Anda di halaman 1dari 21

REFERAT Mei 2017

Global Development Delay

Nama : Sidik Pribadi

No. Stambuk : N 111 16 043

Pembimbing : dr. Suldiah, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA

PALU

2017

0
BAB I

PENDAHULUAN

Bayi lahir dalam tahap perkembangannya akan mempelajari beberapa


kemampuan penting (misalnya berbicara, bergaul dengan lingkungannya, serta
berjalan) menurut tahap berkelanjutan yang dapat diperkirakan dengan peranan
motivasi, pengajaran dan dukungan selama pertumbuhannya. Kemampuan-
kemampuan tersebut dikenal sebagai tahapan perkembangan. Proses perkembangan
mencerminkan maturasi organ tubuh terutama sistem saraf pusat. Perkembangan anak
dinilai melalui beberapa sektor perkembangan yaitu motorik kasar, motorik halus,
kognitif, personal sosial dan bahasa, serta aktivitas sehari-hari.1

Perumbuhan adalah proses dimana bayi muda dan anak mengeksplorasi dan
belajar dan tumbuh menjadi dewasa. Keterampilan individu dibangun dan
dikombinasikan untuk menghasilkan prestasi yang lebih canggih (seperti berjalan,
berbicara, bermain, berpikir dan berkomunikasi). Pertumbuhan adalah konsep yang
sulit dan ada banyak teori untuk menjelaskan bagaimana pertumbuhan terjadi.
Banyak buku telah ditulis untuk berkontribusi terhadap pengetahuan kita dan masih
banyak yang harus dipelajari tentang pertumbuhan anak. Pertumbuhan mempunyai
peran yang sangat besar pada anak usia dini. Banyak keterampilan muncul pada masa
awal pertumbuhan dan variasi yang luas dalam peristiwa penting pada tahap-tahap
pertumbuhannya.1
Pencapaian dari seorang anak yang menjadi sebuah perhatian umumnya
adalah ketika mereka membuat banyak kegembiraan bagi orang-orang terdekat
dengannya. Diperlukan rasa ketertarikan yang besar dalam proses kemajuan
pertumbuhan anak terhadap setiap keterampilan baru dan kelakuan yang penting
(tersenyum, duduk, berjalan, berbicara dll), yang sering disebut 'tahap
perkembangan'. Kita tahu bahwa kebanyakan anak-anak mencapai tahap ini sekitar
usia tertentu dan inilah yang dimaksudkan dengan perkembangan normal.2

1
Perkembangan yang terlambat (developmental delay) adalah ketertinggalan
secara signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau
perkembangan sosial seorang anak bila dibandingkan dengan anak normal seusianya.
Seorang anak dengan developmental delay akan tertunda dalam mencapai satu atau
lebih perkembangan kemampuannya. Seorang anak dengan Global Developmental
Delay (GDD) atau Keterlambatan Perkembangan Global (KPG) adalah anak yang
tertunda dalam mencapai sebagian besar hingga semua tahapan perkembangan pada
usianya. Keterlambatan perkembangan global merupakan keadaan yang terjadi pada
masa perkembangan dalam kehidupan anak. Ciri khas KPG biasanya adalah fungsi
intelektual yang lebih rendah daripada anak seusianya disertai hambatan dalam
berkomunikasi yang cukup berarti, keterbatasan kepedulian terhadap diri sendiri,
keterbatasan kemampuan dalam pekerjaan, akademik, kesehatan dan keamanan
dirinya.2
Angka kejadian keterlambatan perkembangan secara umum sekitar 10%
anak-anak di seluruh dunia. Sedangkan angka kejadian GDD diperkirakan 1% - 3%
dari anak-anak berumur kurang dari 5 tahun. Di Indonesia, suatu penelitian di seratus
sepuluh wilayah Puskesmas di Pulau Jawa tahun 1987 mendapatkan 13% balita
berpotensi mengalami keterlambatan perkembangan. Penelitian di daerah kumuh
perkotaan di Bandung tahun 1988, ditemukan 28,5% balita mengalami keterlambatan
perkembangan. Sedangkan angka kejadian secara nasional belum pernah dilaporkan.2

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Global Developmental Delay (GDD) atau keterlambatan perkembangan
global (KPG), merupakan suatu keadaan ditemukannya keterlambatan yang bermakna
lebih atau sama dengan 2 domain perkembangan tersebut.4 Keterlambatan bermakna
artinya pencapaian kemampuan pasien kurang dari 2 standar deviasi (SD)
dibandingkan dengan rata-rata populasi pada umur yang sesuai. Istilah GDD atau
KPG dipakai untuk anak umur kurang dari 5 tahun. Pada anak berumur lebih dari 5
tahun saat tes IQ sudah dapat dilakukan dengan hasil yang akurat, istilah yang dipakai
adalah retardasi mental.1
Ciri khas KPG biasanya adalah fungsi intelektual yang lebih rendah daripada
anak seusianya disertai hambatan dalam berkomunikasi yang cukup berarti,
keterbatasan kepedulian terhadap diri sendiri, keterbatasan kemampuan dalam
pekerjaan, akademik, kesehatan dan keamanan dirinya. Selain keterlambatan dalam
pembangunan, dokter juga harus mengenali penyimpangan dalam pembangunan.
Penyimpangan terjadi ketika seorang anak mengembangkan tahapan pertumbuhan
atau keterampilan luar urutan akuisisi khas.3

2.2. Epidemiologi
Diperkirakan bahwa gangguan perkembangan mempengaruhi 5%-10% dari
populasi anak prevalensi yang dilaporkan bervariasi tergantung pada definisi kasus,
rentang usia, dan populasi sosial ekonomi karakteristik , namun prevalensi tepat dari
KPG belum juga diketahui. Sebuah sumber melaporkan 1%-5% gangguan
pertumbuhan ditemukan dalam masyarakat barat , tetapi persentase anak-anak yang
tidak mencapai potensi perkembangan lebih tinggi di negara berkembang .3

3
Sementara di Indonesia khususnya di Jakarta, telah dilakukan Stimulasi
Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak. Hasilnya, dari 476 anak
ditemukan 57 (11,9%) anak dengan kelainan tumbuh kembang. Adapun lima jenis
kelainan tumbuh kembang yang paling banyak dijumpai adalah, Delayed
Development (tumbuh kembang yang terlambat) sebanyak 22 anak, GDD sebanyak 4
anak, gizi kurang sebayak 10 anak, Mikrochepali sebanyak 7 anak dan anak yang
tidak mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa bulan terakhir sebanyak 7
anak.4
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 5% dari anak-anak di
dunia 14 tahun dan di bawah memiliki beberapa jenis kecacatan sedang hingga berat
(9). Di Amerika Serikat, gangguan perkembangan dan perilaku terjadi pada 16-18%
anak-anak di bawah usia 18 tahun. Lainnya dilaporkan prevalensi keterlambatan
perkembangan masa kanak-kanak meliputi Jamaika-15%, Pakistan-15%, dan
Bangladesh-8%. Di India, sumber telah menemukan prevalensi 1,5%-2,5% dari
keterlambatan perkembangan pada anak di bawah 2 tahun. Dampak gangguan ini
tidak hanya pada anak dan keluarga, tetapi juga masyarakat, dalam hal biaya
penyediaan layanan kesehatan, dukungan pendidikan, dan pengobatan. Bukti
mendukung bahwa pengobatan dini gangguan perkembangan mengarah ke hasil yang
lebih baik bagi anak-anak dan mengurangi beban kepada masyarakat Namun,
penelitian di Amerika Serikat menunjukkan hanya sekitar 1/3 dari anak-anak yang
teridentifikasi keterlambatan pertumbuhannya sebelum memulai sekolah, dan sebagai
hasilnya, mereka kehilangan keuntungan jangka panjang dari intervensi dini tersebut.3

2.3. Etiologi
Penentuan akurat etiologi yang mendasari merupakan langkah penting dalam
pengelolaan anak-anak dengan gangguan pertumbuhan, dengan demikian identifikasi
akurat dapat menentukan manifestasi klinis yang bermakna dan implikasi
prognosisnya. Schaefer dan Bodensteiner menulis bahwa diagnosis yang spesifik
adalah yang "dapat diterjemahkan ke dalam informasi klinis yang berguna bagi
4
keluarga, termasuk memberikan informasi tentang prognosis, risiko kekambuhan, dan
mode pilihan terapi yang tersedia." Oleh karena itu, pengenalan dini dan diagnosis
dini merupakan hal yang penting.5
Penyebab yang paling sering adalah abnormalitas kromosom dan malformasi
otak. Hal lain yang dapat berhubungan dengan penyebab GDD adalah keadaan ketika
perkembangan janin dalam kandungan, infeksi dan kelahiran prematur.5
KPG dapat merupakan manifestasi yang muncul dari berbagai kelainan
neurodevelopmental (mulai dari disabilitas belajar hingga kelainan neuromuskular.
Tabel berikut memberikan pendekatan beberapa etiologi KPG :

Tabel 1. Penyebab KPG menurut Forsyth dan Newton, 2007 (dikutip dari Walters AV, 2010)7

Kategori Komentar

Genetik atau Sindromik Sindrom yang mudah diidentifikasi,


misalnya Sindrom Down
Teridentifikasi dalam 20% dari Penyebab genetik yang tidak terlalu
mereka yang tanpa tanda-tanda jelas pada awal masa kanak-kanak,
neurologis, kelainan dismorfik, atau misalnya Sindrom Fragile X, Sindrom
riwayat keluarga Velo-cardio-facial (delesi
22q11),Sindrom Angelman, Sindrom
Soto, Sindrom Rett, fenilketonuria
maternal, mukopolisakaridosis, distrofi
muskularis tipe Duchenne, tuberus
sklerosis, neurofibromatosis tipe 1, dan
delesi subtelomerik.
Metabolik Skrining universal secara nasional
neonatus untuk fenilketonuria (PKU)
Teridentifikasi dalam 1% dari dan defisiensi acyl-Co A Dehidrogenase
mereka yang tanpa tanda-tanda rantai sedang.
neurologis, kelainan dismorfik, atau Misalnya, kelainan siklus/daur urea
riwayat keluarga

Endokrin Terdapat skrining universal neonatus


untuk hipotiroidisme kongenital
Traumatik Cedera otak yang didapat
Penyebab dari lingkungan Anak-anak memerlukan kebutuhan

5
dasarnya seperti makanan, pakaian,
kehangatan, cinta, dan stimulasi untuk
dapat berkembang secara normal
Anak-anak tanpa perhatian, diasuh
dengan kekerasan, penuh ketakutan,
dibawah stimulasi lingkungan mungkin
tidak menunjukkan perkembangan yang
normal
Ini mungkin merupakan faktor yang
berkontribusi dan ada bersamaan
dengan patologi lain dan merupakan
kondisi yaitu ketika kebutuhan anak
diluar kapasitas orangtua untuk dapat
menyediakan/memenuhinya
Malformasi serebral Misalnya, kelainan migrasi neuron
Palsi Serebral dan Kelainan Kelainan motorik dapat mengganggu
Perkembangan Koordinasi perkembangan secara umum
(Dispraksia)

Infeksi Perinatal, misalnya Rubella, CMV, HIV


Meningitis neonatal
Toksin Fetus: Alkohol maternal atau obat-
obatan saat masa kehamilan
Anak: Keracunan timbal

2.4. Perkembangan Anak dengan KPG


Komponen perkembangan yang diperiksa pada anak dengan KPG:4
a) Komponen motorik (kemampuan motorik kasar seperti bangkit berdiri,
berguling, dan motorik halus seperti memilih benda kecil)
b) Kemampuan berbicara dan bahasa(berbisik, meniru kata, menebak suara
yang didengar, berkomunikasi non verbal misalnya gesture, ekspresi
wajah, kontak mata)
c) Kemampuan kognitif (kemampuan untuk mempelajari hal baru,
menyaring dan mengolah informasi, mengingat dan menyebutkan
kembali, serta memberikan alasan)

6
d) Kemampuan sosial dan emosi (interaksi dengan orang lain dan
perkembangan sifat dan perasaan seseorang).

2.5. Gejala Klinis


Mengetahui adanya KPG memerlukan usaha karena memerlukan perhatian dalam
beberapa hal. Padahal beberapa pasien seringkali merasa tidak nyaman bila di
perhatikan. Akhirnya membuat orang tua sekaligus dokter untuk agar lebih jeli dalam
melihat gejala dan hal yang dilakukan oleh pasien tersebut. Skrining prosedur yang
dilakukan dokter, dapat membantu menggali gejala dan akan berbeda jika skrining
dilakukan dalam sekali kunjungan dengan skrining dengan beberapa kali kunjungan
karena data mengenai panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas dan berat
badan. Mengacu pada pengertian KPG yang berpatokan pada kegagalan
perkembangan dua atau lebih domain motorik kasar, motorik halus, bicara, bahasa,
kognitif, sosial, personal dan kebiasaan sehari-hari dimana belum diketahui penyebab
dari kegagalan perkembangan ini. Terdapat hal spesifik yang dapat mengarahkan
kepada diagnosa klinik KPG terkait ketidakmampuan anak dalam perkembangan
milestones yang seharusnya, yaitu5,6:

1. Anak tidak dapat duduk di lantai tanpa bantuan pada umur 8 bulan
2. Anak tidak dapat merangkak pada 12 bulan
3. Anak memiliki kemampuan bersosial yang buruk
4. Anak tidak dapat berguling pada umur 6 bulan
5. Anak memiliki masalah komunikasi
6. Anak memiliki masalah pada perkembangan motorik kasar dan halus

2.6. Diagnosis
1. Anamnesis
- Riwayat prenatal dan perinatal, penyakit ibu, infeksi yang pernah di derita

7
- Retardasi mental, kesukaran belajar, pertumbuhan, status gizi, masalah
sosial. Penyakit-penyakit bawaan (jantung, ginjal), riwayat kejang, adanya
kemunduran perkembangan.
- Kepedulian orang tua terhadap anaknya.
2. Pemeriksaan
- Menetapkan umur anak
- Pengukuran antropometri (BB, PB/TB, lingkar kepala)
- Penilaian pertumbuhan dan status gizi
- Pemeriksaan fisik : bentuk wajah, badan, kelainan neurologis, kulit
- Penilaian pendengaran sangta penting karena apabila terdapat ketulian yang
dibiarkan, anak akan mengalami gangguan bicara, belajar dan kencenderungan
terjadi masalah perilaku yang disebabkan karena kesukaran berkomunikasi.
Pada bayi baru lahir gangguan pendengaran dapat diidentifikasi dengan
menggunakan auditory evoked potentials yang mendeteksi respon batang otak,
terhadap suara atau auditory response cradle yang mendeteksi respon perilaku
yang bervariasi terhadap suara.
- Penglihatan perlu dilakukan pada bayi baru lahir walaupun penglihatan masih
terbatas (sekitar 6/200). Pada usia 6 minggu kedua mata bergerak bersama-
sama apabila mengikuti sumber cahaya dan tidak juling. Ketajaman penglihatan
selanjutnya berkembang hingga mencapai tingkat ketajaman pada orang dewasa
pada usia 3 tahun.
- Patokan tanda perkembangan terdapat dalam
Kartu Menuju Sehat (KMS) : perkembangan anak tidak sesuai (terlambat)
dengan gambar perkembangan pada usia
- Denver

8
- Penunjang : laboratorium apabila diperlukan untuk kasus infeksi, TORCH,
CT-scan atas indikasi apabila didapatkan mikrocefal, hidrosefal.
- Rujukan : THT, mata, psikiatri/psikologis, rehabilitasi medis, bedah dan
ortopedi.
3. Pemeriksaan penunjang
Secara umum, pemeriksaan laboratorium untuk anak dengan kemungkinan
gangguan perkembangan tidak dibedakan dengan tes skrining yang dilakukan pada
anak yang sehat. Hal ini penting dan dilakukan dengan periodik. Adapun beberapa
pemeriksaan penunjangnya antara lain5,6:

a. Skrining metabolik
Skrining metabolik meliputi pemeriksaan: serum asam amino, serum glukosa,
bikarbonat, laktat, piruvat, amonia, dan creatinin kinase. Skrining metabolik rutin
untuk bayi baru lahir dengan gangguan metabolisme tidak dianjurkan sebagai
evaluasi inisial pada KPG. Pemeriksaan metabolik dilakukan hanya bila
didapatkan riwayat dari anamnesis atau temuan pemeriksaan fisik yang mengarah
pada suatu etiologi yang spesifik. Sebagai contohnya, bila anak-anak dicurigai
memiliki masalah dengan gangguan motorik atau disabilitas kognitif,

9
pemeriksaan asam amino dan asam organik dapat dilakukan. Anak dengan
gangguan tonus otot harus diskrining dengan menggunakan kreatinin
phospokinase atau aldolase untuk melihat adanya kemungkin penyakit muscular
dystrophy.

b. Tes sitogenetik
Tes sitogenetik rutin dilakukan pada anak dengan KPG meskipun tidak ditemukan
dismorfik atau pada anak dengan gejala klinis yang menunjukkan suatu sindrom
yang spesifik. Uji mutasi Fragile X, dilakukan bila adanya riwayat keluarga
dengan KPG. Meskipun skrining untuk Fragile X lebih sering dilakukan anak
laki-laki karena insiden yang lebih tinggi dan severitas yang lebih buruk, skrining
pada wanita juga mungkin saja dilakukan bila terdapat indikasi yang jelas.
Diagnosis Rett syndrome perlu dipertimbangkan pada wanita dengan retardasi
mental sedang hingga berat yang tidak dapat dijelaskan.

c. Skrining tiroid
Pemeriksaan tiroid pada kondisi bayi baru lahir dengan hipotiroid kongenital
perlu dilakukan. Namun, skrining tiroid pada anak dengan KPG hanya dilakukan
bila terdapat klinis yang jelas mengarahkan pada disfungsi tiroid.

d. EEG
Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada anak dengan KPG yang memiliki riwayat
epilepsia tau sindrom epileptik yang spesifik (Landau-Kleffner). Belum terdapat
data yang cukup mengenai pemeriksaan ini sehingga belum dapat digunakan
sebagai rekomendasi pemeriksaan pada anak dengan KPG tanpa riwayat epilepsi.

e. Imaging
Pemeriksaan imaging direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada KPG
(terlebih bila ada temuan fisik berupa mikrosefali). Bila tersedia MRI harus lebih
dipilih dibandingkan CT scan jika sudah ditegakkan diagnosis secara klinis
sebelumnya

10
2.7 Diagnosis Banding

Etiologi dan penyebab dari KPG saat ini belum bisa memprediksi secara
spesifik, gangguan mana saja yang akan terlibat dalam penegakan KPG ini, terdapat
beberapa penyakit atau gangguan dengan gambaran serupa GDD, namun memiliki
beberapa perbedaan yaitu retardasi mental, palsi serebral, Attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD), dan Autism Spectrum Disorder (ASD).8

2.7.1 Retardasi Mental

Suatu keadaan yang dimulai saat masa anak-anak yang ditandai dengan
keterbatasan dalam intelegensi dan kemampuan adaptasi. Menurut kriteria DSM-IV,
retardasi mental adalah fungsi intelektual yang di bawah rata-rata, terdapat gangguan
fungsi adaptasi, onset sebelum umur 18 tahun. Untuk mengetahui adanya gangguan
fungsi intelegensi, digunakan tes IQ (akurat diatas umur 5 tahun), dengan klasifikasi
hasil:

a. Ringan , yaitu IQ 50-70


b. Sedang, yaitu IQ 40-50
c. Berat, yaitu IQ 20-40
d. Sangat berat, yaitu IQ <20

2.7.2 Palsi Serebral atau Cerebral palsy (CP)

Membedakan antara CP dengan KPG, pada CP, ada tiga faktor resiko awal yaitu
bayi lahir prematur (semakin kecil usia, semakin tinggi faktor risiko), bayi lahir
dengan ensefalopati sedang hingga berat (semakin berat keluhan semakin berat
risiko), dan bayi yang lahir dengan faktor risiko paling ringan. Dua faktor risiko awal
tersebut harus ditunjang dengan MRI untuk melihat gambaran otak. Bila terdapat

11
gangguan bahasa, penglihatan, pendengaran dan epilepsi, dapat dicurigai hal tersebut
adalah suatu gambaran CP. Selain itu, diagnosis palsi serebral dapat dilakukan
berdasarkan kriteria Levine (dikutip dari Soetjiningsih, 19957), yaitu pola gerak dan
postur; pola gerak oral; strabismus; tonus otot; evolusi reaksi postural dan
kelainannya yang mudah dikenal; refleks tendon, primitif dan plantar.

2.7.3 Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan suatu gangguan yang terjadi sangat awal dari kelahiran bayi,
yang dinamis, serta tergantung dengan perkembangan korteks. Tanda ADHD yaitu
development delay, nilai akademik yang rendah, serta permasalahan sosial.
Penggunaan milestones pada tahun ke-3 mudah mengarahkan diagnosis ADHD.

2.7.4 Autism Spectrum Disorder (ASD)

Tanda awal untuk membedakan antara ASD dengan KPG. Beberapa kata kunci
adalah gangguan bersosial. Pada tahun pertama akan sulit membedakan antara ASD
dengan KPG, yaitu ciri tidak berespon ketika nama dipanggil, afek kurang,
berkurangnya interaksi sosial, dan sulit untuk tersenyum. Pada tahun kedua dan
ketiga, bahasa tubuh yamg tidak lazim dan sangat ekspresif. Perilaku lain yakni
motorik, sensorik dan beberapa domain lain

2.8 Penatalaksanaan
Pengobatan bagi anak-anak dengan KPG hingga saat ini masih belum ditemukan.
Hal itu disebabkan oleh karakter anak-anak yang unik, dimana anak-anak belajar dan
berkembang dengan cara mereka sendiri berdasarkan kemampuan dan kelemahan
masing-masing. Sehingga penanganan KPG dilakukan sebagai suatu intervensi awal
disertai penanganan pada faktor-faktor yang beresiko menyebabkannya. Intervensi
yang dilakukan, antara lain1,5,8:

1. Speech and Language Therapy

12
Speech and Language Therapy dilakukan pada anak-anak dengan kondisi CP,
autism, kehilangan pendengaran, dan KPG. Terapi ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan berbicara, berbahasa dan oral motoric abilities.
Metode yang dilakukan bervariasi tergantung dengan kondisi dari anak tersebut.
Salah satunya, metode menggunakan jari, siulan, sedotan atau barang yang dapat
membantu anak-anak untuk belajar mengendalikan otot pada mulut, lidah dan
tenggorokan. Metode tersebut digunakan pada anak-anak dengan gangguan
pengucapan. Dalam terapi ini, terapis menggunakan alat-alat yang membuat anak-
anak tertarik untuk terus belajar dan mengikuti terapi tersebut.

2. Occupational Therapy
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak-anak untuk menjadi lebih mandiri
dalam menghadapi permasalahan tugasnya. Pada anak-anak, tugas mereka antara
bermain, belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, memakai
pakaian, makan, dan lain-lain. Sehingga anak-anak yang mengalami kemunduran
pada kemampuan kognitif, terapi ini dapat membantu mereka meningkatkan
kemampuannya untuk menghadapi permasalahannya.

3. Physical Therapy
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan halus,
keseimbangan dan koordinasinya, kekuatan dan daya tahannya. Kemampuan
motorik kasar yakni kemampuan untuk menggunakan otot yang besar seperti
berguling, merangkak, berjalan, berlari, atau melompat. Kemampuan motorik
halus yakni menggunakan otot yang lebih kecil seperti kemampuan mengambil
barang. Dalam terapi, terapis akan memantau perkembangan dari anak dilihat dari
fungsi, kekuatan, daya tahan otot dan sendi, dan kemampuan motorik oralnya.
Pada pelaksanaannya, terapi ini dilakukan oleh terapi dan orang-orang yang
berada dekat dengan anak tersebut. Sehingga terapi ini dapat mencapai tujuan
yang diinginkan.
4. Behavioral Therapies

13
Anak-anak dengan delay development akan mengalami stress pada dirinya dan
memiliki efek kepada keluarganya. Anak-anak akan bersikap agresif atau buruk
seperti melempar barang-barang, menggigit, menarik rambut, dan lain-lain.
Behavioral therapy merupakan psikoterapi yang berfokus untuk mengurangi
masalah sikap dan meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi. Terapi ini dapat
dikombinasikan dengan terapi yang lain dalam pelaksanaanya. Namun, terapi ini
bertolak belakang dengan terapi kognitif. Hal itu terlihat pada terapi kognitif yang
lebih fokus terhadap pikiran dan emosional yang mempengaruhi sikap tertentu,
sedangkan behavioural therapy dilakukan dengan mengubah dan mengurangi
sikap-sikap yang tidak diinginkan. Beberapa terapis mengkombinasikan kedua
terapi tersebut, yang disebut cognitive-behavioural therapy.
Perlu mengingat bahwa penyebab GDD dapat saja tidak diketahui sehingga
diperlikan kepekaan terhadap keadaan-keadaan yang dapat membuat keterlambatan
perkembangan dari penderita GDD. Beberapa profesi yang berbeda dapat membantu
dalam berbagai tahap perkembangan anak. Orang-orang yang terlibat adalah:2
1. Orang tua
Merupakan orang yang paling penting dari semua karena mereka yang
paling mengetahui keadaan anak mereka. Orang tua dapat
menggabungkan banyak saran yang dibuat oleh terapis dan guru ke dalam
rutinitas sehari-hari anak.
2. Dokter keluarga
Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan memiliki kebutuhan
kesehatan yang sama seperti anak-anak lain dari usia yang sama. Dokter
keluarga mengetahui keadaan seluruh keluarga, sehingga dapat
memberikan dukungan dan dorongan.
3. Dokter anak
Merupakan dokter spesialis dalam kesehatan dan perkembangan anak-
anak. Dokter anak bekerja sama dengan orang lain dan dapat membuat
rujukan ke spesialis yang tepat bila diperlukan.
14
4. Perawat
Dapat memberikan bantuan dalam berbagai cara. Perawat dari ibu dan
anak memantau perkembangan awal anak-anak dan membantu orang tua
yang peduli tentang perkembangan anak mereka. Mereka mampu
memberikan saran dan informasi tentang masalah kesehatan dan perilaku.
5. Terapis
Terapis bertujuan untuk mengajarkan orang tua bagaimana membantu
anak-anak mereka cara yang terbaik mempelajari semua keterampilan
yang diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Semua anak-anak
belajar melalui bermain dan prinsip ini digunakan untuk memberitahu
orang tua tentang cara terbaik dalam mendorong perkembangan anak
mereka.
6. Lembaga sosial
Memberikan konseling dan dukungan bagi keluarga yang memiliki
anak dengan kebutuhan khusus. Informasi tentang program intervensi dini
dan hak dan membantu dalam menemukan layanan yang paling tepat, juga
diberikan. Lembaga sosial juga dapat memberikan informasi bagi orang
tua yang ingin bertemu orang lain dengan pengalaman yang sama.
7. Psikolog
Memonitor pembangunan secara keseluruhan anak-anak dengan
mengamati dan memahami kemajuan dalam belajar bersama
perkembangan emosional dan sosial. Psikolog juga tersedia untuk
membantu jika ada beberapa kekhawatiran tentang kesejahteraan
emosional anak dan perilaku atau kesulitan dalam keluarga
8. Guru pendidikan khusus
Guru pendidikan khusus memberikan dukungan kepada keluarga dalam
berbagai cara, membantu keluarga untuk:

15
memahami lebih lanjut tentang keterlambatan pertumbuhan anak
mereka dan dampaknya terhadap pembelajaran dan pengembangan
membangun terapi / rencana program pendidikan individual
mendukung anak dan staff pengajaran anak dalam TK dan program
perawatan anak
membuat keberhasilan transisi masuk ke sekolah.

9. Audiolog
Memberikan tes pendengaran pada anak untuk memastikan mereka dapat
mendengar cukup baik untuk belajar berbicara dan memahami bahasa.
Beberapa anak dengan keterlambatan pertumbuhan tidak bisa menanggapi
suara secara konsisten. Mereka kadang-kadang tidak dapat menunjukkan
kepada kita betapa mereka bisa mendengar. Audiolog memiliki tes khusus
untuk mengukur pendengaran anak-anak tersebut. Jika ketulian terdeteksi,
audiolog bekerja dengan spesialis telinga untuk meningkatkan pendengaran
anak. Jika itu tidak mungkin, audiolog akan mengatur alat bantu dengar untuk
dipasang dan memberitahukan orang tua dalam penggunaannya.
Semua profesi ini dapat membantu keluarga untuk mengembangkan
keterampilan yang dianjurkan. Namun, orang tua dapat memilih sumber
anjurannya sendiri untuk menemani mereka ke pertemuan dan janji untuk
memberikan dukungan.
2.9 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada anak-anak dengan KPG, yakni kemunduran
perkembangan pada anak-anak yang makin memberat. Jika tidak tertangani dengan
baik, dapat mempengaruhi kemampuan yang lain, khususnya aspek psikologi dari
anak itu sendiri. Salah satunya, anak akan mengalami depresi akibat ketidakmampuan

16
dirinya dalam menghadapi permasalahannya. Sehingga anak itu dapat bersikap
negatif atau agresif.4
2.10 Prognosis
KPG memiliki kemungkinan penyebab yang beraneka ragam. Keterlambatan
perkembangan dapat terjadi pada otak anak saat otak terbentuk pada masa gestasi.
Penyebab yang mungkin antara lain: lahir premature, kelainan genetik dan herediter,
infeksi, tetapi seringkali penyebab KPG tidak dapat ditentukan. Secara umum,
perjalanan penyakit KPG tidak memburuk seiring dengan waktu pertumbuhan anak.4

BAB III

KESIMPULAN

Global Developmental Delay (GDD) atau keterlambatan perkembangan


global (KPG), merupakan suatu keadaan ditemukannya keterlambatan yang bermakna
lebih atau sama dengan 2 domain perkembangan tersebut. Keterlambatan bermakna
artinya pencapaian kemampuan pasien kurang dari 2 standar deviasi (SD)
dibandingkan dengan rata-rata populasi pada umur yang sesuai. Istilah GDD atau
KPG dipakai untuk anak umur kurang dari 5 tahun. Pada anak berumur lebih dari 5
tahun saat tes IQ sudah dapat dilakukan dengan hasil yang akurat, istilah yang dipakai
adalah retardasi mental.
Penentuan akurat etiologi yang mendasari merupakan langkah penting dalam
pengelolaan anak-anak dengan gangguan perkembangan. Sebagian besar
pemeriksaan pada anak dengan delay development difokuskan pada keterlambatan
perkembangan kemampuan kognitif, motorik, atau bahasa. Gejala yang terdapat
biasanya:
Keterlambatan perkembangan sesuai tahap perkembangan pada usianya: anak
terlambat untuk bisa duduk, berdiri, berjalan
Keterlambatan kemampuan motorik halus/kasar

17
Rendahnya kemampuan social
Perilaku agresif
Masalah dalam berkomunikasi
Beberapa pedoman memberikan rekomendasi diagnosis :
Pemeriksaan sitogenik
Pemeriksaan fragile X molecular genetic
Pemeriksaan metabolik
Pemeriksaan neurologis: EEG, MRI.
Tidak ada terapi khusus bagi penderita KPG. Perlu mengingat bahwa
penyebab KPG dapat saja tidak diketahui sehingga diperlikan kepekaan terhadap
keadaan-keadaan yang dapat membuat keterlambatan perkembangan dari penderita
KPG. Beberapa profesi yang berbeda dapat membantu dalam berbagai tahap
perkembangan anak. Orang-orang yang terlibat adalah:
1. Orang tua
2. Dokter keluarga
3. Dokter anak
4. Perawat
5. Terapis
a. Fisioterapis
b. Terapis aktivitas
c. Terapis komunkasi
6. Lembaga sosial
7. Psikolog
8. Guru pendidikan khusus
9. Audiolog
KPG memiliki kemungkinan penyebab yang beraneka ragam. Keterlambatan
perkembangan dapat terjadi pada otak anak saat otak terbentuk pada masa gestasi.
Penyebab yang mungkin antara lain: lahir premature, kelainan genetik dan herediter,

18
infeksi, tetapi seringkali penyebab KPG tidak dapat ditentukan. Secara umum,
perjalanan penyakit KPG tidak memburuk seiring dengan waktu pertumbuhan anak.

DAFTAR PUSTAKA

1. I Gusti Ngurah Suwarba, Dwi Putro Widodo, RA Setyo Handryastuti. Sari


Pediatri. Profil Klinis dan Etiologi Pasien Keterlambatan Perkembangan
Global di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Vol. 10, No. 4. Jakarta :
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia. 2008. H255-261.
2. Reddihough D, Marraffa C, Rowell M, Carne R, Ferguson L. Developmental
Delay An Information Guide for Parents. Melbourne: Educational Resource
Centre, The Royal Childrens Hospital. 2009.p 1-15
3. Poon J, Larosa A, Shadsidhar G. Developmental Delay: Timely Identification
and Assessment. Vol 47. Indian Pediatrics. 2010, 415-422
4. Moeschler J, Shevell M. Comprehensive Evaluation of the Child With
Intellectual Disability or Global Developmental Delays. 2014.
Pediatrics;134(3):903-18.
5. Attila Dewanti, Joanne Angelica Widjaja, Anna Tjandrajani, Amril A Burbany.
Sari Pediatri. Karakteristik Keterlambatan Bicara di Klinik Khusus Tumbuh
Kembang Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Tahun 2008-2009. Vol.
14. No. 4. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012. h.230-
234.
6. Loretta T, Georgios Z, Sotirios F, Lito M, Chryssa B, and Andreas K.
Predictors of severity and outcome of global developmental delay without

19
definitive etiologic yield: a prospective observational study. BMC
Pediatrics. 2014, 14:40.
7. Walters AV. Development Delay: Causes and Identification. ACNR 2010;
10(2);32-4.
8. Frances PG. Developmental Screening and Surveillance. Behrman RE,
Kliegman RM, Jenson HB, Stanton. in: Nelson Textbook of Pediatrics 18 th ed.
USA: W.B Sauders Company: 2007. p 42-49.

20