Anda di halaman 1dari 12

Uji Kandungan Boraks Dalam

Makanan

Nama Angota Kelompok :


1. Ajeng Galih R (01)
2. Dewi Fatimah (09)
3. Galuh Mawarani (13)
4. Luki Salwa N (21)
5. Maria Ulfa (22)
6. Mila Amaliana (23)
7. Nofritasari (25)
8. Pradina Tri U (26)
9. Septika Wulandari (29)

Kelas :
XI IPA 6

UPTD SMAN 1 Kauman


Tahun Pelajaran 2013/2014
KATA PENGANTAR
Kami mengucapkan puji syukur kepada ALLAH SWT karena atas
berkat rahmat taufiq dan hidayah-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan tentang Uji Kandungan Boraks Dalam Makanan
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyusunan laporan ini.
Dalam laporan ini kami akan menguraikan tentang ciri ciri makanan
yang mengandung boraks serta dampak negatif boraks terhadap kesehatan.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih terdapat
banyak kekurangan. Oleh karena itu kami berharap kritik dan saran dari
para pembaca untuk menyempurnakan penyusunan laporan ini.

Tulungagung, 14 Juni 2014

Penyusun
DAFTAR ISI
Lembar 1 : Kata Pengantar
Lembar 2 : Daftar Isi
Lembar 3 : Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
Lembar 4 :Bab 2 Kajian Pustaka
2.1 Landasan Teori
Lembar 5 : Bab 3 Metode Penelitian
3.1 Alat dan Bahan
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
3.3 Cara Kerja
Lembar 6 :Bab 4 Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian
Lembar 7 : Bab 5 Penutup
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Lembar 8 : Daftar Pustaka
Lembar 9 : Lampiran
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka
semakin banyak jenis bahan makanan yang diproduksi, dijual, dan
dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan lebih praktis dibandingkan
dengan bentuk segarnya. Berkembangnya produk pangan awet tersebut
hanya mungkin terjadi karena semakin tingginya kebutuhan masyarakat
perkotaan terhadap berbagai jenis makanan yang praktis dan awet.
Produksi dan suplai produk jadi yang awet biasanya dilakukan secara
sentral dalam pabrik pengolahan dan pengawetan makanan. Dengan
demikian waktu yang diperlukan untuk menyiapkan sajian sampai siap
untuk dapat disantap dapat dipersingkat, dengan hasil makanan yang sama
lezatnya seperti bila diolah sendiri dari bahan segar. Di kalangan konsumen
pangan masih sering terjadi kontroversi mengenai penggunaan bahan
tambahan makanan di industri pangan, khususnya mengenai resiko
kesehatan, terutama yang berasal dari bahan sintetik kimiawi. Sebab
masalah keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia, tetapi juga
telah menjadi masalah setiap orang.
Kebanyakan makanan yang dikemas mengandung bahan tambahan,
yaitu suatu bahan yang dapat mengawetkan makanan atau merubahnya
dengan berbagai teknik dan cara. Bahan Tambahan Makanan didefinisikan
sebagai bahan yang tidak lazim dikonsumsi sebagai makanan dan biasanya
bukan merupakan komposisi khas makanan, dapat bernilai gizi atau tidak
bernilai gizi, ditambahkan ke dalam makanan dengan sengaja untuk
membantu teknik pengolahan makanan (termasuk organoleptik) baik dalam
proses pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan,
pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan produk makanan olahan, agar
menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu makanan yang lebih baik
atau secara nyata mempengaruhi sifat khas makanan tersebut. Jadi
kontaminan atau bahan-bahan lain yang ditambahkan ke dalam makanan
untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu gizi bukan merupakan bahan
makanan tambahan.
Bahan tambahan makanan digunakan di industri-industri makanan
untuk meningkatkan mutu pangan olahan, dan penggunaan bahan tambahan
makanan tersebut dibenarkan apabila memiliki peran sebagai berikut :
1. Untuk mempertahankan nilai gizi makanan
2. Untuk orang tertentu yang memerlukan makanan diit
3. Untuk keperluan pembuatan, pengolahan, penyediaan, perlakuan,
pengemasan, dan pengangkutan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana ciri ciri makanan yang mengandung boraks?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Menguji kandungan boraks di dalam bahan makanan agar dapat
memilih makanan sehat berdasarkan informasi yang dimiliki

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Mengetahui tentang ciri ciri makanan yang mengandung boraks
serta dampak negatif boraks terhadap kesehatan sehingga kita bias
menghindari makanan tersebut karena makanan tersebut kurang baik untuk
kesehatan. Selain itu kita untuk mengetahui bahan bahan alami yang dapat
digunakan untuk memggantikan boraks.
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.1 LANDASAN TEORI
Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai
industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan
keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut
dalam air, tetapi boraks tidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa
digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat
dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.
Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika.
Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata
dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat
kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh
diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap
masuk dalam tubuh. Berikut beberapa pengaruh boraks pada kesehatan.
a. Tanda dan gejala akut :
Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP(Susunan Syaraf Pusat)
b. Tanda dan gejala kronis :
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan bodoh
- Anemia, rambut rontok dan kanker.
Sedangkan formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan
sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan
dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat
menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Beberapa pengaruh
formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut.
a. Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan
tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat
menyebabkan kanker paru-paru.
b. Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan
kulit terbakar
c. Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair,
kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan
d. Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa
perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati,
kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan
koma dan kematian
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 ALAT DAN BAHAN
Alat : Pisau
Sendok
Piring Seng
Korek Api
Bahan : Nasi Goreng Kaki Lima
Tahu
Pentol depan SMAN 1 Kauman
Siomay depan SDN Balerejo
Kerupuk
Sosis Ayam
Sosis Sapi
Sosis Kornet

3.2 WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN


Waktu : sepulang sekolah ( 09.00 - 14.00 / 14 juni 2014 )
Tempat penelitian : Dirumah Ajeng Galih R.

3.3 CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan yang telah disiapkan
2. Mencacah satu persatu bahan makanan dan menaruhnya kedalam
piring seng
3. Menetesi bahan makanan yang telah disiapkan dengan alkohol
4. Membakar makanan tersebut
5. Mengamati warna api pada permbakaran makanan tersebut
BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN

No. Bahan Makanan Warna Api


1. Nasi Goreng Kaki Lima Biru
2. Tahu Merah
3. Pentol depan SMAN 1 Kauman Merah
4. Siomay depan SDN Balerejo Biru
5. Kerupuk Merah
6. Sosis Ayam Biru
7. Sosis Sapi Biru
8. Sosis Kornet Biru

Berdasarkan data tersebut maka kami dapat membuat analisis data sebagai
berikut :
1. Nasi goring kaki lima, siomay depan sd, sosis ayam, sosis sapi, dan sosis
kornet mengandung boraks karena apinya bewarna biru
2. Tahu, pentol depan sma, kerupuk tidak mengandung boraks karena
apinya bewarna merah
BAB 5 PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang kelompok kami lakukan, makanan yang
mengandung boraks akan bewarna biru saat dibakar setelah ditetesi alkohol
jika tidak mengandung boraks apinya bewarna merah.

5.2 Saran
1. Perlu diadakan penelitian yang lebih lanjut agar mendapatkan data
yang lebih akurat.
2. Kita harus waspada dalam mengonsumsi makanan agar kesehatan kita
tetap terjaga
DAFTAR PUSTAKA

http://syaroniipa.blogspot.com/2014/03/laporan-uji-boraks.html
LAMPIRAN