm, tipis
lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan
menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak
daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar
aroma khas. Buah kelor berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20 - 60 cm, buah
muda berwarna hijau - setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat - berwarna
coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12 - 18 bulan. Akar tunggang,
berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji)
maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi
sampai di ketinggian 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar
di halaman rumah atau ladang.
d. Kandungan
Menurut Simbolan et al., (2007), kandungan kimia yang dimiliki daun kelor
yakni asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin,
leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan
methionin. Daun kelor juga mengandung makro elemen seperti potasium, kalsium,
magnesium, sodium, dan fosfor, serta mikro elemen seperti mangan, zinc, dan
besi. Daun kelor merupakan sumber provitamin A, vitamin B, Vitamin C, mineral
terutama zat besi. Akar, batang dan kulit batang kelor mengandung saponin dan
polifenol. Selain itu kelor juga mengandung alkaloida, tannin, steroid, flavonoid,
gula tereduksi dan minyak atsiri. Akar dan daun kelor juga mengandung zat yang
berasa pahit dan getir. Sementara biji kelor mengandung minyak dan lemak
(Utami dan Puspaningtyas, 2013).
Tabel 1. Kandungan Kimia yang diisolasi dari Moringa oleifera
Bagian Kandungan Kimia

Akar 4-(-L-rhamnopiranoksiloksi)-benzilglukosinolat dan


benzilglukosinolat

Batang 4-hidroksimellein, vanillin, -sitosteron, sam oktacosanik dan -


sitosterol

Kulit Kayu 4-(-L-rhamnopiranoksiloksi)-benzilglukosinolat

Eksudat Gum L-arabinosa, D-galaktosa, asam D-glukuronat, L-rhamnosa, D-


mannosa, D-xylosa dan leukoantosianin

Daun Glikosida niazirin, niazirinin dan three mustrad oil glycosides, 4-[4-
O-asetil--L-rhamnosiloksi)benzil], isothiosianat, niaziminin A dan
B

Bunga yang D-mannosa, D-glukosa, protein, asam askorbat, polisakarida


Matang
Keseluruhan Nitril, isothiosianat, tiokarbanat, 0-[2-hidroksi-3-(2-
Biji hepteniloksi)]-propilundekaonat, 0-etil-4-[(-1-ramnosiloksi)benzil]
karbamat, metil-p-hidroksibenzoat dan -sitosterol

Biji yang Tua Crude protein, crude fat, karbohidrat, metionin, sistein, 4-(-L-
ramnopilanosiloksi)-benzilglukosinolat, benzilglukosinolat,
moringin, mono-palmitat dan di-oleic trigliserida

Minyak Biji Vitamin A, beta karoten, prekursor vitamin A

Sumber : (Singh et al.,2012)

e. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme antiinflamasi
Penelitian Nieman (2007) menunjukkan bahwa ekstrak air daun kelor
memberikan aktivitas antiinflamasi secara invitro dengan mekanisme
penurunan kadar TNF- melalui penghambatan NF-kB (Nuclear Factor Kappa
B). Kandungan senyawa flavonoid dalam daun kelor diduga sebagai senyawa
yang memberikan aktivitas antiinflamasi dengan menghambat aktivitas enzim
siklooksigenase. Kuersetin yang merupakan golongan flavonoid merupakan
komponen bioaktif utama kelor yang memiliki mekanisme sebagai
antiinflamasi (Coppin dkk, 2013). Penelitian Mediavillla dkk (2006) dan
Cheong (2004) menunjukkan kuersetin dapat menghambat ekspresi COX 2.
Aktivitas penghambatan COX-2 oleh kuersetin disebabkan oleh gugus 34
OH pada cincin B.
Mekanisme kerja ekstrak etanol daun kelor dalam menghambat ekspresi
COX-2 menyebabkan asam arakhidonat tidak berubah menjadi prostaglandin
endoperoksida siklik. Prostaglandin endoperoksida siklik merupakan prazat
untuk semua prostaglandin sehingga biosintesis prostaglandin terhenti.
Prostaglandin berfungsi untuk meningkatkan permeabilitas pembuluh darah
yang menyebabkan udem dan kemotaksis neutrofil. Dengan demikian
penghambatan terhadap aktivitas enzim siklooksigenase oleh ekstrak etanol
daun kelor akan menurunkan volume udem dan ekspresi COX-2 melalui
neutrofil.
2) Dosis
Daya antiinflamasi ekstrak etanol dosis 140 mg/kgBB mendekati daya
antiinflamasi natrium diklofenak. Daya antiinflamasi pada dosis 140 mg/kgBB
sebesar 24,302,960% dan menurunkan ekspresi COX-2 46,376,434%
(Rini&Pramita, 2016).

2.2.10 Petai Cina (Leucaena glauca, Benth)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Famili : Mimosaceae
Genus : Leucaena
Spesies : Leucaena glauca,Benth (van Steenis, 1947)

b. Gambaran Umum
Petai cina (Leucaena glauca, Benth) merupakan salah satu tanaman yang
sudah dikenal masyarakat sebagai obat bengkak. Pemanfaatannya dengan cara
dikunyah-kunyah atau diremas-remas, kemudian ditempelkan pada bagian yang
bengkak. Selain itu, masyarakat juga menggunakan petai cina sebagai bahan
makanan, lauk-pauk atau makanan ternak (Anonim,1987).
c. Morfologi
Tanaman petai cina memiliki ciri morfologi sebagai berikut, perdu atau
pohon, tinggi 2-10 m. Ranting bulat silindris, pada ujungnya berambut rapat. Daun
menyirip rangkap. Tangkai kebanyakan dengan kelenjar di bawah pasangan sirip
yang terbawah. Sirip 3-10 pasang. Anak daun tiap sirip 5-10 pasang, bentuk garis
lanset, runcing atau dengan bagian ujung yang runcing, dengan pangkal yang tidak
sama sisi, berumbai, sisi bawah hijau biru, 6-21 kali 2-5 mm. Poros utama
berambut rapat. Bunga berbilangan lima. Bongkol bertangkai panjang. Tabung
kelopak berbentuk lonceng, dengan gigi-gigi pendek, tinggi kelopak 3 mm. Daun
mahkota lepas, bentuk solet, panjang kelopak 5 mm. Benang sari 10, panjang
kelopak 1 cm. Polongan di atas tanda bekas mahkota bertangkai pendek, bentuk
pita, pipih dan tipis, 10-18 kali kelopak 2 cm, diantara biji-biji dengan sekat (van
Steenis, 1947).
d. Kandungan Kimia
Kandungan kimia Biji dari buah petai cina yang sudah tua setiap 100 g
mempunyai nilai kandungan kimia berupa zat kalori sebesar 148 kalori, protein
10,6 g, lemak 0,5 g, hidrat arang 26,2 g, kalsium 155 mg, besi 2,2 mg, vitamin A,
Vitamin BI 0,23 mg (Thomas, 1992). Daun petai cina mengandung zat aktif
alkaloid, saponin, flavonoid dan tanin (Anonim, 1998).
Pada daun petai china terdapat kandungan saponin yang berfungsi
meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru pada luka dan juga memacu
pembentukan kolagen dengan adanya proteisehingga dapat mempercepat proses
penyembuhan luka. Kandungan lain yang terdapat dalam daun petai cina adalah
tanin yang memiliki daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang disebabkan
oleh bakteri/jamur. Dan juga kandungan flavonoid yang berguna sebagai analgesik
dan antiinflamasi.
e. Manfaat Tumbuhan
Manfaat tanaman petai cina, daun muda, tunas bunga atau polongan dimakan
sebagai lauk pauk serta untuk makanan ternak (Anonim,1987). Tanaman petai cina
juga berkhasiat sebagai obat cacingan, luka baru dan bengkak. Penggunaan daun
petai cina di masyarakat untuk obat bengkak biasanya digunakan daun petai cina
yang masih segar dengan cara dikunyah-kunyah atau ditumbuk halus dan
ditempelkan pada bagian yang luka atau bengkak (Thomas, 1992).
f. Aktivitas Farmakologi
1) Mekanisme Antiinflamasi
Senyawa dalam daun petai china yang berkhasiat sebagai anti inflamasi
adalah flavonoid. Flavonoid memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi dengan
menghambat asam arakidonat dari membran, yang merupakan mediator
penting dalam proses inflamasi. Pelepasan asam arakidonat merupakan titik
awal untuk respon inflamasi secara umum, dengan terhambatnya pelepasan
asam arakidonat maka proses inflamasi juga terhambat.
2) Dosis
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan maka efeknya
semakin besar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kandungan kimia yang
memberikan efek antiinflamasi semakin besar. Kandungan Flavonoid dari petai
china diduga dapat memberikan efek sebagai antiinflamasi. (Sitti Amirah et al,
2014). Penelitian (Wahyuni, 2006) menunjukkan bahwa infusa daun petai cina
dengan konsentrasi 40% mempunyai efek antiinflamasi pada tikus jantan galur
Wistar yang diinduksi dengan 0,1 ml karagenin 1% dengan nilai AUC
(ml.Jam) sebesar 0,24.
Data dosis penyembuhan luka dengan menggunakan gerusan daun petai
(R.Ika,2014) :
a) Efek perawatan luka bersih dengan menggunakan gerusan daun
petai cina 10 gram dapat mempercepat penyembuhan luka
bersih dengan rata-rata penyembuhan 6,8 dengan lama
penyembuhan terbanyak pada hari ke tujuh.
b) Efek perawatan luka bersih dengan menggunakan gerusan daun
petai cina 20 gram dapat mempercepat penyembuhan luka
bersih dengan rata-rata penyembuhan 6,2 dengan lama
penyembuhan terbanyak pada hari ke enam.
c) Efek perawatan luka bersih dengan menggunakan gerusan daun
petai cina 30 gram dapat mempercepat penyembuhan luka
bersih dengan rata-rata penyembuhan 5,8 dengan lama
penyembuhan terbanyak pada hari ke lima.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Inflamasi merupakan suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi
yang rusak yang menyebabkan lepasnya mediator-mediator inflamasi seperti histamin,
serotonin, bradikinin, dan prostaglandin yang menimbulkan reaksi berupa panas,
nyeri, bengkak, kemerahan serta gangguan fungsi (Katzung, 2004).
Antiinflamasi merupakan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi
peradangan. Berdasarkan mekanisme kerja obat-obat antiinflamasi terbagi dalam dua
golongan, yaitu obat antiinflamasi golongan steroid dan obat antiinflamasi non steroid.
Mekanisme kerja obat antiinflamasi golongan steroid dan non-steroid terutama bekerja
menghambat pelepasan prostaglandin ke jaringan yang mengalami cedera (Gunawan,
2007). Namun, obat-obat golongan AINS biasanya menyebabkan efek samping berupa
iritasi lambung (Kee dan Hayes, 1996).
Antiinflamasi yang berasal dari tanaman memiliki efek samping yang lebih kecil
dibandingkan dengan obat konvensional sehingga lebih aman digunakan terutama
untuk penggunaan jangka panjang.
Banyak tanaman yang telah diteliti memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi
diantaranya Tapak liman (Elephantophus scaber L.), Sambiloto (Andrographis
paniculata), Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus), Tembelekan (Lantana camara
L.), Nanas (Ananas comosus), Meadow Saffron (Colchicum autumnale), Jelatang
(Urtica dioica L.), Cakar Setan (Harpagophytum procumbens), Kelor (Moringa
oleifera Lam), Petai Cina (Leucaena glauca, Benth).
Sebagian besar bekerja sebagai antiinflamasi melalui mekanisme menghambat
siklooksigenase dan lipooksigenase. Namun banyak pula mekanisme lainnya seperti
menghambat akumulasii leukosit, menghambat degranulasi neutrofil, menghambat
pelepasan histamin, menstabilkan ROS, meningkatkan pelepasan asam laktat,
memperlambat gerak granulosit menuju lokasi inflamasi serta menurunkan kadar
TNF-alfa dengan menghambat NF-kB.
DAFTAR PUSTAKA

Burgos.R. A., J. L. Hancke., J. C. Bertoglio., S. Arriagada.,M. Calvo dan D. D. Cceres.,


2009. Efficacy of an Andrographis paniculata composition for the relief of rheumatoid
arthritis symptoms: a prospective randomized placebo-controlled trial.,Clin Rheumatol :DOI
10.1007/s10067-009-1180-5

( http://floridata.com/Plants/Liliaceae/Colchicum%20autumnale/811)
Aksu, M.I dan Kaya, M. 2004. Effect of usage Urtica dioica L. on
microbiological properties of sucuk, a Turkish dry-fermented sausage. Food Control.
15: 591-595.
Durak, I., Biri, H., Devrim, E., Szen, S., Avci, A. 2004. Aqueous extract of
Urtica dioica makes significant inhibition on adenosine deaminase activity in prostate
tissue from patients with prostate cancer. Cancer Biology and Theraphy 3 (9): 855-
857.
El Haouari, M., Jardin, I., Mekhfi, H., Rosado, J.A., Salido, G.M. 2007. Urtica
dioica extract reduces platelet hyperaggregability in type 2 diabetes mellitus by
inhibition of oxidant production, Ca2+ mobilization and protein tyrosine
phosphorylation. J. Appl. Biomed (5): 105-113.
European Medicines Agency. 2007. Evaluation of medicines for human use:
community herbal monograph on Urtica dioica L. and Urtica urens L. herba. Draft.
London.
Fragoso, L.R., Esparza, J.R., Burchiel, S.W., Ruiz, D.H., Torres, E. 2008. Risk
and benefits of commonly used herbal medicines in Mexico. Toxicology and Applied
Pharmacology (227): 128-135.
Cheong,E., Ivory, K., Doleman, J., Parker, M.L., Rhodes, M., &Johnson,I.T., 2004,
Synthetic and naturally occurring COX-2 inhibitors suppressproliferation in a human
oesophageal adenocarcinoma cell line (OE33) by inducing apoptosis and cell cycle
arrest, Carcinogenesis,25(1): 1945-1952.
Coppin, J., Xu, Y., Chen, H., Pan, M., 2013, Determination of Flavonoid by LC/MS and
AntiinflamatoryActivity in Moringa oleifera, Journal of Functional Food, 1892-1899
Singh G P Rakesh G Sudeep B, S Kumar S. 2012. Anti-inflamatory Evaluation of Leaf
Extract of Moringa oleifera. Journal of Pharmaceutical and Scientific Innovation, 1
(1); 22-24
Mediavillla, V.G, Crespo, I., Collado, P., Esteller, A., Campos,S., Tunon, M., 2006, The
antiinflammatory flavones quercetin and kaempferol cause inhibition ofinducible
nitric oxide synthase, cyclooxygenase-2 and reactive C-protein, and down-regulation
of the nuclear factor kappaB pathway in Chang Liver cells, European Journal of
Pharmacology, 557: 221-229.
USDA (United States Department of Agriculture). 2013. Natural Resources Conservation
Service : PLANTS Profile Moringa oleifera Lam.
Horseradishtree.http://plants.usda.gov

R.Ika et al.2014. Perawatan Luka Pada Tikus. Laboratorium Patologi Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Ganiswarna, S.G., 1995,Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran, Universitas Indonesia, Gaya Baru, Jakarta.
Van Steenis, C.G.G.J. 1947. Flora untuk Sekolah. Diterjemahkan oleh Surjowinoto, M.,
Jurusan Botani Universitas Gajah Mada. Pradnya Paramita. Jakarta. 34-69 : 315-316.
Wilmana, P.F., dang an, S,. 2007. Analgesik-Antipiretik Analgetik Anti-Inflamasi Nonsteroid
dan Obat Gangguan Sendi Lainnya. Dalam: Gan,S.,Setiabudy, R.,dan Elyshabeth, eds.
Farmakologi dan Terapi Edisi V. Jakarta. Departemen Farmakologi dan Terapeutik
FK UI.