Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kematian jantung mendadak atau Cardiac Arrest adalah
berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seorang yang telah atau
belum diketahui menderita penyakit jantung. Hal ini terjadi karena sistem
kelistrikan jantung menjadi tidak berfungsi dengan baik dan menghasilkan
irama jantung yang tidak normal (American Heart Association, 2010).
Henti jantung merupakan penyebab kematian utama di dunia dan
penyebab tersering penyebab Cardiac Arrest adalah penyakit jantung
koroner (Subagjo A, 2010).

Secara klinis, keadaan henti jantung di tandai dengan tidak adanya


nadi dan tanda tanda sirkulasi lainnya. Angka kejadian Cardiac Arrest di
Amerika Serikat mencapai 250.000 orang pertahun dan 95% diperkirakan
meninggal sebelum sampai di rumah sakit (Suharsono, 2009). Data di
Indonesia tidak ada data statistik mengenai kepastian jumlah kejadian
Cardiac Arrest tiap tahunnya, tetapi diperkirakan adalah 10.000 warga.

Cardiac Arrest dapat menyebabkan kematian otak dan kematian


permanen terjadi dalam jangka waktu 8 10 menit (Pusponegoro, 2010).
Cardiac Arrest dapat dipulihkan jika tertangani segera dengan
Cardiopulmonary Resusitation dan defibrilasi untuk mengembalikan
dengut jantung normal. Kesempatan pasien untuk bertahan hidup
berkurang 7 10% pada tiap menit yang berjalan tanpa Cardiopulmonary
Resusitation dan defibrilasi (American Heart Association, 2010).

Penanganan Cardiac Arrest adalah kemampuan untuk dapat


mendeteksi dan bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin
mengembalikan dengut jantung ke kondisi normal, untuk mencegah
kematian otak dan kematian permanen (Pusponegoro, 2010). Berdasarkan
standar kompetensi dari Vanderblit University School of Nursing
(Gebbi,dkk 2006). Kesiapan perawat dalam menghadapi situasi kegawatan
adalah kemampuan untuk berpikir kritis, kemampuan untuk menilai
situasi, mempunya keterampilan teknis yang memadai, dan kemampuan
untuk berkomunikasi.

Kesiapan perawat dalam penanganan Cardiac Arrest dipengaruhi


oleh beberapa faktor yaitu pengetahuan yang cukup dari perawat tentang
penanganan situasi kegawatan, pengalaman yang memadai, peraturan atau
protokol yang jelas, sarana dan suplai yang cukup serta pelatihan atau
training tentang penanganan situasi kegawatan (Wolf.dkk, 2010). Pelatihan
membantu perawat untuk menguasai keterampilan dan kemampuan atau
kompetensi yang spesipik untuk berhasil dalam pekerjaannya (Ivancevich,
2008).
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara

tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang

didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu

kejadiannya tidak bisa diperkirakan, terjadi dengan sangat cepat

begitu gejala dan tanda tampak (American Heart Association,

2010).

Cardiac arrest adalah semua keadaan yang

memperlihatkan penghentian mendadak fungsi pemompaan

jantung, yang mungkin masih reversible jika dilakukan intervensi

dengan segera tetapi dapat menimbulkan kematian jika tidak

dilakukan intervensi. Kecenderungan keberhasilan intervensi

berhubungan dengan mekanisme terjadinya cardiac arrest dan

kondisi klinis pasien (Parnia, 2012).

B. Etiologi Cardiac Arrest

Penyebab cardiac arrest adalah serangan jantung atau

infark miokard (aritmia jantung, khususnya fibrilasi ventrikel dan

ventrikel tachycardia tanpa nadi) terjadi akibat arteri koroner yang

menyuplai oksigen ke otot-otot jantung menjadi keras dan

menyempit akibat sebuah material (plak) yang terbentuk di

dinding dalam arteri. Semakin meningkat ukuran plak semakin


buruk sirkulasi ke jantung dan otot-otot jantung tidak lagi

memperoleh suplai oksigen yang mencukupi untuk melakukan

fungsinya, sehingga dapat terjadi infark, beberapa jaringan

jantung mati dan menjadi jaringan parut. Jaringan parut ini dapat

menghambat sistem konduksi langsung dari jantung,

meningkatkan terjadinya aritmia dan cardiac arrest.

Sumbatan jalan napas oleh benda asing, tenggelam, stroke

atau CVA, overdosis obat-obatan (antidepresan trisiklik,

fenotiazin, beta bloker, calcium channel blocker, kokain, digoxin,

aspirin, asetominophen) dapat menyebabkan aritmia. Tercekik,

trauma inhalasi, tersengat listrik, reaksi alergi yang hebat

(anafilaksis), trauma hebat misalnya kecelakaan kendaraan

bermotor dan keracunan (Suharsono, T., & Ningsih, D. K., 2012).

C. Manifestasi klinis cardiac arrest

Gejala yang paling umum adalah munculnya rasa tidak

nyaman atau nyeri dada yang mempunyai karakteristik seperti

perasaan tertindih yang tidak nyaman, diremas, berat, sesak atau

nyeri. Lokasinya ditengah dada di belakang sternum. Menyebar

ke bahu, leher, rahang bawah atau kedua lengan dan jarang

menjalar ke perut bagian atas. Bertahan selama lebih dari 20

menit. Gejala yang mungkin ada atau mengikuti adalah

berkeringat, nausea atau mual, sesak nafas (nafas pendek-

pendek), kelemahan, tidak sadar (Suharsono & Ningsih, 2012).


D. Patofisiologi cardiac arrest

Kebanyakan korban henti jantung diakibatkan oleh

timbulnya aritmia yaitu fibrilasi ventrikel (VF), takhikardi

ventrikel (VT), aktifitas listrik tanpa nadi (PEA), dan asistol

(Kasron, 2012).

1. Fibrilasi ventrikel
Merupakan kasus terbanyak yang sering

menimbulkan kematian mendadak, pada keadaan ini

jantung tidak dapat melakukan fungsi kontraksinya,

jantung hanya mampu bergetar saja. Pada kasus ini

tindakan yang harus segera dilakukan adalah CPR dan

DC shock atau defibrilasi.

2. Takhikardi ventrikel

Mekanisme penyebab terjadinya takhikardi

ventrikel biasanya karena adanya gangguan otomatisasi

(pembentukan impuls) ataupaun akibat adanya gangguan

konduksi. Frekuensi nadi yang cepat akan menyebabkan

fase pengisian ventrikel kiri akan memendek, akibatnya

pengisian darah ke ventrikel juga berkurang sehingga

curah jantung akan menurun. VT dengan keadaan

hemodinamik stabil, pemilihan terapi dengan medika

mentosa lebih diutamakan. Pada kasus VT dengan


gangguan hemodinamik sampai terjadi henti jantung (VT

tanpa nadi), pemberian terapi defibrilasi dengan

menggunakan DC shock dan CPR adalah pilihan utama.

3. Pulseless Electrical Activity (PEA)

Merupakan keadaan dimana aktifitas listrik jantung

tidak menghasilkan kontraktilitas atau menghasilkan

kontraktilitas tetapi tidak adekuat sehingga tekanan darah

tidak dapat diukur dan nadi tidak teraba.

4. Asistole

Keadaan ini ditandai dengan tidak

terdapatnya aktifitas listrik pada jantung, dan pada

monitor irama yang terbentuk adalah seperti garis lurus.

Pada kondisi ini tindakan yang harus segera diambil

adalah CPR.

E. Prognosis
Kematian otak dan kematian permanen dapat terjadi hanya

dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit dari seseorang tersebut

mengalami henti jantung. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan

pemberian resusitasi jantung paru dan defibrilasi segera (sebelum

melebihi batas maksimal waktu untuk terjadinya kerusakan otak),

untuk secepat mungkin mengembalikan fungsi jantung normal.

Resusitasi jantung paru dan defibrilasi yang diberikan antara 5


sampai 7 menit dari korban mengalami henti jantung, akan

memberikan kesempatan korban untuk hidup rata-rata sebesar

30% sampai 45 %. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa

dengan penyediaan defibrillator yang mudah diakses di tempat-

tempat umum seperti pelabuhan udara, dalam arti meningkatkan

kemampuan untuk bisa memberikan pertolongan (defibrilasi)

sesegera mungkin, akan meningkatkan kesempatan hidup rata-

rata bagi korban cardiac arrest sebesar 64% (American Heart

Assosiacion, 2010).

F. Penatalaksanaan Henti jantung (Cardiac Arrest )


Pemberian penanganan segera pada henti nafas dan jantung berupa
Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) akan berdampak langsung pada
kelangsungan hidup dan komplikasi yang ditimbulkan setelah terjadinya
henti jantung pada bayi dan anak.
CPR atau yang lebih dikenal dengan istilah Resusitasi Jantung Paru
(RJP) merupakan upaya yang dilakukan terhadap korban atau penderita
yang sedang berada dalam kondisi gawat atau kritis untuk mengembalikan
nafas dan sirkulasi spontan. RJP terdiri atas Bantuan Hidup Dasar (BHD)
dan Bantuan Hidup Lanjutan (BHL). BHD adalah tindakan resusitasi yang
dilakukan tanpa menggunakan alat atau dengan alat yang terbatas berupa
bag-mask ventilation, sedangkan BHL sudah menggunakan alat dan obat-
obatan resusitasi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih optimal.
Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengoptimalkan tekanan
perfusi dari arteri koronaria jantung dan aliran darah ke organ-organ
penting selama fase low flow. Kompresi jantung yang adekuat dan
berkelanjutan dalam pemberian penanganan bantuan hidup dasar sangat
penting pada fase ini.
G. Pengkajian :
1. Identitas klien
Hal yang perlu dikaji pada identitas klien yaitu nama, umur, suku/bangsa,
agama, pendidikan, alamat, lingkungan tempat tinggal.
2. Keluhan Utama
3. Riwayat Penyakit
a. Riwayat penyakit sekarang
1) Alasan masuk rumah sakit
2) Waktu kejadian hingga masuk rumah sakit
3) Mekanisme auto biomekanik
4) Lingkungan keluarga, kerja, masyarakat sekitar
b. Riwayat penyakit dahulu
1) Perawatan yang pernah dialami
2) Penyakit lainnya antara lain, DM, Hipertensi, PJK
c. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit yang diderita oleh anggota keluarga dari anak
yang mengalami penyakit jantung.

Pengkajian Primer
1. Airway / Jalan Nafas
Pemeriksaan / pengkajian menggunakan metode look, listen, fell.
a. Look : Lihat status mental, pergerakan/pengembangan
dada, terdapat sumbatan jalan nafas / tidak. Sianosis, ada
tidaknya retraksi pada dinding dada, ada tidaknya
penggunaan otot otot tambahan.
b. Listen: mendengar aliran udara pernafasan, suara
pernafasan, ada bunyi nafas seperti snoring, gurgling, atau
stidor.
c. Feel : merasakan adanya aliran pernafasan, apakah ada
krepitasi, adanya pergeseran / deviasi trakea, dan
hematoma pada leher, teraba nadi karotis atau tidak.
2. Breathing/Pernapasan
Pemeriksaan / pengkajian menggunakan metode look listen,feel
a. Look : nadi karotis ada/tidak,frekuensi pernapasan tidak
ada dan tidak terlihat adanya pergerakan dinding dada,
kesadaran menurun, sianosis, identifikasi pola pernapasan
abnormal, periksa penggunaan otot bantu dll.
b. Listen: mendengar hembusan napas
c. Feel : tidak ada pernapasan melalui hidung/mulut.
3. Circulation/Sirkulasi
a. Periksa denyut nadi karotis dan brakhialis pada (bayi),kualitas dan
karakternya
b. periksa perubahan warna kulit seperti sianosis
.