Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN MAKALAH PENGANTAR KIMIA MEDISINAL

SEMESTER GANJIL 2016-2017

Penentuan Koefisien Partisi Minyak / Air Asam Silat

Hari / Jam Praktikum : kamis, pukul 07.00-10.00

Tanggal Praktikum : 21 september 2016

Kelompok :4

Asisten : 1. Theresia Ratnadevi

2. Tanti Juwita

Naomi Fenty Novita

260110160036

LABORATORIUM KIMIA MEDISINAL


FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2016

I. Tujuan
Menentukan koefsien partisi asam salisilat dengan metode pengocokan.

II. Prinsip

II.1. koefisien partisi

Perbandingan konsentrasi dari suatu zat terlarut yang dilarutkan didalam dua
pelarut yang tidak saling bercampur dengan perbandingan tersebut adalah tetap atau
konstan. (Cains,Donald,2004)

II.2. Ttitrasi Asam Basa.

Titrasi berdasarkan penetralan asam basa. Larutan asam ditentukan dengan


mnggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya dan sebaliknya kadar larutan
basa di tentukan dengan menggunakan larutan asam yang telah diketahui kadarnya.
(Michael,2012)

II.3. Ekstrasi

Ekstrasi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah
dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut cair. (Ditjen POM, 2000)

II.4. Like dissolve like

Merupakan sifat kecenderungan senyawa pelarut yang hanya melarutkan senyawa


dengan sifat kepolaran sama. senyawa polar akan larut dalam senyawa polar dan tidak larut dalam
senyawa nonpolar, demikian juga sebaliknya. (James, 2001)

III. Reaksi
O OH O O Na
OH OH

+ NaOH + H2O

Asam Salisilat Na-hidroksida Na-salisilat Air

(Gandjar dan Rohman,2007)

O O O O

CC + 2NaOH CC + 2H2O

OH OH NaO NaO

Asam Oksalat Na-hidroksida Na-oksalat Air

(Vogel,1979)

IV. Teori Dasar

Asam salisilat atau Acidum Salicylicum (C7H6O3) mengandung tidak kurang


dari 99,5% dan tidak lebih dari 101,0% C7H6O3 bila dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan. Asam salisilat pada umumnya berbentuk seperti pellet dengan rasa yang
agak manis, tajam dan stabil di udara. Dalam bentuk sintesisisnya asam salisilat alami
dapat berwarna putih dan tidak berbau. Namun , jika di buat dari metil salisilat alami
dapat berwarna kekuningan atau berbau lemah mirip mentol ( farmakope Indonesia,
1995)

Titrasi ialah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat didalam larutan
dan ditandai telah mencapai titik setara pada umumnya tidak berwarna sehingga tidak
diketahui kapan titik didihnya setara pada reaksi percobaan titrasi asama basa dapat
dilihat perbedaan antara sesudah dan sebelum , maka ditambahakan indicator (perubahan
pH dari satu larutan asam dan basa, contohnya fenolftalein (pp) ( sunarya dkk,2009)

Nama lain dari asam salisilat adalah asam o-hidroksibenzoat. Asam salisilat
digunakan sebagai bahan antiseptic pada kulit (bedak kulit). Metil salisilat digunakan
untuk obat gosok atau minyak angina, sedangkan asam asetil salisilat digunakan sebagai
obat penghilang sakit kepala (aspirin) (Day dan Underwood,2002)
Titrasi asam basa adalah teknik untuk menentukan volume asam yang
diperlukan untuk menetralkan suatu basa. Indicator yang digunakan untuk menentukan
titik akhir yang tercapai , apabila indicator berubah warna. Titrasi asam basa juga adalah
titrasi yang melibatkan asam basa. Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut triant,
sedangkann zat yang diketahui konsentrasinya disebut titer, baik titer maupun titrant
berupa larutan ( yasin , 2011)

Koefisien partisi diantaranya koefisien partisi minyak-air adalah suatu petunjuk


sifat lipofilik atau hidrofobik dari molekul obat. Lewatnya obat melalui membrane lemak
dan interaksi dengna makromolekul pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik
dengan koefisien partisi oktanol/air dari obat( Martin dkk, 1990)

Kelarutan suatu obat itu dapat ditentukan oleh struktur kimia obat sehingga nilai
logaritma koefisien partisi digunakan sebagai parlemen yang menghubungkan antara
struktur kimia obat dengan aktivitas biologis. Dimana semakin besar nilai loh P yang
ditunjukan lipofilitas yang besar maka semakin mudah suatu obat menembus membrane
biologis (Siswandono ,1995)

Indicator asam basa merupakan suatu senyawa organic yang akan mengalami
perubahan warna pada pH tertentu , baik asam maupun basa. Indicator fenolfalein akan
mengalami perubahan warna ketika Ph berada lebih besar dari 7 tetapi tidak
menimbulkan warna pada Ph 8,3. Pada Ph 10 warna berubah menjadi merah tetapi tidak
berwarna menjadi merah tetapi tidak berubah pada Ph basa kuat. ( Fessenden, 1982)

Koefisien partisi menggambarkan rasio pendistribusian obat ke dalam pelarut sistem


dua fase yaitu pelarut organik dan air. Organisme terdiri dari fase lemak dan air. Bila molekul
semakin larut dalam lemak, maka koefisien partisinya semakin besar dan difusi
transmembran terjadi lebih mudah. Akan tetapi, bila koefisien partisi sangat tinggi ataupun
sangat rendah hal tersebut merupakan hambatan pada proses difusi zat aktif. (Ansel, 1989).

Berdasarkan hukum partisi, mengatakan bahwa senyawa tertentu pada suhu


tertentu, akan memisahkan dirinya sendiri di antara 2 pelarut yang saling tidak bercampur
pada perbandingan yang tetap ini dikenal dengan koefisien partisi senyawa tersebut dan
dinyatakan secara matematis sebagai berikut :

P = [ organik ] / [ berair ]
Ket : P adalah koefisien partisi senyawa; [ organik ] adalah konsentrasi senyawa dalam fase
organik atau fase minyak; dan [ berair ] adalah konsentrasi senyawa dalam fase air. Koefisien
partisi adalah informasi penting karena bisa digunakan untuk memperkirakan proses absorpsi,
distribusi dan eliminasi obat di dalam tubuh (Cairns, 2009).

Koefisien partisi dan kobal antara fase aqueous dan organic ditentukan dengan cara
menyeimbangkan volume yang sama, fase aqueous dan fase organik dalam tabung terbuat
dari Teflon kedua fase tersebut yaitu fase aqueous dan fase organik dipaksa untuk mengontak
dengan cara mengaduk dengan menggunakan pengaduk magnet selama 24 jam dan kemudian
kedua fase tersebut diukur setelah sebelumnya disentrifuge (Sonjaya, 2004).

Asam salisilat yang sering digunakan sebagai obat salep. Asam salisilat
mempempunyai pKa 2, 97 dan C9H6O3 adalah struktur kimia asam salisilat sendiri. Asam
salisilat biasanya terdapat di daun wintergreen, sweet birch, spearmint, dan pohon
willow. Untuk mengambil asam salisilat tersebut, dilakukanlah pengekstraksian. Asam
salisilat yang dilihat sehari-hari berupa bubuk kristal putih dengan tidak mempunyai bau,
stabil di udara bebas, dan mempunyai rasa yang manis. Asamsalisilat dalam bentuk larutan
larut dalam air, tetapi asam salisilat dalam bentuk padatan atau bubuk sukar dilarutkan dalam
air. Meskipun begitu, asam salisilat adalah senyawa yang berbahaya jika digunakan
sembarangan atau dipakai oleh orang awam. Dalam dosis yang berlebihan, asam salisilat
dapat menyebabkan keracunan dan yang paling berbahaya kematian. Oleh karena itu,
penggunaan asam salisilat ini harus sesuai dosis yang diberikan. Jika peraturan tersebut
dijalankan, makan asam salisilat akan mendatangkan manfaat yang banyak (Suli, 2012).
Pengaruh disosiasi ionik dan asosiasi molekuler pada partisi zat terlarut dapat berada
sebagian atau keseluruhan sebagai molekul terionisasi dalam salah satu fasa atau dapat
terdisosiasi dalam ion-ion pada salah satu dari fase tersebut. hukum distribusi digunakan
hanya untuk konsentrasi zat yang umum pada kedua fase, yaitu monomer atau molekul
sederhana dan zat tertentu (Martin et all, 2013).
Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: Bila suatu zat terlarut terdistribusi antara
dua pelarut yang tidak dapat dicampur, maka pada suatu temperatur yang konstan untuk
setiap spesi molekul terdapat angka banding distribusi ini tidak tergantung pada spesi
molekul lain apapun yang mungkin ada. Harga angka banding berubah dengan sifat dasar
pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur (Svehla, 1990).

Ada tiga cara yang dilakukan untuk mengukur nilai koefisien partisi, yaitu:

1. Metode labu kocok


Obat yang akan ditentukan nilai koefisien partisinya dimasukkan ke
dalam corong pemisah yang mengandung kedua fase yang tidak bercampur.
Kedua fase itu biasanya 1-oktanol karena memiliki korelasi terbaik dan
larutan penyangga dengan pH 7,4 karena menggambarkan kompartemen
berair di dalam tubuh seperti plasma darah.
2. Penggunaan kromatografi lapis tipis
Nilai Rf obat dihubungkan dengan koefisien partisi yang dihitung
secara matematika, dimana Rf adalah hasil pembagian antara jarak
perpindahan bercak dengan jarak pengembangan pelarut.

P = (1/ Rf) 1

K adalah tetapan untuk sistem yang digunakan.


3. Penggunaan kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik
Memiliki prinsip yang sama dengan penggunaan kromatografi lapis
tipis, namun penggunaan kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik ini
memiliki efisiensi yang lebih besar.
(Cairns, 2004)

Ketika suatu senyawa ditambahkan kedalam campuran pelarut yang saling tidak
bercampur. Zat terlarut tersebut mendistribusikan dirinya sendiri diantara kedua pelarut
berdasarkan afinitasnya pada masing-masing fase. Senyawa polar akan cenderung menyukai fase
berair atau polar, sedangkan senyawa non polar akan menyukai fase organik atau non polar
(cairns, 2003).

Koefisien partisi dan kobal antara fase aqueous dan organic ditentukan dengan cara
menyeimbangkan volume yang sama, fase aqueous dan fase organik dalam tabung terbuat dari
Teflon kedua fase tersebut yaitu fase aqueous dan fase organik dipaksa untuk mengontak dengan
cara mengaduk dengan menggunakan pengaduk magnet selama 24 jam dan kemudian kedua fase
tersebut diukur setelah sebelumnya disentrifuge (Sonjaya, 2004).

V. Alat dan Bahan


V.1. Alat
a. beaker glass
b. burrete
c. corong pemisah
d. erlen meyer
e. gelas ukur
f. pipet tetes
g. statif

V.2. Bahan
a. Air (H2O)
b. Asam Salisilat (C6H7OH)
c. Fenolftalein
d. Kloroform
e. NaOH

V.3. Gambar

a. b. c . d.

e. f. g.

VI. Prosedur

VI.1. Pembuatan NaOH

Dalam pembuatan NaOH, pertama-tama NaOH ditimbang sebanyak 2,4 gram


dan aquades dipanaskan sebanyak 600 ml pada beaker glass. Kemudian NaOH
2,4 gram dilarutkan dengan 600 ml aquades yang telah dipanaskan dan diaduk
sampai terlarut.

Pembakuan NaOH

Larutan asam oksalat 0,1 N dimasukkan ke dalam 3 buah Erlenmeyer masing-


masing sebanyak 20 ml dan menambahkan 2 tetes indikator fenolftalein. Asam
oksalat dimasukkan ke dalam buret dan dititrasi dengan larutan NaOH dan
diamati perubahan warna yang terjadi hingga menjadi merah muda

VI.2. Pembuatan Asam Salisilat

Pada praktikum kali ini ada beberapa prosedur yang kita lakukakan, yang
pertama dilakukan adalah pembuatan larutan asam salisilat dan NaOH. Untuk
membuat larutan asam salisilat 0,1 N, pertama-tama kertas perkamen diletakkan di
atas timbangan analitik. Selanjutnya asam salisilat diambil dengan spatula dan
ditimbang sebanyak 1,0019 gram. Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur dan
dilarutakan dengan aquades. Karena tidak larut dalam aquades, ditambahkan 350
tetes etanol sampai terlarut. Setelah terlarut, ditambahkan aquades sampai 100 ml
dengan meniskus cekung

VI.3. Bagian Satu

Asam salisilat sebanyak 15 mL dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer.


Larutan asam salisilat ditambahkan 20 mL air dan dua tetes fenolftalein. Labu
erlenmeyer yang berisi campuran kemudian di tempatkan di bawah keran
buret, kemudian dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,1 M hingga berwarna
merah muda.

VI.4. Bagian Dua

Asam salisilat sebanyak 15 mL dimasukkan ke dalam corong pemisah.


Kloroform 10 mL ditambahkan ke dalam larutan kemudian dikocok. Labu
erlenmeyer ditempatkan dibawah keran corong pemisah kemudian lapisan air
yang berada di bawah dikeluarkan dari dalam corong pemisah. Larutan yang
berada didalam labu erlenmeyer kemudian ditambahkan 20 mL air dan dua
tetes fenolftalein. Larutan tersebut kemudiian dititrasi dengan larutan NaOH
0,1 M tunggu hingga berwarna merah muda.
VII. Data Pengamatan
NO Proses Perlakuan Hasil

1 Pembuatan asam salisilat Menimbang asam salisilat Asam salisilat hasil


dan NaOH sebanyak 2 gram, selanjutnya timbangan 1,1098
ditambahkan aquades gram dan molaritas
sebanyak 200ml. asam salisilat ialah
0.0724 m. volume
NaOH untuk titrasi
didapat 10,8ml.

2 Pembuatan larutan NaOH Menimbang NaOH sebanyak NaOH hasil


2,4gram. Selanjutnya penimbangan ialah 0,5
menambahkan aquades gram. Terbentuk
hangat sebanyak 600ml larutan NaOH 0,04
dilarutkan sampai homogen.
3 Penambahan larutan asam Memasukan asam aksalat ke Di dapat asam
salisilat dalambeaker gelas sebanyak oksalat 0,1892
0.1 gram. Tambahkan gram
dengan 30ml aquades. Di dapat
Dilarutkan sampai homogen. larutan asam
Memasukan larutan asam oksalat
oksalat 0,1N kedalam Di dapat
Erlenmeyer. Menambahkan 2 larutan standar
tetes fenolftalen selanjutnya NaOH.
dititrasi.
4 Titrasi Asam Basa 1 Memasukan larutan Titrasi
asam salisilat 15ml dilakukan
kedalam Erlenmeyer menurut
Menambahkan prosedur
aquades sebanyak Didapatkan
20ml hasil yakni
Menambahkan 2 perubahan
tetes tenolftalein warna yang
Menitrasi dengan terjadi dari
larutan standar bening menjadi
NaOH 5,5ml merah muda.

5 Titrasi Asam Basa 2 Memasukan 15ml Di dapatkan


asam salisilat yang hasil larutan
digunakan pada yang
bagian 1 kedalam mengalami
corong pemisah proses
Menambahkan pengocokan
kloroform sebanyak terbagi menjadi
10ml 2 lapisan yaitu
Mengocok dengan lapisan organik
perlakuan kunci pada dan lapisan air
corong pemisah Di dapatkan
sesekali dibuka hasil yang
untuk mengeluarkan sesuai yakni
gas . terjadi
Memisahkan bagian perubahan
lapisan bawah(air) warna dari
hasil pada benig menjadi
pengocokan merah muda.
Menambahkan 20ml
air, 2 tetes
fenolftalein
Menitrasi dengan
larutan standar
NaOH
Mengamati
perubahan yang
terjadi dan mencatat
hasil.

VIII. Perhitungan

VIII.1 Pembakuan NaOH


V. Asam N. Asam V. NaOH N. NaOH
No.
Oksalat Oksalat
1. 10 ml 0,1 10,2 ml 0,09646
2. 10 ml 0,1 10,8 ml
3. 10 ml 0,1 10,1 ml
Menggunakan rumus V1.N1 = V2.N2
Volume NaOH = V1+V2+V3
3
= 10,2+10,8+10,1
3
=10,3667
V1.N1 = V2.N2
10,1.0,1 = 10,3667. N2
N2 = 0,192926
Keterangan :
N2 = N rata-rata NaOH

VIII.2 Asam Salisilat dalam Air


V. NaOH N. NaOH V. Asam N. Asam
No.
Salisilat Salisilat
1. 5,5 ml 0,192926 10 ml
2. 5,5 ml 0,192926 10 ml 0,1061093
3. 5,5 ml 0,192926 10 ml
Menggunakan rumus V1.N1 = V2.N2 dengan mencari rata-rata volume titrasi.
Volume rata-rata NaOH = V1+V2+V3
3
= 5,5 +5,5 +5,5
3
= 5,5 ml
V1.N1 = V2.N2
5,5.0,192926 = 10. Na
Na = 0,1061093
Keterangan :
Na = N. Asam Salisilat (Air)

VIII.3. Asam Salisilat dalam Kloroform


V. NaOH N. NaOH V. Asam N. Asam
No.
Salisilat Salisilat
1. 2,5 ml 0,192926 8 ml
2. 2,8 ml 0,192926 8 ml 0,0482315
3. 0,7 ml 0,192926 8ml
Menggunakan rumus V1.N1 = V2.N2 dengan mencari rata-rata volume titrasi.
Volume rata-rata NaOH = V1+V2+V3
3
= 2,5 +2,8 +0,7
3
= 2 ml
V1.N1 = V2.N2
2.0,192926 = 8. Nb
Nb = 0,0482315
Nfase organik = Na-Nb
= 0,1061093-0,0482315
= 0,0578778
P = [A] org = 0,0578778 = 1,2
0,0482315
IX. Pembahasan

Koefisien partisi adalah perbandingan kadar suatu zat dalam fase lipoid
dan fase air setelah dicapai kesetimbangan. Titrasi merupakan metode penetapan
kadar suatu larutan dengan menggunakan larutan standar yang sudah diketahui
konsentrasinya
Pada percobaan praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan koefisien
partisi minyak/asam salisilat. Percobaan ini menggunakan prinsip koefisien
partisi, titrasi asam-basa, ekstraksi, dan like dissolve like. Koefisien partisi
merupakan suatu perbandingan kelarutan antara dua pelarut berbeda yang tidak
saling bercampur. Pelarut tersebut terdiri atas zat organik dengan air. Titrasi
merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan
zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya.
Pertama-tama sebelum memulai praktikum ini adalah menyiapkan alat dan bahan
yang di perlukan untuk menunjang praktikum kali ini. Sebelum menggunakan alat
tersebut, kita harus memastikan alat tersebut bersih dan layak untuk digunakan. Setelah
membersihkan alat tersebut, tahap selanjutnya adalah membuat reagen reaksi. Pertama-
tama kita membuat NaOH terlebih dahulu.
Timbang serbuk NaOH sebanyak 2,4 gram menggunakan kaca arloji
terlebih dahulu di atas timbangan analit Kemudian panaskan air sebanyak 600ml
hingga menguap untuk mendapatkan air yang bebas dari CO2 lalu air tersebut
didinginkan. Kemudian NaOH tersebut dilarutkan dengan air bebas CO2. NaOH
harus dilarutkan dalam air bebas CO2 karena karbon dioksida jika bereaksi dengan
NaOH akan menghasilkan natrium karbonat (NaCO3) yang mengendap karena
NaOH terionisasi sempurna maka CO2 harus hilang.
Setelah NaOH didapatkan, NaOH harus dibakukan terlebih dengan larutan
primer karena sifat NaOH adalah baku sekunder dan karena NaOH adalah zat
yang tidak pernah murni artinya zat yang memiliki komposisi kimia tertentu
dalam medium yang berbeda sehingga pembakuan bertujuan agar dapat
mengetahui konsentrasi dari NaOH yang belum diketahui konsentrasinya
sebelumnya. Pada pembakuan dan percobaan pada praktikum ini banyak
menggunakan prinsip titrasi asam basa atau disebut titrasi asidimetri-alkalimetri.
Setelah itu tahap selanjutnya adalah pembuatan asam salisilat. Tahap pertama
dalam pembuatan asam salisilat ini adalah letakkan kertas perkamen diatas
timbangan analitik. Selanjutnya asam salisilat diambil dengan spatula dan ditimbang
sebanyak 1,0019 gram. Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur dan dilarutakan
dengan aquades. Karena asam salisilat tidak larut dalam aquades, ditambahkan 350 tetes
etanol sampai terlarut. Setelah terlarut, ditambahkan aquades sampai 100 ml dengan
meniskus cekung.

Dalam perhitungan koeisien partisi dibutuhkan konsentrasi asam salisilat


dengan pereaksi air dan konsetrasi asam salisilat dengan pereaksi organik.
Pereaksi organik yang digunakan adalah kloroform (CHCl3 ). Kloroform termasuk
dari senyawa yang bersifat non-polar.
Pada pembakuan dan percobaan pada praktikum ini banyak
menggunakan prinsip titrasi asam basa atau disebut titrasi asidimetri-alkalimetri.
Dalam proses titrasi suatu zat berfungsi sebagai titran dan yang lain sebagai titrat
(larutan yang di titrasi) serta terdapat indikator yang membantu perubahan warna
larutan. Titik Ekivalen adalah titik yang menyatakan banyaknya titran secara
kimia setara dengan banyaknya analit (spesies atom, unsur, ion, gugus, molekul)
yang ditentukan konsentrasi atau strukturnya. Tirik akhir titrasi adalah titik pada
saat titrasi di hentikan. Dalam membakukan larutan NaOH, digunakan asam
oksalat yang kemudian memasuki proses titrasi yang dibantu oleh indikator
fenolftalein. Larutan NaOH dititrasi hingga menghasilkan warna merah muda.
Terdapat dua cara pembakuan NaOH yaitu duplo dan triplo, duplo adalah
pengujian dua kali dan triplo pengujian tiga kali, hal ini dilakukan untuk
mencegah kesalahan dan ketidakakuratan data yang diperoleh.
Asam salisilat tidak mudah larut di dalam air, tetapi mudah dalam etanol.
Kemudian asam salisilat dimasukkan kedalam labu erlenmeyer, ditambahkan 20
mL air dan larutan fenolftalein kemudian ditempatkan di bawah keran buret untuk
kemudian di titrasi menggunakan NaOH sampai berwarna merah muda. Larutan
fenolftalein digunakan sebagai indikator untuk mempermudah melihat titik akhir
dari titrasi. Indikator adalah suatu asam atau basa organic, dimana zat tersebut
menunjukkan warna yang sangat berbeda ketika dalam bentuk tidak terionisasi
dan terinonisasinya.
Percobaan ketiga menggunakan larutan asam salisilat yang telah dibuat pada
percobaan yang kedua. Asam salisilat dimasukkan ke dalam corong pisah
kemudian ditambahkan kloroform. Corong pemisah yang terdapat campuran
larutan tersebut kemudian dikocok agar kloroform mengikat senyawa asam
salisilat. Kloroform mempunyai sifat tidak bercampur dengan air maka setelah
pengocokkan akan terlihat air memisah dari kloroform. Hasil pengocokkan di
dalam corong pemisah terdapat asam salisilat bagian atas dan asam salisilat bagian
bawah. Pada bagian atas asam salisilat bercampur dengan kloroform dan pada
bagian bawah asam salisilat bercampur dengan air. Keluarkan air yang berada di
bawah dengan cara membuka keran corong pemisah. Kedua larutan tersebut harus
dipisahkan karena ketika suatu zat terlarut ditambahkan kedalam campuran pelarut
yang tidak saling bercampur, zat terlarut akan mendistribusikan dirinya di antara
kedua pelarut. Larutan tersebut kemudian ditambahkan air dan indikator
fenolftalein. Setelah dicampur, larutan teresbut dititrasi menggunakan larutan
NaOH sampai berwarna merah muda. Untuk mengetahui konsentrasi asam
salisilat dalam kloroform maka konsentrasi asam salisilat yang secara keseluruhan
tercampur dengan air di kurangi konsentrasi asam salisilat yang tercampur dengan
kloroform.

Pada titrasi di percobaan ini perubahan warna yang terjadi adalah dari larutan
menjadi warna merah muda. Karena fenolftalein tidak berwarna pada larutan basa
atau netral, tetapi pink kemerahan dalam larutan basa.
Unsur-unsur yang ada dalam titrasi, meliputi :
1. Titran
Titran merupakan larutan baku sekunder yang harus dibakukan terlebih dahulu
dengan larutan baku primer. Titran merupakan larutan yang terdapat di dalam buret.
2. Indicator
Indikator biasanya ialah suatu asam atau basa organic lemah yang menunjukkan
warna yang berbeda antara bentuk tidak teionisasi dan bentuk tidak terionisasinya.
Dengan menggunakan indikator yang tepat kita dapat menetukan titik ekivalen
dengan menggunakan titik akhir.
3. Titrat
Titrat merupakan larutan sampel ataupun larutan baku primer yang akan dititrasi.

Koefisien partisi berpengaruh pada absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi


obat. Karena koefisien partisi berhubungan dengan kepolaran. Obat-obat oral atau
obat yang pecah di lambung harus menuju target dan melewati dinding lambung
yang memiliki sifat polar juga nonpolar Zat yang terlalu polar akan sulit melewati
membran sel yang bersifat nonpolar, sedangkan zat yang terlalu nonpolar juga
akan sulit untuk melewati isi sel yang bersifat polar. Sehingga kebanyakan obat
oral harus berada pada batas antara polar dan nonpolar, yaitu -2 < Log P < +5.
Berbeda dengan obat/zat yang bekerja pada SSP, terutama otak seperti zat-zat
anastesi. Karena di otak terdapat banyak lemak atau nonpolar, maka obat-obat
yang bekerja pada daerah tersebut haru bersifat nonpolar. Agar dapat masuk dan
diabsorpsi dengan baik. Jika koefisien partisi suatu zat semakin besar, maka zat
tersebut akan semakin nonpolar, begitu juga sebaliknya.

Ada dua macam koefisien partisi, yakni koefisien partisi sejati dan koefisien
partisi semu. Koefisien partisi sejati (true Partition coeefficient) harus memenuhi
beberapa persyaratan kondisi, antara lain: (1) Antara kedua pelarut benar-benar tidak
bercampur satu sama lain; (2) Bahan obatnya tidak mengalami asosiasi atau \disosiasi; (3)
Kadar obatnya relatif kecil; dan (4) kelarutan solut dalam masing-masing pelarut kecil.
Koefisien partisi semu (Apparent Partition Coefficient) merupakan suatu hasil apabila
persyaratan koefisien partisi sejati tidak terpenuhi. Dalam biofarmasetika dan pada
berbagai tujuan yang lain umumnya memiliki kondisi nonideal dan tidak disertai
koreksinya, sehingga hasilnya adalah koefisien partisi semu. Biasanya sebagai fase lipoid
adalah oktanol, kloroform, sikloheksan, isopropil, miristat, dan lain-lain. Fase air yang
biasa digunakan adalah larutan dapar. Percobaan ini merupakan keadaan koefisien partisi
semu.
Seperti yang telah diketahui, pada umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau
basa lemah. Pada percobaan, digunakan dapar salisilat dengan pH yang berbeda-
beda. 5. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh pH terhadap koefisien
partisi. Ketiga larutan tersebut dicampur dengan kloroform dan diinkubasi selama
20 menit
X. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan yaitu dengan metode pengocokan di
peroleh koefisien partisi dari asam salisilat adalah sebesar 1,2
XI. Daftar Pustaka

Ansel, H, C . 1988. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI Press.

Cairns, Donald. 2003. Intisari Kimia farmasi edisi 2. Jakarta: Erlangga


Cairns, Donald.2004.Intisari Kimia Fisika.Jakarta:EGC

Cains , Donald. 2008. Essentials of pharmaceutical Chemistry, 2nd Ed 2. Diterjemahkan oleh:


Rini Puspita. Jakarta. Buku Kedokteran.

Cairns, Donald, 2009. Intisari Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC

Day , R, A & L.Underwood. 2002. Analisis kimia kuantitatif .Jakarta. Erlangga

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1995. Framakope Indonesia Edisi IV. Jakarta :


Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI.

Fessenden, Ralp.T.1982.Kimia Organik Edisi keTiga : Jakarta . Erlangga

Ganjar. Ibnu Ghoib dan Rohman .A.2007. Kimia Farmasi Analisis . Yogyakarta. Pustaka
Pelajar.

Martin , Alfred,dkk. 1990.Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetika . tersedia di


http:www.academica.edu/8796280/koefisien_partisi

Martin, at all. 2013. Farmasi Fisik Edisi ke Tiga Jilid 1. Jakarta Universitas Indonesia (UI-
press).

Siswandono, Soekardjo B. 1995. Kimia Medisinal. 111-120,292-296. Surabaya. Airlangga

Sonjaya, Yaya, Juni 2004. Kajian tentang Efek Garam terhadap Kinetika Transfer Co(II)
dalam Sistem Dwi-Fasa Air/Asam di-(2-etilheksil)fosfat, Jurnal Matematika dan Sains.
Volume 9, No. 2. Available tersedia online at/di
http://journal.fmipa.itb.ac.id/jms/article/view/

Suli Istyanigrum, Sri Katan, dkk. 2012. Penggunaan Asam Salisilat Dalam
Dermatologi. Volume : 62 no 7. Tersedia online di
Indonesia.digitaljournal.com [ diakses pada tanggal 20 September 2015 ]

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro. Jakarta:
Kalman Media Pustaka.
Yasin,Yasmin.2011.ExpressProfor Senior Hight School Chemist. Jakarta : Erlangga

Vogel, A.I.1979.Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan


Semimakro.Jakarta:PT.Kalman Medi Pustaka.

XII. Lampiran