Anda di halaman 1dari 30

PERAHU TANGAN

(Program Penghimpunan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Kualitas Layanan PAUD


Dan Pengembangan Ke Arah Kemandirian Lembaga)

ABSTRAK

Santosa, Kurniawan Eddy, PERAHU TANGAN, Program Penghimpunan Dana Masyarakat


Untuk Peningkatan Kualitas Layanan PAUD Dan Pengembangan Ke Arah Kemandirian
Lembaga. Karya Tulis Ilmiah Pengelola PAUD. Lomba Apresiasi PTK PAUDNI. Tahun
2014.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Spirit kami membara tapi semangat saja tidak cukup!


Mungkin demikian beberapa pegiat PAUD berujar ketika urusan kreativitas buntu diujung
terbatasnya dana operasional. Tak dipungkiri bahwa ribuan tutor PAUD memang bekerja
masih bersifat sukarela, banyak diantara mereka yang tidak mendapatkan upah layak,
selayaknya seorang yang membuat para siswa tadinya tidak tahu menjadi tahu. Bahkan
banyak dari mereka yang honornya dikembalikan ke lembaga untuk menunjang kegiatan
PAUD. Itu kenyataan. Spiritnya luar biasa!
Bantuan dari pemerintah ada dan selalu ada namun sayang disayang tidak merata dan tidak
mencukupi. Itu memang apa adanya, untuk selanjutnya pegelola PAUD dan tutorlah yang
berjuang bagaimana agar lembaganya tetap bertahan.
Sumber pendanaan rutin sebuah PAUD pada umumnya dari SPP peserta didik yang tidak
seberapa dan hasil hunting pengelola mendapatkan bantuan dari donatur yang peduli.
Selebihnya energi pengelola masih terpusat pada aspek pendidikan atau internal lembaga.
Membayangkan pendidikan anak usia dini yang penuh kreativitas, berkembang
menyenangkan sesuai harapan. Melihat peserta didik tumbuh berkembang dengan keadaan
yang membanggakan dan bertamah siap mendapatkan pendidikan selanjutnya adalah impian
dari semua pegiat PAUD. Usaha untuk menunjukkan keseriusan dalam mendidik tidak perlu
diragukan lagi. Semangat mendidik juga ditunjukkan dengan semangatnya menyerap
pengetahuan dari berbagai sumber. Sekolah lagi, menghadiri undangan
pelatihan, searching informasi melalui internet adalah bagian penting yang dilakukan tutor
PAUD demi melaksanakan pendidikan yang lebih baik. Hal itu tentunya dengan perjuangan
yang tidak mudah mengingat semua ajakan belajar selalu diiringi dengan sejumlah biaya
yang harus dikeluarkan.
Tidak sedikit guru PAUD harus mengajukan pinjaman ke koperasi untuk memenuhi
kebutuhan peningkatan kualitas dan kebutuhan pribadinya sebagai penunjang perjuangannya.
Sebenarnya yang demikian sangat memprihatinkan, bagaimana tidak, ketika seharusnya guru
PAUD berkonsentrasi terhadap pendidikan para siswanya, mereka akhirnya juga harus
memikirkan bagaimana mengembalikan pinjaman yang terkadang angsurannya lebih besar
dari pendapatannya.
Belum lagi jika kita menyoroti sarana prasarana PAUD yang belum sempurna, beberapa
terpaksa dibangun dengan dinding bambu dan masih beralas tanah. Ini sebenarnya bukan
tentang fasilitas namun tentang bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang ada. Ini
tentang bagaimana anak didik belajar dengan kondisi mengoptimalkan. Jika sumber daya bisa
dioptimalkan maka harapannya pendidikan dapat berjalan dengan hasil optimal. Sekali lagi
spirit kami membara tapi semangat saja tidak cukup!
Fakta di atas menunjukkan bahwa untuk meningkatkan layanan PAUD pengelolaan sumber
daya khususnya yang terkait dengan pendanaan sangatlah diperlukan. Dana yang memadai
akan sangat membantu peningkatan mutu layanan PAUD. Guru bisa sekolah dengan tenang
tanpa dihantui perasaan dikejar-kejar membayar hutang. Anak-anak bisa belajar dengan
senang karena mainan yang cukup, tidak membahayakan, tempat bermain yang bersih dan
dan terang. Kesejahteraan guru dan pengelola terpenuhi sehingga optimal dalam pengelolaan
pendidikan.
Dengan demikian dibutuhkan satu program yang dapat mudah dilaksanakan oleh pengelola
PAUD untuk mengantisipasi bertambahnya kebutuhan dalam program pendidikan yang
dlaksanakan. Program yang secara kreatif dan tidak membuat malu dilaksananakan untuk
mendapatkan sejumlah dana dari masyarakat yang simpati, tertarik dan peduli dengan PAUD.
Agar tujuan pendidikan anak usia dini terwujud dan menjadi bagian penting dalam
menyiapkan karakter anak maka manajemen PAUD dalam pemberdayaan dana masyarakat
dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan perlu mengaplikasikan program pendukung
yang kreatif, inovatif dan solutif terkait dengan pemberdayaan dana tersebut. Program yang
dimaksud disebut PERAHU TANGAN,PElaksanaan Program Penghimpunan Dana
Masyarakat Untuk Peningkatan Kualitas Layanan PAUD Dan Pengembangan Ke Arah
Kemandirian Lembaga. PERAHU TANGAN merupakan program yang dilaksanakan
pengelola PAUD dengan cara yang unik, kreatif dan tetap elegan. Tidak terkesan meminta-
minta bahkan para pendukung program PAUD mendapatkan manfaat dari PERAHU
TANGAN tersebut.
Selain itu PERAHU TANGAN bertujuan bukan semata selalu menghimpun dan menunggu
uluran tangan saja melainkan kedepannya PAUD dapat berjalan mandiri dikarenakan
terbangunnya unit-unit produktif dari keberadaan PAUD itu sendiri.
B. Masalah
a. Apa saja komponen PERAHU TANGAN sebagai aplikasi manajemen pemberdayaan
dana desa atau masyarakat dalam meningkatkan mutu layanan PAUD?
b. Mengapa PERAHU TANGAN digunakan sebagai program pemberdayaan dana desa
atau masyarakat dalam meningkatkan mutu layanan PAUD?
c. Bagaimana cara kerja PERAHU TANGAN agar dapat mewujudkan manajemen
pemberdayaan dana desa atau masyarakat dalam meningkatkan mutu layanan PAUD?
d. Faktor apa saja sebagai pendukung terlaksananya PERAHU TANGAN?
e. Apa hambatan atau kendala pelaksanaan PERAHU TANGAN?
f. Apakah PERAHU TANGAN dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia?
C. Tujuan
a. Mengetahui komponen PERAHU TANGAN sebagai aplikasi manajemen pemberdayaan
dana desa atau masyarakat dalam meningkatkan mutu layanan PAUD
b. Menjelaskan sebab-sebab PERAHU TANGAN digunakan dalam manajemen
pemberdayaan dana desa atau masyarakat dalam meningkatkan mutu layanan PAUD
c. Memahami cara kerja PERAHU TANGAN dalam manajemen pemberdayaan dana desa
atau masyarakat dalam meningkatkan mutu layanan PAUD
d. Mengetahui faktor-faktor pendukung dalam penerapan PERAHU TANGAN dan
mengoptimasi faktor-faktor tersebut
e. Mengetahui faktor-faktor penghambat dan kendala dalam penerapan PERAHU
TANGAN dan meminimalisir hambatan yang ada
f. Menjelaskan bahwa PERAHU TANGAN adalah model yang bisa dilaksanakan di mana
saja di Indonesia.
D. Manfaat
a. Bagi pengelola PAUD, PERAHU TANGAN memberikan solusi pendanaan baik untuk
operasional maupun untuk pengembangan.
b. PERAHU TANGAN juga menginspirasi manajemen penghimpunan dana yang baik
c. Bagi guru atau tutor PAUD, PERAHU TANGAN mendukung terciptanya pembelajaran
yang optimal dengan memberikan kelengkapan dalam pembelajaran baik bahan, metode dan
tekniknya.
d. Bagi jejaring mitra, PERAHU TANGAN memberikan solusi pendistribusian dana sosial
dengan sistem yang lebih baik, terbuka dan tepat sasaran
e. Bagi pemerintah, PERAHU TANGAN sangat mendorong terbangunnya sikap
kemandirianlembaga pendidikan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Manajemen

PERAHU TANGAN adalah program yang muncul dari sebuah tatanan pengelolaan
(manajemen) lembaga PAUD yang bertujuan pengelolaan dana dari masyarakat untuk
peningkatan mutu layanan pendidikan. Oleh sebab itu sebelum pembahasan lebih mendalam
perlu kita ingatkan kembali tentang apa itu manajemen.
Adapun fungsi utama dalam manajemen menjadi landasan dalam menjalankan PERAHU
TANGAN memberikan porsinya masing-masing dalam mencapai tujuannya yaitu
meningkatkan layanan pendidikan dan pengembangan kemandirian lembaga
1. Fungsi Perencanaan
Proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa
yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan
tujuan organisasi.
Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan :
a. Menetapkan tujuan dan target bisnis, dalam rancangan PERAHU TANGAN, pengelola
bersama tim berusaha menentukan tujuan dari penghimpunan dana sosial dari masyarakat.
b. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut, dalam rancangan
PERAHU TANGAN, pengelola merumuskan strategi bagaimana penghimpunan dana
dilakukan, kegiatan apa saja yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan langkah apa yang
disiapkan untuk mancapai target yang ditetapkan.
c. Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan. Sumber daya yang dibutuhkan
PERAHU TANGAN antara lain, manusia sebagai pelaksananya, dana untuk membiayai
operasional, alat pendukung lainnya seperti kendaraan, alat kantor dan lainnya.
d. Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis,
pengelola dalam melaksanakan PERAHU TANGAN perlu menetapkan indikator
keberhasilan dalam kinerja PERAHU TANGAN tersebut
2. Fungsi Pengorganisasian
Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam
perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan
lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam
organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi
Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian :
a. Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan
prosedur yang diperlukan. Pengelola PAUD membuat struktur organisasi yang akan
menjalankan fungsi-fungsi PERAHU TANGAN, membuat job deskripsi untuk semua
petugas, dan menuangkan sistem kerja melalui standart operasional precedur (SOP) nya.
b. Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan
tanggungjawab. Pengelola PAUD menetapkan struktur kepanitiaan dengan juklak dan juknis
yang jelas.
c. Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya
manusia/tenaga kerja. Pengelola PAUD menghadirkan pakar atau ahli yang berkompeten
untuk melatih tim PERAHU TANGAN dengan tujuan memberikan arahan, pijakan teori dan
sharing pengalaman yang sangat bermanfaat untuk pelaksanaan PERAHU TANGAN
kemudian.
d. Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat. Tim yang
menjalankan tugas adalah tim yang sudah dipandang mampu dan jika memungkinkan adalah
tim yang telah melalui proses seleksi dan screening dalam perekrutannya sehingga
memahami tujuan dan target dalam pelaksanaan PERAHU TANGAN
3. Fungsi Pengarahan dan Implementasi
Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta
proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan
penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi :
a. Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi
kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan.
Pada level ini PERAHU TANGAN menjalankan fungsi kerja dalam tiga prinsip yaitu prinsip
penghimpunan, prinsip pendistribusian dan prinsip kegunaan.
b. Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan. Dalam setiap langkah
manajemen PERAHU TANGAN tetap dalam kondisi sosialisasi untuk tetap jelas fungsi dan
tugasnya dan memberikan penjelasan rutin tentang perkembangan PERAHU TANGAN baik
ke internal lembaga maupun kepada masyarakat
c. Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan. Secara struktural kelembagaan memberikan
informasi aktual tentang kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan PERAHU TANGAN. Hal
ini bertujuan agar langkah strategis dapat mencapai tujuan yang ditargetkan.
4. Fungsi Pengawasan dan Pengendalian
Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah
direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target
yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang
dihadapi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian :
a. Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan
indikator yang telah ditetapkan. Secara periodik pelaksanaan PERAHU TANGAN harus
melalui proses evaluasi baik internal maupun eksternal agar dapat melakukan kinerja yang
efektif, efisien, bersih dan transparan.
b. Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin
ditemukan. Jika terjadi penyimpangan dari prosedur maka harus diambil langkah-langkah
nyata untuk memperbaiki dan menyelamatkan organisasi.
c. Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan
pencapaian tujuan dan target bisnis.
5. Fungsi Operasional dalam Manajemen
Pada pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen yang dijalankan menurut tahapan tertentu
akan sangat berbeda jika didasarkan pada fungsi operasionalnya. secara operasional, fungsi
planning untuk sumber daya manusia akan berbeda dengan fungsi planning untuk sumber
daya fisik/alam, dan sebagainya. (Kiteklik, 2010)
B. Pengertian Program

Seperti yang diterangkan Kang Moes (tt). Pengertian program adalah rancangan mengenai
asas serta usaha (dalam ketatanegaraan, perekonomian yang akan dijalankan). Dalam istilah
komputer, program mengacu pada urutan perintah yang diberikan pada komputer untuk
membuat fungsi atau tugas tertentu. Pengertian program ini memiliki kesamaan dengan
pengertian program dalam bahasa inggris yang oleh kamus Oxford didefinisikan sebagai
berikut
A series of instructions in code that control the operations of a computer Serangkaian
instruksi dalam kode yang mengontrol operasi dari sebuah komputer.
Namun ternyata ketika kita telusur lebih lanjut, ternyata program dalam bahasa inggris juga
memiliki persamaan dengan istilah programme yang memiliki definisi sebagai berikut:
A film, play, etc that is broadcast on television or radio.Artinya: Sebuah film, drama, dll
yang disiarkan di televisi atau radio.
A plan of future events, activities. Artinya: Rencana acara masa depan, kegiatan A series
of items in concer, on a course of study. Artinya: Serangkaian item dalam konser, pada
suatu program studi
Di sini sekali lagi kita melihat bahwa istilah program memiliki definisi yang berbeda-beda,
tergantung dalam ruang lingkup apa kita berbicara. Tak heran jika saat ini kita bisa menemui
berbagai macam istilah program yang dikaitkan dengan istilah lain sehingga muncul paduan
kata baru yang memiliki makna baru, misalnya.
Program akademik; program dalam sistem persekolahan yang hanya mempersiapkan
sejumlah mata pelajaran yang diperuntukkan bagi siswa yang ingin melanjutkan studi.
Program akselerasi; seperangkat kegiatan kependidikan yang diatur sedemikian rumpa
sehingga dapat dilaksanakan oleh anak didik dalam waktu yang lebih singkat dari biasanya.
Program kontrol; serangkaian instruksi yang mengatur langkah-langkah yang harus diambil
oleh suatu sistem komputer. Demikian tadi ulasan singkat mengenai pengertian program,
semoga berguna bagi kita semua.
Adapun dalam PERAHU TANGAN yang dimaksud program adalah serangkaian kegiatan
maupun strategi yang dilakukan dalam rangka penghimpunan dana dari masyarakat dengan
tujuan meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini dan melaksanakan
pengembangan organisasi untuk meraih kemandirian lembaga.
C. Pengertian Penghimpunan Dana Masyarakat (Fundraising)
Dalam perkembangannya penghimpunan dana masyarakat yang bersifat nonprofit sering
disebut dengan fundraising. Menurut Pedoman Manajemen Pengelolaan Zakat Direktorat
Pemberdayaan Zakat Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI
2009 fundraising berarti penghimpunan dana atau penggalangan dana, sedangkan menurut
istilah fundraising merupakan suatu upaya atau proses kegiatan dalam rangka menghimpun
dana zakat, infaq dan shodaqoh serta sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu,
kelompok, organisasi dan perusahaan yang akan disalurkan dan didayagunakan untuk
mustahik. (2009:65)
Sedangkan April Purwanto mendefinisakn fundraising sebagai proses memengaruhi
masyarakat baik perseorangan sebagai individu atau perwakilan masyarakat maupun lembaga
agar menyalurkan dananya kepada sebuah organisasi. Adapun menurut Sudewo (2004:189)
dalam melaksanakan aktivitas penggalangan dana, bagian penghimpunan dapat
menyelenggarakan berbagai macam kegiatan. Ragam program kegiatan ini akhirnya dapat
ditawarkan sebagai kerja sama program dengan perusahaan dan lembaga yang lain.
Dari uraian di atas menurut Muhammad Muflih (2014:03) didapat pengertian tentang
penghimpunan dana sosial dari masyarakat ataufundraising adalah proses mempengaruhi
masyarakat (muzaki) agar mau melakukan amal kebajikan dalam bentuk penyerahan dana
atau sumber daya lainnya yang bernilai untuk disampaikan kepada masyarakat yang
membutuhkan. Makna mempengaruhi masyarakat tersebut meliputi: memberitahukan,
mengingatkan, mendorong, membujuk, merayu atau mengiming-imingi, termasuk juga
melakukan tekanan, jika hal tersebut dimungkinkan atau diperbolehkan.
Dalam hal ini PERAHU TANGAN menempatkan penghimpunan dana sosial dari masyarakat
sebagai core activity. Proses penghimpunan dana atau fundraising dalam pelaksanaan
PERAHU TANGAN akan dilaksanakan dengan cara yang kreatif, penghimpunan sukarela,
bermacam kegiatan yang bermanfaat, dan tentunya bersinergi dengan jejaring mitra.

D. Pengertian Kualitas dan Kualitas Layanan


Secara bahasa kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu; kadar, derajat atau taraf
(kepandaian, kecakapan, dsb).(KBBI) Dalam kamus Oxford kualitas diartikan sebagai The
standard of something as measured against other things of a similar kind; the degree of
excellence of something,(Oxford) yang artinya secara bebas adalah Standar sesuatu yang
diukur terhadap hal-hal lain yang serupa ; tingkat keunggulan sesuatu.. Di sini keberadaan
kualitaslah yang menjadikan suatu benda itu berbeda. Perbedaan yang terdapat pada benda ini
menjadikan benda ini istimewa dan spesial dibandingkan dengan benda lainnya yang masih
tergolong sama.
Berikut merupakan beberapa pengertian mutu berdasarkan kriteria yang berbeda-beda:
1. Melebihi dari yang dibayangkan atau diinginkan
2. Kesesuaian antara keinginan dan kenyataan pelayanan
3. Sangat cocok dalam pemakaian
4. Selalu dalam perbaikan dan penyempurnaan terus menerus
5. Dari awal tidak ada kesalahan
6. Membanggakan dan membahagiakan pelanggan
7. Tidak ada cacat atau rusak.
(Engkoswara, 2010:304)
Joseph Juran, memiliki pendapat bahwa quality is fitness for use. Secara bebas mutu di sini
diartikan sebagai kesesuaian atau enaknya barang itu digunakan (mutu produk).
(Prawirosentono, 2004:5). Contoh sederhana dari mutu seperti ini adalah ketika kita membeli
suatu produk dan produk itu sesuai dengan yang kita inginkan maka kita menilai produk itu
bagus atau baik. Misalnya baju yang kita beli memiliki mutu jika ketika kita memakai baju
tersebut merasa puas karena terlihat baik dan bagus sesuai keinginan kita meskipun mahal.
Berbeda dengan sebaliknya, apabila baju yang kita beli tidak cocok maka kita akan menilai
baju atau produk tersebut tidak bermutu. Demikian juga mutu dalam organisasi nonprofit
(jasa). Sebuah contoh yaitu jasa laundry, jika pakaian yang kita titipkan untuk dicuci di jasa
laundry tersebut memuaskan kita dengan hasil harum dan bersih maka kita akan merasa
senang dan puas seraya kita menilai jasa laundry tersebut bermutu. Namun berbeda jika
pakaian yang kita titipkan itu ternyata masih kotor dan bau, maka kita akan menilai jasa
laundry tersebut tidak bermutu atau mutunya jelek.
Pengertian yang dikemukakan Juran di atas merupakan definisi mutu dalam arti sempit dari
segi konsumen atau pelanggan. Ditinjau dari pandangan produsen, mutu merupakan kata
yang cukup rumit untuk didefinisikan karena mutu dari segi produsen bergantung pada
beberapa hal berikut: merancang, memproduksi, mengirimkan atau menyerahkan barang
kepada konsumen, pelayanan pada konsumen, dan penggunaan barang (jasa) tersebut oleh
konsumen.

Mutu dari sisi produsen dapat diartikan sebagai yang diungkapkan Suyadi adalah, Mutu
suatu produk adalah keadaan fisik, fungsi, dan sifat suatu produk bersangkutan yang dapat
memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai nilai uang yang telah
dikeluarkan.(Prawirosentono, 2004:6)Dalam pengertian yang lebih luas, Juran mengartikan
mutu sebagai kinerja organisasi secara keseluruhan yang difokuskan secara sinergi pada
kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Di sinilah mutu dipersepsikan sebagai total quality
management.(Engkoswara, 2010: 304)

Itulah pengertian kualitas menurut salah satu tokoh yaitu Juran. Mengenai contoh-contoh
lain dari pengertian mutu sebagaimana yang didefinisikan di atas dapat kita terapkan dalam
berbagai produk, barang, atau jasa yang kita lihat dan alami sehari-hari, seperti di bank-bank,
warung, panti pijat, tukang cukur, di bengkel, di pasar, dan di institusi-institusi pendidikan di
sekitar kita.

Adapun Philip B. Crosby mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian dengan apa yang
disyaratkan atau distandarkan(Conformance to requirement).(Mulyadi, 2010:78) Secara
sederhana sebuah produk dikatakan berkualitas apabila produk tersebut sesuai dengan standar
kualitas yang telah ditentukan yang meliputi bahan baku, proses produksi, dan produk jadi.
(Umiarso, 2011:121)

Dari definisi ini, mutu itu diartikan sebagai kesesuaian dengan standar yang ada. Sebagai
contoh dalam sebuah organisasi memproduk sebuah produk atau barang akan dikatakan
bermutu jika barang atau produk tersebut sudah sesuai dengan standar yang ada. Dalam
organisasi nonprofit misalhnya, didunia pendidikan memiliki beberapa standar. Organisasi
pendidikan itu dikatakan bermutu jika organisasi tersebut telah memenuhi standar-standar
yang ada.

Dari berbagai definisi mutu yang dikemukakan oleh para tokoh di atas, setidaknya ada
beberapa hal yang menjadi indikator dari sebuah kualitaas atau mutu. Antara
lain: pertama, kesesuaian untuk pemakaian, kedua, kesesuaian dengan standar, ketiga,
kesesuaian dengan kebutuhan pasar, keempat, kepuasan pelanggan, kelima, kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi
atau melebihi harapan. Berdasarkan beberapa indikator di atas penulis mencoba
mendefinisikan mutu sebagai kondisi dinamis mengenai produk, dan jasa yang menuntut
untuk pemenuhan standar, kebutuhan, harapan, dan keinginan pelanggan yang cocok untuk
digunakan dan menjadikan pelanggan merasa puas.

Selanjutnya, seperti yang ditulis kembali oleh Sjifa Aulia (2012) Menurut Prof. David
Garvin, penulis buku Managing Quality: The Strategic and Competitive Edge, menyatakan
bahwa ada delapan dimensi yang dimiliki kualitas. Delapan dimensi tersebut adalah sebagai
berikut.

1. Performance (kinerja)

Karakterisrik dasar dari sebuah produk. Jika dikaitkan dengan PERAHU TANGAN maka
kualitas yang ditunjukkan berupa solidnya tim kerja dan tingkat efektif dan efisiensi dalam
melaksanakan program-program yang ada.
2. Durability (daya tahan)

Lamanya sebuah produk bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk, maka semakin besar pula daya tahan
produk. Program PERAHU TANGAN harus dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang
ditentukan. Semakin banyaknya support dari masyarakat dalam mendukung kegiatan
PERAHU TANGAN maka program tersebut bisa dipastikan bertahan lama karena diminati
oleh masyarakat.

3. Conformance (kesesuaian)

Kesesuaian kinerja dan mutu produk dengan standar, minimalisasi kecacatan produk.
PERAHU TANGAN harus mempunyai perencanaan dan perorganisasian kerja yang matang
sehingga tidak muncul gap yang tinggi antara program yang diharapkan dengan hasil dari
proses pengerjaannya.

4. Perceived quality (mutu/kualitas yang diterima)

Mutu/kualitas yang diterima dan dirasakan oleh konsumen. Kenyamanan dan kepuasan baik
dari sisi pengguna PERAHU TANGAN maupun dari supporter menjadi tolok ukur dari
kualitas yang diterima

5. Features (fitur)

Karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah
ketertarikan konsumen terhadap produk. Pelaksanaan PERAHU TANGAN harus dibuat
sekreatif mungkin didukung dengan gaya yang khas dan unik, mengutamakan kemudahan
dalam memberi dukungan dan terbangunnya kepercayaan masyarakat

6. Aesthetics (estetika)

Penampilan produk yang bisa dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari
produk.PERAHU TANGAN juga mempunyai produk-produk yang sangat digemari oleh
masyarakat dengan memberikan merchandise sebagai wujud terima kasih telah didukung
dengan menjaga mutu keindahan dari produk-produk tersebut.

7. Reliability (reliabilitas)
Probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu
tertentu. Semakin kecil kemungkinnan terjadinya kerusakan, maka produk tersebut dapat
diandalkan. PERAHU TANGAN harus mempunyai kegiatan-kegiatan yang bisa diandalkan,
tentunya itu adalah kegiatan yang sangat disenangi masyarakat para pendukung program
penghimpunan dana

8. Serviceability (kemudahan perbaikan)

Kemudahan servis atau perbaikan produk ketika dibutuhkan.kesiapan tim PERHU TANGAN
haruslah terlatih dalam hal penghimpunan dana, menangani komplain dan pendistribusian
serta pengembangan kegiatan lainnya.

E. Pengertian Pengembangan

Menurut Bustanuddin pengembangan adalah segala langkah dan pemikiran untuk


memperluas, memperdalam, dan mengembangkan. (1999). Definisi
Pengembangan Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis,
teoritis, konseptual, dan moral karyawan sesuai dengan kebituhan pekerjaan/ jabatan melalui
pendidikan dan latihan.

Edwin B. Flippo mendefinisikan pengembangan sebagai berikut:Pendidikan adalah


berhubungan dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas lingkungan kita
secara menyeluruh, sedangkan latihan didefinisikan sebagai berikut: Latihan adalah
merupakan suatu usaha peningkatan pengetahuan dan keahlianseorang karyawan untuk
mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Sedangkan Andrew F. Sikula mendefinisikan
pengembangan sebagaiberikut: Pengembangan mengacu pada masalah staf dan personel
adalah suatu proses pendidikan jangka panjang menggunakan suatu prosedur yang sistematis
dan terorganisasi dengan mana manajer belajar pengetahuan konseptual dan teoritis untuk
tujuan umum.

Menukil apa yang ditulis Afhie (2012:12) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan (1989: 414). Dan lebih
dijelaskan lagi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta, bahwa
pengembangan adalah perbuatan menjadikan bertambah, berubah sempurna (pikiran,
pengetahuan dan sebagainya) (2002: 473).
Kegiatan pengembangan meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang
diikuti dengan kegiatan penyempurnaan sehingga diperoleh bentuk yang dianggap memadahi.
Untuk melakukan kegiatan pengembangan media pembelajaran diperlukan prosedur
pengembangan. Prosedur pengembangan adalah langkah-langkah prosedural yang harus
ditempuh oleh pengembang agar sampai ke produk yang dispesifikasikan. Prosedur
pengembangan media meliputi beberapa tahap, yaitu perencanaan atau penyusunan
rancangan media, produksi media, dan evaluasi media. (Afhie, 2011:12)

Jadi rencananya PERAHU TANGAN dengan dana yang dihimpun dari masyarakat
mempunyai kegiatan yang bersifat bukan saja meningkatkan kualitas layanan pendidikan
anak usia dini juga mengembangkan baik dari sisi internal kelembagaan maupun eksternal
lembaga.

Pengembangan ini juga merupakan tanggung jawab PERAHU TANGAN kepada penyandang
dana karena diharapkan ke depan lembaga PAUD dapat mandiri membiayai kegiatan-
kegiatan pendidikannya.

F. Pengertian Mandiri

Secara umum kemandirian berasal dari kata mandiri yang mendapat tambahan ke dan an
yang berarti diperintah oleh dirinya sendiri, kebalikan dari tergantung kepada pihak lain
yang berarti diperintah orang lain. (Kaswardi, 1993:56) Kemandirian merupakan sifat dan
prilaku mandiri yang merupakan salah satu unsur sikap. Konsep sikap yang ada bersifat
teoritik, adapula yang bersifat operasional untuk pengukuran sikap. Jadi kemandirian adalah
bentuk sikap terhadap individu yang memiliki independensi yang tidak terpengaruh oleh
orang lain.(Chabib, 1996:21)

Kemandirian juga berarti perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah atau
hambatan, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan
orang lain. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini yang mengatakan bahwa
kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri. Secara singkat
dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian suatu keadaan dimana
seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya. Dengan demikian
akan berperilaku yang :(Haryanto:2009)

1. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,
2. Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya,

3. Bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Dalam konteks kebangsaan, bangsa yang mandiri itu artinya bangsa yang mampu berdiri di
atas kekuatan sendiri dengan segala sumberdaya yang dimiliki, mampu memecahkan
persoalan yang dihadapi dan mampu mengembangkan inovasi dan riset di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing. Hal ini
dipertegas oleh Robert Havighurst bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :

1. Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak
tergantungnya kebutuhan emosi dari orang lain,
2. Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak
tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain,
3. Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi dan kemampuan mengembangkan daya kreasi dan inovasi.
4. Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan
orang lain dan tidak menunggu aksi dari orang lain. (Haryanto:2009)
Beberapa aspek di atas, dapat disimpulkan kemandirian merupakan suatu sikap yang
diperoleh secara komulatif selama perkembangan hidupnya dimana suatu bangsa akan terus
belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapinya. Dengan
kemandiriannya, suatu bangsa dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang lebih
baik dan lebih mantap.
Rizky (2010:11) menuliskan beberapa definisi kemandirian dari beberapa tokoh, Menurut
Brewer yang dikutip oleh Medinnus dan Jonson bahwa,
The Following behaviours were sign of independence : yaking intiative, trying to overcome
obstacles in the enviromen, trying to carry actieve to completron, getting satisfaction from
work, and trying to routine task by one self, whereas were sign of dependence : seeking help,
seeking physical contact, seeking proximity, seeking attention and recognition (Artinya
bahwa dalam kemandirian ditandai oleh adanya inisiatif, berusaha mengatasi rintangan yang
ada dalam lingkungannya, mencoba melakukan aktifitas menuju kesempurnaan, memperoleh
kepuasan dari pekerjaannya dan mengerjakan pekerjaan rutin sendiri, sedangkan
ketergantungan lawan kata dari kemandirian, selalu berhubungan dengan orang lain, selalu
berdekatan mengharapkan perhatian dan menginginkan penghargaan)
Charlesh Schaeffer mengungkapkan bahwa tingkat kemandirian yang ada pada setiap orang
berbedabeda, ada yang tinggi dan ada yang rendah, kemandirian yang tinggi cenderung
memiliki rasa percaya diri tinggi, banyak inisiatif, rasa tanggung jawab, serta mengerjakan
sesuatu untuk dan oleh dirinya sendiri"
Murry mengungkapkan, anak yang mempunyai kemandirian dalam belajar berpeluang untuk
meraih prestasi belajar yang diharapkan" kemandirian merupakan salah satu faktor internal
yang memberikan kontribusi dalam pencapaian prestasi. Pendapat ini diperkuat oleh The
Liang Gie bahwa, kemandirian siswa dalam belajar adalah situasi yang memungkinkan
seseorang siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman serta keterampilan atas prakarsa
atau inisiatif dan kemampuan sendiri"
Lindzey, Aranson dan Hall Calvin mengartikan bahwa, Mereka yang mempunyai
kemandirian menunjukan inisiatif, berusaha mengejar prestasi mempunyai percaya diri yang
kuat, mempunyai rasa ingin tahu yang menonjol dan relatif jarang mencari perlindungan
orang lain
Hetherington, Kemandirian menunjukan kepada adanya kemampuan untuk mengambil
inisiatif, kemampuan mengatasi masalah, penuh ketekunan, mengatasi sendiri kesulitannya
dan ingin melakukan hal hal untuk dan oleh dirinya sendiri"
Adapun Smart M.S dan Smart R.C, Independency is marked with self confidence, have own
goal and self control, explorative, being able and statisty of his job (Artinya kemandirian
ditandai oleh adanya kepercayaan diri, mempunyai tujuan, dan kontrol diri, ekploratif,
mampu dan puas atas pekerjaannya)
Jadi jika dihubungkan dengan PERAHU TANGAN diharapkan dengan program yang ada
PAUD bisa lebih mandiri dalam artian mempunyai kepercayan diri lembaga yang kuat,
dengan tujuan-tujuan yang jelas, mampu mengeksploari potensi-potensi yang dimiliki
lembaga dan kemudian mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk menunjukkan
kemampuan lembaga.
G. Kerangka Berfikir
Sesuai judul karya ini, PERAHU TANGAN Program Penghimpunan Dana Masyarakat
Untuk Peningkatan Kualitas Layanan PAUD dan Pengembangan Ke Arah Kemandirian
Lembaga akan mengungkap bagaimana pengelola PAUD dapat melaksanakan penghimpunan
dana dari masyarakat dengan cara kreatif, inovatif dan solutif dengan tujuan peningkatan
layanan PAUD.
Karya ini juga akan mengulas tentang prinsip-prinsip PERAHU TANGAN yang harus
dilaksanakan agar penghimpunan dana berjalan dengan baik, terpercaya dan berkelanjutan.
PERAHU TANGAN akan dijabarkan berikut dengan contoh-contoh kegiatan yang
membangkitkan selera pengelola agar bertambah semangat dalam mengelola PAUD.
Kegiatan-kegiatan yang disajikan sebenarnya mudah diterapkan namun jarang terfikirkan
sebelumnya, karena cara berfikir yang linier belum maksimal kreatif. Oleh karena itu perahu
tangan juga akan memberikan solusi bagaimana memacu kreatifitas pengelola dalam
manajemen pengelolaan dana dari masyarakat.
BAB III

PEMBAHASAN

A. PERAHU TANGAN Sebagai Pola Manajemen Pengembangan PAUD

Program Penghimpunan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Kualitas Layanan PAUD dan
Pengembangan ke Arah Kemandirian Lembaga selanjutnya disebut PERAHU TANGAN
merupakan langkah manajemen dari pengelola PAUD untuk meningkatkan mutu layanan
pendidikan dengan menghimpun dana sosial dari masyarakat baik bersifat sukarela maupun
bersifat kerjasama saling menguntungkan.

Rangkaian manajemen PERAHU TANGAN melalui mekanisme perencanaan, pelaksanaan,


pengontrolan dan penilaian diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas layanan
pendidikan terutama karena dukungan dana yang dihimpun dari masyarakat. Adapun uraian
mekanismenya sebagai berikut:

1. Fungsi Perencanaan

Proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa
yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan
tujuan organisasi.

a. Menetapkan tujuan dan target bisnis, dalam rancangan PERAHU TANGAN, pengelola
bersama tim berusaha menentukan tujuan dari penghimpunan dana sosial dari masyarakat.
b. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target kegiatan tersebut, dalam
rancangan PERAHU TANGAN, pengelola merumuskan strategi bagaimana penghimpunan
dana dilakukan, kegiatan apa saja yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan langkah apa
yang disiapkan untuk mancapai target yang ditetapkan.

c. Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan. Sumber daya yang dibutuhkan


PERAHU TANGAN antara lain, manusia sebagai pelaksananya, dana untuk membiayai
operasional, alat pendukung lainnya seperti kendaraan, alat kantor dan lainnya.

d. Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target program,


pengelola dalam melaksanakan PERAHU TANGAN perlu menetapkan indikator
keberhasilan dalam kinerja PERAHU TANGAN tersebut

2. Fungsi Pengorganisasian

Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam
perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan
lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam
organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi

a. Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan


prosedur yang diperlukan. Pengelola PAUD membuat struktur organisasi yang akan
menjalankan fungsi-fungsi PERAHU TANGAN, membuat job deskripsi untuk semua
petugas, dan menuangkan sistem kerja melalui standart operasional precedur (SOP) nya.

b. Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan


tanggungjawab. Pengelola PAUD menetapkan struktur kepanitiaan dengan juklak dan juknis
yang jelas.

c. Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya


manusia/tenaga kerja. Pengelola PAUD menghadirkan pakar atau ahli yang berkompeten
untuk melatih tim PERAHU TANGAN dengan tujuan memberikan arahan, pijakan teori dan
sharing pengalaman yang sangat bermanfaat untuk pelaksanaan PERAHU TANGAN
kemudian.

d. Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat. Tim yang
menjalankan tugas adalah tim yang sudah dipandang mampu dan jika memungkinkan adalah
tim yang telah melalui proses seleksi dan screening dalam perekrutannya sehingga
memahami tujuan dan target dalam pelaksanaan PERAHU TANGAN

3. Fungsi Pengarahan dan Implementasi

Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta
proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan
penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.

a. Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi


kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan.
Pada level ini PERAHU TANGAN menjalankan fungsi kerja dalam tiga prinsip yaitu prinsip
penghimpunan, prinsip pendistribusian dan prinsip kegunaan.

b. Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan. Dalam setiap langkah
manajemen PERAHU TANGAN tetap dalam kondisi sosialisasi untuk tetap jelas fungsi dan
tugasnya dan memberikan penjelasan rutin tentang perkembangan PERAHU TANGAN baik
ke internal lembaga maupun kepada masyarakat

c. Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan. Secara struktural kelembagaan memberikan


informasi aktual tentang kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan PERAHU TANGAN. Hal
ini bertujuan agar langkah strategis dapat mencapai tujuan yang ditargetkan.

4. Fungsi Pengawasan dan Pengendalian

Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah
direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target
yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang
dihadapi.

a. Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan
indikator yang telah ditetapkan. Secara periodik pelaksanaan PERAHU TANGAN harus
melalui proses evaluasi baik internal maupun eksternal agar dapat melakukan kinerja yang
efektif, efisien, bersih dan transparan.

b. Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin


ditemukan. Jika terjadi penyimpangan dari prosedur di PERAHU TANGAN maka harus
diambil langkah-langkah nyata untuk memperbaiki dan menyelamatkan organisasi.
c. Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan
pencapaian tujuan dan target bisnis. Bisa jadi dalam perjalanan pelaksanaan PERAHU
TANGAN akan banyak muncul masalah dilapangan, maka dengan kepala dingin tim perahu
tangan harus siap dengan masukan alternatif solusi

5. Fungsi Operasional dalam Manajemen

Pada pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen yang dijalankan menurut tahapan tertentu


akan sangat berbeda jika didasarkan pada fungsi operasionalnya. secara operasional, fungsi
planning untuk sumber daya manusia akan berbeda dengan fungsi planning untuk sumber
daya fisik/alam, dan sebagainya. (Kiteklik, 2010). PERAHU TANGAN menjalankan fungsi
manajemen dengan melalui tahapn perencanaan, penyusunan tim kerja, pelaksanaan dan
pengendalan dan evaluasi secara periodik.

B. Prinsip-Prinsip Sukses PERAHU TANGAN

Untuk menjalankan PERAHU TANGAN dan mencapai kesuksesan maka pengelola PAUD
harus mencermati prinsip-prinsip kesuksesan yang telah diformulasikan dalam tiga prinsip
sukses PERAHU TANGAN. Sedikitnya ada tiga prinsip PERAHU TANGAN secara naratif
dapat dirangkai dalam sebuah frase: PERAHU TANGAN dinilai berkualitas karena
terbangun dari prinsip penghimpunan yang seimbang dengan adanya KRETA UNTA,
dengan prinsip KETUPAT DAYA dana yang terhimpun didistribusikan secara bijak,
sehingga tujuan penghimpunan dana tercapai sesuai dengan prinsip KUMBANG MANDI.

1. Prinsip Penghimpunan (KRETA UNTA)

Bagaimana tim melakukan kegiatan penghimpunan dana masyarakat harus memuat prinsip
yang diperkenalkan dengan sebutan KRETA UNTA, yaitu Kreatif, Transparan dan
Akuntabel

a. Kreatif

Dalam menghimpun dana masyarakat tim PERAHU TANGAN diharuskan kreatif dalam
menghimpun dana. Seperti yang dijelaskan Wahyudin (2007:2-3) Istilah kreativitas mula-
mula diambil dar bahasa inggris. Yaitu dari dasar kata to create(transitive verb) yang
berarti to cause (something new) dan to exist; produce (something new) menyebabkan
(sesuatu yang baru dan mengadakan; menghasilkan (sesuatu yang baru).
Dari kata to create tadi dapat dibentuk berbagai kata jadian, misalnya creator (noun),
creative (adjective), creativeness (noun) dan creativity (noun), yang dalam bahasa indonesia
biasanya kata-kata tersebut tidak diterjemahkan. Berturu-turut menjadi kreator, kreasi,
kreatif, kekreatifan dan kreativitas.

Kata kreativitas (creativity) dan kekreatifan (creativeness) sama-sama berarti kemampuan


untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinal (asli) sebagaimana yang tercantum
dalam :Longman Dictionariof Contemporary English, creativity also creativeness: the
ability to produce new and oroginal ideas and things: inventiveness

Dari kutipan tersebut, diketahui bahwa kreativitas berarti kemampuan menghasilkan sesuatu
yang baru dan orisinal yang berwujud ide-ide dan alat-alat, serta lebih spesifik lagi keahlian
untuk menemukan sesuatu yang baru (inventiveness)

Berkaitan dengan PERAHU TANGAN maka program yang dilahirkan sebaiknya merupakan
hasil pemikiran baru dan ide yang orisinal. Tentunya itu bisa jadi hasil modifikasi dari hal-hal
lama tapi baik untuk dikembangkan. Adapun contoh kegiatan penghimpunan dana yang
kreatif sebagai contohnya adalah:

a.1 Sedekah sampah, masyarakat dihimbau untuk menyedekahkan sampahnya daripada


dibuang percuma, dari sampah yang disedekahkan disortir yang bisa digunakan kembali dan
diuangkan diproses lebih lanjut

a.2 Barbekyu, barang bekas berkualitas, menerima titipan barang bekas yang layak guna
untuk dijual kembali, keuntungan dibagi dua antara pengelola PAUD dan yang menitipkan
barang

a.3 Pemutaran film edukasi dengan pesan moralnya mendapatkan dukungan


penghimpunan dana

a.4 Distribusi bulletin yang berisi informasi aktual tentang perkembangan PAUD dan
sekaligus sebagai alat laporan keuangan PERAHU TANGAN

a.5 Event organizer, Bekerja sama dengan mitra untuk melakukan event edukasi dan
kegiatan sosial bersama

a.6 Penjualan merchandise


a.7 Marketing Day, event ini dilaksanakan dengan mengajarkan anak untuk berlatih
entrepreneurship, sebelum hari H anak menyiapkan dagangannya bisa dari apa yang mereka
bikin sendiri atau dibantu oleh orangtuanya. Sifat kegiatan ini adalah sosial jadi nilai tujuan
utamanya mereka yang diundang adalah memberi sumbangan dengan cara membeli dengan
nilai lebih dari barang dangangan yang disiapkan anak-anak. Anak-anakpun berlatih untuk
berusaha apapun jauh lebih baik daripada meminta-minta.

a.8 Presentasi profil ke instansi-instansi, majelis taklim, pertemuan sosialita

a.9 Mengikuti segala macam pameran

a.10 Sosialisasi melalui social media

a.11 Canvassing adalah langkah-langkah yang dilakukan secara sistematis dalam rangka
berinteraksi secara langsung dengan alur pembicaraan yang telah direncanakan sebelumnya.
untuk mendapatkan donatur. Bisa field canvassing, phone marketing, dan exhibition

a.12 Feature Selling, membuat program yang lebih unggul bekerja dengan lembaga jasa
keuangan agar proses penghimpunan dana lebih praktis dan aman.

a.13 Benefit concept, PERAHU TANGAN menawarkan keuntungan langsung ketika


masyarakat memberikan dukungan

a.14 Keterlibatan langsung, terkadang masyarakat begitu tergerak hatinya jika terlibat
langsung pada kegiatan yang menyentuh hatinya.

a.15 Dan masih banyak lagi idenya

Kuncinya adalah penghimpunan dana dengan cara kreatif perlu dan penting keterlibatan
masyarakat dalam hal membantu dana dengan cara menyenangkan, partisipatif, merasa ikut
andil dan memiliki. Membangun kepercayaan dan keakraban antara tim pelaksana PERAHU
TANGAN dan Masyarakat mutlak diciptakan. (Dwiyani, 2008:22) Hal ini penting karena
PERAHU TANGAN ingin memberikan citra positif penghimpunan dana bukan peminta-
minta, begitu.

b. Transparan dan Akuntabel

Transparansiadalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada


masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui
secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan
sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-
undangan(PSAK, 2010).

PERAHU TANGAN berprinsip transparan karena menghimpun dana dari masyarakat


tidaklah mudah, butuh kepercayaan dan kepercayaan itu dibangun salah satunya dengan
memberikan informasi keuangan secara terbuka dan jujur kepada masyarakat.
Prinsip pertanggungjawaban atau akuntabilitas selalu berkaitan dengan konsep amanah.
Persoalan amanah merupakan hasil transaksi manusia dengan Sang Khalik mulai dari dalam
kandungan. Setiap individu yang terlibat praktik bisnis harus melakukan pertanggungjawaban
apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak terkait. (Abdullah, 2009:8).
Amanah ini diartikan PERAHU TANGAN sebagai nilai kepercayaan yang diberikan oleh
masyarakat jika tim pengelola bekerja profesional, dekat dengan masyarakat, jujur dan
terbuka.
Istilah akuntabilitas disebut oleh Aswad Lipu (2012:01) berasal dari istilah dalam bahasa
Inggris accountability yang berarti pertanggunganjawab atau keadaan untuk
dipertanggungjawabkan atau keadaan untuk diminta pertanggunganjawaban. Akuntabilitas
(accountability) yaitu berfungsinya seluruh komponen penggerak jalannya kegiatan
perusahaan, sesuai tugas dan kewenangannya masing-masing. Akuntabilitas dapat diartikan
sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk
mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat
menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggung jawabannya. Akuntabilitas terkait erat
dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian hasil pada
pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada masyarakat.
Dalam ranah keuangan public, UU no 17 tahun 2003 menuntut adanya transparansi dan
akuntabilitas dalam keuangan publik. Laporan keuangan memang merupakan salah satu hasil
dari transparansi dan akuntabilitas keuangan public. Dan ini berarti laporan keuangan yang
disusun pun harus memenuhi syarat akuntabilitas dan transparansi. Namun, hingga saat ini
belum ada criteria normative mengenai transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan.
Bahkan dalam PSAP pun belum disebutkan criteria laporan keuangan yang akuntabel dan
transparan. (PSAK, 2010)
Banyak pihak yang menyatakan bahwa transparansi terkait erat dengan akuntabilitas. Ada
yang menyatakan bahwa keduanya merupakan hubungan kausalitas, sementara kalangan
yang lainnya menempatkannya secara independen. Menyangkut materi dan ruang
lingkupnya, beberapa kelompok juga memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang
berpendapat bahwa transparansi dan akuntabilitas cukup pada aspek keuangan, ada yang
berpendapat sebaliknya, semua aspek kecuali masalah keuangan, dan ada juga yang
berpendapat semua aspek, termasuk program dan keuangan. Sementara kata kunci yang bisa
menjelaskan sekaligus menghubungkan akuntabilitas dan transparansi adalah pengungkapan
(disclosure). Pengungkapan data dan informasi merupakan praktik transparansi di satu sisi
dan pada saat yang sama menjadi prasyarat akuntabilitas. Ada tiga modeldisclosure yang
diterapkan oleh LSM:
Pertama, model legalism yang mengacu pada model pengungkapan berbagai data dan
informasi organisasi karena adanya tekanan regulasi. Misalnya, mendorong pengungkapan
pelaporan keuangan lembaga nirlaba lewat aturan-aturan yang berlaku. Pemberlakuan UU
Yayasan merupakan salah satu contoh upaya mendorong lembaga nirlaba untuk terbuka dan
mengungkapkan informasi yang dimilikinya berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Model ini diterapkan dengan mekanisme audit oleh akuntan publik dan mempublikasikan
hasilnya di surat kabar.
Kedua, model associatism di mana pengungkapan data dan informasi dilakukan berdasarkan
kesepakatan asosiasi atau konsorsium yang membawahi organisasi tersebut. Misalnya, upaya
pengaturan standar pelaporan keuangan yang dilakukan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia.
Begitu juga upaya beberapa koalisi atau asosiasi LSM, seperti LP3ES, Sawarung dan
KPMM, yang membentuk dan menyepakati mekanisme pengungkapan secara khusus bagi
para anggotanya. Beberapa upaya yang dilakukan berkaitan dengan model ini adalah laporan
pertanggungjawaban anggota secara terbuka dalam sarasehan, atau pembuatan
mekanisme/sistem keuangan yang mudah dipahami oleh konstituen.
Ketiga, Model communalism yang merujuk pada mekanisme pengungkapan data dan
informasi yang dimiliki orgnisasi berdasarkan cara atau metode yang ditentukan oleh
komunitas atau masyarakat konstituen. Masyarakatlah yang menentukan bagaimana proses
transparansi dilakukan dan informasi apa saja yang harus diungkapkan. Lewat mekanisme
semacam ini, pelibatan dan kontrol masyarakat terhadap kinerja organisasi bisa dilakukan
secara optimal. Model ini diajukan sebagai bentuk alternatif terhadap model pertama dan
kedua yang dianggap belum mencerminkan transparansi secara utuh dan mudah
dimanipulasi, meski sistem yang digunakan sudah cukup rapi dan menggunakan tenaga audit
yang profesional. (Hamid, 2004)
Terbaca seperti rumit, namun jika dijalani dalam rangka membangun kepercayaan
masyarakat maka ini spirit yang membuat ringan. Transparan dan akuntabel merupakan
prinsip penghimpunan dana PERAHU TANGAN yang tidak boleh ditinggalkan.
Akhirnya jika ditelaah maka prinsip penghimpunan PERAHU TANGAN merupakan
kombinasi kerja otak yang seimbang, kreativitas dalam menghimpun dana merupakan tim
otak kanan adapun transparansi dan akuntabel adalah kinerja otak kiri, dengan satu tujuan
adalah penhimpunan dana yang optimal dari masyarakat untuk meningkatkan layanan
pendidikan anak usia dini.
2. Prinsip Pendistribusian (KETUPAT DAYA)
Setelah dana terhimpun atas kepercayaan masyarakat terhadap tim PERAHU TANGAN,
maka tugas selanjutnya adalah bagaimana dana yang terhimpun tersebut memenuhi tujuan
penghimpunan apalagi jika bukan meningkatkan kualitas layanan PAUD. Dapat dikatakan
langkah selanjutnya adalah langkah pembuktian dan sekaligus tentunya peningkatan
pembangunan kepercayaan masyarakat. Langkah-langkah yang dilaksanakan PERAHU
TANGAN seyogyanya senafas dengan prinsip-prinsip pendistribusian yang disebut dengan
KETUPAT DAYA (SesuaiKEbuTUhan, tePAT sasaran penyalurannya dan
memberDAYAkan)
a. Sesuai kebutuhan
Pendistribusian harus dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dari program pendidikan itu
sendiri. Agar berkesesuaian maka sebelum distribusi dilaksanakan maka lembaga PAUD
harus membuat anggaran kebutuhan dalam bentuk proposal agar terdokumentasikan.
Selanjutnya proposal disampaikan kepada tim PERAHU TANGAN untuk proses verifikasi
dan jika sesuai kebutuhan dapat dicairkan kebutuhannya. Pencairan kebutuhan tersebut
sebaiknya dilaksanakan oleh tim PERAHU TANGAN agar bisa langsung tercatat dalam
pembukuan yang rapi.
b. Tepat Sasaran
Prinsip ini penting, karena ketika dengan PERAHU TANGAN pengelola PAUD jadi terasa
mudah mendapatkan dukungan dana, maka bisa jadi pengalokasian dana menjadi kurang
terarah. Oleh karena itu penetapan sasaran untuk penyaluran distribusi harus ditetapkan
dengan bijak. Langkahnya sebagai berikut:
b.1 Penetapan sasaran distribusi melalui mekanisme rapat pengurus dengan memperhatiakn
usulan-usulan
b.2 Diprioritaskan untuk meningkatan kualitas pengajaran dan kesejahteraan guru.
b.3 Prioritas juga pemberian santunan pendidikan untuk anak usia dini dari kelangan
keluarga dhuafa dan yatim
b.4 Pendistribusian dilengkapi laporan dan dokumentasi
b.5 Dengan langkah-langkah di atas maka diharapkan pendistribusian menjadi tepat
sasaran.
c. Memberdayakan
Diharapkan dengan adanya bantuan dana dari masyarakat kualitas pendidikan PAUD benar-
benar meningkat dan terjadi kinerja yang lebih baik. Dana yang terhimpun menjadi
pendorong mutu pendidikan dan memberdayakan semua elemen pendukung. Sangat
disayangkan jika saat belum ada bantuan pendidikan dilaksanakan dengan semangat namun
ketika bantuan didapat dengan mudah, dana tersedia malah membuat tumpul pikiran dan
kreativitas mengajar. Sikap malas dan menggantungkan adalah hal yang tidak diinginkan.
Jadi PERAHU TANGAN juga ikut andil dalam memberdayakan kualitas elemen-elemen
PAUD.
3. Prinsip Penggunaan (KUMBANG MANDI)
Dalam prinsip ini PERAHU TANGAN memberikan rambu-rambu bagaimana dana yang
terhimpun digunakan. Prinsip-prinsip yang digunakan disebut sebagai KUMBANG MANDI
yaitu mencuKUpi kebutuhan, mengeMBANGkan program yang ada, membangun
keMANDIrian. Prinsip KUMBANG MANDI dijadikan spirit bagaimana sebaiknya
mengelola dana yag terhimpun.
a. Mencukupi Kebutuhan
Dana yang ada adalah dana yang dengan kreatif dikumpulkan sedikit demi sedikit oleh tim
penghimpun dana. Dikumpulkan dari para mendukung yang ingin berkontribusi memajukan
pendidikan anak usia dini di Indonesia. Maka spirit yang harus digunakan dalam
pengelolaannya adalah prinsip syukur telah didukung. Menggunakan dana sebaik-baiknya
dengan maksud mencukupi kebutuhan pendidikan.
Jangan sampai dana yang ada digunakan dengan cara yang boros bahkan menyimpang dari
tujuan semula. Dalam pandangan keagamaan sikap ini disebut qanaah artinya merasa cukup
terhadap pemberian rezeki dari Allah SWT. Qonaah adalah rela dan merasa cukup dengan
apa yang dimiliki, serta menghindari rasa tidak puas dalam menerima pemberian dari Allah
SWT. Dengan sikap inilah maka jiwa akan menjadi tentram dan terjauh dari sifat serakah
atau tamak. (Jummi: 2013)
Jika memang kebutuhan sudah mencukupi, maka langkah penting berikutnya adalah
mendorong pengembangan program-program bermutu. Dengan demikian proses berfikirpun
tidak jumud atau stagnan.
b. Pengembangan Program
Inti PAUD adalah memberikan pendidikan dan pendampingan anak usia dini agar mendorong
potensi yang sudah ada sejak lahir. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah
pertumbuhan dan 5 perkembangan, yaitu: perkembangan moral dan agama,perkembangan
fisik (koordinasi motorik halus dan kasar),kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio
emosional(sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap
perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini.
Jika menganut titik berat dalam penyelenggaraan PAUD maka itu konsentrasi pada anak saja
dan sifatnya standar. Dari gambaran itu maka masih diperlukan pengembangan-
pengembangan program demi memajukan dan memberagamkan layanan pendidikan untuk
anak usia dini..
Dengan adanya PERAHU TANGAN pengelola PAUD terstimulasi mengembangkan ide dan
karya-karya yang lain misalnya:
b.1 Training dan kuliah untuk guru PAUD
b.2 Pelatihan Pengasuhan Anak Berkarakter untuk The Nanny
b.3 Intensive Parenting Class
b.4 Pelatihan sukarelawan PERAHU TANGAN
b.5 Koperasi Serba Usaha PAUD
b.6 Talent Management
b.7 Unit usaha percetakan yang mendukung kegiatan belajar mengajar
b.8 Unit pengolahan daur ulang dengan sentuhan seni dan fungsi
b.9 Membuat safe playground yang bersih dan terbuka sampai sore
b.10 Membuat kantin sehat, dan ratusan ide segar lainnya
c. Membangun Kemandirian
Sangat diharapkan dengan dukungan penghimpunan dana dari masyarakat lembaga PAUD
dapat tampil Lebih Sehat dan maksimal dalam pelayanan pendidikan. Kebutuhan dalam hal
pengajaran mulai dilengkapi, kelas dibenahi, APE diremajakan dan tampilan menjadi lebih
progresif.
Kualitas pengajaran ditingkatkan dengan keikutsertaan guru PAUD pada training-training
pengembangan skill. Beberapa guru juga dikirim untuk kuliah S1 PAUD agar kemampuan
dari pengalaman melebur dengan pengetahuan yang memadai. Lembaga juga
mengajak trip ke lembaga PAUD lain yang sudah maju sehingga menambah wawasan.
Dengan meningkatnya kemampuan layanan pendidikan yang dimiliki maka lambat laun
dengan stamina yang terus dijaga diharapkan PAUD bisa mandiri bahkan dapat menemukan
sumber daya-sumber daya yang menghasilkan masukan baik dari sisi materiil maupun
immateriil.
Kemandirian yang diharapkan muncul dengan PERAHU TANGAN ini antara lain:
c.1 Mandiri secara profesi, guru dengan mendapatkan dukungan yang cukup dapat lebih
kreatif mengelola bahan pembelajaran yang ada dan mengembangkan menjadi pelajaran yang
asyik, menyenangkan membawa pada sikap mental pembelajar pada siswa-siswanya.
Kemampuan mengelola kelas ini termasuk kemandirian yang diharapkan dalam PERAHU
TANGAN.
c.2 Mandiri secara lembaga, yayasan atau lembaga pengelola PAUD dapat survive dengan
dukungan PERAHU TANGAN. Ketenangan perasaan dalam mengajar sangat dibutuhkan dan
itu menjadi tanggung jawab lembaga. Diharapkan lembaga dapat mengembangkan dukungan
secara produktif sehingga muncul multiple effect dimana akhirnya lembaga bisa mandiri
secara finansial
c.3 Mandiri secara kurikulum, pada dasarnya PAUD yang baik adalah PAUD yang dapat
membimbing dan memberi stimulan kepada peserta didik dengan pembelajaran yang sarat
dengan muatan lokal. Karakter anak dapat dengan mudah dibangun dengan mengedepankan
muatan lokal, oleh karena itu kurikulum yang kreatif adalah kurikulum yang mandiri.
c.4 Mandiri secara lingkungan, peningkatan layanan pendidikan akan lebih sempurna
ketika mempunyai efek positif terhadap pembentukan karakter dari lingkungan dimana
PAUD tersebut berada. Partisipasi lingkungan menunjukkan kemandirian sudah terbangun.
C. Manfaat PERAHU TANGAN
Ada beberapa manfaat yang bisa dipetakan dengan adanya PERAHU TANGAN, baik untuk
lembaga PAUD, mitra pendonor, mitra kerjasama dan pemerintah:
1. Lembaga PAUD
a. Menguatkan usaha meningkatkan kualitas layanan pendidikan
b. Meningkatkan kesejahteraan guru
c. Membangun ruang belajar dan arena bermain yang memadai
d. Menggugah kreasi dan ide pengembangan baik dari sisi kelembagaan, pendidikan
maupun layanan yang lain
e. Membangun rasa percaya diri lembaga dan mendorong kemandirian
2. Mitra Pendonor
a. Menyalurkan hasrat dan sifat dermawan
b. Partisipasi sosial
c. Penyaluran dana pada lembaga yang tepat
d. CSR
3. Mitra kerjasama
a. Penyaluran produksi
b. Partisipasi sosial
c. Pasar yang jelas
4. Pemerintah
a. Kemandirian lembaga
b. Keberlangsungan pelaksanaan pendidikan
c. Akurasi data
D. Inovasi PERAHU TANGAN
1. Sisi konsep, PERAHU TANGAN merupakan konsep baru menggabungkan nilai
managerial hulu-hilir, kepekaan sosial dari jejaring kemitraan, peningkatan kualitas layanan
dan pengembangan kemandirian
2. Sisi aplikasi, mekasnisme tidak rumit hanya mempertemukan pihak lembaga pendidikan
dan jejaring kemitraan dengan membangun azas kepercayaan.
3. Sisi edukasi, sejak dini lingkungan pembelajaran memperkenalkan edukasi yang
berkaitan langsung dengan kesadaran berusaha secara mandiri. Menghubungkan pendidikan
dengan kemandirian berkarya atau entreprenurship
4. Sisi kelembagaan PAUD, lembaga seperti mendapatkan energi baru dalam bergerak.
Rasa percaya diri menjalankan lembaga meningkat kuat. Optimisme menjadi lembaga yang
modern, kreatif-inovatif dan berhubungan dengan jejaring mitra yang kuat.
E. Penghambat PERAHU TANGAN
1. Old Mindset, pemikiran yang kuno, tidak berani melangkah, terlalu banyak memikirkan
resiko, melihat peluang malah sebagai ancaman, namun demikian dengan pendekatan
persuasif dan pembuktian akan bisa memberikan pengertian kepada kelompokold mindset.
2. Waktu, pembagian waktu yang mungkin akan sedikit merepotkan di awal karena tugas-
tugas ganda yang diemban. Akan tetapi dengan berjalannya waktu pengelola akan
menemukan strategi yang menjadi solusi.
3. Keterampilan, walaupun bisa dilatih namun butuh tenaga untuk bisa memahami konsep
PERAHU TANGAN, mencoba dan memperbaiki adalah langkah melihaikan ketreampilan.
4. Kepercayaan, hal ini menjadi sangat berat ketika kepercayaan tidak terbangun dengan
baik. Modal utama PERAHU TANGAN adalah kepercayaan oleh karena itu melibatkan
tokoh sebagai pengayom, memperbaiki kinerja dan menyampaikan laporan dengan terbuka
dan bisa dipertanggungjawabkan adalah cara meningkatkannya.
F. Pendukung PERAHU TANGAN

1. Semangat, Pengelola dan guru PAUD adalah sosok profil penuh semangat, bahkan
dengan keterbatas fasilitas dan akses pun mereka semangat jadi itu pendukung yang sangat
dominan dlam menjalankan PERAHU TANGAN.

2. SDM, PERAHU TANGAN akan membutuhkan banyak sukarelawan dan ini cukup
tersedia di lapangan.

3. Jejaring kemitraan, selama ini sudah mulai membangun jejaring, saatnya mempererat,
soliditas dan sinergitas jejaring.

4. Ketersediaan sumber daya, adanya bahan baku, tenaga yang mengerjakan dan akses
terhadap sumber daya yang mudah

5. Pemerintah, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pengelola untuk kreatif dan


mandiri. Regulasi yang mendewasakan organisasi

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

PERAHU TANGAN adalah sebuah program yang menarik untuk dikembangkan pengelola
PAUD karena akan memberikan solusi pendanaan dengan cara penghimpuna dana dari
masyarakat
Tujuan PERAHU TANGAN dengan terkumpulnya dana adalah diperuntukkan meningkatkan
kualitas pendidikan di lingkungan kerja PAUD. Baik dari sisi layanan internal seperti
pengajaran dan pembelajaran, kelengkapan media belajar dan ruang yang layak. Maupun dari
sisi eksternal seperti kerja sama dengan mitra, training dan pendidikan ke jenjang lebih
tinggi, pameran edukasi, dan promosi pendidikan.
PERAHU TANGAN dinilai berkualitas karena terbangun dari prinsip penghimpunan yang
seimbang dengan adanya KRETA UNTA, dengan prinsip KETUPAT DAYA dana yang
terhimpun didistribusikan secara bijak, sehingga tujuan penghimpunan dana tercapai sesuai
dengan prinsip KUMBANG MANDI.
Bagaimana tim melakukan kegiatan penghimpunan dana masyarakat harus memuat prinsip
yang diperkenalkan dengan sebutan KRETA UNTA, yaitu Kreatif, Transparan dan
Akuntabel
Setelah dana terhimpun atas kepercayaan masyarakat terhadap tim PERAHU TANGAN,
maka tugas selanjutnya adalah bagaimana dana yang terhimpun tersebut memenuhi tujuan
penghimpunan apalagi jika bukan meningkatkan kualitas layanan PAUD. Dapat dikatakan
langkah selanjutnya adalah langkah pembuktian dan sekaligus tentunya peningkatan
pembangunan kepercayaan masyarakat. Langkah-langkah yang dilaksanakan PERAHU
TANGAN seyogyanya senafas dengan prinsip-prinsip pendistribusian yang disebut dengan
KETUPAT DAYA (SesuaiKEbuTUhan, tePAT sasaran penyalurannya dan
memberDAYAkan)
PERAHU TANGAN memberikan rambu-rambu bagaimana dana yang terhimpun digunakan.
Prinsip-prinsip yang digunakan disebut sebagai KUMBANG MANDI yaitu mencuKUpi
kebutuhan, mengeMBANGkan program yang ada, membangun keMANDIrian. Prinsip
KUMBANG MANDI dijadikan spirit bagaimana sebaiknya mengelola dana yag terhimpun.

B. Rekomendasi
1. PERAHU TANGAN layak digunakan sebagai sistem pengelolaan dana masyarakat untu
menigkatkan layanan pendidikan lembagaPAUD.
2. Mengusulkan kepada pemerintah terkait untuk memfasilitasi pelatihan terkait dengan
penyebarluasan PERAHU TANGAN yang sangat bermanfaat ini.
3. Pengelola PAUD harus berani menjadi trend setter dalam kemandirian lembaga
pendidikan melalui PERAHU TANGAN ini.
4. Peningkatan kualitas kreatifitas dan inovasi dari guru dan pengelola PAUD sehingga
layanan pendidikan lebih baik lagi
5. Pelaksanaan PERAHU TANGAN sangat memungkinkan dilakukan baik di daerah
perkotaan maupun pedesaan.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, 2009, Bisnis, Ekonomi, Asuransi Dan Keuangan Syariah, Jakarta: Grasindo

Abidin ,Hamid dan Rukmini ,Mimin (Editor), 2004, Kritik Dan Otokritik LSM :
Membongkar Kejujuran Dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia,
Jakarta: Piramedia

Afhie, Pengertian Pengembangan Media, 2011, http://afhie-


cirebon.blogspot.com/2011/12/pengertian-pengembangan-media.html(diuduh 27 Maret 2015)

Chabib Thoha, 1996, Kapita Selekta Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offest

Direktorat Pemberdayaan Zakat, 2009, Manajemen Pengelolaan Zakat,Jakarta: Direktorat


Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI

Engkoswara dan Komariah, Aan. 2010, Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Harryanto, April, 22, 2009. Membangun Kemandirian


Bangsa, http://harrysmk3.Wordpress.com , (diakses pada Tanggal 28 Maret 2015)

Herry, Achmad 2005, 9 Kunci Sukses Tim Sukses Dalam Pilkada Langsung, Yogyakarta:
Galang Press

Jummi Ramadanil, 2013, Pengertian dan Manfaat Qanaah, http://blog-


jummiramadanil.blogspot.com/2013/09/pengertian-dan-manfaat-qanaah-
dan.html#ixzz3W2SYDW84, (diuduh 27 Maret 2015)

Kangmoes, tanpa tahun, http://kangmoes.com/artikel-tips-trik-ide-menarik-


kreatif.definisi/pengertian-program.html

Kaswardi, 1993Penddikan Nilai Memasuki Tahun 2000, Jakarta: Grasindo

Lipu, Aswad, 08 Januari 2012, http://www.butonutara.blogspot.com/2012/01/pengertian-


akuntabilitas.html, (diuduh 27 Maret 2015)

Muflih, Muhammad, 2014, Pengertian


Fundraisinghttp://hidayatmuflih.blogspot.com/2014/03/pengertian-fundraising.html,
(diunduh 26 Maret 2015)