Anda di halaman 1dari 12

TEMA BULANAN : Mengembangkan Spiritualitas Pelayanan

TEMA MINGGUAN : Memilih dan Menerima Pilihan Dengan Iman


Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 6:1-7

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Kemajuan dalam bentuk apapun, tidak dapat lepas dari dampak yang ditimbulkannya. Dampak
itu bisa positif tapi juga negatif. Dalam Pelayanan gereja dampak yang diakibatkan oleh
tanggungjawab dan kesaksian gereja pun demikian. Sebab itu dalam pelayanan pun sikap
waspada dan mawas diri harus selalu ada, agar jangan teledor dan lupa diri. Pelayanan gereja
selalu melibatkan banyak orang, sebab gereja adalah perseku-tuan orang percaya, milik Kristus.
Dalam kumpulan orang ba-nyak selalu dibutuhkan pemimpin untuk menata dan mengatur
kumpulan itu. Demikianlah di dalam gereja, dibutuhkan kepe-mimpinan, tetapi bukan
pemimpin yang melayani melainkan pelayan yang memimpin.

Itulah sebabnya GMIM yang adalah bagian dari gereja Tuhan yang ada di dunia
bertanggungjawab untuk melaksanakan pemilihan pelayan khusus baik di aras jemaat, wilayah
maupun sinode. Tema bacaan kita memilih dan menerima pilihan dengan iman hendak
menyadarkan dan mengarahkan, tentang pentingnya mereka yang bertanggungjawab untuk
memilih yang terpilih. Dan jika yang memilih memiliki tanggungjawab atas siapa yang
dipilihnya, terlebih lagi mereka yang terpilih. Sebab pemilihan pemimpin dalam gereja memiliki
tujuan pelayanan yang sama sekali berbeda dengan pemimpin dunia. Sebab pelayanan gereja
selalu berorientasi pada apa yang diberikan bukan apa yang didapatkan. Pelayanan gereja harus
bebas dari campur tangan dan unsur unsur duniawi. Sehingga tidak ada susupan dan sisipan
agenda agenda tertentu, seperti agenda politik. Pemilihan gereja harus dijauhkan dari isu-isu
primor-dialistis, keunggulan jabatan, pendidikan dan harta. Karena sifat utama pelayan gereja
adalah kehambaan yang dapat diteladani, sehingga mampu memberi dampak yang memberkati
dan membawa semakin banyak orang datang kepada Yesus. Karena itu pemilihan pelayan
pemimpin dalam gereja, harus senan-tiasa bertolak pada apa yang dikatakan Yesus sebab itu
adalah lebih baik memberi daripada menerima.

PEMBAHASAN TEMATIS
PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kisah Para Rasul 6: 1-7 menceritakan tentang jumlah orang percaya yang semakin bertambah di
Yerusalem. Jemaat mula mula setelah peristiwa kenaikan Yesus dan hari Pentakosta pencurahan
Roh Kudus terpusat di Yerusalem. Keadaan ini terjadi karena para Rasul memang harus
memulai pelayanannya dari Yerusalem, tetapi adanya pemahaman bahwa Yesus akan segera
kembali membuat orang orang percaya berkumpul dan bertahan di Yerusalem. Selain itu cara
hidup jemaat mula-mula yang membagi segala milik mereka menjadi kepunyaan bersama,
telah mendorong banyak orang datang untuk bersama mereka, terutama mereka yang
berkekurangan. Para Rasul yang melayani pemberitaan firman Tuhan sambil melakukan banyak
tanda dan mujizat, telah menarik banyak orang datang kepada Yesus. Baik yang berada di
Yerusalem maupun yang berasal dari luar Yerusalem. Baik orang Yahudi berbahasa Ibrani, juga
orang Yahudi berbahasa Yunani. Akibatnya jumlah orang percaya yang makin bertambah itu dan
terkonsentrasi di Yerusalem, telah membawa masalah yang baru. Pelayanan Diakonia yang
dilakukan gereja bagi para janda menuntut perhatian lebih. Sebab ada janda-janda yang tidak
terlayani lagi, yaitu para janda orang Yahudi berbahasa Yunani. Pengabaian ini menimbulkan
sungut-sungut, perselisihan dan pertentangan diantara para murid. Sebab muncul kesan ada yang
diprio-ritaskan dan ada yang diabaikan. Seolah-olah ada ketidakadilan dalam pelayanan yang
diberikan oleh para Rasul. (ayat 1). Dengan bijaksana para Rasul mengumpulkan semua murid
dan berbicara dengan terus terang tentang apa yang terjadi. Bahwa murid yang semakin
bertambah banyak jumlahnya dan para janda yang membutuhkan pelayanan diakonia telah
menyebabkan para Rasul mengabaikan pelayan firman. (Ayat 2). Ada kejujuran dan keterbukaan
dari para Rasul dihadapan semua murid. Yang tak terlayani bukan karena ada prioritas melainkan
karena jumlah murid dan jumlah para Rasul yang tidak lagi seimbang dalam pelayanan itu. Jika
para murid orang Yahudi yang berbahasa Yunani merasa diabaikan, boleh jadi karena memang
para Rasul lebih mengenal janda janda Yahudi berbahasa Ibrani sebab mungkin mereka berasal
dari daerah-daerah yang sama atau terkendala dengan keterbatasan bahasa mengakibatkan
komunikasi yang tidak baik antara para Rasul yang berbahasa Ibrani dan orang orang Yahudi
berbahasa Yunani. Itulah sebabnya dengan jujur para Rasul mendorong supaya jemaat memilih
orang lain diantara para murid yang terkenal baik serta penuh roh dan hikmat.(ayat 3) Para Rasul
melalui tindakan ini memperlihatkan bahwa mereka bukanlah pusat pelayanan melainkan Yesus.
Setiap orang yang layak dihadapan Tuhan dan manusia terkenal baik dan penuh roh serta
hikmat dapat bersama-sama dalam tanggung jawab pelayan itu. Para Rasul bukan pemilik
pelayanan melainkan Yesus. Dan pendelegasian tanggung jawab dalam pelayanan harus
dilakukan. Supaya mereka dapat fokus pada tang-gungjawab yang lain yaitu doa dan
pemberitaan firman Tuhan (ayat 4). Pendelegasian ini menempatkan orang yang tepat pada
tanggungjawab yang tepat. Dengan demikian para Rasul menunjukkan bahwa tidak ada orang
yang sanggup melakukan segala hal sebaliknya bersama sama segala hal dapat dilakukan.

Dapat dipastikan dari nama nama para pelayan meja yang terpilih, jelas mereka datang dari
kelompok orang orang kristen Yahudi berbahasa Yunani. Pilihan ini tepat. Pertama, untuk
membuktikan bahwa para janda yang tak terlayani bukan karena ada prioritas dan pembedaan
melainkan karena ketidakkenalan para Rasul terhadap janda-janda berbahasa Yunani itu.
Sehingga dengan memilih mereka yang datang dari kelompok itu, diharapkan tidak ada lagi para
janda Yahudi berbahasa Yunani yang tak terlayani karena mereka dikenal oleh para pelayan
meja yang terpilih. Kedua, pilihan ini men-jembatani dan menyelesaikan persoalan bahasa
antara mereka yang berbahasa Yunani dan Ibrani. Ketiga, pilihan ini mem-buktikan bahwa
mereka saling percaya dan mengasihi. Tidak ada kekuatiran dan kecurigaan dari orang orang
Yahudi berbahasa Ibrani bahwa para pelayan meja yang terpilih akan mengabaikan mereka
sebagai reaksi balas dendam (ay 5).

Doa dan peletakkan tangan oleh para Rasul (ay 6), bukanlah bentuk intimidasi atau legitimasi
kuasa atas mereka yang terpilih, tetapi sebagai motivasi dan dukungan terhadap pelayanan yang
akan dilaksanakan para pelayan meja. Dengan demikian Rasul-Rasul memperlihatkan kepada
jemaat, keakraban hu-bungan dan topangan mereka bagi para pelayan meja yang terpilih.
Tindakan ini penting untuk menjadi contoh, supaya sama seperti orang orang percaya yang
mengakui dan menghargai kepemimpinan para Rasul dengan membawa mereka yang terpilih di
hadapan para Rasul, diharapkan bahwa mereka akan mengakui dan menghargai para pelayan
meja yang terpilih serta menopang pelayanan mereka, sama seperti para Rasul menghargai dan
menopang mereka, melalui doa dan peletakan tangan. Dengan demikian baik para Rasul
maupun pelayan-pelayan meja yang terpilih, menyaksikan bagi jemaat bahwa mereka adalah
kawan sekerja yang sama dihadapan Tuhan namun memiliki tugas dan fungsi yang berbeda.
Masing-masing telah melaksanakan bagiannya dengan benar dan bertanggungjawab. Itulah
sebabnya firman Tuhan makin tersebar dan jumlah murid semakin bertambah banyak, termasuk
para imam.(ayat 7). Kualitas iman dari jemaat yang memilih dan mereka yang dipilih
mengakibatkan Firman Tuhan makin luas tersebar. Firman ini menyentuh dan mengubah
kehidupan dari mereka yang menerimanya. Dan jumlah muridpun semakin bertambah banyak.
Jelas bahwa bertam-bahnya jumlah murid bukan karena kehebatan para Rasul atau pelayan
meja yang terpilih. Melainkan karena Firman Tuhan yang makin tersebar. Kuasa firmanlah yang
mendorong orang-orang datang kepada Yesus. Dan firman ini bukanlah firman yang terbatas
pada perkataan, melainkan firman yang tersebar melalui teladan perkataan dan perbuatan para
Rasul, pelayan meja dan seluruh murid Kristus, orang percaya, jemaat mula-mula.

Makna Dan Implikasi Firman

1. Sama seperti ungkapan di tiap-tiap celaka ada hikmatnya, demikianlah,


keberhasilan dalam pelayanan dapat mencip-takan hambatan, tantangan, peluang dan
kesempatan yang baru. Respon kitalah yang menentukan hal itu, apakah menjadi
berkat atau kutuk dalam kehidupan dan pelayanan. Masalah yang dialami oleh jemaat
mula-mula telah membuka jalan pada perhatian terhadap pentingnya orang-orang
khusus untuk melayani kebutuhan jasmani jemaat. Respon para Rasul memberi
peluang dan kesempatan untuk meli-batkan lebih banyak orang dalam tanggungjawab
jabatan dan pelayanan.

2. Keterbukaan dan kejujuran menjadi faktor penting, terhadap keberhasilan dalam


pelayanan. Para Rasul tidak malu, apalagi gengsi untuk berterus terang dihadapan
jemaat tentang kesulitan yang mereka alami. Tindakan ini perlu diapresiasi dan
diteladani. Dalam keterbukaan dan kejujuran, para Rasul telah membuka peluang
yang baru bagi kemajuan pelayanan.

3. Meskipun Alkitab sarat dengan cerita tentang raksasa-raksasa iman namun


pelayanan tidak membutuhkan orang-orang hebat. Yesuslah pemilik pelayanan itu dan
kehebatan dalam pelayanan terjadi sebagai dampak dari relasi yang akrab antara
Yesus dan orang-orang itu.

4. Kepada masing-masing orang Tuhan mengaruniakan ber-bagai karunia dan talenta


yang berbeda beda. Ungkapan one man show tidak berlaku dalam pelayanan gereja.
Pelayanan harus melibatkan banyak orang. Karena gereja adalah tubuh Kristus,
dimana masing-masing anggotanya memiliki bagian-bagian yang berbeda, namun
saling membutuhkan dan tergantung antara satu dengan yang lain.

5. Rasul Petrus mengatakan kasih menutupi banyak sekali dosa. Rasa kasih ini
telah membuka gerbang pelayanan yang selebar-lebarnya untuk melibatkan banyak
orang dalam pelayanan. Tanpa rasa curiga, persekutuan jemaat bergan-dengan tangan
saling mengasihi dan melayani. Demikianlah yang seharusnya terjadi atas
persekutuan orang-orang percaya. Gereja di segala masa, ruang dan waktu.

6. Pelayanan selalu membutuhkan dukungan. Dukungan itu harus datang dari tiga
arah. Pertama, tentu dari Tuhan pemilik pelayanan. Dukungan itu datang dalam
berbagai cara, pengalaman, karunia dan talenta yang berbeda beda. Kedua, dukungan
itu datang dari kawan sekerja mereka yang sama-sama memberi diri dalam
tanggungjawab pelayanan meskipun berbeda tugas dan fungsi. Ketiga, dukungan itu
harus datang dari mereka yang dilayani. Perhatikan, bukan mereka yang memilih
tetapi mereka yang dilayani. Sebab ada kesan kita cenderung ingin menye-nangkan
mereka yang memilih bukan yang harus dilayani. Jemaat, meskipun memilih namun
mereka tidak diperhatikan karena sudah memilih tetapi diperhatikan karena
merekalah yang butuh dilayani

7. Firman Tuhan dalam berbagai bentuk inovasi dan kreasi pelayanan, haruslah tetap
menjadi dasar. Sebab tidak ada kuasa yang dapat merubah manusia selain kuasa
firman Tuhan. Sebab itu gereja tidak pernah menekankan diri pada kelebihan dan
kehebatan pribadi melainkan hanya pada kuasa kebenaran firman Tuhan yang sanggup
melakukan segala perkara.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

1. Menurut Saudara manakah lebih penting, pelayanan firman atau pelayanan


meja ?

2. Siapakah yang harus memiliki iman? Yang akan memilih atau yang terpilih?
Jelaskan.
3. Sebutkan dampak dampak positif dan negatif yang ada dalam pelayanan dan
bagaimana cara mengatasinya?

NAS PEMBIMBING: Keluaran 18:19-21

POKOK-POKOK DOA:

Berdoa untuk agenda pemilihan pelayan khusus di aras Jemaat, Wilayah dan
Sinode.

Berdoa supaya setiap orang yang memilih dan dipilih dituntun oleh kuasa Roh
Kudus, supaya hasilnya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Berdoa agar pemberitaan kuasa firman Tuhan dapat terjadi di seluruh dunia,
khususnya di negara-negara minoritas Kristen. Terutama Pekabaran Injil di Indonesia.

Kedaulatan Allah Atas Gereja: Berkah


di Balik Masalah (Kisah Para Rasul 6:1-7)
Pendahuluan:

Gereja mula-mula di dalam pasal-pasal sebelumnya harus


mengalami berbagai penolakan bahkan penganiayaan yang datang dari
pihak luar. Ternyata Tuhan mengijinkan gereja mengalami tantangan dari
luar dengan sebuah tujuan yaitu agar gereja mengalami perkembangan
hingga ke ujung bumi. Setelah Injil tersebar lebih luas dan lebih banyak
orang yang mendengar Injil, gereja mengalami persoalan yang baru. Kali
ini persoalan tidak datang dari pihak luar, tetapi dari pihak dalam.

Sekalipun semua terjadi dalam control Tuhan dan Allah memiliki


tujuan tersendiri. Sedangkan Iblis memiliki tujuan yang berbeda, ia
sebaliknya ingin menyerang gereja agar terjadi perpecahan), Kita harus
waspada terhadap serangan Iblis, karena ia ingin memecah-belah kita
dengan memberikan rasa iri, sentimen, benci, dsb. Jika kita waspada dan
menyelesaikan semua persoalan dengan baik, maka persoalan ini dapat
berguna untuk pengembangan pekerjaan Tuhan, jika kita tidak waspada,
maka Iblis yang akan mendapat keuntungan.

Mari kita melihat persoalan yang dialami oleh gereja di dalam teks
ini, bagaimana para rasul menyelesaikannya dan dampaknya bagi kerajaan
Allah.

I) Persoalan di dalam gereja (ay 1).

Mula-mula pelayanan meja ditangani oleh para rasul sendiri. Kisah


para rasul 4:35,37 menceritakan bahwa persembahan untuk orang miskin
diletakkan di depan kaki rasul-rasul. Dari teks ini kita tahu bahwa mungkin
sekali sampai saat itu, pelayanan meja ditangani oleh rasul-rasul sendiri.
Tetapi akhirnya mereka menjadi kewalahan menangani hal itu, setelah
jumlah jemaat menjadi lebih banyak.

Setelah gereja mengalami pertambahan jumlah anggota, kebutuhan


pelayan juga meningkat. Secara khusus yang melayani sebagai pelayan
meja (bahasa aslinya: / diakonia; RSV menerjemahkan:
distribution of food) atau mereka yang mengatur pembagian makanan
kepada orang miskin termasuk para janda. Kisah Para Rasul 2:41
menyebutkan jumlah orang percaya waktu itu adalah 3.000 orang dan
semakin bertambah seperti yang terlihat di ayat 1. Sedangkan rasul-rasul
hanya 12 orang. Tentunya bisa dibanyangkan bahwa pelayanan meja tidak
dapat berjalan dengan baik, sekalipun para rasul menginginkan yang
terbaik. Hal ini menjadi alasan timbulnya masalah di dalam gereja. Lukas
memberikan informasi bahwa orang yang berbahasa Yunani bersungut-
sungut karena pembagian kepada janda mereka diabaikan. Keluhan ini
mungkin saja salah. Mungkin mereka hanya merasa seolah-olah
diperlakukan dengan tidak adil. Atau mungkin juga memang terjadi
ketidakadilan, tetapi yang tidak disengaja oleh sebab sedikitnya para rasul
yang harus melayani ribuan jemaat.

Masalah ini bisa memberikan dampak buruk jika tidak diselesaikan


dengan baik. Bagaimana para rasul menyelesaikan masalah ini?
II) Cara para rasul menyelesaikan masalah
Para rasul pun memiliki kerinduan yang sama: mereka ingin melayani
jemaat dengan sepenuh-penuhnya.

Tindakan para rasul di dalam menyelesaikan persoalan ini


menunjukan bahwa mereka memiliki kerinduan agar tidak ada pelayanan
yang diabaikan.Mereka ingin pelayanan terhadap orang miskin dapat
dilakukan dengan sepenuh-penuhnya. Sebagaimana mereka ingin
pelayanan Firman dikerjakan dengan kesungguhan dan fokus (perhatikan
frase dalam ay.4: supaya kami memusatkan pikiran dalam doa dan
pelayanan Firman), demikian juga dengan pelayanan meja. Pelayanan ini
sekalipun terlihat remeh hanya mengumpulkan, menghitung, membagikan,
mencatat dsb, namun mereka memandangnya sebagai pelayanan yang
penting dan harus dikerjakan secara optimal.

Para rasul ingin mencari orang khusus untuk melayani sebagai


pelayan meja bukan semata-mata karena pelayanan Firman lebih utama
dari pelayanan meja, tetapi karena panggilan mereka sebagai pelayanan
Firman sangat jelas, sehingga mereka harus mengutamakan pelayanan
Firman. Pelayanan mejapun harus diutamakan tetapi bukan oleh mereka,
tetapi oleh mereka yang terpanggil untuk itu. Para rasul ingin masing-
masing pelayanan bisa dikerjakan dengan lebih fokus dan maksimal.

Ini adalah karakter seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan yang baik
tidak harus melakukan semua pelayanan di gereja, tetapi ia harus
mengatur sedemikian rupa agar semua pelayanan dapat dikerjakan
sepenuh-penuhnya dan tidak ada pelayanan yang diabaikan.

Rasul-rasul pun menyadari kekurangan mereka (ayat 2).

Mereka mempelajari penyebab timbulnya masalah. lalu menemukan


bahwa diri merekalah yang harus dipersalahkan: mereka melalaikan
firman Allah untuk melayani meja (Kis. 6 :2). Kata melalaikan
( atau giving up) artinya berhenti melakukan sesuatu atau
mengabaikan sesuatu untuk yang lain. Karena terlalu sibuk untuk berdoa
dan mengajar Firman Tuhan dan juga melayani diakonia, maka pelayanan
mereka menjadi tidak fokus, tidak maksimal, dan ada yang merasa
terabaikan.
Yang menarik adalah para rasul tidak membela dirinya dengan
menjelaskan semua kesibukan mereka di dalam pemberitaan Injil. Tetapi
dengan rendah hati mereka mengakui bahwa problem itu adalah
kekurangan mereka. Ini adalah karakter yang harus ada dalam diri setiap
anak Tuhan, yaitu kebijaksanaan di dalam mengevaluasi diri dan
kerendahan hati di dalam mengakui kekurangan. Tanpa dua karakter ini
(kebijaksanaan dan kerendahhatian) seseorang akan menjadi sombong
dan berdosa, dengan demikian sesungguhnya pekerjaan Tuhanlah yang
dikorbankan. Mengapa? Karena semua bidang berjalan dengan tidak
optimal sebab dikerjakan hanya oleh satu orang, kedua karena jemaat
yang lain tidak dilibatkan dalam pelayanan padahal mungkin mereka
dipanggil untuk pelayanan tertentu. Akhir dari semuanya pertumbuhan dan
pengaruh gereja akan menjadi sangat lambat.

Rasul-rasul mengatur prioritas pelayanan mereka

LAI menerjemahkan Kami tak merasa puas (ay.2) . Beberapa versi


bahasa Inggris (misalnya NIV dan RSV) menerjemahkannya adalah yang
tidak benar, jika kami mengabaikan pelayanan Firman demi melakukan
pelayanan diakonia. Apakah para rasul sedang mengajarkan bahwa
pelayanan diakonia tidak penting, hanya pelayanan Firman yang penting?
Tentu tidak. Para rasul tahu dengan jelas bahwa Tuhan telah memanggil
mereka dan mengkhususkan mereka untuk berkhotbah. Mereka tidak
boleh meninggalkan pengajaran Firman. Bagi para rasul kemampuan untuk
melakukan yang prioritas dan mempercayakan yang lain kepada orang
yang tepat adalah cerminan dari seorang pemimpin yang baik.

Revised Standard Version menerjemahkan It is not pleasing atau


ini tidak menyenangkan. Tentunya tidak menyenangkan bagi Allah. Allah
tidak senang jika mereka yang dipanggil untuk mengajar Firman kehabisan
waktu dan energinya untuk melayani meja dan mengabaikan pelayanan
Firman atau sebaliknya mereka yang panggilannya adalah pelayanan meja
memaksakan dirinya untuk melayani di bidang pelayanan yang lain dan
mengabaikan pelayanan meja. Ketidaksesuaian pelayanan dengan
panggilan akan merugikan pekerjaan Allah dan Allah tidak senang.
Rasul-rasul mendelegasikan tugas kepada orang lain

Para rasul memanggil murid-murid (ay.2) dan menjelaskan panggilan


mereka yaitu untuk pemberitaan Firman. Para rasul di sini mengajarkan
kepada pada jemaat agar bekerja sesuai dengan panggilan Allah. Para
rasul memulai dengan menjelaskan panggilan diri mereka sendiri terlebih
dahulu. Bahwa mereka dipanggil dan dikhususkan untuk menyampaikan
Firman. Mereka punya waktu dan kekuatan yang tidak cukup untuk dapat
mengerjakan pelayanan yang lain dengan fokus.

Para rasul juga mengakui kekurangan mereka dan memberikan


solusi untuk kekurangan itu. Mereka mengusulkan agar dipilih tujuh orang
dari antara umat untuk tugas diakonia untuk membantu orang-orang yang
berkekurangan agar pelayanan ini dapat berjalan lebih baik dan adil.
Dengan demikian pelayanan meja berjalan optimal, demikian juga
pelayanan firman. Usulan solusi itu diterima dengan baik dan
dilaksanakan.

Kerinduan para rasul agar pelayanan ini berjalan baik terlihat betapa
berhati-hatinya mereka di dalam merekrut orang yang akan bertugas.
Rasul-rasul memberikan syarat-syarat (ay 3). Pertama, mereka haruslah
Terkenal baik NASB menerjemahkanof good reputation (mempunyai
reputasi yang baik). Kedua, Penuh Roh, ini bisa terlihat bukan dari
karunia bahasa Roh, tetapi dari buah roh (Gal. 5:22-23) dalam hidup
mereka. Dan yang ketiga, Penuh hikmat, artinya: Mengerti Firman Tuhan (
Maz. 119:98-100), dan takut kepada Allah (Ams. 1:7).
Dari kualifikasi yang ditetapkan para rasul terlihat bahwa pelayanan
diakonia bukan pelayanan yang remeh. Tidak ada pelayanan yang remeh
yang bisa dilayani oleh orang yang sembarangan. Semua pelayanan bagi
kerajaan Allah harus dilakukan oleh mereka-mereka yang dikenal baik,
penuh Roh dan hikmat, agar setelah mereka melayani mereka tidak
ditolak.

III) Hasil akhir (ay 7).

Cara memandang masalah dan cara menyelesaikan persoalan


menentukan hasil. Ketika para rasul memandang masalah dengan benar
dan menyelesaikan persoalannya dengan tepat, maka pelayanan Firman
dilakukan dengan lebih fokus karena mereka tidak harus pecah
konsentrasi untuk pelayanan yang lain, demikian juga dengan pelayanan
meja bisa dikerjakan oleh orang-orang khusus dengan fokus yang penuh.
Dengan pelayanan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan tidak ada
yang dikorbankan maka sungut-sungut tidak ada lagi, bahkan Firman Allah
makin tersebar dan jumlah murid Tuhan di Yerusalem semakin bertambah
banyak bahkan para imampun menyerahkan diri dan menjadi percaya
(ay.7).

Para imam mungkin termasuk orang yang sulit untuk dijangkau


menurut mata jasmani manusia, mereka adalah orang yang sangat
menentang Injil. Namun dengan doa dan penyampaian Injil yang fokus,
mereka menyerahkan diri dan percaya.

Gereja sepanjang zaman tidak akan lepas dari persoalan internal


maupun eksternal. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah mengijinkan semuanya
terjadi. Sejarah membuktikan bahwa seringkali persoalan yang Tuhan
ijinkan justru mendatangkan berkat. Dengan penganiayaan murid Tuhan di
Yerusalem, Injil semakin menyebar sampai ujung dunia. Ketika persoalan
itu timbul di dalam internal gereja, Tuhanpun mendatangkan berkat dengan
dibangkitkannya tujuh diaken pertama yang membuat pelayanan kepada
Tuhan semakin efektif.

Penutup:

Di dalam gereja akan terus terjadi persoalan. Kita harus belajar


untuk memandang persoalan dalam gereja dengan tepat. Pelayanan akan
menjadi efektif atau sebaliknya pelayanan yang semakin merosot
ditentukan dari cara kita memandang dan menyelesaikan persoalan.
Ketika kita melihat persoalan secara tepat kita akan menemukan
kekurangan kita, mengoptimalkan orang lain, mengatur prioritas kita dan
menyelesaikannya dengan hikmat dan pimpinan Tuhan, maka pekerjaan
Tuhan justru semakin maju, sebaliknya jika kita memandang persoalan
dengan salah dan menyelesaikannya dengan hikmat sendiri maka iblislah
yang akan mengambil keuntungan.

Kiranya semua kita dipimpin oleh Tuhan, agar dapat waspada dan
siap menyelesaikan semua persoalan dengan baik dan dengan demikian
pekerjaan Allah semakin diperluas. Amin