Anda di halaman 1dari 80

Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi

Terhadap Kemampuan Kognitif Dan Psikomotor Pasien dalam


Mengontrol Halusinasi Di Ruangan Pusuk Buhit Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan

Skripsi

Oleh

Castro

091121028

Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara

2010

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Kata Pengantar

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

karuniaNya lah skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah

direncanakan.

Tidak terhingga ucapan terima kasih aku ucapkan kepada kedua orang tua

ku, untuk ibu yang sangat dan selalu aku sayangi yaitu ibu E. Siburian dan bapak

yaitu KTM. Togatorop, S. Pd yang menjadi penyemangat dikala aku sudah merasa

lelah dan kepada beliau proposal penelitian ini aku persembahkan. Semoga Tuhan

Yesus memberikan ibu dan bapak yang terbaik disepanjang usia yang telah dan

akan dilalui, terima kasih untuk cinta yang terus mengalir dari kalian kedua orang

tua ku. Terima kasih juga untuk seluruh saudara dan keluarga, kalianlah motivator

dalam hidup ku aku berharap dapat membuat kalian bahagia.

Ucapan terima kasih juga Penulis sampaikan kepada :

1. dr. Dedi Ardinata M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

2. Ibu Jenny M. Purba S.Kp, MNS selaku Pembimbing I Skripsi.

3. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Pembimbing II Skripsi.

4. Ibu Rika Endah Nurhidayah S.Kp, M.Pd selaku Penguji Skripsi.

5. Ibu Nur Afi Darti S.Kp, M.Kep selaku Pembimbing Akademik.

Universitas Sumatera Utara


6. Ibu Lince Herawati, S.Pd, S.Kep, Ns selaku Kordinator Keperawatan Rumah

Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara-Medan.

7. Seluruh Civitas Akademika Fakultas Keperawatan USU yang telah

memberikan bimbingan selama masa perkuliahan.

8. Seluruh Staf dan Perawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara-

Medan yang telah membantu dalam penyusunan prosal penelitian ini.

9. Teman teman seperjuangan di Program A dan B Fakultas Keperawatan

USU 2009, terima kasih telah mengisi hari-hari perkuliahan dengan

persahabatan yang indah.

10. Untuk seluruh Pasien dengan Gangguan Persepsi halusinasi di Rumah Sakit

Jiwa Daerah Sumatera Utara-Medan yang bersedia menjadi responden dalam

penelitian ini (terima kasih atas kerja samanya).

Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan di Bidang Keperawatan dan pihak-pihak yang

membutuhkan dan penulis sangat mengharapkan adanya saran yang bersifat

membangun untuk perbaikan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Medan, Januari 2011

Penulis

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul

Halaman Pengesahan .................................................................................. i

Kata Pengantar ........................................................................................... ii

Daftar Isi.................................................................................................... iv

Daftar Tabel............................................................................................. viii

Abstrak ...................................................................................................... ix

Bab 1. Pendahuluan .................................................................................. 1

1. Latar Belakang ....................................................................... 1

2. Pertanyaan Penelitian.............................................................. 5

3. Tujuan Penelitian .................................................................... 5

4. Manfaat Penelitian .................................................................. 6

Bab 2. Tinjauan Pustaka .......................................................................... 7

1. Konsep Halusinasi ......................................................................... 7

1.1 Pengertian Halusinasi ..................................................... 7

1.2 Etiologi .......................................................................... 7

1.3 Rentang Respon Halusinasi ............................................ 9

1.4 Tahapan, Karakteristik, dan Perilaku yang ditampilkan 10

1.5 Penatalaksanaan Medis pada Halusinasi ....................... 11

Universitas Sumatera Utara


2. Standar Asuhan Keperawatan .................................................... 12

Bab 3. Kerangka Konseptual.................................................................. 20

1. Kerangka Konsep ................................................................ 20

2. Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ...................... 21

3. Hipotesis.............................................................................. 22

Bab 4. Metodologi Penelitian .................................................................. 23

1. Desain Penelitian ............................................................... 23

2. Populasi, Sampel Penelitian dan Tehnik Sampling ............. 23

3. Lokasi dan Waktu Penelitian.............................................. 25

4. Pertimbangan Etik ............................................................. 25

5. Instrumen Penelitian .......................................................... 26

6. Uji Validitas dan Reabilitas ............................................... 27

7. Pengumpulan Data ............................................................. 27

8. Analisa Data ..................................................................... 29

Bab 5. Hasil dan Pembahasan ................................................................ 30

1. Hasil penelitian .................................................................. 30

2. Pembahasan ....................................................................... 34

Universitas Sumatera Utara


Bab 6. Kesimpulan dan Saran ................................................................ 37

1. Kesimpulan ........................................................................ 37

2. Saran .................................................................................. 38

Daftar Pustaka

Universitas Sumatera Utara


Lampiran

1. Lembar Persetujuan menjadi Responden Penelitian

2. Instrumen Penelitian

3. Panduan Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi dalam

Mengontrol Halusinasi

4. Riwayat Hidup

5. Lembar Bukti Bimbingan

6. Surat Pengantar Izin Survei Awal dari Fakultas Keperawatan USU

7. Surat Izin melakukan Survei Awal dari RSJ. Daerah Provinsi

Sumatera Utara Medan

8. Surat pengantar izin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU

9. Surat Izin melakukan penelitian dan telah selesai melakukan

penelitian dari RSJ. Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan

10. Lembar Master Tabel dan Pengolahan Data

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden ............. 30

Tabel 1.2. Kemampuan kognitif dan psikomotor responden sebelum dilakukan

asuhan keperawatan halusinasi ......................................................... 31

Tabel 1.3. Kemampuan kognitif dan psikomotor responden setelah dilakukan

asuhan keperawatan halusinasi ......................................................... 32

Tabel 1.4. Pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap

Kemampuan kognitif dan psikomotor responden dalam mengontrol

halusinasi ......................................................................................... 33

Universitas Sumatera Utara


Judul : Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan
Halusinasi Terhadap Kemampuan Kognitif dan
Psikomotor Pasien Halusinasi Dalam Mengontrol
Halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa
Daerah Sumatera Utara Medan
Nama : Castro
Nim : 091121028
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Tahun Akademik : 2010

Abstrak

Pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi adalah salah satu cara


mengatasi halusinasi dengan meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor
pasien dalam mengontrol halusinasinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui
pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap
kemampuan kognitif dan psikomotor pasien halusinasi dalam mengontrol
halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara Medan. Desain penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy Expriemental Design jenis One
Group Pretest-Posttest, dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden. Instrumen
penelitian ini terdiri dari kuesioner tentang kemampuan kognitif dan psikomotor
pasien dalam mengontrol halusinasi. Uji t dependen digunakan untuk melihat
pengaruh kemampuan kognitif dan psikomotor responden dalam mengontrol
halusinasi sebelum dan sesudah diberikan standar asuhan keperawatan halusinasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan cara mengontrol halusinasi
antara sebelum dan sesudah dilakukan standar asuhan keperawatan halusinasi
pada responden (nilai P = 0.000), Sehingga standar asuhan keperawatan halusinasi
direkomendasikan dilakukan pada pasien halusinasi sebagai tindakan keperawatan
generalis.

Kata kunci : Standar asuhan keperawatan halusinasi, kemampuan kognitif dan


psikomotor

Universitas Sumatera Utara


Judul : Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan
Halusinasi Terhadap Kemampuan Kognitif dan
Psikomotor Pasien Halusinasi Dalam Mengontrol
Halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa
Daerah Sumatera Utara Medan
Nama : Castro
Nim : 091121028
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Tahun Akademik : 2010

Abstrak

Pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi adalah salah satu cara


mengatasi halusinasi dengan meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor
pasien dalam mengontrol halusinasinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui
pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap
kemampuan kognitif dan psikomotor pasien halusinasi dalam mengontrol
halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara Medan. Desain penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy Expriemental Design jenis One
Group Pretest-Posttest, dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden. Instrumen
penelitian ini terdiri dari kuesioner tentang kemampuan kognitif dan psikomotor
pasien dalam mengontrol halusinasi. Uji t dependen digunakan untuk melihat
pengaruh kemampuan kognitif dan psikomotor responden dalam mengontrol
halusinasi sebelum dan sesudah diberikan standar asuhan keperawatan halusinasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan cara mengontrol halusinasi
antara sebelum dan sesudah dilakukan standar asuhan keperawatan halusinasi
pada responden (nilai P = 0.000), Sehingga standar asuhan keperawatan halusinasi
direkomendasikan dilakukan pada pasien halusinasi sebagai tindakan keperawatan
generalis.

Kata kunci : Standar asuhan keperawatan halusinasi, kemampuan kognitif dan


psikomotor

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Menurut World Health Organitation (WHO), prevalensi masalah

kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi, 25% dari penduduk dunia pernah menderita

masalah kesehatan jiwa, 1% diantaranya adalah gangguan jiwa berat, potensi

seseorang mudah terserang gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta

orang di seluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, saraf maupun perilaku.

Ronosulistyo (2008) menyebutkan, prevalensinya sekitar 11% dari total penduduk

dewasa di Indonesia. Persentase gangguan kesehatan jiwa itu akan terus

bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup masyarakat Indonesia.

Dari survei awal yang dilakukan, diketahui jumlah pasien penderita

gangguan jiwa yang dirawat di Rumah sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara

pada tahun 2009 berkisar 14.306 jiwa, dari jumlah tersebut 1929 pasien dirawat

inap, 12.377 pasien dirawat jalan, dan 1581 pasien yang dirawat inap mengalami

halusinasi (Laporan Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera

Utara, 2009).

Gangguan jiwa dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu gangguan jiwa

ringan (Neurosa) dan gangguan jiwa berat (Psikosis). Psikosis ada dua jenis yaitu

psikosis organik, dimana didapatkan kelainan pada otak dan psikosis fungsion

Universitas Sumatera Utara


tidak terdapat kelainan pada otak. Psikosis salah satu bentuk gangguan jiwa

merupakan ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau mengenali realitas yang

menimbulkan kesukaran dalam kemampuan seseorang berperan sebagaimana

mestinya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu gejala psikosis yang dialami

penderita gangguan jiwa adalah yang merupakan gangguan persepsi dimana

pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi (Maramis, 2005).

Halusinasi dapat didefenisikan sebagai terganggunya persepsi sensori

seseorang, dimana tidak terdapat stimulus (Varcarolis dalam Yosep, 2009).

Halusinasi dibedakan dari distorsi atau ilusi yang merupakan tanggapan salah dari

rangsang yang nyata ada. Menurut Stuart dan Sundeen (1995), 70% pasien

mengalami jenis halusinasi audiotorik, 20% halusinasi visual, 10% halusinai

pengecapan, taktil dan penciuman. Pasien merasakan halusinasi sebagai sesuatu

yang amat nyata, paling tidak untuk suatu saat tertentu (Kaplan, 1998).

Menurut Thomas (1991) halusinasi merupakan salah satu gejala yang

sering ditemukan pada pasien dengan gangguan jiwa, dimana halusinasi sering

diidentikkan dengan skizofrenia. Dari seluruh skizofrenia, 70% diantaranya

mengalami halusinasi, gangguan jiwa lain yang sering juga disertai dengan gejala

halusinasi adalah gangguan Manik Depresif dan Delirium (Purba, Eka, Mahnum,

Hardiyah, 2009).

Akibat yang ditimbulkan oleh gangguan tersebut dapat berakibat fatal

karena berisiko tinggi untuk merugikan dan merusak diri pasien sendiri, orang lain

Universitas Sumatera Utara


disekitarnya dan juga lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1995). Gangguan ini

biasanya berdampak pada kemampuan kognitif dan psikomotor pasien. Terkait

dengan tingginya prevalensi masalah kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi maka

sangat dibutuhkan pemberian standar asuhan keperawatan yang tepat dan benar

serta maksimal kepada masing-masing pasien gangguan persepsi: halusinasi

untuk menghadapi masalahnya dan meminimalkan resiko yang terjadi (Purba,

Eka, Mahnum, Hardiyah, 2009).

Menurut Carpenito (1996) dikutip oleh Keliat (2006), pemberian asuhan

keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama

antara perawat dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat

kesehatan yang optimal. Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan

proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian menentukan masalah atau

diagnosa, menyusun rencana tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi.

Untuk mengetahui lebih lanjut masalah yang terjadi pada pasien perlu dikaji lebih

lanjut tentang gangguan persepsi sensori: halusinasi pada pasien. Seperti, perawat

perlu mengkaji waktu, frekuensi dan situasi munculnya halusinasi yang dialami

oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu

terjadi halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi.

Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi

terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk mencegah

terjadinya halusinasi (Yosep, 2009). Hal ini menunjukan bahwa pengaruh

pelaksanaan standar Asuhan Keperawatan halusinasi akan mempengaruhi

kemampuan kognitif dan psikomotorik pasien dalam mengontrol halusinasinya.

Universitas Sumatera Utara


Adapun yang menjadi gambaran umum terhadap kemampuan kognitif

pasien gangguan persepsi halusinasi adalah pasien mampu mengenali

halusinasinya, sedangkan pada kemampuan psikomotor pasien yaitu pasien dapat

mengontrol halusinasinya dan pasien dapat mengikuti program pengobatan secara

optimal.

Telah banyak penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Daerah

Provinsi Sumatera Utara yang berhubungan dengan gangguan persepsi halusinasi,

tetapi penelitian tentang pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan

halusinasi terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam

mengontrol halusinasi belum pernah dilakukan (Wawancara dengan Bagian Diklat

Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara, 2010)

Sebagaimana telah diketahui bahwa kebanyakan pasien gangguan jiwa

mengalami halusinasi yang merupakan manifestasi dari ketidakmampuan pasien

beradaptasi dalam kehidupan dan lingkungan, diakibatkan oleh terjadinya

gangguan pada kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol

halusinasinya. Sementara itu dari informasi yang didapatkan melalui wawancara

dengan Pihak Diklat Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara (2010),

bahwasanya Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara belum memiliki

prosedur tetap (PROTAP) dan melaksanakan standar asuhan keperawatan

halusinasi ini. Sehingga timbul keinginan peneliti untuk mengetahui pengaruh

pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap kemampuan kognitif

dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi di Ruangan Pusuk Buhit

Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara


2. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi

terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol

halusinasi?

3. Tujuan Penelitian

3.1 Tujuan Umum

Mengetahui bagaimana pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan

halusinasi terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam

mengontrol halusinasi.

3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik pasien.

b. Mengetahui kemampuan kognitif dan psikomotor pasien sebelum

dilakukan asuhan keperawatan halusinasi.

c. Mengetahui kemampuan kognitif dan psikomotor pasien setelah

dilakukan asuhan keperawatan halusinasi.

d. Melihat pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi

terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam

mengontrol halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


4. Manfaat Penelitian

4.1 Praktek Keperawatan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan perawat dalam

pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap kemampuan kognitif

dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi.

4.2 Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bukti dasar yang dipergunakan

dalam wahana pembelajaran keperawatan jiwa, khususnya materi tentang

pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap kemampuan

kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi.

4.3 Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini digunakan sebagai data tambahan untuk penelitian

selanjutnya yang terkait dengan pengaruh pelaksanaan standar asuhan

keperawatan halusinasi terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor pasien

dalam mengontrol halusinasinya.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Halusinasi

1.1 Pengertian Halusinasi

Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan dari pancaindera tanpa adanya

rangsangan (stimulus) eksternal (Stuart & Laraia, 2001). Halusinasi merupakan

gangguan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak

terjadi. Suatu pencerapan panca indera tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu

penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui pancaindera tanpa

stimulus eksternal; persepsi palsu. Berbeda dengan ilusi dimana pasien mengalami

persepsi yang salah terhadap stimulus, salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa

adanya stimulus eksternal yang terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai

sesuatu yang nyata oleh pasien.

1.2 Etiologi

Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:

1.2.1 Faktor Predisposisi

1) Biologis

Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan

respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh

penelitian-penelitian yang berikut

Universitas Sumatera Utara


a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang

lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal,

temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.

b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang

berlebihan dan masalah-masalah pada sistem reseptor dopamin dikaitkan

dengan terjadinya skizofrenia.

c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan

terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak

klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel,

atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan

kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).

2) Psikologis

Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon

dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat

mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan

kekerasan dalam rentang hidup klien.

3) Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:

kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan

kehidupan yang terisolasi disertai stres.

1.2.2. Faktor Prespitasi

Universitas Sumatera Utara


Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah

adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna,

putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stresor dan masalah

koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).

Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:

1) Biologis

Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur

proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak

yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus

yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

2) Stres Lingkungan

Ambang toleransi terhadap stres yang berinteraksi terhadap stresor

lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

3) Sumber Koping

Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stresor.

1.3. Rentang Respon Halusinasi

Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada

dalam rentang respon neurobiologist (Stuart & Laraia, 2001). Ini merupakan

respon persepsi paling maladaptif. Jika individu yang sehat persepsinya akurat,

mampu mengidentifikasi dan menginterprestasikan stimulus berdasarkan

informasi yang diterima melalui panca indera (pendengaran, penglihatan,

penghidu, pengecapan, dan perabaan), pasien dengan halusinasi mempersepsikan

suatu stimulus panca indera walaupun sebenarnya stimulus tersebut tidak ada.

Universitas Sumatera Utara


Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal

mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang

diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Pasien mengalami ilusi jika interpretasi

yang dilakukannya terhadap stimulus panca indera tidak akurat sesuai stimulus

yang diterima. Rentang respon halusinasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Adaptif Maladaptif

Pikiran logis Kadang pikiran terganggu Gangguan proses pikir/ delusi.


Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten Emosi berlebihan atau kurang Tidak mampu mengalami
Dengan pengalaman Emosi
Perilaku sesuai Perilaku yang tidak biasa Perilaku tidak terorganisir
Hubungan Positif Menarik Diri Isolasi sosial
(Stuart dan Sundeen, 1998 dalam Purba 2009).

1.4. Tahapan, Karakteristik, dan Perilaku yang ditampilkan

TAHAP KARAKTERISTIK PERILAKU PASIEN


Tahap I a) Mengalami ansietas, a) Tersenyum, tertawa sendiri
Memberi rasa nyaman kesepian, rasa bersalah dan b) Menggerakkan bibir tanpa
tingkat ansietas sedang ketakutan. suara
secara umum halusinasi b) Mencoba berfokus pada c) Pergerakan mata yang cepat
merupakan suatu pikiran yang dapat d) Respon verbal yang lambat
kesenangan. menghilangkan ansietas. e) Diam dan berkonsentrasi.
c) Pikiran dan pengalaman
sensori masih ada dalam
kontrol kesadaran (jika
kecemasan dikontrol)
Tahap II a) Pengalaman sensori a) Peningkatan SSO, tanda-
Menyalahkan, tingkat menakutkan tanda ansietas, peningkatan
kecemasan berat secara b) Mulai merasa kehilangan denyut jantung, pernafasan
umum halusinasi kontrol dan tekanan darah
menyebabkan rasa c) Merasa dilecehkan oleh b) Rentang perhatian menyempit
antipati pengalaman sensori tersebut c) Konsentrasi dengan
d) Menarik diri dari orang lain pengalaman sensori
e) Non Psikotik d) Kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dan
realita.

Tahap III a) Pasien menyerah dan a) Perintah halusinasi ditaati


Mengontrol tingkat menerima pengalaman b) Sulit berhubungan dengan

Universitas Sumatera Utara


kecemasan berat sensorinya. orang lain
pengalaman sensori tidak b) Isi halusinasi menjadi c) Rentang perhatian hanya
dapat ditolak lagi antraktif beberapa detik/ menit
c) Kesepian bila sensori d) Gejala sisa ansietas berat,
berakhir berkeringat, tremor, tidak
d) Psikotik mampu mengikuti perintah
Tahap IV a) Pengalaman sensori menjadi a) Perilaku panik
ancaman b) Potensial tinggi untuk bunuh
Menguasai tingkat b) Halusinasi dapat berlangsung diri atau membunuh.
kecemasan panik secara selama beberapa jam atau c) Tindakan kekerasan, agitasi
umum diatur dan hari (jika tidak diintervensi) menarik diri atau ketakutan
dipengaruhi oleh waham c) Psikotik d) Tidak mampu berespon
terhadap perintah yang
kompleks
e) Tidak mampu berespon
terhadap lebih dari satu
orang.
(Purba, Wahyuni, Nasution, Daulay, 2009).

1.5. Penatalaksanaan Medis pada Halusinasi

Penatalaksanaan pasien skizofrenia adalah dengan pemberian obat-obatan

dan tindakan lain, yaitu :

1) Psikofarmakologis

Obat-obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran

yang merupakan gejala psikosis pada pasien skizofrenia adalah obat-

obatan anti-psikosis.

Universitas Sumatera Utara


Adapun kelompok obat-obatan umum yang digunakan adalah :

KELAS KIMIA NAMA GENERIK (DAGANG) DOSIS HARIAN


Fenotiazin Asetofenazin (Tidal) 60-120 mg
Klopromazin (Thorazine) 30-800 mg
Flufenazine (Prolixine, Permiti) 1-40 mg
Mesoridazin (Serentil) 30-400 mg
Perfenazin (Trilafon) 12-64 mg
Proklorperazin 15-150 mg
(Compazine) 40-1200 mg
Promazin (Sparine) 150-800 mg
Tiodazin (Mellaril) 2-40 mg
Trifluoperazin (Stelazine) 60-150 mg
Trifluopromazine (Vesprin)
Tioksanten Kloprotiksen (Tarctan) 75-600 mg
Tiotiksen (Navane) 8-30 mg
Butirofenon Haloperidol (Haldol) 1-100 mg
Dibenzondiazepin Klozapin (Clorazil) 300-900 mg
Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane) 20-150 mg
Dihidroindolon Molindone (Moban) 15-225 mg

2) Terapi kejang listrik atau Elektro Compulcive Therapy (ECT)

3) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) (Purba, Wahyuni, Nasution, Daulay,

2009).

2. Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi

Tindakan Keperawatan pada pasien halusinasi dengan cara melakukan

asuhan keperawatan sesuai dengan standar asuhan keperawatan halusinasi.

Penerapan standar asuhan keperawatan halusinasi yang dilakukan oleh Carolina

(2008) dalam Wahyuni (2010) menunjukan bahwa dapat meningkatkan

kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi dan juga menurunkan tanda dan

gejala halusinasi. Standar asuhan keperawatan meliputi proses:

Universitas Sumatera Utara


2.1 Pengkajian

a. Mengkaji Jenis Halusinasi

Ada beberapa jenis halusinasi pada pasien gangguan jiwa. Kira-kira 70%

halusinasi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi

dengar atau suara, 20% halusinasi penglihatan, dan 10% halusinasi

penghidu, pengecap, perabaan, senestik dan kinestik. Mengkaji halusinasi

dapat dilakukan dengan mengevaluasi perilaku pasien dan menanyakan

secara verbal apa yang sedang dialami oleh pasien.

b. Mengkaji Isi Halusinasi

Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, berkata

apabila halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengar. Atau apa bentuk

bayangan yang dilihat oleh pasien, bila jenis halusinasinya adalah

halusinasi penglihatan, bau apa yang tercium untuk halusinasi penghidu,

rasa apa yang dikecap untuk halusinasi pengecapan, atau merasakan apa

dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan.

c. Mengkaji Waktu, Frekuensi, dan Situasi Munculnya Halusinasi

Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya

halusinasi yang dialami oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan

intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi

yang menyebabkan munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut

dengan halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi

dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk pencegahan terjadinya

halusinasi. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi pencetus

Universitas Sumatera Utara


halusinasi dan menentukan jika pasien perlu diperhatikan saat mengalami

halusinasi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada pasien kapan

pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu. Bila

mungkin pasien diminta menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi

halusinasi tersebut.

d. Mengkaji Respon Terhadap Halusinasi

Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi pasien

dapat dikaji dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh pasien saat

mengalami pengalaman halusinasi. Apakah pasien masih dapat

mengontrol stimulus halusinasi atau sudah tidak berdaya lagi terhadap

halusinasi.

2.2 Tindakan Keperawatan pada Pasien Halusinasi

2.2.1 Tujuan tindakan untuk pasien meliputi :

a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya.

b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya

c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal.

2.2.2 Tindakan Keperawatan

a. Membantu Pasien Mengenali Halusinasi

Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, perawat dapat

melakukannya cara berdiskusi dengan pasien tentang ini halusinasi

(apa yang didengar atau dilihat), waktu terjadinya halusinasi, frekuensi

terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan

perasaan pasien saat halusinasi muncul.

Universitas Sumatera Utara


b. Melatih Pasien Mengontrol Halusinasi.

Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi

perawat dapat melatih pasien empat cara yang sudah terbukti dapat

mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi :

1) Melatih Pasien Menghardik Halusinasi

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap

halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien

dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau

tidak memerdulikan halusinasinya. Kalau ini bisa dilakukan, pasien

akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi

yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan

kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada

dalam halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi :

a) Menjelaskan cara menghardik halusinasi

b) Memperagakan cara menghardik

c) Meminta pasien memperagakan ulang

d) Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku

pasien.

2) Melatih Bercakap-cakap dengan Orang Lain

Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap

dengan orang lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain

maka terjadi distraksi, fokus perhatian pasien akan beralih dari

halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut.

Universitas Sumatera Utara


Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi

adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.

3) Melatih Pasien Beraktivitas Secara Terjadwal

Untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan

menyibukkan diri dengan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas

secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang

sendiri yang seringkali mencetuskan halusinasi. Untuk itu pasien

yang mengalami halusinasi bisa membantu untuk mengatasi

halusinasinya dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun

pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu. Tahapan

intervensi sebagai berikut :

a) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk

mengatasi halusinasi

b) Mendiskusikan aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien.

c) Melatih pasien melakukan aktivitas

d) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan

aktivitas yang telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai

aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari

dalam seminggu.

e) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi

penguatan terhadap perilaku pasien yang positif.

Universitas Sumatera Utara


4) Melatih Pasien Menggunakan Obat Secara Teratur

Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih

untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program.

Pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit seringkali

mengalami putus obat sehingga akibatnya pasien mengalami

kekambuhan.

Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti

semula akan lebih sulit. Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan

obat sesuai program dan berkelanjutan. Berikut ini tindakan

keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:

a) Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa

b) Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program

c) Jelaskan akibat bila putus obat

d) Jelaskan cara mendapatkanm obat/ berobat

e) Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5B (benar

obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis).

2.3 Evaluasi

Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah Perawat lakukan

untuk pasien halusinasi adalah sebagai berikut :

2.3.1 Pasien Mempercayai Perawatnya sebagai terapis, ditandai dengan:

a. Pasien mau menerima perawat sebagai perawatnya

Universitas Sumatera Utara


b. Pasien mau menceritakan masalah yang dia hadapai kepada perawatnya,

bahkan hal-hal yang selama ini dianggap rahasia untuk orang lain.

c. Pasien mau bekerja sama dengan perawat, setiap program yang perawat

tawarkan ditaati oleh pasien.

2.3.2 Pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada obyeknya dan

merupakan masalah yang harus diatasi, ditandai dengan:

a Pasien mengungkapkan isi halusinasinya yang dialaminya.

b Pasien menjelaskan waktu, dan frekuensi halusinasi yang dialaminya.

c Pasien menjelaskan situasi yang mencetuskan halusinasi.

d Pasien menjelaskan perasaannya ketika mengalami halusinasi

e Pasien menjelaskan bahwa ia akan berusaha mengatasi halusinasi yang

dialaminya

2.3.3 Pasien dapat Mengontrol Halusinasi, ditandai dengan:

a. Pasien mampu memperagakan empat cara mengontrol halusinasi

b. Pasien menerapkan empat cara mengontrol halusinasi:

1) Menghardik halusinasi.

2) Berbicara dengan orang lain disekitarnya bila timbul halusinasi.

3) Menyusun jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari sampai

mau tidur pada malam hari selama tujuh hari dalam seminggu dan

melaksanakan jadwal tersebut secara mandiri.

4) Mematuhi program pengobatan.

2.3.4 Keluarga mampu merawat pasien dirumah, ditandai dengan:

Universitas Sumatera Utara


a. Keluarga mampu menjelaskan masalah halusinasi yang dialami oleh

pasien.

b. Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien dirumah.

c. Keluarga mampu memperagakan cara bersikap terhadap pasien.

d. Keluarga mampu menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat digunakan

untuk mengatasi masalah pasien.

e. Keluarga melaporkan keberhasilan merawat pasien (Purba, Wahyuni,

Nasution, Daulay, 2009).

Universitas Sumatera Utara


BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

1. Kerangka Konsep

Halusinasi merupakan salah satu gangguan yang umum terjadi pada

penderita gangguan jiwa. Pada pasien gangguan halusinasi gangguan yang sering

muncul adalah gangguan pada kemampuan kognitif dan psikomotor pasien.

Beberapa aspek yang paling utama dikaji untuk meningkatkan dan membantu

proses penyembuhan pada pasien dengan gangguan halusinasi adalah kemampuan

kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi. Salah satu upaya

untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor pasien yaitu dengan

cara pemberian Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi. Sebelum dilakukan

standar asuhan keperawatan halusinasi, kemampuan kognitif dan psikomotor

pasien di observasi terlebih dahulu begitu pula sesudah dilakukan pemberian

standar asuhan keperawatan pada pasien halusinasi.

Kerangka konsep dapat digambarkan sebagai berikut :

Variabel Dependen Variabel Dependen

Kemampuan Variabel Independen Kemampuan


Kognitif dan Kognitif dan
Psikomotor Pasien Pelaksanaan Psikomotor Pasien
Dalam Mengontrol Standar Dalam Mengontrol
Halusinasi Sebelum Asuhan Halusinasi Setelah
Dilakukan Asuhan Keperawatan Dilakukan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Keperawatan
Halusinasi H l i i Halusinasi

Universitas Sumatera Utara


2. Defenisi Operasional

Hasil
Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Skala
Pengukuran
Independen: Merupakan tindakan
Standar pemberian bantuan
asuhan untuk mengenal dan
keperawatan melatih responden di
halusinasi Ruangan Pusuk Buhit
Rumah sakit Jiwa
Daerah Provinsi
Sumatera Utara dalam
mengontrol halusinasi
yang terjadi
Dependen: Kognitif : suatu Kuesioner Skor Jawaban Rasio
Kemampuan kemampuan responden sebanyak Responden
Kognitif dan di Ruangan Pusuk 4 (empat)
Psikomotor Buhit Rumah sakit pertanyaan
pasien Jiwa Daerah Provinsi subyektif
dalam Sumatera Utara untuk secara
mengontrol mengenali halusinasi lisan
halusinasi di yang terjadi, yang
Ruangan meliputi:
Pusuk Buhit - Responden di
Rumah sakit Ruangan Pusuk
Jiwa Daerah Buhit Rumah sakit
Provinsi Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Sumatera Utara
Utara mengenal isi
halusinasi
- Responden di
Ruangan Pusuk
Buhit Rumah sakit
Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Utara
mengetahui waktu
terjadinya halusinasi
- Situasi yang
menyebabkan
halusinasi muncul
- Bagaimana perasaan
responden di
Ruangan Pusuk
Buhit Rumah sakit
Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Utara saat

Universitas Sumatera Utara


halusinasi muncul

Psikomotor: suatu Kuesioner Skor Jawaban Rasio


kemampuan responden sebanyak Responden
di Ruangan Pusuk 15 (lima
Buhit Rumah sakit belas)
Jiwa Daerah Provinsi pertanyaan
Sumatera Utara dalam subyektif
mengontrol halusinasi secara
yang terjadi meliputi: lisan
- Menghardik
halusinasi.
- Bercakap-cakap
dengan orang lain.
- Melakukan aktivitas
yang terjadwal.
- Menggunakan obat
secara teratur.

5. Hipotesis

Adapun hipotesa yang diajukan peneliti adalah:

Hipotesa Alternatif (Ha): Ada pengaruh pelaksanaan standar asuhan

keperawatan halusinasi terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor responden

dalam mengontrol halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy

expriemental design jenis One Group pretest-posttest yang hanya terdiri dari 1

kelompok. Sampel pada penelitian ini dievaluasi terlebih dahulu sebelum diberi

perlakuan, kemudian setelah dilakukan perlakuan sampel tersebut dievaluasi

kembali (Hidayat, 2007).

2. Populasi, Sampel Penelitian dan Tehnik Sampling

2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh responden penderita

gangguan persepsi halusinasi yang sedang dirawat inap di Ruangan Pusuk Buhit

Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara-Medan dengan jumlah 45

pasien pada bulan Maret 2010 (Laporan Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Daerah

Provinsi Sumatera Utara, 2010).

2.2 Sampel

Untuk populasi kecil atau lebih besar dari 10.000, dapat menggunakan

formula berikut:

n=

1 + N (d2

Universitas Sumatera Utara


Keterangan :

N = Besar populasi

n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan (0,05)

( Notoatmodjo, 2005). Sehingga pada penelitian ini besar sampel:

45
n=
1 + 45 (0,052)

45
n=
1 + 0, 1125

45
n= = 40,49
1,1125

= 40 Responden

2.3 Tehnik Sampling

Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik Non

Probability sampling dengan purposive sampling, yaitu menetapkan sampel

dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki

peneliti, sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang

telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003), dimana yang menjadi kriteria

sampel:

a. Pasien penderita gangguan persepsi halusinasi yang sedang dirawat

inap di Ruangan rawat inap kelas III Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa

Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan.

Universitas Sumatera Utara


b. Pasien penderita halusinasi yang telah kooperatif terhadap petugas

kesehatan di ruangan tempat responden dirawat inap.

c. Pasien dengan halusinasi murni tanpa disertai waham.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Ruangan Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa

Daerah Provinsi Sumatera Utara, hal tersebut dikarenakan di ruangan tersebut

terdapat pasien halusinasi yang sesuai dengan kriteria sampel pada penelitian ini.

Berdasarkan Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara

(2009), 84 % responden yang dirawat inap mengalami halusinasi.

Penyusunan proposal sampai dengan laporan hasil penelitian dimulai dari

Februari 2010 sampai dengan Januari2011.

4. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara untuk melakukan penelitian. Setelah

mendapat surat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara maka peneliti menyerahkan surat izin penelitian kepada Pihak Rumah Sakit

Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara-Medan.

Setelah izin didapatkan dari Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera

Utara-Medan maka peneliti melaksanakan penelitian dengan memberi penjelasan

kepada calon responden tentang tujuan penelitian dan prosedur pelaksanaan

penelitian. Peneliti akan menyertakan langsung lembar persetujuan penelitian

Universitas Sumatera Utara


kepada calon responden, apabila calon responden dijadikan obyek penelitian,

maka akan terlebih dahulu harus menandatangani lembar persetujuan. Jika calon

responden tidak bersedia atau menolak untuk dijadikan obyek penelitian maka

peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya. Lembar tersebut

hanya diberi nomor kode tertentu. Data yang diperoleh dari responden hanya akan

digunakan untuk kepentingan penelitian dan kerahasiaan informasi yang didapat

dari penelitian dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.

5. Instrumen Penelitian, dan Pengukuran Validitas - Reabilitas

5.1 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner berisikan

pertanyaan subyektif secara lisan sebanyak 19 pertanyaan. Bagian pertama

Instrumen Penelitian tentang pengumpulan data demografi pasien yang meliputi:

inisial nama responden, nomor responden, jenis kelamin, dan pendidikan formal.

Bagian kedua berisi tentang pertanyaan yang berhubungan dengan

kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi. Terdiri

dari 4 pertanyaan untuk mengetahui kemampuan kognitif, dimana jika responden

mampu menjawab 4 pertanyaan maka kemampuan kognitifnya baik, sedangkan

jika responden mampu menjawab < 4 pertanyaan maka kemampuan kognitifnya

tidak baik dan terdapat 15 tindakan pada lembaran observasi untuk mengetahui

kemampuan psikomotor, dimana jika responden mampu melakukan 15 tindakan

maka kemampuan psikomotornya baik, sedangkan jika responden mampu

melakukan < 15 tindakan maka kemampuan psikomotornya tidak baik.

Universitas Sumatera Utara


5.2 Uji Validitas dan Reabilitias

Instrumen pada penelitian ini tidak dilakukan uji Validitas dan Realibilitas,

karena Instrumen penelitian ini diambil dari Keliat dkk (2005).

6. Pengumpulan Data

Adapun tahapan pengumpulan data yang telah peneliti lakukan:

a. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada

Institusi Pendidikan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara yang ditujukan kepada pihak Rumah Sakit Jiwa Daerah

Provinsi Sumatera Utara Medan yang digunakan peneliti sebagai

tempat penelitian.

b. Mengirimkan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada pihak

Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan yang

digunakan peneliti sebagai tempat penelitian.

c. Setelah mendapat izin pelaksanaan penelitian dari pihak Rumah

Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan, peneliti

melaksanakan pengumpulan data penelitian dengan cara peneliti

ikut berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari responden di

Ruangan Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera

Utara Medan selama 11 hari, adapun pengumpulan data yang

telah dilakukan pada responden 1 - responden 40 adalah, pada hari

pertama, peneliti memperkenalkan diri, melakukan pendekatan,

menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian serta menanyakan

kesediaan responden untuk mengikuti penelitian, bagi responden

Universitas Sumatera Utara


yang bersedia diberikan informed consent (waktu yang dibutuhkan

selama 45 menit untuk semua responden), pada hari kedua

melakukan pra test (waktu 5 menit untuk setiap responden), pada

hari ketiga pemberian intervensi pada responden 1-10 (waktu yang

dibutuhkan 25 menit untuk setiap responden), pada hari keempat

pemberian intervensi pada responden 11-20 (waktu yang

dibutuhkan 25 menit untuk setiap responden), pada hari kelima

pemberian intervensi pada responden 21-30 (waktu yang

dibutuhkan 25 menit untuk setiap responden), pada hari keenam

pemberian intervensi pada responden 31-40 (waktu yang

dibutuhkan 25 menit untuk setiap responden), pada hari ketujuh

post test pada responden 1-10 (waktu yang dibutuhkan 5 menit

untuk setiap responden), pada hari kedelapan post test pada

responden 11-20 (waktu yang dibutuhkan 5 menit untuk setiap

responden), pada hari kesembilan post test pada responden 21-30

(waktu yang dibutuhkan 5 menit untuk setiap responden), pada hari

kesepuluh post test pada responden 31-40 (waktu yang dibutuhkan

5 menit untuk setiap responden), dan pada hari kesebelas

melakukan terminasi (waktu yang dibutuhkan 15 menit untuk

semua responden.

d. Setelah peneliti mendapatkan data lalu mengumpulkannya,

kemudian peneliti melakukan analisa dari data yang telah

terkumpul.

Universitas Sumatera Utara


e. Peneliti menggunakan data yang didapat dari Rekam Medik sebagai

data pada latar belakang.

7. Analisa Data

Setelah data terkumpul, dilakukan analisa data, yang dimulai dari tahap

persiapan yaitu mengecek kelengkapan identitas dan data responden serta

memastikan bahwa setiap pertanyaan pada kuesioner dan lembaran observasi telah

dijawab oleh responden. Data yang diperoleh diidentifikasi dengan

mentabulasikan data, selanjutnya data diolah dengan menggunakan tehnik

komputerisasi.

7.1 Statistik Univariat

Mengetahui karakteristik responden dicari persentase dan frekuensi

sedangkan untuk melihat kemampuan kognitif dan psikomotor dicari mean dan

Standar Deviasi (SD).

7.2 Statistik Bivariat

Digunakan untuk melihat pengaruh kemampuan kognitif dan psikomotor

responden dalam mengontrol halusinasi sebelum dan sesudah diberikan standar

asuhan keperawatan halusinasi dengan uji statistik sampel t-test yaitu dependent t

test dengan = 0.05. Hipotesis alternatif (Ha) diterima jika hasil perhitungan uji

statistik (p) < . Cara penyajian hasil penelitian ini dengan menggunakan tabel.

Universitas Sumatera Utara


BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai

karakteristik responden, kemampuan kognitif dan psikomotor responden sebelum

dan sesudah dilakukan asuhan keperawatan halusinasi yang dilaksanakan pada

tanggal 5 Juli sampai dengan 17 Juli 2010 di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi

Sumatera Utara Medan, dengan jumlah responden 40 orang.

1.1. Karakteristik Responden

Tabel 1.1. : Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden

Karakteristik Responden Frekuensi (f) Persentase (%)


Usia (Tahun)
21-31 14 35
32-42 22 55
43-64 4 10

Total 40 100
Pendidikan
SD 13 32.5
SLTP 15 37.5
SLTA 12 30

Total 40 100

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden

berdasarkan usia, dijumpai paling banyak pada kelompok usia 32-42 tahun yaitu

14 orang (35%), dan paling sedikit pada kelompok usia 43-64 tahun yaitu 4 orang

(10%).

Berdasarkan tingkat pendidikan responden, dapat dilihat bahwa pendidikan

responden terbanyak pada tingkat SLTP sebanyak 15 orang (37.5%), responden

dengan pendidikan SD sebanayak 13 orang (32.5%), sedangkan responden yang

berpendidikan SLTA sebanyak 12 orang (30%).

1.2. Kemampuan Kognitif dan Psikomotor responden sebelum dilakukan asuhan

keperawatan halusinasi di ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah

Provinsi Sumatera Utara Medan

Tabel 1.2. : Kemampuan Kognitif dan Psikomotor responden sebelum dilakukan


asuhan keperawatan halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan (n = 40).

95% Confidence
Standar Interval (CI) for
Mini Maksi
Variabel Mean Devasi mean
Lower Upper mum mum
(SD)
Bround Bround
Kemampuan
Kognitif dan
Psikomotor pasien
4.25 0.927 3.95 4.22 3 6
sebelum dilakukan
asuhan keperawatan
halusinasi
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa kemampuan koginitif dan

psikomotor responden adalah rata-rata 4.25 ( 95% CI 3.95 - 4.22), SD (0.927),

nilai minimum 3 dan nilai maksimum 6.

Universitas Sumatera Utara


1.3. Kemampuan Kognitif dan Psikomotor responden setelah dilakukan asuhan

keperawatan halusinasi di ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah

Provinsi Sumatera Utara Medan

Tabel 1.3. : Kemampuan Kognitif dan Psikomotor responden setelah dilakukan


asuhan keperawatan halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan (n = 40).

95% Confidence
Standar Interval (CI) for
Mini Maksi
Variabel Mean Devasi mean
mum mum
(SD) Lower Upper
Bround Bround

Kemampuan
Kognitif dan
Psikomotor pasien
17.15 2.327 16.41 17.89 8 19
setelah dilakukan
asuhan keperawatan
halusinasi

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa kemampuan koginitif dan

psikomotor responden adalah rata-rata 17.5 ( 95% CI 16.41 17.89), SD (2.327),

nilai minimum 8 dan nilai maksimum 19.

Universitas Sumatera Utara


1.4. Pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap

kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi di

Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara

Medan.

Tabel 1.4. : Pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi


terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam
mengontrol halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa
Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan (n = 40).

Standar
Perbedaan
Variabel Mean Deviasi P Value
Mean
(SD)

Kemampuan Kognitif dan


Psikomotor pasien sebelum
4.25 0.927
dilakukan asuhan
keperawatan halusinasi
-12.900 0.000
Kemampuan Kognitif dan
Psikomotor pasien setelah
17.15 2.327
dilakukan asuhan
keperawatan halusinasi

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat kemampuan kognitif dan psikimotor

pasien dalam mengontrol halusinasi sebelum dilakukan standar asuhan

keperawatan halusinasi: mean (4.25) dan SD (0.927), sedangkan kemampuan

kognitif dan psikimotor pasien dalam mengontrol halusinasi setelah dilakukan

standar asuhan keperawatan halusinasi: mean (17.15) dan SD (2.327), sehingga

perbedaan Mean -12.900 dan berdasarkan uji statistik diperoleh nilai P = 0.000

maka dapat disimpulkan ada pengaruh signifikan intervensi terhadap kemampuan

kognitif dan psikomotor responden dalam mengontrol halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


2. Pembahasan

Dalam penelitian ini karakteristik 40 responden dari usia 21 tahun - 64

tahun didapati mayoritas responden berusia 32 tahun - 42 tahun yaitu sebanyak 22

responden (55%), dan tingkat pendidikan responden mayoritas SLTP sebanyak 15

responden (37.5%). Namun dalam penelitian ini karakteristik responden tidak

diteliti pengaruhnya terhadap variabel penelitian, sehingga tidak dapat dijabarkan

apakah karakteristik dari responden ini ada pengaruhnya dalam penelitian ini.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara

rata-rata pelaksanaan cara mengontrol halusinasi antara sebelum dan sesudah

intervensi pada responden, dapat dilihat kemampuan kognitif dan psikomotor

pasien dalam mengontrol halusinasi sebelum dilakukan standar asuhan

keperawatan halusinasi: mean (4.25) dan SD (0.927), sedangkan kemampuan

kognitif dan psikimotor pasien dalam mengontrol halusinasi setelah dilakukan

standar asuhan keperawatan halusinasi: mean (17.15) dan SD (2.327), sehingga

perbedaan Mean -12.900.

Dari hasil uji statistik dengan uji t dependen diperoleh nilai P (0.000)

sedangakan nilai level of significance (0.05), sehingga p < , maka dapat

disimpulkan Hipotesa alternatif (Ha) diterima yang berarti bahwa ada pengaruh

pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap kemampuan kognitif

dan psikomotor pasien halusinasi dalam mengontrol halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


Hasil penelitian ini sesuai dengan konsep dan penelitian sebelumnya yang

dilakukan Carolina (2008) dalam Wahyuni (2010) juga menunjukan bahwa

dengan penerapan standar asuhan keperawatan halusinasi dapat meningkatkan

kemampuan psikomotor dan kognitif pasien dalam mengontrol halusinasinya dan

juga menurunkan tanda dan gejala halusinasi, dimana kemampuan kognitif atau

pengetahuan yang harus dimiliki pasien secara generalis adalah pasien mampu

menghardik halusinasinya, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan

aktivitas dan patuh minum obat. Asuhan keperawatan pada pasien halusinasi

bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol

halusinasinya. Menurut Varcarolis (1990) kemampuan yang harus dimiliki pasien

meliputi tiga aspek yaitu Kognitif, psikomotor dan juga afektif. Kemampuan

Kognitif merupakan pengetahuan pasien tentang cara-cara mengontrol halusinasi,

sedangkan kemampuan psikomotor merupakan kemampuan pasien dalam

melaksanakan cara-cara mengontrol halusinasi.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya oleh

wahyuni (2010), dimana penelitiannya dilakukan dengan desain penelitian Quasi

eksperimental, dengan jumlah sampel sebanyak 56 responden. Hasil penelitiannya

menunjukan adanya perbedaan peningkatan pelaksanaan cara mengontrol

halusinasi yang bermakna antara kelompok yang mendapat dan tidak mendapat

Cognitif Behaviour Therapy (P value < 0.05).

Keliat dkk, (2005) menambahkan bahwa secara generalis kemampuan

kognitif atau pengetahuan yang diharapkan pada pasien halusinasi adalah pasien

mampu mengenal halusinasi dan juga mengenal 4 cara mengontrol halusinasi

Universitas Sumatera Utara


yaitu menghardik halusinasi, berbicara dengan orang lain disekitarnya bila timbul

halusinasi, menyusun jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari sampai mau

tidur pada malam hari selama tujuh hari dalam seminggu dan melaksanakan

jadwal tersebut secara mandiri, dan mematuhi program pengobatan.

Kenyataannya penerapan standar asuhan keperawatan halusinasi pada

pasien-pasien halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara

Medan masih belum optimal, hal ini dapat dilihat bahwa kebanyakan pasien

halusinasi yang dirawat inap masih tampak dibiarkan sendirian larut dalam

halusinasinya, dimana pasien lebih banyak menghabiskan waktunya dengan

berdiam diri dan termenung di dalam kamarnya, dibandingkan diberikan standar

asuhan keperawatan halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

1.1. Karakteristik pasien usia 21 tahun - 64 tahun didapati mayoritas responden

berusia 32 tahun - 42 tahun yaitu sebanyak 22 responden (55%) dengan

tingkat pendidikan responden mayoritas SLTP sebanyak 15 responden

(37.5%). Namun dalam penelitian ini karakteristik responden tidak diteliti

pengaruhnya terhadap variabel penelitian, sehingga tidak dapat dijabarkan

apakah karakteristik dari responden ini ada pengaruhnya dalam penelitian

ini.

1.2. Kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi

sebelum dilakukan standar asuhan keperawatan halusinasi: mean (4.25) dan

SD (0.927), sedangkan kemampuan kognitif dan psikimotor pasien dalam

mengontrol halusinasi setelah dilakukan standar asuhan keperawatan

halusinasi: mean (17.15) dan SD (2.327), sehingga perbedaan Mean -12.900

dan berdasarkan uji statistik diperoleh nilai P = 0.000.

1.3. Ada pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap

peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor pasien halusinasi dalam

mengontrol halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, ada beberapa saran yang dapat

peneliti sampaikan yaitu sebagai berikut:

2.1. Aplikasi keperawatan

2.1.1 Rumah Sakit hendaknya membuat dan menjadikan standar asuhan

keperawatan halusinasi menjadi prosedur tetap yang wajib diberikan pada

setiap pasien halusinasi untuk mencapai pemulihan kesehatan jiwa yang

optimal.

2.1.2 Perlu adanya kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya seperti psikiater dan

juga psikolog klinis dalam pemberian standar asuhan keperawatan

halusinasi terhadap pasien halusinasi.

2.2. Istitusi pendidikan keperawatan

2.2.1 Pihak pendidikan tinggi keperawatan hendaknya menjadikan standar asuhan

keperawatan halusinasi sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai

sebagai mahasiswa untuk praktek di institusi pelayanan kesehatan jiwa.

2.2.2 Hasil penelitian ini hendaknya dijadikan sebagai salah satu referensi tentang

pengaruh pelaksanaan standar asuhan keperawatan halusinasi terhadap

kemampuan kognitif dan psikomotor dalam mengontrol halusinasi pada

pasien halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


2.3. Penelitian berikutnya

2.3.1 Perlu dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhui

kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam mengontrol halusinasi.

2.3.2 Perlu modifikasi jumlah dan tehnik pengambilan sampel agar terjamin

kualitas data untuk penelitian berikutnya yang sejenis.

2.3.3 Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan mempertimbangkan karakteristik

pasien dan juga intervensi generalis keperawatan jiwa (tindakan

keperawatan jiwa yang menjadi kompetensi oleh seorang perawat dengan

latar belakang pendidikan Strata 1 dan Profesi) yang benar-benar optimal.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Candra, Budiman. (2008). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC.

Hamid, Achir Yani. (2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa
Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Hawari, Dadang. (2001). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.


Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hidayat, A. Aziz Alimul (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.
Edisi 2., Jakarta: Salemba Medika

Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3., Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kaplan, Harld I & Sadock, Benyamin J. (1998). Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat.
Jakarta: Widya Modika.

Keliat & Akemat (2005). Keperawatan Jiwa: terapi aktivitas kelompok. Jakarta:
EGC.

Keliat, dkk (2005). Community Mental Healt Nursing. Tidak dipublikasikan

Keliat, Budi Anna. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9., Surabaya: Airlangga


University Press.

Notoadmodjo, Soekidjo. (2005). Metodoogi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi.,


Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Purba, J. M, Sri Eka, Mahnum, L. N dan Hardiyah. (2009). Asuhan Keperawatan


Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan:
USU press.

Rasmun. (2001). Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan


Keluarga. Jakarta: PT. Fajar Interpratama.

Ronosulistyo. (2008). Penderita gangguan jiwa di Indonesia. April 11, 2010.


http://newspaper.pikiranrakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=491
78 .

Universitas Sumatera Utara


Stuart dan Laraia. (2001). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 8.
St. Louis: Mosby Year Book.

Stuart, G. W., & Sundeen, S. J. (1995). Principles and practice of Physiciatric


nursing. St. Lois: Mosby Year Book, Inc.S.

Tim Penyusun. (2009). Buku Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Sarjana
Keperawatan. Medan: Pemerintah Mahasiswa Fakultas Keperawatan
Universitas sumatera Utara

Townsend, Mary. C. (2000). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts Of


Care. Edisi 3. Philadelphia: F. A. Davis Company.

Vorcarolis (1990). Foundations of psychiatric mental health nursing. United


States of America: Saunders Company

Wahyuni, Sri Eka (2010). Pengaruh Cognitive Behaviour Therapy Terhadap


Halusinasi Pasien Di Rumah Sakit Jiwa Pempropsu Medan. Tidak
dipulikasikan

Yosep, Iyus, S.kp, M. Si. (2009). Keperawatan Jiwa, edisi revisi., Bandung: PT.
Refika Aditama.

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 1

Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian


Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi Terhadap
Kemampuan Kognitif dan Psikmotor Pasien Dalam Mengontrol Halusinasi
Di Ruangan Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara-Medan
Oleh : Castro
Saya adalah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Pengaruh Pelaksanaan
Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi Terhadap Kemampuan Kognitif dan
Psikmotor Pasien Dalam Mengontrol Halusinasi di Ruangan Pusuk Buhit Rumah
Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara-Medan. Penelitian ini merupakan salah satu
kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
Saya mengharapkan partisipasi saudara dalam memberikan jawaban atas
segala pertanyaan pada lembaran evaluasi, sesuai dengan pendapat saudara tanpa
dipengaruhi oleh orang lain. Saya akan menjamin kerahasiaan identitas dan
jawaban saudara. Informasi yang diberikan hanya dipergunakan untuk keperluan
penelitian dan pengembangan Ilmu Keperawatan.
Partisipasi saudara dalam penelitian ini bersifat suka rela dan bebas
menerima menjadi responden penelitian atau menolak tanpa ada sanksi apapun.
Jika saudara bersedia menjadi responden penelitian, silahkan menandatangani
surat persetujuan ini pada tempat yang telah disediakan di bawah ini sebagai bukti
kesukarelaan saudara.
Terima kasih atas pertisipasi saudara untuk penelitian ini.
Tanggal : No. Kode Responden :
Tandan tangan : (Diisi oleh peneliti

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 2

Instrumen Penelitian

A. Data Demografi

1. Inisial Nama Responden :

2. No Responden :

3. Usia Responden :

4. Pendidikan Formal : SD

SLTP

SLTA

Universitas Sumatera Utara


B. Lembaran Kuesioner Kemampuan Kognitif dan Lembaran Observasi
Psikomotor Pasien Dalam Mengontrol Halusinasi.

1. Lembaran Kuesioner Kemampuan Kognitif Pasien Dalam Mengontrol


Halusinasi
Pre test Post test
No Sesi Aspek yang dinilai
Menyebutkan Menyebutkan

1 Kemampuan Pasien dapat Mampu Tidak Mampu Tidak

mengenal menyebutkan : mampu mampu


halusinasi
Isi halusinasi

Waktu terjadi

halusinasi

Situasi terjadi

halusinasi

Perasaan saat

halusinasi

Universitas Sumatera Utara


2. Lembaran Observasi Psikomotor Pasien Dalam Mengontrol
Halusinasi.
Pre test Post test
No Sesi Aspek yang dinilai
Dilakukan Dilakukan

1 Kemampuan Pasien dapat: Ya Tidak Ya Tidak



menghardik
halusinasi Menyebutkan
cara yang
selama ini
digunakan
mengatasi

Menyebutkan
halusinasi

Menyebutkan
efektivitas cara

cara mengatasi
halusinasi
dengan cara
menghardik
Memperagakan
menghardik
halusinasi
2 Kemampuan Pasien dapat: Ya Tidak Ya Tidak

mencegah
halusinasi Menyebutkan
dengan kegiatan yang
biasa dilakukan.
Memperagakan
melakukan
kegiatan
kegiatan yang

Menyusun
biasa dilakukan.

jadwal kegiatan
harian.
Menyebutkan
dua cara
mengontrol
halusinasi.
3 Kemampuan Pasien dapat: Ya Tidak Ya Tidak

bercakap-
cakap untuk Menyebutkan
mencegah orang yang biasa
halusinasi diajak bercakap-


cakap.
Memperagakan
percakapan

Universitas Sumatera Utara


Menyusun
jadwal

Menyebutkan
percakapan

tiga cara
mengontrol dan
mencegah
halusinasi.
4 Kemampuan Pasien dapat Ya Tidak Ya Tidak
patuh minum menyebutkan:
Lima benar cara
obat untuk
mencegah
halusinasi minum obat.

Keuntungan
minum obat.

Akibat tidak
minum obat.

Dikutip dari Keliat (2005)

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 3

PANDUAN PELAKSANAAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

HALUSINASI DALAM MENGONTROL HALUSINASI

1.1. Tujuan

1.1.1. Tujuan Umum

Setelah diberikan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi, pasien dapat

meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi secara bertahap sesuai dengan

prosedur yang disampaikan di sesi 1, sesi 2, sesi 3, sesi 4, dan sesi 5.

1.1.2. Tujuan Khusus

a. Pasien mampu mengenal halusinasi

b. Pasien mampu mengontrol halusinasi dengan menghardik.

c. Pasien mampu mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan.

d. Pasien mampu mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap.

e. Pasien mampu mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat.

1.2. Setting

a. Perawat/peneliti dan pasien duduk bersama dalam lingkaran.

b. Ruangan nyaman dan tenang.

1.3. Tempat

Ruangan sinabung dan cempaka di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi

Sumatera Utara Medan.

1.4. Media

a. Spidol dan papan tulis/whiteboard/flipchart.

Universitas Sumatera Utara


b. Jadwal kegiatan pasien.

c. Pulpen

d. Beberapa contoh obat.

1.5. Metode

a. Diskusi dan tanya jawab.

b. Berpelaksanaan peran/simulasi dan latihan.

1.6. Perilaku yang diharapkan.

a. Setiap responden/pasien kooperatif dengan perawat.

b. Responden/pasien melakukan arahan yang diberikan dengan benar.

c. Responden/pasien mematuhi aturan.

1.7. Langkah kegiatan

1.7.1. Sesi pertama: Mengenal Halusinasi (waktu 45 menit)

1. Persiapan

a) Memilih pasien sesuai dengan indikasi yaitu pasien dengan perubahan sensori

persepsi: halusinasi.

b) Membuat kontrak dengan pasien.

c) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi (waktu 10 menit).

a) Salam terapeutik

1. Salam dari perawat/peneliti kepada pasien.

2. Perkenalkan nama dan panggilan perawat/peneliti (pakai papan nama).

3. Menanyakan nama dan panggilan semua pasien (beri papan nama).

b) Evaluasi/ validasi

Universitas Sumatera Utara


Menanyakan perasaan pasien saat ini.

c) Kontrak

1. Perawat/peneliti menjelaskan tujuan kegiatan yang akan

dilaksanakan, yaitu mengenal suara-suara yang didengar.

2. Perawat/peneliti menjelaskan aturan pelaksanaan berikut:

Jika ada pasien yang ingin meninggalkan pasien/responden, harus minta

izin kepada perawat/peneliti.

Lama kegiatan 45 menit.

Setiap pasien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja (waktu 20 menit)

a) Menjelaskan yang akan dilakukan, yaitu mengenal suara-suara yang didengar

(halusinasi) tentang isinya, waktu isinya, situasi terjadinya, dan perasaan

pasien pada saat terjadi.

b) Meminta pasien menceritakan isi halusinasi, kapan terjadinya, situasi yang

membuat terjadi, dan perasaan pasien saat terjadi halusinasi. Mulai dari pasien

yang sebelah kanan, secara berurutan sampai semua pasien mendapat giliran.

Hasilnya ditulis di whiteboard.

c) Beri pujian pada pasien yang melakukan dengan baik.

d) Simpulkan isi, waktu terjadi, situasi terjadi, dan perasaan pasian dari suara

yang biasa didengar.

Universitas Sumatera Utara


4. Tahap terminasi (waktu 15 menit)

a) Evaluasi

1. Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti Standar Asuhan

Keperawatan Halusinasi.

2. Memberikan pujian atas keberhasilan pasien/responden.

b) Tindak lanjut

Meminta pasien untuk melaporkan isi, waktu, situasi, dan perasaannya jika

terjadi halusinasi.

c) Kontrak yang akan datang

1. Menyepakati pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi yang

akan datang, yaitu cara mengontrol halusinasi dengan menghardik.

2. Menyepakati waktu dan tempat pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan

Halusinasi selanjutnya.

1.7.2. Sesi kedua: Mengontrol Halusinasi dengan Menghardik (waktu 40

menit)

1. Persiapan

a) Mengingatkan kontrak kepada pasien yang telah mengikuti sesi 1.

b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi (waktu 10 menit)

a) Salam terapeutik

1. Salam dari perawat/peneliti kepada pasien.

2. Pasien dan perawat/peneliti pakai papan nama.

Universitas Sumatera Utara


b) Evaluasi/validasi

1. Menanyakan perasaan pasien saat ini.

2. Menanyakan pengalaman halusinasi yang terjadi: isi, waktu, situasi,

dan perasaan.

c) Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu dengan latihan satu cara

mengontrol halusinasi.

2. Menjelaskan aturan pelaksanaan (sama seperti pada sesi 1)

3. Tahap kerja (waktu 20 menit)

a) Meminta pasien menceritakan apa yang dilakukan pada saat mengalami

halusinasi, dan bagaimana hasilnya. Ulangi sampai semua pasien

mendapat giliran.

b) Berikan pujian setiap pasien selesai bercerita.

c) Menjelaskan cara mengatasi halusinasi dengan menghardik halusinasi saat

halusinasi muncul.

d) Memperagakan cara menghardik halusinasi, yaitu Pergi jangan ganggu

saya, Saya mau bercakap-cakap dengan....

e) Meminta masing-masing pasien memperagakan cara menghardik

halusinasi dimulai dari pasien sebelah kiri perawat/peneliti, berurutan

searah jarum jam sampai semua responden/pasien mendapat giliran.

f) Memberikan pujian dan mengajak semua pasien bertepuk tangan saat

setiap pasien selesai memperagakan menghardik halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


4. Tahap terminasi (waktu 10 menit)

a) Evaluasi

1. Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti pelaksanaan Standar

Asuhan Keperawatan Halusinasi.

2. Memberikan pujian atas keberhasilan pasien/responden.

b) Tindak lanjut

1. Menganjurkan pasien untuk menerapkan cara yang telah dipelajari jika

halusinasi muncul.

2. Memasukkan kegiatan menghardik dalam jadwal kegiatan harian

pasien.

c) Kontrak yang akan datang

1. Membuat kesepakatan dengan pasien untuk pelaksanaan Standar

Asuhan Keperawatan Halusinasi yang berikutnya, yaitu belajar cara

mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan.

2. Membuat kesepakatan waktu dan tempat pelaksanaan Standar Asuhan

Keperawatan Halusinasi berikutnya.

1.7.3. Sesi ketiga: Mengontrol Halusinasi dengan Melakukan Kagiatan

(waktu 40 menit)

1. Persiapan

a) Mengingatkan kontrak dengan pasien yang telah mengikuti sesi 2.

b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

Universitas Sumatera Utara


2. Orientasi (waktu 10 menit)

a) Salam terapeutik

1. Salam dari perawat/peneliti kepada pasien.

2. Pasien dan perawat/peneliti pakai papan nama.

b) Evaluasi/validasi

1. Menanyakan kepada pasien saat ini.

2. Menanyakan cara mengontrol halusinasi yang sudah dipelajari.

3. Menanyakan pengalaman pasien menerapkan cara menghardik

halusinasi.

c) Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mencegah terjadinya halusinasi

dengan melakukan kegiatan.

2. Menjelaskan aturan pelaksanaan (sama seperti sesi sebelumnya)

3. Tahap kerja (waktu 20 menit)

a) Menjelaskan cara kedua, yaitu melakukan kegiatan sehari-hari. Memberi

penjelasan bahwa dengan melakukan kagiatan yang teratur akan mencegah

munculnya halusinasi.

b) Meminta tiap pasien menyampaikan kegiatan yang biasa dilakukan setiap

sehari-hari, dan tulis di whiteboard.

c) Membagikan formulir jadwal kegiatan harian. Perawat/peneliti menulis

formulir yang sama whiteboard.

d) Membimbing satu persatu pasien untuk membuat jadwal kegiatan harian,

dari bangun pagi sampai tidur malam. Pasien menggunakan formulir yang

Universitas Sumatera Utara


telah disediakan terlebih dahulu, perawat/peneliti menggunakan

whiteboard.

e) Melatih pasien memperagakan kagiatan yang telah disusun.

f) Pujian dengan tepuk tangan bersama kepada pasien yang sudah selesai

membuat jadwal dan memperagakan kegiatan.

4. Tahap terminasi (waktu 10 menit)

a) Evaluasi

1. Menanyakan perasaan pasien setelah selesai menyusun jadwal kegiatan

dan memperagakannya.

2. Memberikan pujian atas keberhasilan pasien/responden.

b) Tindak lanjut

Menganjurkan pasien melaksanakan dua cara mengontrol halusinasi,

yaitu menghardik dan melakukan kegiatan.

c) Kontrak yang akan datang

1. Membuat kesepakatan dengan pasien untuk pelaksanaan Standar

Asuhan Keperawatan Halusinasi berikutnya, yaitu mengontrol

halusinasi dengan cara bercakap-cakap.

2. Membuat kesepakatan waktu dan tempat.

Universitas Sumatera Utara


1.7.4. Sesi keempat: Mencegah Halusinasi dengan Bercakap-Cakap (waktu

40 menit)

1. Persiapan

1. Mengingatkan kontrak dengan pasien yang telah mengikuti sesi 3.

2. Perawat/peneliti membuat kontrak dengan pasien.

3. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi (waktu 10 menit)

1. Salam terapeutik

1. Salam dari perawat/peneliti kepada pasien.

2. Pasien dan perawat/peneliti pakai papan nama.

2. Evaluasi/validasi

1. Menanyakan perasaan pasien saat ini.

2. Menanyakan pengalaman pasien setelah menerapkan dua cara yang

telah dipelajari (menghardik dan menyibukkan diri dengan kegiatan

yang terarah) untuk mencegah halusinasi.

3. Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengontrol halusinasi dengan

bercakap-cakap.

2. Menjelaskan aturan pelaksanaan (sama dengan sesi sebelumnya).

3. Tahap kerja (waktu 20 menit)

a) Menjelaskan pentingnya bercakap-cakap dengan orang lain untuk

mengontrol dan mencegah halusinasi.

Universitas Sumatera Utara


b) Meminta tiap pasien menyebutkan orang yang biasa diajak bercakap-

cakap.

c) Meminta tiap pasien menyebutkan pokok pembicaraan yng biasa dan bisa

dilakukan.

d) Memperagakan cara bercakap-cakap jika halusinasi muncul Suster, ada

suara di telinga, saya mau ngobrol saja dengan suster atau Suster,

tentang kapan saya boleh pulang.

e) Meminta pasien untuk memperagakan percakapan dengan orang

disebelahnya.

f) Berikan pujian atas keberhasilan pasien.

g) Mengulangi tahap kerja pada point e s/d f sampai semua pasien mendapat

giliran.

4. Tahap terminasi (waktu 10 menit)

a) Evaluasi

1. Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti pelaksanaan Standar

Asuhan Keperawatan Halusinasi.

2. Menanyakan cara mengontrol halusinasi yang sudah dilatih.

3. Memberikan pujian atas keberhasilan pasien/responden.

b) Tindak lanjut

Menganjurkan pasien untuk menggunakan tiga cara mengontrol

halusinasi, yaitu menghardik, melakukan kegiatan harian, bercakap-cakap.

Universitas Sumatera Utara


c) Kontrak yang akan datang

1. Membuat kesepakatan dengan pasien untuk pelaksanaan Standar

Asuhan Keperawatan Halusinasi berikutnya, yaitu belajar cara

mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat.

2. Menyepakati waktu dan tempat pelaksanaan.

1.7.5. Sesi kelima: Mengontrol Halusinasi dengan Patuh Minum Obat

(waktu 40 menit)

1. Persiapan

a) Mengingatkan kontrak pada pasien yang telah mengikuti sesi 4.

b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi (waktu 10 menit)

a) Salam terapeutik

1. Salam dari perawat/peneliti kepada pasien.

2. Perawat/peneliti dan pasien memakai papan nama.

b) Evaluasi/validasi

1. Menanyakan perasaan pasien saat ini.

2. Menanyakan pengalaman pasien mengontrol halusinasi setelah

menggunakan tiga cara yang telah dipelajari (menghardik,

menyibukkan diri dengan kegiatan dan bercakap-cakap).

c) Kontrak

1. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengontrol halusinasi dengan

patuh minum obat.

2. Menjelaskan aturan pelaksanaan (sama seperti sesi sebelumnya).

Universitas Sumatera Utara


3. Tahap kerja (waktu 20 menit)

a) Menjelaskan untungnya patuh minum obat, yaitu mencegah kambuh

karena obat memberi perasaan tenang, memperlambat kambuh.

b) Menjelaskan kerugian tidak patuh minum obat, yaitu penyebab kambuh.

c) Meminta pasien menyampaikan obat yang dimakan dan waktu

memakannya. Buat daftar di whiteboard.

d) Menjelaskan lima benar minum obat yaitu benar obat, benar waktu minum

obat, benar orang yang minum obat, benar cara minum obat, benar dosis

minum obat.

e) Meminta pasien menyebutkan lima benar cara minum obat, secara

bergiliran.

f) Berikan pujian pada pasien yang benar.

g) Mendiskusikan perasaan pasien sebelum minum obat (catat di

whiteboard).

h) Mendiskusikan perasaan pasien setelah teratur minum obat (catat di

whiteboard).

i) Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yaitu salah satu mencegah

halusinasi/ kambuh.

j) Meminta pasien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan

kerugian tidak patuh minum obat.

k) Memberi pujian tiap kali pasien mampu menjawab dengan benar.

Universitas Sumatera Utara


4. Tahap terminasi (waktu 10 menit)

a) Evaluasi

1. Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti pelaksanaan Standar

Asuhan Keperawatan Halusinasi.

2. Menanyakan jumlah cara mengontrol halusinasi yang sudah dipelajari.

3. Memberikan pujian atas keberhasilan pasien/responden.

b) Tindak lanjut

Menganjurkan pasien untuk menggunakan empat cara mengontrol

halusinasi, yaitu menghardik, melakukan kegiatan harian, bercakap-cakap, dan

patuh minum obat.

c) Kontrak yang akan datang

1. Mengakhiri sesi pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi

untuk mengontrol halusinasi.

2. Membuat kesepakatan baru untuk Standar Asuhan Keperawatan

Halusinasi yang lain sesuai indikasi pasien.

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 4

RIWAYAT HIDUP

Nama : Castro

Tempat/Tanggal Lahir : Lubuk Dalam/ 13 Maret 1987

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Desa Sialang Palas, Kecamatan Lubuk Dalam,

Kabupaten Siak, Riau

Riwayat Pendidikan :

1. SD Negeri 035 Lubuk Dalam Tahun 1993-1999

2. SLTP Negeri 1 Kerinci Kanan Tahun 1999-2002

3. SMA Negeri 1 Siak Tahun 2002-2005

4. DIII Keperawatan Harapan Mama Tahun 2005-2008

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 5

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 6

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 7

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 8

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 9

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 10
MASTER TABEL
Kemampuan Kemampuan
No Kognitif dan Kognitif dan
Usia Responden Pendidikan Psikomotor Psikomotor
Responden
(Tahun) Responden Responden Responden

Pra test Post test

01 30 SD 4 8

02 36 SD 4 10

03 21 SLTA 3 15

04 37 SLTP 5 15

05 41 SLTP 3 15

06 52 SD 5 16

07 31 SLTP 4 16

08 33 SD 4 16

09 24 SD 3 16

10 32 SD 4 16

11 37 SLTA 4 17

12 35 SLTP 5 17

13 34 SLTA 5 17

14 39 SLTA 5 17

15 38 SLTA 5 17

16 48 SLTA 6 17

17 40 SD 4 17

18 30 SD 4 17

19 55 SD 3 17

Universitas Sumatera Utara


20 29 SD 3 17
21 40 SLTP 3 17
22 35 SLTP 3 17
23 36 SLTP 3 18
24 39 SLTP 3 19
25 30 SLTA 4 19
26 38 SLTP 5 19
27 38 SLTA 5 19
28 37 SLTA 5 19
29 27 SLTA 5 19
30 30 SLTA 5 19
31 45 SLTP 5 19
32 28 SLTP 5 19
33 28 SD 5 19
34 30 SLTA 6 19
35 36 SD 6 19
36 35 SLTP 4 19
37 36 SLTP 5 19
38 28 SLTP 4 19
39 32 SLTP 4 19
40 27 SD 4 19

Universitas Sumatera Utara